Pertengkaran Pertama

Jakarta, November 1988

Saat Fadli berulang tahun yang ke-27, Gamelia memberanikan diri untuk memberikan surprise ke kontrakannya. Biasanya, mereka merayakan ulang tahun dengan makan di luar, berdua ataupun bersama teman dan keluarga. Sudah beberapa bulan belakangan Gamelia belajar membuat kue sendiri, sekaligus belajar bagaimana cara menghias kue.

Sore itu di hari Sabtu, ia membuka pintu depan kontrakan Fadli dan Tony. Tony meminjamkan kunci cadangan kepadanya kemarin malam. Sehabis mengerlingkan matanya ke kaca depan, Gamelia tersenyum puas akan penampilannya. Di hari spesial itu, ia mengenakan dress merah selutut dengan aksen sabrina, dilengkapi dengan kalung-kalung batu dan manik-manik dengan warna-warna cerah. Rambutnya dibiarkan terurai, seperti yang Fadli selalu suka. Setelah mencopot clogs hitamnya dari kedua kakinya, Gamelia memasuki ruang tamu. Ia mengecek jam tangannya,

“Seharusnya Kak Fadli kembali sebentar lagi.”

Ia sudah hafal betul jadwal Fadli sehari-hari. Biasanya, Fadli menghabiskan Sabtu sore untuk bermain golf bersama Pak Iskandar di Senayan.

Mata Gamelia dengan cepat menyapu ruangan, mendapati tumpukan kado dan parsel di lantai di dekat meja kecil tempat Fadli biasanya menaruh kunci mobil, motor, dan surat-surat. Sebagian besar kado diberikan oleh keluarga dan teman-temannya, yang mayoritas sudah dikenal oleh Gamelia. Iya, setelah lima tahun bersama, Fadli dan Gamelia saling mengenal keluarga dan teman-teman masing-masing.

Ia melihat beberapa kado yang telah dibuka di meja tamu, salah satunya album New Kids On The Block, band asal Amerika Serikat yang juga ia suka. Terdapat pula film favorit Fadli, Catatan Si Boy. Gamelia tersenyum, mengingat setahun lalu, mereka menonton film itu berdua. Tahun ini sekuel dari film itu telah rilis, namun karena mereka sama-sama sibuk bekerja, sulit bagi Fadli dan Gamelia untuk meluangkan waktu dan menonton film di bioskop bersama. Gamelia berkata ke diri sendiri,

“Minggu depan aku harus nonton bareng.”

Lalu Gamelia menangkap satu nama yang familiar, dari Melati. Ia memberikan parsel berisi barang-barang mewah dengan warna senada. Memiliki pacar seperti Fadli dan sahabat seperti Vanny, membuat Gamelia paham akan barang-barang dari brand ternama. Gamelia memandangi jam tangan Patek Philippe Calatrava 3919, pulpen Montblanc yang digrafir dengan inisial nama Fadli, dan sapu tangan Ermenegildo Zegna, yang beberapa tahun belakangan memang sedang marak, karena di tahun 1970-1980an brand itu sedang melebarkan sayapnya secara internasional. Gamelia melihat sapu tangan itu juga dibordir dengan inisial nama Fadli.

“Siapa dia?”

Pertanyaan itu tidak terjawab sejak lima tahun silam. Kali ini Gamelia naik pitam. Awalnya ia merasa malu, sebagai pacar, Gamelia hanya mampu membelikan sepatu kulit keluaran lokal untuk Fadli bekerja.

Setelah berhasil lulus di tahun 1985, Fadli akhirnya diterima bekerja kantoran di sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang asuransi. Walaupun masih mengontrak, Fadli sedang menabung untuk membangun rumah sendiri di kawasan Bekasi. Sementara Gamelia berhasil lulus cepat setelah 3.5 tahun studi di FE. Sudah setahun lebih Gamelia bekerja sebagai auditor di salah satu kantor akuntan publik yang termasuk 8 besar di dunia.

Tak lama, terdengar suara pintu garasi dibuka dan mobil Fadli yang sudah dipakai selama dua tahun, Mazda Savanna RX-7 berwarna silver, memasuki garasi. Gamelia melihat sosoknya mendekati ruang tamu yang terlihat lewat pintu yang terbuka lebar. Fadli memakai sweater berwarna putih berpola geometris, celana jeans yang sudah belel, dan sepatu kets yang juga berwarna putih. Ia tersenyum lebar mendapati Gamelia disana. Sembari menanggalkan aviator Rayban-nya dari batang hidungnya, tangannya terbentang lebar. Namun mood Gamelia sudah rusak berkat Melati dan barang-barang itu.

Gamelia marah, tetapi tetap menjaga kata-katanya yang terdengar bergetar. Ia meminta penjelasan. Namun Fadli tidak merasa bersalah. Teman, hanya teman, katanya selalu.

“Teman gak akan hadiahin barang seharga juta-jutaan ke Kakak.”

“Ya emang kenapa kalo dia mampu? Udah biasa kok.”

Dan kata-katanya hanya semakin membuat Gamelia sakit hati. Darahnya serasa naik ke kepala dan ia pening menahan emosinya. Entah berapa lama mereka berdebat. Mungkin selain amarah, Gamelia pun diliputi rasa cemburu. Kata-kata Vanny tentang Fadli kembali terngiang di telinganya, Casanova. Setelah lima tahun kebersamaan mereka, image Fadli yang satu itu tidak lah sirna. Kali itu Gamelia merasa cukup sudah, lama sekali ia memendam perasaan insecure mengenai hal itu. Vanny benar tentang Fadli, he is not the man she can handle. Dan lima tahun lalu, sahabatnya memang sudah memperingatkannya.

“Aku nggak suka, kalau Kakak bilang cuma teman, buat apa dia kasih-kasih hadiah begini?”

Lagi-lagi, kata-kata itu. Semakin lama nada bicara Gamelia semakin tinggi.

“Aku kan cuma nerima. Kenapa kamu jadi marah? Seakan-akan ini salahku.”

Gamelia pun tersadar, perdebatan ini tidak akan ada habisnya. Jangankan meminta maaf, Fadli sama sekali tidak merasa bersalah, as always. Bersamanya selama 5 tahun membuat Gamelia tahu betul, ia tidak bisa mengandalkan Fadli berperan sebagai sosok yang comforting.

“Yaudah kalo gitu. Selamat ulang tahun, Kak. Itu kuenya. Minta aja Melati pasangin lilinnya.”

“Kenapa Melati?” Alih-alih sadar bahwa pacarnya itu sedang gusar, Fadli malah menanyakan hal yang tidak relevan.

“Beli Patek Philippe aja dia mampu. Kenapa gak beli tiket pesawat aja, terbang sekalian ke Jakarta.”

“Dia di London, Gam. Lagi kuliah.” Lagi-lagi, tidak relevan.

“Oh, how great.” Kata Gamelia mencemooh, “Seakan-akan aku perlu tau?” tambahnya dalam hati kecilnya.

Lalu Gamelia pun segera mengambil tasnya, meninggalkan Fadli dan keluar rumah.

“Kamu mau kemana?” Fadli kebingungan atas kelakuan Gamelia.

“Aku mau pulang, tiba-tiba pusing.” Ucapnya lirih.

Sebenarnya Gamelia berharap Fadli mengejarnya, merengkuhnya, tanpa perlu kata maaf, karena ia tahu, selain meminta-minta, Fadli terlalu gengsi untuk meminta maaf. Ia ingin Fadli membawanya kembali ke rumah itu, meniup lilin bersama-sama, dan ingin mendengar komentar Fadli akan kue buatannya.

Gamelia menghapus air matanya yang tak kunjung habis. Saat itu ia sudah berada di perempatan Johar Baru. Kepalanya menoleh ke belakang, sosok Fadli yang diharapkannya tak kunjung terlihat.

Menghela napasnya, Gamelia mencegat taksi di pinggir jalan. Sepanjang perjalanan, hadiah dari Melati dan pertengkarannya dengan Fadli terulang dengan sangat jelas. Akhirnya ia sadar, mereka tidak cocok bersama.


Jakarta, Februari 1989

Sudah tiga bulan dilalui oleh Fadli tanpa Gamelia. Gadis kesayangannya itu tidak dapat dihubungi. Beberapa kali ia ingin mampir ke rumah Gamelia, tapi ia masih enggan. Fadli tidak pernah nyaman datang ke kediamannya di Kebon Jeruk. Mungkin terlalu ramai, atau terlalu hangat, dimana keduanya tidak biasa dihadapi oleh Fadli.

Awalnya Fadli merasa baik-baik saja. Namun ini sudah bulan ketiga dan akhirnya Fadli menyadari, ia stress. Fadli merasa kehilangan sosok Gamelia dan paham bahwa ia tak bisa jauh darinya. Biar bagaimanapun, berkat Gamelia lah ia bisa menjadi dirinya yang sekarang. Mulai dari lulus kuliah hingga memiliki pekerjaan yang cukup mapan.

Suatu hari sepulang kerja, Fadli membulatkan tekad untuk ke Kebon Jeruk. Semalaman ia menunggu di luar pagar, tetapi sosok yang dinantikannya tak kunjung datang.

“Mungkin dinas, ada audit di luar kota.” Pikir Fadli.

Di hari lain, akhirnya Fadli mampir ke rumah Gamelia. Sayangnya mereka belum berjodoh, Gamelia juga sedang bertugas di luar kota.

Tanpa sepengetahuan Fadli, pada akhir tahun kemarin, Gamelia memutuskan untuk ngekos di dekat kantor. Tidak jarang ia pulang larut, bahkan lewat tengah malam, karena tuntutan pekerjaannya yang bisa dibilang memiliki workload tinggi itu.

“Nak, kamu gak mau kasih tau Fadli? Dari seminggu sekali, sekarang tiap hari Fadli mampir ke rumah.” Tanya ibunya.

“Nggak, Bu. Gamelia udah gak mau lagi sama dia.”

“Ibu bingung harus bicara apa.”

“Diemin aja.”

“Hus, gak boleh begitu. Inget kan kata Bapak? Silaturahmi itu penting.”

Gamelia hanya mengangguk ogah-ogahan. Tidak hanya sikap Fadli yang satu itu yang menjadi masalah. Untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius, butuh persetujuan keluarga. Gamelia tahu betul, sampai sekarang, mereka belum mendapatkan lampu hijau dari keluarga Iskandar.  Dalam hatinya ia tahu, dua orang yang sangatlah berbeda memang tidak mungkin ditakdirkan untuk bersama. Dan siapa lah dia, berani-beraninya melawan takdir?


Jakarta, Maret 1989

“Vanny, kenapa pas kayak gini lo malah gak ada?!” Fadli frustasi.

Selepas lulus sarjana di tahun 1987, Vanny melanjutkan studi master ke New York, Amerika Serikat. Fadli kesal, teman dekatnya tidak berfaedah di kali itu.

Setelah lama menimbang-nimbang, Fadli memutuskan untuk giat bekerja dan mulai membangun sampai rumahnya di Bekasi dapat berdiri. Fadli menata ulang hidupnya, ia ingin menjadi pribadi yang lebih baik, demi Gamelia. Fadli kembali giat berolahraga dan mendekatkan diri pada Yang Kuasa, tak lupa menyebut nama Gamelia di setiap panjatan doanya. Setelah dirasa mampu lahir batin, ia berencana akan datang kembali ke rumah Gamelia.

I will respectfully ask her father for his blessing. And I will ask for her hand in marriage.” Ujarnya mantap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *