Ulang Tahun Hana

Bekasi, Juli 1991

“Siapa, Bun?” tanya Fadli kepada istrinya setelah Gamelia meletakkan handphone-nya di meja makan. Kira-kira setengah jam lamanya ia melihat Gamelia menelepon, sambil mengepak-ngepak barang. Ia penasaran siapa suara di ujung telepon itu.

“Vanny.”

“Kenapa lagi, dia?” Fadli merasakan hal yang tidak menyenangkan.

“Dia pulang akhir bulan ini, katanya mau bikin pesta ulang tahun untuk Hana.” Selepas lulus master di tahun 1989, Vanny bekerja dan menetap di New York.

“Ngapain? Kita selametan aja di rumah baru kan?”

Belum dua tahun tinggal di Bekasi, Fadli dan Gamelia memutuskan untuk pindah ke daerah Bintaro, karena Hana selalu sakit. Mungkin putrinya tidak cocok tinggal di Bekasi.

“Iya, aku udah bilang gitu ke Vanny, tapi dia insist. You know her.”

“Aku mau ulang tahun Hana dirayakan kecil-kecilan aja, Bun.”

Yes, yes, I told her already. And she told me that it’s gonna be intimate, just us all…

“Hmm… baiklah, dimana?”

“Putri Duyung Ancol, dia udah booking cottage buat kita.”

“Aishhh, katanya sederhana!” Gerutu Fadli kesal.

“Iya, gak undang siapa-siapa juga, cuma Kakak, aku, dan Mama Papa.”

Gamelia masih memanggil dirinya Kakak, padahal Fadli ingin dipanggil Ayah.

“Ayah Bunda, kan cocok. Aku harus buru-buru ajari Hana panggil Ayah, biar Gamelia mau ikutan, hehehe.” pikir Fadli seraya memandangi putri kecilnya yang sedang tertidur pulas.

Mama dan Papa adalah kedua orangtua Vanny. Iya, Bapak Dosen FE itu lama-lama memperlakukan mereka seperti anak sendiri. Mungkin senang, anak tunggalnya akhirnya memiliki dua teman dekat yang sudah seperti saudara. Lagipula, sudah empat tahun Vanny pergi meninggalkan mereka, Mama dan Papa semakin punya alasan untuk bersikap seperti itu. Bahkan, Hana pun dianggap sebagai cucu kandung mereka sendiri.


Jakarta, Agustus 1991

“Mana cucu Oma?” tanya Mama Vanny ke Fadli, kemudian tidak mengacuhkan jawaban Fadli dan langsung menghambur keluar, ke arah Gamelia yang baru saja turun dari mobil.

“Selamat ulang tahun, sayang!” Katanya ceria, mengambil Hana dari gendongan bundanya.

Vanny hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Mama, namun dalam hati bersyukur ada kehadiran Fadli dan Gamelia, serta Hana, dalam hidupnya. Kalau tidak, orang tuanya pasti sudah uring-uringan meminta ia cepat-cepat berlabuh ke jenjang pernikahan. Setelah Fadli dan Gamelia menikah di tahun 1989 silam, orang tuanya meminta keduanya memanggil mereka Mama dan Papa, sama seperti panggilan Vanny kepada mereka. Setahun lalu di hari kelahiran Hana, keduanya pun menobatkan diri mereka sebagai Oma dan Opa.

Bagi Fadli, Mama dan Papa adalah orang tua keduanya. Bahkan Fadli merasa lebih dekat ke Mama dan Papa ketimbang Abah dan Ibu. Ia hormat pada Abah, namun rasa hormatnya itu yang membuat Fadli menjaga tutur kata saat berbicara dengan Abah. Sementara Ibu, Fadli merasa tidak begitu nyaman dengannya, karena Ibu suka mengatur hidupnya. Dan Fadli tidak mau diatur. Adiknya Anty pun tidak mau, tapi mereka memiliki something in common, yaitu passion dalam menjahit. Lain halnya dengan Irfan, si bungsu ini mungkin titipan Tuhan bagi orang tuanya. Otak cemerlang, paras rupawan, dan kelakuan yang bak malaikat. Rasanya, adik bungsunya ini hampir tak bercela. Berbeda dari kedua kakaknya, Irfan selalu berada di jalan yang sudah ditetapkan Abah dan Ibu. Walaupun berbeda sifat, Fadli sangat sayang kepada Irfan, adiknya yang terpaut 12 tahun itu. Terkadang Fadli mampir ke rumah hanya untuk bertemu Irfan, bukan kedua orang tuanya. Bulan ini, Irfan baru memulai kehidupannya sebagai mahasiswa.

“Gamelia, ini buatmu.” Mama menyerahkan kotak bingkisan berwarna emas dengan pita merah.

“Apa ini, Ma? Hana yang ultah kok Gamelia yang dikasih hadiah?” Gamelia tersenyum seraya membuka kotak itu, di dalamnya terdapat purse Chanel 2.55 Classic Flap Bag berwarna merah, warna kesukaannya.

“Kado Hana udah banyak di atas. Sekali-kali Mama kasih kamu hadiah dong.”

Gamelia tak dapat berkata-kata. Ini bukan kali pertama Mama memberikan hadiah tanpa alasan ke Gamelia, yang tentu saja selalu barang-barang keluaran high-end fashion brand. Kemudian dia menggeleng-geleng,

“Kakak gak suka kalo aku pake ginian Ma,” katanya mencibir, namun matanya terlihat senang bisa menyentuh tas kulit di tangannya, yang bahkan sudah jadi miliknya, lambskin, “halus sekali…”

“Ah, lelaki mana ngerti sih?” Mama hanya tertawa.

Kemudian Gamelia memeluknya sebelum beranjak ke lantai dua, “Makasih ya, Ma.”

Mama dan Papa benar-benar sosok orang tua yang baik, pikir Gamelia. Bukannya ia tak dekat dengan Bapak dan Ibu kandungnya, tetapi selain Gamelia, masih ada 8 orang saudaranya yang juga butuh perhatian. Walaupun seluruh saudaranya tumbuh kembang sebagai pribadi-pribadi yang mandiri, tetap saja masih ada yang butuh dukungan finansial dari Bapak dan Ibu. Terkadang Gamelia juga turun tangan, karena profesi Fadli dan Gamelia bisa dibilang baik, mereka sudah bisa hidup mapan, memiliki rumah dan tidak tinggal bersama orang tua.

Kalau bicara tentang Abah dan Ibu mertuanya, Gamelia terkadang bergidik sendiri. Fadli saja sudah berikrar kalau ia bukan anak rumahan,

“Aku besar di jalan, bukan di rumah.” Katanya selalu, bangga, yang masih saja membuat Gamelia heran atas rasa bangganya itu.

Bagaimana mungkin Gamelia bisa mendekatkan diri ke keluarga Iskandar. Selama pacaran, Ibu Iskandar pun tidak merestui hubungan Fadli dan Gamelia.

“Hanya teman,” begitu Gamelia selalu disebut oleh Ibu Is.

Sebenarnya Fadli memang tidak pernah mengajak Gamelia untuk pacaran, hal itu terjadi begitu saja. Hubungan mereka semakin dekat, tidak hanya antar-jemput dari kosan ke kampus dan sebaliknya, tidak hanya belajar bersama. Lama-lama Gamelia pun menganggap Fadli pacarnya, karena Fadli selalu lugas mengutarakan apa yang dirasakannya pada Gamelia.

Lain halnya dengan Abah selalu menerima dengan tangan terbuka. Sayangnya, Abah sangatlah sibuk, dan sulit bagi Gamelia untuk bertemu dengannya. Di saat Fadli mulai serius, Abah merasa senang, karena akhirnya si sulung mau berkomitmen, terlepas dari trademark-nya, Casanova. Namun Ibu Is marah, tidak terima anak sulungnya menikahi keluarga yang bukan berasal dari Padang. Jangankan gadis dari pulau seberang, gadis Pariaman saja Ibu Is tidak akan setuju. Apalagi, Gamelia bukanlah berasal dari keluarga yang terpandang dan berada. Jawaban Fadli pada ibunya hanya membuat kondisi semakin keruh,

“Fadli cuma mau bilang, akan nikahin Gamelia. Ibu gak setuju silakan. Gak perlu juga. Fadli cuma perlu restu dari Bapaknya Gamelia,” ujarnya santai, kira-kira dua tahun lalu.

Hubungan Gamelia dengan Anty pun tidak bisa dibilang baik, walaupun umur mereka hanya berbeda setahun. Anty yang tidak pernah menginjakkan kaki di perguruan tinggi, selepas lulus SMA, menekuni dan banyak berperan di dalam bisnis keluarga Iskandar. Entah kenapa Gamelia merasa sikap Anty terhadapnya begitu dingin. Mungkin, sama seperti Ibu Is, Anty merasa Gamelia tidak pantas bersanding dengan kakaknya. Karena sepengetahuan Gamelia dan Vanny, ada beberapa teman-teman Anty yang merupakan korban perasaan Fadli Sang Casanova. Ia pernah mencuri dengar pembicaraan Fadli dan Anty, tentang Gamelia.

It’s not her. It’s everyone.” Ujar Anty.

Gamelia terus memikirkan kata-kata itu, hingga akhirnya dapat menyimpulkan maksudnya, “She doesn’t hate me. She just hates everyone.

“Potong kuenya setelah makan malam ya!” Suara Fadli mengejutkan Gamelia, kecupannya di pipi Gamelia membawanya kembali dari lamunannya.

Malam itu, Hana berusia satu tahun. Pemandangan yang ada di lantai dua cottage begitu lucu. Terlihat sponge cake yang kelewat besar untuk yang berulang tahun di meja tengah. Lalu lilin ditiup bersama-sama oleh lima orang dewasa, karena tentu saja anak batita seumur Hana masih belum bisa meniup lilin hingga padam. Dan seperti yang dikatakan Mama, kado Hana banyak sekali, sampai-sampai hampir menutupi seluruh bangku di ruang duduk.

“Udah kayak kado dari satu RT.” Gamelia tertawa, geli.


Bintaro, Agustus 1991

Fadli, Gamelia, dan Hana pulang ke rumah barunya di Bintaro yang baru ditempati selama satu minggu. Tak lama, ada paket datang. Dari Anty untuk Hana, berupa parsel, berisi boneka gajah yang besarnya dua kali lipat dari tubuh Hana, dihiasi dengan bunga-bunga cantik dan coklat-coklat yang berasal dari mancanegara. 2 tahun belakangan ini, Anty sering berpergian ke luar negeri, sekedar untuk melancong maupun mengikuti short course di fashion institute terkemuka dunia. Gamelia menemukan kartu ucapan, ditulis tangan, dan diakhiri dengan kata-kata “Love, Your Anty.

Gamelia mendapati dirinya tersenyum lebar. Setelah Hana lahir, sikap Anty perlahan-lahan mulai berubah. Ia selalu membelikan barang, pakaian, maupun makanan kecil untuk keponakannya, Hana. Walaupun sesungguhnya Hana belumlah boleh mengonsumsi makanan yang mengandung gula dan garam, tapi biarlah,

“Toh Anty tidak tahu semua coklat dan permen pemberiannya selalu aku yang makan.” Pikir Gamelia, seraya tersenyum kecil.

Memang benar kata orang, bahwa anak adalah lentera keluarga, penghangat suasana. Gamelia pun berharap kehadiran buah hatinya ini dapat membuat kedekatan keluarga besar mereka lebih erat.

I knew it from the start.

That this thing is going to get ugly along the way, which it is right now. That this thing is like a sand, the more I hold it tight, the more it slips through my fingers. That this thing is like a ticking bomb, which would explode at one point and I would get the permanent damage because of it. That the flames between us would get me burnt alive.

I have no idea, why every time I open up it hurts. Why is it always at the wrong time and with the wrong person? Guess I never learn…

Back where I belong. Arrived safe and sound at home…

Setelah hampir sebulan kebelakang I’ve felt like living in motions, akhirnya bisa punya proper time buat contemplate dan merencanakan goals baru kedepan. Kemarin-kemarin rasanya secepet itu, disaat lagi puncak-puncaknya deadline tesis, lalu gue mesti packing dan pindahan dari flat tercinta. Numpang di tempat temen, beberes flat lagi supaya bobonya enak dan nyaman ditinggali karena si gue anaknya super rempi perihal kerapihan dan kebersihan. Terus, lanjut living out of cases dari satu kota ke kota lainnya, dua minggu non-stop—yang berujung muka gue kebakar karena ga bawa sunblock dan jempol kaki gue sampai memar karena jalan kakinya super ga santai. Walaupun begitu, rasanya super happy cos I rewarded myself with the gift(s) that (I think) I deserve (the trip included).

Sampai di rumah masih a bit overwhelmed sih dengan semua hal. Dari mulai ketemu keluarga—terutama Mama yang sampai hari ini kadang masih suka ga sadar dan kaget sendiri sampai jadi nangis kalau ngeliat muka gue, catching up sama temen-temen, bisa makan makanan-makanan penuh cita rasa yang sudah diidamkan sejak berbulan-bulan lalu, no cuci piring, stuck di jalan karena macet, kepanasan naik gojek, sampai hati w bergetar pas pertama kali denger adzan maghrib (call me exaggerating but it is so trueee). Those simple things.

Tapi dibalik all the fun ini, ada juga to-do lists yang sudah sekian lama gue pending dan sekarang sudah mendesak untuk segera diselesaikan. Well, we’ll see how things go from here. Dan sepertinya skill menulis gue pun mulai membusuq, so… disudahi saja dulu post ini dan update liburan akan menyusul.

#welcomehome #metkembalikerealitasis #mangatjadijobseekerlagi #halobekasi #walaupanastapikutetapluv

Knew he was a killer first time that I saw him
Wonder how many girls he had loved and left haunted
But if he’s a ghost, then I can be a phantom
Holdin’ him for ransom
Some, some boys are tryin’ too hard
He don’t try at all, though
Younger than my exes but he act like such a man, so

There is always a (Tay’s) song to every emotion… Tuh kan, gimana u ga didepak sih nad, mestinya tuh there is always a verse in the Qur’an to every situation. Duniawi banget sih jadi orang, kurang-kurangin laa…

In dreams, I meet you in warm conversation
We both wake in lonely beds in different cities
And time, is taking its sweet time erasing you
And you’ve got your demons, and darling they all look like me

Handing in two bounds of the report, which I wrote with so much tears and blood, and lots of complaints, and a lot of suicidal thoughts, too. Lol, jk.

This is me grinning from ear to ear, saying goodbye to master(ing)’s lyfeee (hopefully, they’ll let me pass this final course, dear God, if you listenin please helppp!).

Well, I’ve tried my best. Now let God do the rest 🙂

Alhamdulillah…

*terimakasihLPDP

**terimakasihbenga terimakasihtata terimakasihreo

***terimakasihkamuyangnamanyatakmaudisebut

****terimakasihjodanrichieygselalusetiamenemanidiperpus

*****terimakasihuntuksupervisorkuyangsuperperfeksionistetapikutausemuademikebaikanku

******danteruntukcosupervisorkunancantikbaktitisandewiyunaniuntuksemuadukungannya

The view from my bedroom window through the seasons. Absolutely gonna miss this place. But I’m not gonna lie, as much as I love living in this city, nothing will ever beat the feelings living under the same roof with your beloved ones. Can hardly wait to go home.