(Lucky) I’m In Love With My Best Friend (Part 1)

Bintaro, Oktober 2013

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Aku bangun dengan napas tercekat. Dadaku sesak dan perutku terasa begitu nyeri. Mataku masih agak berkunang-kunang. Tenagaku serasa habis dan aku tak berdaya untuk menggerakkan tubuhku.

“Kita kembali ke ruangan ya, Mbak…” Mataku menangkap seorang suster yang menatapku dari atas tempat tidur. Dia tersenyum dengan lemah lembut kepadaku.

Setelah hampir satu minggu berturut-turut aku selalu memuntahkan apapun yang aku makan, akhirnya aku drop dan pingsan sebelum berangkat ke kantor kemarin pagi. Mama segera membawaku ke RS Premier Bintaro karena jaraknya dekat dengan rumah kami. Kata dokter, asam lambungku tinggi dan maag yang aku derita ini sudah kronis. Aku terpaksa dirawat inap karena harus diinfus untuk memberikan asupan makanan bagi tubuhku. Aku baru saja selesai di-endoskopi. Saat tadi masuk ruangan, dokter memberitahu bahwa aku hanya perlu dibius sedang. Namun ternyata, aku terlalu tegang sehingga prosedur awal tidak berhasil dan akhirnya aku memilih untuk dibius total.

Saat tiba di ruang kamar, aku dipindahkan ke tempat tidur. Tenggorokanku masih terasa sedikit sakit dan badanku masih lemas. Keluargaku sudah menantiku disana, Mama, Papa, Mbak Aurelia dan suaminya–Mas Aldy, dan Mas Akila.

Setelah tenagaku sudah mulai kembali pulih, aku mengambil handphone. Banyak chat dan panggilan tak terjawab dari teman-temanku. Mungkin mereka khawatir aku tidak bangun lagi habis dibius. Aku menjawab chat mereka satu per satu dan mengabari bahwa aku selamat dari endoskopi yang cukup mengerikan itu. Yes, drama queen is my middle name.

Aluna, Diandra, Felisha, dan Raina datang menjengukku. Mereka membawakan balon dan tidak berani membawakan makanan apapun karena takut aku masih ada pantangan dari dokter. Lagipula aku memang sedang tidak ingin makan dan sudah kehilangan napsu makanku. Bagaimana tidak? Karena kejadian ini, dokter melarang keras aku mengonsumsi junk food–makanan paling enak sedunia.

Sudah beberapa jam mereka menemani dan bersenda gurau bersamaku, yang selalu membuat perutku terasa nyeri setiap kali aku tertawa oleh lelucon mereka. Sekitar pukul 19.30 mereka pamit pulang dan keluargaku pun juga pulang ke rumah. Hanya tersisa aku dan Mama di ruangan ini. Tak lama kemudian, pintu kamarku diketuk. Bagas, Nugi, Randy, dan Ayu memasuki ruangan. Mereka menyapa Mama kemudian duduk di sofa samping tempat tidurku. Aku membiarkan Mama yang bercerita panjang lebar tentang sakitku ini persis seperti yang tadi Mama ceritakan di depan Aluna, Diandra, Felisha, dan Raina. Dan cerita itu diakhiri dengan,

“Airina ini emang paling-paling deh. Tante sampai nggak habis pikir sama kelakuannya…”

“Sabar ya Tante, mudah-mudahan cepat sehat lagi Airina nya.” Ayu berusaha menghibur Mamaku. Aku cuma bisa menyengir kuda.

“Iya. Makasih ya nak, sudah sempat jenguk Airina. Eh iya, kalian sudah pada makan malam belum? Tante order-in makan malam yah? Sekalian tante mau beli juga,” kata Mama kepada Bagas, Nugi, Randy, dan Ayu.

Keempatnya menolak dengan sopan dan menjawab bahwa mereka sudah makan malam sebelum kesini tadi.

“Tante belum makan? Mau aku beliin dulu tante, keluar?” Bagas menawarkan diri.

“Nggak usah, nak. Pesan aja biar gampang.”

“Atau kalau tante mau makan dulu di luar, nggak apa-apa aku tungguin Airina tante.” Jawab Bagas lagi. Nugi, Randy, dan Ayu mengiyakan.

“Sebenernya kalau boleh sih, tante mau pulang dulu ke rumah. Ganti baju dan ngambil barang sebentar, nanti kesini lagi. Kalian nggak apa-apa tante tinggal?”

Lagi-lagi keempatnya mengiyakan. Namun, tak lama setelah Mama pulang, Nugi, Randy, dan Ayu juga pamit pulang. Ayu tidak enak kepada orang tuanya kalau pulang terlalu malam, Randy menawarkan diri untuk mengantar Ayu pulang ke rumah, dan Nugi ikut pulang bersama mereka.

Tinggal lah aku dan Bagas di kamar ini. Bagas duduk di tepi tempat tidurku.

708617937593806060516

“Masih sakit?” Gue bertanya dengan lembut ke Airina yang berbaring di tempat tidurnya.

“Tinggal lemesnya aja sih, Gas…” Jawabnya pelan.

“Tadi sebelum masuk, gue papasan sama temen-temen TL lo.”

“Oh, ya? Iya sih emang nggak lama habis mereka pamit, lo dateng.” Airina menjawab.

“Arya udah kesini?” Gue bertanya dengan suara yang gue tahan agar terdengar biasa saja.

Untuk beberapa detik Airina terpaku dengan pertanyaan gue, sebelum dia menjawab, “Belum. Kan dia lagi di Bandung, Gas. Kasian jauh kalo kesini.”

“Selalu ada pembenaran ya buat pacar lo yang nggak berguna itu.” Akhirnya gue menjawab dengan ketus, gagal menahan emosi gue.

“Kok lo jutek sih? Kenapa?” Airina mencolek tangan gue yang dekat dari jangkauan tangannya.

“Apa sih, Na, yang bikin lo bertahan sama hubungan lo dan dia? Pacar mana coba yang tega ngebiarin ceweknya jatuh pingsan? Bahkan sampai mesti masuk rumah sakit masih nggak dijengukin juga? Gue aja bukan pacar lo, tapi bela-belain nih dateng langsung pulang kerja kesini. Udahlah, mendingan lo jadi pacar gue aja.” Lagi-lagi gue gagal menahan mulut gue yang nggak bisa diam ini.

“Yee, itu sih maunya elo!” Dia menjawab sambil tertawa.

“Serius gue…” Gue menatapnya lekat-lekat.

Kemudian Airina menggenggam tangan kiri gue dengan kedua tangannya sambil berkata, “Bagas, dengerin yaa. Wajar dong, lo pulang dari kantor langsung mampir kesini, ke Premier kan sama aja kayak lo balik ke rumah. Dan wajar dong, sekarang lo masih nungguin gue sampai jam segini. Kan rumah lo deket, Gas. Lagian tadi lo sendiri yang menawarkan diri ke nyokap gue buat jagain gue. Kalau Arya, dia di Bandung, jauh. Jadi wajar dia nggak kesini, Gas… Udah ya, jangan didebat lagi.”

“Pokoknya, kalau udah umurnya kita siap nikah, dan pacar lo yang nggak sayang sama lo itu masih belum nikahin lo juga, lo nikah sama gue. Nggak perlu pake pacaran lagi kita. Langsung aja…”

“Heh, gila ya lo? Ngomong sembarangan.” Airina mencubit tangan gue yang sesaat sebelumnya sedang dia genggam itu. Lagi-lagi dia tidak menghiraukan perkataan gue.

Fuck you, Arya. You big shit. Gue nggak habis pikir kelakuan lo yang minus aja bisa-bisanya masih dibelain sama pacar lo. Beneran manusia nggak guna, nggak tahu diri. Mungkin kalo lo ada di hadapan gue, muka lo udah bonyok gue pukulin.

Iya, gimana gue nggak semarah ini rasanya sama itu orang. Karena menurut gue, sedikit banyak Airina jatuh sakit memang gara-gara dia. Dua minggu lalu, Arya ke-gap selingkuh, sama teman kantornya. Mereka berantem hebat. Tebak siapa yang dijadiin last resort sama cewek di hadapan gue ini? Iya, gue. Gue berkali-kali saranin dia buat putus. Entah kenapa selalu ada pembelaan keluar dari bibirnya itu. Nggak lama setelahnya, Airina jatuh sakit. Hampir satu minggu dia selalu memuntahkan apapun yang dia makan, sampai akhirnya jatuh pingsan. Biar gimana juga, gini-gini gue paham betul sama penyakitnya Airina. Dia emang nggak bisa stress, karena itu akan men-trigger asam lambungnya naik dengan jumlah yang tidak terkontrol, maag-nya sudah kronis.

“Kok nyokap lama ya Gas, nggak balik-balik? Gue tidur nggak apa-apa yah? Ngantuk berat.”

Terdengar Airina berkata, mungkin dia lama-lama ngantuk juga karena nggak gue ajak ngobrol. Habis mau gimana lagi, kalau dibahas panjang yang ada gue semakin ribut sama dia. Dan gue nggak mau itu terjadi. Saran gue nggak pernah diterima, pernyataan cinta gue yang mendadak dan asal-asalan tadi pun nggak diterima, tetapi tetap saja gue memaksakan diri untuk tersenyum ke dia.

“Iya, santai. Gue tungguin kok sampai nyokap lo balik.”

Kemudian gue merapikan selimutnya dan mematikan lampu dekat tempat tidurnya. Hanya dalam hitungan detik, Airina sudah tertidur pulas. Memang sahabat gue yang satu ini paling cepat kalau urusan tidur. No wonder, teman-teman dekat kami di SMA memberinya julukan Kebo Cilik, dasar si tukang tidur. Gue mengamati tidurnya, melihat napasnya naik-turun perlahan. Tidurnya tenang, seperti anak bayi. Terlalu lama melihatnya seperti ini, bisa bikin gue hilang kendali dan ingin menciumnya. Alih-alih menciumnya, akhirnya gue hanya mengelus-elus lembut kepalanya.


Bintaro, November 2013

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Mama, Papa, Mbak Aurelia dan Mas Aldy serta kedua anak mereka yang menggemaskan–Azka dan Azzahra, dan juga Mas Akila berdiri mengelilingi tempat tidurku dan membawa sebuah kue. Iya, kue ulang tahun, karena hari ini aku genap berusia 23 tahun. Sudah menjadi tradisi di keluarga kami, jika ada yang berulang tahun semua akan berkumpul dan kami akan makan siang atau makan malam bersama di hari itu. Seperti hari ini, Mbak Aurelia beserta suami dan kedua anaknya sengaja menginap di rumah kami karena siang nanti kami akan makan siang bersama.

Dalam suasana kamar yang gelap, aku bisa melihat cahaya terang dari lilin-lilin kecil di kue ulang tahunku menari-nari. Aku selalu tidur dengan kondisi kamar yang gelap gulita. Kalau tidak begitu, tidurku tidak akan nyenyak dan aku akan terbangun dengan mood jelek serta uring-uringan seharian di hari selanjutnya.

Aku duduk di atas tempat tidurku, memejamkan mata, dan mengucapkan birthday wishes dalam hati before I blew out the candles.

Dear God, I am grateful for these wonderful 23 years. And I know, the best is yet to come. Thank You for Your blessing, that bestowed to my loving family and dear friends, along with their hands and smiles that keep me strong until this day.

As for Arya, it has been an emotional year… I wish our love will continue to grow and we can finally tie the knot before I hit 24.

Hari ini aku mengambil cuti dan tidak masuk kantor. Aku memang sengaja mengambil cuti di hari ulang tahunku karena ingin melewati hari ini dengan orang-orang terdekatku. Setelah surprise tadi malam, kami sekeluarga malah lanjut ngobrol sambil menyantap kue ulang tahunku dan baru tidur sekitar pukul 3 dini hari. Pagi ini aku pun sarapan dengan kue ulang tahun sisa semalam dan secangkir teh Green Tea & Lemon dari Twinnings kesukaanku. Aku duduk di sofa dan menggonta-ganti channel TV tetapi tidak berhasil menemukan program yang menarik.

Bel rumah berbunyi. Aku meneriaki si Bibi agar membukakan pintu. Siapa sih yang bertamu pagi-pagi begini, pikirku dalam hati. Si Bibi tidak menjawabku. Mungkin beliau sedang mencuci baju di belakang sehingga tidak mendengarku. Dengan malas aku melangkahkan kakiku menuju pintu ruang tamu. Saat aku membuka pintu, aku mendapati seorang kurir berdiri di hadapanku. Kurir itu ternyata mengirimkan sebuah cake dari Kak Bintang.

Kak Bintang adalah seniorku di kampus dulu. Kami tidak satu jurusan sih, dia anak Teknik Fisika 2006, dan aku mengenalnya saat aku ikut kepanitiaan Olimpiade ITB. Kemudian dia yang memang aktivis kampus, terpilih menjadi Menteri Koordinator Internal di Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB. Secara personal, dia memintaku menjadi sekretarisnya yang tentu saja langsung aku iyakan. Kak Bintang orangnya baik dan lucu, jadi aku suka bekerja sama dengannya. Selama ini kami memang cukup akrab, tetapi ini pertama kalinya dia mengirimkan kue ulang tahun untukku.

Pikiranku yang sedang menelusuri kenangan bersama Kak Bintang tiba-tiba lenyap, karena aku mendengar suara mobil Arya memasuki garasi rumah. Aku langsung berlari menyambut dan memeluknya. Arya balas memelukku seraya mengucapkan,

“Duh, yang lagi ulang tahun kayaknya seneng banget nih…”

“Kamu kok pagi banget nyampe sini? Berangkat dari Bandung jam berapa?”

“Iya, aku nggak sabar mau ketemu. Ini ada kue buat kamu, mau dipotong sekarang atau nanti aja pas makan siang?” Dia bertanya sambil membuka pintu mobilnya, mengambil bungkusan berisi kue untukku.

“Nanti aja, aku kenyang makan kue mulu dari semalem. Masuk yuk!”

Sepulangnya makan siang, aku kembali ke rumah untuk beristirahat sebentar karena malam harinya aku ada janji untuk birthday dinner, bersama teman-teman kesayanganku di kuliah dulu. Saat makan siang bersama keluargaku dan Arya, Mama menanyakan apakah Arya berniat serius denganku–yang hanya dia jawab dengan senyuman dan kata-kata, “Doain aja, Tante. Insya Allah.”

Selepas maghrib, Arya pamit kembali ke Bandung, karena besok ada training disana. Sebelumnya, dia mengantarku ke Otel Lobby, sebuah restoran di Epicentrum, Kuningan.

Saat aku tiba di Otel Lobby, Aluna, Diandra, Felisha, Gita, Lilian, Priscilla, dan Raina sudah terlebih dahulu ada di sana. Mereka memberikan aku surprise.

“Kok sendirian, Na? Arya nggak ikut?” Tanya Felisha begitu aku duduk di kursi sebelahnya, setelah meniup lilin kue ulang tahunku dan mendengarkan lagu Happy Birthday dilantunkan oleh sahabat-sahabatku yang urat malunya seperti sudah putus itu.

“Nggak, cuma nge-drop aja, dia besok ada training pagi-pagi, Fel, takut kemaleman.” Padahal sebenarnya aku tahu, semenjak kejadian perselingkuhannya, Arya tidak pernah merasa nyaman hanging out bersama para sahabatku ini. Takut dihajar, mungkin.

Setelah acara potong kue, barulah kami menyantap makan malam dan update kehidupan masing-masing.

Seperti yang sudah aku tahu, hubungan Aluna dan Reza memang tidak selalu mulus, begitulah memang dilemanya kalau LDR. Aku saja yang LDR Jakarta-Bandung suka mengeluh, bagaimana Jakarta-Tokyo? Aluna berkata Reza akan pulang bulan depan, setelah ujiannya selesai. Akhirnya sahabatku yang satu itu pulang kampung juga selepas kepergiannya 1.5 tahun lalu. Namun Aluna pasti tidak tahu-menahu, bahwa Reza sudah mempersiapkan surprise untuknya. Tentu saja dengan bantuanku. Yes, he is gonna ask for her hand, finally. Aku teringat saat Reza melontarkan rencananya ke aku beberapa waktu lalu, sampai-sampai aku ikut histeris saking excited-nya.

Cerita selanjutnya juga sudah aku ketahui. Lilian, yang belakangan ini cinlok dengan co-worker-nya di kantor, Ranu, akhirnya menyampaikan hal itu ke kita semua. Sebenarnya, Lilian sudah menceritakan semuanya ke aku dan Felisha. Tadinya dia tidak berani go public, bagaimana tidak? Ranu adalah mantan Diandra di masa kuliah dulu. To be honest we all thought that they’re gonna end up together. Tapi takdir berkata lain, awal bulan ini Diandra dilamar oleh pacarnya setahun belakangan, Adhiguna. Karena itu juga, Lilian berani mengatakan affair-nya ke Diandra. Seperti perkiraanku dan Felisha, Diandra benar-benar tulus mengucapkan selamat ke Lilian. Lalu dia bilang,

“Nggak tau kenapa tapi gue udah feeling sih, kalo Ranu bakal sama lo. Dia suka cinlok kan soalnya.” Katanya sembari tertawa, teringat saat mereka dipertemukan di kepanitiaan yang sama. Akhirnya, setelah kurang lebih bekerja bareng selama 6 bulan, timbul juga perasaan-perasaan yang diinginkan.

Belakangan ini Felisha merasa gerah dengan Rasyid yang selalu membicarakan pernikahan, padahal paling cepat Felisha ingin menginjakkan kaki ke jenjang itu masih 2 tahun lagi. Posisinya di kantor memang strategis, dia pun berencana untuk melanjutkan studi master untuk menunjang karirnya. Akhirnya di penghujung malam itu, against all odds–di saat kita semua malah ingin berlabuh ke pelaminan, Felisha mantap akan memutuskan hubungannya dengan Rasyid setelah 3 tahun bersama.

Kini giliran Gita yang bercerita, yang aku sudah tahu pasti akan membicarakan Baskara–entah kenapa aku selalu jadi tong sampah di pertemanan ini. Sudah beberapa bulan semenjak Baskara diterima di kantornya. Dan sedikit banyak aku bisa mengira, perasaannya ke Baskara yang dulu pernah ada, kembali muncul. Sayangnya ada Sarah, pacar Baskara yang kerap kali datang ke Jakarta. Sarah adalah junior kami di TL. Sebenarnya dia sudah lulus bulan lalu, tetapi dia masih tinggal di Bandung karena masih ada proyek dengan dosen di kampus.

“Kalo pacaran tuh di kamar, man! Gue nggak tau deh tuh mereka ngapain aja…” Nada bicara Gita terdengar bete dan jealous,  aku hanya tersenyum kecil. Walaupun aku merasa Gita dan Baskara cocok, diam-diam aku masih berharap Baskara kembali bersama Hana. They are my favourite, and after all this time, I still ship them hard. Always.

Priscilla aka Sisil, yang sudah menikah di awal tahun ini dengan Aditya, his high school sweetheart, curhat karena belum juga diberi momongan, yang berlanjut dengan omongan-omongan yang sudah seharusnya disensor dari cerita ini. Sementara Raina dan Athar is going strong. Sepertinya tahun depan mereka akan lamaran dan mempersiapkan pernikahan.

Anyway, obrolan kami tidak kunjung habis. Perasaanku campur aduk malam ini, tapi mostly I feel happy, happy that I got them in my life.

708617937593806060516

Hari sudah cukup larut saat mobil Airina memasuki halaman rumah. Pukul 23:45 tepatnya, gue melihat jam tangan gue. Vios silver-nya dia parkirkan di sebelah mobil gue.

“Nah, itu Airina sampai, Gas. Kalau dia sudah pergi sama geng rumpinya itu emang nggak pernah sebentar.” Mamanya Airina berkata sambil sedikit tertawa, melirik ke arah pintu depan.

Gue hanya memberikan senyum gue kepada si Tante. Tiba-tiba jantung gue terasa cenat-cenut saat langkah Airina terdengar semakin dekat.

“Assalamu’alaikum.” Airina mengucapkan salam saat dia memasuki rumah.

Tante dan gue pun menjawabnya. Airina cium tangan kepada mamanya, lalu memberikan kecupan di kedua pipi mamanya. Tentu saja untuk beberapa detik, gue berharap dia juga akan melakukan hal yang sama ke gue, mencium pipi gue. Namun, harapan ya tinggal harapan. Dia hanya melemparkan senyum manisnya ke arah gue sambil berkata,

“Hai, Gas! Kok tumben sih, malem-malem kesini? Udah lama?”

Belum sempat gue menjawab, Tante langsung menjawab Airina.

“Kamu pulangnya malem banget sih, ndok. Kasihan tuh Bagas, daritadi dengerin ocehan Mama jadinya. Tadi Mama mau nelepon kamu biar cepet pulang, eh, malah dilarang sama Bagas. Padahal kan kasian dia jadi nunggu kelamaan.”

“Nggak apa-apa kok, Tante. Kan ceritanya biar surprise he he,” gue menjawab tante dengan sedikit salah tingkah.

Sorry banget Gas, gue nggak tau sih lo mau mampir. Habis gosip apa aja sama Mama tadi?” Airina menunjukkan tampang jahilnya.

“Kamu ini, kok malah meledek gitu? Yasudah ah, Mama mau tidur, Papa sudah tidur duluan, tuh. Tante ke dalam, ya Gas.”

“Iya, Tante. Makasih ya, Tante.”

Setelah mamanya sudah hilang dari pandangan mata, Airina duduk di sofa. Gue mengikutinya, duduk di sebelahnya.

Happy birthday, Airina!”

Thanks, Gas. Kok ucapin lagi sih, kan tadi udah telepon? Eh, bentar deh… Setau gue lo hari ini mestinya nggak di Jakarta deh? Bukannya lo inspeksi alat ya ke site? Kok bisa ada di sini?”

“Iya, kalo bisa gue emang rencana nggak nginep, tadi gue langsung balik aja begitu selesai. Pas banget ada flight yang available. Lagian males ah, tidur di hotel mulu, enakan juga kasur rumah.”

“Bilang aja, nggak sabar mau ngasih gue surprise dan kado ulang tahun kan?” Godanya sambil mengernyitkan mata dengan percaya diri, walaupun ya memang benar sih…

Gue tersenyum sambil mengulurkan sebuah kotak kue kepadanya. Dia mengambil kotak itu dari tangan gue, kemudian membukanya dengan semangat.

“Wah, Oreo Cookie Ice Cream Cake! It’s my favourite, Gas…” Matanya berbinar-binar saat dia melihat isinya. “Thank you!” Dia berkata lagi.

I know.” Jawab gue singkat, merasa bangga sama diri gue sendiri yang nggak lupa sama kue kesukaan dia.

“Apaan nih, kok tulisannya do not eat junk food sih? Bukannya happy birthday?” Dia mencibir ke gue saat membaca tulisan di kuenya.

“Yee, udah biasa ah nulis happy birthday. Lagian, reminder tuh buat lo, biar lo nggak bandel curi-curi makan junk food.”

Airina tersenyum lebar, “Kok tumben sih, lo manis banget gini ke gue? Biasanya juga gue ajakin traktiran ulang tahun selalu sibuk lo,” katanya seraya menyikut gue dengan pelan.

“Tuh, asal gue baik salah. Kalo gue nyebelin, lo marah. Serba salah emang sama Airina ini,” gue menjawab dia.

Kemudian gue mengeluarkan sebuah bungkusan berwarna biru muda dari dalam tas gue, “Ada satu lagi nih buat lo.”

Dia meraih bungkusan itu dari tangan gue dan dengan sigap menyobek kertas kado yang membungkus hadiah yang gue berikan untuknya.

“Ya ampun, warnanya gue banget siiih! Ini serius, lo beliin buat gue?”

Airina kegirangan saat menemukan Instax Mini 25 berwarna putih biru dari dalam bungkus kado yang dia sobek tadi. Gue memang tahu dia sedang ingin kamera ini.

Entah apa yang merasuki gue malam ini, mungkin karena melihat senyumannya sedari tadi yang bikin gue tiba-tiba menyambar kedua tangannya dan menatap ke dalam kedua bola matanya,

“Airina, gue sayang sama lo. Gue rasa, nggak ada salahnya deh kalau kita pacaran aja.”

Airina menatap gue heran untuk beberapa saat. Kemudian dia menarik pelan kedua tangannya dari genggaman gue. Dia tertawa kecil,

“Bercanda deh lo, Gas.”

“Gue serius, Na. Gue sayang sama lo. Putusin aja Arya, gue gerah ngeliat cara dia memperlakukan lo. You deserve someone better than that, Na.”

“Gas, lo ngomong apa sih? Emangnya apa yang salah sama cara Arya memperlakukan gue? Asal lo tau ya, tadi pagi dia dateng kesini bawa kue dan kado untuk gue. Dia sayang sama gue, gue tau itu. Apa sih yang lo pikirin? Tega ya lo, nggak nganggep Fitri, pacar lo?”

Airina terlihat emosi dan marah saat dia ucapkan semua kalimat itu ke gue. Matanya memerah seperti menahan tangis.

“Gue udah putus sama Fitri…” Akhirnya gue berkata lirih.

Airina terdiam sebentar.

“Sejak kapan, Gas? Kok gue nggak tau?” Airina bertanya dengan tatapan penuh simpati kepada gue.

“Udah dua bulan lah.”

“Gas, sori…” Jawabnya pelan.

“Gue waktu itu mau cerita sama lo, tapi lo lagi sakit.”

Namun tiba-tiba, seperti amarahnya kembali merasuki jiwanya lagi, empatinya ke gue hilang seketika dan dia berkata, “Terus, karena lo putus, lo pikir lo jadi bisa ngomong gini ke gue?”

Menit-menit selanjutnya, gue lalui dengan berusaha meyakinkan Airina kalau ini waktu yang tepat untuk gue dan dia bersama. Tetapi seperti yang sudah gue perkirakan, cintanya yang buta sama si Arya mengalahkan semuanya. Air mata yang sudah dia tahan sejak tadi akhirnya pun menetes saat dia berkata ke gue,

“Gue kecewa sama lo, Gas. Lo satu-satunya cowok yang bikin gue percaya kalau cowok dan cewek itu bisa sahabatan tanpa mencampur-adukkan perasaan. But tonight, you proved me wrong. Thanks for ruining my day.

“Lo aja yang nggak pernah ngeh sama perasan gue, Na. I love you all along, long way back to high school. Nggak ada sejarahnya cowok dan cewek bisa temenan, awalnya gue kira pun bisa, tapi nggak, gue salah besar. Lo salah besar. Dan jujur, gue capek dijadiin bemper sama lo.”

There. I said it. Namun gadis kesayangan gue itu cuma menangis. Frankly, I hate seeing her like this. It has been years that I solemnly swear, I would be a man who won’t make her cry.

“Airina, maaf… gue nggak nyangka kata-kata gue bikin lo sesedih ini.”

Putus asa, gue mencoba meraih tangannya, tapi dia mengelak.

“Na… please don’t get me wrong. I didn’t mean to…”

Airina memotong kata-kata gue. “Udah deh. Lagian ini udah malem, mendingan lo pulang, Gas. Gue capek, mau istirahat.”

Gue cukup tahu diri untuk tidak berdebat dengan Airina lagi. Akhirnya gue pamit pulang. Airina tidak mau menatap gue. We don’t even say goodbye…

”Great. Our first. Big. fight.”

Frustasi, gue menghantam setir saat gue meninggalkan rumah Airina.

“Gue kira gue kenal dia luar dalem, tapi ternyata nggak. Namanya cewek ya tetep aja cewek. And I thought she is one of my best bros, tapi ternyata nggak. Namanya cewek ya tetep aja cewek, nggak ada yang bisa gue jadiin bros. Bahkan Airina sekalipun.

Gue nggak habis pikir, apa sih yang salah? Padahal dia yang bikin gue terbawa perasaan. Kalau dia nggak suka, kalau dia nggak seneng, kalau dia nggak sayang, kenapa dia harus nunjukin gelagat as if like she does? Kenapa sih, lo selalu ngasih mixed signal kayak gini, Airina?

Dan sedetik kemudian, dia nangis. Apa sih salah gue? Makhluk Tuhan yang namanya perempuan memang paling ajaib.

Mungkin cara gue yang salah. Mungkin kata-kata gue yang salah.

Lambat laun amarah gue berganti sama penyesalan. I gotta make things up for her.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *