Kali Pertama

Jakarta, Agustus 1983

Hari itu adalah hari pertama Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK) bagi mahasiswa baru (maba). Para maba berbaris rapi di depan halaman Fakultas Ekonomi. Fadli duduk di bangku taman, tepat di belakang barisan. Ia menatap nanar lautan maba yang mengenakan seragam hitam-putih, dan matanya terkunci pada salah satu anak maba yang menarik perhatiannya sedari tadi. Fadli adalah mahasiswa tingkat akhir, seharusnya ia lulus tahun lalu, tetapi masih banyak mata kuliahnya yang belum lulus dan harus mengulang.

“Toh, gue seneng di kampus, masih belum siap menyongsong masa depan, mencari kerja, dan bertanggung jawab atas diri sendiri. Kenapa harus lulus cepat-cepat?”, batinnya selalu.

Fadli melirik jam tangannya, pukul sepuluh, kira-kira sudah 20 menit ia duduk disana. Kalau bukan karena petai berbiji 25 yang ia titipkan pada panitia OSPEK untuk jadi barang bawaan maba, ia pasti masih berada di kamar kontrakannya, tertidur pulas. Tapi demi petai, Fadli rela bangun pagi-pagi dan sudah berangkat ke kampus.

“Kapan lagi dapat pete gratisan hingga ratusan, bahkan ribuan?” Ucap Fadli dalam hati.

Matahari pagi itu sangat terik, ia membenarkan posisi aviator Ray-Ban miliknya, menghisap habis batang rokok ketiganya pagi itu. Pandangannya kembali ke sosok yang sama, maba yang ia perhatikan sedari tadi sedang mengangkat tangannya, antusias menjawab pertanyaan yang diberikan kakak tingkatnya. “Cih, untuk apa sih antusiasme seperti itu?”, pikir Fadli. Namun, entah mengapa ia tetap tak bisa melepas pandangannya dari anak perempuan itu. Rambutnya yang hitam legam dikuncir kuda, suaranya lantang. Mungkin keduanya lah yang telah membuat Fadli terpukau. Entah perasaan apa, yang jelas, pagi itu gadis misteriusnya telah membuat jantung Fadli berdegup kencang.

Namanya Gamelia.

Hari itu rambut Gamelia dibiarkan terurai. “Mengapa harus dibiarkan terkena panas terik seperti ini? Rambut seindah itu seharusnya diabadikan di museum,” batin Fadli.

Di waktu makan siang, pandangannya tak pernah lepas dari sosok Gamelia. Sambil merangkul Tony, sahabatnya, ia berkata, “Lo liat cewek itu? Gue akan jadiin dia pacar gue.”

“Siapa?”

“Gak tau, belum kenal. Tapi gue penasaran. Rambutnya yang bikin gue jatuh cinta.”

“Belum kenal udah mau jadiin pacar aja lu!” Tony hanya menggelengkan kepala, tertawa melihat tingkah sahabatnya. “Hari gini jatuh cinta kok sama rambut!”

Minggu kedua perkuliahan setelah OSPEK berakhir, kegiatan belajar mengajar mulai berjalan dengan normal. Gamelia yang adalah mahasiswa tingkat satu, masih tidak familiar dengan tata ruang kampusnya. Pagi itu, Gamelia berjalan terburu-buru menyusuri koridor kampus untuk mengikuti kuliah pertamanya. 5 menit lagi menuju jam 8 dan ia masih tidak bisa menemukan ruang kelas. Ia mengeluarkan Buku Saku yang berisi panduan untuk mahasiswa baru dari dalam tasnya. Saat itulah, sesosok lelaki berjalan menghampiri Gamelia.

“Hai! Kamu lagi cari Kelas Statistik ya?” Sapa lelaki itu, Fadli.

Gamelia yang sedang panik dan tidak ingin terlambat masuk kelas pun menjawab dengan sedikit panik, berharap sosok misterius itu bisa menyelamatkannya dari kemungkinan terlambat.

“Iya nih, tapi dari tadi nggak nemu ruangannya,” jawab Gamelia.

“Yuk bareng aja, kebetulan aku juga ambil mata kuliah yang sama.”

Tanpa ragu kemudian Gamelia mengikuti Fadli menuju ruang kelas. Sesampainya di depan pintu kelas, Gamelia menghela napas panjang, lega karena tidak telat di hari pertama kuliah. Sebelum membuka pintu, ia membalikkan badan,

“Terima kasih ya!” katanya sembari tersenyum.

“Senyuman pertamamu yang diberikan untukku…” pandangan Fadli menerawang ke langit-langit, pikirannya mereka ulang pertemuan pagi itu. Mungkin hatinya berhasil terbang ke langit, hanya dengan satu senyuman simpul seorang gadis.

“Namanya Gamelia…” batinnya lagi. Dia berhasil mendengar nama Gamelia dipanggil saat Pak Dosen mengabsen mahasiswa satu per satu.

“Heeeeey Fadli! Jangan bengong saja kamu! Sudah tiga kali kamu mengulang mata kuliah saya, perhatikan!” Suara Pak Dosen yang diiringi dengan gelak tawa ruangan membawanya kembali ke bumi. Tony menjitak kepalanya, tertawa terbahak-bahak.

“Kamu juga jangan tertawa-tawa! Kalian berdua sama saja. Pusing saya!”

Di bangku depan, Gamelia menoleh ke arah objek suara Pak Dosen, ikut tertawa kecil.

“Namanya Fadli…” gumamnya dalam hati sambil mengangguk perlahan.


Jakarta, September 1983

Sudah satu bulan berlalu semenjak Fadli melihat sosok Gamelia di halaman fakultas. Pada akhir minggu itu akan ada acara Open House Unit (OHU) Kegiatan Mahasiswa Kampus. Fadli yang adalah ketua Unit Pecinta Alam (UPA), turut sibuk mempersiapkan stand unit dan jalannya acara. Sore itu anggota UPA akan melaksanakan rapat akhir, membahas stand unit mereka di hari Minggu nanti dan kegiatan Trekking for Public yang telah mereka rencanakan satu bulan ke depan.

“Ton, kira-kira Gamelia daftar gak ya…” Fadli kembali berangan-angan. Tony diam saja.

“Ton, nanti pas OHU Gamelia dateng gak ya ke stand UPA…

Ton, kalo dia dateng gimana?

Ton, gue harus ngomong apa ya biar dia tertarik join trekking?”

“Gila lu! Baru kali ini gue liat lu ga fokus gini! Ini kita mau rapat lu masih aja bahas itu cewek. Heran! Dunia mau kiamat kali.” Tony menggerutu setelah menjitak kepala sahabatnya.

“Kayaknya pala lu butuh dijitak mulu belakangan ini!”

“Udah sebulan masa gue belom kenalan juga sih…”

Tony cuma menganga, tak percaya Fadli masih saja bicara tentang gadis idamannya itu. Ia jitak lagi kepala Fadli tiga kali, baru merasa puas, kemudian beranjak ke luar untuk merokok.

“Susah ngomong sama orang yang lagi jatuh cinta.” gerutunya lagi.

Fadli dan Tony adalah teman sedari kecil. Mereka bertetangga dan akhirnya memutuskan untuk masuk ke universitas yang sama. Fadli cukup tenar di kalangan perempuan, tidak seperti Tony. Tuhan memang terkadang tidak adil, bagaimana tidak? Fadli ganteng, kaya raya, sementara Tony berasal dari keluarga sederhana dan tampangnya pun pas-pasan. Tapi baru kali ini dia mendengar sahabatnya berujar cinta, melihat sahabatnya tersenyum-senyum sendiri, menatap langit maupun langit-langit dengan dalih jatuh cinta.

“Orang gila!” Umpatnya sambil menginjak batang rokoknya yang sudah habis.


Jakarta – Sentul, Oktober 1983

Hari yang dinanti-nanti pun akhirnya tiba. Hari itu, kegiatan Trekking for Public akan dilangsungkan. Fadli masih tak percaya, pikirannya mengingat-ingat kejadian sebulan yang lalu di hari OHU, ternyata Fadli sangatlah sibuk, bahkan tak sempat untuk standby di stand UPA. Saat rapat evaluasi, Tony menyerahkan daftar peserta, “Nih, congrats,” katanya mencibir. Fadli menyapu daftar nama-nama di list itu dan berhenti saat matanya menangkap nama Gamelia. Iya, doanya dijawab Tuhan, nama Gamelia terdaftar dalam peserta Trekking for Public. Fadli tersenyum-senyum kegirangan, sontak tak sengaja mencium kening sahabatnya itu, tentunya dapat imbalan berupa jitakan-jitakan di kepala yang anehnya tidak terasa sama sekali, mungkin ia mati rasa, hatinya berbunga-bunga, hanya karena satu nama di daftar peserta yang ada di tangannya.

Bis wisata sudah bersiap di halaman depan universitas. Seluruh peserta berbaris dan panitia memberikan briefing sebelum mengizinkan peserta naik ke dalam bis. Fadli berusaha mencari Gamelia dalam kerumunan peserta dan rambut indah Gamelia tertangkap oleh pandangan matanya.

“Itu pasti Gamelia.” Fadli pun tersenyum dan bertekad untuk bisa berkenalan dengan Gamelia secara langsung hari itu juga.

“Ternyata Fadli itu ketua UPA…” pikir Gamelia, tak sadar bibirnya tersenyum. Pandangannya menyapu halaman depan, setelah menangkap sosok Fadli, ia kembali tersenyum dan naik ke bis.

“Van, kita udah jalan? Itu panitia ditinggal? Kok gak naik bis ini sih?” Gamelia bertanya ke Vanny, teman seangkatannya yang duduk di sebelahnya.

“Ada panitia yang in charge di bis ini, tuh di depan! Kenapa?” Vanny mengarahkan kepalanya ke arah depan bis.

“Nggak, itu Kak Fadli, Kak Tony, dan yang lainnya…” Gamelia menunjuk beberapa mahasiswa tingkat akhir yang masih di halaman depan universitas.

“Oh, mereka naik mobil sendiri.” Kali ini Vanny menunjuk Land Rover Ninety warna hijau army di parkiran.

“Oooooh,” Gamelia manggut-manggut, kemudian tersenyum melihat sosok Fadli masuk ke bangku pengemudi, memberi gitarnya ke Tony yang duduk di sampingnya.

Malam telah menunjukkan pukul 23:30. Gamelia lelah sekaligus senang sekali telah mengikuti acara Trekking for Public. Ia harus berterima kasih kepada Vanny, karena temannya itu yang memaksanya untuk daftar. Padahal Ujian Tengah Semester (UTS) akan dilangsungkan satu minggu lagi. Entah kenapa ia mengiyakan keinginan Vanny, pasrah melihat namanya dituliskan oleh Vanny di hari OHU sebulan silam. Gamelia melihat ke arah Vanny, sebelum sempat bicara apa-apa, temannya itu sudah tertidur pulas.

“Hhhh… padahal bis aja belum jalan.” Gamelia menggelengkan kepala, keheranan.

“Pindah kesini, yuk. Aku mau duduk di sebelah kamu.” tiba-tiba ada suara yang tak asing terdengar di telinganya. 

“Eh?” Gamelia menoleh. Fadli.

“Aku mau ngobrol, tapi kasihan Vanny kalau nanti kebangun. Pindah kesini aja, boleh gak?” ulang Fadli sambil menepuk-nepuk bangku kosong di sebelahnya.

Tanpa bicara, Gamelia pindah ke sebelah Fadli. Ia senang namun gugup, meremas-remas tangannya di balik kantung sweater miliknya.

“Kamu kedinginan?” Fadli bertanya.

“Nggak,” jawab Gamelia, “Ng… Kakak kok ga pulang ke Jakarta naik mobil?”

“Aku kasih kuncinya ke Tony, biar aja dia yang nyetir, aku capek.” Fadli berkata sambil mengulat.

“Lagian takut kamu kesepian, tuh kan udah ditinggal tidur sama temennya…” lanjutnya lagi, mengangkat kepalanya ke arah Vanny.

Gamelia tertawa. Selama perjalanan pulang mereka banyak berbincang. Masa-masa sekolah, sedari kecil hingga di bangku kuliah, keluarga, hobi, hingga mimpi-mimpi mereka. Satu hal yang mereka tangkap, Fadli dan Gamelia adalah dua orang dari kutub berbeda. Mungkin itu yang membuat mereka tertarik pada satu sama lain.

“Hari ini sangatlah menyenangkan, ditutup dengan akhir yang sempurna.”, Gamelia memandang langit yang gelap di luar, membatin di dalam hati.

“Aku benar-benar harus berterimakasih sama Vanny…” lanjutnya sembari tersenyum, melirik Fadli di sampingnya.

“Kenapa?” Fadli penasaran apa yang membuat senyum cantik itu hadir tanpa dia mengatakan apapun. Walaupun sepanjang jalan Gamelia selalu tersenyum, bahkan tertawa berkat ucapan-ucapan konyolnya, Fadli tetap ingin tahu apa alasan di balik senyum simpul itu. Sedari tadi diam-diam ia memperhatikan pandangan Gamelia yang kosong menatap langit malam.

“Nggak apa-apa, makasih ya Kak, hari ini aku senang, senang sekali.”

Hati Fadli mencelos. Tidak hanya rambut dan suaranya yang telah membuatnya jatuh cinta, senyumnya pun turut mengobrak-abrik hatinya.


Jakarta, Oktober 1983

Setelah makan siang, Gamelia beranjak ke Tata Usaha (TU) untuk memenuhi administrasi UTS sekaligus mengambil take home test mata kuliah Ekonomi Pembangunan yang harus dikumpulkan minggu depan. Ia berjalan melewati halaman fakultas, dari kejauhan ia melihat sosok Fadli duduk di bangku taman bersama teman-temannya. Fadli memainkan gitarnya, jemarinya pandai menari di antara senar-senar itu, suaranya terdengar sayup-sayup merdu. Ini bukan kali pertamanya ia mendengar Fadli bernyanyi. Gamelia tersenyum mengingat kegiatan Trekking for Public yang ia ikuti minggu lalu. Di saat acara puncak mereka berkumpul mengitari api unggun, ia ingat betul raut wajah Fadli, bercahaya di balik merahnya api, di bawah bulan dan bintang yang bersinar di malam hari. Fadli memainkan gitarnya, bernyanyi-nyanyi.

“OY!!!” Teriak sosok itu dari kejauhan, Gamelia tersentak kaget, terbangun dari khayalnya di siang bolong.

“Sini!” ucap Fadli keras.

Gamelia hanya menjawab dengan senyuman dan gelengan kepala, berlari kecil menuju Tata Usaha. Jantungnya berdebar.

“Sejak kapan aku berdebar hanya karena melihatnya?” hatinya bertanya.

Setelah urusan di TU selesai, Gamelia keluar ruangan, mendapati Fadli bersandar di teras. Jantungnya kembali berdebar, lebih kencang, sampai-sampai ia takut Fadli bisa mendengar.

“Hey!” sapanya lagi, melepas aviator hitamnya. “Sore ini kamu ada rencana apa? Main yuk!”

Lagi-lagi Gamelia hanya menjawab dengan senyuman, tetapi kali ini dengan anggukan pelan.

Dari ujung halaman, Tony dan teman-teman Fadli masih duduk bersama, bersorak-sorai, kemudian menyanyikan lagu lawas yang tenar dibawakan oleh Koes Plus…

Tersenyum dianya padaku
Manis, manis, manis
Ku belai rambutnya yang hitam
Sayang, sayang, sayang
Alangkah senang hatiku
Bila ku dekat denganmu
Alangkah senang hatiku
Sayangku hanya untukmu
Kuingin tamasya bersama
Jauh, jauh, jauh
Melihat pemandangan alam
Indah, indah, indah

Fadli hanya menggelengkan kepala dan menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal itu, nervous gara-gara tingkah teman-temannya.

“Sampai ketemu, ya! Nanti sore aku jemput!” Fadli berkata ke Gamelia sambil berlari kembali ke bangku taman, siap menghajar teman-temannya satu per satu.

Sore itu kamar kosan Gamelia lebih mirip seperti kapal pecah ketimbang sebuah kamar. Alasannya, hampir seluruh isi dalam lemari pakaiannya berpindah tempat ke kasur bahkan ke lantai kamar. Ia merasa tidak bisa menemukan pakaian yang cocok untuk kencan pertamanya dengan Fadli. Tiap sebentar ia berganti pakaian, tetapi rasanya tidak ada yang pantas untuk ia kenakan. Sampai akhirnya, Gamelia berganti dengan blus putih dan celana jeans andalannya. Menyisir rambut dan membiarkannya jatuh terurai, lalu memoleskan sedikit lipstik merah di bibirnya.

“Kayaknya terlalu polos, pake choker atau scarf ya?”, Gamelia bergumam pelan. Pilihannya jatuh pada scarf bercorak merah dan biru, senada dengan warna lipstik dan jeans andalannya.

Sesekali Gamelia menengok ke arah jendela, bertanya-tanya apakah Fadli sudah datang. Ia menyesal tidak menanyakan pukul berapa Fadli akan datang siang tadi. Menyesal juga tidak memberi tahu alamat lengkap kosannya.

“Aduh… bego banget sih!” Katanya sambil memukul dahi.

“Nanti kalo dia nyasar gimana? Jangankan nyasar, mungkin dia mengurungkan niat dan gak jadi kesini, wong tau kosanku aja nggak!”

Tak lama, suara riuh sepeda motor terdengar dari pagar depan, Gamelia tersentak, sedikit berharap itu adalah Fadli. Gamelia mengintip dari jendela, melihat sosok Fadli turun dari motornya, jantungnya berhenti sesaat, pikirannya bingung tak percaya.

“Kok… dia tahu kosanku ya?”

Fadli mengenakan jaket kulit berwarna hitam, jeans baby blue yang sudah belel, dan boots berwarna coklat muda. Fadli melepas helmnya, rambutnya yang gondrong diikat, kemudian ia bersandar pada Yamaha RX King-nya, dengan badan menghadap ke arah pagar kosan Gamelia. Entah bagian apa dalam diri Fadli yang membuat Gamelia meleleh melihat sosok itu.

Terburu-buru, Gamelia mengambil tas selempang kecilnya yang berwarna merah, memakai sneakers favoritnya, dan mengecek penampilannya di cermin sekali lagi. Ia menghela napas panjang, kemudian membuka pintu.

“Hai,” sapanya pelan.

Fadli mengangkat kepalanya, tercengang. Di hadapannya ada seorang gadis cantik yang berjalan pelan ke arahnya. Hanya melihatnya saja sudah membuat hati Fadli berdesir.

“Ah, beruntungnya aku, bisa melihat pemandangan ini, bisa pergi dengan gadis secantik ini…” ucapnya dalam hati.

Ia mengutuk dirinya, ingin rasanya kembali dan berganti pakaian dengan baju yang lebih pantas, lalu membeli bunga mawar merah di pengkolan depan.

“Aduh… bego banget sih!” gerutunya, lagi-lagi di dalam hati. Namun sekarang ia hanya bisa gigit jari.

“Mampir dulu sebentar ya,” tanya Fadli kepada Gamelia. Gamelia hanya mengangguk pelan, tidak sadar kalau mereka sudah di motor, dan bahwa Fadli tidak bisa melihat wajahnya.

“Kamu tunggu disini aja, aku gak akan lama.”

Fadli memarkirkan motornya di perempatan seberang kontrakannya dan berlari-lari kecil menuju belokan yang telah dilewati mereka, kemudian hilang dari pandangan mata Gamelia.

Tak lama, Gamelia merasakan ada yg menepuk bahunya, ia menoleh dan mendapati satu buket mawar merah di hadapannya.

“Buat kamu…” kata Fadli.

“Eh?” Gamelia kehilangan kata-kata.

Because you deserve more than just a rose…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *