It took us almost 9 years, to finally find our way to each other. I feel so blessed and grateful of where we are right now and I know, a single post would not do it justice.

Well, happy five-month anniversary. Thank you for bearing with me. I know things will not get any easier, but we will always have each other to conquer it all.

Here is to the more weight we gain and more beautiful things to come (especially that little bundle of joy who is busy kicking his way out of this belly).

Habis nonton The Greatest Showman dan jatuh cinta sama semua soundtrack nya. Seperti biasa, si anak musik dan lirik ini pun langsung merasa relate sama salah satu lagu yang manis banget. Lalu gue kirim link Spotify ke si doi supaya doi dengerin.

Some people long for a life that is simple and planned
Tied with a ribbon
Some people won't sail the sea 'cause they're safer on land
To follow what's written
But I'd follow you to the great unknown
Off to a world we call our own

Sampai beberapa hari kemudian, waktu lagi dengerin radio di mobil, randomly terputarlah lagu dari salah satu band lokal yang gue bahkan ga pernah denger namanya.

“Dengerin, ini lagu buat kamu…”

Hanya kamu yang bisa
Membuat aku jadi tergila-gila
Membuat aku jatuh cinta
Karna tak ada yang lain sepertimu
Berkali ku mencoba
Berpaling dengan makhluk indah lainnya
Namun tak pernah ku rasakan
Bila seindah bercinta ku denganmu

Beb, why sih why selera musik kita segitu bedanya. This is such a deal breaker sih, but I love you too much buat ilfeel sekarang…

Another year has passed.

Tahun ini banyak banget hal terjadi yang ngasih pembelajaran tersendiri untuk setiap momennya. Alhamdulillah, at the age of (almost) 28, I finally got things figured out. Tahun ini belajar untuk ngurus diri sendiri dan less dependent sama orang lain, belajar masak, dan belajar let go of the people that once meant the most in my life. Tahun ini survived kuliah master dengan segala drama ups and downs nya dan resmi lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. As a bonus, tahun ini juga dapet pekerjaan di institusi yang ada dalam list prioritas pekerjaan idaman, right away setelah lulus kuliah.

Tahun ini juga jadi tahun ter-mobile for the history of my entire existence in this world keknya. Berpindah lokasi dari satu kota ke kota lain, satu negara ke negara lain, dan moving in-moving out sampai 4x, in order to settle down. Life has always been in motions.

Dan di penghujung tahun ini juga, I found him.

Satu per satu, dengan kuasa-Nya, semua urusan duniawi gue terselesaikan pada waktunya.

Thank you 2017, you’ve been so amazing for me this whole year. Alhamdulillah. Now on to another chapter. Hopefully next year everything will be much much better. Amen!

Sebenarnya, tulisan ini orginally intended to be published on Cerita Perempuan. Dan terima kasih banyak untuk Kak Asih yang sudah berbaik hati mengedit dan publish cerita gue. Please kindly read the full story of Go Big or Go Home? yaa. Tapi, berkat dorongan teman-teman terdekat, akhirnya gue tergoda juga buat tetep share the original story nya (yang lengkap dengan bumbu-bumbu kalau kata mereka sih) di sini. So, here it is.


Cerita ini mungkin berbeda dari cerita-cerita yang sering kali aku tulis di personal blog-ku, ataupun curhatan colongan yang sering aku lontarkan di beberapa akun social media-ku. Butuh waktu yang cukup lama untuk memproses semua hal yang terjadi belakangan ini, sampai akhirnya aku mampu merangkai kata dan tulisan ini pun rampung juga.

Semua berawal dari keputusanku yang cukup impulsif untuk melanjutkan studi keluar negeri. Kenapa harus keluar negeri? Iya, karena saat itu, aku sangat pusing menghadapi sekian masalah di hadapanku, dan aku pikir, melarikan diri keluar negeri could be a fresh start for me. Saat itu aku jobless. Akhir tahun 2014, kondisi oil and gas mulai menurun, dan aku yang bekerja sebagai karyawan outsourcing di salah satu perusahaan gas milik negara harus di-release karena perusahaan sedang menghemat pengeluaran dan kontrak aku tidak bisa diperpanjang. Aku ini bisa dibilang cukup picky dalam memilih pekerjaan. Alhasil, hampir setengah tahun aku menganggur, dan masih belum juga menemukan pekerjaan yang cocok menurut standarku. Kisah cintaku pun bisa dibilang cukup menyedihkan. Bagaimana tidak? My boyfriend of 3 years was cheating on me, dan akhir tahun itu juga dia menikah dengan selingkuhannya. Sementara itu, laki-laki yang sedang dekat denganku pun sepertinya mempermainkan perasaanku. Dia adalah sahabatku sedari SMA, yang pada akhirnya menyatakan perasaan yang ia simpan kepadaku selama bertahun-tahun ini. Namun, di saat aku mulai membuka diri untuk mencoba hubungan kami, dia ternyata juga sedang dekat dengan wanita lain, bahkan gosipnya akan segera bertunangan. Well, I guess love is only nice for someone else’s life, not for me.

Back to my journey to pursue a master degree. Sebenarnya, persiapan untuk S2 diluar negeri ini sudah aku lakukan dari Januari 2015. Saat itu, aku sudah mempersiapkan sertifikat IELTS. Namun entah mengapa, setelahnya, semangatku lalu mengendur dan persiapan S2 pun jadi terbengkalai. Pada bulan Mei, akhirnya aku memantapkan diri untuk mulai apply universitas. Untuk dapat beasiswa, aku perlu IPK yang cukup bagus, tetapi karena aku tahu IPK-ku bisa dibilang cukup kurang, jadi aku harus memiliki LOA terlebih dahulu untuk bisa daftar beasiswa agar lolos seleksi administrasinya. Syukurnya, aku mendapatkan offer dari University of Melbourne dan University of Leeds pada bulan Juli. Namun, mood-ku turun lagi, dan persiapan S2 pun mandek lagi. Salah satu teman dekatku terus mendorongku untuk apply beasiswa, dan akhirnya, di akhir tahun itu aku berhasil melengkapi semua berkas untuk apply Beasiswa LPDP batch ke-4. Setelah proses maju-mundur, Desember itu akhirnya aku mendapatkan beasiswa dan resmi bisa melanjutkan studiku untuk intake September 2016.

I got mixed reactions when I told my family about this news, terutama Mama. Dibalik suka cita mereka atas keberhasilanku ini, aku tahu mereka semua menyimpan rasa khawatir akan rencana studiku selama satu tahun ke UK. Aku ini adalah anak paling kecil di rumah. Sejarahnya aku pergi jauh dari rumah untuk waktu yang cukup lama adalah waktu aku kuliah S1 di Bandung, itu pun dengan beberapa kasus bolak-balik opname karena typhoid, dan satu insiden hampir dioperasi karena dokternya salah diagnosis. Mama sangat khawatir dan takut aku tidak bisa survive hidup sendirian di UK. Ya wajar saja sih beliau bisa berpikiran seperti itu, karena aku memang bisa dibilang manja, anak mami, dan satu-satunya skill urusan rumah tangga yang bisa aku lakukan hanyalah membersihkan kamar.

“Gimana kalau nanti Adek sakit? Mama kan ga bisa langsung nyusulin kesana, Nak?” Begitulah rasa khawatir yang beliau lontarkan.

Sebenarnya juga, aku tidak sepenuhnya yakin untuk pergi jauh dari rumah, apalagi meninggalkan Mama. Mama punya riwayat penyakit Diabetes Mellitus Tipe II dan Hepatitis C, sejak tahun 2007. Dan setahun kemudian, Mama harus menyuntikkan insulin setiap sebelum makan, tiga kali dalam sehari. Hari-hari terakhir aku di Jakarta sebelum berangkat ke UK pun dipenuhi dengan antar-jemput Mama ke RSCM, cek lab, kontrol, dan lain sebagainya. Sepertinya Tuhan memberikan jalan keluar akan kekhawatiranku ini, hasil lab Mama yang terakhir sebelum aku berangkat menunjukkan bahwa gula darah Mama saat itu bisa dibilang cukup terkontrol dan virus Hep-C nya sudah tidak ditemukan. Aku pun jadi lega untuk bertolak ke Inggris Raya.

Hari-hari pertamaku di UK were all fun and games until something bad happened and my whole world came crashing down. Dua minggu setelah perkuliahan mulai berjalan efektif, tugas dan deadline pun mulai bermunculan. Aku masih ingat, Senin pagi waktu UK, aku bangun tidur dan mendapati banyak notifikasi groupchat keluarga di handphone ku—isinya, mengabarkan kalau Mama sakit dan sedang ada di IGD. Aku masih biasa saja membaca pesan teks itu, karena memang kami semua sudah terlatih dan terbiasa dengan riwayat Mama yang tiap sebentar keluar-masuk IGD RSCM. Pagi itu juga, aku mendapat tugas pertama yang diambil nilainya, presentasi di kelas dan hanya diberi waktu 1 jam saja untuk persiapan. Di saat aku sedang panik-paniknya mempersiapkan bahan presentasi, aku mendapat telepon dari kakakku yang nomor dua, yang kebetulan juga sedang menjalani pendidikan dokter spesialis dan ditempatkan di RSCM.

“Bon, Mama kena stroke. Ada pendarahan juga di otaknya, jadi harus secepetnya dioperasi. Doain Mama ya…” Suaranya bergetar dan aku pun tak kuasa menahan air mataku.

Di depan ruang kelas, air mata terus bercucuran membanjiri kedua pipiku. Namun aku tidak punya pilihan selain untuk harus tetap kuat dan menyelesaikan tugas presentasi. Segera setelah giliran presentasiku selesai, aku izin keluar kelas untuk menelepon keluargaku di Jakarta, kali ini video call. Aku bisa melihat tubuh Mama terbaring tak berdaya di atas kasur IGD, masih mengenakan seragam mengajarnya hari itu. Mamaku adalah seorang Guru Fisika di salah satu SMA Negeri di Jakarta. Pagi itu, usai upacara Mama kejang kemudian pingsan, dan kehilangan kesadaran.

Hari berikutnya, sesuai rencana, Mama dioperasi untuk mengobati pendarahan di otaknya. Saat video call, hatiku hancur rasanya melihat sosok Mama yang terlihat sangat pucat dan tanpa sehelai rambut pun di kepalanya, kedua matanya masih terpejam.

And after that, things are getting even worse. 18 hari, Mama tidak sadarkan diri dan terbaring di ruang ICU. Saat itu, aku sungguh ingin pulang ke rumah, berada di sana bersama keluargaku untuk menjaga Mama bergantian. Atau hanya untuk sekedar mengusap tangan Papa, menenangkan hati beliau. Atau memeluk kedua kakakku erat-erat. Satu bulan berlalu, dan tidak ada progress yang cukup signifkan dengan kondisi kesehatan Mama. Bahkan, pihak rumah sakit sudah arrange meeting dari tim paliatif dengan keluarga kami. Kalau dari penjelasan kakakku, yang aku tangkap adalah di titik ini, pihak rumah sakit sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dan keluarga disarankan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien karena penyakit yang dideritanya bersifat tidak bisa disembuhkan. Tim paliatif ini bertujuan untuk mempersiapkan keluarga pasien akan kemungkinan yang terburuk…

Aku menelepon Papa sambil menangis, “Pa, Adek pulang aja ya? Adek mau ketemu Mama.” Yang kemudian dijawab oleh Papa, “Inad belajar yang bener di sana, bantu doain Mama aja ya. Kita semua disini jagain Mama. Kalau nanti udah libur semester baru boleh pulang. Pantang pulang sebelum menang, Nak.”

Itu lah yang selalu ditanamkan oleh kedua orang tuaku sedari kecil. Tidak boleh berhenti di tengah jalan. Apapun konsekuensinya, tanggung jawab yang sudah diemban harus tetap dijalani dan dituntaskan.

Suatu sore, aku sedang berdiri di bus stop untuk pergi ke City Centre di Leeds, kota tempatku menjalani studi master. Dalam lamunan dan tatapan kosongku, mataku menangkap sebuah papan reklame dengan tulisan besar-besar, Go Big or Go Home? Tulisan itu rasanya seperti tamparan buatku. Karena jujur saja, sejak mendapatkan berita bahwa Mama jatuh sakit, aku sudah menimbang-nimbang untuk menunda studiku ke tahun selanjutnya dan berencana untuk mengemas barang-barangku, and leave the city immediately. Kalimat simpel itu menyadarkan aku to keep going, to have a little faith, that this too shall pass because God will never place a burden on those who can’t carry its weight.

Setelah kejadian itu, aku pun mulai mengumpulkan kembali sisa-sisa semangatku untuk melanjutkan Semester 1 dengan lebih baik. Kalau awalnya aku sangat menutup diri dari teman-teman di UK, aku akhirnya mulai membuka diri perlahan sampai akhirnya aku memiliki inner circle—teman-teman sesama dari Indonesia who always make Leeds feels a bit like home. Di kelas, aku juga mulai bisa fokus dan konsentrasi mengikuti pelajaranku. Entah bagaimana aku berhasil menyelesaikan laporan, esai, dan tugas besar yang tadinya rasanya sangat mustahil untuk aku selesaikan. Desember itu aku pulang ke Indonesia. Sementara teman-teman sangat excited merencanakan winter trip ke Scotland atau Europe, aku menyisihkan uang bulananku untuk membeli tiket pulang ke rumah.

Begitu sampai di rumah, aku langsung masuk ke kamar Mama, kamar yang sudah disulap layaknya kamar rawat di rumah sakit. Tempat tidur king size yang biasa menjadi tempat kami bersenda gurau sudah tidak ada, digantikan oleh kasur rumah sakit. Di sekitar kasur ada tabung oksigen, dan juga beberapa peralatan kedokteran yang bahkan aku sendiri tidak tahu apa namanya. Mamaku terbaring di sana, tubuhnya jauh lebih kurus dari terakhir kali aku melihatnya saat berangkat di bandara September lalu, dan ada selang di hidungnya—untuk makan karena Mama masih tidak bisa makan lewat mulut seperti orang sehat lainnya. Aku membelai tangan kanannya dengan lembut, mencium keningnya, dan detik selanjutnya tangisku pecah sejadi-jadinya. Mama tidak merasakan kehadiranku di sisinya. Saat itu, kondisi beliau masih setengah sadar. Ada hari-hari dimana Mama dapat mengenali wajahku dan sebuah senyum merekah di wajahnya. Namun, di hari-hari lain, untuk bisa membuat pandangannya fokus padaku dan berkomunikasi dengannya saja terasa sangat sulit.

Kembali ke UK untuk melanjutkan Semester 2 terasa jauh lebih berat setelah menghabiskan waktu dua minggu di rumah dan melihat kondisi Mama yang masih belum stabil. Namun lagi-lagi, aku tidak bisa menyerah di tengah jalan dan harus menyelesaikan studiku. It’s only a halfway to go. I came back to Leeds, stronger than before. Aku juga mulai menata hidup akademik dan non-akademik dengan seimbang. I take the time to hangout with my coursemates on Friday nights, aku juga turut berpartisipasi bersama teman-teman PPI Leeds dalam acara World Unite Festival yang diselenggarakan oleh pihak kampus, mempersembahkan tarian tradisional Indonesia, Tari Saman. Aku memiliki kelompok belajar untuk final exams dan nilaiku pun bisa dibilang cukup memuaskan. Tinggal satu langkah lagi yang tersisa untuk mendapatkan gelar master, yaitu disertasi.

Proses pengerjaan disertasi ini rasanya adalah fase terberat selama perkuliahan masterku. At the beginning, aku sangat senang dan excited karena mendapatkan tema disertasi yang sangat sesuai dengan passion-ku, terlebih lagi, dosen pembimbingku pun juga sangat ahli dalam bidangnya. Namun ternyata, keberjalanannya tidak semulus itu. Setiap kali selesai bimbingan, aku rasanya seperti babak belur, selalu dijatuhkan, dan dikritik habis-habisan oleh supervisor-ku yang sangat perfeksionis itu. Sampai di titik terendah, dosenku berkata di salah satu sesi bimbingan, “Nadia, please do not jeopardise your future with this dissertation.”

Aku tidak tahu harus merespon seperti apa saat beliau berkata seperti itu. Aku merasa usahaku selama ini sia-sia. Kerja kerasku untuk mendapatkan nilai bagus di modul-modul lainnya terasa tidak ada artinya. So, does it mean that he thinks my dissertation is a trash? I am having a mental breakdown, itu yang aku rasakan, dan untuk beberapa hari setelahnya aku sama sekali tidak menyentuh lagi disertasiku. Sampai akhirnya, I seek for help. Aku menghubungi co-supervisor-ku, menghubungi sahabatku di Jakarta yang juga bekerja sebagai dosen untuk membantuku, baik itu diskusi ataupun teknis pengerjaan disertasi. Memang kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil. Setelah usahaku mati-matian, akhirnya, pada sesi bimbingan selanjutnya aku memberikan draft kepada supervisor dan beliau hanya tersenyum saat me-review-nya.

“Well done, Nadia, this has been very much improved.” Jika bisa mengekspresikan kebahagiaanku saat itu, rasanya hatiku mungkin sudah terbang ke langit yang ke-tujuh. All those sleepless nights dan hari-hari yang kuhabiskan di perpustakaan rasanya terbayar sudah. Hal ini pun semacam menjadi turning point dalam penulisan disertasiku, and it is all uphill from here. Pengumpulan disertasiku di hari menjelang deadline adalah chapter penutup yang sangat menyenangkan dalam perjalanan studi masterku.

Mungkin saat ini, I may not as big as Taylor Swift. Kenapa Taylor Swift, just because she is my favourite, dan di usianya yang sama seperti usiaku saat ini, dia sudah mendapatkan banyak penghargaan atas karier musiknya. Sementara aku, aku merasa hidupku begini-begini saja. Tanpa pencapaian yang berarti. Aku tumbuh di keluarga akademisi, kedua orang tuaku adalah pengajar. Kakak pertamaku adalah lulusan Teknik Informatika ITB, dan dia dengan gigihnya merintis perusahaan start-up bersama teman-teman kuliahnya. Setelah jatuh bangun, sekarang bisa dibilang bisnisnya berhasil dan aku sangat bangga padanya. Sementara kakak keduaku, seorang dokter dan saat ini sedang melanjutkan pendidikan spesialis penyakit dalam. Niat mulianya hanya satu, ingin menyembuhkan penyakit Mama. Then there is me, si anak bungsu yang selalu hidup dalam bayang-bayang kedua kakaknya yang super hebat. Yes, that is always a problem with me, I always feel like I am less cool than both of my siblings.

Aku kuliah di Teknik Lingkungan ITB. Mungkin banyak orang berpendapat bahwa program studiku kurang populer, tetapi jurusan yang memang pilihan pertamaku inilah yang merupakan batu loncatan awal dalam meraih mimpiku, dari mulai bekerja di organisasi internasional hingga mengantarkanku mengecap pendidikan pasca-sarjana di Inggris Raya. Mungkin juga, bagi sebagian orang hal ini merupakan hal yang biasa saja. Namun, bagiku ada rasa kebanggaan tersendiri untuk bisa berangkat kesana dengan beasiswa—hal yang bisa membuat orang tuaku bangga kepadaku karena ini adalah yang pertama kalinya di dalam keluarga kami. And now I know for sure, tidak akan ada habisnya if I keep comparing myself to others. All that matters is, aku harus bisa menjadi diriku yang jauh lebih baik dari versi diriku yang sebelumnya. Dan aku rasa, saat ini aku telah mencapai fase itu.

Setelah dipikir-pikir juga, mungkin memang iya aku manja, but my Mama didn’t raise a quitter, that I have come a long way to win the battle to get an MSc. Perjalananku menyelesaikan S2 ini mengajariku banyak hal, tetapi in return, I gained so many priceless things. Aku pulang ke rumah mendapati kondisi Mama yang kian membaik. Aku pulang ke rumah berhasil menyelesaikan studi masterku dan sekarang tinggal menunggu jadwal wisuda. Aku pulang ke rumah dengan kondisi bisa mengurus diriku sendiri, dan yang terpenting, now I can cook! To top it off, aku pulang ke rumah and found the one I would love to spend the rest of my life with. I came home as a changed person. Sungguh dalam satu tahun banyak sekali hal yang bisa terjadi dan aku sangat mensyukuri every bits of it.

I guess, kata-kata di papan reklame di sudut Kota Leeds itu seharusnya bisa direvisi, because go big or go home is not an option. I could tell now that I am home, and I am even bigger than I was before.

I knew it from the start.

That this thing is going to get ugly along the way, which it is right now. That this thing is like a sand, the more I hold it tight, the more it slips through my fingers. That this thing is like a ticking bomb, which would explode at one point and I would get the permanent damage because of it. That the flames between us would get me burnt alive.

I have no idea, why every time I open up it hurts. Why is it always at the wrong time and with the wrong person? Guess I never learn…

Back where I belong. Arrived safe and sound at home…

Setelah hampir sebulan kebelakang I’ve felt like living in motions, akhirnya bisa punya proper time buat contemplate dan merencanakan goals baru kedepan. Kemarin-kemarin rasanya secepet itu, disaat lagi puncak-puncaknya deadline tesis, lalu gue mesti packing dan pindahan dari flat tercinta. Numpang di tempat temen, beberes flat lagi supaya bobonya enak dan nyaman ditinggali karena si gue anaknya super rempi perihal kerapihan dan kebersihan. Terus, lanjut living out of cases dari satu kota ke kota lainnya, dua minggu non-stop—yang berujung muka gue kebakar karena ga bawa sunblock dan jempol kaki gue sampai memar karena jalan kakinya super ga santai. Walaupun begitu, rasanya super happy cos I rewarded myself with the gift(s) that (I think) I deserve (the trip included).

Sampai di rumah masih a bit overwhelmed sih dengan semua hal. Dari mulai ketemu keluarga—terutama Mama yang sampai hari ini kadang masih suka ga sadar dan kaget sendiri sampai jadi nangis kalau ngeliat muka gue, catching up sama temen-temen, bisa makan makanan-makanan penuh cita rasa yang sudah diidamkan sejak berbulan-bulan lalu, no cuci piring, stuck di jalan karena macet, kepanasan naik gojek, sampai hati w bergetar pas pertama kali denger adzan maghrib (call me exaggerating but it is so trueee). Those simple things.

Tapi dibalik all the fun ini, ada juga to-do lists yang sudah sekian lama gue pending dan sekarang sudah mendesak untuk segera diselesaikan. Well, we’ll see how things go from here. Dan sepertinya skill menulis gue pun mulai membusuq, so… disudahi saja dulu post ini dan update liburan akan menyusul.

#welcomehome #metkembalikerealitasis #mangatjadijobseekerlagi #halobekasi #walaupanastapikutetapluv

Cause being with you, turns my whole world upside down
With the highest highs
And the lowest lows
There is just no middle ground

#kgn #yowisbaliknesislagi #kthxforthedistraction #theclockisticking #menujuinadmsc2017 #tuhantolongbantuakuplis

I can’t really remember what that dream was all about. But I remember crying so hard that when I woke up this morning, I felt tears rolling down my cheeks, my whole body was shaking. The pain is inevitable, even my subconscious keeps reminding me of it, of you.