(Lucky) I’m In Love With My Best Friend (Part 2)

Bintaro, Februari 2014

708617937593806060516

Sudah 3 bulan semenjak gue menyatakan perasaan ke Airina. Tolol, ngapain juga gue ngaku ya waktu itu? Biasanya gue bisa nahan. Namun kali itu memang Arya sudah keterlaluan, Airina sampai jatuh sakit gara-gara dia, dan yang paling parah tuh dia selingkuh. Kok masih aja itu anak mau lanjut, kenapa nggak diputusin coba?

Gue lumayan kekeuh menghubungi Airina, practically begging her to come back to her sense. She lost it. She’s mental. Cintanya ke Arya benar-benar buta. Sampai gue capek ngomongnya, dan akhirnya beneran dia cuekin gue. Semenjak akhir tahun lalu, Airina nggak pernah hubungi gue lagi dan nggak pernah jawab setiap kali gue berusaha untuk hubungi dia. Dan sekarang, gue pun sudah nggak punya nyali lagi untuk hubungi dia duluan. Gue males ditolak, untuk kesekian kalinya. Kali ini gue cukup tahu diri.

Akhirnya bulan lalu gue kenalan sama cewek, namanya Dewi. Anjir, beneran kayak titisan dewi. Cantik iya, pintar iya, baik juga iya. Kalau gue telusuri bibit, bebet, dan bobotnya sih ya Dewi nggak ada kurangnya. Bukan berarti Airina kesayangan gue itu ada kurangnya ya, tentu saja di mata gue dia juga sempurna. Airina juga cantik, pintar, dan baik. Cuma satu hal yang kadang gue nggak tahan sama dia, manjanya itu minta ampun. Ya walaupun gue juga senang-senang saja karena gue termasuk salah satu orang pertama yang selalu dia cari kalau ada apa-apa. Gue senang bisa merasa dibutuhkan oleh dia. Yang membedakan Airina dan Dewi cuma satu, Dewi itu mandiri dan logic banget. Sementara Airina, selalu saja mengedepankan hatinya ketimbang otaknya.

Shit, gue memang nggak bisa ngebuang Airina jauh-jauh dari pikiran gue. Kembali ke Dewi, akhirnya sebulan setelah gue mengenal Dewi, gue mantap mau serius sama dia. Habisnya, sampai kapan gue harus nungguin Airina? She takes me for granted, always. Dan gue nggak mau bersikap bodoh lagi. Hanya keledai jatuh ke lubang yang sama, dua kali. Dan gue adalah keledai itu. Ya gimana nggak? Oktober lalu, gue sudah asal ngomong dan ngajak Airina kawin. November, gue bego banget showed up di rumahnya dan segala bilang sayang. Fuck.


Bintaro, Maret 2014

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Aku membuka pintu kamarku, meletakkan koper dan beberapa kantong belanjaan dari Singapura di sudut kamar, lalu merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Mataku terpejam, tetapi pikiranku wandering back to the last vacation I had with my girls. Liburan kemarin benar-benar sesuatu yang sangat aku butuhkan, bisa menghabiskan weekend bersama sahabat-sahabatku di tengah kesibukan dan jarak yang terbentang di antara kami. Namun, ada satu hal yang menggangguku, pembicaraan kami di malam terakhir kami menginap di Singapura. Malam itu, di Clarke Quay, kami hanya duduk-duduk menghabiskan berjam-jam untuk mengobrol, sambil menikmati langit malam Singapura yang bertabur bintang, catching up on things we’ve missed from each other’s lives. Sejak kami lulus kuliah Oktober 2012 silam, intensitas kami bertemu memang cukup berkurang karena masing-masing disibukkan oleh pekerjaan.

Aluna mengeluh dengan workload-nya yang gila-gilaan atas pekerjaannya sebagai konsultan di the World Bank. Bos-nya yang bule itu kalau bekerja tidak kenal waktu, bahkan tak jarang Aluna dibuatnya harus masuk kantor saat weekend karena harus menyelesaikan beberapa deadline pekerjaan. Satu atau dua kali dalam seminggu, aku dan Aluna pasti makan siang di Pacific Place karena kantor kami satu gedung, di Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang terletak di sebrangnya persis. Aku sudah hafal betul, topik pembicaraan kami hanya seputar curahan hati Aluna yang baru saja bertunangan dengan Reza. Namun, Aluna selalu punya trust issue dengan Reza, ditambah lagi kondisi mereka yang terpaksa harus LDR Jakarta-Tokyo. Aluna sering merasa kesepian dan akhir-akhir ini dia semakin dekat dengan sahabatnya sedari SMA–Agra, yang aku yakin 100% kalau Agra menyimpan perasaan kepada Aluna, tetapi Aluna is just too blind to see.

Diandra yang sekarang bekerja di BUMN yang bergerak di bidang minyak dan gas bumi lepas pantai di Indonesia, juga disibukkan dengan pekerjaannya. Tunangannya, Adhiguna yang bekerja untuk oil and gas service company sedang sering-seringnya bertugas keluar negeri–Dubai, Paris, bahkan Sudan. Tinggal hitungan bulan menjelang pernikahan mereka, tetapi mereka malah jadi sering LDR. Diandra pun mulai merasa lelah dengan persiapan pernikahannya karena ia merasa Adhiguna sulit dihubungi untuk mendiskusikan tentang vendor pernikahan mereka. Rasanya seperti hanya Diandra yang excited dengan pernikahannya.

“Gue tahu, emang bakal banyak cobaan selama ngurus nikahan, people say this and that, but I expect to face them with him. And at this point, gue nggak ngerasa gue sanggup deh, ngadepin semua sendiri. Gimana nanti ke depannya? Gimana nanti setelah kita nikah? Salah nggak sih, kalo ini bikin gue nggak yakin sama dia?”

Semenjak birthday dinner-ku beberapa bulan lalu, Felisha ternyata benar-benar memutuskan hubungannya dengan Rasyid. Namun yang aku heran, dia seperti tidak menyesali keputusannya itu dan sekarang terlihat sangat happy and content with her life. Felisha adalah salah satu temanku yang ambisius dan dia mengutamakan karier dan rencananya untuk studi master saat ini. Aku tidak habis pikir bagaimana Felisha bisa seimbang dalam membagi waktunya untuk bekerja, les persiapan GMAT seusai jam kantor, serta untuk hangout bersama kami.

Hana mulai beradaptasi dengan kehidupannya sebagai mahasiswa di Jepang. Hana menceritakan betapa stress-nya dia dengan tingkah laku orang-orang di sana. Terlebih lagi, Hana baru-baru ini membaca sebuah novel, Norwegian Wood karya Haruki Murakami, yang menggambarkan kehidupan anak muda di Tokyo tahun 60-an. Nuansa novel itu dark and depressed, kata Hana. Dia bisa merelasikannya dengan suasana yang dia temui sehari-hari. Sepertinya, bunuh diri di Jepang adalah suatu hal yang wajar. Bahkan minggu lalu, ada dua kejadian bunuh diri di jalur kereta yang biasa dilalui oleh Hana dari dorm ke kampusnya.

Anyway, temanku yang satu ini memang agak berlebihan kalau menyangkut akademik. Sepertinya baru satu kali seumur hidupnya dia mendapat nilai C dan dia jadi stress berat karena hal itu. She even said, “It’s the lowest point of my life.” Oh, come on, Han. Gimana kalau dia lihat transkrip TPB ku yang nilai C-nya berentet. Namun sekarang Hana sudah mulai bisa beradaptasi dengan ritme kehidupan masternya. I guess it’s true, it doesn’t matter how many times you fall, what counts is how many times you stand up again.

Raina menceritakan pekerjaannya sebagai pegawai pemerintahan di Kementerian Pekerjaan Umum. Sepertinya tidak pernah dalam satu minggu full dia duduk manis di kantor, pasti ada saja tugas untuk dinas keluar kota. Raina sangat menikmati pekerjaannya karena bisa sekalian jalan-jalan. Hubungannya dengan Athar pun semakin serius. Athar sudah membicarakan ingin melamar Raina dengan keluarga besarnya. Mengingat jatuh bangun perjuangan Athar untuk mendapatkan Raina, aku sangat senang akhirnya mereka bisa melangkah menuju jenjang pernikahan.

Sampai akhirnya tibalah giliranku. Aku menceritakan tentang rutinitas di kantor yang cukup membosankan, dan kalau beberapa bulan terakhir ini aku menjadi lebih dekat dengan Kak Bintang. Seperti yang sudah aku perkirakan, mereka semua mendukung hubunganku dengan Kak Bintang karena menurut mereka Kak Bintang jauh lebih baik dalam segala aspek dibandingkan dengan Arya, mantanku yang brengsek itu.

Tiba-tiba aku pun teringat dramaku dan Bagas. Saat aku selesai menceritakan apa yang terjadi antara aku dan Bagas di malam ulang tahunku, mereka semua menyambutku dengan tatapan tidak percaya dan kaget, kecuali Hana, yang dengan nyinyir berkata,

“BASI! Gue udah bilang ke lo dari jaman kapan tau deh. Bagas tuh suka sama lo, or even worse, sayang. Yet you were too blind. Kemana aja lo?”

“Betul sih. Gue juga ngerasa deh dia itu sesuatu ke lo. Plus, he is a Leo and you’re a Sagittarian–a match made in heaven.” Tambah Raina, yang sangat terobsesi dengan zodiac match.

“Lebih enak sama temen kan, lo udah tau gitu busuk-busuknya dia. Nggak perlu fase perkenalan lagi. Nyokap-bokap udah kenal. Udah lah, selama ini jodoh lo ada di depan batang hidung lo tapi lo sia-siain.” Kata-kata Felisha seperti menamparku.

“I think you should tell him what you really feel. I knew, we knew that you love him all along,” begitu kata Diandra kepadaku.

Dan seperti biasa Aluna hanya berkomentar, “Masa sih? Kok gue nggak tau ya? Gue ngeliatnya emang pure sahabat aja gitu.” Kemudian kami hanya menatapnya tidak percaya. Memang Aluna terlalu polos dan lugu, kalau bahasa kasarnya sih, lemot.

Sudah semalaman aku terus menimbang-nimbang apa yang harus kulakukan. Akhirnya aku dial nomor Bagas di handphone-ku, dan dia setuju untuk menemuiku malam ini.

708617937593806060516

Gue sedang di jalan menuju rumah Dewi, mengantarnya pulang dari kencan kami saat handphone gue bunyi dan… her caller ID appears on my phone. Shit, kenapa harus di saat seperti ini lo balik lagi dalam kehidupan gue, Airina? I’m just too weak to resist, so gue tetap angkat telepon dari dia, di depan Dewi.

Hi, Gas! Are you free tonight? Ketemu, yuk?”

Suara riangnya terdengar di ujung telepon. Seolah jarak yang dia bentangkan selama berbulan-bulan ini tak pernah ada. Dinding yang pelan-pelan gue bangun supaya lupa sama dia pun runtuh seketika, hanya karena sentilan kecil darinya. Ya, hanya dengan sepenggal kata yang terucap lewat telepon. Gue pun langsung mengiyakan dan setuju untuk menjemputnya di rumah nanti. Seketika itu juga, gue melupakan rencana gue untuk menyatakan perasaan gue dan mengajak Dewi untuk menjalin hubungan yang serius.

Airina. She’s still got a spell on me.

signature_poe3mitl90b5p2etv7

“So… How have you been?”

Aku bertanya padanya, saat akhirnya kami duduk berhadapan di Lot 9 Cafe, tempat yang akhir-akhir ini menjadi kesukaanku whenever I cannot think of anywhere else to go.

Tadi Bagas menjemputku ke rumah dan 20 menit yang kami lalui di jalan terasa begitu lambat. Kami tidak banyak berbincang, hanya lantunan musik dari music player mobil Bagas yang mengisi keheningan antara aku dan dia. Bagas bahkan tidak mau menangkap pandangan mataku saat aku masuk ke mobilnya tadi.

“Fine. Thank you. And you?” Bagas menjawabku dengan canggung.

Aku otomatis tertawa mendengar jawabannya, “Ha ha apaan sih, Gas? Kok jadi kayak anak SD lagi belajar Bahasa Inggris gini?”

Bagas ikut tertawa. Sikap canggungnya pun mulai hilang perlahan.

Aku membetulkan posisi dudukku dan kali ini aku yang sedikit canggung. Aku akhirnya memberanikan diri untuk berkata,

“There is something I need to tell you, Gas,” suaraku pelan.

“I’m sorry for not answering your calls or not replying any of your texts. Gue cuma nggak tau mau jawab apa karena jujur aja gue nggak pernah nyangka lo bakal ngomong kayak gitu ke gue. Gue rasa karena lo baru putus jadi lo nggak mikir panjang dan gue nggak mau jadi rebound lo, Gas.”

Aku bisa melihat Bagas sudah siap memotong pembicaraanku, tetapi aku mengangkat telapak tangan kananku, mengisyaratkannya untuk diam dan memberikan aku kesempatan untuk menyelesaikan kalimatku.

“Dan, gue kepikiran Gas jadinya. Maaf, kalau kesannya I take you for granted this whole time. Maaf, kalau gue telat sadar sama perasaan gue ke lo, Gas.”

708617937593806060516

Kata-kata terakhir Airina seperti menghantam isi otak gue. Setelah lebih dari 3 bulan dia menghindar dari gue mati-matian, sekarang dia bilang kalau dia telat menyadari perasaannya ke gue? Apa arti dari semua ini, Na? Apa berarti sekarang lo sudah siap untuk jadi pacar gue? Kenapa harus sekarang saat gue mencoba untuk move on dan berencana memulai hubungan yang serius dengan Dewi? It’s a bad timing. Dan detik itu juga, dia melanjutkan kalimatnya,

“Ya tapi gue nggak maksud apa-apa, Gas, ngomong kayak gini. I just want you to know, that’s all.

Sontak gue kaget. “Lah, terus maksud lo ngomong gini apa?”

You heard me, Gas. Gue ngomong gini bukan berarti gue mau kita sama-sama. Gue cuma nggak mau bohong sama perasaan gue aja, dan gue pengen lo tau perasaan gue yang sebenernya gimana ke lo. Maaf ya, Gas, kalau gue basi…”

Gue kemudian menyunggingkan bibir gue, memaksakan tersenyum. Sungguh gue nggak habis pikir sama jalan pikiran Airina. Buat apa dia ngasih tahu perasaannya ke gue kalau pada akhirnya dia nggak ingin kami untuk bersama? Namun, jelas gue nggak bisa ucapkan semua ini ke dia, kan?

“Yah… Tadi gue sempet mikir, abis lo ngomong kalau lo juga sayang sama gue, gue mau nembak lo lagi. Nggak jadi deh… Ha ha. Masa iya mau ditolak sampe dua kali, gengsi lah…”

Dan seperti yang gue harapkan, tentu saja dia tertawa. Gadis kecil gue ini… Dari tadi di jalan gue memang merasa aneh, aura yang ada di antara kami nggak santai sama sekali. Yah, mungkin mengingat pertemuan terakhir kami tiga bulan yang lalu. Shit, belum pernah gue dan Airina nggak ketemu selama ini. Anyway, here I am, trying to make this conversation goes smooth.

“Dasar lo, kesempatan! Well, at least kita sama-sama tahu perasaan kita yang sebenernya gimana kan? Dan gue udah lega sekarang. Kan katanya, some people are meant to fall for each other but not meant to be together. Kita termasuk those unlucky people aja sih gue rasa. Gue nggak mau risking our friendship, Gas.”

Gue cuma bisa menatap Airina untuk beberapa saat, sampai akhirnya gue berhasil menyusun kalimat yang tepat untuk gue ucapkan ke dia,

“Hmm… Iya sih, gue nggak mau kehilangan lo sebagai sahabat gue. Kan ada juga yang bilang ada yang namanya mantan pacar, tapi nggak ada yang namanya mantan sahabat.” Gue berkata sambil nyengir.

“Sebenernya, ada satu hal lagi yang mau gue omongin, Gas. Gue lagi deket sama seseorang nih sekarang.”

“Hah? Lo deket sama seseorang? Maksud lo gimana? Arya terus gimana?” Gue bingung.

“Oh! Gue udah putus sama Arya, that douchebag, finally I got rid of him.”

Sheeesh, that douchebag. Boleh juga pemilihan katanya. Ini anak kemasukan apaan ya? Baru sekali ini gue mendengar Airina bad-mouthing Arya, mantannya yang memang pantas untuk diperlakukan seperti itu.

“Sejak kapan? Wah ini berita bahagia sih, gue yakin lo mau traktir gue saking senengnya… Gue traktir lo juga boleh, gue pun seneng akhirnya lo putus! Selamet dulu lah, sini. ” Gue jabat tangannya dengan semangat, sambil tertawa terbahak-bahak.

“Nggak lama habis tahun baru lah, Gas.” Airina menjawab gue, ikut tertawa. Raut wajahnya tidak terlihat sedih ataupun seperti orang yang sedang patah hati. Dia lebih terlihat relieved.

“Kok lo rese sih?” Tambahnya lagi di sela gelak tawanya, mencibir ke gue.

“Ya gimana? Akhirnya, kebuka juga mata lo. Gue udah sampe bosen ngomong nggak lo dengerin. Bagus lah lo putus.”

Bukannya memberikan comfort seperti yang biasa gue lakukan untuknya, gue malah mengolok-olok dan mempermasalahkan kenapa dia nggak cerita sama gue kalau dia sudah putus dari Arya. Dan, bagaimana mungkin dalam waktu sesingkat ini dia sekarang sudah dekat dengan laki-laki lain lagi? Man! Emang ini anak nggak pernah kosong, banyak aja yang ngantri. Sampai-sampai gue aja bingung milih timing yang tepat waktu itu, untuk mengutarakan perasaan gue ke dia.

“Udah 3 bulan dong ya berarti? Dan lo nggak cerita ke gue? Sama sekali?” Gue bertanya lagi.

“Yah, gimana gue bisa cerita ke lo, Gas? Kalau gue cerita gue putus sama Arya, yang ada lo bakal insist kita buat give it a go. Ya kan?” Airina berkata sambil tersenyum jahil, masih saja anak ini menggoda gue.

She knows me too well. Gue nggak mau menjawab pertanyaan retoris dia dan gue hanya memberikan sebuah senyuman sebagai jawaban. Kemudian Airina melanjutkan kata-katanya,

“Yaa, kayak yang lo bayangin deh, Gas… Gue nge-gap-in dia selingkuh, lagi. Gue kira gue bisa pegang omongannya waktu itu, pas dia janji mau berhenti dan berubah. Ternyata gue salah. History loves to repeat itself. Ya udah lah, emang hubungan gue dan Arya kan toxic banget. It’s better off this way.

“Tapi lo baik-baik aja sekarang?” Gue merasa ada nada sedih di balik senyumannya.

“Gue udah nangis bombay deh pas putus. Ada kali, Gas, gue nangis sebulanan lebih nggak berhenti, males makan, kepikiran mau bunuh diri segala. Ha ha, ya hal-hal normal aja lah yang orang lakuin kalo putus cinta. But I’m much better now, yes, thank you!”

That jerk, bahkan sampai di akhir hubungan lo dan Airina, lo masih nyakitin dia kayak gini. Kalau aja gue tahu lebih awal, mungkin lo udah habis sama gue, Arya. Tapi gue salut lihat Airina yang berusaha tetap kuat dan tegar dealing with her broken heart. Gue tahu dia pasti sehancur itu putus sama pacar kesayangannya itu, yang sama sekali nggak pantas mendapatkan sayang dan cintanya Airina.

“Ng, sebenernya, gue juga lagi deket sih sama seseorang. Gue mau berusaha ngelupain lo. Bahkan tadinya, gue mau nembak dia malem ini. Cuma karena lo nelepon, ya gue tunda.”

“Tuh kan. Lo sendiri nggak cerita sama gue. Lo lagi deket sama siapa, Gas? Siapa sih emang yang bisa bikin lo move on dari gue yang udah sepuluh tahun lebih memikat hati lo?”

Lagi-lagi, Airina masih saja menggoda gue. Iya, memang nggak ada yang bisa menggantikan posisi lo di hati gue, Airina. Tentu saja gue nggak bisa mengucapkan kalimat ini setelah tadi dia bilang dia nggak bisa bersama gue, kan? Akhirnya gue memilih kalimat lain untuk menjawabnya supaya gue nggak terdengar terlalu pathetic,

“Ha ha. Ada lah, Na. Sama anak arsi. Mungkin lo nggak kenal.”

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Entah kenapa, hanya seorang perempuan yang terlintas di benakku saat Bagas menyebutkan jurusan itu, Arsitektur. Aku yang berkuliah di Teknik Lingkungan, seringkali makan dan jajan di gedung Arsitektur yang tepat berada di sebelah gedung kami.

“Anak arsi? Siapa? Jangan bilang, Dewi?” Aku bertanya ke Bagas dengan suara sesantai mungkin.

“Lah, lo kenal sama Dewi? Iya, gue lagi deket sama dia.”

“Sumpah, Gas, Dewi yang cantik banget itu?” Kali ini, gagal upayaku untuk mencoba tetap santai.

Hatiku mencelos saat Bagas menyebutkan namanya. Ini sih, namanya kalah sebelum berperang. Aku dan sahabat-sahabatku sering membicarakan tentang Dewi, betapa cantik dan cool-nya dia,  dan dengar-dengar dia juga pintar serta aktif di himpunan maupun di kemahasiswaan terpusat. Ya, maklum saja kalau aku bisa tahu hal-hal seperti ini tentang Dewi karena sahabat-sahabatku itu stalking skill-nya sungguh luar biasa, sampai kadang-kadang aku merasa mereka cocok bekerja untuk Badan Intelijen Nasional (BIN).  Aku ingat Hana pernah berkata, sewaktu kami makan di Kantin Barak dan melihat Dewi sedang mengantri di kasir,

“Kalo gue cowok, gue fix bakal ngejar dia sih.”

Yang bahkan ditimpali oleh Felisha, “Duh Han, nggak perlu jadi cowok juga gue mungkin udah lesbi kali sama Dewi!”

Dulu sih, aku ikut tertawa bersama sahabatku itu. Namun entah kenapa saat ini, aku sedikit memaksakan senyumku ke Bagas. Ironis rasanya.

Di balik selimut, aku memejamkan mataku dan wajah Bagas terbayang jelas di benakku. Terbayang olehku, raut wajahnya saat aku memberitahunya bahwa aku sudah putus dengan Arya. Di balik gelak tawanya saat mendengar berita itu, aku tetap bisa melihat raut wajahnya yang penuh emosi seolah ingin menghajar Arya karena aku telah mengizinkannya untuk menyakiti diriku, lagi dan lagi. Masih terlihat jelas olehku, tatapan mata Bagas saat aku menceritakan kepadanya bahwa sejak aku berusaha untuk melupakan Arya dan move on with my life, aku dekat dengan Kak Bintang. He gave me his approval because he knows him. Kak Bintang adalah seniornya di jurusan, dua tahun di atasnya. Dia bilang Kak Bintang pantas untukku.

Aku pun merasa sangat lega ketika Bagas menceritakan kalau dirinya juga berusaha move on dan melupakan perasaannya kepadaku. Agak sedikit mengejutkan memang, ketika Bagas bilang bahwa sebenarnya dia ingin menyatakan perasaannya kepada Dewi malam ini, tetapi dia membatalkannya karena aku tiba-tiba menghubunginya. Senang sih, for a split second, Bagas menggantungkan hubungannya dengan Dewi, hanya karena aku. Dewi! Apa ini mimpi?

“Gila lo, Gas! Masa anak orang lo jadiin pelarian. Ini Dewi lho, DEWI! I think you should arrange a romantic dinner and tell her what you feel. Go for it.

Aku tulus berharap dia bisa bersama dengan orang yang benar-benar menyayanginya. Iya, ternyata dari kuliah dulu, she always got her eyes on him. Menurut Dewi, Bagas itu karismatik, apalagi di saat memimpin rapat di Kabinet Mahasiswa. Dewi, yang sering dikirim oleh himpunannya mengikuti rapat terpusat, sedikit banyak terpukau oleh Bagas. Akhirnya awal tahun ini, mereka berdua dikenalkan oleh mantan Ketua Himpunan (Kahim) Arsitektur yang memang dekat dengan Bagas. Truth be told, aku nggak percaya sih cerita itu. Mungkin satu-satunya yang bisa dipercaya, Kahim Arsi memang mengenalkan mereka. Sisanya? Lebih mungkin kalau Bagas sebenarnya memakai jampi-jampi untuk memikat Dewi.

We will always be best friend, Airina. No matter what. I will always be around if you need me.” Kata-kata terakhir yang Bagas ucapkan saat dia menurunkan aku di depan pagar rumah tadi.

Entah kenapa, ada perasaan yang membuatku tidak ingin membiarkannya masuk ke dalam dan berpamitan dengan Mama dan Papa, seperti biasanya. Aku harap, aku dan Bagas bisa menyelamatkan pertemanan kami setelah semua kejadian ini. Lagipula, apa yang harus dikhawatirkan? Saat ini ada Kak Bintang untukku, dan Bagas memiliki Dewi. I guess everything will be okay…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *