It’s always been him

Bandung, Februari 2011

Hana tidak ingat hari itu tanggal berapa. Bahkan ia tak ingat bagaimana ia bisa berada di ruangan itu, duduk di bangku itu. Hana melirik jam tangannya, pukul 10 malam. Di sebelahnya ada Felisha, semangat mencatat, duduknya resah, pertanda sahabatnya itu sedang excited. Di sisi lainnya ada Diandra, sibuk bermain dengan handphone-nya. Hana mengarahkan pandangannya ke depan, sudah terlalu lama ia menatap langit-langit, sampai-sampai tak mengerti apa yang terjadi di sekitarnya. Baru saat itu ia sadari, ia sedang berada di tengah-tengah Musyawarah Kerja (Muker) Badan Pengurus (BP) HMTL periode 2011/2012. Firzi ada di depan kelas, bersama satu tim BP-nya, yang beberapa bulan belakangan ia pilih berdasarkan kompetensi dan rekomendasi dari teman-teman maupun massa himpunan.

Tak lama setelah Departemen Keprofesian menyelesaikan presentasinya, kepanitiaan inti Kuliah Lapangan (Kulap) Dwisahasrastama dipanggil maju ke depan, diminta untuk memaparkan rencana program kerja yang bisa dibilang cukup besar itu. Biasanya, Kulap akan dilangsungkan di ujung kepengurusan BP, yaitu di awal tahun. Peserta yang merangkap sebagai panita Kulap adalah angkatan yang menjabat saat itu, yang tak lain adalah Dwisahasrastama.

Diandra menyenggol lengan Hana yang sedari tadi dipakai untuk memangku wajahnya termangu.

“Oy, maju lo!”

Hana berpikir keras, “Ah, iya. Mereka milih gue jadi koordinator acara.” Lalu melangkahkan kakinya ke depan, lemas.

Babak belur. Mungkin itu satu-satunya hal yang pantas untuk menggambarkan presentasi malam itu, terutama untuk panitia inti Kulap. Mereka diserang habis-habisan oleh massa himpunan, dan yang paling parah oleh Mahasiswa Tingkat Akhir (Swasta). Bagaimana tidak, ini kali pertama ada angkatan yang menyebut tujuan Kulap ke luar negeri. Tidak jauh memang, hanya ke Batam dan Singapura. Itu pun berkat dukungan dan dorongan dari beberapa dosen yang membicarakan hal ini ke angkatan mereka. Tapi tetap saja, keinginan mereka harus kukuh, itikad mereka harus kuat, rencana pun harus matang, karena itulah massa himpunan dan Swasta datang untuk memberikan kritik yang membangun bagi mereka. Sayangnya, kebanyakan dari mereka tidak siap. Hana tidak siap. It caught her off guard.

Di ujung meja, ada Baskara yang sedari tadi memperhatikannya. Baskara juga merupakan panitia inti Kulap, ia terpilih sebagai Korlap. Mungkin karena angkatannya merasa ia sukses memikul jabatan itu saat Wisuda April 2010 silam. Yang jelas ia bersyukur, bisa bekerja berdampingan bersama Hana, sekali lagi. Tetapi ia tahu, ada yang salah dengan Hana malam ini. Seusai Muker selesai, Baskara menghampiri Felisha.

“Fel, Hana kenapa?”

“Yah lo kayak gak tau aja.” Felisha menjawabnya, enteng.

“Hana bawa mobil?” Nada bicara Baskara terdengar semakin khawatir, “Saya rasa dia gak bisa nyetir malam ini. Saya yang nyetirin kalian aja ya, sampai Dago Asri.”

“Terus nanti lo pulang gimana? Motor lo?”

“Saya tinggal di kampus.”

“Ga usah lah, repot, Bas. Gue aja yang nyetir,” dengan sigap Felisha mengambil kunci mobil di kantung jaket Hana.

Seperti biasa, Hana hanya menerawang, pandangannya jauh. Sebenarnya, pemandangan itu bukanlah hal yang biasa bagi teman-temannya. Hanya dalam lima bulan belakangan, Hana seperti ada dan tiada. Ia ada, tapi pikirannya kemana-mana. Hal itu cukup membuat sahabatnya frustasi, seperti Felisha contohnya, yang melampiaskan rasa itu jadi rasa benci kepada Bara. Bagaimana tidak, setelah pacaran selama lebih dari tiga tahun, Hana dan Bara memutuskan hubungannya lima bulan lalu. Tidak ada yang tahu persisnya. Tidak ada yang berani mendesak Hana untuk bercerita. Mereka tahu, she likes to keep her emotions in her head. Dan setiap mendengar kata Bara, dengan cepat air mata akan menggenangi kedua bola matanya.

“Bara. It’s always been him,” pikiran Baskara mengikuti jejak langkah Hana yang berjalan menuju ke lapangan parkir Seni Rupa. Baskara berpikir harus berbuat apa. Berharap suatu saat nanti, Hana bisa melihat sosoknya, dan siap menerima cintanya.


Bandung, Maret 2011

“Han, bangun!” Suara Diandra terdengar keras di telinga Hana, membuatnya menarik selimutnya lagi.

Felisha terlihat duduk di ruang tengah, tentu saja sudah siap. Ia sedang membuka catatan pelajaran, mencoba mengulang dan mempersiapkan materi yang akan dikerjakan. Tadinya ia simpatik pada Hana, tapi ini sudah enam bulan, dan ia tidak akan membiarkan sahabatnya mati dengan menyalahkan cinta. Felisha menaiki tangga ke lantai dua, lalu berkata pada Diandra,

“Ndra, lo sarapan aja dulu. Biar ini anak gue yang urusin.”

Beruntungnya, Hana, Diandra, dan Felisha tinggal di satu kosan yang sama di Dago Asri. Dari mereka bertiga, Hana yang paling susah bangun tidur. Apalagi jika ada tragedi putus cinta, Hana memilih untuk tidak bangun dan bolos kuliah.

“Han, mau sampe kapan sih lo?” Nada Felisha terdengar gusar.

“Gue sakit, Fel, gak enak badan.” Suara Hana terdengar lemas.

“Apa yang sakit?”

“Disini. Dada gue sesek.” Hana meringis sambil mengusap dadanya, mukanya terlihat kesakitan.

Felisha tahu, sahabatnya hanya sakit hati, bukan sakit jantung. Karena itu, ia hanya membalasnya sambil tertawa.

“Udah deh, alesan aja lo! Buru bangun, kalo gak kita telat! Gue males naik ojek. Nanti rambut gue berantakan.” Felisha menyibak selimut Hana dan melemparnya ke lantai.

Felisha dan Diandra tahu, Baskara menyimpan rasa pada Hana. Terkadang, Hana tidak bisa tidur di malam hari. Namun kedua sahabatnya bukanlah night person, tidak ada yang bisa menemani Hana berlarut-larut dalam kegalauannya. Felisha yang memiliki kamar persis di sebelah Hana, diam-diam suka mendengar suara Hana berbicara pada seorang lelaki. Ia tahu persis itu bukan suara Bara. Dalam hatinya ia berharap, itu Baskara.

“Gue team Ibas.” Begitulah ikrar Felisha ke teman-temannya. Ibas merupakan nama panggilan Baskara.

“Gue siapa aja lah, tapi gue prefer Bara kalo Hana emang masih sayang sama dia.” Diandra angkat bicara.

Tentu saja saat itu Hana tidak tahu-menahu, bahwa para sahabatnya yang sayang padanya ini, membicarakan dirinya di belakang.

“Emang Ibas suka sama Hana?” tanya Aluna, yang hanya dibalas dengan cemoohan teman-temannya.

“Ibas sering tau ngobrol di Skype sama Hana.” Airina bicara pelan-pelan.

“Lo tau darimana deh?” Tanya Diandra.

“Ibas curhat sama gue kalo dia lagi deketin Hana. Nah suatu hari dia bilang ke gue, nyuruh gue install Skype di laptop, karena dia jarang liat hp kalo di kosan.”

“Kenapa?” Ketiganya bertanya dalam waktu bersamaan.

“Nah gue juga tanya Ibas, kenapa? Dia jawab, karena kalo di kosan, saya suka Skype sama Hana. Biar sekalian aja cerita sama kamu, jadi gak perlu di dua tempat.”

Felisha teringat suara sayup-sayup di malam hari, yang terkadang memang diiringi suara gitar. Ia tahu Baskara piawai dalam bermain gitar. Felisha tersenyum senang. Ia rasa, Baskara adalah orang yang cocok untuk Hana.

“Terus, terus?” Lagi-lagi, bersamaan.

“Dia bilang responnya baik.”

“Baik apanya sih, gue rasa Ibas ngigo deh. Hana kayak batu gitu belakangan ini.” Kata Diandra sinis, tak percaya.

“Ya mungkin aja kan? Siapa tau dia lebih alive kalo sama Ibas. Lo liat sendiri kalo mereka lagi ngobrol, kayak… kayak…”

Like there is a chemistry between them.” Felisha menyelesaikan kalimat Airina, “I see it as well,” tambahnya, tersenyum lebar.

“Han, halo? Denger gak?”

“Oit, Bas. Denger.”

“Video kamu gak ada.”

“Oh iya sebentar, gue pindah ke kasur dulu. Hai!”

Minimal tiga kali seminggu, Baskara dan Hana menghabiskan malam mereka melalui Skype. Dimana yang empat harinya, kalau tidak diisi dengan rapat Kulap, mereka akan makan malam bersama. Biasanya, saat akhir pekan, Baskara dan Hana bersama teman-teman Dwisahasrastama akan pergi karaoke semalaman atau menonton film di bioskop. Hari-hari Baskara diisi dengan kegiatan bersama gadis impiannya. Sayangnya, bagi Hana, semua hanyalah kegiatan yang memang harus ia lakukan, sebagai distraksi pikirannya dari Bara, dan juga, perasaannya.

Bagi Hana, memiliki Baskara di sisinya sangatlah comforting. Hana seperti menemukan belahan dirinya yang lain. Hana merasa banyak kemiripan dirinya dan Baskara. Hana tak pernah perlu menjelaskan apa yang ia pikirkan dengan lengkap dan apa yang ia rasakan dengan jelas, karena Baskara selalu tahu persis. Entah bagaimana, di mata Hana, Baskara adalah an open book, yang dapat ia baca dengan jelas. Dan menurut Hana, Baskara pun merasakan hal yang sama. They could even finish each other’s sentences. Terkadang, yang mereka lakukan hanyalah saling tatap, membiarkan mata mereka berbicara.

Hana pernah berkata, “Bas, I guess you are the boy version of me.”

Di beberapa malam, Hana tidak dapat tertidur. Dan Baskara selalu ada disana, bernyanyi dengan gitarnya, bercerita tentang kota tercintanya, Yogyakarta, sampai Hana tertidur pulas. Di malam lainnya, banyak sekali yang mereka bicarakan, mulai dari masa kecil, keluarga, buku favorit, penyanyi favorit, namun tidak tentang cinta. Baskara tidak mau membicarakan tentang Bara. Ia ingin Hana lupa akan nama itu, walaupun hampir pasti tidak mungkin. Pernah mereka membicarakan lagu favorit, Hana sangatlah suka band asal Amerika Serikat, Hellogoodbye, dan lagu kesukaannya adalah ‘Oh, It is love’. Saat Baskara memutarkan lagu itu di playlist laptopnya, raut wajah Hana berubah.

Oh, it is love from the first time I set my eyes upon yours,
Thinking, “Oh, is it love?”
Oh, dear, It’s been hardly a moment and you are already missed
There is still a bit of your skin that I’ve yet to have kissed
Oh say please do not go
But you know, oh, you know that I must
Oh say I love you so
But you know, oh, you know you can trust
We’ll be holding hands once again
All our broken plans I will mend
I will hold you tight so you know
It is love from the first time I pressed my lips against yours
Thinking, “Oh, is it love?”

Hana mencari-cari handphone miliknya. Kemudian saat ia berhasil menemukannya, di layar itu tidak ada apa-apa. Hatinya mencelos, ia pikir Bara meneleponnya. Frustasi, Hana membenamkan kepalanya ke bantal. Baskara yang melihat seluruh kejadian itu pun tersadar. Ternyata, lagu itu merupakan ringtone Bara di handphone Hana.

Rasa cemburu merayapi dirinya kembali, sama seperti beberapa bulan belakangan, sama seperti setahun yang lalu. “Bara. Lagi-lagi dia. It’s always been him.”


Bandung, April 2011

Baskara mengajak Hana makan malam, makan tengah malam, lebih tepatnya. Malam itu, rapat panitia inti Kulap berlangsung selama berjam-jam, dan mereka belum sempat makan berat. Baskara mengajak Hana ke Setiabudi. Mereka makan nasi goreng di warung kesukaan Hana, Nasi Goreng AEPS, yang ternyata adalah kependekan dari Asik Enak Pas Sedapnya. Karena porsinya yang besar, Hana meminta untuk berbagi bersama Baskara, yang tentu saja diiyakan olehnya.

“Kapan lagi makan sepiring berdua? Kayak orang pacaran…” Baskara berangan-angan.

Setelahnya, Baskara mengajak Hana menyantap Surabi Enhaii. Dan lagi-lagi, sepiring berdua. Baskara senang, tak sengaja ia menggapai tangan Hana, menyentuhnya lembut. Kaget, Hana menarik tangannya. Lalu ia menundukkan kepalanya, lesu.

“Han, maaf… Saya gak maksud.”

It’s always been him.” Sedih, Baskara mengulangi kata-kata itu dalam hatinya.

“Iya gapapa, Bas.” Senyum Hana terlihat dipaksakan, lalu ia meminta Baskara untuk mengantarnya pulang.

Berbeda dari awal sewaktu mereka berangkat ke Setiabudi yang diiringi oleh obrolan dan canda tawa, kali ini motor Baskara melaju cepat membelah jalan malam, diselimuti oleh kesunyian dan suara hati masing-masing yang teredam. Tak lama terdengar suara petir, lalu tiba-tiba hujan turun dengan deras. Baskara menepikan motornya di persimpangan Cihampelas.

“Tunggu reda dulu ya, Han. Terlalu deras, nanti kamu basah kuyup.”

“Iya.”

Suara guntur menggelegar, mengikuti kilat yang menyambar langit hitam Bandung malam itu, hujan semakin deras. Tempat mereka berteduh pun semakin lama semakin basah terkena tampias air hujan.

“Han, pindah yuk, kesana?” Baskara menunjuk warung yang sudah tutup, terletak 10 meter di depan mereka.

Hana mengangguk. Baskara meraih tangannya, menghitung sampai tiga, lalu mereka berlari menerobos derasnya hujan sambil tertawa. Sesampainya di tempat berteduh, Hana dan Baskara mulai dapat mengobrol dengan santai, ceria seperti biasa. Mungkin hujan yang membuat rasa tak nyaman yang tadinya dirasakan oleh mereka, luntur. Baju keduanya basah karena air hujan. Dan kali itu, Hana tidak melepaskan genggaman tangannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *