Epilogue

Bandung, Oktober 2012

Hari itu hari wisuda Hana dan Baskara, seperti kebanyakan mahasiswa TL angkatan 2008. Hana melihat Baskara di sudut matanya, berdiri dengan pendamping wisudawannya, Sarah, junior mereka yang adalah mahasiswa TL angkatan 2009. Kemudian pandangan Hana terjatuh di pundaknya sendiri, ada tangan Bara yang sedari tadi merengkuhnya. Bahagia, Hana tidak pernah merasa seutuh ini.

“Pasti ini yang terbaik…” Gumamnya pelan, tersenyum simpul.

Tak lama, para wisudawan diminta berbaris. Mereka akan menyanyikan hymne HMTL, kemudian berjalan bersalaman dengan massa himpunan, yang akan diakhiri dengan bersalaman dengan masing-masing wisudawan. Itu dilakukan sebagai simbol terima kasih dan juga pelepasan massa himpunan kepada wisudawan, dan sebaliknya. Momen itu merupakan momen favorit Hana, tidak peduli berapa kali pun ia mengikuti acara wisuda, Hana selalu meneteskan air mata karena terharu. Kali itu adalah kali pertamanya mengikuti pelepasan sebagai seorang wisudawan. Hatinya campur aduk, ada rasa senang dan sedih. Senang karena pada akhirnya ia berhasil melewati masa kuliahnya selama empat tahun di ITB, dan sedih karena momen itu tak lain adalah momen perpisahan pada kampusnya, himpunannya, angkatannya, dan para sahabatnya.

Kami berdiri di sini
Dibawah naungan panjimu
HMTL wadah generasi bangsa
Putra-Putri Bangsa Indonesia

‘Sgala cita yang tersimpan di dalam dada
Kan ku baktikan pada ibu pertiwi
Mekar bersemi, harummu mewangi
HMTL ku tercinta

‘Smoga saja, cahya sinarmu
Menerangi bumi pertiwi
Tridharma Perguruan Tinggi yang ‘slalu terbina
HMTL jayalah

Tibalah saatnya Hana berpapasan dengan Baskara. Sudah lama rasanya mereka tak mengobrol panjang lebar seperti dulu, keduanya tersenyum. Kemudian Baskara memeluknya, erat, erat sekali sampai Hana tak bisa berkata-kata.

“Hana, terima kasih. Makasih banget atas semuanya.”

“Sama-sama Bas, gue juga makasih banget. Maaf ya…”

“Nggak perlu minta maaf. Kamu nggak salah apa-apa.” Baskara mengusap pelan kepala Hana, seperti yang sering dilakukannya dulu.

Keduanya menangis dalam diam, entah berapa lama. Namun pada akhirnya, Hana melepasnya pergi, kemudian memberikan secarik kertas untuk Baskara.

My last words for you,” katanya seraya tersenyum, menghapus air matanya.

Baskara tersenyum, mengenang saat-saat bersama Hana dulu. Mereka sering memberikan puisi–entah itu bikinan sendiri ataupun sajak favorit mereka ke satu sama lain. Ia membuka lipatan kertas tersebut dan meliriknya sesaat, sebelum akhirnya melipatnya kembali karena masih ada barisan panjang mengular di belakang Hana. Hanya ada penggalan sajak yang dapat terbaca olehnya,

We are like parallel lines
Going through a road, hoping to be intertwined
Parallel lines, isn’t it bittersweet?
Walking side by side, yet never gonna meet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *