Love You, Goodbye…

Bintaro, Februari 2016

708617937593806060516

Hari itu adalah hari Sabtu dan esok harinya adalah hari Minggu. Great, gue mulai terdengar seperti anak TK yang sedang belajar menghitung hari. Sabtu itu, teman spesial yang selama sebelas tahun kebelakang sudah menjadi bagian dari hidup gue akan pergi meninggalkan gue selamanya. Oke, mungkin kedengarannya terlalu berlebihan. Nggak selamanya juga sih, hanya untuk satu setengah tahun ke depan. Masalahnya, saat itu hubungan gue dan dia sedang not in a good terms. Saat dia pergi nanti, gue akan kehilangan dia untuk selamanya. Dan saat dia kembali lagi, entah hubungan kami berdua akan bagaimana karena posisi dia itu akan digantikan oleh wanita yang baru saja gue kenal selama kurang dari dua tahun.

Setelah gue dan Dewi menunda pertunangan kami Oktober lalu lantaran gue masih nggak yakin dengan perasaan gue, akhirnya Minggu itu gue akan melamar Dewi, pacar gue yang benar-benar seperti titisan dewi dari kahyangan. Mungkin cuma laki-laki sakit jiwa yang nggak mau menikahinya. Mungkin gue sakit jiwa karena meragukan hati gue untuk melamarnya besok pagi atau mengejar gadis kecil kesayangan gue malam itu ke bandara.

“Aku udah tau semuanya kok, bahkan sejak telepon Airina malem itu, dua tahun yang lalu. Aku yakin kamu dan Airina lebih dari sekedar temen.” Kata-katanya kembali memasuki lamunan gue beberapa waktu ini. Well, apparently, itulah yang menjadi satu-satunya alasan mengapa Dewi enggan menerima gue dan keluarga 4 bulan kemarin. Airina.

Setelah liburan akhir September lalu and things got a bit out of hands, gue langsung menceritakan semua yang terjadi antara gue dan Airina, dan gue kaget waktu Dewi menjawab dengan tenang, “Sampai kapan juga aku nggak akan pernah bisa ngegantiin posisi Airina dalam hidup kamu, Gas, this is the battle that I cannot win.”

Gue bahkan merasa tertampar dengan kata-kata yang ia ucapkan setelahnya, “Aku rela kok kalau kamu pada akhirnya memilih dia.”

Setelah gue berhasil menenangkan pikiran dan menetralkan perasaan gue, akhirnya gue sudah mantap untuk melamar Dewi dan hubungan gue dan Airina hanyalah sebatas teman. At that point, gue juga merasa sudah jadi laki-laki brengsek yang menyia-nyiakan wanita sebaik Dewi di hadapan gue. I took her for granted. Gue bukannya tidak sayang sama Dewi. Sungguh, gue merasa bersyukur ada Dewi di sisi gue. Namun entah apa, seperti ada sesuatu di diri Airina yang bikin gue pengen selalu ada di sampingnya. Ya, semuanya sudah berlalu, and it is final, I am going to propose Dewi.

Seharian, gue hanya uring-uringan di kamar. Masih tidak bisa memutuskan apakah malam itu gue akan mengantar Airina ke bandara atau tidak. Dua hari lalu, gue sudah kirim paket ke rumahnya, sebagai pengganti diri gue yang tidak bisa melepas kepergiannya dan sekaligus sebagai ucapan perpisahan dari gue. Dua hari lalu, keputusan gue sudah sebulat itu. Namun hari ini, hari ini gue tiba-tiba saja jadi gelisah dan merasa sangat ingin ke bandara untuk menemui dia.

“Tok, tok, tok…”

Terdengar suara pintu kamar gue diketuk. Tak lama kemudian, wajah Ibu muncul di balik pintu. Ibu masuk ke kamar, duduk di sisi ranjang, di sebelah gue yang sedang merebahkan badan.

“Bang, kenapa sih? Ibu perhatiin dari tadi pagi abang kayaknya gelisah terus deh. Grogi ya, buat besok?” Ibu bertanya sambil memasang senyum jahilnya menggoda gue.

“Nggak kok, Bu. Abang nggak apa-apa,” gue menjawab Ibu. Datar.

“Besok temen-temen abang pada dateng nggak? Udah dikasih tau kan, bang?” Ibu bertanya lagi.

“Iya Bu, tenang aja, mereka mau dateng kok katanya besok.” Gue menjawab dengan suara yang gue paksakan terdengar tenang.

“Siapa aja, bang? Reza, Nugi, Randy, Ayu, Airina?” Ibu mengabsen satu-satu sahabat gue di SMA dengan jari-jari tangannya.

Ibu memang sudah kenal dekat dengan mereka. Dulu sewaktu SMA, gue dan teman-teman gue itu bergantian ke rumah masing-masing untuk belajar mempersiapkan Ujian Akhir Nasional (UAN) dan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) sepulang sekolah dan seringnya baru selesai sampai larut malam. Jadi, adalah hal yang sangat wajar kalau orang tua kami hafal dengan nama teman-teman kami.

“Nggak semua, Bu. Kan Reza masih di Jepang, dia nggak libur kerja. Jadi nggak bisa dateng. Airina juga nggak.” Hati gue sedikit ngilu bahkan hanya dengan menyebut namanya.

“Oh iyaaa, Ibu lupa Reza di Jepang. Airina kenapa kok nggak dateng, bang? Eh, dia berangkat kapan sih? Besok yah?” Ibu bertanya lagi, mungkin beliau teringat dengan cerita gue tempo hari tentang Airina yang akan berangkat kuliah master ke Australia. Itupun gue juga dapat kabar dari Reza, karena sejak gue menciumnya, sampai detik ini Airina melancarkan perang dinginnya ke gue.

“Berangkat nanti malem, Bu. Jadi besok nggak bisa dateng.”

“Eh, malam ini? Loh, abang kok nggak nganter ke bandara?” Nada suara Ibu terdengar heran sama seperti ekspresi wajahnya.

Gue terperanjat mendengar pertanyaan Ibu barusan. Apakah Ibu tahu kondisi yang sebenarnya antara gue dan Airina? Atau Ibu memang sekedar bertanya karena sudah lama mengenal Airina? Akhirnya, gue hanya menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan itu.

Setelah makan malam, gue mengurung diri lagi di kamar. Ibu menghampiri gue lagi.

“Abang yakin, abang baik-baik aja? Ini karena nervous besok pagi, atau abang galau karena nggak bisa nganter Airina ke bandara sih?” Ibu bertanya sambil meneliti ekspresi wajah gue.

“Ha ha, apaan sih, Bu? Bener kok, abang nggak apa-apa.” Gue tetap berusaha menjawab santai.

“Sayangnya, Ibu sudah hampir 26 tahun jadi ibunya abang, so I happen to know my own son. Ibu tau, Airina yang paling deket sama abang kan? Yakin nih, nggak mau ke bandara? Daripada nyesel, nanti…”

Ibu gue ini memang betul-betul. Gue nggak pernah bisa bohong atau menutupi perasaan gue di depan Ibu. Sampai-sampai melontarkan kalimat, ‘daripada nyesel nanti’, gue nggak habis pikir.

“Eng… Enggak apa-apa emangnya, Bu, kalau abang keluar dan pulang malem? Kan besok…” Gue berkata ragu-ragu.

Ibu memotong kalimat gue. “Daripada besok abang masih kepikiran Airina, mendingan dituntasin malem ini kan? Asal nggak ngebut aja ya di jalan.” Ibu menepuk kedua lengan gue, kemudian mencium kepala gue.

“Cepet sana, siap-siap. Macet loh jalanan ke bandara, apalagi malem minggu begini.” Ibu berkata sambil beranjak dari tempat tidur dan keluar meninggalkan gue sendirian di kamar.

Tangerang, Februari 2016

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Aku selalu suka dengan suasana airport because airports have more sincere hugs and kisses than the wedding halls ever have. Like a few years ago, ketika aku mengantar Arya ke bandara untuk training di Palembang, aku tidak tahu kalau ternyata itu akan menjadi yang terakhir kalinya. Arya menggenggam erat tanganku sepanjang kami berjalan menuju pintu masuk check-in. Sampai akhirnya kami harus berpisah, matanya menatapku dengan sangat dalam, kemudian dia mendaratkan sebuah kecupan di dahiku. Hal yang tidak biasa dia lakukan di tempat umum, apalagi di tempat seramai bandara. Little did I know that it was a kiss out of guilt because he was cheating on me. Ah, enough with the past. Now here I am, standing at this gate just about to let go of all of the ghosts from my past.

Aku sekuat mungkin menahan tangisku, memaksakan senyum lebar di wajahku kepada semua orang yang mengantarku malam itu. Aku tidak masalah untuk bepergian jauh dari rumah, tetapi kali ini aku pergi untuk waktu yang cukup lama, jadi wajar saja kalau aku jadi agak sedikit melankolis kan? Mama, Papa, Mbak Aurelia beserta suaminya dan dua keponakanku yang lucu-lucu, Mas Akila, sahabat-sahabatku dari SMA dan kuliah, semuanya ada bersamaku. Hanya satu wajah yang hilang, wajah yang selama sebelas tahun terakhir telah menjadi my counterpart in this problematic so-called friendship.

Bagas.

Iya, saat semua orang menunjukkan rasa sayang dan perhatian mereka yang sebegitu besar kepadaku, aku yang kurang bersyukur dan sedikit tidak tahu diri ini malah memikirkan dia seorang.

“Gas, kenapa kita jadi begini sih? Mana mungkin lo dateng kan? Tomorrow is your big day, isn’t it?” Aku berucap dalam hati, berharap Bagas bisa mendengarku.

Setelah berpamitan aku melangkahkan kakiku menuju baggage drop, melambaikan tangan kepada semua orang yang mengantar kepergianku.

708617937593806060516

Setelah bersiap secepat mungkin, gue kemudian terjebak macet di tol arah bandara. Jalanan menuju bandara malam itu sungguh nggak bisa diajak bekerja sama. Seolah semesta berkonspirasi mencegah gue menemui Airina untuk yang terakhir kalinya. Sepanjang perjalanan gue mengirim pesan teks ke Ayu.

Yu, Airina udah masuk belom?
Belom, Gas. Sebentar lagi sih. Lo dateng?
Iya. Last minute decision, Yu. Gue nggak ngasih tau Airina.
Tolong tahan dia sebentar lagi ya.
Oke!

Kalau saja Airina tahu gue nyetir mobil sambil main handphone, pasti dia bakal ngomel-ngomel. Gue bahkan bisa membayangkan ekspresi jengkelnya sambil berkata,

“Bagas, please deh, lo kan bukan kucing yang nyawanya ada sembilan. Do not texting while driving. Safety first, Gas. Simpen ah handphone-nya.”

Ah, anak yang satu itu memang selalu saja suka bossing around but in a cute way sih, and I miss it somehow.

Pukul 21:30, setelah kesulitan mencari parkir di bandara yang penuh sesak, akhirnya gue berdiri di depan departure gate keberangkatan internasional. Mata gue berkeliling berharap melihat sosok yang gue kenal, Airina, atau mungkin keluarganya, atau teman-teman SMA gue yang lain. Gue coba menelepon ponsel Airina saat gue jalan dari parkiran, tetapi nggak diangkat. Mungkin dia sedang sibuk berpamitan dengan yang lain jadi tidak sempat pegang handphone. Gue akhirnya menelepon Ayu.

“Yu, dimana lo? Gue udah sampe nih.”

“Depan Gate 2E. Airina udah masuk, Gas. Lo kelamaan, gue nggak bisa nahan-nahan dia.”

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Setelah baggage drop sekitar satu jam yang lalu, aku kembali keluar dan menghabiskan waktuku sebelum boarding bersama orang-orang terdekatku. 45 menit menjelang boarding time, aku berjalan pelan kembali menuju departure gate. Sudah mulai terlihat antrian mengular dan aku pun ikut berbaris dengan rapi. Namun tiba-tiba,

“AIRINA! NA! NA!”

Seseorang meneriakkan namaku. Suaranya sungguh familiar. Aku celingukan mencari darimana datangnya sumber suara itu. Mataku menangkap pemandagan yang aneh, Ayu, Nugi, Randy, dan… Bagas, melambai-lambaikan tangan mereka ke arahku. Jantungku berdegup tak karuan, “Is this for real?”

Aku mematung dalam antrian, menatap tak percaya pemandangan itu. Di benakku langsung terbayang adegan Cinta mengejar Rangga dalam film Ada Apa Dengan Cinta? yang berakhir with a steamy goodbye kiss. Mungkinkah malam itu aku akan mereka ulang adegan legendaris itu secara live dengan Bagas? Oh, crap! Aku masih saja menaruh harapan kepada calon tunangan orang…

“Dek, maaf, itu antriannya udah maju, Dek.” Suara lelaki separuh baya yang berdiri di belakangku mengembalikan aku ke bumi.

Rupanya aku telah membuat macet antrian karena masih terpaku menatap Bagas dengan imajinasi liarku tadi.

“Eh, maaf, Pak. Silahkan duluan aja, Pak.” Jawabku menahan malu karena ternyata beberapa detik tadi aku blackout.

Lelaki separuh baya itu akhirnya mendahului aku. Aku tidak punya pilihan lain selain keluar dari barisan dan menghampiri teman-temanku itu. Jarak kami tinggal beberapa langkah dan aku menghentikan langkahku karena melihat Bagas bergegas menghampiriku.

“Ngapain lo ada disini, Gas?” Kalimat itu terucap begitu saja dari mulutku saat dia berdiri di hadapanku.

708617937593806060516

“Ada yang perlu gue omongin ke lo, Na.” Gue menjawabnya dengan gugup.

Dari kejauhan tadi, gue bisa melihat sosok mungilnya dibalik T-shirt The Beatles dan jogger pants yang dia kenakan. Tangan kirinya memegang sweater. Ransel Jansport berwarna pink tersampir di pundaknya, yang gue tahu itu adalah hadiah perpisahan dari kami, teman-teman SMA-nya. Entah kenapa untuk sesaat, di benak gue terlintas Nicole Richie, idolanya waktu sekolah dulu. Rambut Airina dibiarkan jatuh terurai di bahunya. Manis sekali.

Kemudian Airina melirik jam tangannya. Saat itu gue baru sadar kalau itu adalah jam tangan pemberian gue, yang gue paketkan ke rumahnya dua hari lalu. Kemudian ia berkata, “Waktu gue nggak banyak, Gas.”

“Suits you well,” walaupun nggak nyambung, gue tetap mengatakan kalimat itu sebagai jawaban atas pernyataan Airina sebelumnya. Seulas senyum yang tadinya terbentuk di wajah gue, terasa mengembang melihatnya.

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Hah?” Aku cuma bisa bengong keheranan. Apa sih maksud Bagas?

And to my surprise, Bagas menyodorkan lengan kirinya. Ternyata dia memakai jam tangan yang identik dengan yang dia berikan kepadaku. He’s smiling from ear to ear.

Ya Tuhan, apa sih arti semua ini? Gas, lo membuat gue serasa berada di video clip-nya Backstreet Boys. Quit playing games with my heart

Dua hari sebelum hari keberangkatanku, aku mendapatkan kiriman paket tanpa nama pengirim ke rumah. Isinya, sebuah kotak dan sebuah kartu. Aku bisa mengenali tulisan cakar ayam Bagas begitu aku buka kartu itu. Dalam kartunya tertulis bahwa Bagas tidak bisa mengantarku ke bandara, maka dari itu dia kirim paket tersebut sebagai ucapan perpisahan untukku. Iya betul, kotak itu berisi jam tangan Classic Oxford Daniel Wellington, yang sedang aku pakai malam ini. Karena paket itu juga, aku sudah mempersiapkan kondisi terburuk kalau malam ini dia tidak akan datang.

Sebenarnya, sebelum berangkat aku tidak ingin memakai jam tangan pemberian Bagas. Bukan karena apa-apa, aku hanya tidak terlalu suka dengan modelnya yang simpel dan gender neutral itu. Namun tetap saja, karena jam tersebut adalah pemberian dari Bagas, aku lebih memilih untuk memakainya, ketimbang memakai jam tangan rose gold Michael Kors milikku yang belakangan sedang sering-seringnya aku pakai.

I thought you’d never come, Gas… Aku sangat ingin melontarkan kalimat itu ke Bagas. Namun aku lebih memilih untuk diam, menanti Bagas mengucapkan sesuatu kepadaku.

“So, here we are, saying our goodbyes,” Bagas melangkah maju mendekatiku.

“Iya, makasih ya udah dateng, Gas.” Aku tersenyum padanya.

Hanya ucapan terima kasih yang bisa aku ucapkan. Sepertinya otak ini tidak bisa memberiku amunisi kalimat lainnya, untuk aku ucapkan di hadapan laki-laki yang sedang menatapku penuh arti.

“Entah berapa kali gue ngomong gini ke lo, mungkin banyak yang lo pikir bercanda, tapi gue selalu serius. Gue sayang sama lo, dan gue rasa nggak ada cowok-cowok di sekitar lo yang pantes buat di samping lo. Dari Fahri, Arya, terus Bintang, siapapun itu. Gue pun nggak, Na.”

Bagas menarik napasnya, lalu melanjutkan.

That’s why, selama ini, gue berusaha cari yang lain untuk gantiin posisi lo di hati gue, tapi gue selalu gagal. Ujung-ujungnya selalu balik ke lo lagi.”

Aku bisa melihat air mata tergenang di ujung matanya. Aku tak kuasa berkata-kata. Lidahku pun kelu.

Timing kita selalu nggak tepat… dari SMA. Lo tau? Sebelas tahun, Na. Akhirnya kelepasan juga gue waktu itu.”

Kakiku lemas saat mendengar Bagas mengucapkan semua itu kepadaku. Selama ini aku hanya berpikir Bagas egois, menyatakan perasaannya lalu pergi meninggalkanku begitu saja. Padahal Bagas pun sakit hati, memendam perasaannya selama ini. Yet I took him for granted. Dan bukan salah Bagas kalau pada akhirnya dia lebih memilih Dewi.

“Gas, maaf. Gue nggak sadar kalo gue pun udah nyakitin lo. Maaf, kalau timing kita selalu nggak tepat.” Suaraku bergetar, sebisa mungkin menahan air mata menetes dari kedua bola mataku.

“Nggak Na, gue rasa semua salah gue. Kalo gue nggak menyatakan perasaan ke lo, kita nggak akan kayak gini. Kalo waktu itu gue bisa kontrol diri gue dan nggak cium lo, kita nggak akan kayak gini. Maaf kalau gue udah bikin kita jadi berantakan kayak gini, Na. I miss us.

Untuk beberapa saat kami hanya terdiam. Akhirnya aku berkata,

“Yaudah, Gas, udah lewat juga semuanya kan. Apologies accepted, he he he.” Kataku, meringis.

Bagas kemudian tersenyum, ikut tertawa kecil. “Jangan males makan yah nanti disana. Udah nggak ada gue lagi yang siap sedia bisa anterin makanan setiap saat lo mager.”

Aku balas tersenyum, kali ini lebih tulus, rasanya dadaku yang terhimpit ini lapang sudah. “Iya, tenang aja.”

“Lo juga jangan nervous ya, Gas, besok. Semoga lancar segala sesuatunya, sampai hari H nanti. Sorry I can’t be there but my prayers are always with you.”

Tanpa kuduga, Bagas kemudian mencondongkan tubuhnya ke arahku, memeluk aku dengan kedua tangannya.

“Maafin gue ya, Airina. No matter what, you’re always gonna be my best friend. Take care… I’m gonna miss you,” bisiknya di telingaku.

Setetes air mata jatuh di pipiku. Aku tidak membalas ucapannya tadi, aku hanya ingin berdiri, diam, dan memeluknya sebentar lagi saja… I just want to syncopate my breath to his heart beating. Aku tidak peduli kalau puluhan pasang mata mungkin sedang menatap kami. Aku bahkan berharap Mama dan Papa akan maklum melihat bungsunya berpelukan dengan laki-laki di tempat umum seperti itu. Aku membenamkan wajahku di dalam pelukan dadanya yang bidang.

Kemudian terdengar suara Randy, “Woy, ditahan dikitlah. Masih ada kita nih disini.”

Aku tertawa kecil ditengah tangisku. Bagas melepaskan pelukan kami, ikut tertawa.

“Thank you for the last eleven years, Gas!”

Aku duduk di ruang tunggu, menanti waktu untuk boarding. Aku mengulang-ulang adegan tadi saat Bagas memelukku. Walaupun aku akan kehilangan dia untuk selamanya setelah ini, setidaknya pundakku sekarang terasa jauh lebih ringan dan rasa yang terpendam ini tak lagi menyesakkan dada.

Aku mengeluarkan iPod dari dalam tas ransel dan memasang earphone di kedua telingaku. Aku sangat memerlukan lagu yang tepat untuk menemaniku melalui saat-saat seperti ini. Jariku menelusuri lagu-lagu di Library secara perlahan, My Everything-nya Ariana Grande sepertinya cocok dengan kondisi aku dan Bagas. Tetapi tidak, arti setiap kata di lirik lagu itu terlalu dalam untukku. Atau mungkin aku bisa play All I Ask-nya Adele. Tetapi aku sungguh tidak ingin mendapati diriku nanti menangis sesenggukan di ruang tunggu, lantaran kombinasi yang sempurna antara lirik lagu dan suara Adele yang menyayat-nyayat dinding hatiku. Dan akhirnya, pilihanku jatuh pada salah satu lagu di album terbaru dari boyband kesayanganku, One Direction.

Track 11, Love You Goodbye.

“Goodbye, Gas…” Ucapku dalam hati, tak terasa air mata mulai membasahi kedua pipiku.

708617937593806060516

Gue sudah kembali ke parkiran, terduduk diam di bangku kemudi, masih mencoba memproses semua hal yang terjadi tadi. Gue bahkan masih bisa mencium aroma parfumnya dan merasakan detak jantungnya yang tiba-tiba berdetak cepat saat gue peluk tubuh dia yang mungil itu.

This may be it, because if this is, then at least we could end it right. Gue harus merelakan kepergiannya.

Pandangan gue terpaku pada sebuah kotak CD yang tergeletak di jok sebelah kiri gue. Cover depannya bergambar empat laki-laki duduk di sofa, Made in the A.M. album ke-5 dari One Direction. Boyband kesayangannya Airina, yang gue yakin dia bisa menyebutkan siapa adalah siapa di cover itu. Gue masih ingat, Maret lalu, Airina mohon-mohon ke gue untuk ditemani nonton konser One Direction di Gelora Bung Karno. Gue yang lelaki tulen ini tentu saja menolak permintaan silly-nya itu. Namun, memang dasar sifat kerasnya Airina yang nggak bisa dibilangin, dia tetap nekat nonton sendirian. Lalu setelah nonton konser, di jalan pulang dia nelepon gue sambil nangis-nangis, bikin gue panik setengah mati. Saat gue tanya kenapa, apakah mungkin dia cedera atau terkena himpit anak-anak remaja labil di konser, dia menjawab,

Worse than that, Gaaas! Lo harus tau, Zayn keluar dari One Direction padahal gue baru aja nonton konser pertama mereka di Indonesia, dan tanpa diaaa. Gimana siiih? Sedih banget gue…” Airina merengek seperti anak kecil yang menangis minta dibelikan balon. Buat dia ternyata nasib boyband kesayangannya itu jauh lebih penting dari her own safety. Gue speechless dan cuma bisa geleng-geleng kepala dibalik telepon.

Sebenarnya, gengsi juga kalau sampai Airina tahu gue akhirnya suka sama boyband ini, bahkan sampai niat banget membeli CD nya. Well, surprisingly lagu-lagu mereka di album ini nggak cheesy kayak lagu pop teenage girls pada umumnya.

Gue tersadar dari lamunan gue tentang Airina saat gue melihat jam di dashboard sudah menunjukkan pukul 22:15. Airina pasti sudah boarding, to start over. Gue pun besok pagi akan membuka lembaran baru. Dan gue juga nggak mau membuat Ibu khawatir kalau gue pulang terlalu malam, mengingat besok adalah hari penting karena gue akan melamar anak gadis orang.

Gue bersiap pulang. Sebelum melajukan mobil, gue menghidupkan music player yang secara otomatis memutarkan CD One Direction yang sudah gue play sejak berangkat tadi.

Track 11, Love You Goodbye.

It’s inevitable everything that’s good comes to an end
It’s impossible to know if after this we can still be friends, yeah

I know you’re saying you don’t wanna hurt me
Well, maybe you should show a little mercy
The way you look I know you didn’t come to apologize

Hey, hey, hey
Oh, why you wearing that to walk out of my life?
Hey, hey, hey
Oh, even though it’s over you should stay tonight
Hey, hey, hey
If tomorrow you won’t be mine
Won’t you give it to me one last time?

Oh, baby, let me love you goodbye

Shit. Cuma itu kata yang bisa terucap ketika gue sadar makna dibalik lirik lagu tersebut.

Unforgettable together, held the whole world in our hands
Unexplainable, a love that only we could understand, yeah

I know there’s nothing I can do to change it
But is it something that can be negotiated?
My heart’s already breaking, baby, go on, twist the knife

One more taste of your lips just to bring me back
To the places we’ve been and the nights we’ve had
Because if this is it then at least we could end it right

Oh, why you wearing that to walk out of my life?
Hey, hey, hey
Oh, even though it’s over you should stay the night, yeah
Hey, hey, hey
If tomorrow you won’t be mine
Won’t you give it to me one last time?

Oh, baby, let me love you goodbye

A guy and a girl can be just friends, but at one point or another, they will fall for each other. Maybe temporarily, maybe at the wrong time, maybe too late, or maybe forever.

– David Matthews Band

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *