You Fit Me Better Than My Favourite Sweater

Bandung, Desember 2011

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Tidak terasa, sudah lebih dari 3 tahun yang lalu aku meninggalkan bangku SMA. Beruntungnya, masa SMA yang dulunya kelam itu bisa berakhir dengan menyenangkan, dan yang terpenting: I successfully made friends with a bunch of those strangers. I even had this little inner circle–with Ayu, Bagas, Nugi, Randy, dan Reza–yang akhirnya membuat masa-masa di sekolah menjadi lebih berwarna. Setelah lulus, aku dan kelima sahabatku di SMA terpaksa berpencar karena kami masuk ke perguruan tinggi yang berbeda-beda. Ayu is pursuing her dreams to be a doctor, di universitas terkemuka di Indonesia, Randy masuk Teknik Kimia di universitas yang sama. Aku rasa, mereka berdua memang jodoh, sejak mulai berpacaran saat kelas 2 SMA mereka tidak pernah terpisahkan. Nugi mengambil jurusan Teknik Nuklir di universitas negeri di Yogyakarta. Sementara itu, aku berhasil masuk ke Institut Terbaik Bangsa, di Bandung, bersama dengan Bagas dan Reza. Kami bertiga harus melewati Tahap Persiapan Bersama (TPB) dulu sebelum masuk ke jurusan yang kami inginkan. Bagas akhirnya masuk ke jurusan Teknik Fisika, Reza di Teknik Sipil, dan aku masuk ke Teknik Lingkungan. Karena hal itu juga lah, I grew closer to both of them. Kadang aku merasa bersyukur ada mereka berdua di kota ini, aku jadi merasa less lonely karena mereka selalu siap sedia menemaniku. Tidak dengan Reza sih, dia lebih sering unavailable karena sibuk berkencan dengan wanita yang berbeda-beda, sampai-sampai aku lose track dengan nama-nama “teman spesialnya”, yang setiap kami bertemu entah bagaimana kerap kali berubah.

Semester 7 sebentar lagi akan berakhir. Itu artinya, aku sudah resmi menjadi mahasiswa tingkat akhir (swasta) dan sudah mulai gelisah dengan persiapan Tugas Akhir (TA). Tahun-tahun studiku di Bandung pun akan segera berakhir pula. Minggu itu adalah minggu perkuliahan terakhir menjelang Ujian Akhir Semester (UAS). Seperti swasta pada umumnya, kebanyakan teman-temanku di jurusan juga mulai memusatkan fokusnya pada TA. Hal itu jugalah yang terkadang membuat hubunganku dan Arya jadi kurang harmonis, karena jika sedang tidak sibuk dengan TA dia akan lebih memilih untuk nongkrong atau main bowling dengan teman-temannya. Boys will be boys, I know.

Sore itu, langit Bandung tampak mendung dan hawa dingin menggigit kulitku. Aku lupa membawa jaket, padahal hari sebelumnya aku sudah janji, kalau sehabis kelas berakhir pukul 18:00 aku akan pergi makan malam dengan Bagas. Saat aku beranjak meninggalkan kelas, ponselku bergetar dan namanya muncul di layar.

“Halo?” Sapaku.

“Udah beres belom? Gue tunggu di gerbang depan ya!” Sahut suara di telepon.

“Be there in 5 minutes.”

Hari itu, kelas Manajemen Teknik Lingkungan berlokasi di ruang 9009 dan jaraknya cukup dekat dengan gerbang depan. Hanya perlu sedikit waktu bagiku untuk menghampiri Bagas yang menunggu aku di parkiran gerbang depan.

“Lama ga nunggunya? Sorry ya, hehe…”

“Nggak kok, pas banget gue baru aja sampe. Mau makan apa kita? Any special request? Lagi ngidam apa lo?” Tanya Bagas sambil mengenakan helm-nya.

“Hmmm, apa yah? Gue lagi males mikir nih mau makan apaan, Gas. Terserah lo aja deh. Asal enak dan bersih ya!” Jawabku sekenanya.

“Eh, Arya kemana? Berantem lagi ya lo?”

“Ih, engga kok, dia lagi pergi sama temennya. Gue udah bilang mau makan sama lo hari ini.” Entah kenapa setiap kali Bagas bertanya tentang pacarku, selalu saja ada prasangka buruk di belakangnya.

“Apaan sih lo, sukanya suudzon mulu deh.” Tambahku sambil cemberut.

Bagas tergelak mendengar jawabanku. Ia bersiap menyalakan mesin motornya sampai akhirnya dia tersadar, “Loh, lo nggak pake jaket? Nggak kedinginan? Duh, ntar kalo lo sakit kan gue juga yang ikutan repot.” Bagas menggerutu memarahiku yang lagi-lagi lupa membawa jaket.

Terkadang, aku memang suka lupa kalau sekarang aku tinggal di kota dingin yang jauh berbeda dengan kota yang serba panas, Jakarta. Walaupun tinggal di Bintaro, sejak kecil aku bersekolah di bilangan Jakarta Selatan. Daerah tempatku menghabiskan masa kecil mungkin tidak sepanas daerah lainnya di Jabodetabek, tapi tetap saja, jika dibandingkan dengan suhu Kota Bandung yang berkisar belasan derajat celcius itu, cuaca panas di kota asalku membuat aku gerah, bahkan hanya dengan memikirkan kata ‘jaket’.

Bagas melepas jaket kesukaannya, varsity jacket berwarna hitam, dengan lengan berwarna krem, yang aku tak tahu apa jangan-jangan warna sebenarnya itu putih dan Bagas terlalu malas untuk mencuci jaket kesayangannya itu. Kemudian Bagas menyampirkan jaketnya ke pundakku. Aku lihat ada patch baru di lengan kanan, aku tersenyum. Sahabatku itu memang koleksi patch bordir, yang semua koleksinya ia jahitkan ke jaket kesayangannya itu. Salah satunya adalah club sepak bola favoritnya, Juventus, dan beberapa band yang dia suka, Aerosmith dan The Rolling Stones.

“Nggak usah protes!” Katanya sambil mengacak-acak rambutku. Seolah ia tahu, aku pasti akan berisik, entah bilang maaf atau terima kasih, ataupun keduanya.

Aku tersenyum lemah, menurut. Lalu aku mengendus jaket yang Bagas berikan sambil mengernyitkan dahiku.

“Udah berapa bulan nggak dicuci nih jaket?” Tanyaku ke Bagas dengan tatapan penuh curiga.

“Baru tiga hari, ya ampun. Segitunya deh… Emang bau? Nggak kan?”

Aku cuma bisa cemberut tetapi tidak protes dan tetap memakai jaket Bagas yang sudah dekil itu. Padahal biasanya aku paling anti sekali dengan hal-hal yang tidak bersih sesuai dengan standarku yang memang bisa dibilang cukup aneh.

708617937593806060516

Gue cuma bisa tersenyum kecil, dalam otak gue terbersit sepenggal lagu dari Lana Del Rey, Blue Jeans.

But you fit me better than my favourite sweater, and I know.”

Iya, gue lebih memilih mengemudikan sepeda motor tanpa memakai jaket, asalkan bersama dia, Airina, ketimbang harus memakai jaket favorit gue dan tidak ada dia di bangku belakang, “Yeah, she suits me better.”

Gue melajukan sepeda motor ke Jalan Dipatiukur, dan rasanya Bandung tidak pernah sedingin itu. Mungkin faktor Airina yang duduk di bangku belakang membuat gue nervous dan keringat dingin. Sebenarnya, sulit rasanya mengesampingkan perasaan yang gue simpan ini dan bersikap dingin kepada my petite girl sedari SMA, tetapi selalu gue coba karena gue tidak ingin kehilangan sahabat karena cinta.

Bros before hoes,” dan gue menganggap Airina sebagai one of my best bros.

Setelah gue dan Airina menghabiskan satu porsi Bakmi Djowo dan satu pot teh poci hangat, dia memandang gue yang duduk di hadapannya. Shit, dia pasti sadar lihat wajah gue yang meringis kedinginan.

“Kenapa, Bagas? Dingin ya?” Tanya Airina lembut.

Gue tertawa lemah, melupakan gengsi gue, “Haha, iya nih. Dingin euy ternyata.”

“Makanya nggak usah sok gitu pake ngasih jaket ke gue segala. Kedinginan kan sekarang jadinya…” Airina mengejek.

“Nanti ngambil jaket dulu lah ke kosan gue. Baru abis itu ke tempat lo ya.”

“Nggak usah ih, repot. Udah, pake aja jaket lo nih,” Airina kemudian melepaskan jaket yang dikenakannya dan memberikannya ke gue. Gue hentikan tangannya.

No, no. Lo tetep pake tuh jaket. Nggak usah bawel.” Gue tidak mengambil jaket yang dia berikan dan mengakhiri perdebatan kami.

Kosan gue terletak di Jalan Teuku Angkasa, dekat dengan Jalan Dipatiukur, tempat dimana gue dan Airina menyantap makan malam. Saat masuk ke dalam kosan, si Bibi penjaga kosan menyapa Airina ramah karena memang sudah sering Airina mampir kesini.

Gue membuka pintu kamar, Airina langsung menghambur masuk ke dalam dan matanya menyapu sekeliling ruangan. Kamar kosan gue itu berukuran 3×3 meter persegi, ada jendela yang cukup besar, dan kalau siang hari sinar matahari masuk menerangi ruangan. Di pojok kanan terdapat tempat tidur yang menghadap ke arah pintu masuk, dan tentu saja di ujungnya terdapat tumpukan baju dan kaos kaki kotor milik gue. Di pojok lainnya, ada sebuah lemari kayu dan meja belajar. Buku-buku kuliah, fotokopian catatan, dan contoh soal ujian tahun lalu berserakan di meja belajar dan juga di lantai–apalagi menjelang minggu UAS seperti saat itu, kamar gue udah nggak jelas wujudnya. Dinding di atas meja belajar ditutupi oleh berbagai macam foto, dari mulai foto kelas sewaktu gue tingkat pertama dulu, foto angkatan Teknik Fisika 2008, hingga berbagai macam kepanitiaan yang pernah gue ikuti selama kuliah. Bagian itu adalah spot favorit Airina. Gue masih ingat dirinya lah yang sibuk menempelkan foto-foto itu ke dinding. Gerah katanya, melihat banyak foto menumpuk di laci meja belajar gue.

“Nah, kalo gini kan lebih enak tuh diliatnya!” Katanya setelah selesai menata spot favoritnya di kamar gue waktu itu.

Kondisi kamar gue sepertinya nggak banyak berubah sejak Airina mampir beberapa bulan lalu, selalu berantakan dan tidak terurus. Namun sepertinya, ada sesuatu yang menarik pandangan matanya. Dia berjalan menghampiri foto-foto berukuran besar yang menempel di dinding, dan saat sudah dekat, telunjuknya menunjuk wajah-wajah familiar tersenyum di dalam salah satunya. Airina memandangi foto wisuda kami semasa SMA, yang baru saja gue cetak dan tempelkan disana. Entah kenapa, gue lagi kangen aja sama sahabat-sahabat SMA kami karena sudah mulai jarang bertemu.

Di sisi kamar yang masih lowong, ada meja kecil tempat gue meletakkan televisi dan Playstation, dan lantainya gue alasi karpet. Beberapa bantal berukuran jumbo berserakan di karpet itu. Sedari tadi gue sudah menahan napas karena tahu habis ini Airina tidak akan berhenti mengomentari kondisi kamar gue yang jorok dan berantakan.

“Gila, kok bisa sih ada orang sejorok lo? Betah ya tidur di kamar berantakan banget kayak gini?” Kata Airina sambil duduk di atas tempat tidur.

Gue hanya bisa memandanginya seraya tersenyum, gue tahu betul apa yang akan terjadi setelah itu, karena sudah hafal di luar kepala dengan kelakuan sahabat gue yang satu ini. Seperti yang sudah gue prediksi, Airina mengomel tetapi tangannya gatal dan tidak tinggal diam melihat tumpukan baju dan kaos kaki kotor di ujung kasur gue itu, lalu memasukkannya ke keranjang baju kotor di pojok kamar dekat lemari kayu. Ia mengategorikan bahan-bahan kuliah milik gue yang berserakan di meja belajar, menyusunnya rapi di atas meja. Pagi itu sehabis mandi, gue sengaja membiarkan handuk menggantung di bangku meja belajar. Kemudian dengan tatapan tajam, Airina memarahi gue.

“Nih, bisa bikin sakit tau nggak pake handuk lembab kayak gini! Duuuh, gue frustasi deh liat kamar lo, Gas!” Lalu ia melempar handuk itu tepat ke muka gue, “Jemur!”

Dengan sigap gue menangkap handuk itu, menaruhnya kembali di bangku. “Udah, udah, gue cuma mau ngambil jaket doang. Yuk, cabut.” Gue menarik tangan Airina sehabis mengambil jaket himpunan gue yang berwarna biru muda tergantung di balik pintu kamar.

“Salah sendiri. Suruh siapa ngajak gue kesini?”

Gue tertawa. “Hahaha, iya gue nyesel. Yuk ah cabut, pusing denger lo ngomel-ngomel.” Kali ini, ia yang gantian tertawa.

Saat akan berangkat dari kosan, Airina menghampiri si Bibi. “Bi, apa kabar? Sehat?” Dia menyapa si Bibi. Itu juga salah satu hal yang bikin gue betah berteman sama Airina, dia selalu ramah dan hangat sama setiap orang yang ia kenal.

“Iya neng, sehat alhamdulillah. Kok udah lama nggak keliatan?” Jawab si Bibi.

“Iya Bi, abis Bagasnya lagi sibuk sih.” Dia mencibir ke arah gue. Cibirannya itu loh, bikin gue gemas. Lalu dia melanjutkan obrolannya dengan si Bibi,

“Oh iya, Bi, aku minta tolong boleh nggak?”

“Sok aja atuh neng…”

“Kamarnya Bagas tolong dibersihin 3 hari sekali ya, Bi. Dia nggak sempet bersihin, jorok banget tuh kamarnya. Aku sampe pusing ngeliatnya. Jangan lupa ya Bi, yah?” Dia melemparkan pandangan jengkel ke arah gue dan gue menyambutnya dengan senyum tanpa dosa.

“Iya, Bibi teh selalu mau bersihin tapi Aa’ Bagas teh nggak pernah mau neng. Padahal mah nggak apa-apa Bibi bersihin tiap hari juga.”

“Nah, yaudah, Bi. Besok-besok nggak usah dengerin kata Bagas yah. Dengerin kata aku aja. Tolong dibersihin mulai besok yah Bi… Makasih banyak Bibi.” Airina berkata sambil mengusap lengan si Bibi. Dia kemudian tersenyum manis, manis sekali.

Gue semakin gemas melihat tingkah sahabat gue ini. Gue tarik tangannya, kali ini dengan sungguh-sungguh. Memang cuma Airina yang bisa memasuki hidup gue, mengatur-atur, bahkan orang lain pun harus ikut peduli dan perhatian karenanya. Gue menggelengkan kepala sembari berjalan ke parkiran kosan, masih menggandeng tangan Airina, pasrah (tetapi senang) akan nasib gue memiliki sahabat seperti dia.

Sebenarnya, si Bibi selalu menganggap Airina itu adalah pacar gue. Entah kenapa, gue tidak pernah menyalahkan tapi juga nggak pernah mengiyakan. Biarlah si Bibi anggap seperti itu. Gue nggak kebayang kalau sampai Airina tahu, pasti langsung diklarifikasi olehnya bahwa dia sudah punya pacar dan kami hanyalah sebatas teman dekat. Dan gue tidak mau itu terjadi. Setidaknya, di suatu tempat ada satu orang yang menganggap gue dan Airina bukanlah kisah kasih yang tak sampai.

2 thoughts on “You Fit Me Better Than My Favourite Sweater

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *