It Ends Tonight

Jakarta, September 2015

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Hari Senin adalah hari yang paling aku benci dari semua hari. Karena hari Senin itu artinya aku harus bangun pagi setelah dua hari sebelumnya bisa bermalas-malasan bangun siang tanpa dibangunkan oleh alarm. Artinya juga, aku harus berjibaku menerjang kemacetan Jakarta dari rumahku di Bintaro menuju kantorku di Sudirman Central Business District (SCBD). Itu juga berarti, saat tiba di kantor aku harus melalui weekly meeting dan mendapat kabar terbaru kalau dalam 3 hari kedepan para Board of Directors (BOD) akan berkunjung ke site–yang berarti aku harus mempersiapkan segala sesuatunya, serba terburu-buru juga.

Namun sebenarnya, aku memang sengaja menenggelamkan diriku dalam lautan pekerjaan. Tidak terasa, sudah lebih dari satu tahun sejak Kak Bintang memutuskan hubungan kami begitu saja di hari ulang tahunnya. Aku jadi berpikir bahwa semua laki-laki di dunia ini sama saja. Dalam kamusku hanya ada tiga jenis laki-laki, kalau tidak brengsek ya sangat brengsek atau gay. Dan aku rasa, aku bisa memasukkan Kak Bintang kedalam kategori yang kedua. Bagaimana tidak? Ternyata aku adalah orang ketiga dalam hubungannya dengan pacarnya. Syukurlah semua itu cepat berakhir. Sejak kejadian itu, aku dengan bangga mendeklarasikan that I’m single and very happy. Dan aku masih enggan untuk mengubah statusku menjadi budak cinta layaknya sahabatku yang lain.

Aku baru saja kembali ke cubicle setelah rapat usai saat aku mendapati telepon masuk di ponselku. Skype Call dari Reza. Aku spontan mengernyitkan dahiku, ada apakah gerangan Reza menelepon disaat jam kantor?

“Hai, Ja! Kenapa lo tumben nelepon pagi-pagi?” Aku mengangkat telepon darinya dengan nada sewot, masih terkena efek weekly meeting pagi itu.

“Oit! He he, kenapa sih, bawaannya curiga aja lo sama gue? Sibuk nggak lo?” Reza menjawabku dengan bersemangat.

“Ini Senin pagi. Ya menurut lo aja deeeh sibuk apa nggak di kantor jam segini? Lagian, emang lo nggak kerja?” Aku menerka bahwa saat itu seharusnya sudah jam 11 pagi di Jepang dan semestinya Reza juga sedang bekerja.

“Duh, sok sibuk banget ah, calon manajer HSE. Ha ha ha.” Bukannya menjawabku, Reza malah menggodaku.

“Ha ha, amin aja deh gue, kacung kampret cem gue gini didoain jadi manajer. So, what’s up?” Aku bertanya lagi kepada Reza. Entah kenapa, aku selalu curiga dengan sahabatku yang satu itu. Karena setiap dia meneleponku, pasti selalu saja ada maksud dibaliknya.

“Gue cuti dua minggu. Sebentar lagi terbang nih gue ke Jakarta. Sekalian mau dateng ke nikahan si Hana weekend nanti. Lo dateng kan?”

“Gila, niat juga lo sampe cuti gitu buat dateng ke nikahan Hana? Iya gue dateng lah. Mau dikutuk jadi batu gue? Jadi bridesmaid durhaka nggak dateng?”

“Oh iya juga ya, ha ha ha. Kan lo bridesmaid nya Hana ya, pasti dateng. Nggak, gue sebenernya juga ada libur panjang, jadi sekalian aja ambil cuti buat pulang ke Indonesia. Eh, ketemuan lah nanti. Mumpung gue balik, mumpung Bagas belom sibuk ngurus nikahan, kan tinggal berapa minggu lagi dia lamaran. Oh iya, lo kapan sih mau cabut kuliah? Tahun depan ya? Udah ada kabar?”

Wajar saja kalau Reza menyempatkan diri untuk datang ke nikahan Hana, mereka menjadi dekat saat keduanya kuliah master di Jepang. Namun, aku mengalami kesulitan mencerna kalimat terakhir yang Reza ucapkan dan senyumku yang tadinya merekah pun langsung sirna seketika. Aku pikir aku salah mendengar kata-kata Reza. Bagas? Mengurus nikahan? Sebentar lagi lamaran? Aku membisu.

“Halo? Oit? Are you still there?” Reza mulai berkicau di balik telepon karena aku larut dalam pikiranku dan tidak meresponnya.

“Eh, iya sorry. Belom ada kabar nih tentang kuliah. Doain aja lah. Oh iya, emang kapan Bagas lamarannya? Lo atur aja deh kalo mau ketemuan, nanti gue tinggal dateng.” Aku berusaha menjawab Reza sekasual mungkin.

“Oh, gitu. Siap lah, pasti gue doain. Minggu pertama Oktober. Emang Bagas nggak cerita sama lo?”

“Mungkin pernah cerita deh, tapi gue lupa kayaknya, he he” aku berbohong.

“Oke lah, Jumat malem ya kongkow! By the way, gue udah mau boarding nih. Bye!”

“Okay! See you soon!”

Sudah satu tahun, bahkan mungkin lebih, sejak terakhir kali aku dan Bagas berkomunikasi. Aku juga tidak tahu pasti, I’ve lost the track of time. The only thing that I remember is we are constantly avoiding each other setiap kali teman-teman mengajak kami kumpul. Pilihannya, jika aku ikut, dia tidak akan hadir, begitu pun sebaliknya. Begitu terus siklusnya, sampai akhirnya tidak ada komunikasi sama sekali antara aku dan dia. Ucapan ulang tahun yang saling kami kirimkan untuk satu sama lain lewat group chat tentu saja tidak masuk dalam kategori komunikasi. It seems like we have outgrown each other.

Lalu tiba-tiba aku mendapat kabar kalau Bagas sebentar lagi akan lamaran. Dengan siapa? Apakah dia masih berpacaran dengan Dewi? Dewi adalah sosok perempuan yang menurutku tidak ada kurangnya dan aku rela kalau akhirnya Bagas melabuhkan cintanya untuk Dewi. Tetapi kenapa Bagas tidak memberitahu aku tentang kabar besar semacam ini? Tidak sedikit pun. Apakah dia sudah tidak menganggap aku sebagai sahabatnya lagi? Tiba-tiba aku merasa telah menjadi orang asing baginya.

Aku menahan tangisku dan menyadari bahwa aku sudah kehilangan Bagas, mungkin untuk selamanya. Mood-ku pun langsung hancur seketika. Aku menyumbat kedua telingaku dengan earphone, memaksimalkan volume iPod, dan memutar lagu Taylor Swift, The Story of Us sambil menatap kosong langit Jakarta yang terlihat mendung pagi itu dari jendela di lantai 22 Tower 1 BEJ.

I used to think one day we’d tell the story of us,
How we met and the sparks flew instantly,
and people would say, “They’re the lucky ones.”
I used to know my place was the spot next to you,
Now I’m searching the room for an empty seat,
‘Cause lately I don’t even know what page you’re on.

Oh, a simple complication,
Miscommunications lead to fall-out.
So many things that I wish you knew,
So many walls up I can’t break through.

Now I’m standing alone in a crowded room and we’re not speaking,
And I’m dying to know is it killing you like it’s killing me, yeah?
I don’t know what to say, since the twist of fate when it all broke down,
And the story of us looks a lot like a tragedy now.

Next chapter.

How’d we end up this way?
See me nervously pulling at my clothes and trying to look busy,
And you’re doing your best to avoid me.
I’m starting to think one day I’ll tell the story of us,
How I was losing my mind when I saw you here,
But you held your pride like you should’ve held me.

Oh, I’m scared to see the ending,
Why are we pretending this is nothing?
I’d tell you I miss you but I don’t know how,
I’ve never heard silence quite this loud.

This is looking like a contest,
Of who can act like they care less,
But I liked it better when you were on my side.
The battle’s in your hands now,
But I would lay my armor down
If you said you’d rather love than fight.
So many things that you wish I knew,
But the story of us might be ending soon.

I fucking hate Monday!

Jumat sore. Aku berusaha mengatur napasku yang terengah-engah karena setengah berlari dari pintu gerbang, pandanganku menyapu suasana di sekelilingku. Stasiun Gambir penuh sesak dengan para pelancong, para porter sibuk mengangkut koper dan tas-tas bepergian dari calon penumpang yang menyewa jasanya. Antrian panjang pun terlihat di beberapa loket. Memicingkan mata, aku melihat kelima sahabatku semenjak SMA berdiri di gerbang masuk, muka mereka terlihat lelah dan kusut–mungkin sama sepertiku, baru saja mengarungi kemacetan ibukota di Jumat sore. Reza melambaikan tangannya yang terlihat memegang tiket kereta, hanya dia yang terlihat sumringah–tentu saja, Reza sedag dalam liburan mode selama waktunya di Jakarta dua minggu itu. Di sebelahnya ada Nugi, Ayu, Randy, dan… Bagas. Entah ini hanya sekedar khayalku atau bukan, tapi melihatnya, aku merasa jantungku berhenti berdetak sebentar.

Kereta akhirnya bergerak meninggalkan stasiun. Aku membuka bungkusan makanan yang aku beli, sesaat sebelum naik ke kereta di salah satu fast food chains jagonya ayam. Sejak siang aku belum makan karena meeting seharian, dan sesudahnya langsung terburu-buru naik ojek online dari kantor menuju stasiun agar tidak tertinggal kereta. Bisa terbayangkan, macetnya jalanan Jakarta di Jumat sore selepas jam kantor.

Aku memandang keluar jendela kereta sambil melahap Twisty dan french fries di hadapanku. Tanpa kusadari, aku terlarut dalam lamunanku. Dan perkataan Reza kepada Bagas terngiang di telingaku.

“Jadi percuma nih gue sampe cuti segala buat liburan bareng tapi ternyata lo nggak jadi lamaran, Gas? Gimana ini?”

Reza dan Bagas yang berjalan lebih dulu menaiki anak tangga ke peron tidak sadar kalau jarak kami cukup dekat, dan aku bisa mencuri dengar pembicaraan mereka.

Bagas hanya tertawa dan menjawab, “Hahaha, iya nih… Sorry deh kalo gitu.”

Jantungku mendadak berdetak lebih cepat saat mendengar jawaban dari Bagas, “Apakah yang aku dengar itu benar? Bagas tidak jadi lamaran dengan Dewi? Apakah mereka sudah putus, for good?” Ya Tuhan, harapanku melambung tinggi lagi.

Aku berusaha untuk tidak menghiraukannya. There I was, berada di kereta menuju Malang untuk liburan dengan sahabat-sahabat SMA ku. Dan yang aku tidak percaya adalah orang yang duduk di sampingku. Orang yang sudah satu tahun lebih terasa seperti orang asing bagiku. Sepertinya perjalanan itu menjadi 15 jam yang sangat lama untukku.

“Oy! Bengong aja lo! Ntar kesambet loh…” Bagas menyiku lengan kananku dan mengembalikan aku ke realita.

Aku menoleh ke arahnya dan mendapati ia tersenyum lebar kepadaku. “Rese deh lo, ngagetin aja.”

Ia menyengir, “Makanya jangan ngelamun. Mikirin apa sih lo lagian?”

Andai saja dia tahu apa yang sesaat tadi aku pikirkan. Ibarat ini adalah lagu Taylor Swift, mungkin lagu yang cocok adalah Sparks Fly, close enough to hope you couldn’t see what I was thinking of…

“Mau tau aja!” Aku menjawab Bagas, acuh tak acuh.

Kemudian aku mengeluarkan iPod dan memasang earphone di kedua telingaku. Itu cara satu-satunya yang paling ampuh untuk menghindari kecanggungan di antara kami, pikirku. Namun ternyata, he just can’t leave me alone.

“Na, sebelah-sebelah dong dengerinnya. Gue lupa bawa earphone nih. Bosen.”

Aku menghela napas dan memberikan sebelah earphone-ku padanya. I hit the play button on Perfect, Simple Plan.

Just like the good old days…” Aku berucap dalam hati.

708617937593806060516

Airina jatuh tertidur hanya setelah 4 lagu. Dia masih gadis yang sama, yang hobi tidur. She is just like that. And that’s why I love her.

Gue mengambil iPod dari tangannya dan membuka music library nya. Ada satu playlist yang menarik perhatian gue, judulnya “HIM”. Gue scroll dan dari judulnya gue bisa yakin ini adalah playlist patah hati. Tapi pertanyaannya adalah tentang siapa? Yang pasti bukan Arya. Mungkin Bintang, gue dapat kabar dari Ayu kalau Airina sudah putus dengan Bintang. Karena penasaran, akhirnya gue play salah satu lagu di playlist-nya. Gue mendengarkan satu lagu yang berjudul About You Now dari Sugababes, entah siapa penyanyi ini, rasanya gue juga belum pernah dengar namanya. Dibalik kesamaan selera musik gue dan Airina yang beraliran punk rock, kadang gue juga kurang paham sama lagu-lagu random yang dia suka, kayak lagu ini contohnya. Man! Liriknya tapi rasanya kok pas dengan kondisi gue dan dia, ya? Ini gue aja yang kepedean alias GR, atau gimana? Ah, gue jadi teringat dengan kata-kata yang pernah gue baca, a girl’s favorite song will tell you more about her feelings than her lips ever will. Mungkin dengan playlist ini gue bisa menyelami isi hatinya.

Gadis kecil di sebelah gue itu masih tertidur dengan pulas. Saking pulasnya, sampai dia nggak sadar kalau sekarang kepalanya bersandar di pundak kiri gue. Ayu juga sudah tertidur pulas di pelukan Randy, di bangku sebelah kanan gue. Dan dari gelagatnya, sepertinya Reza dan Nugi di bangku depan juga sudah tidur.

Menjelang tengah malam, Airina akhirnya terbangun. Dia mengangkat kepalanya perlahan dari pundak gue.

Morning!” Gue menyapanya dengan wajah iseng.

Airina yang masih setengah sadar langsung kaget, “Hah? Udah pagi, Gas? Kita udah sampe? Selama itu ya gue ketidurannya? Duh, sori ya? Gue nggak ngiler kan tadi tidurnya? Jaket lo nggak kena?” Dia mengelap bibirnya dengan punggung telapak tangan.

“Hahaha, tenang woy, tenang. Baru jam 12 kurang 10 kok, Na. Tapi iya nih, pundak gue basah sebelah rasanya,” gue menyodorkan pundak kiri gue kepadanya.

Airina meraba pundak gue dengan wajah merasa bersalah. Kemudian tiba-tiba wajahnya berubah seperti sedang kesal, mungkin dia sadar kalau pundak gue kering dan tadi gue hanya menjahili dia.

“Ih, bete ah, lo bohongin gue mulu…” Dia memukul gue dengan pelan.

Gue meraih tangannya. “Sini dong, nyender lagi. Jangan ngambek gitu ah.”

Setelah berpikir untuk sekian detik, akhirnya dia menyandarkan dirinya ke gue lagi.

“Gue kangen juga deh, Na, sama ambekan-ambekan lo gini. Udah lama banget ya rasanya.”

“Bohong… Ya kalo kangen kenapa lo nggak ngehubungin gue?” Dia berkata seperti ngambek yang dibuat-buat.

“Ya biasanya kan ada aja yang lo curhatin atau minta temenin kemana lah…”

Yes, I know. Tapi kan biasanya juga lo suka nyariin, kalo gue udah lama nggak beredar di orbit lo.”

Gue cuma bisa garuk-garuk kepala, bingung mau jawab apa. Akhirnya gue mengalihkan pandangan ke lorong, sambil berkata pelan,

“Gue… takut, nggak bisa kontrol diri gue kalo ketemu lo.”

Reaksi yang Airina berikan tidak seperti yang gue bayangkan. Alih-alih salah tingkah, dengan galaknya dia malah mencubit lengan atas gue,

“Ngomong apa lo? Maksudnya nggak bisa kontrol?!”

Gue tertawa dan gadis mungil ini menjauhkan tubuhnya dari gue, memasang tampang sok was-was. “Ih, awas ya lo ngapa-ngapain gue. Mana yang lain udah pada nyenyak banget lagi tidurnya…”

“Bercanda kok, Airina.” Lalu gue mengacak-acak rambutnya yang dicepol, mukanya semakin jengkel, yang bikin gue semakin tertawa terbahak-bahak.

“Kenapa sih, lo rese banget?”

Dengan cepat tangan gue meraih tangannya yang sudah siap mengikatkan rambutnya lagi, “Digerai aja dong, lo lebih cantik kayak gini.”

Airina tidak menjawab, sekarang gantian dia yang mengalihkan pandangannya. Gue cuma berharap dia nggak akan melepas genggaman tangan ini.

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Hatiku berdebar tak karuan, cukup lama aku memalingkan wajah dan menatap ke jendela, sampai akhirnya mataku kembali beralih ke Bagas. Dan entah bagaimana, rasa canggung yang tadinya aku rasakan, perlahan merayap pergi. Semalaman kami terjaga, karena terlalu excited saling menceritakan hal-hal yang setahun belakangan terjadi dalam kehidupan kami. Bagas selalu bisa membuatku terhanyut dalam topik apapun yang ia bicarakan. After all this time, I’m still into him. Ah, he just knows how to push my buttons.


Malang, September 2015

Kereta tiba di Stasiun Malang pukul 09:20 pagi. Aku dan teman-teman bergegas ke guesthouse untuk bersih-bersih dan beristirahat sebentar sebelum memulai liburan kami. Destinasi hari ini adalah Museum Angkut dan Batu Secret Zoo. Kami berkeliling dengan mobil yang kami sewa. Setelah makan malam dan mencicipi pos ketan duren yang melegenda di Batu itu, kami kembali ke guesthouse. Kami perlu beristirahat karena tengah malam nanti akan lanjut ke Bromo, last stop liburan kali itu. Liburan yang sangat singkat.

Pukul 23:30 aku terbangun saat mendengar Randy mengetuk pintu kamar aku dan Ayu, menyuruh kami untuk bersiap-siap. Travel akan menjemput kami ke guesthouse tepat pukul 00:00 karena perjalanan menuju jeep pickup point memakan 2,5-3 jam berkendara.

Kami sudah berada di Jeep yang akan membawa kami ke spot pertama untuk melihat sunrise. Guide travel menurunkan kami di parkiran dan kami harus jalan kaki ke atas. Aku baru sadar kalau suhu di Bromo dingin sekali, apalagi saat dini hari seperti ini. Jalur penanjakan agak gelap karena minimnya penerangan dan satu dua kali aku terpeleset. Untunglah, ada Bagas yang dengan sigap menopang tubuhku dari belakang sehingga aku tidak terjatuh.

708617937593806060516

Sepanjang jalur penanjakan, Airina selalu terpeleset. Gue pun sengaja nggak mau jauh dari dia, to keep my eyes on her. Seperti yang berkali-kali gue bilang, anak ini memang nggak bisa dibiarkan sendiri dan setiap kita pergi bareng, gue lah yang secara tidak langsung bertugas sebagai bodyguard-nya Airina.

Pemberhentian selanjutnya adalah Bukit Teletubbies, iya, karena bukit-bukitnya berbentuk seperti bukit yang ada di acara Teletubbies. Airina masih meringis kesakitan di jok tengah antara gue dan Ayu.

“Duh, Na, kok bisa sampe terkilir gini sih? Emang lo ngapain tadi?” Ayu berkata sambil mengusap-usap kaki kanan Airina.

Si ceroboh Airina terpeleset sewaktu kami menanjak menuju kawah Bromo. Ya, salah dianya sendiri juga sih sebenarnya. Anak yang satu ini memang kepala batu, sudah diberi tahu tapi nggak pernah mau dengar. Dia lebih memilih jalan yang susah ketimbang menaiki anak tangga satu per satu dengan sabar. Habis terjatuh, siapa coba yang membantu dia buat berdiri dan jalan sampai balik ke Jeep lagi? Ya tentu saja gue, gue yang masih saja lemah dan nggak bisa cuek sama dia.

Belum sempat Airina menjawab, Nugi berkata, “Yaelah, Yu, kayak nggak tau Airina aja. Dia lagi berdiri diem aja bisa kepeleset, apalagi mendaki tinggi banget kayak tadi. Hahaha.”

“Lemah lo ah!” Kata Reza menambahkan.

Airina hanya cekikikan di samping gue, “Yaudah sih, kalian, gue udah jatoh gini masih aja di-bully ah.”

“Yaudah, yaudah. Biarin aja, kalo dia ngambek nanti kita juga yang pusing guys.” Randy menengahkan.

Reza, Nugi, Randy, dan Ayu langsung turun begitu Jeep berhenti. Airina kemudian berkata, “Eh, gue di mobil aja nggak apa-apa ya? Daripada gue memperlambat kalian nanti. Asli, sakit banget kaki gue.”

Gue masih pada posisi duduk gue karena disandari oleh Airina.

“Eh? Lo yakin nggak apa-apa, Na, sendirian?” Ayu bertanya, khawatir.

“Santai, nggak apa-apa kok.” Dia mengacungkan kedua jempolnya.

“Yaudah, gue nemenin Airina deh. Kasian kalo sendirian.” Gue akhirnya angkat bicara.

“Oke lah kalo gitu.” Reza langsung mengiyakan.

“Tenang aja kita nggak akan lama kok!” Kata Randy.

“Ah, lama juga nggak apa-apa. Udah sana-sana pada cabut lo semua.” Gue menjawab mereka, lebih tepatnya mengusir sih.

Saat mereka sudah melangkah menjauhi Jeep, Airina tersenyum kepada gue. “Heh, kenapa tuh, kalo lama juga nggak apa-apa? Awas ya lo kalo berani macem-macem sama gue yang sedang tak berdaya ini,” dia berkata dengan memasang senyum jahilnya.

Gue mengusap kepalanya seraya turun dari Jeep, “We’ll see what I can do to you…”

“Gas, thanks yah, you’re the best!”

Gue menoleh ke arahnya yang masih terduduk dan mengusap-usap pergelangan kaki kanannya yang sakit itu, kemudian gue tersenyum.

“Airina, Airina… Kenapa sih, lo ceroboh banget? Gimana bisa gue biarin lo sendirian?” Gue hanya bisa bergumam dalam hati sambil menatapnya lekat-lekat.

“Gue tapi bosen sih, Gas, disini. Bantuin dong, mau turun bentar.”

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Tanpa ku duga, Bagas kemudian menggendongku di punggungnya. Aku hanya bisa tertawa dengan kelakuannya yang selalu saja memanjakan aku, seperti ini salah satu contohnya. Dia mendudukkan aku di kap mobil. Sinar matahari pagi menyapaku saat aku menyandarkan tubuhku di kaca depan. Aku memejamkan mata sesaat dan menghirup udara segar. Sejuk sekali rasanya, berbeda dengan pagi di Jakarta yang sudah bising dan penuh sesak dengan kendaraan.

Bagas berdiri di sisi Jeep di sebelah kiriku. Dia menopangkan dagunya dengan kedua tangan yang ia letakkan di atas kap mobil. Aku dan Bagas sama-sama mengomentari keindahan alam yang terbentang di hadapan kami, dan betapa rindunya dia menghabiskan waktu di alam bebas seperti ini. Bagas bilang, dia sedang membuat satu lagu tentang itu. Aku tersenyum, teringat hobinya sedari SMA itu, bahkan dia lah yang membuatkan lagu untuk Fahri saat akan menyatakan perasaannya padaku waktu SMA dulu. Sambil menutupi wajah dan pandanganku yang silau terkena matahari, aku menikmati lantunan suara Bagas yang berdendang pelan di telingaku. Entah setelah berapa lama, suaranya terhenti.

Saat aku mengintip dengan sebelah mataku, wajah Bagas tinggal beberapa inci dari wajahku. Aku tercekat, jantungku berdebar cepat. Dengan lembut, bibirnya menyentuh bibirku. Waktu terasa berhenti sejenak dan di saat aku kembali terbawa arusnya waktu, kata yang pertama kudengar dari Bagas adalah permintaan maaf. Aku menatapnya bingung, untuk apa?

708617937593806060516

Shit. Gue kehilangan kontrol atas diri gue sendiri. Benar kan, hal yang gue takutkan akhirnya terjadi juga.

“Airina, sorry. Maafin gue.”

“Kenapa minta maaf, Gas?” Airina menatap gue dengan tampang kebingungan.

“Karena gue salah. Seharusnya gue nggak melakukan itu. Ini yang gue takutin kan, gue beneran nggak bisa kontrol diri gue di samping lo…”

“Gue sebenernya kemaren curi denger sih, lo ngomong sama Reza. Jadi lo tuh nggak jadi lamaran atau gimana sih, Gas?”

“Sorry, Na. Gue bukannya nggak jadi lamaran, tapi Dewi minta gue selesain semua unfinished business gue sama lo dulu. Dia bilang, dia mau tunggu dan terima apapun keputusan gue nantinya. Dan, bener. Gue nggak tau. Di satu sisi, gue sayang sama Dewi dan gue mau serius sama dia. Tapi di sisi lain, gue juga nggak bisa kalo nggak sama lo dan nanti lo sama yang lain, Na.”

“Gas, jadi lo nganggep ini semua tuh apa? Nggak fair dong, buat gue ataupun Dewi. Dewi baik banget sih, mau nunggu lo dan terima sama apapun pilihan lo. Tapi gue pun nggak akan sampe hati, Gas, kalau mesti jadi orang  ketiga di antara kalian. Gue nggak mau nyakitin hati dia. Dan gue juga nggak mau dijadiin pilihan sama lo ya. Please, just don’t fuck with my feelings just because you’re unsure of your own.

“Na, gue nggak bermaksud kaya gitu. Maaf, gue cuma…” Airina memotong kalimat gue.

“Gas, udah cukup. Gue nggak mau denger lagi. Lo tega giniin gue. Lo nggak ada bedanya sama cowo-cowo lain, Gas.”

Sesaat kemudian, air mata menetes di kedua pipinya dan dia melayangkan telapak tangan kanannya ke pipi kiri gue.

Plakkk!

Gue ditampar.

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Sudah hampir satu jam aku menatap layar handphone dan membaca email yang sama berulang kali. Aku mendapatkan offer untuk melanjutkan studi master di University of Melbourne. Setelah 3 bulan yang lalu aku merasa begitu depresi dengan situasi dan rutinitas di kantor yang begitu-begitu saja, akhirnya aku memberanikan diri untuk apply sekolah lagi.

Well, this offer is exactly what I need at the moment. I can hardly wait what the future will bring.” Aku berucap dalam hati.

Pandanganku menerawang menembus kaca jendela pesawat, dan sesekali aku merasakan guncangan saat pesawat melewati awan-awan tebal. Cuaca sedang tidak terlalu baik untuk penerbangan. Dan berbeda dengan perjalanan saat berangkat kemarin, perjalanan kembali ke Jakarta sore itu dilanda oleh kesunyian dalam yang menyelimuti aku dan Bagas. Untunglah, ada Reza yang bersedia duduk di middle seat di antara aku dan Bagas, dan dia menerima “lelahku” sebagai excuse atas keheningan itu. Aku sama sekali tidak menghiraukan Reza ataupun Bagas, not a single word was said and the silence was so deafening. Setelah kejadian pagi itu, seolah semesta pun berkonspirasi untuk menjauhkan aku dari Bagas agar lebih mudah melupakan the pain he left me in. Mungkin selama ini aku sudah terbiasa menangis karena disakiti oleh laki-laki, but it has never ever occurred to me that he would be one of them.

Percikan kilat terlihat saling menyambar di kejauhan. Mungkin jika pesawat tidak dilengkapi dengan sistem kedap suara, aku sudah bisa mendengar gelegar suara guntur. And seconds later, the rain started to pour…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *