Little did they know that love is blind

Bandung, Juli 2008

Baskara duduk di bangku belakang, menunggu antrian pendaftaran ulang Ujian Saringan Mandiri (USM) Institut Teknologi Bandung (ITB). Dirinya yang diterima pada gelombang kedua USM, berhasil masuk ke pilihan pertamanya, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL). Ia mengenang masa-masa USM dulu, ke Bandung bersama teman-temannya yang satu SMA. Ada yang diterima, termasuk dirinya, ada yang tidak. Mungkin belum, dan beberapa temannya hari ini masih berjuang lewat Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) di kampung halamannya, Yogyakarta.

Namun kali ini, Baskara mendapati dirinya sendiri karena beberapa temannya diterima di fakultas lain. Di depannya, ia melihat ada dua baris yang diisi oleh gadis-gadis berseragam putih abu-abu, seperti dirinya. Mereka terdengar ceria, dan tentu saja, berisik. Cantik-cantik, pikirnya. Entah kenapa citra yang Baskara dapatkan dari kesan pertamanya adalah smart yet stylish, dengan minder, saat itu ia berpikir bahwa ia merasa berbeda dunia dengan mereka.

“Pasti berasal dari Jakarta,” Baskara menebak-nebak dalam hati.

Tebakannya benar. Hana merupakan salah satu dari sekumpulan gadis-gadis yang duduk di barisan depan Baskara. Sama seperti semua mahasiswa yang sedang melakukan pendaftaran ulang, hari itu Hana mengenakan seragam putih abu-abu. Ia mengenakan kemeja putih yang terlihat sedikit kebesaran, bajunya dikeluarkan. Rok abu-abunya berpotongan span menggantung di atas mata kakinya, dengan belahan di belakang yang cukup tinggi. Terlihat Hana memakai kaos kaki panjang selutut di balik rok spannya. Di kakinya ia memakai flat shoes yang terbuat dari kain berwarna hitam. Di sebelah kanan sepatunya ada patch bordir Powerpuff Girls, sementara di sebelah kirinya ada Buttercup, anggota Powerpuff Girls kesukaannya.

Hari itu Hana sangat bahagia, bisa menapaki kampus impiannya, bahkan bersama sahabatnya, Diandra, yang juga mengenakan sepatu yang sama. Namun di kaki kiri Diandra, terpampang patch bordir Blossom. Di masa SMA dulu, Hana dan Diandra berjanji akan memasuki Teknik Lingkungan, bersama-sama. Dan sahabat mereka, Viona, yang memiliki sepatu yang sama dengan gambar Bubbles, memilih untuk masuk Fakultas Kedokteran di salah satu universitas negeri di Yogyakarta.

Bersama Hana dan Diandra ada Felisha, Yanti, dan Nabila, teman-teman mereka satu SMA. Selain itu ada juga sepasang sahabat, Priscilla dan Maura, yang juga berasal dari Jakarta. Tidak butuh waktu lama, gerombolan gadis-gadis itu bisa berbincang dengan akrab.

Beberapa kali Baskara bertemu dengan pelancong dari Jakarta di kota tercintanya. Kesan yang mereka tinggalkan tidaklah selalu baik, namun tidak selalu buruk. Tetapi ada satu hal yang selalu Baskara tangkap, bahwa ia tidak kuat dengan lifestyle dan perilaku orang-orang dari ibukota. Mungkin terlalu wah, mungkin terlalu lancang, ia tidak tahu betul persisnya. Yang jelas, di hari itu Baskara membatin dalam hati,

“Jangan sampai aku harus bersinggungan dengan gadis-gadis ini.”

Little did they know that love is blind

And their paths will be intertwined

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *