Last first kiss

Karimunjawa, Desember 2011

Baskara mereka ulang sepotong pembicaraan pagi tadi dengan Hana, saat mereka berada di kapal cepat dari Jepara ke pulau itu. Baskara tahu, ada yang tidak beres dengan diri Hana karena gelagatnya berbeda dari semalam, saat mereka duduk berdampingan di dalam bis dari Bandung menuju Jepara. Semalaman Hana ceria dan mereka membicarakan banyak hal, sampai gadis kesayangannya itu jatuh tertidur di pundaknya. Namun pagi tadi, mulutnya terkunci, matanya seperti sengaja tak mau beradu dengan mata Baskara. Tadinya Baskara mengira Hana mabuk laut, sampai akhirnya ia menanyakan,

“Kenapa, Han? Kamu mabuk?”

“Nggak, Bas.”

“Kok pucat?”

Pertanyaannya hanya dibalas dengan gelengan semata, Hana tersenyum, yang terlihat dipaksakan. Hal itu cukup membuatnya frustasi. Entah terkena angin apa, ia kembali bertanya, menyebutkan nama yang selama ini paling anti ia bawa ke permukaan, apalagi ke dalam pembicaraannya bersama Hana.

“Bara?”

Hana mengangguk pelan, dalam hatinya ia berkata, “Shoot, he knows me too well.

Di hati kecilnya, Baskara cukup tahu, memang hanya Bara yang bisa membuat Hana seperti itu.

“Bara kenapa?”

“Dia SMS aku.”

Bimbang memilih antara untuk terlalu peduli atau tidak sama sekali, akhirnya Baskara bertanya lagi, karena sulit baginya melihat Hana seperti itu. “SMS apa?”

“Dia marah, Bas. Dia marah aku pergi sama kamu.”

“Kamu cerita sama dia kalau kita liburan bareng?”

“Aku nggak cerita sebelumnya, untuk apa? Tapi tadi pagi tiba-tiba dia SMS aku, nanya lagi dimana. Terus aku jawab, dan dia marah. Aku nggak ngerti kenapa, aku nggak ngerti kenapa dia masih ngerasa berhak untuk marah sama aku. Kenapa?”

Air mata terlihat menggenangi bola mata Hana. Baskara tidak bertanya lebih lanjut, ia tak mau gadisnya menangis di hadapannya. Tangannya meraih kepala Hana dan menyandarkannya di pundaknya. Bibirnya mengecupnya pelan, yang akhirnya tenggelam dalam dekapannya. Sisa perjalanan pun mereka arungi dalam diam.

Baskara dan Hana beserta keempat temannya, Raina, Athar, Aluna, dan Firzi, memutuskan untuk menghabiskan liburan semester itu dengan berlibur ke Pulau Karimunjawa. Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya mereka menyantap makan siang dan beristirahat sejenak di cottage sebelum berangkat snorkelling.

Beruntung, mereka menginap selama dua malam di seafront cottage di sana. Baskara melamun seraya memandangi bentangan Laut Jawa di hadapannya, tidak menyadari perbincangan antara Athar dan Firzi yang duduk di sebelahnya. Suara keduanya hanya terdengar sayup-sayup di antara gambaran kejadian di kapal tadi bersama Hana. Lamunannya terhenti saat ia membalikkan badan karena mendengar suara Hana dari belakang. Gadisnya itu mengganti kaos dan jogger pants yang dipakainya dari semalam dengan swimsuit yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Hana mengenakan baju renang one piece yang bagian atasnya berwarna hijau neon, sementara bagian pinggang ke bawah merupakan celana ketat yang pendeknya sepaha, berwarna hitam. Baskara kehilangan kata-kata mendapati gadis pujaannya berpenampilan seperti itu. Setelah Hana berada di dekatnya, barulah ia menyadari bahwa bagian belakang baju renang yang Hana kenakan itu backless.

“Han, kamu nggak ada baju lain?”

“Ada. Kenapa, Bas?

“Nggak mau diganti aja, bajunya?”

“Lah kan mau berenang. Kenapa emangnya?”

“Ng… nggak tapi…” Baskara kembali kehilangan kata-kata.

Alih-alih memikirkan jawaban untuk Hana, ia meraih tangan Hana dan mengajaknya kembali ke cottage.

“Bas, kenapa sih?” Hana keheranan akan tingkah pacarnya itu.

“Aku suka lihat kamu pakai baju ini.” Baskara menghela napas panjang, lalu melanjutkan, “Tapi aku nggak mau orang lain ikutan suka lihat kamu pakai baju ini.”

Hana tersenyum geli melihat Baskara. “Kalau gitu aku dobel ya? Pakai kaos?”

“Kenapa nggak ganti kaos aja? Sama celana sekalian, atau legging.”

“Bas kan kita mau snorkelling, masa aku nggak pakai baju renang…”

Baskara menyerah, menatap gadisnya memasuki kamar tidur. Tak lama, Hana keluar dengan mengenakan loose t-shirt jenis favoritnya: crop top. Selera berpakaian Hana memang selalu membuat Baskara menggelengkan kepala, tak habis pikir. Namun biarlah, ia tidak mau berdebat lagi. Setidaknya, kaos putih bergaris-garis itu cukup menutupi sebagian besar punggung Hana.

Sehabis makan malam, mereka berenam berjalan kaki menyusuri jalan raya yang mengarah ke alun-alun. Cukup lama mereka duduk-duduk di rerumputan yang beralaskan terpal, sambil mencoba seluruh makanan yang dijajakan disana dan membicarakan kejadian di kelas semester kemarin —kebetulan mereka duduk di kelas ganjil bersama-sama. Malam semakin larut, keenamnya beranjak kembali ke cottage. Sesampainya mereka di cottage, Raina pamit untuk beristirahat duluan.

Langit malam bertabur bintang yang kerlipnya seakan ingin melawan sinar rembulan. Air laut beriak tenang, debur ombak terdengar pelan di kejauhan, seperti memanggil-manggil mereka untuk kembali merenanginya. Tanpa pikir panjang, Aluna dan Firzi segara masuk ke kamar masing-masing untuk berganti baju renang.

“Ikut, Thar?” Firzi bertanya.

“Nggak ah, gue males mandi lagi.” Athar berjalan menuju dapur dan menyiapkan kopi,  berniat untuk duduk-duduk di beranda depan pantai.

“Sekalian bikinin untuk saya ya, Thar.” Baskara nyengir, seraya menepuk pundak Athar.

“Buat Hana sekalian nggak?” Athar bertanya ke Baskara karena melihat Hana sudah berjalan memasuki kamar perempuan.

“Nggak. Dia nggak minum kopi.”

Hana yang mendengar percakapan itu, tersenyum. “He does know me too well…

Baskara dan Hana berjalan menyusuri bibir pantai, bergandengan tangan. Kaki mereka basah terkena air laut yang terkadang menggapai jari-jari kaki keduanya.

“Bintangnya banyak banget ya, Bas. I like it when their lights shining down on the sea, making it sparkling, as if there were diamonds. Kamu tahu nggak?”

“Mm hm?”

The stars and the sea, they both are my favourites.

Baskara tidak menjawab pernyataan Hana. Jemarinya memainkan jemari tangan Hana, menelusurinya hingga ke siku dan pundaknya. Kemudian ia menoleh menatap Hana, mendekatkan kepalanya. Jarak mereka belum pernah sedekat itu.

You are my favourite,” bisiknya pelan, lalu bibirnya menyentuh bibir Hana lembut.

To his surprise, Hana menangis. Gadisnya itu terpaku, tidak membalas ciumannya, namun tidak melepasnya pergi. Kebingungan, akhirnya Baskara merengkuh Hana, membenamkan kepalanya di sela-sela rambut Hana yang terurai. Degup jantung keduanya beradu dengan cepat.

“Hana… maaf,” hanya kata maaf yang mampu ia ucapkan, karena hanya satu hal yang tidak pernah Baskara inginkan, yaitu melihat gadisnya menangis di hadapannya, dan terlebih lagi, karena dirinya.

“Gilaa kemana aja, Bas, baru balik jam segini?”

“Pertanyaannya bukan kemana, Thar, tapi ngapain aja? Gue yakin nih anak berdua abis ngapa-ngapain.” Firzi menanggapi pertanyaan Athar bahkan sebelum Baskara sempat menjawabnya.

Baskara menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu, pertanda ia salah tingkah.

“Wah iya! Gimana-gimana? Berhasil nggak, Bas? Kesampean nggak lo, cium si Hana?” Tanya Athar bersemangat.

“Iya…”

Kedua temannya bersorak-sorai.

“Jadi gimana, Bas, rasanya ciuman?”

“Basah.” Jawab Baskara singkat.

Keduanya semakin terdengar bahagia, sampai menepuk-nepuk punggung Baskara, yang lebih terlihat seperti memukul.

“Tapi kok saya nggak berasa seneng ya?” Baskara berkata, tetapi tidak dihiraukan oleh Athar dan Firzi.

“Salut gue, Bas! Baru pertama kali udah main yang basah-basah aja lo!” Firzi berkata di sela gelak tawanya.

“Ng… Saya bingung, memangnya perempuan kalau dicium itu malah nangis?” Kata Baskara akhirnya, setelah kedua temannya itu berhasil mengendalikan excitement mereka.

“Hah?” Kali itu senyum keduanya hilang dan menatap Baskara heran.

Setelah Baskara menceritakan apa yang terjadi di pinggir pantai tadi antara dia dan Hana, firasatnya terbukti. Sepertinya apa yang ia alami tadi bukanlah suatu hal yang wajar, dan dirinya semakin was-was setelah mencurahkan isi hatinya ke Athar dan Firzi.

Malam itu adalah malam terakhir mereka di Pulau Karimunjawa. Keenamnya terlihat mengitari api unggun, menyantap makan malam seafood yang serba dipanggang di perapian. Setelahnya, mereka menikmati indahnya laut dan langit malam. Suara ombak berlari-lari di kejauhan. Baskara memainkan gitarnya sambil melantunkan lagu Yellow dari Coldplay.

Look at the stars, Look how they shine for you,
And everything you do, Yeah, they were all yellow.

I came along, I wrote a song for you,
And all the things you do, And it was called "Yellow".

So then I took my turn,
Oh what a thing to have done, And it was all yellow.

Your skin, Oh yeah your skin and bones,
Turn into something beautiful,
Do you know, You know I love you so, You know I love you so.

Hana berbaring di atas kain pantai yang dijadikan alas olehnya. Pandangan matanya menyapu kerlipnya bintang di atas sana. Terkadang ia bergumam pelan, menikmati lagu yang dibawakan Baskara. His voice always can soothe her, caressing her soul.

Lalu ia menyentuh pelan bibirnya, jantungnya terasa terhenti sejenak. Kurang dari 24 jam lalu, Baskara menciumnya. Entah apa yang Hana rasakan, hatinya berkecamuk. Semalaman ia tak bisa tidur, menangis dalam diam. Entah untuk apa air mata itu jatuh perlahan, namun ia pun tak kuasa untuk meredamnya.

Little did she know that tonight, as many nights before, he sings his heart out for her.

I swam across, I jumped across for you,
Oh what a thing to do. 'Cause you were all yellow,

I drew a line, I drew a line for you,
Oh what a thing to do, And it was all yellow.

Your skin, Oh yeah your skin and bones,
Turn into Something beautiful,
Do you know, For you I'd bleed myself dry, 
For you I'd bleed myself dry.

It's true, Look how they shine for you,

Look at the stars, Look how they shine for you,
And all the things that you do.

Setelah semua dibereskan, mereka bersiap-siap kembali ke cottage untuk packing, karena besok adalah hari terakhir mereka berada di Pulau Karimunjawa.

Baskara meraih tangan Hana, “Aku ingin bicara.”

Pertama kalinya dalam hari itu, Hana menatap matanya. Sudah seharian sikap Hana kepada Baskara seperti acuh tak acuh. Baskara mengamati kedua bola mata Hana, dan benar, ia merasa ada yang hilang dari sana. Tekadnya bulat sudah.

“Aku pikir ini karena sikapku kemarin malam. Tapi mungkin bukan.” Baskara menghela napas, lalu melanjutkan, “Sepertinya ini lebih dari itu, Hana.”

Hana tetap terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Sepertinya ia pun tahu pembicaraan itu mengarah kemana.

“Ada yang bilang, too much love will kill you. Tapi menurutku nggak gitu. Cinta tidak serendah itu. If too much love hurts you, you love the wrong person.”

Tidak mudah bagi Baskara untuk mengatakan hal itu ke Hana. Tidak mudah bagi Baskara untuk menuduh Hana adalah orang yang salah baginya.

“Jujur, Han, aku nggak pernah merasa sebahagia ini, seperti aku lagi sama kamu. Tapi di sisi lain, aku pun nggak pernah merasa sehancur ini. Bareng sama kamu… bikin aku senang, tapi juga bikin aku sedih. Aku sedih karena sampai detik ini pun, kamu nggak bisa sepenuhnya memandang aku. Seperti… seperti ada sosok lain yang kamu harapkan, dan itu bukan aku. Bersamaku mungkin bikin kamu merasa lebih baik, tapi aku lama-lama sadar kamu bukan Hana yang dulu, yang ceria, yang bahkan bisa bikin orang senang cuma karena kehadiran kamu. Kamu inget?”

“Apa?” Hanya sepenggal kata itu yang mampu Hana ucapkan, pikirannya tak sanggup menerima curahan hati Baskara selama ini. He has been so nice to her yet she is acting like a fool.

“Bagiku, sinarmu mengimbangi mentari…” Baskara menyebutkan sepenggal lirik favoritnya di lagu buatannya untuk Hana, yang sebenarnya merupakan lirik favorit Hana juga.

“Tapi sekarang nggak gitu, Han,” lanjutnya lagi, “Mungkin hanya Bara yang bisa memberikan itu buatmu.”

There. He said it.

“Bas? Kok Bara? Ng… nggak gitu…” Hana terbata-bata. “Aku nggak tahu apa yang aku rasain dari semalam, tapi bukan Bara. Bukan karena dia, Bas…  Maafin aku bikin kamu bingung, aku pun bingung sama sikapku sendiri. Aku, aku cuma lagi kepikiran banyak hal aja saat ini…”

“Hana, aku kenal kamu lebih dari kamu kenal dirimu sendiri.” Akhirnya Baskara menyunggingkan senyumnya. “Dan aku rasa, masih ada hal yang belum selesai di antara kalian.”

Baskara memeluk Hana, erat, as if he was saying goodbye. And he was. Ia berkata pelan di daun telinganya,

“Menurutku kamu harus bicara dengan Bara,” suaranya tercekat, “Tapi untuk kali ini, sepertinya aku nggak perlu menunggu kamu lagi…”

Berat bagi Baskara untuk melepas Hana pergi. Sudah 7 bulan belakangan mereka bersama, dan tidak ada hal yang membuat Baskara bahagia seperti di saat ia melihat gadis kesayangannya tersenyum, apalagi tertawa.

As for him in these past months, the most beautiful thing in life is to see her smile, and to know that he is the reason behind that smile. He just knew that the most painful thing is to see her cry, yet he has no power to make it go away.

“Aku minta maaf, Hana.”


Bandung, Desember 2011

Baskara dan Hana melambaikan tangan kepada keempat temannya. Athar akan mengantar Raina ke kosannya di Cisitu Baru. Sementara Aluna sudah dijemput oleh kakaknya di stasiun. Firzi pulang ke rumahnya di Buah Batu. Baskara dan Hana berencana menyantap sarapan bersama di Simpang Dago, di tukang bubur kesukaan mereka, Bubur AK. Mungkin ini akan menjadi terakhir kalinya mereka makan bersama, pikir Baskara, seraya mereka turun dari angkutan umum Dago-St. Hall.

“Han, mau aku antar?” Tanya Baskara.

Setelah pembicaraan mereka semalam, Baskara terus mendesak Hana untuk segera bertemu Bara. He thought it was the right thing to do. Hana hanya terdiam, dalam hati berpikir, “Who am I, deserve to be loved by someone kind like this?”

“Kalau kamu mau, dari sini kita ke kampus dulu, ambil motor. Setelah itu aku antar kamu ke kosan Bara,” lanjut Baskara.

“Nggak usah Bas, nanti kamu bolak-balik. Aku tinggal naik angkot ke atas. Aku mau istirahat dulu, nanti malam aja deh ketemu Bara.”

“Bara udah jawab SMS kamu?”

“Nggak, Bas. Belum. Tuh, SMS aja nggak dibales, gimana mau ketemu kan? Hehehe.”

Baskara tersenyum, tahu betul Hana berusaha menyembunyikan rasa sakit dan bingung di hatinya, yang sebenarnya dirasakan oleh Baskara juga.

Keduanya memakan bubur masing-masing, mencoba untuk bersikap biasa saja, seakan tidak ada rasa patah hati yang dirasakan. Mereka berbincang, mencoba mengingat-ingat momen-momen menarik dan lucu selama liburan mereka beberapa hari lalu itu. Sampai tiba bagi mereka berpisah jalan. Baskara mengusap kepala Hana sebelum ia menaiki angkutan Riung Dago yang akan membawanya ke Dago Atas.

“Mungkin ini yang akan bikin aku kangen kamu nantinya, Han…”

“Hmm?” Hana melontarkan pandangan tanya ke Baskara.

“Mengusap kepalamu.”

Hana salah tingkah dibuatnya, ia melambaikan tangan pada Baskara, seulas senyum menghiasi bibirnya. Biar bagaimanapun, ia bersyukur bisa dipertemukan dengan Baskara.

Actually, he let her go to see if she would hold on to him.

Baskara melepasnya pergi, berdiri seraya memandangi gadisnya hilang dari pandang matanya. Hatinya mencelos. Rasanya, tiap detak jantungnya membuat napasnya begitu berat.

Even so he believed that she would not.

Baskara akhirnya tersenyum, mencoba untuk ikhlas. “Cinta memang butuh pengorbanan,” pikirnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *