Something in between

(on her musical preference)

B: “Han, kamu lawas juga ya orangnya.”

H: “Hahaha. Kenapa gitu?”

B: “Ini CD-CD kamu seleranya sama kayak Bapak saya.”

H: “Emang mayoritas pun selera bokap-nyokap gue, Bas. Gue somehow emang lebih suka lagu jadul, liriknya lebih menyentuh, lebih puitis. Ya nggak sih?”

(on Kings of Convenience)

H: “Gilaaa gue suka banget, Bas! Super happy! Makasih ya udah mau temenin gue nonton!”

B: “Saya yang makasih sama kamu, udah mau ngajak saya.”

H: “Tapi kan lo nggak suka-suka amat sebenernya. Abisan gue bingung sih, mau minta temenin siapa lagi… Yang suka Kings kan cuma Sisil, dan dia mau nonton bareng Adit, gue males nyamukin orang pacaran. By the way, gimana-gimana menurut lo, konsernya?”

B: “Hmm… Mungkin setelah ini, saya juga akan jadi fans berat-nya Kings of Convenience.”

(on her dream honeymoon to Bora-bora)

B: “Han, kira-kira butuh uang berapa ya, untuk ke Bora-bora?”

H: “Hmmm, nggak tahu, Bas. I dream about it but never had the thought of realising it. Kenapa emangnya?”

B: “Yah, siapa tahu nanti istriku minta diajak kesana…”

(on fortune cookies)

H: “What you got?”

He handed in the little parchment to her after cracking his fortune cookie.

H: “Sheesh, creepy. I got the same.”

You might think that the best match for you is your opposite, but it is not anymore since you go for the one who is alike. And if you could learn to compromise and be aware of the other, it would be your ideal match of like minds.

(on her first performance after 8 years)

B: “Aku nggak tahu kamu bisa main piano.”

H: “I did practice back then til I was 13, but I lost interest.”

B: “Bagus, Han.”

H: “Oh ya? Ng… kayanya nggak, Bas. I’m nervous as hell…”

B: “Iya aku tahu.”

H: “Ah, tuh kan! Pasti menurutmu jelek! Aku udah lama latihan ini, lagu tadi tuh one of my fave, udah lama mau aku mau kasih ke kamu, but in a special way.”

B: “Iya aku tahu, Hana. Makasih banyak ya. Iya, bagus juga lagunya. Jujur aku baru pertama kali denger. Lagu apa sih, Han?”

H: “Better than love. Lagunya Sherina, my childhood idol.”

(on their thoughts of relationship)

H: “Bas, do you know, I think we only need two things how to make relationship works.”

B: “Yaitu?”

H: “Love and trust.”

B: “Kenapa?”

H: “Because love is the basic thing. Kalo nggak sayang, kenapa harus pacaran? Tapi banyak temenku yang pacaran karena sayang aja, but they don’t trust him, you know? It’s depressing, masa tiap gak barengan jadi parno… so that’s why we need trust in the second place.”

B: “Kalau komunikasi?”

H: “Kayanya kalo sayang dan percaya, pasti akan kasih tahu semuanya gak sih, Bas?”

B: “Iya juga sih. Tapi menurutku sayang dan percaya aja gak cukup, Han.”

H: “Terus apa lagi?”

B: “Pengorbanan. Tanpa pengorbanan, hubungan itu nggak akan jalan kemana-mana. Kompromi itu perlu, orang kan nggak semuanya langsung cocok, harus ada yang dimengerti, harus ada yang dibatasi. Ya kan?”

H: “Love. Trust. Sacrifice. I like it.”

(his favourite poem given to her)

“aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan 
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”

Sapardi Djoko Damono

Hana & Baskara

The Track List

Screen Shot 2016-07-15 at 8.53.22 PM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *