Memilih Lupa

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Sudah berjalan 3 bulan semenjak aku resmi mengenakan seragam putih abu-abu. Setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, aku mencoret kalender di dinding kamar, menghitung sisa hari yang harus aku lalui di sekolah itu, sampai pindah ke sekolah baru pada semester dua nanti. Iya, itulah yang aku harapkan. Aku menjalankan aksi ngambek kepada kedua orang tuaku dan mengancam tidak mau lanjut sekolah, asalkan mereka mengizinkan aku pindah ke sekolah bersama dengan semua teman-teman dekatku di SMP dulu. Akhirnya, kami membuat perjanjian: aku boleh pindah sekolah pada semester dua dengan syarat tidak boleh bolos dan nilaiku harus bagus di penghujung semester satu. Aku yang tidak punya pilihan lain akhirnya menyetujui perjanjian tersebut.

Pukul 10 tepat, bel tanda jam istirahat pertama berbunyi. Hampir seluruh siswa di kelas berhambur keluar, menuju ke kantin. Aku hanya melemparkan pandangan ke pintu kelas seraya bergumam dalam hati, “Hhhhh, akhirnya, bisa terbebas juga dari orang-orang ini.”

Semenjak masuk SMA, sepertinya aku mengalami sedikit perubahan kepribadian. Sepertinya, aku bukanlah Airina yang cheerful dan friendly seperti dulu lagi. Aku sungguh tidak tertarik untuk bergaul dengan teman-teman baru di sekolah itu. Sebisa mungkin, aku lebih memilih menyendiri daripada harus berbasa-basi kepada teman-teman di kelas.

Aku juga jarang jajan di kantin, alasan pertamanya tentu saja karena aku tidak suka jalan ke kantin sendirian dan terkadang merasa terintimidasi oleh tatapan kakak-kakak kelas di sana. Pasalnya, waktu itu aku pernah jajan di kantin, lalu duduk di barisan meja yang kosong. Ketika aku tengah melahap makan siang yang hampir habis, segerombolan kakak kelas menghampiri diriku seperti siap menerkam sewaktu-waktu. Aku dilabrak karena meja itu adalah meja khusus anak-anak cheerleaders, dan bagi mereka, aku–si anak bau kencur yang baru masuk ke sekolah itu–sudah lancang duduk disana tanpa izin.

Cewek-cewek itu secara bergantian meneriaki aku dengan kata-kata kasar yang beberapa diantaranya masih sangat aku ingat sampai sekarang, “Cari mati ya lo?!” dan “Udah berani sama senior?!”

Entah bagaimana, tetapi saat itu aku berhasil menjawab mereka dengan tenang, “Oh, maaf kak, habis mejanya kosong. Mungkin lain kali dikasih tulisan aja di mejanya biar nggak ada yang dudukin. Lagian aku udah selesai juga makannya, kalau kakak mau duduk, silahkan aja, happy to share.”

Tentu saja perbuatanku itu disambut dengan tatapan tidak percaya dari senior-senior sangar itu. Kemudian aku berjalan menuju ke kelas, meninggalkan gerombolan senior itu. Aku tidak langsung kembali ke kelas, tetapi ke toilet perempuan. Melihat toilet yang kosong, aku langsung menangis sejadi-jadinya. Setelah beberapa saat, aku hapus air mata yang membasahi pipiku, menarik napas panjang, dan akhirnya melangkahkan kaki ke kelas.

“Gue benci jadi anak SMA! Fuck this school!”

Aku ingat umpatan itu. Bahkan hampir sepanjang semester pertamaku di SMA, umpatan itu selalu terngiang di telingaku.

I really hate that school.

Alasan selanjutnya adalah hampir setiap hari aku membawa bekal makan siang. Setiap jam istirahat, supir keluargaku akan mengirim SMS yang mengatakan bahwa ia sudah ada di depan gerbang sekolah untuk memberikan bekal makan siang. Sejak kecil, Mamaku memang protektif, ia melarang semua anak-anaknya untuk jajan di luar, bahkan kantin sekolah pun menjadi pilihan terakhir. Jadi, Mama selalu membuatkan bekal makan siang dan mengirimnya saat jam istirahat agar makanannya masih hangat.

Lain hal pada hari itu, aku sedang berpuasa, maka tidak ada kiriman bekal makan siang untukku. Aku menutup buku Biologi yang tergeletak di atas meja, mengeluarkan earphone dari dalam tas, dan mendengarkan radio di handphone T-Mobile Sidekick 2 kesayanganku, yang dibelikan Papa sebagai hadiah masuk SMA saat kami sekeluarga berlibur ke Los Angeles empat bulan yang lalu. Aku memilih frekuensi 101.4 Trax FM, saluran radio kesukaanku, lalu menelungkupkan kepala di meja, memejamkan mata.

Baru sekejap aku merasa rileks, seseorang melepaskan earphone dari telinga kananku. Aku mengangkat kepala dan rasanya ingin marah, tetapi saat melihat wajah orang yang melepaskan earphone itu, emosiku pun mereda seketika.

“Eh?” Ternyata Bagas.

“Kenapa?” Tanyaku kepada Bagas yang sedang membetulkan posisi duduknya di bangku sebelah kananku.

“Kok tumben lo nggak keluar ngambil bekal makan siang lo?” Tanya dia berhati-hati, seolah selama ini dia diam-diam mengamati kebiasaanku.

“Puasa,” jawabku datar.

“Oh. Kenapa lo tiduran aja? Kok gue perhatiin lo tidur mulu sih?”

Bagaimana aku tidak suka tidur di kelas? Mejaku berada di pojok kiri barisan paling belakang, dan Wali Kelas kami tidak pernah menyuruh posisi duduk untuk dirotasi. Beruntungnya aku, posisi itu adalah tempat yang tepat untuk mencuri-curi tidur di waktu istirahat.

Tentu saja aku tidak menjelaskan panjang lebar jawaban itu ke Bagas, dan hanya memilih untuk mengucapkan satu kata, “Ngantuk,” jawabku singkat.

“Dengerin apa tuh? Mau dong sebelah-sebelah dengernya,” kata Bagas seraya menunjuk sebelah earphone-ku yang tergeletak di meja.

Dalam hati aku merasa jengkel, “Ini anak kenapa ganggu terus deh, heran,” tetapi gestur tubuhku berkata lain dan memberikan earphone itu ke tangan Bagas. Aku tidak tahu ada apa dalam dirinya, tetapi terkadang kehadirannya membawa kekesalan sekaligus ketenangan untukku di waktu yang bersamaan. Semacam love-hate relationship.

“Nih, dengerin aja.”

Kami berbagi earphone dan mendengarkan lagu dari saluran radio kesukaanku. Waktu istirahat kami habiskan dengan menyenandungkan pelan lagu-lagu yang diputarkan oleh penyiar Trax FM. Ternyata, selera musik Bagas sama dengan selera musik yang aku suka.

Untuk sejenak aku merasa betah berada di sekolah itu. Entah lupa atau memilih untuk lupa. Yang pasti, keberadaan Bagas di sampingku telah membuat sedikit banyak beban di pundakku terasa lebih ringan.

Sejak hari itu, hampir setiap hari, Bagas mendatangi aku ke meja belajarku. Kadang kami hanya berbincang dan bersenda gurau. Satu hal yang pasti dikomentari olehnya adalah Sidekick milikku, bejeweled with pink stones, yang memang sengaja aku tambahkan di seluruh permukaannya agar mirip dengan kepunyaan Nicole Richie. Suatu hari Bagas mencemooh idolaku itu dengan berkata,

“Heran deh, nge-fans kok sama Nicole Richie. Bapaknya tuh baru cocok jadi idola!”

“Kata siapa gue nggak suka bapaknya? Yee, sotoy deh.”

Kadang Bagas sengaja membawa makan siang yang dibelinya di kantin dan menemaniku menghabiskan bekal makan siang di kelas. Dan jika aku tertidur, Bagas tetap duduk di sampingku, mendengarkan saluran radio yang juga telah menjadi kesukaan dia, lewat earphone-ku. Terkadang saat aku tertidur, Bagas memainkan rambut panjangku, menarik-nariknya lembut, helai demi helai.

Suatu hari, seperti biasa kami melakukan ritual di jam istirahat dengan mendengarkan saluran radio kesukaan kami dari handphone-ku, Bagas berkata pelan, “Jangan pindah ya, gue nggak mau kehilangan lo…”

Saat itu, aku yang baru saja memejamkan mata dan belum tertidur, mendengar suara Bagas. Sepenggal kalimat yang memberikan kehangatan dalam diriku. Satu hal yang Bagas tidak tahu, dibalik wajahku yang tersembunyi itu, aku tersenyum kecil, merasa bersyukur bisa memiliki teman seperti dirinya.

Hari pun berganti menjadi minggu. Dan minggu kemudian bergulir menjadi bulan. Tak terasa, aku pun mulai melupakan coretan-coretan kalender di dinding kamarku, dan pada akhirnya memilih lupa akan perjanjianku dengan Mama dan Papa.

Finally, I found that one friend who I’d like to spend my high school with.

Yet, back then I was not aware to be the one he could never really get over with.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *