Trekking for Public

Sentul, Oktober 1983

Hari itu Gamelia melihat Fadli dengan persepsi lain. Ia bukanlah mahasiswa tingkat akhir yang banyak mengulang mata kuliah, bukanlah seorang yang menghabiskan waktu luangnya duduk santai di bangku taman, berdendang dengan gitarnya. Hari itu Gamelia rasanya tersihir oleh Fadli, raut wajahnya serius, tidak seperti yang biasa ia lihat di kelas, namun banyak komentar jenaka yang membuat suasana hari itu semakin, semakin apa juga ia tak tahu, yang pasti ada positive vibes yang ia tangkap dari diri Fadli. Baru kali ini Gamelia melihat sosok Fadli yang serius, begitu passionate dengan kegiatan mengarungi alam.

Ini kali pertama Gamelia naik gunung, ia agak was-was. Lagi-lagi melirik Vanny di sampingnya sambil berkata, “Kalau bukan karena elu, gue gak akan naik gunung kayak gini nih!”

Trekking oy, trekking! Naik gunung mulu sih. Ini judulnya aja Trekking for Public. Gue udah ngobrol-ngobrol sama panitia, track yang bakal kita lewatin itu gak akan susah, buat pemula kok. Percaya deh sama gue, you’re gonna love it.” Jawabnya antusias.

Seperti Gamelia, Vanny lahir di Jakarta. Namun orang tua Vanny asli dari Ambon. Papanya dosen di FE, sementara Mama Vanny seorang guru dan memiliki sekolah swasta di bilangan Jakarta Timur. Belum lama Gamelia berteman dengan Vanny, sebenarnya selama dua bulan belakangan, Vanny yang lebih banyak menghampiri Gamelia daripada sebaliknya. Gamelia tahu Vanny adalah seorang pecinta alam, dan setelah melihat stand UPA di OHU bulan lalu, Vanny mantap untuk bergabung dengan UPA. Lagi-lagi, Vanny yang sepertinya sudah merasa dependen ke Gamelia, mau masuk UPA kalau Gamelia masuk UPA. Gamelia hanya menggeleng-geleng, “Gue gak pernah senang interaksi dengan alam, gue mau masuk science club atau unit kesenian dan kebudayaan, kenapa lo insist banget sih!” Dan hanya dijawab oleh Vanny, “Gue kasih waktu buat lo mikir, lo boleh tolak ajakan gue tapi lo harus ikutan acara ini bulan depan ya!” Gamelia hanya melipat tangannya di dada, melihat Vanny menuliskan nama mereka di formulir pendaftaran, pasrah. Tapi sejujurnya ia nyaman dengan kehadiran Vanny, dan ia rasa temannya pun merasakan hal yang sama.

Gamelia membenarkan posisi topinya, kakak pertamanya meminjamkan topi ini untuk Gamelia, karena tahu adiknya akan naik gunung. “Nih, biar gak kepanasan,” katanya.

Gamelia adalah anak kelima dari sembilan bersaudara. Kedua orang tuanya berasal dari Bandung. Karena pekerjaan, Bapak pindah ke Jakarta. Bapak dan Ibu terpaut umur yang cukup jauh, 10 tahun. Ibu adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka menikah di saat Ibu berusia 17 tahun, tak lama setelah Bapak ditempatkan di Jakarta oleh kantornya. Dengan satu orang sebagai tulang punggung keluarga, ekonomi keluarga Gamelia tidak dapat dibilang mewah, tapi Gamelia bersyukur, ia tidak pernah merasa kekurangan. Terkadang Ibu membantu ekonomi keluarga dengan berjualan nasi uduk di pinggir jalan, di masa sekolah dulu, Gamelia dan adik-adiknya juga turut membantu menjajakan dagangan Ibu berupa gorengan dan kue tradisional ke sekolah dan rumah-rumah. “Uang itu tidak perlu banyak-banyak, yang penting berkah.” Ibu selalu mengingatkan.

“Oy, jangan bengong!” Vanny menegurnya, Gamelia kaget. “Udah mau jalan, yuk!” Gamelia hanya mengikuti langkah kaki temannya itu ke arah hamparan sawah hijau di hadapannya. “Gue jarang nemuin yang kayak gini di Ambon… Disana lebih banyak pantai dan pulau-pulau. Kapan-kapan ikut liburan yuk!”

“Eh?”

“Iya, ikut liburan ke Ambon,” ajak Vanny. “Akhir tahun ini gue mau pulang kampung, sekalian libur semester. Mau ikut gak?”

“Sering kesana, Van?”

“Iya, kira-kira setahun 2 sampai 3 kali. Gimana? Ikut yuk!” Ajaknya lagi.

“Hmm… Biasanya naik apa? Kapal laut?”

“Kapal laut terlalu lama, mungkin boleh dicoba kalau libur panjang. Biasanya sih naik pesawat.”

Gamelia belum pernah naik pesawat. Jarak terjauh yang pernah ia tempuh adalah Bandung-Jakarta, dan sebaliknya. Keluarganya tidak memiliki uang lebih untuk kebutuhan tersier semacam travelling. Ia merasa Vanny bercanda, sekedar basa-basi untuk mengajaknya. Ajakan itu membuatnya mengernyitkan dahi karena kebingungan.

Vanny hanya tersenyum melihat Gamelia, teman yang akan ia jadikan sahabatnya. Iya, Vanny sudah bertekad untuk mendekati Gamelia. Ia tahu, kemampuan ekonomi Gamelia berbeda darinya. Ia mengingat-ingat pertama kali ia mengetahui nama Gamelia. Hari itu hari Minggu.

“Papa lama sekali, padahal hari ini sudah janji mau memancing,” pikirnya. Kemudian ia mendatangi ruang kerja Papa. Di atas meja ada kertas-kertas berserakan. Vanny mengangkat salah satu bundelan kertas yang memiliki foto di bagian atasnya. “Namanya Gamelia…” Gumamnya pelan. Di beberapa lembaran itu, Vanny mempelajari asal-usul, biodata, prestasi, hingga kemampuan ekonomi keluarga Gamelia.

“Siapa dia?” tanyanya dalam hati.

“Itu berkas mahasiswa baru yang akan masuk FE bersamamu, ia lolos Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) tahun ini.” Papanya menjawab pertanyaan yang ada di kepala Vanny.

“Kamu ingat kan? Papa pernah bilang tahun ini akan diadakan PMDK, penerimaan mahasiswa baru tanpa harus mengikuti ujian.” Vanny manggut-manggut.

“Pintar sekali ya, Pa?”

“Terbaik di sekolahnya,” jawab Papa, “karena kemampuan akademis dan latar belakang ekonominya, Gamelia mendapatkan beasiswa penuh selama masa kuliahnya di FE, asalkan ia lulus tepat waktu.”

Vanny memasuki FE melalui jalur ujian yang dinamakan Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (SIPENMARU). Ia ingat, masa-masa kelas tiganya dipenuhi dengan belajar di kelas, di luar kelas, tetapi tidak di rumah. Mama dan Papa melarangnya untuk belajar di rumah. Rumah itu tempat istirahat, kata mereka selalu. Alhasil, Vanny sering pulang malam hanya karena belajar di luar. Akhirnya kerja kerasnya membuahkan hasil, ia berhasil diterima di FE. Bukan main senangnya ia saat itu. Papa hanya tersenyum melihat anak tunggalnya, “Perjalanan kamu baru akan dimulai, Van.”

Dua bulan ini, perjalanannya di kampus sebagai maba masih menyenangkan, pikir Vanny. Ia bisa mengikuti seluruh mata kuliah dengan mudah. Ada untungnya berteman dekat dengan mahasiswa paling pintar. Vanny jadi terbawa kebiasaan Gamelia yang rajin, datang selalu lebih cepat, dan duduk selalu di baris terdepan. Gamelia selalu mempersiapkan bahan kuliah sebelumnya, kemudian mereka akan mengulang pelajaran bersama-sama di sore hari. Ternyata di balik otaknya yang cemerlang ada kerja keras. Vanny selalu mengingat kata-kata Gamelia setelah ia bertanya, “Kenapa sih, lo rajin banget?”

I don’t believe in luck. I believe in hardwork.” Kata-kata itu selalu terputar di ingatan Vanny.

Hari itu mentari bersinar cerah, sesekali awan menutupi sinarnya, seakan mengerti bahwa peserta trekking tidak selalu kuat terpapar sinar mentari. Mereka berjalan menyusuri sungai kecil. Gamelia menikmati pemandangan di depannya, di sampingnya, bahkan di atasnya. Ia menutup matanya, mendengar suara gemericik air, kicauan burung, menikmati hembusan angin menerpa rambutnya yang diikat kuda. Lalu ia merasakan ada yang menarik tangannya, matanya kembali terbuka, kesal.

“Kenapa sih, Van?” Ia tahu pasti itu temannya.

“Buruan yuk, gue mau di paling depan.” Jawab Vanny tanpa rasa penyesalan sama sekali walaupun sudah mengganggu ketenangan batin Gamelia.

“Lo dari tadi ribut mulu, padahal lo yang suruh gue nikmatin!” Gerutu Gamelia, namun pasrah dan ikut berjalan cepat bersama temannya itu.

Tak lama, mereka ada di bagian depan rombongan. Kedua gadis itu mulai memperlambat jalannya. Di paling depan, mereka menemui Fadli, yang memimpin ekspedisi ini. Entah kenapa sosok itu membuat Gamelia tersenyum, tetiba rasa kesalnya hilang sudah.

“Eh, Vanny!” Sapa Fadli. “Halo, mungkin kamu lupa kita pernah ketemu,” pandangan Fadli beralih ke Gamelia. “Fadli,” tanpa basa-basi, Fadli menjulurkan tangannya.

“Gamelia,” katanya tersenyum, untuk beberapa saat mata mereka terkunci.

Vanny ikut bengong, tak tahu harus berbuat apa.

“Ng… nggak lupa kok, Kak. Aku inget Kakak yang tunjukin ruang Kelas Statistik ke aku waktu itu.” Kata-kata Gamelia memecahkan kesunyian itu, yang malahan diiringi kesunyian yang lain, mata mereka kembali terkunci.

Vanny merasa ada sesuatu di antara mereka berdua, Fadli dan Gamelia. Ia bergantian menatap keduanya. Akhirnya karena tak sabar, ia memukul bahu Fadli, “Gak usah bengong gitu juga kali!” Katanya sambil diiringi gelak tawa.

Fadli ikut tertawa, “Ternyata kalian temenan, tau gitu gue minta kenalin dari dulu, Van, sama lo! Udah dua bulan gue muter otak gimana caranya kenalan sama ini cewek…”

Pernyataan Fadli yang blak-blakan membuat Gamelia salah tingkah. “Fadli sering ke rumah gue, Gam, ketemu bokap.” Vanny menjelaskan ke Gamelia yang kelihatan bingung.

“Lo tau gak sih dia ini bego banget? Gue sampe ga paham kenapa bokap gue masih aja percaya sama Fadli. Bokap sering tutoring dia, Gam. Private,” lanjutnya seraya mencibir. “Lo gak usah mimpi gue kenalin ke Gamelia, kalian kayak langit dan bumi, gue gak rela.”

Gamelia hanya tersenyum kecil. Kali ini Fadli yang jadi salah tingkah dibuatnya. “Lo jangan jelek-jelekin gue gitu dong, Van!” protesnya. Kemudian pandangannya beralih ke Gamelia, “Yang dia omongin semua ada benernya sih. Tapi aku percaya kalau belajar di institusi pendidikan itu hanya 25%, masih ada 75% di luar sana yang bisa kita pelajari, di luar tembok-tembok kampus, di kehidupan nyata. Makanya aku terkesan gak serius kalau di kelas.” Lanjutnya dengan lugas.

Lagi-lagi lelaki ini menarik perhatian Gamelia. Tidak lama kemudian mereka memulai obrolan, layaknya gemericik air yang mengarungi sungai kecil di samping mereka, pelan dan mengalir.

Vanny yang awalnya jengkel, memberikan kesempatan bagi dua orang itu untuk bersama, karena tatapan mereka yang berbinar-binar, tak tega rasanya ia ikut campur dalam pembicaraan dari hati ke hati itu. Iya, dari hati ke hati, tidak hanya dari kepala, karena ini kali pertamanya ia melihat Fadli dan Gamelia bersikap seperti itu. Lalu ia memperlambat langkahnya, agak menjauh dari keduanya, dalam hati yakin bahwa temannya ini tidak akan menolak lagi ajakannya untuk bergabung dengan UPA.

Ia pun tersenyum, menghela napasnya, “It’s indeed a good day after all…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *