Hey, Angel

Bandung, April 2011

There exists a melody
That just might change your mind
Oh, if only I knew the key
To sing to make you mine
And then I saw it on your keyboard
And you saw it on my sleeve
I never knew a heart existed
Outside of make believe
Then I saw it on your keyboard
I knew at least that I might have a chance
To catch a shooting star

Hana ikut berdendang mendengarkan lagu yang dibawakan di panggung. Diandra merasa familiar dengan lagu itu, yang memang dinyanyikan oleh band kesukaan Hana semenjak SMA. Namun Felisha terlihat mengernyitkan dahi.

“Lagu apa sih, Han?” Tanya Felisha akhirnya.

“Hellogoodbye,” jawab Hana di sela-sela nyanyiannya.

Malam itu sedang dilangsungkan acara Wisnite April. Di tengah-tengah panggung ada Baskara yang memegang peran sebagai vokalis, sambil memainkan gitarnya. Band yang tampil saat itu merupakan band lintas angkatan. Dari angkatan mereka selain Baskara ada Ucup yang memainkan gitar. Fadil mengambil posisi sebagai drummer dan Ipang sebagai bassist, keduanya adalah angkatan 2009. Ivan yang bermain keyboard, merupakan wisudawan dari angkatan 2006.

There exists a star above
That always steals my stare
And there exists a star on stage
That never seems to care
And then I saw it on your keyboard
And you saw it in my eyes
I didn't mean to scare you
You just seem really nice
And when I saw it on your keyboard
I knew at least I might have a chance
To catch a shooting star
There exists a melody
That just might change your mind
Oh, if only I knew the key
To sing to make you mine

Diandra tersenyum menyimak lagu yang dibawakan oleh Baskara dengan sungguh-sungguh. Ia menerka-nerka, alih-alih untuk wisudawan, sepertinya lagu itu ditujukan untuk Hana seorang. As she can see that his eyes is fixated on her, all night long. Dalam hatinya ia yakin betul, pasti Hana tidaklah tahu-menahu bahwa lagu itu sengaja dipersembahkan oleh Baskara untuk dirinya.

“Suara Ibas bagus juga ya.”

“Banget.”

Jawaban Hana membuat Diandra tersenyum, ia mulai memancing.

“Kayaknya Ibas nyanyi pake perasaan banget tuh… Anaknya baik lagi, Han. Lo suka?”

“Suka lah, lo tau sendiri gue suka nyanyi, kan enak kalo ada yang nemenin juga, apalagi kalo pake gitar. Sedikit-banyak selera musik kita mirip soalnya.”

Maksud hati ingin menanyakan apakah sahabatnya ini suka pada Baskara, tidak hanya musikalitasnya, tetapi Hana malah salah paham.

“Han, dengerin lagu Raisa yang Terjebak Nostalgia deh, cocok buat lo.” Katanya sembari tertawa kecil, menyebutkan lagu dari penyanyi baru yang belakangan ini menjadi favorit mereka berdua.

“Gue nggak gitu suka yang itu, terlalu sedih ah, Ndra.”

“Buat lo dan Ibas, Han, maksud gue.”

“Kok Ibas? Bukannya Bara?”

Diandra gemas, mengurungkan niat untuk memperpanjang omongannya, sahabatnya yang satu ini memang benar-benar oblivious.

Di penghujung acara, Baskara dan Hana terlihat bersama, menduduki kursi di meja bundar wisudawan yang telah pulang. Keduanya berhadapan.

“Bas, lo ganteng deh pake blazer itu. Tumben.” Kata Hana, tertawa.

Tawanya membuat Baskara salah tingkah, bingung mau menjawab apa. Apalagi baginya, gadis di hadapannya tampil luar biasa cantik malam itu.

She is the star that always steals my stare…” Pikirannya menerawang, memandangi Hana seraya tersenyum.


Bandung, Mei 2011

Baskara mengajak Hana ke Kantin Barak yang sudah tutup pada sore hari. Tidak ada siapa-siapa disana selain mereka berdua. Baskara duduk di samping Hana. Kemudian ia memberikan handphone dan earphone-nya. Kali itu, ia memberikan lagu buatannya sendiri kepada Hana. Hatinya semrawut. Pikirannya kacau balau. Jantungnya berdegup kencang. Rasanya 2 menit yang sama dengan durasi lagunya itu terasa seperti 2 tahun lamanya. Baskara memosisikan diri menghadap Hana yang masih menunduk. Setelah Hana mengangkat wajahnya, dengan lembut Baskara memegang lengan atas Hana dengan kedua tangannya.

“Semua orang tau, yang bodoh sekalipun, apa perasaanku ke kamu, Hana…”

Baskara menatapnya dalam-dalam, panas, menusuk jantung hati Hana yang dingin. Mungkin lagu yang baru saja diperdengarkan oleh Baskara telah menjalankan tugasnya, memberikan ruang bagi kehangatan untuk merayapi belenggu hati Hana yang selama ini menutup diri pada arti kata cinta. Di hatinya hanya ada Bara, cintanya sedari SMA. Namun kisah mereka berakhir 8 bulan silam. Dan Hana tidak akan membiarkannya kandas, lepas termakan oleh waktu. Ia yakin jodoh tak kemana, seyakin ia berjodoh dengan Bara.

Namun lagu dari Baskara meruntuhkan semuanya. Pertama kalinya, Hana membalas tatapannya, mengamati binar mata itu dengan sungguh-sungguh. Hana melihat ada ketulusan, dan itu membuat dirinya sedih. Sejak kapan? Sejak kapan Baskara menyimpan rasa padanya?

“Bas… Maaf.” Hanya itu kata yang mampu Hana ucapkan. Ia menangis, merasa bodoh akan sikapnya terhadap Baskara selama ini.

“Saya tunggu. Saya tunggu sampai kamu bisa lepas dari dia. Dan saya akan selalu ada disini.”

Lagu dari Baskara menduduki posisi pertama di iTunes-nya, 65 plays dalam hitungan jam, mengalahkan lagu-lagu dari band favoritnya, Hellogoodbye. Hana memutarnya  berulang-ulang sampai ia tertidur pulas.

Pagi ini, ada kah kau mengeja namaku?
Seperti aku mengujar namamu, dalam tiap hembus nafasku
Akan kah ku sibak teka-teki hatimu?
Seperti kau bisa membaca hatiku, layaknya sebuah buku
Aku tahu ini cinta
Karena bagiku, sinarmu mengimbangi mentari
Aku tahu ini cinta
Di mataku, parasmu bagai semburat lembayung senja, menari-nari
Aku tahu ini cinta
Di saat aku terjatuh dalam jujurmu, di setiap kata-kata
Walau ku sadari, kini diriku belum bermakna
Dan satu pagi nanti, akan kah kau mengeja namaku?

Pukul 02:18 dini hari, suara Baskara masih mengisi keheningan malam, mengantarkannya ke mimpi indah. Mungkin pada akhirnya tembok pertahanannya runtuh, ia jatuh cinta.


Bogor, Mei 2011

Hari itu mahasiswa tingkat tiga program studi Teknik Lingkungan mengadakan kunjungan lapangan ke PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI) sebagai bagian dari mata kuliah Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Para mahasiswa baru saja mendapatkan briefing dari pihak PPLI. Setelahnya, mereka akan kembali masuk ke dalam bis. Kunjungan lapangan ke tempat penyimpanan dan pengolahan limbah tidak boleh dilakukan dengan berjalan kaki, apalagi melihat atau menyentuh langsung. Karena PPLI merupakan tempat dengan paparan B3 yang tinggi, peraturan harus dilaksanakan dengan ketat.

Memberanikan diri, Baskara mengayunkan langkahnya menuju Hana yang sedang berdiri bergerombol dengan para sahabatnya.

“Saya nggak bisa tidur semalam,” bisiknya di telinga Hana.

Hana menoleh, mendapati dirinya tersenyum melihat sosok Baskara.

“Pantes aja muka lo acak-acakan,” katanya setengah tertawa, kemudian melanjutkan, “Tidur gue nyenyak semalem, thanks to you and your song.”

Sambil berbincang-bincang, Hana dan Baskara kemudian bersama-sama menaiki bis. Airina yang terkadang ikut berbincang dengan mereka, tak sengaja duduk di antara Hana dan Baskara.

“Hadeuh… Kenapa gue harus telat masuk bis?” Gerutunya kesal, merasa sial karena terpaksa duduk di tengah-tengah mereka.

Ia mulai merasa risih karena tidak paham dengan apa yang mereka perbincangkan, roaming.

Airina pun mengeluh, “Lo mau pindah ke tengah aja nggak?” Sambil melirik sahabatnya yang duduk di dekat jendela.

“Kenapa? Bukannya dari tadi juga lo ikut ngobrol?” Tanya Hana tak berdosa.

“Nggak deh, gue nggak mau ganggu.” Jawab Airina, semakin jengkel dengan Hana, memang terkadang sahabatnya ini oblivious, sampai-sampai ia gemas dibuatnya.

Lalu Hana dan Airina pun bertukar posisi. Hana sekarang berada di antara Baskara dan Airina. Ia tersenyum geli menyaksikan tingkah sahabatnya, kemudian berkata saat melihat Airina siap-siap untuk tidur karena ia sudah menutup mukanya dengan bantal.

“Kok ngambek sih? Hahaha kenapa deh? Jangan tidur wey, ini masih kunjungan!” Hana mencolek pundak Airina.

Airina tidak membalas, tapi ia pun tak tertidur. Pandangannya tertuju pada sisi kanan bis, melihat tempat penyimpanan limbah B3 di ujung matanya. Namun telinganya siaga, sudah siap untuk diam-diam mendengarkan pembicaraan Hana dan Baskara.

By the way, suara lo bagus deh, nggak mau jadi penyanyi aja?” Hana bertanya.

“Oh ya? Makasih. Mungkin karena saya nyanyinya dari hati…” Goda Baskara, meringis.

“Bisa aja lo!” Jawabnya diikuti oleh tawa.

“Jadi kamu suka? Laguku?” Baskara bertanya pelan-pelan.

“Suka, suka banget. Semalam gue dengerin sampe ketiduran hehe, makasih ya!”

“Sebenernya, saya ada satu lagu lagi yang mau dikasih ke kamu.”

Airina pun tersentak kaget. “Wah, Ibas bikinin Hana lagu? Niat juga dia. Mungkin ini udah waktunya Hana move on dari Bara…” Pikirnya dalam hati. Seulas senyum pun menghiasi bibirnya.


Puncak, Mei 2011

Supir bis memperlambat laju kendaraan dan menepi di sebuah restoran susu olahan yang terkenal di daerah Puncak. Baskara beranjak dari kursinya dan memberikan jalan agar Hana bisa keluar terlebih dahulu.

“Silakan, tuan putri,” katanya kepada Hana, layaknya pelayan yang mempersilakan tamu agung masuk.

Hana tersenyum riang dan melangkahkan kakinya keluar bis. Airina melempar pandang mencemooh ke arah Baskara, sambil bergumam dalam hatinya, “Dasar, madly in love banget sih ni anak berdua.”

Kemudian ia bermaksud beranjak dari duduknya dan keluar bis, tetapi Baskara menghalanginya,

“Eits, ntar dulu! Saya cuma mau kasih lewat Hana aja, sori ya.”

Airina memukul pundak Baskara, “Dasar!” Lalu keduanya tertawa.

Saat memasuki restoran, Hana memisahkan diri dari Baskara dan berbaur dengan Airina, Diandra, Raina, dan Felisha. Mereka duduk di meja dengan pemandangan gunung di depannya. Sebenarnya, keempat sahabatnya gemas ingin berbicara perihal Baskara. Namun mereka tahu persis, Hana bukanlah orang yang nyaman untuk bicara dari hati ke hati. Jika mereka mengutarakan pendapat mereka, apalagi menyarankan Hana untuk mempertimbangkan Baskara sebagai pengganti Bara, Hana pasti malah menjauhkan diri dari Baskara. Dan mereka tidak mau itu terjadi. Seperti Felisha, Airina dan Raina juga mengikrarkan diri sebagai ‘team Ibas’. Lain halnya dengan Diandra, sebagai orang yang terdekat dengan Hana, ia tahu betul, tidak mudah bagi sahabatnya itu untuk menggantikan posisi Bara di singgasana hatinya.

Sekembalinya ke bis, posisi duduk mereka tidak berubah. Airina duduk di pinggir, dekat jendela. Hana ada di sebelahnya dan Baskara ada di sisi kiri Hana. Felisha, Raina, dan Diandra duduk persis di belakang mereka bertiga. Tak lama setelah bis melaju, Diandra tertidur, meninggalkan dua temannya yang berbisik-bisik, tentu saja membicarakan Hana dan Baskara.

“Fel, ya ampun Hana ngobrol sama Ibas gitu banget…”

“Sshhh, udah biarin aja. Itu Hana lagi mengeluarkan aura kewanitaannya.”

Suara Hana dan Baskara memang cukup jelas terdengar oleh mereka berdua.

“Bas, gue nggak bisa bales lagu lo dengan lagu buatan sendiri. Lo tau sendiri kan gue sama sekali nggak bisa main alat musik.”

“Tapi suaramu bagus, Han.”

“Hahaha, ah elo bisa aja! By the way, nih, dengerin deh.” Hana memasangkan earphone di telinga mereka, satu di telinga kanan Baskara dan satu lagi di telinga kiri Hana.

I don’t know why, but your song reminds me of this one. And I just want you to hear it,” lanjutnya.

Segala bujuk rayumu buat sejuta ragu
Jantungku pun memacu, wow wow wow wow wow
Disini ku berdiri, mencoba mengerti arti hadirmu
Mengerti sinar di wajahmu, mengerti tenangnya jiwaku
Akhirnya ku mengerti, diriku memang untuk kau miliki
Bagai mentari pagi menyapa diri lewat hangatnya tatapmu
Kini mimpi di indahku tlah terwujud, jagalah binar cintaku

Begitulah penggalan lagu yang diperdengarkan oleh Hana untuk Baskara, Arti Hadirmu, yang dinyanyikan oleh Audy dan cukup terkenal di masa SMA dulu. Bukan, bukan lagi Terjebak Nostalgia, Hana tersenyum di hatinya. Entah berapa kali ia dengarkan lagu dari Raisa, penyanyi yang sedang naik daun, semenjak Diandra mengutarakan bahwa lagu itu cocok untuk dirinya dan Baskara, sampai akhirnya baru semalam ia paham. Ia paham bahwa keberadaan Baskara dan cintanya selama ini tidak dapat dirasakan olehnya, karena masih ada bayang-bayang Bara di hatinya, tak pernah berubah. Namun di hari itu, Hana sudah bertekad untuk memulai lembaran baru, dan memberikan kesempatan pada Baskara.

“Han, apa maksudnya? Kamu… Ini… Serius?” Katanya terbata-bata.

Jantung Baskara berdebar kencang. Dirinya tidak siap mendapati jawaban atas segala pertanyaannya selama ini.

“Gue baru sadar, Bas, gue bodoh banget selama ini. I take you for granted.”

“Artinya apa?”

“Lo kenapa sih gue lagi serius gini lo malah bikin ilfeel! Cari sendiri! Males ah jelasinnya hahaha.”

Baskara buru-buru mengetik kata-kata itu di layar handphone-nya, lalu menekan kata ‘search’ di halaman Google for mobile sebelum matanya kembali beralih ke Hana.

“Memangnya saya masuk kriteria kamu, Han?”

“He eh,” jawab Hana.

Smart?

Yes.”

Fun?

Yes.”

Gentle?

Absolutely.

Baskara menghitung ketiganya dengan jemarinya dan Hana mengangguk di setiap kata yang disebut olehnya, membuatnya tersenyum lebar.

Kemudian Hana berkata dengan pelan, “Bas, sori ya butuh waktu lama buat gue untuk sadar.”

Sontak Baskara ingin memeluknya saat itu juga.

Lagi-lagi, Raina merasa gerah. “Ini bahasannya personal banget deh, Fel, gue malu sendiri dengernya.”

“Udah lah, kita dengerin aja.”

Airina menengok ke belakang, “Ada yang mau tuker duduk sama gue nggak? Please…?

“Ke depan aja lo,” Felisha menengadahkan kepala ke arah depan bis, tempat Aluna dan Firzi duduk. Keduanya sedang dimabuk cinta.

“Ya kali gue nyamukin orang yang lagi asoy geboy pacaran! Sama aja!” Gerutu Airina kesal, bimbang memilih antara tidur atau tetap mendengarkan pembicaraan intim dua orang yang sedang jatuh cinta di sebelahnya.

Tak lama kemudian, Diandra yang ternyata sudah terbangun, terdengar berbicara, “Gue mual deh, mau muntah.”

Felisha dan Raina sibuk mencari kantung plastik dan tissue basah di kursi belakang.

“Ndra, please, tahan dulu.” Raina memohon.

Diandra muntah setelah Felisha memberikan kantung plastik kepadanya. Felisha memijit-mijit leher belakang Diandra. Raina memilih untuk tidak menyaksikan kejadian itu. Airina bangun dari duduknya, berlutut dan menghadapkan badannya ke belakang. Lalu ia berkata ke Diandra,

“Ndra, lo muntah karena jalanannya jelek apa karena dengerin dua kutu kupret menyatakan cinta?”

Hana dan Baskara ikut menoleh. Hana tertawa, sementara Baskara menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal itu, salah tingkah.

Maybe… a little bit of both,” jawab Diandra sambil menyengir kuda.


Bandung, Mei 2011

“Han, ke kosan saya dulu yuk, ambil CD buatmu.”

Baskara berkata kepada Hana sekembalinya mahasiswa TL 2008 di Bandung. Kemudian ia melanjutkan ke Airina, Felisha, dan Diandra, ketiga sahabat Hana yang biasanya pulang bersama.

“Hana sama saya ya, pinjam sebentar.” Baskara berkata seraya tersenyum.

“Lama juga gapapa, Bas.” Airina menggoda mereka.

Bye! Jangan lupa pakai pengaman! Stay safe!” Felisha meneriaki keduanya yang berjalan bergandengan ke arah parkiran motor Seni Rupa, lalu kata-katanya disambut oleh gelak tawa para sahabatnya.

“Ya Tuhan, mimpi apa saya semalam…” Baskara berpikir dalam hati, melirik gadis yang kini menjadi miliknya itu.

Hana pun ikut tertawa karena ulah Felisha. “Bas, jangan dipikirin ya, temen-temen gue gitu emang kalo becanda, nggak pake otak.”

Sore itu Baskara langsung mengantarkan Hana ke kosannya di Dago Asri. Di depan pintu pagar kosan, Baskara memberanikan diri mengatakan hal yang selama perjalanan pulang dari Puncak telah mengganggu pikirannya.

“Hana, saya ingin kamu lebih spesial dari teman-teman yang lain. Soalnya cara bicara saya ke kamu, sama seperti saya ke yang lainnya. Saya… ingin kita bicara pakai aku-kamu, boleh?”

Hana tersenyum, “Kenapa sih Ibas selalu semanis ini memperlakukanku?”, pikirnya dalam hati. Sebagai jawaban, ia mengangguk-angguk.

“Mulai besok ya, atau malam ini?” Tanya Baskara lagi.

Hana mulai tertawa kecil di hadapan Baskara, membuatnya jadi bingung.

“Kenapa harus minta izin segala sih, Bas? Mulai sekarang juga nggak apa-apa.”

Jawaban Hana mengukir senyuman di wajah Baskara.

“Dan satu hal lagi… Saya tunggu kamu untuk manja. Saya tau kamu orang yang mandiri, tapi saya ingin kamu manja ke saya. Boleh? Ya?”

Lagi-lagi Hana tertawa kecil, sampai-sampai Baskara gemas dibuatnya. Hana juga mengiyakan permintaan Baskara yang satu itu.

“Sampai jumpa besok, Hana.”

Detik selanjutnya, Baskara pun mendaratkan kecupan di kening Hana.

“Duileee yang lagi jatuh cintaaaaa.”

Kata-kata itu yang didengar oleh Hana setelah ia membuka pagar kosannya. Ternyata Felisha. Ia dan Diandra sedang duduk-duduk di teras depan bersama Ibu Kos mereka.

Fuck, lo liat? Apa denger?”

“Semuanya. Hahahahaha.”

“Anjir.”

“Hana atulah, ngomong teh dijaga, anak perempuan… Astaghfirullah.” Ibu Kos mereka pun mengelus dada, tetapi ikut tertawa.

“Meuni kasep pisaaan. Kapan-kapan kenalin lah, ke Ibu. Ajak makan bareng.”

Hana merasa salah tingkah karena tertangkap basah oleh kedua sahabatnya, terlebih lagi oleh Ibu Kos mereka. Namun ia tak ambil pusing. Tidak mau berlarut-larut dalam pembicaraan yang pastinya akan memojokkannya itu, Hana melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamar kosnya, tidak sabar ingin memutar CD yang Baskara berikan padanya.

Hana memasukkan CD yang didapatnya dari Baskara ke CD drive MacBook kesayangannya. Lagu baru, kali ini berbahasa inggris dan lebih ceria, walaupun masih terdengar mellow. Lagunya juga akustik, Baskara bernyanyi merdu dengan iringan gitarnya, tetapi Hana dapat mendengar ada satu pemain gitar lainnya. Mungkin Ucup, pikirnya, salah satu orang yang piawai dalam bermain musik di angkatannya, Dwisahasrastama. Lagi-lagi, lagu baru dari Baskara menjadi pengantar tidur bagi Hana di malam itu.

Hey, Angel
Do you know the reasons why, I look up to you standing afar? 
‘Cause you’re full of mystery, and no one understands who you are 
‘Cause you are well-rounded, yet always manage to get me surprised
Hey, Angel
Do you know that even sunrise are willing to trade place with you? 
‘Cause sometimes you look so beautiful, thus nature would be envious 
‘Cause sometimes people want to be with you, 
But not me, ‘Cause I always want to
Hey, Angel
When your cheek turns cherry-red, you’re messing with my head 
And when I see your bare face, I gotta embrace 
You
When I see your bare face, I gotta embrace you 
When I see your bare face, I gotta embrace you 
‘Cause I’m falling for you 
For you
When I hear your beautiful voice, I came to life 
I know you’re my queen by choice, making me feel alive

 —

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *