Bandung Malam Itu

Bintaro, Mei 2012

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Aku terduduk diam di ruang tunggu travel, melirik ke jam tanganku yang saat ini menunjukkan pukul 19:45. Sekitar lima belas menit lagi, travel akan berangkat dari Bintaro dan akan tiba di Bandung kira-kira pukul 22:30, itu pun kalau jalanan tidak macet.

“Arya lagi sakit pula, pulang sama siapa ya nanti dari travel?” Aku bertanya-tanya dalam hati sambil memutar otak, siapakah gerangan yang bisa menyelamatkan aku malam ini dari kemungkinan pulang sendirian.

Arya, pacarku itu memang sulit untuk diandalkan pada saat-saat seperti ini. Belakangan ini aku merasa ada yang berbeda dengan sikapnya. Namun malam ini, aku lebih memilih untuk tidak meributkan hal yang sepele seperti asumsi-asumsi di kepalaku ini, terlebih lagi dia memang sedang sakit. Aku harus bisa memahaminya, being a good girlfriend that I have always been.

Kemudian aku tersenyum tiba-tiba, “Bagas pasti bisa deh jemput gue di travel.”

Aku langsung merogoh ponsel dari kantong skinny jeans-ku dan mengetik pesan teks untuk Bagas.

Gaaas, lo free ga malem ini?
Oi, Na. Kenapa?

Aku mendapati pesan balasan dari Bagas secepat kilat.

Mau minta tolong. Travel gue malem banget nih sampe Bandung.
Nggak berani balik sendiri ke kosan. Tapi kalo lo ga bisa, yaudah gpp
ntar gue cari taksi aja. Hehe...

Aku mengetik balasanku untuknya. Aku terlalu mengenal Bagas untuk mengetahui bahwa dia paling tidak bisa berkata ‘tidak’ ke aku. Dan yak, benar saja, psikologi terbalik yang aku lancarkan pun berhasil. He took the bait.

Kalo bisa naksi dari awal, ngapain nanya gue? Kan jadinya gue tau
lo pulang malem. Yaudah, tapi nunggu agak lama nggak apa-apa
ya? Pasti gue jemput kok. Kabarin nanti kalo udah deket.

Aku tersenyum dan menghembuskan napas lega saat membaca balasan dari Bagas di layar ponselku. Cukup lega, tahu kalau aku tidak akan pulang sendirian malam ini. Aku kirim pesan balasan untuknya sebelum aku menyimpan kembali ponselku di saku celana.

Siap!

Bandung, Mei 2012

Beruntungnya, perjalanan malam ini cukup lancar dan travel tiba di Bandung pun sesuai dengan jadwal. Saat travel memasuki gerbang Tol Pasteur, aku memberitahu Bagas agar dia bisa bersiap-siap untuk menjemputku.

10 menit berlalu, dan aku masih duduk di ruang tunggu travel menanti Bagas datang.

15 menit berlalu, Bagas masih belum juga sampai.

30 menit berlalu. Aku mulai membatin dalam hatiku, “Bagas pasti dateng kok. He never fails me, right?”

Tepat saat itu juga, aku bisa melihat motor Bagas memasuki pelataran parkir pool travel. Aku langsung beranjak dari dudukku dan bergegas menghampirinya.

708617937593806060516

“Hai, Princess! Maaf banget ya, lama…” Gue menyapa Airina saat dia menghampiri gue di parkiran pool travel.

“Iya, nggak apa-apa.” Jawab Airina sambil memberikan senyum yang dia paksakan.

Dari raut wajahnya, gue tahu she’s not in the good mood. Mungkin karena menunggu gue yang terlalu lama menjemputnya di travel. Namun gue rasa, ada hal lain yang bikin dia jadi sebete atau sesedih ini, entah itu apa gue nggak tahu.

“Lo darimana sih, Gas? Lo sibuk ya sebenernya? Kenapa sih bukan bilang nggak bisa aja? Kan tau gitu gue nggak ngerepotin lo, pulang sendiri aja.” Airina menyerocos tiada henti di hadapan gue.

Dan seperti biasa, gue hanya bisa tersenyum mendapati dia mengomel seperti ini.

“Justru karena gue tau, kalau gue bilang gue lagi sibuk, lo pasti nggak akan mau gue jemput.”

Gue terlalu mengenal Airina untuk mengetahui bahwa jika dia sudah kirim chat sampai huruf vokalnya ada 3 seperti tadi, itu artinya emergency. Gue nggak punya pilihan lain, selain membalas pesan teksnya secepat kilat. Dan disinilah gue sekarang, mendapati teman tapi ngarep yang sangat gue khawatirkan ini mengomel karena gue sudah bela-belain untuk jemput dia di tengah hal penting lainnya yang sedang gue kerjakan.

“Tuh, kan! Emang lo lagi ngapain sih tadi? Gue udah curiga deh. Dari kosan lo kesini kan tinggal ngesot doang…”

“Udah udah, naek dulu. Ntar di jalan gue ceritain.” Gue memberikan helm ke tangan Airina yang kemudian segera dia pakai.

Setelah gue tancap gas, gue pun memulai pembicaraan. “Janji ya jangan kaget, jangan marah kalau gue kasih tau, ya?”

“Like I have a choice?!” Airina menjawab, nada suaranya masih terdengar sedikit kesal.

“Gue lagi bimbingan tadi, di rumah dosen gue.” Iya, bulan-bulan ini adalah masa-masa kritis, kami sebagai mahasiswa tingkat akhir sibuk mengejar deadline Tugas Akhir (TA) agar bisa lulus tepat waktu.

“What?!” Jawab Airina tidak percaya.

“Iya, beneran. Makanya lama jemputnya, soalnya rumah dosen gue di Lembang,” gue menambahkan sambil tertawa kecil.

“Whaaat?” Jawab Airina sungguh tidak percaya, setengah berteriak menyaingi bisingnya suara angin Bandung malam ini.

“Kenapa sih, lo nggak bilang? Sebel deh gue. Kan gue jadi nggak enak ganggu lo gini.” Airina menepuk helm gue dari belakang.

“Ya menurut lo, gue tega ngebiarin lo pulang jam segini? Sendirian? Naik taksi? Kecuali gue nggak tau dari awal… Lagian kemana sih cowok lo? Nggak bisa apa jemput ceweknya?” Gue menolehkan sedikit kepala gue ke belakang agar bisa melihat raut wajahnya.

“Udah deh, nggak usah bahas Arya. Dia lagi sakit katanya, jadi nggak bisa jemput gue. Sorry ya, malah jadi lo yang repot deh…”

Raut wajah itu muncul lagi. Oh, jadi Arya rupanya yang bikin dia jadi sedih seperti ini.

“Nggak apa-apa juga kok, Na. Sekalian gue refreshing, suntuk juga seharian ngerjain TA. Tapi, bilangin lah sama Arya, kalo bisanya cuma sia-siain lo kaya gini, mending putus aja lah. Mending lo sama gue aja lah. Jelas, dijagain.”

Airina sedikit mencubit punggung gue dari belakang. “Jangan ngomong gitu dong, Gas… Dia sakit. Yaudahlah,” jawab Airina pasrah.

Gue merasakan Airina menyandarkan kepalanya di punggung gue dan setengah berbisik dia berkata, “I don’t know what I’d do without you, Gas.”

Gue tidak menjawabnya lagi. Sampai kapan sih, Airina akan clueless seperti ini terus? Nggak sadar akan rasa sayang dan perhatian gue yang begitu besar untuk dia? Yang selama ini setengah mati gue simpan dalam-dalam. Belakangan, rasa sayang itu berontak, dan beberapa kali gue teasing mengenai hal ini ke Airina. Apalagi di saat kelakuan pacarnya, Arya, tidak dapat diandalkan. Dan itu kerap terjadi. Seperti pada malam ini.

“Gas, gue traktir yuk, sekalian temenin gue makan. Mau nggak?” Airina memecah kesunyian dan membuyarkan gue dari lamunan.

“Eh?” Jawab gue heran. “Udah jam segini lo masih mau makan?”

“Iya, laper. Sekalian samperin si Reza sama Aluna, yuk? Nggak apa-apa kan?”

Your wish is my command. Oke!”

Gue yang sudah mengarahkan motor dari Dipatiukur menuju Dago Asri–daerah kosannya Airina–pun akhirnya memutar balik, menuju Gampoeng Aceh sesuai permintaan Airina.

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Sepanjang perjalanan dari travel ke Gampoeng Aceh, aku sungguh merasa bersalah karena telah merepotkan Bagas malam ini. Kenapa sih, dia segitunya tidak bisa berkata ‘tidak’ ke aku? Pantas saja, tadi aku harus menunggu lama karena dari rumah dosennya di Lembang ke pool travel di Dipatiukur memakan waktu sekitar 30 menit. Kadang aku berpikir, kenapa Arya tidak bisa berkorban untukku seperti yang Bagas selalu lakukan?

Aku dan Bagas tiba di Gampoeng Aceh, dan mendapati Reza–teman sepermainanku dan Bagas sedari SMA serta Aluna–sahabatku di Teknik Lingkungan, tengah berbincang asyik menunggu kedatangan kami. Beberapa bulan lalu, aku kasihan melihat Aluna yang sedang putus cinta. Dan akhirnya memutuskan untuk mengenalkannya kepada Reza. Sebenarnya, Reza, Aluna, dan aku adalah mahasiswa di fakultas yang sama, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL). Sayangnya, kami terpisah di kelas yang berbeda-beda sewaktu tingkat pertama dulu yang merupakan Tahap Persiapan Bersama (TPB), jadi kami tidak saling mengenal satu sama lain. Di tingkat kedua, Reza masuk Teknik Sipil, sementara aku dan Aluna masuk Teknik Lingkungan. Ternyata, semenjak TPB, Reza diam-diam sering memperhatikan Aluna. Begitu Reza mengetahui bahwa aku dan Aluna masuk ke jurusan yang sama, dia langsung memintaku untuk mengenalkannya dengan Aluna. Setelah pendekatan yang cukup singkat itu, ternyata Aluna dan Reza merasa cocok dan memutuskan untuk memulai hubungan mereka.

“Hai Luna!” Aku menyapanya riang yang dijawab dengan tawa renyah Aluna.

“Eh, udah pernah ketemu Bagas belum? Kenalin nih…” Kataku lagi, sambil menunjuk Bagas.

Bagas mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Aluna, “Halo! Bagas,” sapanya.

“Luna,” jawabnya sambil menjabat tangan Bagas.

“Darimana lo berdua malem-malem gini? Ck, ck, memang dasar anak muda!” Reza menggoda aku dan Bagas.

“Biasalah, tuan putri, kayak nggak tau aja lo.” Jawab Bagas ringan.

Saat aku dan Bagas sedang melihat-lihat menu untuk mengorder pesanan kami, handphone Bagas berbunyi. Ternyata, dosen pembimbingnya menelepon dan meminta Bagas segera kembali ke rumahnya untuk merevisi beberapa hal. Setelah menitipkan aku kepada Reza untuk diantarkan pulang sampai ke kosan, Bagas kemudian berpamitan dengan kami semua.

708617937593806060516

Gue kemudian melajukan motor mengarungi jalanan Bandung, menuju Lembang, menyayangkan kesempatan untuk makan bersama gadis kecil yang berhasil mencuri perhatian gue itu sedari SMA.

“Padahal udah lama banget nggak ketemu dia, kangen juga. Lain kali gue harus ngajak dia ketemuan lagi.”

Hey, Angel

Bandung, April 2011

There exists a melody
That just might change your mind
Oh, if only I knew the key
To sing to make you mine
And then I saw it on your keyboard
And you saw it on my sleeve
I never knew a heart existed
Outside of make believe
Then I saw it on your keyboard
I knew at least that I might have a chance
To catch a shooting star

Hana ikut berdendang mendengarkan lagu yang dibawakan di panggung. Diandra merasa familiar dengan lagu itu, yang memang dinyanyikan oleh band kesukaan Hana semenjak SMA. Namun Felisha terlihat mengernyitkan dahi.

“Lagu apa sih, Han?” Tanya Felisha akhirnya.

“Hellogoodbye,” jawab Hana di sela-sela nyanyiannya.

Malam itu sedang dilangsungkan acara Wisnite April. Di tengah-tengah panggung ada Baskara yang memegang peran sebagai vokalis, sambil memainkan gitarnya. Band yang tampil saat itu merupakan band lintas angkatan. Dari angkatan mereka selain Baskara ada Ucup yang memainkan gitar. Fadil mengambil posisi sebagai drummer dan Ipang sebagai bassist, keduanya adalah angkatan 2009. Ivan yang bermain keyboard, merupakan wisudawan dari angkatan 2006.

There exists a star above
That always steals my stare
And there exists a star on stage
That never seems to care
And then I saw it on your keyboard
And you saw it in my eyes
I didn't mean to scare you
You just seem really nice
And when I saw it on your keyboard
I knew at least I might have a chance
To catch a shooting star
There exists a melody
That just might change your mind
Oh, if only I knew the key
To sing to make you mine

Diandra tersenyum menyimak lagu yang dibawakan oleh Baskara dengan sungguh-sungguh. Ia menerka-nerka, alih-alih untuk wisudawan, sepertinya lagu itu ditujukan untuk Hana seorang. As she can see that his eyes is fixated on her, all night long. Dalam hatinya ia yakin betul, pasti Hana tidaklah tahu-menahu bahwa lagu itu sengaja dipersembahkan oleh Baskara untuk dirinya.

“Suara Ibas bagus juga ya.”

“Banget.”

Jawaban Hana membuat Diandra tersenyum, ia mulai memancing.

“Kayaknya Ibas nyanyi pake perasaan banget tuh… Anaknya baik lagi, Han. Lo suka?”

“Suka lah, lo tau sendiri gue suka nyanyi, kan enak kalo ada yang nemenin juga, apalagi kalo pake gitar. Sedikit-banyak selera musik kita mirip soalnya.”

Maksud hati ingin menanyakan apakah sahabatnya ini suka pada Baskara, tidak hanya musikalitasnya, tetapi Hana malah salah paham.

“Han, dengerin lagu Raisa yang Terjebak Nostalgia deh, cocok buat lo.” Katanya sembari tertawa kecil, menyebutkan lagu dari penyanyi baru yang belakangan ini menjadi favorit mereka berdua.

“Gue nggak gitu suka yang itu, terlalu sedih ah, Ndra.”

“Buat lo dan Ibas, Han, maksud gue.”

“Kok Ibas? Bukannya Bara?”

Diandra gemas, mengurungkan niat untuk memperpanjang omongannya, sahabatnya yang satu ini memang benar-benar oblivious.

Di penghujung acara, Baskara dan Hana terlihat bersama, menduduki kursi di meja bundar wisudawan yang telah pulang. Keduanya berhadapan.

“Bas, lo ganteng deh pake blazer itu. Tumben.” Kata Hana, tertawa.

Tawanya membuat Baskara salah tingkah, bingung mau menjawab apa. Apalagi baginya, gadis di hadapannya tampil luar biasa cantik malam itu.

She is the star that always steals my stare…” Pikirannya menerawang, memandangi Hana seraya tersenyum.


Bandung, Mei 2011

Baskara mengajak Hana ke Kantin Barak yang sudah tutup pada sore hari. Tidak ada siapa-siapa disana selain mereka berdua. Baskara duduk di samping Hana. Kemudian ia memberikan handphone dan earphone-nya. Kali itu, ia memberikan lagu buatannya sendiri kepada Hana. Hatinya semrawut. Pikirannya kacau balau. Jantungnya berdegup kencang. Rasanya 2 menit yang sama dengan durasi lagunya itu terasa seperti 2 tahun lamanya. Baskara memosisikan diri menghadap Hana yang masih menunduk. Setelah Hana mengangkat wajahnya, dengan lembut Baskara memegang lengan atas Hana dengan kedua tangannya.

“Semua orang tau, yang bodoh sekalipun, apa perasaanku ke kamu, Hana…”

Baskara menatapnya dalam-dalam, panas, menusuk jantung hati Hana yang dingin. Mungkin lagu yang baru saja diperdengarkan oleh Baskara telah menjalankan tugasnya, memberikan ruang bagi kehangatan untuk merayapi belenggu hati Hana yang selama ini menutup diri pada arti kata cinta. Di hatinya hanya ada Bara, cintanya sedari SMA. Namun kisah mereka berakhir 8 bulan silam. Dan Hana tidak akan membiarkannya kandas, lepas termakan oleh waktu. Ia yakin jodoh tak kemana, seyakin ia berjodoh dengan Bara.

Namun lagu dari Baskara meruntuhkan semuanya. Pertama kalinya, Hana membalas tatapannya, mengamati binar mata itu dengan sungguh-sungguh. Hana melihat ada ketulusan, dan itu membuat dirinya sedih. Sejak kapan? Sejak kapan Baskara menyimpan rasa padanya?

“Bas… Maaf.” Hanya itu kata yang mampu Hana ucapkan. Ia menangis, merasa bodoh akan sikapnya terhadap Baskara selama ini.

“Saya tunggu. Saya tunggu sampai kamu bisa lepas dari dia. Dan saya akan selalu ada disini.”

Lagu dari Baskara menduduki posisi pertama di iTunes-nya, 65 plays dalam hitungan jam, mengalahkan lagu-lagu dari band favoritnya, Hellogoodbye. Hana memutarnya  berulang-ulang sampai ia tertidur pulas.

Pagi ini, ada kah kau mengeja namaku?
Seperti aku mengujar namamu, dalam tiap hembus nafasku
Akan kah ku sibak teka-teki hatimu?
Seperti kau bisa membaca hatiku, layaknya sebuah buku
Aku tahu ini cinta
Karena bagiku, sinarmu mengimbangi mentari
Aku tahu ini cinta
Di mataku, parasmu bagai semburat lembayung senja, menari-nari
Aku tahu ini cinta
Di saat aku terjatuh dalam jujurmu, di setiap kata-kata
Walau ku sadari, kini diriku belum bermakna
Dan satu pagi nanti, akan kah kau mengeja namaku?

Pukul 02:18 dini hari, suara Baskara masih mengisi keheningan malam, mengantarkannya ke mimpi indah. Mungkin pada akhirnya tembok pertahanannya runtuh, ia jatuh cinta.


Bogor, Mei 2011

Hari itu mahasiswa tingkat tiga program studi Teknik Lingkungan mengadakan kunjungan lapangan ke PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI) sebagai bagian dari mata kuliah Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Para mahasiswa baru saja mendapatkan briefing dari pihak PPLI. Setelahnya, mereka akan kembali masuk ke dalam bis. Kunjungan lapangan ke tempat penyimpanan dan pengolahan limbah tidak boleh dilakukan dengan berjalan kaki, apalagi melihat atau menyentuh langsung. Karena PPLI merupakan tempat dengan paparan B3 yang tinggi, peraturan harus dilaksanakan dengan ketat.

Memberanikan diri, Baskara mengayunkan langkahnya menuju Hana yang sedang berdiri bergerombol dengan para sahabatnya.

“Saya nggak bisa tidur semalam,” bisiknya di telinga Hana.

Hana menoleh, mendapati dirinya tersenyum melihat sosok Baskara.

“Pantes aja muka lo acak-acakan,” katanya setengah tertawa, kemudian melanjutkan, “Tidur gue nyenyak semalem, thanks to you and your song.”

Sambil berbincang-bincang, Hana dan Baskara kemudian bersama-sama menaiki bis. Airina yang terkadang ikut berbincang dengan mereka, tak sengaja duduk di antara Hana dan Baskara.

“Hadeuh… Kenapa gue harus telat masuk bis?” Gerutunya kesal, merasa sial karena terpaksa duduk di tengah-tengah mereka.

Ia mulai merasa risih karena tidak paham dengan apa yang mereka perbincangkan, roaming.

Airina pun mengeluh, “Lo mau pindah ke tengah aja nggak?” Sambil melirik sahabatnya yang duduk di dekat jendela.

“Kenapa? Bukannya dari tadi juga lo ikut ngobrol?” Tanya Hana tak berdosa.

“Nggak deh, gue nggak mau ganggu.” Jawab Airina, semakin jengkel dengan Hana, memang terkadang sahabatnya ini oblivious, sampai-sampai ia gemas dibuatnya.

Lalu Hana dan Airina pun bertukar posisi. Hana sekarang berada di antara Baskara dan Airina. Ia tersenyum geli menyaksikan tingkah sahabatnya, kemudian berkata saat melihat Airina siap-siap untuk tidur karena ia sudah menutup mukanya dengan bantal.

“Kok ngambek sih? Hahaha kenapa deh? Jangan tidur wey, ini masih kunjungan!” Hana mencolek pundak Airina.

Airina tidak membalas, tapi ia pun tak tertidur. Pandangannya tertuju pada sisi kanan bis, melihat tempat penyimpanan limbah B3 di ujung matanya. Namun telinganya siaga, sudah siap untuk diam-diam mendengarkan pembicaraan Hana dan Baskara.

By the way, suara lo bagus deh, nggak mau jadi penyanyi aja?” Hana bertanya.

“Oh ya? Makasih. Mungkin karena saya nyanyinya dari hati…” Goda Baskara, meringis.

“Bisa aja lo!” Jawabnya diikuti oleh tawa.

“Jadi kamu suka? Laguku?” Baskara bertanya pelan-pelan.

“Suka, suka banget. Semalam gue dengerin sampe ketiduran hehe, makasih ya!”

“Sebenernya, saya ada satu lagu lagi yang mau dikasih ke kamu.”

Airina pun tersentak kaget. “Wah, Ibas bikinin Hana lagu? Niat juga dia. Mungkin ini udah waktunya Hana move on dari Bara…” Pikirnya dalam hati. Seulas senyum pun menghiasi bibirnya.


Puncak, Mei 2011

Supir bis memperlambat laju kendaraan dan menepi di sebuah restoran susu olahan yang terkenal di daerah Puncak. Baskara beranjak dari kursinya dan memberikan jalan agar Hana bisa keluar terlebih dahulu.

“Silakan, tuan putri,” katanya kepada Hana, layaknya pelayan yang mempersilakan tamu agung masuk.

Hana tersenyum riang dan melangkahkan kakinya keluar bis. Airina melempar pandang mencemooh ke arah Baskara, sambil bergumam dalam hatinya, “Dasar, madly in love banget sih ni anak berdua.”

Kemudian ia bermaksud beranjak dari duduknya dan keluar bis, tetapi Baskara menghalanginya,

“Eits, ntar dulu! Saya cuma mau kasih lewat Hana aja, sori ya.”

Airina memukul pundak Baskara, “Dasar!” Lalu keduanya tertawa.

Saat memasuki restoran, Hana memisahkan diri dari Baskara dan berbaur dengan Airina, Diandra, Raina, dan Felisha. Mereka duduk di meja dengan pemandangan gunung di depannya. Sebenarnya, keempat sahabatnya gemas ingin berbicara perihal Baskara. Namun mereka tahu persis, Hana bukanlah orang yang nyaman untuk bicara dari hati ke hati. Jika mereka mengutarakan pendapat mereka, apalagi menyarankan Hana untuk mempertimbangkan Baskara sebagai pengganti Bara, Hana pasti malah menjauhkan diri dari Baskara. Dan mereka tidak mau itu terjadi. Seperti Felisha, Airina dan Raina juga mengikrarkan diri sebagai ‘team Ibas’. Lain halnya dengan Diandra, sebagai orang yang terdekat dengan Hana, ia tahu betul, tidak mudah bagi sahabatnya itu untuk menggantikan posisi Bara di singgasana hatinya.

Sekembalinya ke bis, posisi duduk mereka tidak berubah. Airina duduk di pinggir, dekat jendela. Hana ada di sebelahnya dan Baskara ada di sisi kiri Hana. Felisha, Raina, dan Diandra duduk persis di belakang mereka bertiga. Tak lama setelah bis melaju, Diandra tertidur, meninggalkan dua temannya yang berbisik-bisik, tentu saja membicarakan Hana dan Baskara.

“Fel, ya ampun Hana ngobrol sama Ibas gitu banget…”

“Sshhh, udah biarin aja. Itu Hana lagi mengeluarkan aura kewanitaannya.”

Suara Hana dan Baskara memang cukup jelas terdengar oleh mereka berdua.

“Bas, gue nggak bisa bales lagu lo dengan lagu buatan sendiri. Lo tau sendiri kan gue sama sekali nggak bisa main alat musik.”

“Tapi suaramu bagus, Han.”

“Hahaha, ah elo bisa aja! By the way, nih, dengerin deh.” Hana memasangkan earphone di telinga mereka, satu di telinga kanan Baskara dan satu lagi di telinga kiri Hana.

I don’t know why, but your song reminds me of this one. And I just want you to hear it,” lanjutnya.

Segala bujuk rayumu buat sejuta ragu
Jantungku pun memacu, wow wow wow wow wow
Disini ku berdiri, mencoba mengerti arti hadirmu
Mengerti sinar di wajahmu, mengerti tenangnya jiwaku
Akhirnya ku mengerti, diriku memang untuk kau miliki
Bagai mentari pagi menyapa diri lewat hangatnya tatapmu
Kini mimpi di indahku tlah terwujud, jagalah binar cintaku

Begitulah penggalan lagu yang diperdengarkan oleh Hana untuk Baskara, Arti Hadirmu, yang dinyanyikan oleh Audy dan cukup terkenal di masa SMA dulu. Bukan, bukan lagi Terjebak Nostalgia, Hana tersenyum di hatinya. Entah berapa kali ia dengarkan lagu dari Raisa, penyanyi yang sedang naik daun, semenjak Diandra mengutarakan bahwa lagu itu cocok untuk dirinya dan Baskara, sampai akhirnya baru semalam ia paham. Ia paham bahwa keberadaan Baskara dan cintanya selama ini tidak dapat dirasakan olehnya, karena masih ada bayang-bayang Bara di hatinya, tak pernah berubah. Namun di hari itu, Hana sudah bertekad untuk memulai lembaran baru, dan memberikan kesempatan pada Baskara.

“Han, apa maksudnya? Kamu… Ini… Serius?” Katanya terbata-bata.

Jantung Baskara berdebar kencang. Dirinya tidak siap mendapati jawaban atas segala pertanyaannya selama ini.

“Gue baru sadar, Bas, gue bodoh banget selama ini. I take you for granted.”

“Artinya apa?”

“Lo kenapa sih gue lagi serius gini lo malah bikin ilfeel! Cari sendiri! Males ah jelasinnya hahaha.”

Baskara buru-buru mengetik kata-kata itu di layar handphone-nya, lalu menekan kata ‘search’ di halaman Google for mobile sebelum matanya kembali beralih ke Hana.

“Memangnya saya masuk kriteria kamu, Han?”

“He eh,” jawab Hana.

Smart?

Yes.”

Fun?

Yes.”

Gentle?

Absolutely.

Baskara menghitung ketiganya dengan jemarinya dan Hana mengangguk di setiap kata yang disebut olehnya, membuatnya tersenyum lebar.

Kemudian Hana berkata dengan pelan, “Bas, sori ya butuh waktu lama buat gue untuk sadar.”

Sontak Baskara ingin memeluknya saat itu juga.

Lagi-lagi, Raina merasa gerah. “Ini bahasannya personal banget deh, Fel, gue malu sendiri dengernya.”

“Udah lah, kita dengerin aja.”

Airina menengok ke belakang, “Ada yang mau tuker duduk sama gue nggak? Please…?

“Ke depan aja lo,” Felisha menengadahkan kepala ke arah depan bis, tempat Aluna dan Firzi duduk. Keduanya sedang dimabuk cinta.

“Ya kali gue nyamukin orang yang lagi asoy geboy pacaran! Sama aja!” Gerutu Airina kesal, bimbang memilih antara tidur atau tetap mendengarkan pembicaraan intim dua orang yang sedang jatuh cinta di sebelahnya.

Tak lama kemudian, Diandra yang ternyata sudah terbangun, terdengar berbicara, “Gue mual deh, mau muntah.”

Felisha dan Raina sibuk mencari kantung plastik dan tissue basah di kursi belakang.

“Ndra, please, tahan dulu.” Raina memohon.

Diandra muntah setelah Felisha memberikan kantung plastik kepadanya. Felisha memijit-mijit leher belakang Diandra. Raina memilih untuk tidak menyaksikan kejadian itu. Airina bangun dari duduknya, berlutut dan menghadapkan badannya ke belakang. Lalu ia berkata ke Diandra,

“Ndra, lo muntah karena jalanannya jelek apa karena dengerin dua kutu kupret menyatakan cinta?”

Hana dan Baskara ikut menoleh. Hana tertawa, sementara Baskara menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal itu, salah tingkah.

Maybe… a little bit of both,” jawab Diandra sambil menyengir kuda.


Bandung, Mei 2011

“Han, ke kosan saya dulu yuk, ambil CD buatmu.”

Baskara berkata kepada Hana sekembalinya mahasiswa TL 2008 di Bandung. Kemudian ia melanjutkan ke Airina, Felisha, dan Diandra, ketiga sahabat Hana yang biasanya pulang bersama.

“Hana sama saya ya, pinjam sebentar.” Baskara berkata seraya tersenyum.

“Lama juga gapapa, Bas.” Airina menggoda mereka.

Bye! Jangan lupa pakai pengaman! Stay safe!” Felisha meneriaki keduanya yang berjalan bergandengan ke arah parkiran motor Seni Rupa, lalu kata-katanya disambut oleh gelak tawa para sahabatnya.

“Ya Tuhan, mimpi apa saya semalam…” Baskara berpikir dalam hati, melirik gadis yang kini menjadi miliknya itu.

Hana pun ikut tertawa karena ulah Felisha. “Bas, jangan dipikirin ya, temen-temen gue gitu emang kalo becanda, nggak pake otak.”

Sore itu Baskara langsung mengantarkan Hana ke kosannya di Dago Asri. Di depan pintu pagar kosan, Baskara memberanikan diri mengatakan hal yang selama perjalanan pulang dari Puncak telah mengganggu pikirannya.

“Hana, saya ingin kamu lebih spesial dari teman-teman yang lain. Soalnya cara bicara saya ke kamu, sama seperti saya ke yang lainnya. Saya… ingin kita bicara pakai aku-kamu, boleh?”

Hana tersenyum, “Kenapa sih Ibas selalu semanis ini memperlakukanku?”, pikirnya dalam hati. Sebagai jawaban, ia mengangguk-angguk.

“Mulai besok ya, atau malam ini?” Tanya Baskara lagi.

Hana mulai tertawa kecil di hadapan Baskara, membuatnya jadi bingung.

“Kenapa harus minta izin segala sih, Bas? Mulai sekarang juga nggak apa-apa.”

Jawaban Hana mengukir senyuman di wajah Baskara.

“Dan satu hal lagi… Saya tunggu kamu untuk manja. Saya tau kamu orang yang mandiri, tapi saya ingin kamu manja ke saya. Boleh? Ya?”

Lagi-lagi Hana tertawa kecil, sampai-sampai Baskara gemas dibuatnya. Hana juga mengiyakan permintaan Baskara yang satu itu.

“Sampai jumpa besok, Hana.”

Detik selanjutnya, Baskara pun mendaratkan kecupan di kening Hana.

“Duileee yang lagi jatuh cintaaaaa.”

Kata-kata itu yang didengar oleh Hana setelah ia membuka pagar kosannya. Ternyata Felisha. Ia dan Diandra sedang duduk-duduk di teras depan bersama Ibu Kos mereka.

Fuck, lo liat? Apa denger?”

“Semuanya. Hahahahaha.”

“Anjir.”

“Hana atulah, ngomong teh dijaga, anak perempuan… Astaghfirullah.” Ibu Kos mereka pun mengelus dada, tetapi ikut tertawa.

“Meuni kasep pisaaan. Kapan-kapan kenalin lah, ke Ibu. Ajak makan bareng.”

Hana merasa salah tingkah karena tertangkap basah oleh kedua sahabatnya, terlebih lagi oleh Ibu Kos mereka. Namun ia tak ambil pusing. Tidak mau berlarut-larut dalam pembicaraan yang pastinya akan memojokkannya itu, Hana melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamar kosnya, tidak sabar ingin memutar CD yang Baskara berikan padanya.

Hana memasukkan CD yang didapatnya dari Baskara ke CD drive MacBook kesayangannya. Lagu baru, kali ini berbahasa inggris dan lebih ceria, walaupun masih terdengar mellow. Lagunya juga akustik, Baskara bernyanyi merdu dengan iringan gitarnya, tetapi Hana dapat mendengar ada satu pemain gitar lainnya. Mungkin Ucup, pikirnya, salah satu orang yang piawai dalam bermain musik di angkatannya, Dwisahasrastama. Lagi-lagi, lagu baru dari Baskara menjadi pengantar tidur bagi Hana di malam itu.

Hey, Angel
Do you know the reasons why, I look up to you standing afar? 
‘Cause you’re full of mystery, and no one understands who you are 
‘Cause you are well-rounded, yet always manage to get me surprised
Hey, Angel
Do you know that even sunrise are willing to trade place with you? 
‘Cause sometimes you look so beautiful, thus nature would be envious 
‘Cause sometimes people want to be with you, 
But not me, ‘Cause I always want to
Hey, Angel
When your cheek turns cherry-red, you’re messing with my head 
And when I see your bare face, I gotta embrace 
You
When I see your bare face, I gotta embrace you 
When I see your bare face, I gotta embrace you 
‘Cause I’m falling for you 
For you
When I hear your beautiful voice, I came to life 
I know you’re my queen by choice, making me feel alive

 —

Memilih Lupa

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Sudah berjalan 3 bulan semenjak aku resmi mengenakan seragam putih abu-abu. Setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, aku mencoret kalender di dinding kamar, menghitung sisa hari yang harus aku lalui di sekolah itu, sampai pindah ke sekolah baru pada semester dua nanti. Iya, itulah yang aku harapkan. Aku menjalankan aksi ngambek kepada kedua orang tuaku dan mengancam tidak mau lanjut sekolah, asalkan mereka mengizinkan aku pindah ke sekolah bersama dengan semua teman-teman dekatku di SMP dulu. Akhirnya, kami membuat perjanjian: aku boleh pindah sekolah pada semester dua dengan syarat tidak boleh bolos dan nilaiku harus bagus di penghujung semester satu. Aku yang tidak punya pilihan lain akhirnya menyetujui perjanjian tersebut.

Pukul 10 tepat, bel tanda jam istirahat pertama berbunyi. Hampir seluruh siswa di kelas berhambur keluar, menuju ke kantin. Aku hanya melemparkan pandangan ke pintu kelas seraya bergumam dalam hati, “Hhhhh, akhirnya, bisa terbebas juga dari orang-orang ini.”

Semenjak masuk SMA, sepertinya aku mengalami sedikit perubahan kepribadian. Sepertinya, aku bukanlah Airina yang cheerful dan friendly seperti dulu lagi. Aku sungguh tidak tertarik untuk bergaul dengan teman-teman baru di sekolah itu. Sebisa mungkin, aku lebih memilih menyendiri daripada harus berbasa-basi kepada teman-teman di kelas.

Aku juga jarang jajan di kantin, alasan pertamanya tentu saja karena aku tidak suka jalan ke kantin sendirian dan terkadang merasa terintimidasi oleh tatapan kakak-kakak kelas di sana. Pasalnya, waktu itu aku pernah jajan di kantin, lalu duduk di barisan meja yang kosong. Ketika aku tengah melahap makan siang yang hampir habis, segerombolan kakak kelas menghampiri diriku seperti siap menerkam sewaktu-waktu. Aku dilabrak karena meja itu adalah meja khusus anak-anak cheerleaders, dan bagi mereka, aku–si anak bau kencur yang baru masuk ke sekolah itu–sudah lancang duduk disana tanpa izin.

Cewek-cewek itu secara bergantian meneriaki aku dengan kata-kata kasar yang beberapa diantaranya masih sangat aku ingat sampai sekarang, “Cari mati ya lo?!” dan “Udah berani sama senior?!”

Entah bagaimana, tetapi saat itu aku berhasil menjawab mereka dengan tenang, “Oh, maaf kak, habis mejanya kosong. Mungkin lain kali dikasih tulisan aja di mejanya biar nggak ada yang dudukin. Lagian aku udah selesai juga makannya, kalau kakak mau duduk, silahkan aja, happy to share.”

Tentu saja perbuatanku itu disambut dengan tatapan tidak percaya dari senior-senior sangar itu. Kemudian aku berjalan menuju ke kelas, meninggalkan gerombolan senior itu. Aku tidak langsung kembali ke kelas, tetapi ke toilet perempuan. Melihat toilet yang kosong, aku langsung menangis sejadi-jadinya. Setelah beberapa saat, aku hapus air mata yang membasahi pipiku, menarik napas panjang, dan akhirnya melangkahkan kaki ke kelas.

“Gue benci jadi anak SMA! Fuck this school!”

Aku ingat umpatan itu. Bahkan hampir sepanjang semester pertamaku di SMA, umpatan itu selalu terngiang di telingaku.

I really hate that school.

Alasan selanjutnya adalah hampir setiap hari aku membawa bekal makan siang. Setiap jam istirahat, supir keluargaku akan mengirim SMS yang mengatakan bahwa ia sudah ada di depan gerbang sekolah untuk memberikan bekal makan siang. Sejak kecil, Mamaku memang protektif, ia melarang semua anak-anaknya untuk jajan di luar, bahkan kantin sekolah pun menjadi pilihan terakhir. Jadi, Mama selalu membuatkan bekal makan siang dan mengirimnya saat jam istirahat agar makanannya masih hangat.

Lain hal pada hari itu, aku sedang berpuasa, maka tidak ada kiriman bekal makan siang untukku. Aku menutup buku Biologi yang tergeletak di atas meja, mengeluarkan earphone dari dalam tas, dan mendengarkan radio di handphone T-Mobile Sidekick 2 kesayanganku, yang dibelikan Papa sebagai hadiah masuk SMA saat kami sekeluarga berlibur ke Los Angeles empat bulan yang lalu. Aku memilih frekuensi 101.4 Trax FM, saluran radio kesukaanku, lalu menelungkupkan kepala di meja, memejamkan mata.

Baru sekejap aku merasa rileks, seseorang melepaskan earphone dari telinga kananku. Aku mengangkat kepala dan rasanya ingin marah, tetapi saat melihat wajah orang yang melepaskan earphone itu, emosiku pun mereda seketika.

“Eh?” Ternyata Bagas.

“Kenapa?” Tanyaku kepada Bagas yang sedang membetulkan posisi duduknya di bangku sebelah kananku.

“Kok tumben lo nggak keluar ngambil bekal makan siang lo?” Tanya dia berhati-hati, seolah selama ini dia diam-diam mengamati kebiasaanku.

“Puasa,” jawabku datar.

“Oh. Kenapa lo tiduran aja? Kok gue perhatiin lo tidur mulu sih?”

Bagaimana aku tidak suka tidur di kelas? Mejaku berada di pojok kiri barisan paling belakang, dan Wali Kelas kami tidak pernah menyuruh posisi duduk untuk dirotasi. Beruntungnya aku, posisi itu adalah tempat yang tepat untuk mencuri-curi tidur di waktu istirahat.

Tentu saja aku tidak menjelaskan panjang lebar jawaban itu ke Bagas, dan hanya memilih untuk mengucapkan satu kata, “Ngantuk,” jawabku singkat.

“Dengerin apa tuh? Mau dong sebelah-sebelah dengernya,” kata Bagas seraya menunjuk sebelah earphone-ku yang tergeletak di meja.

Dalam hati aku merasa jengkel, “Ini anak kenapa ganggu terus deh, heran,” tetapi gestur tubuhku berkata lain dan memberikan earphone itu ke tangan Bagas. Aku tidak tahu ada apa dalam dirinya, tetapi terkadang kehadirannya membawa kekesalan sekaligus ketenangan untukku di waktu yang bersamaan. Semacam love-hate relationship.

“Nih, dengerin aja.”

Kami berbagi earphone dan mendengarkan lagu dari saluran radio kesukaanku. Waktu istirahat kami habiskan dengan menyenandungkan pelan lagu-lagu yang diputarkan oleh penyiar Trax FM. Ternyata, selera musik Bagas sama dengan selera musik yang aku suka.

Untuk sejenak aku merasa betah berada di sekolah itu. Entah lupa atau memilih untuk lupa. Yang pasti, keberadaan Bagas di sampingku telah membuat sedikit banyak beban di pundakku terasa lebih ringan.

Sejak hari itu, hampir setiap hari, Bagas mendatangi aku ke meja belajarku. Kadang kami hanya berbincang dan bersenda gurau. Satu hal yang pasti dikomentari olehnya adalah Sidekick milikku, bejeweled with pink stones, yang memang sengaja aku tambahkan di seluruh permukaannya agar mirip dengan kepunyaan Nicole Richie. Suatu hari Bagas mencemooh idolaku itu dengan berkata,

“Heran deh, nge-fans kok sama Nicole Richie. Bapaknya tuh baru cocok jadi idola!”

“Kata siapa gue nggak suka bapaknya? Yee, sotoy deh.”

Kadang Bagas sengaja membawa makan siang yang dibelinya di kantin dan menemaniku menghabiskan bekal makan siang di kelas. Dan jika aku tertidur, Bagas tetap duduk di sampingku, mendengarkan saluran radio yang juga telah menjadi kesukaan dia, lewat earphone-ku. Terkadang saat aku tertidur, Bagas memainkan rambut panjangku, menarik-nariknya lembut, helai demi helai.

Suatu hari, seperti biasa kami melakukan ritual di jam istirahat dengan mendengarkan saluran radio kesukaan kami dari handphone-ku, Bagas berkata pelan, “Jangan pindah ya, gue nggak mau kehilangan lo…”

Saat itu, aku yang baru saja memejamkan mata dan belum tertidur, mendengar suara Bagas. Sepenggal kalimat yang memberikan kehangatan dalam diriku. Satu hal yang Bagas tidak tahu, dibalik wajahku yang tersembunyi itu, aku tersenyum kecil, merasa bersyukur bisa memiliki teman seperti dirinya.

Hari pun berganti menjadi minggu. Dan minggu kemudian bergulir menjadi bulan. Tak terasa, aku pun mulai melupakan coretan-coretan kalender di dinding kamarku, dan pada akhirnya memilih lupa akan perjanjianku dengan Mama dan Papa.

Finally, I found that one friend who I’d like to spend my high school with.

Yet, back then I was not aware to be the one he could never really get over with.

It’s always been him

Bandung, Februari 2011

Hana tidak ingat hari itu tanggal berapa. Bahkan ia tak ingat bagaimana ia bisa berada di ruangan itu, duduk di bangku itu. Hana melirik jam tangannya, pukul 10 malam. Di sebelahnya ada Felisha, semangat mencatat, duduknya resah, pertanda sahabatnya itu sedang excited. Di sisi lainnya ada Diandra, sibuk bermain dengan handphone-nya. Hana mengarahkan pandangannya ke depan, sudah terlalu lama ia menatap langit-langit, sampai-sampai tak mengerti apa yang terjadi di sekitarnya. Baru saat itu ia sadari, ia sedang berada di tengah-tengah Musyawarah Kerja (Muker) Badan Pengurus (BP) HMTL periode 2011/2012. Firzi ada di depan kelas, bersama satu tim BP-nya, yang beberapa bulan belakangan ia pilih berdasarkan kompetensi dan rekomendasi dari teman-teman maupun massa himpunan.

Tak lama setelah Departemen Keprofesian menyelesaikan presentasinya, kepanitiaan inti Kuliah Lapangan (Kulap) Dwisahasrastama dipanggil maju ke depan, diminta untuk memaparkan rencana program kerja yang bisa dibilang cukup besar itu. Biasanya, Kulap akan dilangsungkan di ujung kepengurusan BP, yaitu di awal tahun. Peserta yang merangkap sebagai panita Kulap adalah angkatan yang menjabat saat itu, yang tak lain adalah Dwisahasrastama.

Diandra menyenggol lengan Hana yang sedari tadi dipakai untuk memangku wajahnya termangu.

“Oy, maju lo!”

Hana berpikir keras, “Ah, iya. Mereka milih gue jadi koordinator acara.” Lalu melangkahkan kakinya ke depan, lemas.

Babak belur. Mungkin itu satu-satunya hal yang pantas untuk menggambarkan presentasi malam itu, terutama untuk panitia inti Kulap. Mereka diserang habis-habisan oleh massa himpunan, dan yang paling parah oleh Mahasiswa Tingkat Akhir (Swasta). Bagaimana tidak, ini kali pertama ada angkatan yang menyebut tujuan Kulap ke luar negeri. Tidak jauh memang, hanya ke Batam dan Singapura. Itu pun berkat dukungan dan dorongan dari beberapa dosen yang membicarakan hal ini ke angkatan mereka. Tapi tetap saja, keinginan mereka harus kukuh, itikad mereka harus kuat, rencana pun harus matang, karena itulah massa himpunan dan Swasta datang untuk memberikan kritik yang membangun bagi mereka. Sayangnya, kebanyakan dari mereka tidak siap. Hana tidak siap. It caught her off guard.

Di ujung meja, ada Baskara yang sedari tadi memperhatikannya. Baskara juga merupakan panitia inti Kulap, ia terpilih sebagai Korlap. Mungkin karena angkatannya merasa ia sukses memikul jabatan itu saat Wisuda April 2010 silam. Yang jelas ia bersyukur, bisa bekerja berdampingan bersama Hana, sekali lagi. Tetapi ia tahu, ada yang salah dengan Hana malam ini. Seusai Muker selesai, Baskara menghampiri Felisha.

“Fel, Hana kenapa?”

“Yah lo kayak gak tau aja.” Felisha menjawabnya, enteng.

“Hana bawa mobil?” Nada bicara Baskara terdengar semakin khawatir, “Saya rasa dia gak bisa nyetir malam ini. Saya yang nyetirin kalian aja ya, sampai Dago Asri.”

“Terus nanti lo pulang gimana? Motor lo?”

“Saya tinggal di kampus.”

“Ga usah lah, repot, Bas. Gue aja yang nyetir,” dengan sigap Felisha mengambil kunci mobil di kantung jaket Hana.

Seperti biasa, Hana hanya menerawang, pandangannya jauh. Sebenarnya, pemandangan itu bukanlah hal yang biasa bagi teman-temannya. Hanya dalam lima bulan belakangan, Hana seperti ada dan tiada. Ia ada, tapi pikirannya kemana-mana. Hal itu cukup membuat sahabatnya frustasi, seperti Felisha contohnya, yang melampiaskan rasa itu jadi rasa benci kepada Bara. Bagaimana tidak, setelah pacaran selama lebih dari tiga tahun, Hana dan Bara memutuskan hubungannya lima bulan lalu. Tidak ada yang tahu persisnya. Tidak ada yang berani mendesak Hana untuk bercerita. Mereka tahu, she likes to keep her emotions in her head. Dan setiap mendengar kata Bara, dengan cepat air mata akan menggenangi kedua bola matanya.

“Bara. It’s always been him,” pikiran Baskara mengikuti jejak langkah Hana yang berjalan menuju ke lapangan parkir Seni Rupa. Baskara berpikir harus berbuat apa. Berharap suatu saat nanti, Hana bisa melihat sosoknya, dan siap menerima cintanya.


Bandung, Maret 2011

“Han, bangun!” Suara Diandra terdengar keras di telinga Hana, membuatnya menarik selimutnya lagi.

Felisha terlihat duduk di ruang tengah, tentu saja sudah siap. Ia sedang membuka catatan pelajaran, mencoba mengulang dan mempersiapkan materi yang akan dikerjakan. Tadinya ia simpatik pada Hana, tapi ini sudah enam bulan, dan ia tidak akan membiarkan sahabatnya mati dengan menyalahkan cinta. Felisha menaiki tangga ke lantai dua, lalu berkata pada Diandra,

“Ndra, lo sarapan aja dulu. Biar ini anak gue yang urusin.”

Beruntungnya, Hana, Diandra, dan Felisha tinggal di satu kosan yang sama di Dago Asri. Dari mereka bertiga, Hana yang paling susah bangun tidur. Apalagi jika ada tragedi putus cinta, Hana memilih untuk tidak bangun dan bolos kuliah.

“Han, mau sampe kapan sih lo?” Nada Felisha terdengar gusar.

“Gue sakit, Fel, gak enak badan.” Suara Hana terdengar lemas.

“Apa yang sakit?”

“Disini. Dada gue sesek.” Hana meringis sambil mengusap dadanya, mukanya terlihat kesakitan.

Felisha tahu, sahabatnya hanya sakit hati, bukan sakit jantung. Karena itu, ia hanya membalasnya sambil tertawa.

“Udah deh, alesan aja lo! Buru bangun, kalo gak kita telat! Gue males naik ojek. Nanti rambut gue berantakan.” Felisha menyibak selimut Hana dan melemparnya ke lantai.

Felisha dan Diandra tahu, Baskara menyimpan rasa pada Hana. Terkadang, Hana tidak bisa tidur di malam hari. Namun kedua sahabatnya bukanlah night person, tidak ada yang bisa menemani Hana berlarut-larut dalam kegalauannya. Felisha yang memiliki kamar persis di sebelah Hana, diam-diam suka mendengar suara Hana berbicara pada seorang lelaki. Ia tahu persis itu bukan suara Bara. Dalam hatinya ia berharap, itu Baskara.

“Gue team Ibas.” Begitulah ikrar Felisha ke teman-temannya. Ibas merupakan nama panggilan Baskara.

“Gue siapa aja lah, tapi gue prefer Bara kalo Hana emang masih sayang sama dia.” Diandra angkat bicara.

Tentu saja saat itu Hana tidak tahu-menahu, bahwa para sahabatnya yang sayang padanya ini, membicarakan dirinya di belakang.

“Emang Ibas suka sama Hana?” tanya Aluna, yang hanya dibalas dengan cemoohan teman-temannya.

“Ibas sering tau ngobrol di Skype sama Hana.” Airina bicara pelan-pelan.

“Lo tau darimana deh?” Tanya Diandra.

“Ibas curhat sama gue kalo dia lagi deketin Hana. Nah suatu hari dia bilang ke gue, nyuruh gue install Skype di laptop, karena dia jarang liat hp kalo di kosan.”

“Kenapa?” Ketiganya bertanya dalam waktu bersamaan.

“Nah gue juga tanya Ibas, kenapa? Dia jawab, karena kalo di kosan, saya suka Skype sama Hana. Biar sekalian aja cerita sama kamu, jadi gak perlu di dua tempat.”

Felisha teringat suara sayup-sayup di malam hari, yang terkadang memang diiringi suara gitar. Ia tahu Baskara piawai dalam bermain gitar. Felisha tersenyum senang. Ia rasa, Baskara adalah orang yang cocok untuk Hana.

“Terus, terus?” Lagi-lagi, bersamaan.

“Dia bilang responnya baik.”

“Baik apanya sih, gue rasa Ibas ngigo deh. Hana kayak batu gitu belakangan ini.” Kata Diandra sinis, tak percaya.

“Ya mungkin aja kan? Siapa tau dia lebih alive kalo sama Ibas. Lo liat sendiri kalo mereka lagi ngobrol, kayak… kayak…”

Like there is a chemistry between them.” Felisha menyelesaikan kalimat Airina, “I see it as well,” tambahnya, tersenyum lebar.

“Han, halo? Denger gak?”

“Oit, Bas. Denger.”

“Video kamu gak ada.”

“Oh iya sebentar, gue pindah ke kasur dulu. Hai!”

Minimal tiga kali seminggu, Baskara dan Hana menghabiskan malam mereka melalui Skype. Dimana yang empat harinya, kalau tidak diisi dengan rapat Kulap, mereka akan makan malam bersama. Biasanya, saat akhir pekan, Baskara dan Hana bersama teman-teman Dwisahasrastama akan pergi karaoke semalaman atau menonton film di bioskop. Hari-hari Baskara diisi dengan kegiatan bersama gadis impiannya. Sayangnya, bagi Hana, semua hanyalah kegiatan yang memang harus ia lakukan, sebagai distraksi pikirannya dari Bara, dan juga, perasaannya.

Bagi Hana, memiliki Baskara di sisinya sangatlah comforting. Hana seperti menemukan belahan dirinya yang lain. Hana merasa banyak kemiripan dirinya dan Baskara. Hana tak pernah perlu menjelaskan apa yang ia pikirkan dengan lengkap dan apa yang ia rasakan dengan jelas, karena Baskara selalu tahu persis. Entah bagaimana, di mata Hana, Baskara adalah an open book, yang dapat ia baca dengan jelas. Dan menurut Hana, Baskara pun merasakan hal yang sama. They could even finish each other’s sentences. Terkadang, yang mereka lakukan hanyalah saling tatap, membiarkan mata mereka berbicara.

Hana pernah berkata, “Bas, I guess you are the boy version of me.”

Di beberapa malam, Hana tidak dapat tertidur. Dan Baskara selalu ada disana, bernyanyi dengan gitarnya, bercerita tentang kota tercintanya, Yogyakarta, sampai Hana tertidur pulas. Di malam lainnya, banyak sekali yang mereka bicarakan, mulai dari masa kecil, keluarga, buku favorit, penyanyi favorit, namun tidak tentang cinta. Baskara tidak mau membicarakan tentang Bara. Ia ingin Hana lupa akan nama itu, walaupun hampir pasti tidak mungkin. Pernah mereka membicarakan lagu favorit, Hana sangatlah suka band asal Amerika Serikat, Hellogoodbye, dan lagu kesukaannya adalah ‘Oh, It is love’. Saat Baskara memutarkan lagu itu di playlist laptopnya, raut wajah Hana berubah.

Oh, it is love from the first time I set my eyes upon yours,
Thinking, “Oh, is it love?”
Oh, dear, It’s been hardly a moment and you are already missed
There is still a bit of your skin that I’ve yet to have kissed
Oh say please do not go
But you know, oh, you know that I must
Oh say I love you so
But you know, oh, you know you can trust
We’ll be holding hands once again
All our broken plans I will mend
I will hold you tight so you know
It is love from the first time I pressed my lips against yours
Thinking, “Oh, is it love?”

Hana mencari-cari handphone miliknya. Kemudian saat ia berhasil menemukannya, di layar itu tidak ada apa-apa. Hatinya mencelos, ia pikir Bara meneleponnya. Frustasi, Hana membenamkan kepalanya ke bantal. Baskara yang melihat seluruh kejadian itu pun tersadar. Ternyata, lagu itu merupakan ringtone Bara di handphone Hana.

Rasa cemburu merayapi dirinya kembali, sama seperti beberapa bulan belakangan, sama seperti setahun yang lalu. “Bara. Lagi-lagi dia. It’s always been him.”


Bandung, April 2011

Baskara mengajak Hana makan malam, makan tengah malam, lebih tepatnya. Malam itu, rapat panitia inti Kulap berlangsung selama berjam-jam, dan mereka belum sempat makan berat. Baskara mengajak Hana ke Setiabudi. Mereka makan nasi goreng di warung kesukaan Hana, Nasi Goreng AEPS, yang ternyata adalah kependekan dari Asik Enak Pas Sedapnya. Karena porsinya yang besar, Hana meminta untuk berbagi bersama Baskara, yang tentu saja diiyakan olehnya.

“Kapan lagi makan sepiring berdua? Kayak orang pacaran…” Baskara berangan-angan.

Setelahnya, Baskara mengajak Hana menyantap Surabi Enhaii. Dan lagi-lagi, sepiring berdua. Baskara senang, tak sengaja ia menggapai tangan Hana, menyentuhnya lembut. Kaget, Hana menarik tangannya. Lalu ia menundukkan kepalanya, lesu.

“Han, maaf… Saya gak maksud.”

It’s always been him.” Sedih, Baskara mengulangi kata-kata itu dalam hatinya.

“Iya gapapa, Bas.” Senyum Hana terlihat dipaksakan, lalu ia meminta Baskara untuk mengantarnya pulang.

Berbeda dari awal sewaktu mereka berangkat ke Setiabudi yang diiringi oleh obrolan dan canda tawa, kali ini motor Baskara melaju cepat membelah jalan malam, diselimuti oleh kesunyian dan suara hati masing-masing yang teredam. Tak lama terdengar suara petir, lalu tiba-tiba hujan turun dengan deras. Baskara menepikan motornya di persimpangan Cihampelas.

“Tunggu reda dulu ya, Han. Terlalu deras, nanti kamu basah kuyup.”

“Iya.”

Suara guntur menggelegar, mengikuti kilat yang menyambar langit hitam Bandung malam itu, hujan semakin deras. Tempat mereka berteduh pun semakin lama semakin basah terkena tampias air hujan.

“Han, pindah yuk, kesana?” Baskara menunjuk warung yang sudah tutup, terletak 10 meter di depan mereka.

Hana mengangguk. Baskara meraih tangannya, menghitung sampai tiga, lalu mereka berlari menerobos derasnya hujan sambil tertawa. Sesampainya di tempat berteduh, Hana dan Baskara mulai dapat mengobrol dengan santai, ceria seperti biasa. Mungkin hujan yang membuat rasa tak nyaman yang tadinya dirasakan oleh mereka, luntur. Baju keduanya basah karena air hujan. Dan kali itu, Hana tidak melepaskan genggaman tangannya.

You Fit Me Better Than My Favourite Sweater

Bandung, Desember 2011

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Tidak terasa, sudah lebih dari 3 tahun yang lalu aku meninggalkan bangku SMA. Beruntungnya, masa SMA yang dulunya kelam itu bisa berakhir dengan menyenangkan, dan yang terpenting: I successfully made friends with a bunch of those strangers. I even had this little inner circle–with Ayu, Bagas, Nugi, Randy, dan Reza–yang akhirnya membuat masa-masa di sekolah menjadi lebih berwarna. Setelah lulus, aku dan kelima sahabatku di SMA terpaksa berpencar karena kami masuk ke perguruan tinggi yang berbeda-beda. Ayu is pursuing her dreams to be a doctor, di universitas terkemuka di Indonesia, Randy masuk Teknik Kimia di universitas yang sama. Aku rasa, mereka berdua memang jodoh, sejak mulai berpacaran saat kelas 2 SMA mereka tidak pernah terpisahkan. Nugi mengambil jurusan Teknik Nuklir di universitas negeri di Yogyakarta. Sementara itu, aku berhasil masuk ke Institut Terbaik Bangsa, di Bandung, bersama dengan Bagas dan Reza. Kami bertiga harus melewati Tahap Persiapan Bersama (TPB) dulu sebelum masuk ke jurusan yang kami inginkan. Bagas akhirnya masuk ke jurusan Teknik Fisika, Reza di Teknik Sipil, dan aku masuk ke Teknik Lingkungan. Karena hal itu juga lah, I grew closer to both of them. Kadang aku merasa bersyukur ada mereka berdua di kota ini, aku jadi merasa less lonely karena mereka selalu siap sedia menemaniku. Tidak dengan Reza sih, dia lebih sering unavailable karena sibuk berkencan dengan wanita yang berbeda-beda, sampai-sampai aku lose track dengan nama-nama “teman spesialnya”, yang setiap kami bertemu entah bagaimana kerap kali berubah.

Semester 7 sebentar lagi akan berakhir. Itu artinya, aku sudah resmi menjadi mahasiswa tingkat akhir (swasta) dan sudah mulai gelisah dengan persiapan Tugas Akhir (TA). Tahun-tahun studiku di Bandung pun akan segera berakhir pula. Minggu itu adalah minggu perkuliahan terakhir menjelang Ujian Akhir Semester (UAS). Seperti swasta pada umumnya, kebanyakan teman-temanku di jurusan juga mulai memusatkan fokusnya pada TA. Hal itu jugalah yang terkadang membuat hubunganku dan Arya jadi kurang harmonis, karena jika sedang tidak sibuk dengan TA dia akan lebih memilih untuk nongkrong atau main bowling dengan teman-temannya. Boys will be boys, I know.

Sore itu, langit Bandung tampak mendung dan hawa dingin menggigit kulitku. Aku lupa membawa jaket, padahal hari sebelumnya aku sudah janji, kalau sehabis kelas berakhir pukul 18:00 aku akan pergi makan malam dengan Bagas. Saat aku beranjak meninggalkan kelas, ponselku bergetar dan namanya muncul di layar.

“Halo?” Sapaku.

“Udah beres belom? Gue tunggu di gerbang depan ya!” Sahut suara di telepon.

“Be there in 5 minutes.”

Hari itu, kelas Manajemen Teknik Lingkungan berlokasi di ruang 9009 dan jaraknya cukup dekat dengan gerbang depan. Hanya perlu sedikit waktu bagiku untuk menghampiri Bagas yang menunggu aku di parkiran gerbang depan.

“Lama ga nunggunya? Sorry ya, hehe…”

“Nggak kok, pas banget gue baru aja sampe. Mau makan apa kita? Any special request? Lagi ngidam apa lo?” Tanya Bagas sambil mengenakan helm-nya.

“Hmmm, apa yah? Gue lagi males mikir nih mau makan apaan, Gas. Terserah lo aja deh. Asal enak dan bersih ya!” Jawabku sekenanya.

“Eh, Arya kemana? Berantem lagi ya lo?”

“Ih, engga kok, dia lagi pergi sama temennya. Gue udah bilang mau makan sama lo hari ini.” Entah kenapa setiap kali Bagas bertanya tentang pacarku, selalu saja ada prasangka buruk di belakangnya.

“Apaan sih lo, sukanya suudzon mulu deh.” Tambahku sambil cemberut.

Bagas tergelak mendengar jawabanku. Ia bersiap menyalakan mesin motornya sampai akhirnya dia tersadar, “Loh, lo nggak pake jaket? Nggak kedinginan? Duh, ntar kalo lo sakit kan gue juga yang ikutan repot.” Bagas menggerutu memarahiku yang lagi-lagi lupa membawa jaket.

Terkadang, aku memang suka lupa kalau sekarang aku tinggal di kota dingin yang jauh berbeda dengan kota yang serba panas, Jakarta. Walaupun tinggal di Bintaro, sejak kecil aku bersekolah di bilangan Jakarta Selatan. Daerah tempatku menghabiskan masa kecil mungkin tidak sepanas daerah lainnya di Jabodetabek, tapi tetap saja, jika dibandingkan dengan suhu Kota Bandung yang berkisar belasan derajat celcius itu, cuaca panas di kota asalku membuat aku gerah, bahkan hanya dengan memikirkan kata ‘jaket’.

Bagas melepas jaket kesukaannya, varsity jacket berwarna hitam, dengan lengan berwarna krem, yang aku tak tahu apa jangan-jangan warna sebenarnya itu putih dan Bagas terlalu malas untuk mencuci jaket kesayangannya itu. Kemudian Bagas menyampirkan jaketnya ke pundakku. Aku lihat ada patch baru di lengan kanan, aku tersenyum. Sahabatku itu memang koleksi patch bordir, yang semua koleksinya ia jahitkan ke jaket kesayangannya itu. Salah satunya adalah club sepak bola favoritnya, Juventus, dan beberapa band yang dia suka, Aerosmith dan The Rolling Stones.

“Nggak usah protes!” Katanya sambil mengacak-acak rambutku. Seolah ia tahu, aku pasti akan berisik, entah bilang maaf atau terima kasih, ataupun keduanya.

Aku tersenyum lemah, menurut. Lalu aku mengendus jaket yang Bagas berikan sambil mengernyitkan dahiku.

“Udah berapa bulan nggak dicuci nih jaket?” Tanyaku ke Bagas dengan tatapan penuh curiga.

“Baru tiga hari, ya ampun. Segitunya deh… Emang bau? Nggak kan?”

Aku cuma bisa cemberut tetapi tidak protes dan tetap memakai jaket Bagas yang sudah dekil itu. Padahal biasanya aku paling anti sekali dengan hal-hal yang tidak bersih sesuai dengan standarku yang memang bisa dibilang cukup aneh.

708617937593806060516

Gue cuma bisa tersenyum kecil, dalam otak gue terbersit sepenggal lagu dari Lana Del Rey, Blue Jeans.

But you fit me better than my favourite sweater, and I know.”

Iya, gue lebih memilih mengemudikan sepeda motor tanpa memakai jaket, asalkan bersama dia, Airina, ketimbang harus memakai jaket favorit gue dan tidak ada dia di bangku belakang, “Yeah, she suits me better.”

Gue melajukan sepeda motor ke Jalan Dipatiukur, dan rasanya Bandung tidak pernah sedingin itu. Mungkin faktor Airina yang duduk di bangku belakang membuat gue nervous dan keringat dingin. Sebenarnya, sulit rasanya mengesampingkan perasaan yang gue simpan ini dan bersikap dingin kepada my petite girl sedari SMA, tetapi selalu gue coba karena gue tidak ingin kehilangan sahabat karena cinta.

Bros before hoes,” dan gue menganggap Airina sebagai one of my best bros.

Setelah gue dan Airina menghabiskan satu porsi Bakmi Djowo dan satu pot teh poci hangat, dia memandang gue yang duduk di hadapannya. Shit, dia pasti sadar lihat wajah gue yang meringis kedinginan.

“Kenapa, Bagas? Dingin ya?” Tanya Airina lembut.

Gue tertawa lemah, melupakan gengsi gue, “Haha, iya nih. Dingin euy ternyata.”

“Makanya nggak usah sok gitu pake ngasih jaket ke gue segala. Kedinginan kan sekarang jadinya…” Airina mengejek.

“Nanti ngambil jaket dulu lah ke kosan gue. Baru abis itu ke tempat lo ya.”

“Nggak usah ih, repot. Udah, pake aja jaket lo nih,” Airina kemudian melepaskan jaket yang dikenakannya dan memberikannya ke gue. Gue hentikan tangannya.

No, no. Lo tetep pake tuh jaket. Nggak usah bawel.” Gue tidak mengambil jaket yang dia berikan dan mengakhiri perdebatan kami.

Kosan gue terletak di Jalan Teuku Angkasa, dekat dengan Jalan Dipatiukur, tempat dimana gue dan Airina menyantap makan malam. Saat masuk ke dalam kosan, si Bibi penjaga kosan menyapa Airina ramah karena memang sudah sering Airina mampir kesini.

Gue membuka pintu kamar, Airina langsung menghambur masuk ke dalam dan matanya menyapu sekeliling ruangan. Kamar kosan gue itu berukuran 3×3 meter persegi, ada jendela yang cukup besar, dan kalau siang hari sinar matahari masuk menerangi ruangan. Di pojok kanan terdapat tempat tidur yang menghadap ke arah pintu masuk, dan tentu saja di ujungnya terdapat tumpukan baju dan kaos kaki kotor milik gue. Di pojok lainnya, ada sebuah lemari kayu dan meja belajar. Buku-buku kuliah, fotokopian catatan, dan contoh soal ujian tahun lalu berserakan di meja belajar dan juga di lantai–apalagi menjelang minggu UAS seperti saat itu, kamar gue udah nggak jelas wujudnya. Dinding di atas meja belajar ditutupi oleh berbagai macam foto, dari mulai foto kelas sewaktu gue tingkat pertama dulu, foto angkatan Teknik Fisika 2008, hingga berbagai macam kepanitiaan yang pernah gue ikuti selama kuliah. Bagian itu adalah spot favorit Airina. Gue masih ingat dirinya lah yang sibuk menempelkan foto-foto itu ke dinding. Gerah katanya, melihat banyak foto menumpuk di laci meja belajar gue.

“Nah, kalo gini kan lebih enak tuh diliatnya!” Katanya setelah selesai menata spot favoritnya di kamar gue waktu itu.

Kondisi kamar gue sepertinya nggak banyak berubah sejak Airina mampir beberapa bulan lalu, selalu berantakan dan tidak terurus. Namun sepertinya, ada sesuatu yang menarik pandangan matanya. Dia berjalan menghampiri foto-foto berukuran besar yang menempel di dinding, dan saat sudah dekat, telunjuknya menunjuk wajah-wajah familiar tersenyum di dalam salah satunya. Airina memandangi foto wisuda kami semasa SMA, yang baru saja gue cetak dan tempelkan disana. Entah kenapa, gue lagi kangen aja sama sahabat-sahabat SMA kami karena sudah mulai jarang bertemu.

Di sisi kamar yang masih lowong, ada meja kecil tempat gue meletakkan televisi dan Playstation, dan lantainya gue alasi karpet. Beberapa bantal berukuran jumbo berserakan di karpet itu. Sedari tadi gue sudah menahan napas karena tahu habis ini Airina tidak akan berhenti mengomentari kondisi kamar gue yang jorok dan berantakan.

“Gila, kok bisa sih ada orang sejorok lo? Betah ya tidur di kamar berantakan banget kayak gini?” Kata Airina sambil duduk di atas tempat tidur.

Gue hanya bisa memandanginya seraya tersenyum, gue tahu betul apa yang akan terjadi setelah itu, karena sudah hafal di luar kepala dengan kelakuan sahabat gue yang satu ini. Seperti yang sudah gue prediksi, Airina mengomel tetapi tangannya gatal dan tidak tinggal diam melihat tumpukan baju dan kaos kaki kotor di ujung kasur gue itu, lalu memasukkannya ke keranjang baju kotor di pojok kamar dekat lemari kayu. Ia mengategorikan bahan-bahan kuliah milik gue yang berserakan di meja belajar, menyusunnya rapi di atas meja. Pagi itu sehabis mandi, gue sengaja membiarkan handuk menggantung di bangku meja belajar. Kemudian dengan tatapan tajam, Airina memarahi gue.

“Nih, bisa bikin sakit tau nggak pake handuk lembab kayak gini! Duuuh, gue frustasi deh liat kamar lo, Gas!” Lalu ia melempar handuk itu tepat ke muka gue, “Jemur!”

Dengan sigap gue menangkap handuk itu, menaruhnya kembali di bangku. “Udah, udah, gue cuma mau ngambil jaket doang. Yuk, cabut.” Gue menarik tangan Airina sehabis mengambil jaket himpunan gue yang berwarna biru muda tergantung di balik pintu kamar.

“Salah sendiri. Suruh siapa ngajak gue kesini?”

Gue tertawa. “Hahaha, iya gue nyesel. Yuk ah cabut, pusing denger lo ngomel-ngomel.” Kali ini, ia yang gantian tertawa.

Saat akan berangkat dari kosan, Airina menghampiri si Bibi. “Bi, apa kabar? Sehat?” Dia menyapa si Bibi. Itu juga salah satu hal yang bikin gue betah berteman sama Airina, dia selalu ramah dan hangat sama setiap orang yang ia kenal.

“Iya neng, sehat alhamdulillah. Kok udah lama nggak keliatan?” Jawab si Bibi.

“Iya Bi, abis Bagasnya lagi sibuk sih.” Dia mencibir ke arah gue. Cibirannya itu loh, bikin gue gemas. Lalu dia melanjutkan obrolannya dengan si Bibi,

“Oh iya, Bi, aku minta tolong boleh nggak?”

“Sok aja atuh neng…”

“Kamarnya Bagas tolong dibersihin 3 hari sekali ya, Bi. Dia nggak sempet bersihin, jorok banget tuh kamarnya. Aku sampe pusing ngeliatnya. Jangan lupa ya Bi, yah?” Dia melemparkan pandangan jengkel ke arah gue dan gue menyambutnya dengan senyum tanpa dosa.

“Iya, Bibi teh selalu mau bersihin tapi Aa’ Bagas teh nggak pernah mau neng. Padahal mah nggak apa-apa Bibi bersihin tiap hari juga.”

“Nah, yaudah, Bi. Besok-besok nggak usah dengerin kata Bagas yah. Dengerin kata aku aja. Tolong dibersihin mulai besok yah Bi… Makasih banyak Bibi.” Airina berkata sambil mengusap lengan si Bibi. Dia kemudian tersenyum manis, manis sekali.

Gue semakin gemas melihat tingkah sahabat gue ini. Gue tarik tangannya, kali ini dengan sungguh-sungguh. Memang cuma Airina yang bisa memasuki hidup gue, mengatur-atur, bahkan orang lain pun harus ikut peduli dan perhatian karenanya. Gue menggelengkan kepala sembari berjalan ke parkiran kosan, masih menggandeng tangan Airina, pasrah (tetapi senang) akan nasib gue memiliki sahabat seperti dia.

Sebenarnya, si Bibi selalu menganggap Airina itu adalah pacar gue. Entah kenapa, gue tidak pernah menyalahkan tapi juga nggak pernah mengiyakan. Biarlah si Bibi anggap seperti itu. Gue nggak kebayang kalau sampai Airina tahu, pasti langsung diklarifikasi olehnya bahwa dia sudah punya pacar dan kami hanyalah sebatas teman dekat. Dan gue tidak mau itu terjadi. Setidaknya, di suatu tempat ada satu orang yang menganggap gue dan Airina bukanlah kisah kasih yang tak sampai.

And their paths will be intertwined

Bandung, Oktober 2009

Sudah turun-temurun, angkatan termuda di Teknik Lingkungan (TL) selalu menjadi angkatan yang akan menjalankan kepanitiaan acara wisuda. Kali ini, Dwisahasrastama-lah yang bertugas sebagai panitia acara wisuda bagi para senior di TL. Wisuda Oktober adalah wisuda perdana mereka menjadi panitia.

Baskara terpukau melihat penampilan teman-teman seangkatannya yang turut serta menari Ratoh Duek pada Wisuda Night (Wisnite) Oktober. Matanya tertuju pada Hana. Ia tahu, Hana memiliki andil besar dalam penampilan ini. Hana adalah anggota divisi acara yang ditunjuk sebagai penanggung jawab performance oleh dirinya sendiri, yang menjabat sebagai ketua divisi. Entah kenapa ia memilih Hana, padahal setahun lalu, ia bisa mengernyitkan dahi jika teringat akan pandangannya tentang Hana.

Baskara tersenyum akan kenangan yang melintasi pikirannya. Mereka satu kelas selama Tahap Persiapan Bersama (TPB), yang merupakan tingkat pertama di ITB sebelum mereka dijuruskan ke program studi beberapa bulan yang lalu. Baskara selalu duduk di sayap kiri kelas, sementara Hana selalu di sebelah kanan. Kelas FTSL itu selalu penuh di bagian tengah dan kiri, tetapi tidak ada yang berani duduk di sayap kanan kelas, yang anehnya, hanya ditempati oleh Hana dan teman-teman mainnya.

Kata-kata Baskara kembali terngiang, “Mungkin terlalu wah, mungkin terlalu lancang.”

Yang jelas, Hana dan teman-temannya sangatlah superior di kelas, tentu saja tanpa mereka sadari. Mereka aktif, banyak bertanya, tetapi juga banyak bercanda. Sekilas, gerombolan itu terlihat seperti sekumpulan anak-anak bengal: nakal dan suka mengganggu. Sampai-sampai satu kelas memberikan mereka julukan, Geng Nero, yaitu ‘neko-neko dikeroyok’. Nama itu diambil dari nama perkumpulan yang sedang naik daun di media nasional, tentu saja bukan karena image yang baik, dan ada berita menyangkut kekerasan atau bullying tentang geng itu. Dan pada suatu sore, ada salah satu teman sekelas mereka, bertanya kepada Hana,

“Pertemanan kalian itu pertemanan yang saling menjatuhkan ya?” Yang hanya dijawab oleh tawa yang berkepanjangan oleh Hana, dan pada akhirnya, oleh teman-temannya juga.

Namun kalau ditanya masalah nilai, mereka lah yang memiliki nilai paling tinggi. Karena itu juga Baskara lebih memilih untuk menjaga jarak dengan Hana dan teman-temannya, ia masih merasa berbeda dunia.

Setelah TPB, mahasiswa FTSL akan memilih prioritas di antara tiga program studi, yaitu Teknik Sipil, Teknik Lingkungan, dan Teknik Kelautan. Sekarang, Baskara dan Hana sama-sama masuk program studi TL dan tak sengaja, mereka tergabung dalam satu kelompok pada ospek jurusan Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL). Awalnya, Baskara masih merasa enggan untuk dekat dengan Hana, tetapi sekarang ia melihat citra Hana dari sudut pandang yang berbeda. Hana ternyata tidak hanya gaul, berisik, dan pintar. Ada sisi lain dari diri Hana yang membuat ia tertarik, mungkin ketulusannya, mungkin sikapnya yang tidak mudah stress ditempa oleh tugas-tugas dan keinginan panitia, mungkin juga karena kepiawaiannya dalam membuat suasana jadi hangat, entahlah. Apa pun itu, Baskara merasa tidak salah pilih menunjuk Hana menjadi penanggung jawab performance di Wisnite Oktober.

Berangkat dari sanalah, Baskara semakin tertarik dengan Hana. Mereka jadi sering bertukar pikiran,

“Hana pendengar yang baik, dan Hana membuatku jadi pendengar yang baik,” batinnya tersenyum.

“Bas, bisa gak sih lo ngomong jangan aku-kamu gitu? Di Jakarta, aku-kamu tuh cuma dipake sama orang yang pacaran! Dan gue males deh dapetin kesan itu dari lo.”

Hana pernah melontarkan hal itu ke Baskara. Baskara yang terkenal mudah tersentil dan gampang emosi, tidak marah mendengarkan kata-kata itu terucap dari mulut Hana. Ia hanya tertawa. Temannya yang satu ini memang unik, dan ia nyaman setiap mendapati keberadaan Hana di sampingnya.

“Hana orangnya asik, baik, dan aku suka etos kerjanya. Mungkin rasa hangat ini wajar, dan akan ada untuk gadis mana pun yang dekat denganku.”

Saat itu, Baskara masih belum merasakan asmara yang diam-diam datang merayapi perasaannya.


Bandung, April 2010

Di kesempatan kedua bagi Dwisahasrastama menjadi panitia wisuda, Baskara kini mengambil andil sebagai Koordinator Lapangan (Korlap). Ia berpasangan dengan Gita, Koordinator Non-Lapangan (Kornonlap). Keduanya persis di bawah pengarahan ketua panita wisuda, Ucup. Baskara merasa senang bisa bekerja dengan Gita, yang juga perempuan dan sama asiknya dengan Hana. Namun, kehangatan yang ia rasakan saat bersama Hana tidak kembali merayapi ruang hatinya. Saat itu ia sadar, Hana bukanlah gadis kebanyakan di mata Baskara. Malam itu matanya terpaku pada Hana.

Setelah acara selesai, seperti biasa, Dwisahasrastama mengadakan rapat evaluasi di tempat, bersama dengan penanggung jawab wisuda dari HMTL. Acara wisuda kali itu dapat dibilang sukses, lebih baik dari acara sebelumnya di bulan Oktober. Ucup bangga, merasa puas dengan kinerja yang diberikan oleh angkatannya. Rasa terima kasihnya yang terbesar ia sampaikan pada Baskara dan Gita, yang entah sejak kapan, keduanya dielu-elukan sebagai pasangan yang serasi oleh angkatan mereka, bahkan oleh massa himpunan dan wisudawan. Gita tersipu malu, melihat Baskara yang juga tersenyum. Namun ia tahu, senyuman Baskara tidak pernah tertuju padanya. Gita yang mengamati Baskara sepanjang malam, paham betul bahwa pandangannya hanya terkunci pada Hana. Saat itu pun ia sadar, rasa sukanya yang baru tumbuh ini tidak dapat berbalas.

Baskara buru-buru menghampiri Hana seusai rapat evaluasi, hanya untuk mendapati gadis impiannya berlari-lari kecil ke pintu masuk Aula Timur. Baskara diam-diam mengikuti Hana. Di dekat meja penerima tamu ada sosok lelaki, memakai sweater berwarna hijau tua, menyandarkan tubuhnya ke dinding aula. Hana setengah berteriak memanggil sosok itu, senyumnya mengembang lebar, tangannya terbentang seperti meminta pelukan. Kelakuannya itu hanya dibalas dengan senyuman kecil. Lalu sang lelaki mengacak-acak rambutnya.

“Jangan ah, malu.” Bara, nama lelaki itu, terdengar berkata.

Lalu Baskara tersadar, bahwa Hana memiliki Bara, pacarnya sedari SMA. Seulas senyum yang tadinya menghiasi wajah Baskara pun sirna.


Bandung, Juli 2010

Lagi-lagi, malam itu mata Baskara mengikuti langkah Hana kemana pun ia pergi. Bagi Baskara, acara wisuda merupakan acara yang paling ia suka, karena gadis pemangku hatinya itu akan tampil jauh lebih cantik dari sehari-hari. Bagaimana tidak, pada hari-hari kuliah Hana biasanya mengenakan kaos, celana jeans serta sneakers, tanpa make-up di wajahnya. Padahal, sudah hal yang sangat wajar bagi mahasiswi TL setidaknya untuk memoleskan sedikit pewarna bibir dan bedak di wajah mereka. Lain halnya dengan Wisnite, kaos dan celana jeans ditanggalkan oleh Hana. Pada acara-acara tertentu seperti wisuda, Hana lebih memilih untuk dress-up sesuai dengan tema wisuda saat itu. Hal itulah yang sangat Baskara nantikan setiap Wisnite. Seperti sekarang, sneakers Hana diganti dengan sepatu kesayangannya, simple pumps 70 mm Loubutin berwarna hitam. Ia mengenakan blazer dan rok dengan warna senada, loose top berwarna krem, dan scarf yang bercorak merah, agar complimentary dengan red soles sepatunya. Karena tema wisuda Juli 2010 adalah Leaving On A Jetplane, maka panitia laki-laki berpenampilan seperti pilot dan yang perempuan seperti pramugari.

Tak kuasa selalu melihatnya dari jauh, malam itu Baskara mendatangi Hana.

“Banyak yang bilang hari ini Felisha terlihat sangat menarik,” katanya seraya tersenyum, kepalanya mendekati gadis impiannya, matanya menatap Hana lembut. Kemudian ia melanjutkan dengan pelan,

“Tapi di mata saya, kamu yang paling cantik malam ini.”

Hana membalasnya dengan senyuman. Manis, sampai-sampai Baskara ingin mencicipi senyuman manisnya itu.

Little did they know that love is blind

Bandung, Juli 2008

Baskara duduk di bangku belakang, menunggu antrian pendaftaran ulang Ujian Saringan Mandiri (USM) Institut Teknologi Bandung (ITB). Dirinya yang diterima pada gelombang kedua USM, berhasil masuk ke pilihan pertamanya, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL). Ia mengenang masa-masa USM dulu, ke Bandung bersama teman-temannya yang satu SMA. Ada yang diterima, termasuk dirinya, ada yang tidak. Mungkin belum, dan beberapa temannya hari ini masih berjuang lewat Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) di kampung halamannya, Yogyakarta.

Namun kali ini, Baskara mendapati dirinya sendiri karena beberapa temannya diterima di fakultas lain. Di depannya, ia melihat ada dua baris yang diisi oleh gadis-gadis berseragam putih abu-abu, seperti dirinya. Mereka terdengar ceria, dan tentu saja, berisik. Cantik-cantik, pikirnya. Entah kenapa citra yang Baskara dapatkan dari kesan pertamanya adalah smart yet stylish, dengan minder, saat itu ia berpikir bahwa ia merasa berbeda dunia dengan mereka.

“Pasti berasal dari Jakarta,” Baskara menebak-nebak dalam hati.

Tebakannya benar. Hana merupakan salah satu dari sekumpulan gadis-gadis yang duduk di barisan depan Baskara. Sama seperti semua mahasiswa yang sedang melakukan pendaftaran ulang, hari itu Hana mengenakan seragam putih abu-abu. Ia mengenakan kemeja putih yang terlihat sedikit kebesaran, bajunya dikeluarkan. Rok abu-abunya berpotongan span menggantung di atas mata kakinya, dengan belahan di belakang yang cukup tinggi. Terlihat Hana memakai kaos kaki panjang selutut di balik rok spannya. Di kakinya ia memakai flat shoes yang terbuat dari kain berwarna hitam. Di sebelah kanan sepatunya ada patch bordir Powerpuff Girls, sementara di sebelah kirinya ada Buttercup, anggota Powerpuff Girls kesukaannya.

Hari itu Hana sangat bahagia, bisa menapaki kampus impiannya, bahkan bersama sahabatnya, Diandra, yang juga mengenakan sepatu yang sama. Namun di kaki kiri Diandra, terpampang patch bordir Blossom. Di masa SMA dulu, Hana dan Diandra berjanji akan memasuki Teknik Lingkungan, bersama-sama. Dan sahabat mereka, Viona, yang memiliki sepatu yang sama dengan gambar Bubbles, memilih untuk masuk Fakultas Kedokteran di salah satu universitas negeri di Yogyakarta.

Bersama Hana dan Diandra ada Felisha, Yanti, dan Nabila, teman-teman mereka satu SMA. Selain itu ada juga sepasang sahabat, Priscilla dan Maura, yang juga berasal dari Jakarta. Tidak butuh waktu lama, gerombolan gadis-gadis itu bisa berbincang dengan akrab.

Beberapa kali Baskara bertemu dengan pelancong dari Jakarta di kota tercintanya. Kesan yang mereka tinggalkan tidaklah selalu baik, namun tidak selalu buruk. Tetapi ada satu hal yang selalu Baskara tangkap, bahwa ia tidak kuat dengan lifestyle dan perilaku orang-orang dari ibukota. Mungkin terlalu wah, mungkin terlalu lancang, ia tidak tahu betul persisnya. Yang jelas, di hari itu Baskara membatin dalam hati,

“Jangan sampai aku harus bersinggungan dengan gadis-gadis ini.”

Little did they know that love is blind

And their paths will be intertwined

Casanova

Jakarta, Desember 1983

Gamelia memasuki pintu depan, terdiam dan memperhatikan sekelilingnya. Rumah kontrakan ini terlihat sudah tua, namun terawat. Fadli meletakkan kunci di meja kecil pojokan, tepat di antara dua pintu kamar di sebelah kanan Gamelia.

“Coy ada minum gak? Haus banget nih. Sekalian sarapan deh, kepagian lo jemputnya! Gue belom sempet sarapan.” Suara Vanny semakin terdengar sayup-sayup. Temannya langsung mengarahkan langkah ke dapur di belakang.

“Gam, welcome! Maklum ya kalo berantakan, biasalah namanya juga rumah bujangan hehe. Make yourself at home, gue siap-siap dulu. Kita belajar di ruang depan aja ya, disini.” Fadli berkata seraya memasuki pintu kamar pertama.

Hari itu Fadli meminta Gamelia mengajarinya mata kuliah Statistik untuk persiapan Ujian Akhir Semester (UAS), berhubung Gamelia selalu belajar bersama Vanny, akhirnya keduanya diboyong oleh Fadli pagi itu.

“Kalo yang ini kamar Tony,” Fadli mengintip keluar, menunjuk kamar di sebelah kamarnya.

Gamelia mendapati dirinya berjalan mengelilingi rumah itu. Cukup besar, bahkan hampir sebesar rumahnya di Kebon Jeruk, yang diisi oleh 9 orang saudara beserta kedua orang tuanya. Ruang tamu kontrakan Fadli diisi tiga sofa jati dan meja oval. Kemudian di belakang sofa jati yang terjauh dari dirinya berdiri, terbentang karpet dengan banyak bantal di atasnya. Di depan karpet ada meja pendek yang di atasnya terdapat televisi. Di samping televisi ada radio yang cukup besar.

Gamelia berjalan ke arah kabinet kaca di ujung ruangan, yang berisi foto-foto dan pajangan. Ia mendekati kabinet itu, kebanyakan foto keluarga, tak kuasa ia mengulas senyumnya, melihat potret Fadli sedari kecil hingga dewasa. Banyak foto yang berlatar belakang asing dan pajangan-pajangan yang berasal dari luar negeri.

“San Fransisco, Sydney, Amsterdam…” Ia membaca satu-satu, kemudian berpikir, “Pantas saja Fadli fasih berbahasa inggris.”

Mungkin itu satu-satunya hal yang tidak dikuasai Gamelia. Terkadang ia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Fadli dan Vanny kalau mereka mengeluarkan frasa-frasa bahasa inggrisnya. Sepatah dua patah kata Gamelia bisa berbahasa inggris. Tetapi Gamelia gengsi, ia malu untuk menyatakan bahwa sebenarnya ia tidak mengerti seutuhnya apa yang mereka katakan.

“Aku harus belajar,” katanya mantap.

Gamelia melayangkan pandangnya ke garasi, melihat mobil yang tadi dipakai Fadli untuk menjemputnya dan Vanny, Land Rover Defender 1983. Kemudian pandangannya menangkap sepeda motor Fadli yang berwarna merah, yang saban hari dipakai Fadli untuk memboncengnya, Yamaha RX King 1983. Iya, setelah kencan pertamanya dengan Fadli, Fadli rajin mengantar-jemput Gamelia.

“Orang tua Fadli kerja apa? Dua-duanya keluaran terbaru,” pikirnya. Ada rasa tak nyaman baginya, berteman dekat dengan orang dari kalangan atas seperti Fadli dan Vanny.

“Van, have you done eating?” Tiba-tiba suara Fadli terdengar, memanggil Vanny yang ada di ruang makan, mengagetkan Gamelia.

“Kok ganti baju, Kak?” Gamelia menyadari Fadli telah berganti pakaian, rambut ikalnya basah.

“Iya, habis mandi. Tadi pagi telat bangun jadinya buru-buru jemput kamu, belom mandi hehehe…” kemudian Fadli kembali berteriak, “Van, kita udah siap ya, di depan!”

Tony keluar kamarnya kira-kira pukul 12 siang. Ia bertanya apakah yang lain ingin makan siang, sambil mengulat. Bagi Tony, tidak ada kata belajar di akhir pekan. Ia ogah ketika Fadli mengajaknya belajar bersama Gamelia dan Vanny, padahal Tony pun mengulang mata kuliah yang sama.

Akhirnya mereka rehat sebentar. Tony dan Fadli beranjak pergi ke perempatan Johar Baru, mencari makan siang.

Lagi-lagi, Gamelia mendapati dirinya mengelilingi rumah itu. Di meja kecil tempat Fadli menaruh kunci motor dan mobilnya, ada tumpukan koran, majalah, dan surat. Ia mengambil salah satu surat yang dirasa mencolok. Warnanya merah muda, entah itu khayalnya, tapi Gamelia bisa merasakan ada aroma stroberi dari surat itu. “Dari Melati. Kalimantan Selatan.”

Gamelia melihat salah satu surat ada yang terbuka, amplopnya sudah disobek. Penasaran, ia mengintip isinya, dan foto seorang gadis terjatuh. “Fadila, 1983.” begitu bunyi tulisan di pojok kanan bawah foto itu.

Tangan Gamelia bergetar, jantungnya berdegup kencang seraya ia mengembalikan surat-surat tersebut pada tempatnya. Firasatnya tidak baik, siapa gadis-gadis ini?

Makan siangnya hari itu tidak berasa apa-apa. Lidah Gamelia kelu. Hatinya pilu.

“Gamelia, kamu kenapa?” Fadli bertanya, ia menaruh telapak tangannya ke dahi Gamelia, “Sakit?”

“Ng… Nggak.” Jawabnya pelan.

“Mau pulang aja? Kamu pucat, aku khawatir.” Fadli terlihat risau.

Gamelia hanya mengangguk pelan. Seketika Fadli mengantar Gamelia dan Vanny pulang.

Sesampainya di kosan Gamelia, Vanny besikukuh ingin menemani Gamelia. Ia tahu ada yang tak beres dengan temannya itu.

“Van, lo kenal orang tua Kak Fadli?” Gamelia bertanya.

“Tau, tapi gak kenal deket. Pertama kali ya ke kontrakan Fadli? Lo liat apa sih kayak kesetanan gitu? Jujur deh sama gue.”

“Banyak hal yang bikin gue bertanya-tanya.”

“Kenapa gak lo tanya aja ke dia?” Yang kemudian dijawab dengan gelengan kepala oleh Gamelia.

“Ya udah, kalo lo gak nyaman buat tanya sama Fadli, tanyain aja hal-hal yang lo mau tau ke gue, gue akan jawab sebisanya,” lanjut Vanny. “Tapi lo harus janji, pada akhirnya lo akan tanya semua ini ke Fadli, dan lo seakan gak tau apa pun dari gue!”

Gamelia mengangguk cepat. “Iya gue janji. Gue sekarang cuma penasaran, apa dia orang yang tepat untuk deket sama gue. Jujur, Van, baru kali ini gue kenal sama orang kayak Kak Fadli, kayak lo…” Kemudian ia terdiam.

“Oke, orang tua Fadli ya. Nama bokapnya Iskandar dan jujur gue gak tau nama nyokapnya siapa. Yang gue tau, Fadli manggil bonyoknya Abah dan Ibu.”

Vanny melanjutkan ceritanya. “Dia asli Padang. Papa dan Pak Is itu mitra bisnis. Papa jadi dosen awalnya kerjaan sampingan, lama-lama Papa jadi full-time di dunia akademis, banyak bisnisnya yang di-handle sama Pak Is dan orang-orangnya. Makanya gue kenal sama Fadli.”

Vanny dan Fadli kenal sedari kecil. Pertama kalinya bertemu pada pertemuan antar pebisnis di Ibukota, Vanny masih duduk di bangku sekolah dasar, sementara Fadli sudah beranjak remaja. Setelah itu, keluarga Vanny dan Fadli saling mengunjungi satu sama lain. Terkadang mereka bertemu, kadang tidak. Tetapi dari tiga bersaudara, Vanny merasa paling dekat dengan Fadli. Fadli memiliki seorang adik perempuan, Julianti, yang terpaut satu tahun di bawah Vanny. Adik bungsunya bernama Irfan, sekarang masih sekolah, tapi Vanny lupa berapa umur Irfan. Yang jelas, Vanny ingat parasnya rupawan.

“Dengan tampang kayak gitu, he definitely will grow up into a heart-breaker…” Vanny mulai menerawang.

“Dan kalo lo ngerasa Fadli lifestyle-nya mewah, lo gak bakal mau ketemu sama yang namanya Anty.” Vanny berkata sambil menggelengkan kepalanya.

Anty, begitu nama kecil Julianti anak tengah dari tiga bersaudara keluarga Iskandar, sekarang kelas tiga SMA. Gadis itu mengurungkan niatnya untuk berkuliah di universitas dalam negeri. Ia ingin melanjutkan pendidikan tinggi di bidang fashion. Pasalnya, di Indonesia belum ada institusi yang cukup kondang untuk bidang ini. Sementara Pak Is dan istrinya selalu memikirkan prestige. Anty bersikukuh ingin menjadi fashion designer dan ingin pergi ke ESMOD, institut privat yang ada di Paris, Perancis. Namun kedua orang tuanya lagi-lagi tidak setuju. Sebenarnya bukan karena masalah finansial, tetapi mereka tidak rela untuk melepas anak perempuan satu-satunya ke benua lain.

Sebenarnya, Anty memiliki visi besar terhadap bisnis keluarganya. Secara turun-temurun, keluarga Iskandar memiliki usaha garmen yang cukup besar di Sumatera Barat. Mulai dari berjualan kain, sampai kini dapat memproduksi sendiri. Berkat Pak Is dan istrinya, usaha keluarganya merambah ke ibukota. Anty tahu, dalam hitungan dekade, industri fashion di Indonesia akan merebak. Ia sudah mengajukan dua proposal ke kedua orang tuanya. Yang pertama, untuk menambah jaringan usaha keluarga mereka ke Pulau Jawa. Banyak industri kecil di Jawa Barat dan Jawa Tengah yang bisa digandeng oleh perusahaan mereka dalam memasok kain-kain batik yang otentik. Yang kedua, Anty ingin melebarkan sayap perusahaan ke bidang fashion dengan merancang baju-baju sendiri. Hal ini didorong dari hobi ibunya, yaitu menjahit. Sedari kecil, Anty sudah memakai baju hasil jahitan ibunya. Akhirnya Anty pun belajar menjahit dan jatuh cinta pada proses itu. Sampai sekarang, banyak busana Anty yang merupakan karya ibunya maupun dirinya.

Kembali lagi ke niat awal Anty, tanpa pendidikan, rasanya ia kurang percaya diri untuk bergelut di bidang fashion. Kini kondisi keluarga Iskandar sedang perang dingin, dan Fadli tidak ikut ambil pusing.

“Terserah ajalah, gue males ikut-ikutan berantem anak remaja!” Fadli berkata ketus saat menceritakan itu ke Vanny, beberapa minggu lalu.

Lain halnya dengan Fadli. Fadli tidak ada rencana apapun untuk terjun ke dalam bisnis keluarganya. Bahkan, dari SMA ia sudah meminta pisah rumah, mengontrak dengan biaya sendiri.

“Van, gue kira kontrakan dia dibiayain orang tuanya…” Gamelia tidak percaya.

No, of course not. One thing you gotta know for sure, Fadli terlalu gengsi untuk minta-minta.” Kemudian Vanny melanjutkan ceritanya.

Pada awalnya, tentu saja Pak Is dan ibunya tak setuju. Tapi Fadli yang terlahir dengan sifat keras kepalanya, tetap tidak mau tinggal di rumah. Lalu saat umurnya beranjak ketujuh belas tahun, kedua orang tuanya mengiyakan keinginan anak sulungnya, dengan catatan, ibu yang akan memilih kontrakannya. Kontrakan Fadli terletak di Johar Baru, terletak di jalan kecil. Ibu memilihnya karena dekat dengan rumah keluarga mereka di Cikini, Jakarta Pusat. Kontrakan Fadli tidak besar, hanya ada dua kamar tidur, yang satu ditempati oleh Tony, sahabatnya. Ruang tamu, ruang keluarga, dan ruang makan bergabung jadi satu, hanya dibatasi oleh sekat dan lemari kayu. Dapur dan tempat cuci serta jemur pakaian ada di bagian belakang. Menurut ibunya, rumah itu masih kurang pantas, tetapi jika ibunya pilih rumah yang lebih baru dan mewah, Fadli akan kesusahan dalam membayar biaya kontrakan, ditambah dengan biaya kuliahnya. Iya, bahkan Fadli mampu membiayai kuliahnya sendiri.

“Dia kerja apa sih, Van?” Gamelia keheranan.

“Lo gak bakal mau tau deh. Dari SMA dia udah kerja serabutan, dari tukang angkut, tukang kayu, sampe tukang pukul.”

Gamelia hanya bengong, tak percaya.

“Ya lumayan sih hasilnya. Itu motornya lo pikir dari bokap? Gila kali mana mungkin Pak Is ngasih Fadli RX King! Pak Is koleksinya tuh Harley, Gam. Dia gak suka banget Yamaha… hahahaha.” Kata Vanny, tertawa.

“Mobil?”

“Nah kalo mobil dari bonyoknya. Jarang juga dia pake sih, paling kalo keluar kota, naik gunung.”

Cerita Vanny hanya membuat Gamelia semakin kagum pada sosok Fadli.

“Yah… Gue inget pernah bilang dia bego, Gam. The thing is, it is just academically. Lo inget konsepnya yang 25% dan 75%?”

Gamelia mengangguk. Mana mungkin ia lupa.

He excels at that 75%,” ujar Vanny mantap.

“Sebenernya bukannya gue gak rela kalo pada akhirnya lo bakal sama dia, tapi gak tau kenapa, I don’t think he is the man you can handle, Gam…” Lalu Vanny melanjutkan kata-katanya.

“Lo tau gak kalo Fadli terkenal semenjak sekolah dulu? Bahkan dia punya julukan,” lanjutnya setengah berbisik, yang membuat Gamelia kembali murung, teringat surat-surat yang ia temui di meja itu.

Casanova.”

The First Day of School

signature_poe3mitl90b5p2etv7

It was the very first day of my 3 years in high school.

I did not want to wake up, get up from my beloved bed, let alone to get ready for school. I hated that school. I hated the fact that Mom did not allow me to apply to another high school where all of my best friends from junior high school were going to. After hours of crying in the morning, finally there I was, standing at the door of my new classroom, wondering if I could ever make friends with any of these strangers.

And then there was a boy, walking towards me. He introduced himself, and as I smiled to him, I made a mental note to myself,

“I guess high school won’t be that bad after all…” And we have been best friends ever since.

As days went by, we grew closer. We were classmates since the first and all the way until the third grade. I never thought that I could manage to befriend a guy and no feelings involved.

Truth be told, we couldn’t. I should have learned it by heart, that there is no way and no place in this messed-up world, for a guy and a girl to be best friends. Maybe it is not the world, maybe it is just our poor big hearts, messing up with our little brains…

708617937593806060516

It was not a love-at-first-sight.

It was the very first day of my 3 years in high school.

I was excited, more than ever. As I walked through the corridor, my eyes fixated on a girl standing in front of my-supposed-to-be classroom. I wondered about her, her petite figure, her long black hair tied up in a ponytail, and mostly about her gesture–showing as if this is the last place on earth where she wanted to be at the moment, why? My brain told me not to make eye contact with this girl, reassuring myself that ‘this is a bad move and your high school life would depend on it’ but there I was, walking towards her with a big-stupid smile on my face, frikkin’ introduced myself to this petite girl.

She flashed her smile, the warmest one I’ve ever seen. My heart flustered.

"Meeting you was fate
Becoming your friend was a choice
But falling in love with you I had no control over”

Trekking for Public

Sentul, Oktober 1983

Hari itu Gamelia melihat Fadli dengan persepsi lain. Ia bukanlah mahasiswa tingkat akhir yang banyak mengulang mata kuliah, bukanlah seorang yang menghabiskan waktu luangnya duduk santai di bangku taman, berdendang dengan gitarnya. Hari itu Gamelia rasanya tersihir oleh Fadli, raut wajahnya serius, tidak seperti yang biasa ia lihat di kelas, namun banyak komentar jenaka yang membuat suasana hari itu semakin, semakin apa juga ia tak tahu, yang pasti ada positive vibes yang ia tangkap dari diri Fadli. Baru kali ini Gamelia melihat sosok Fadli yang serius, begitu passionate dengan kegiatan mengarungi alam.

Ini kali pertama Gamelia naik gunung, ia agak was-was. Lagi-lagi melirik Vanny di sampingnya sambil berkata, “Kalau bukan karena elu, gue gak akan naik gunung kayak gini nih!”

Trekking oy, trekking! Naik gunung mulu sih. Ini judulnya aja Trekking for Public. Gue udah ngobrol-ngobrol sama panitia, track yang bakal kita lewatin itu gak akan susah, buat pemula kok. Percaya deh sama gue, you’re gonna love it.” Jawabnya antusias.

Seperti Gamelia, Vanny lahir di Jakarta. Namun orang tua Vanny asli dari Ambon. Papanya dosen di FE, sementara Mama Vanny seorang guru dan memiliki sekolah swasta di bilangan Jakarta Timur. Belum lama Gamelia berteman dengan Vanny, sebenarnya selama dua bulan belakangan, Vanny yang lebih banyak menghampiri Gamelia daripada sebaliknya. Gamelia tahu Vanny adalah seorang pecinta alam, dan setelah melihat stand UPA di OHU bulan lalu, Vanny mantap untuk bergabung dengan UPA. Lagi-lagi, Vanny yang sepertinya sudah merasa dependen ke Gamelia, mau masuk UPA kalau Gamelia masuk UPA. Gamelia hanya menggeleng-geleng, “Gue gak pernah senang interaksi dengan alam, gue mau masuk science club atau unit kesenian dan kebudayaan, kenapa lo insist banget sih!” Dan hanya dijawab oleh Vanny, “Gue kasih waktu buat lo mikir, lo boleh tolak ajakan gue tapi lo harus ikutan acara ini bulan depan ya!” Gamelia hanya melipat tangannya di dada, melihat Vanny menuliskan nama mereka di formulir pendaftaran, pasrah. Tapi sejujurnya ia nyaman dengan kehadiran Vanny, dan ia rasa temannya pun merasakan hal yang sama.

Gamelia membenarkan posisi topinya, kakak pertamanya meminjamkan topi ini untuk Gamelia, karena tahu adiknya akan naik gunung. “Nih, biar gak kepanasan,” katanya.

Gamelia adalah anak kelima dari sembilan bersaudara. Kedua orang tuanya berasal dari Bandung. Karena pekerjaan, Bapak pindah ke Jakarta. Bapak dan Ibu terpaut umur yang cukup jauh, 10 tahun. Ibu adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka menikah di saat Ibu berusia 17 tahun, tak lama setelah Bapak ditempatkan di Jakarta oleh kantornya. Dengan satu orang sebagai tulang punggung keluarga, ekonomi keluarga Gamelia tidak dapat dibilang mewah, tapi Gamelia bersyukur, ia tidak pernah merasa kekurangan. Terkadang Ibu membantu ekonomi keluarga dengan berjualan nasi uduk di pinggir jalan, di masa sekolah dulu, Gamelia dan adik-adiknya juga turut membantu menjajakan dagangan Ibu berupa gorengan dan kue tradisional ke sekolah dan rumah-rumah. “Uang itu tidak perlu banyak-banyak, yang penting berkah.” Ibu selalu mengingatkan.

“Oy, jangan bengong!” Vanny menegurnya, Gamelia kaget. “Udah mau jalan, yuk!” Gamelia hanya mengikuti langkah kaki temannya itu ke arah hamparan sawah hijau di hadapannya. “Gue jarang nemuin yang kayak gini di Ambon… Disana lebih banyak pantai dan pulau-pulau. Kapan-kapan ikut liburan yuk!”

“Eh?”

“Iya, ikut liburan ke Ambon,” ajak Vanny. “Akhir tahun ini gue mau pulang kampung, sekalian libur semester. Mau ikut gak?”

“Sering kesana, Van?”

“Iya, kira-kira setahun 2 sampai 3 kali. Gimana? Ikut yuk!” Ajaknya lagi.

“Hmm… Biasanya naik apa? Kapal laut?”

“Kapal laut terlalu lama, mungkin boleh dicoba kalau libur panjang. Biasanya sih naik pesawat.”

Gamelia belum pernah naik pesawat. Jarak terjauh yang pernah ia tempuh adalah Bandung-Jakarta, dan sebaliknya. Keluarganya tidak memiliki uang lebih untuk kebutuhan tersier semacam travelling. Ia merasa Vanny bercanda, sekedar basa-basi untuk mengajaknya. Ajakan itu membuatnya mengernyitkan dahi karena kebingungan.

Vanny hanya tersenyum melihat Gamelia, teman yang akan ia jadikan sahabatnya. Iya, Vanny sudah bertekad untuk mendekati Gamelia. Ia tahu, kemampuan ekonomi Gamelia berbeda darinya. Ia mengingat-ingat pertama kali ia mengetahui nama Gamelia. Hari itu hari Minggu.

“Papa lama sekali, padahal hari ini sudah janji mau memancing,” pikirnya. Kemudian ia mendatangi ruang kerja Papa. Di atas meja ada kertas-kertas berserakan. Vanny mengangkat salah satu bundelan kertas yang memiliki foto di bagian atasnya. “Namanya Gamelia…” Gumamnya pelan. Di beberapa lembaran itu, Vanny mempelajari asal-usul, biodata, prestasi, hingga kemampuan ekonomi keluarga Gamelia.

“Siapa dia?” tanyanya dalam hati.

“Itu berkas mahasiswa baru yang akan masuk FE bersamamu, ia lolos Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) tahun ini.” Papanya menjawab pertanyaan yang ada di kepala Vanny.

“Kamu ingat kan? Papa pernah bilang tahun ini akan diadakan PMDK, penerimaan mahasiswa baru tanpa harus mengikuti ujian.” Vanny manggut-manggut.

“Pintar sekali ya, Pa?”

“Terbaik di sekolahnya,” jawab Papa, “karena kemampuan akademis dan latar belakang ekonominya, Gamelia mendapatkan beasiswa penuh selama masa kuliahnya di FE, asalkan ia lulus tepat waktu.”

Vanny memasuki FE melalui jalur ujian yang dinamakan Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (SIPENMARU). Ia ingat, masa-masa kelas tiganya dipenuhi dengan belajar di kelas, di luar kelas, tetapi tidak di rumah. Mama dan Papa melarangnya untuk belajar di rumah. Rumah itu tempat istirahat, kata mereka selalu. Alhasil, Vanny sering pulang malam hanya karena belajar di luar. Akhirnya kerja kerasnya membuahkan hasil, ia berhasil diterima di FE. Bukan main senangnya ia saat itu. Papa hanya tersenyum melihat anak tunggalnya, “Perjalanan kamu baru akan dimulai, Van.”

Dua bulan ini, perjalanannya di kampus sebagai maba masih menyenangkan, pikir Vanny. Ia bisa mengikuti seluruh mata kuliah dengan mudah. Ada untungnya berteman dekat dengan mahasiswa paling pintar. Vanny jadi terbawa kebiasaan Gamelia yang rajin, datang selalu lebih cepat, dan duduk selalu di baris terdepan. Gamelia selalu mempersiapkan bahan kuliah sebelumnya, kemudian mereka akan mengulang pelajaran bersama-sama di sore hari. Ternyata di balik otaknya yang cemerlang ada kerja keras. Vanny selalu mengingat kata-kata Gamelia setelah ia bertanya, “Kenapa sih, lo rajin banget?”

I don’t believe in luck. I believe in hardwork.” Kata-kata itu selalu terputar di ingatan Vanny.

Hari itu mentari bersinar cerah, sesekali awan menutupi sinarnya, seakan mengerti bahwa peserta trekking tidak selalu kuat terpapar sinar mentari. Mereka berjalan menyusuri sungai kecil. Gamelia menikmati pemandangan di depannya, di sampingnya, bahkan di atasnya. Ia menutup matanya, mendengar suara gemericik air, kicauan burung, menikmati hembusan angin menerpa rambutnya yang diikat kuda. Lalu ia merasakan ada yang menarik tangannya, matanya kembali terbuka, kesal.

“Kenapa sih, Van?” Ia tahu pasti itu temannya.

“Buruan yuk, gue mau di paling depan.” Jawab Vanny tanpa rasa penyesalan sama sekali walaupun sudah mengganggu ketenangan batin Gamelia.

“Lo dari tadi ribut mulu, padahal lo yang suruh gue nikmatin!” Gerutu Gamelia, namun pasrah dan ikut berjalan cepat bersama temannya itu.

Tak lama, mereka ada di bagian depan rombongan. Kedua gadis itu mulai memperlambat jalannya. Di paling depan, mereka menemui Fadli, yang memimpin ekspedisi ini. Entah kenapa sosok itu membuat Gamelia tersenyum, tetiba rasa kesalnya hilang sudah.

“Eh, Vanny!” Sapa Fadli. “Halo, mungkin kamu lupa kita pernah ketemu,” pandangan Fadli beralih ke Gamelia. “Fadli,” tanpa basa-basi, Fadli menjulurkan tangannya.

“Gamelia,” katanya tersenyum, untuk beberapa saat mata mereka terkunci.

Vanny ikut bengong, tak tahu harus berbuat apa.

“Ng… nggak lupa kok, Kak. Aku inget Kakak yang tunjukin ruang Kelas Statistik ke aku waktu itu.” Kata-kata Gamelia memecahkan kesunyian itu, yang malahan diiringi kesunyian yang lain, mata mereka kembali terkunci.

Vanny merasa ada sesuatu di antara mereka berdua, Fadli dan Gamelia. Ia bergantian menatap keduanya. Akhirnya karena tak sabar, ia memukul bahu Fadli, “Gak usah bengong gitu juga kali!” Katanya sambil diiringi gelak tawa.

Fadli ikut tertawa, “Ternyata kalian temenan, tau gitu gue minta kenalin dari dulu, Van, sama lo! Udah dua bulan gue muter otak gimana caranya kenalan sama ini cewek…”

Pernyataan Fadli yang blak-blakan membuat Gamelia salah tingkah. “Fadli sering ke rumah gue, Gam, ketemu bokap.” Vanny menjelaskan ke Gamelia yang kelihatan bingung.

“Lo tau gak sih dia ini bego banget? Gue sampe ga paham kenapa bokap gue masih aja percaya sama Fadli. Bokap sering tutoring dia, Gam. Private,” lanjutnya seraya mencibir. “Lo gak usah mimpi gue kenalin ke Gamelia, kalian kayak langit dan bumi, gue gak rela.”

Gamelia hanya tersenyum kecil. Kali ini Fadli yang jadi salah tingkah dibuatnya. “Lo jangan jelek-jelekin gue gitu dong, Van!” protesnya. Kemudian pandangannya beralih ke Gamelia, “Yang dia omongin semua ada benernya sih. Tapi aku percaya kalau belajar di institusi pendidikan itu hanya 25%, masih ada 75% di luar sana yang bisa kita pelajari, di luar tembok-tembok kampus, di kehidupan nyata. Makanya aku terkesan gak serius kalau di kelas.” Lanjutnya dengan lugas.

Lagi-lagi lelaki ini menarik perhatian Gamelia. Tidak lama kemudian mereka memulai obrolan, layaknya gemericik air yang mengarungi sungai kecil di samping mereka, pelan dan mengalir.

Vanny yang awalnya jengkel, memberikan kesempatan bagi dua orang itu untuk bersama, karena tatapan mereka yang berbinar-binar, tak tega rasanya ia ikut campur dalam pembicaraan dari hati ke hati itu. Iya, dari hati ke hati, tidak hanya dari kepala, karena ini kali pertamanya ia melihat Fadli dan Gamelia bersikap seperti itu. Lalu ia memperlambat langkahnya, agak menjauh dari keduanya, dalam hati yakin bahwa temannya ini tidak akan menolak lagi ajakannya untuk bergabung dengan UPA.

Ia pun tersenyum, menghela napasnya, “It’s indeed a good day after all…”