Inda: Kata Waze belok kiri, Ran.

Inad: Kalian lagi dimana sih?

Randa: Kampung Melayu, Nad.

Inad: Abis dari Kokas deh pasti?

Inda & Randa: Ada deeehhh…

Inad: Ihh darimanaaa?

Inda: Ih kenapa sih posesif banget harus tau?

Inad: Ih yaudah sih… Nda ih, btw serius nih gue mau cerita. Dengerin dooong. Lo ga kangen apa sama gue? Ga kangen apa gue jemput balik kantor??

Inda & Randa: Enggaaa… Hahaha!

Inad: Haha sial. Nangis nih… Jadi kangen deh gue ngintilin kalian.

Inda: Ini lo ga disini aja udah berasa ngintil, Nad, sepanjang jalan telepon hahaha…

Ini Inad just being Inad, maafkan aku, Nda. Aku rindu jadi third wheel!

 

Missing every single one of the ones I love back home…Akhirnya, foto farewell berhasil diunggah juga—walaupun telat banget ya sis, bentar lagi juga udah mau balik ke Indo (better late than never lah yaa). Ini sequence nya berdasarkan the last time I saw them before I departed, bukan berdasarkan siapa yang lebih penting cause they all will always hold a special place in my heart (kiwww)…

Ini adalah efek samping dari browsing tiket pulang tapi ga nemu yang mureee. Yasudahlah aku pasrah, mungkin emang disuruh fokus sama disertasi aja sampai beres.

Let me go hooome~~~

#brbnyanyihomedipojokansambilmewek

Ramadan Kareem!

Ramadhan kali ini rasanya agak beda… karena gue jauh dari rumah. Buat gue, mulainya Ramadhan itu selalu ditandai dengan ritual nganterin Mama ke Pasar Pagi Rawamangun, beli daging segambreng buat dibikin rendang. Kata Mama, masak rendang sekilo sama lima kilo capeknya sama aja, jadi mendingan langsung sekalian banyak masaknya. Dan Ramadhan kali ini, berhubung gue tau gue ga akan bisa icip-icip rendang buatan Mama—dan emang kondisi beliau sedang unfit juga buat masak, jadilah gue berusaha bikin rendang sendiri untuk mengobati kangen sama suasana puasa di rumah (tapi tetep aja sih no kolak pisang dan es buah blewah). Ya walaupun gue tau, tampilan dan rasa rendang buatan gue ga layak buat dibandingin sama buatan si Mama, yang penting nanti sahur pertama bisa makan rendang, yeay! Semoga kuat puasa 19 jam, semoga berkualitas ibadahnya bulan ini ya. Aamiin.

N: Please, lets take a selfie! This could be our last time studying together.

R: Aw, you’re so sweet, Nadia.

J: No, this cant be the last time. We will still need each other when we write the dissertation. You will complain about your problem, and he will too. And that’s how you get the motivation to keep going…

*but we took the selfie anyway*

May all the hard work be paid off! Amen!

#bhayexams #termtwoisofficiallyover #kemudiandisambutsummer #dansiapmenyambutramadhan

I don’t know what living a balanced life feels like
When I am sad
I don’t cry I pour
When I am happy
I don’t smile I glow
When I am angry
I don’t yell I burn
The good thing about feeling in extremes is
When I love I give them wings
But perhaps that isn’t such a good thing cause
They always tend to leave
And you should see me
When my heart is broken
I don’t grieve
I shatter

– Milk and Honey

M: Jadi walaupun menang tetep aja ga masuk champions league kek ini yaa *kemudian kirim meme ngeledekin tim bola idolanya*

H: Ternyata yang bikin mood gue rusak itu elu…

Nyahahaha ampun kaka~

Final is Here!!!

Dan sampailah kita di penghujung semester dua perkuliahan master yang super singkat tetapi sungguh padat ini. Setelah beberapa bulan belakangan gue membiarkan diri gue terdistraksi lantaran hati dan otak sedang asyik sendiri dengan si dia yang jauh disana, sekarang waktunya buat gue kembali ke realita lagi. Waktunya kembali being present 100% so I can win my own battle di kota tercinta ini.

I’ve been revising for weeksss karena semester ini ketiga modul yang gue ambil ada exam nya. Beda sama semester kemarin yang dari tiga modul cuma satu yang mesti exam, dan sisanya cuma nge-essay. So, I have no choice, havent I?

Sebelum berangkat dan mulai sekolah kemarin, yang gue khawatirin perihal kuliah cuma satu, gue bakal punya temen belajar bareng atau ngga buat ujian karena udah kebiasa punya geng belajar pas jaman S1 dulu. Gue paling ngga bisa belajar sendiri karena gampang banget ke-distract nya, ga deng, karena gue basically emang oon jadi butuh temen belajar buat ditanya-tanyain. Well, lucky me, now I have those two yang selalu ada setiap saat buat belajar bareng–yang selalu ada buat struggling ngehabisin waktu hampir satu jam sendiri keliling perpus buat cari seat kosong untuk menampung the three of us dan stay sampai jam 2 pagi, sampai akhirnya kita menyerah rebutan meja sama undergrads dan memilih untuk belajar di flat aja. Beruntungnya lagi, kita bertiga satu flat dan cuma beda blok, jadi bisa ganti-gantian pakai kitchen masing-masing atau bahkan lebih nyaman lagi, bisa sewa common room utama di resepsionis. Finals week bikin jadwal tidur jadi ngga jelas, apalagi makan. Makan sekitar jam 2 atau 3 pagi sebelum tidur pun jadi hal yang sudah biasa.

Dan sekarang, minggu pertama udah selesai. Hamdallah. Dua ujian sudah terlewati, walaupun yang satu pas ngerjain cuma bisa mengarang bebas karena rasanya ngga satu pun materi yang kita pelajarin keluar di ujian! Alhasil, gue cuma bisa nangis bombay begitu sampai di kamar selesai ujian tadi. Masih ada satu modul lagi dan gue punya the whole week buat revision. Semoga ini beneran jadi the very last exam ya, dan no resit or retake my dear lord, help me pleaseee.

Oke, cukup sekian ranting gue dini pagi hari kali ini. Cukup refreshed dan recharged bisa nulis dan kabur dari lectures notes untuk sesaat. Anyway, sampai sekarang gue masih gagal paham sih, kenapa kok kalau meracau yang negatif-negatif gini jari gue lancar banget ngetiknya ya? Tapi kalau pas lagi happy ngets, I stutter–dan ujung-ujungnya postingannya cuma numpuk di draft tanpa pernah berhasil masuk ke-published page. Lol. Dan ya, seperti postingan mengeluh lainnya, nanti juga ada saatnya ini post berakhir di trash.

It just takes some time
Little girl, you’re in the middle of the ride
Everything, everything will be just fine
Everything, everything will be all right

Halfway to go baby, September sebentar lageee~