Selisih Jalan

Bandung, April 2014

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Sudah satu bulan, semenjak malam itu aku memberitahukan isi hatiku yang sebenarnya kepada Bagas. Satu bulan, semenjak aku dengan terpaksa mengikhlaskan Bagas untuk menjalin hubungan yang serius dengan Dewi. Satu bulan, setelah Bagas akhirnya memberikan lampu hijau kepada Kak Bintang yang saat ini sedang dekat denganku–karena selama ini dia selalu saja melontarkan kalimat-kalimat mengejek yang menunjukkan ketidaksukaannya kepada siapapun yang mendekati aku, yep, not even Arya. Sejak saat itu juga, hubunganku dan Kak Bintang semakin intens and everything went too fast since then.

Di sanalah aku, on a fine Sunday menghirup udara sejuk Bandung seraya melangkahkan kakiku menuju gerbang depan kampus. Setelah beberapa bulan belakangan ini kami hanya berhubungan lewat chat, telepon, dan video call, akhirnya aku ada keperluan untuk ke Bandung dan sekalian menemui Kak Bintang.

Aku duduk di bangku yang ada di ATM Center. Posisiku membelakangi jalan, membuatku tidak bisa melihat kalau ternyata ada seseorang yang berjalan menghampiriku. Orang itu duduk tepat di bangku sebelah, setengah berbisik, dia berkata ke dekat telingaku, “Nunggu siapa, Mbak?”

Aku yang sedari tadi tertunduk dan sibuk memperhatikan layar handphone, akhirnya melepas pandangku ke arah sumber suara itu. Aku bisa melihat dia seutuhnya, duduk tepat di sebelahku. Rambut hitam cepak, kacamata, kemeja flanel, tas selempang kecil, jam tangan, serta sandal jepitnya, persis seperti terakhir kali kami bertemu dulu. Namun, aku baru sadar kalau matanya ternyata cuma segaris, agak oriental maksudku. Keturunan Tionghoa mungkin, aku juga tidak tahu. Untuk sepersekian detik aku terdiam, otakku mungkin sedang mencerna pemandangan yang tak biasa di hadapanku itu, sampai akhirnya seulas senyum berhasil terbentuk di wajahku.

Aku melemparkan senyumku padanya, dia pun ikut tersenyum. Kami sedikit berbasa-basi, menanyakan kabar masing-masing dan keperluan ke kampus hari itu–yang sudah sangat jelas bahwa keperluannya adalah untuk bertemu, seperti yang sudah kami rencanakan sore sebelumnya. Setelah basa-basi yang ternyata cukup basi itu, akhirnya kami memutuskan untuk pergi mencari makan siang.

Kami beranjak dari bangku di ATM Center, menyusuri jalan menuju Gerbang Ganesha. Sesampainya di gerbang depan, dia lupa kalau ternyata dompetnya kosong, jadi kami kembali lagi ke ATM Center. Aku duga, dia membobol habis isi ATM karena lama betul dia berada di dalam kotak persegi empat itu. Atau mungkin dia sekalian membayar tagihan-tagihan bulanannya yah, berhubung saat itu adalah awal bulan, pikirku. Ya, apa peduliku sih, itu kan bukan urusanku. Ya, bukan urusanmu juga.

Aku berdiri tidak jauh dari ATM, menunggunya. Aku melayangkan pandanganku ke sekeliling kampus, ke setiap sudut yang terjangkau oleh jarak pandang mataku. Entah kapan terakhir kali aku menginjakkan kaki di kampus tercinta itu. Aula Barat dan Aula Timur penuh sesak dengan orang-orang yang datang ke Titian Karir. Di Lapangan Cinta, sedang ada acara marawisan atau nasyid atau semacamnya aku tak tahu, yang pasti ada tenda dan suara-suara nyanyian lagu islami terdengar dari sana.

Sementara itu, di Lapangan Basket sedang ada pertandingan. Ternyata himpunanku sedang bertanding. Aku bisa lihat seragam yang mereka kenakan jauh lebih bagus dibanding dengan kostum tim yang dulu, sewaktu aku masih jadi manajernya. Ingin sekali aku duduk di sana, membela himpunan yang dulu pernah aku cinta. Duduk di bench, mencatat statistik, dan menahan degup jantung yang berdetak cepat setiap kali tim himpunanku nyaris mencetak skor, atau sebaliknya saat tim lawan berusaha memasukkan bola ke ring kami. Ah, aku sudah terlalu tua untuk itu. Iya terlalu tua, untuk duduk di sana dan bersorak menyemangati pemain-pemain yang sekarang bahkan aku tidak kenal lagi siapa mereka. Dan lagi, tidak mungkin aku minta dia menemaniku untuk sebentar saja menyaksikan himpunanku tanding basket. Mungkin kalau yang tanding adalah himpunanku lawan himpunan dia, masih mungkin aku mengajaknya untuk nonton sebentar saja. Ya sudahlah, aku kirim doa saja, supaya himpunanku menang dan bisa naik ke Divisi 1!

Tak lama kemudian, dia keluar dari ATM, sudah selesai ambil uang. Lalu kami jalan lagi menyusuri pinggiran Aula Timur, untuk menuju gerbang depan.

Entah kemana langkah kaki membawa kami. Sepanjang jalan kami hanya memperdebatkan ingin makan apa dan dimana. Walaupun dia bilang aku bebas boleh pilih makan apa saja, dia tetap tidak setuju dengan pilihan-pilihanku. Jadilah kami hanya berputar-putar di jalan sekitaran kampus. Untuk beberapa menit, kami cuma jalan dari gerbang depan, ke Masjid Salman, Gelap Nyawang, lalu kembali lagi sampai di seberang Gerbang Seni Rupa. Sayang sekali, langit Bandung agak gelap dan mendung. Dia menyarankan agar kami makan di tempat yang dekat saja, mengingat hujan sebentar lagi akan turun dan kami tidak ada kendaraan karena mobilnya sedang masuk bengkel. Sebenarnya, aku tidak takut sama hujan, malahan aku ingin merasakan lagi hujan-hujanan di Bandung seperti waktu kuliah dulu. Tetapi, berhubung kami tidak ada yang membawa jaket, dia melarangku untuk hujan-hujanan karena takut aku masuk angin. Dan aku pun tak punya pilihan lain, selain tentu saja mematuhinya. Setelah berjalan berkeliling, akhirnya kami memilih untuk makan di daerah Dago, yang paling gampang dan terjangkau dengan angkot.

Aku tidak akan menceritakan bagaimana kami melalui waktu berjam-jam untuk mengobrol, bercanda, dan main tebak angka–yang entah bagaimana dia selalu berhasil menebak dengan benar angka yang aku pilih, tetapi aku selalu salah menebak angka yang dia pilih. Namun satu hal yang aku tahu, aku tidak bisa berhenti tersenyum, bahkan tertawa terus oleh setiap kata yang dia ucapkan padaku.

Setelah selesai makan, dia mengantarku ke travel karena aku harus pulang ke Jakarta. Aku tidak ingin sampai di Jakarta terlalu sore dan nantinya malah terlalu lelah untuk memulai hari Senin, esok harinya. Jarak travel dan tempat kami makan tidak terlalu jauh. Dia mengajakku untuk berjalan kaki saja. Iya, setiap langkah diiringi tawa, bahkan aku yang sama sekali tidak suka jalan kaki sampai lupa untuk mengeluh lelah dan pegal. Saat tangan kami pertama kali bersentuhan, jantungku berdesir. Aku tidak berani melihat ke arahnya karena aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tangan kirinya menggapai ke arahku dan menggenggam tangan kananku selama kami berjalan menyusuri Dago sampai Balubur. Aku bisa merasakan pipiku merona merah karena malu. Saat mendekati pool travel, dia melepaskan  genggaman tangannya agar aku bisa leluasa membayar travel dan lainnya.

Travel sudah siap menuju ke Jakarta. Aku berpamitan dengannya, dan dia mengusap kepalaku sambil berkata, “Cepat balik kesini lagi ya, Bandung beda rasanya tanpa kamu.”

Aku jawab, “Kamu makanya pulang ke Jakarta, biar main di Jakarta aja.”

Dia tersenyum kepadaku dan sesaat matanya menghilang bersama senyuman manis itu.

“Iya, nanti kalau udah nggak terlalu hectic aku pulang. Now, off you go! Hati-hati, ya!”

Aku hanya mengangguk dan memberikan acungan jempol padanya. Aku mengerti kalau Kak Bintang sedang sibuk menyelesaikan tesisnya, maka dari itu dia tidak sempat pulang ke Jakarta dan menemuiku. Dua minggu lalu, saat aku menerima undangan pernikahan teman sejurusanku yang akan digelar di Bandung, aku dengan semangat langsung memberitahu Kak Bintang dan terjadilah pertemuan hari itu. Akhirnya, hubungan kami yang tak pernah diresmikan itu pun mengalir begitu saja.

Kemudian, aku berjalan menjauhi Kak Bintang ke arah mobil travel yang sedari tadi mesinnya sudah menderu-deru. Aku duduk di barisan paling belakang, di bangku tengah, lalu menatap keluar jendela dimana tadi kami bercanda dan tertawa menunggu keberangkatan travel-ku.

Saat travel meninggalkan pool-nya, aku mengeluarkan iPod dan seolah iPod-ku mengetahui suasana hatiku, secara acak terputarlah Enchanted dari Taylor Swift, kesukaanku.

“I’m wonderstruck blushing all the way home…”

Iya, aku pulang ke Jakarta, dengan hati senang dan senyuman di wajahku. Sampai bertemu lagi, Bandung! Semoga secepatnya 🙂


Bandung, Mei 2014

Bintang

Sudah memasuki bulan ke-empat, sejak Airina kembali masuk dalam kehidupanku. Hampir setiap pagi, aku tersenyum melihat nama Airina muncul di layar ponselku. Aku membaca pesan balasan darinya.

Thanks, Kak. You too, have a good day di kampus yah!

Begitulah isi pesan yang Airina kirim. Singkat, dan tanpa banyak basa basi. Airina tidak seperti perempuan kebanyakan yang selama ini pernah aku dekati, pikirku. Airina hanya mengirim pesan di jam-jam tertentu dan tidak terus menerus menuntut untuk dihubungi. Itu juga salah satu alasan mengapa aku masih tidak bisa lepas darinya, rasa penasaran.

Aku masih bisa ingat kali pertama aku mengenal Airina. Saat itu, aku tengah bersiap untuk berangkat ke kampus dan sebagai koordinator panitia lapangan, aku harus memberikan briefing kepada calon panitia lapangan Olimpiade ITB. Ketika sesi perkenalan dimulai, ada salah satu perempuan yang menarik perhatianku. Namanya Airina, Teknik Lingkungan 2008, dua tahun di bawahku. Selama kepanitiaan, aku banyak berinteraksi dengan Airina dan dapat mengenalnya lebih dekat. Ternyata Airina adalah seorang yang ramah, riang, dan perhatian. Tanpa aku sadari, aku pun mulai terbawa perasaan.

Lalu ingatanku pun mulai memainkan kenangan-kenangan lama yang kusimpan rapi on the back of my mind. Sore itu, di bulan Januari 2009, kami panitia Olimpiade–termasuk aku dan Airina, sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan acara closing yang akan diselenggarakan awal Februari, tepat di minggu pertama perkuliahan semester baru dimulai. Sore itu, langit Bandung hitam pekat dan sepertinya hujan akan turun dengan begitu derasnya. Aku dan Airina sedang dalam perjalanan menuju ke kampus sehabis aku menjemputnya di kosan. Saat mobilku memasuki parkiran Seni Rupa, titik-titik hujan turun dari langit. Celakanya, kami tidak punya payung. Untuk beberapa menit, kami hanya menertawai kebodohan kami karena terjebak di mobil dan tidak bisa masuk ke kampus untuk rapat closing di sekretariat Olimpiade.

“Lari aja yuk, Kak?” Airina mulai terlihat gelisah setelah melirik jam tangannya karena khawatir telat menghadiri rapat.

“Jangan, Airina. Ini hujannya deras banget. Basah kuyup nanti,” jawabku.

Aku kemudian teringat, ada spanduk bekas acara pembukaan Olimpiade di bagasi mobil. Aku bermaksud untuk mengambil spanduk itu agar bisa dijadikan pelindung dari hujan.

“Aku ambil spanduk di bagasi ya, lumayan buat nutupin kepala biar kita nggak basah kuyup.”

Belum sempat Airina mengiyakan rencanaku, aku sudah bergegas hendak membuka pintu mobil dan turun keluar. Refleks, Airina menggenggam tangan kiriku, dan aku pun refleks menghentikan pergerakanku.

“Jangan Kak, nanti Kak Bintang basah kuyup. Udah, bareng aja langsung lari yuk,” pinta Airina.

Aku melirik ke tangan mungil Airina yang masih memegang tanganku. Kemudian mata kami saling tatap, Airina terlihat malu dan dengan canggung melepaskan genggaman tangannya dari tanganku.

“Nggak apa-apa, Airina. Daripada nanti sama-sama sakit kehujanan, mendingan kan aku aja yang basah. Udah, kamu tunggu sini yah, nanti buka pintu kalau aku udah ambil spanduknya.”

Aku berlari ke bagasi mobil, mengambil spanduk yang terlipat rapi. Kemudian aku mengenakan spanduk itu di atas kepala, menghampiri Airina di bangku penumpang. Airina dengan sigap membuka pintu dan berdiri di bawah spanduk yang aku pegang. Kemudian kami berlari dari parkiran Seni Rupa menuju jalur anti hujan di dekat Aula Timur. Dengan berpayungkan spanduk, kami saling tatap dan tertawa kecil seraya berlari menentang derasnya hujan. Saat sudah sampai di pinggiran Aula Timur, aku meletakkan spanduk ke tanah. Kacamataku basah, apalagi celana jeans dan sneakers-ku. Rambut Airina basah terurai, baju dan celana jeans-nya lepek terkena hujan. Well, forgive me for staring, who can resist that? Akhirnya, aku melepaskan kacamata dan bermaksud mengeringkannya dengan kemeja flanel yang aku kenakan.

“Kak, aku ada tisu kok. Pake ini aja,” Airina mengeluarkan tisu dari dalam tas dan memberikannya kepadaku.

Alih-alih mengambil tisu yang ia sodorkan, aku malah memberikan kacamataku kepada Airina, “Na, tolong yah, aku mau lipat ini dulu,” sambil menunjuk spanduk yang basah dan tergeletak di tanah.

“Eh?” Airina terlihat bingung, tetapi tetap mengambil kacamataku dan membersihkannya dengan tisu.

Airina menyodorkan kembali kacamataku yang sudah ia bersihkan, tepat saat aku sedang sibuk melipat spanduk yang telah menyelamatkan kami berdua dari hujan tadi. Dengan refleks, aku yang jauh lebih tinggi darinya, menyesuaikan posisi tubuhku agar tinggi kami sejajar dan ia bisa memasangkan kacamata di batang hidungku. Aku bisa melihat Airina menahan kedua tangannya agar tidak gemetar saat memakaikan aku kacamata, sepertinya dia nervous.

“There you go…”

Pandanganku pun akhirnya sudah tidak blur lagi begitu kacamata menempel di atas batang hidungku. Jarak di antara wajah kami begitu dekat dan sungguh aku bisa melihat pipi Airina merona kemerahan. Aku tersenyum lebar.

“Makasih ya!”

Jantungku berdebar tak karuan. Itu adalah kali pertama aku dan Airina berjarak sedekat itu.


Lalu ingatanku berlari tepat ke tiga bulan silam. Februari lalu, aku mendapat telepon dari Narendra, temanku sesama aktivis di Keluarga Mahasiswa (KM) ITB sewaktu kuliah dulu. Narendra mempercayakan aku menjadi Menteri Internal, sementara ia menjabat sebagai Presiden KM ITB. Narendra menelepon untuk memberitahukan berita penting, katanya,

“Masih inget Airina nggak? Dia jomblo, tuh, akhirnya. Gimana nih, misi yang dulu selalu tertunda apa mau dilancarkan sekarang?” Kata Narendra di telepon.

Tentu saja aku masih ingat, bagaimana mungkin aku bisa lupa? Setelah kepanitiaan Olimpiade bubar, aku dan Airina memang masih cukup akrab. Bisa dibilang, I was the one who maintained that relationship. Aku yang memang dengan sengaja meminta Airina untuk menjadi sekretaris ketika menjabat sebagai Menteri Internal KM ITB. Selain tentunya aku ingin tetap dekat dengan dia, Airina yang super perfeksionis dan detail oriented memang sangat cocok untuk posisi tersebut. Ia sangat telaten dalam mengatur jadwal rapat dan membuat laporan pertanggung jawaban setiap bulannya, dan hal itu sangatlah meringankan pekerjaanku.

Airina juga selalu menyempatkan untuk mengirimkan ucapan setiap kali aku melewati momen penting, entah itu ulang tahun, seminar, ataupun sidang tugas akhir. Bahkan, di hari wisuda, Airina meluangkan waktunya datang ke Sabuga untuk memberikan ucapan selamat secara langsung, dan memberikan setangkai bunga mawar putih. Iya, hanya setangkai mawar putih, yang melambangkan persahabatan. Mungkin hanya itulah arti diriku ini bagi Airina, sebatas teman dekat, sahabat, atau mungkin sosok seorang kakak.

She is like my spirit animal, my all time supporter.

Aku tersadar dari lamunanku ketika ponselku bergetar lagi. Ada pesan masuk dari Narendra. Isinya, nomor kontak Airina, dan sebuah foto dengan caption,

“Nih, refreshment buat memori lo, kali aja lupa sama mukanya Airina ;p” Narendra menggodaku.

Aku menatapi foto itu. Senyum Airina sungguh manis, masih semanis yang bisa ku ingat. Dan satu hal yang sangat aku suka darinya, senyumnya seperti dari hati dan matanya memancarkan senyum manisnya itu.

“Kenapa mesti sekarang? Kenapa saat aku nggak bisa?” Aku tersenyum kecut.

Kemudian aku teringat di penghujung tahun lalu, saat Airina berulang tahun. Seperti biasa, aku mengucapkan selamat, bahkan mengirimkan kue dengan kartu ucapan. Selama ini kami memang cukup akrab, tetapi itu adalah pertama kalinya aku mengirimkan kue ulang tahun untuknya. Hal yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya. Namun, Airina seperti tidak memberikan lampu hijau. Mungkin karena Airina masih berpacaran dengan Arya, pacarnya semasa kuliah dulu. Keberadaan Arya pula lah yang membuat aku mengurungkan niat untuk mendekati Airina, dan membuat aku mundur secara teratur dari misi untuk mengubah posisiku yang hanya sekedar seorang ‘kakak’ menjadi ‘pacar’ di mata Airina. Di akhir tahun itu juga, aku memutuskan untuk mencoba menjalin hubungan dengan orang lain, teman seangkatan yang memang aku tahu sudah menaruh rasa semenjak kuliah sarjana dulu, Saras.

Saat itu, Saras sedang berkuliah di Norwegia. Awalnya hanya menyambung silaturahmi, tetapi ternyata hubungan kami berlanjut dan Saras berniat untuk berlabuh ke jenjang yang lebih serius.

“Apa lagi yang dicari?”

Not to mention the fact that, teman-teman seangkatan di Teknik Fisika  satu per satu sudah banyak yang menikah, bahkan memomong anak. Tanpa berpikir panjang, aku pun akhirnya mengiyakan keinginan Saras.

Setelah mendapatkan kontak Airina dari Narendra tiga bulan lalu, aku pun menghubunginya.

“Apa salahnya sih, menjaga silaturahmi?” Pikirku saat itu, naif.

Suaranya ceria seperti biasa. “As always, she can always lift my spirit up,” seulas senyum pun terukir di bibirku.

Saat-saat bersama Airina bagiku tidak dapat digambarkan dengan kata-kata. Perasaanku campur aduk. Menyesal, mengapa aku tak melancarkan misi yang selama ini tertunda? Sedih, sedikit banyak karena keberadaan Saras saat ini dalam hidupku.


Bandung, Juni 2014

Malam semakin larut dan aku masih terjaga, berkutat dengan laporan tesis di layar laptop di hadapanku. Mungkin aku tidak akan tersadar kalau hari itu adalah hari ulang tahunku, jika aku tidak membuka email dari Airina. Email yang ia kirimkan tepat jam 12 malam. Ia mengirimkan video stop motion yang dibuatnya sebagai ucapan dan hadiah ulang tahun untukku. I am flattered. Ingin rasanya aku ke Jakarta detik itu juga untuk menemuinya. Namun apa daya, deadline tesis harus tetap jadi prioritas yang utama.

Aku menelepon Airina dan berterima kasih atas video yang ia kirimkan. Kami mengatur jadwal agar bisa bertemu akhir pekan nanti saat aku pulang ke Jakarta. Tanpa kusadari kami mengobrol sudah berjam-jam hingga Airina tertidur. Anak ini entah kenapa gampang sekali tidurnya. Aku pun tidak kuasa menahan kantuk dan akhirnya juga ikut terlelap.

Saat aku terbangun, jam di dinding kamar kosan sudah menunjukkan pukul 10:30. Aku mengecek handphone, ada banyak chat masuk dari orang-orang terdekatku yang mengucapkan selamat ulang tahun, dan 13 missed calls, dari Saras. Aku terperanjat.

Saras, pacarku yang selama tiga bulan terakhir sudah tanpa sengaja aku lupakan keberadaannya. Saras, yang tanpa kusadari posisinya sudah aku kesampingkan dalam hidupku karena saat itu aku sedang teralihkan oleh kehadiran Airina.

Kemudian handphone-ku berbunyi. Kali itu, aku berhasil mengangkat telepon dari Saras. Ia pasti khawatir karena sedari tadi aku tidak ada kabar. Saras menyanyikan lagu ulang tahun untukku dan dia memberikan surprise, yang benar-benar membuatku terkejut. Ia pulang ke Indonesia karena sedang ada libur nasional beberapa hari di Norwegia dan ia sudah meminta izin kepada supervisor-nya untuk pulang ke tanah air selama satu minggu.

Aku menutup telepon dan tersadar bahwa apa yang telah aku lakukan ke Saras sangatlah jahat. Aku telah berkomitmen kepada Saras akhir tahun lalu, seharusnya aku tetap menjaga komitmenku itu.

“Mungkin ini sudah saatnya to stop fooling around.”

Aku menatap lekat-lekat sosok Saras yang duduk di hadapanku. Senyumnya terlihat sungguh manis dan tulus saat terkena pantulan cahaya lilin di atas meja kami, menyaingi manisnya langit malam Dago Pakar yang malam itu bertabur bintang. Aku meyakinkan diriku kalau memang sudah saatnya untuk membawa hubungan kami ke jenjang yang lebih serius. Saat Saras memintaku untuk mengajaknya menemui keluarga besarnya, aku pun mengiyakan seraya berkata dalam hati,

“Well, seolah waktu tak pernah berpihak padaku. Dan kamu sepertinya emang nggak ditakdirkan buat aku, Airina. Maaf, kita selalu berselisih jalan…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *