Ulang Tahun Hana

Bekasi, Juli 1991

“Siapa, Bun?” tanya Fadli kepada istrinya setelah Gamelia meletakkan handphone-nya di meja makan. Kira-kira setengah jam lamanya ia melihat Gamelia menelepon, sambil mengepak-ngepak barang. Ia penasaran siapa suara di ujung telepon itu.

“Vanny.”

“Kenapa lagi, dia?” Fadli merasakan hal yang tidak menyenangkan.

“Dia pulang akhir bulan ini, katanya mau bikin pesta ulang tahun untuk Hana.” Selepas lulus master di tahun 1989, Vanny bekerja dan menetap di New York.

“Ngapain? Kita selametan aja di rumah baru kan?”

Belum dua tahun tinggal di Bekasi, Fadli dan Gamelia memutuskan untuk pindah ke daerah Bintaro, karena Hana selalu sakit. Mungkin putrinya tidak cocok tinggal di Bekasi.

“Iya, aku udah bilang gitu ke Vanny, tapi dia insist. You know her.”

“Aku mau ulang tahun Hana dirayakan kecil-kecilan aja, Bun.”

Yes, yes, I told her already. And she told me that it’s gonna be intimate, just us all…

“Hmm… baiklah, dimana?”

“Putri Duyung Ancol, dia udah booking cottage buat kita.”

“Aishhh, katanya sederhana!” Gerutu Fadli kesal.

“Iya, gak undang siapa-siapa juga, cuma Kakak, aku, dan Mama Papa.”

Gamelia masih memanggil dirinya Kakak, padahal Fadli ingin dipanggil Ayah.

“Ayah Bunda, kan cocok. Aku harus buru-buru ajari Hana panggil Ayah, biar Gamelia mau ikutan, hehehe.” pikir Fadli seraya memandangi putri kecilnya yang sedang tertidur pulas.

Mama dan Papa adalah kedua orangtua Vanny. Iya, Bapak Dosen FE itu lama-lama memperlakukan mereka seperti anak sendiri. Mungkin senang, anak tunggalnya akhirnya memiliki dua teman dekat yang sudah seperti saudara. Lagipula, sudah empat tahun Vanny pergi meninggalkan mereka, Mama dan Papa semakin punya alasan untuk bersikap seperti itu. Bahkan, Hana pun dianggap sebagai cucu kandung mereka sendiri.


Jakarta, Agustus 1991

“Mana cucu Oma?” tanya Mama Vanny ke Fadli, kemudian tidak mengacuhkan jawaban Fadli dan langsung menghambur keluar, ke arah Gamelia yang baru saja turun dari mobil.

“Selamat ulang tahun, sayang!” Katanya ceria, mengambil Hana dari gendongan bundanya.

Vanny hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Mama, namun dalam hati bersyukur ada kehadiran Fadli dan Gamelia, serta Hana, dalam hidupnya. Kalau tidak, orang tuanya pasti sudah uring-uringan meminta ia cepat-cepat berlabuh ke jenjang pernikahan. Setelah Fadli dan Gamelia menikah di tahun 1989 silam, orang tuanya meminta keduanya memanggil mereka Mama dan Papa, sama seperti panggilan Vanny kepada mereka. Setahun lalu di hari kelahiran Hana, keduanya pun menobatkan diri mereka sebagai Oma dan Opa.

Bagi Fadli, Mama dan Papa adalah orang tua keduanya. Bahkan Fadli merasa lebih dekat ke Mama dan Papa ketimbang Abah dan Ibu. Ia hormat pada Abah, namun rasa hormatnya itu yang membuat Fadli menjaga tutur kata saat berbicara dengan Abah. Sementara Ibu, Fadli merasa tidak begitu nyaman dengannya, karena Ibu suka mengatur hidupnya. Dan Fadli tidak mau diatur. Adiknya Anty pun tidak mau, tapi mereka memiliki something in common, yaitu passion dalam menjahit. Lain halnya dengan Irfan, si bungsu ini mungkin titipan Tuhan bagi orang tuanya. Otak cemerlang, paras rupawan, dan kelakuan yang bak malaikat. Rasanya, adik bungsunya ini hampir tak bercela. Berbeda dari kedua kakaknya, Irfan selalu berada di jalan yang sudah ditetapkan Abah dan Ibu. Walaupun berbeda sifat, Fadli sangat sayang kepada Irfan, adiknya yang terpaut 12 tahun itu. Terkadang Fadli mampir ke rumah hanya untuk bertemu Irfan, bukan kedua orang tuanya. Bulan ini, Irfan baru memulai kehidupannya sebagai mahasiswa.

“Gamelia, ini buatmu.” Mama menyerahkan kotak bingkisan berwarna emas dengan pita merah.

“Apa ini, Ma? Hana yang ultah kok Gamelia yang dikasih hadiah?” Gamelia tersenyum seraya membuka kotak itu, di dalamnya terdapat purse Chanel 2.55 Classic Flap Bag berwarna merah, warna kesukaannya.

“Kado Hana udah banyak di atas. Sekali-kali Mama kasih kamu hadiah dong.”

Gamelia tak dapat berkata-kata. Ini bukan kali pertama Mama memberikan hadiah tanpa alasan ke Gamelia, yang tentu saja selalu barang-barang keluaran high-end fashion brand. Kemudian dia menggeleng-geleng,

“Kakak gak suka kalo aku pake ginian Ma,” katanya mencibir, namun matanya terlihat senang bisa menyentuh tas kulit di tangannya, yang bahkan sudah jadi miliknya, lambskin, “halus sekali…”

“Ah, lelaki mana ngerti sih?” Mama hanya tertawa.

Kemudian Gamelia memeluknya sebelum beranjak ke lantai dua, “Makasih ya, Ma.”

Mama dan Papa benar-benar sosok orang tua yang baik, pikir Gamelia. Bukannya ia tak dekat dengan Bapak dan Ibu kandungnya, tetapi selain Gamelia, masih ada 8 orang saudaranya yang juga butuh perhatian. Walaupun seluruh saudaranya tumbuh kembang sebagai pribadi-pribadi yang mandiri, tetap saja masih ada yang butuh dukungan finansial dari Bapak dan Ibu. Terkadang Gamelia juga turun tangan, karena profesi Fadli dan Gamelia bisa dibilang baik, mereka sudah bisa hidup mapan, memiliki rumah dan tidak tinggal bersama orang tua.

Kalau bicara tentang Abah dan Ibu mertuanya, Gamelia terkadang bergidik sendiri. Fadli saja sudah berikrar kalau ia bukan anak rumahan,

“Aku besar di jalan, bukan di rumah.” Katanya selalu, bangga, yang masih saja membuat Gamelia heran atas rasa bangganya itu.

Bagaimana mungkin Gamelia bisa mendekatkan diri ke keluarga Iskandar. Selama pacaran, Ibu Iskandar pun tidak merestui hubungan Fadli dan Gamelia.

“Hanya teman,” begitu Gamelia selalu disebut oleh Ibu Is.

Sebenarnya Fadli memang tidak pernah mengajak Gamelia untuk pacaran, hal itu terjadi begitu saja. Hubungan mereka semakin dekat, tidak hanya antar-jemput dari kosan ke kampus dan sebaliknya, tidak hanya belajar bersama. Lama-lama Gamelia pun menganggap Fadli pacarnya, karena Fadli selalu lugas mengutarakan apa yang dirasakannya pada Gamelia.

Lain halnya dengan Abah selalu menerima dengan tangan terbuka. Sayangnya, Abah sangatlah sibuk, dan sulit bagi Gamelia untuk bertemu dengannya. Di saat Fadli mulai serius, Abah merasa senang, karena akhirnya si sulung mau berkomitmen, terlepas dari trademark-nya, Casanova. Namun Ibu Is marah, tidak terima anak sulungnya menikahi keluarga yang bukan berasal dari Padang. Jangankan gadis dari pulau seberang, gadis Pariaman saja Ibu Is tidak akan setuju. Apalagi, Gamelia bukanlah berasal dari keluarga yang terpandang dan berada. Jawaban Fadli pada ibunya hanya membuat kondisi semakin keruh,

“Fadli cuma mau bilang, akan nikahin Gamelia. Ibu gak setuju silakan. Gak perlu juga. Fadli cuma perlu restu dari Bapaknya Gamelia,” ujarnya santai, kira-kira dua tahun lalu.

Hubungan Gamelia dengan Anty pun tidak bisa dibilang baik, walaupun umur mereka hanya berbeda setahun. Anty yang tidak pernah menginjakkan kaki di perguruan tinggi, selepas lulus SMA, menekuni dan banyak berperan di dalam bisnis keluarga Iskandar. Entah kenapa Gamelia merasa sikap Anty terhadapnya begitu dingin. Mungkin, sama seperti Ibu Is, Anty merasa Gamelia tidak pantas bersanding dengan kakaknya. Karena sepengetahuan Gamelia dan Vanny, ada beberapa teman-teman Anty yang merupakan korban perasaan Fadli Sang Casanova. Ia pernah mencuri dengar pembicaraan Fadli dan Anty, tentang Gamelia.

It’s not her. It’s everyone.” Ujar Anty.

Gamelia terus memikirkan kata-kata itu, hingga akhirnya dapat menyimpulkan maksudnya, “She doesn’t hate me. She just hates everyone.

“Potong kuenya setelah makan malam ya!” Suara Fadli mengejutkan Gamelia, kecupannya di pipi Gamelia membawanya kembali dari lamunannya.

Malam itu, Hana berusia satu tahun. Pemandangan yang ada di lantai dua cottage begitu lucu. Terlihat sponge cake yang kelewat besar untuk yang berulang tahun di meja tengah. Lalu lilin ditiup bersama-sama oleh lima orang dewasa, karena tentu saja anak batita seumur Hana masih belum bisa meniup lilin hingga padam. Dan seperti yang dikatakan Mama, kado Hana banyak sekali, sampai-sampai hampir menutupi seluruh bangku di ruang duduk.

“Udah kayak kado dari satu RT.” Gamelia tertawa, geli.


Bintaro, Agustus 1991

Fadli, Gamelia, dan Hana pulang ke rumah barunya di Bintaro yang baru ditempati selama satu minggu. Tak lama, ada paket datang. Dari Anty untuk Hana, berupa parsel, berisi boneka gajah yang besarnya dua kali lipat dari tubuh Hana, dihiasi dengan bunga-bunga cantik dan coklat-coklat yang berasal dari mancanegara. 2 tahun belakangan ini, Anty sering berpergian ke luar negeri, sekedar untuk melancong maupun mengikuti short course di fashion institute terkemuka dunia. Gamelia menemukan kartu ucapan, ditulis tangan, dan diakhiri dengan kata-kata “Love, Your Anty.

Gamelia mendapati dirinya tersenyum lebar. Setelah Hana lahir, sikap Anty perlahan-lahan mulai berubah. Ia selalu membelikan barang, pakaian, maupun makanan kecil untuk keponakannya, Hana. Walaupun sesungguhnya Hana belumlah boleh mengonsumsi makanan yang mengandung gula dan garam, tapi biarlah,

“Toh Anty tidak tahu semua coklat dan permen pemberiannya selalu aku yang makan.” Pikir Gamelia, seraya tersenyum kecil.

Memang benar kata orang, bahwa anak adalah lentera keluarga, penghangat suasana. Gamelia pun berharap kehadiran buah hatinya ini dapat membuat kedekatan keluarga besar mereka lebih erat.

Love You, Goodbye…

Bintaro, Februari 2016

708617937593806060516

Hari itu adalah hari Sabtu dan esok harinya adalah hari Minggu. Great, gue mulai terdengar seperti anak TK yang sedang belajar menghitung hari. Sabtu itu, teman spesial yang selama sebelas tahun kebelakang sudah menjadi bagian dari hidup gue akan pergi meninggalkan gue selamanya. Oke, mungkin kedengarannya terlalu berlebihan. Nggak selamanya juga sih, hanya untuk satu setengah tahun ke depan. Masalahnya, saat itu hubungan gue dan dia sedang not in a good terms. Saat dia pergi nanti, gue akan kehilangan dia untuk selamanya. Dan saat dia kembali lagi, entah hubungan kami berdua akan bagaimana karena posisi dia itu akan digantikan oleh wanita yang baru saja gue kenal selama kurang dari dua tahun.

Setelah gue dan Dewi menunda pertunangan kami Oktober lalu lantaran gue masih nggak yakin dengan perasaan gue, akhirnya Minggu itu gue akan melamar Dewi, pacar gue yang benar-benar seperti titisan dewi dari kahyangan. Mungkin cuma laki-laki sakit jiwa yang nggak mau menikahinya. Mungkin gue sakit jiwa karena meragukan hati gue untuk melamarnya besok pagi atau mengejar gadis kecil kesayangan gue malam itu ke bandara.

“Aku udah tau semuanya kok, bahkan sejak telepon Airina malem itu, dua tahun yang lalu. Aku yakin kamu dan Airina lebih dari sekedar temen.” Kata-katanya kembali memasuki lamunan gue beberapa waktu ini. Well, apparently, itulah yang menjadi satu-satunya alasan mengapa Dewi enggan menerima gue dan keluarga 4 bulan kemarin. Airina.

Setelah liburan akhir September lalu and things got a bit out of hands, gue langsung menceritakan semua yang terjadi antara gue dan Airina, dan gue kaget waktu Dewi menjawab dengan tenang, “Sampai kapan juga aku nggak akan pernah bisa ngegantiin posisi Airina dalam hidup kamu, Gas, this is the battle that I cannot win.”

Gue bahkan merasa tertampar dengan kata-kata yang ia ucapkan setelahnya, “Aku rela kok kalau kamu pada akhirnya memilih dia.”

Setelah gue berhasil menenangkan pikiran dan menetralkan perasaan gue, akhirnya gue sudah mantap untuk melamar Dewi dan hubungan gue dan Airina hanyalah sebatas teman. At that point, gue juga merasa sudah jadi laki-laki brengsek yang menyia-nyiakan wanita sebaik Dewi di hadapan gue. I took her for granted. Gue bukannya tidak sayang sama Dewi. Sungguh, gue merasa bersyukur ada Dewi di sisi gue. Namun entah apa, seperti ada sesuatu di diri Airina yang bikin gue pengen selalu ada di sampingnya. Ya, semuanya sudah berlalu, and it is final, I am going to propose Dewi.

Seharian, gue hanya uring-uringan di kamar. Masih tidak bisa memutuskan apakah malam itu gue akan mengantar Airina ke bandara atau tidak. Dua hari lalu, gue sudah kirim paket ke rumahnya, sebagai pengganti diri gue yang tidak bisa melepas kepergiannya dan sekaligus sebagai ucapan perpisahan dari gue. Dua hari lalu, keputusan gue sudah sebulat itu. Namun hari ini, hari ini gue tiba-tiba saja jadi gelisah dan merasa sangat ingin ke bandara untuk menemui dia.

“Tok, tok, tok…”

Terdengar suara pintu kamar gue diketuk. Tak lama kemudian, wajah Ibu muncul di balik pintu. Ibu masuk ke kamar, duduk di sisi ranjang, di sebelah gue yang sedang merebahkan badan.

“Bang, kenapa sih? Ibu perhatiin dari tadi pagi abang kayaknya gelisah terus deh. Grogi ya, buat besok?” Ibu bertanya sambil memasang senyum jahilnya menggoda gue.

“Nggak kok, Bu. Abang nggak apa-apa,” gue menjawab Ibu. Datar.

“Besok temen-temen abang pada dateng nggak? Udah dikasih tau kan, bang?” Ibu bertanya lagi.

“Iya Bu, tenang aja, mereka mau dateng kok katanya besok.” Gue menjawab dengan suara yang gue paksakan terdengar tenang.

“Siapa aja, bang? Reza, Nugi, Randy, Ayu, Airina?” Ibu mengabsen satu-satu sahabat gue di SMA dengan jari-jari tangannya.

Ibu memang sudah kenal dekat dengan mereka. Dulu sewaktu SMA, gue dan teman-teman gue itu bergantian ke rumah masing-masing untuk belajar mempersiapkan Ujian Akhir Nasional (UAN) dan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) sepulang sekolah dan seringnya baru selesai sampai larut malam. Jadi, adalah hal yang sangat wajar kalau orang tua kami hafal dengan nama teman-teman kami.

“Nggak semua, Bu. Kan Reza masih di Jepang, dia nggak libur kerja. Jadi nggak bisa dateng. Airina juga nggak.” Hati gue sedikit ngilu bahkan hanya dengan menyebut namanya.

“Oh iyaaa, Ibu lupa Reza di Jepang. Airina kenapa kok nggak dateng, bang? Eh, dia berangkat kapan sih? Besok yah?” Ibu bertanya lagi, mungkin beliau teringat dengan cerita gue tempo hari tentang Airina yang akan berangkat kuliah master ke Australia. Itupun gue juga dapat kabar dari Reza, karena sejak gue menciumnya, sampai detik ini Airina melancarkan perang dinginnya ke gue.

“Berangkat nanti malem, Bu. Jadi besok nggak bisa dateng.”

“Eh, malam ini? Loh, abang kok nggak nganter ke bandara?” Nada suara Ibu terdengar heran sama seperti ekspresi wajahnya.

Gue terperanjat mendengar pertanyaan Ibu barusan. Apakah Ibu tahu kondisi yang sebenarnya antara gue dan Airina? Atau Ibu memang sekedar bertanya karena sudah lama mengenal Airina? Akhirnya, gue hanya menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan itu.

Setelah makan malam, gue mengurung diri lagi di kamar. Ibu menghampiri gue lagi.

“Abang yakin, abang baik-baik aja? Ini karena nervous besok pagi, atau abang galau karena nggak bisa nganter Airina ke bandara sih?” Ibu bertanya sambil meneliti ekspresi wajah gue.

“Ha ha, apaan sih, Bu? Bener kok, abang nggak apa-apa.” Gue tetap berusaha menjawab santai.

“Sayangnya, Ibu sudah hampir 26 tahun jadi ibunya abang, so I happen to know my own son. Ibu tau, Airina yang paling deket sama abang kan? Yakin nih, nggak mau ke bandara? Daripada nyesel, nanti…”

Ibu gue ini memang betul-betul. Gue nggak pernah bisa bohong atau menutupi perasaan gue di depan Ibu. Sampai-sampai melontarkan kalimat, ‘daripada nyesel nanti’, gue nggak habis pikir.

“Eng… Enggak apa-apa emangnya, Bu, kalau abang keluar dan pulang malem? Kan besok…” Gue berkata ragu-ragu.

Ibu memotong kalimat gue. “Daripada besok abang masih kepikiran Airina, mendingan dituntasin malem ini kan? Asal nggak ngebut aja ya di jalan.” Ibu menepuk kedua lengan gue, kemudian mencium kepala gue.

“Cepet sana, siap-siap. Macet loh jalanan ke bandara, apalagi malem minggu begini.” Ibu berkata sambil beranjak dari tempat tidur dan keluar meninggalkan gue sendirian di kamar.

Tangerang, Februari 2016

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Aku selalu suka dengan suasana airport because airports have more sincere hugs and kisses than the wedding halls ever have. Like a few years ago, ketika aku mengantar Arya ke bandara untuk training di Palembang, aku tidak tahu kalau ternyata itu akan menjadi yang terakhir kalinya. Arya menggenggam erat tanganku sepanjang kami berjalan menuju pintu masuk check-in. Sampai akhirnya kami harus berpisah, matanya menatapku dengan sangat dalam, kemudian dia mendaratkan sebuah kecupan di dahiku. Hal yang tidak biasa dia lakukan di tempat umum, apalagi di tempat seramai bandara. Little did I know that it was a kiss out of guilt because he was cheating on me. Ah, enough with the past. Now here I am, standing at this gate just about to let go of all of the ghosts from my past.

Aku sekuat mungkin menahan tangisku, memaksakan senyum lebar di wajahku kepada semua orang yang mengantarku malam itu. Aku tidak masalah untuk bepergian jauh dari rumah, tetapi kali ini aku pergi untuk waktu yang cukup lama, jadi wajar saja kalau aku jadi agak sedikit melankolis kan? Mama, Papa, Mbak Aurelia beserta suaminya dan dua keponakanku yang lucu-lucu, Mas Akila, sahabat-sahabatku dari SMA dan kuliah, semuanya ada bersamaku. Hanya satu wajah yang hilang, wajah yang selama sebelas tahun terakhir telah menjadi my counterpart in this problematic so-called friendship.

Bagas.

Iya, saat semua orang menunjukkan rasa sayang dan perhatian mereka yang sebegitu besar kepadaku, aku yang kurang bersyukur dan sedikit tidak tahu diri ini malah memikirkan dia seorang.

“Gas, kenapa kita jadi begini sih? Mana mungkin lo dateng kan? Tomorrow is your big day, isn’t it?” Aku berucap dalam hati, berharap Bagas bisa mendengarku.

Setelah berpamitan aku melangkahkan kakiku menuju baggage drop, melambaikan tangan kepada semua orang yang mengantar kepergianku.

708617937593806060516

Setelah bersiap secepat mungkin, gue kemudian terjebak macet di tol arah bandara. Jalanan menuju bandara malam itu sungguh nggak bisa diajak bekerja sama. Seolah semesta berkonspirasi mencegah gue menemui Airina untuk yang terakhir kalinya. Sepanjang perjalanan gue mengirim pesan teks ke Ayu.

Yu, Airina udah masuk belom?
Belom, Gas. Sebentar lagi sih. Lo dateng?
Iya. Last minute decision, Yu. Gue nggak ngasih tau Airina.
Tolong tahan dia sebentar lagi ya.
Oke!

Kalau saja Airina tahu gue nyetir mobil sambil main handphone, pasti dia bakal ngomel-ngomel. Gue bahkan bisa membayangkan ekspresi jengkelnya sambil berkata,

“Bagas, please deh, lo kan bukan kucing yang nyawanya ada sembilan. Do not texting while driving. Safety first, Gas. Simpen ah handphone-nya.”

Ah, anak yang satu itu memang selalu saja suka bossing around but in a cute way sih, and I miss it somehow.

Pukul 21:30, setelah kesulitan mencari parkir di bandara yang penuh sesak, akhirnya gue berdiri di depan departure gate keberangkatan internasional. Mata gue berkeliling berharap melihat sosok yang gue kenal, Airina, atau mungkin keluarganya, atau teman-teman SMA gue yang lain. Gue coba menelepon ponsel Airina saat gue jalan dari parkiran, tetapi nggak diangkat. Mungkin dia sedang sibuk berpamitan dengan yang lain jadi tidak sempat pegang handphone. Gue akhirnya menelepon Ayu.

“Yu, dimana lo? Gue udah sampe nih.”

“Depan Gate 2E. Airina udah masuk, Gas. Lo kelamaan, gue nggak bisa nahan-nahan dia.”

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Setelah baggage drop sekitar satu jam yang lalu, aku kembali keluar dan menghabiskan waktuku sebelum boarding bersama orang-orang terdekatku. 45 menit menjelang boarding time, aku berjalan pelan kembali menuju departure gate. Sudah mulai terlihat antrian mengular dan aku pun ikut berbaris dengan rapi. Namun tiba-tiba,

“AIRINA! NA! NA!”

Seseorang meneriakkan namaku. Suaranya sungguh familiar. Aku celingukan mencari darimana datangnya sumber suara itu. Mataku menangkap pemandagan yang aneh, Ayu, Nugi, Randy, dan… Bagas, melambai-lambaikan tangan mereka ke arahku. Jantungku berdegup tak karuan, “Is this for real?”

Aku mematung dalam antrian, menatap tak percaya pemandangan itu. Di benakku langsung terbayang adegan Cinta mengejar Rangga dalam film Ada Apa Dengan Cinta? yang berakhir with a steamy goodbye kiss. Mungkinkah malam itu aku akan mereka ulang adegan legendaris itu secara live dengan Bagas? Oh, crap! Aku masih saja menaruh harapan kepada calon tunangan orang…

“Dek, maaf, itu antriannya udah maju, Dek.” Suara lelaki separuh baya yang berdiri di belakangku mengembalikan aku ke bumi.

Rupanya aku telah membuat macet antrian karena masih terpaku menatap Bagas dengan imajinasi liarku tadi.

“Eh, maaf, Pak. Silahkan duluan aja, Pak.” Jawabku menahan malu karena ternyata beberapa detik tadi aku blackout.

Lelaki separuh baya itu akhirnya mendahului aku. Aku tidak punya pilihan lain selain keluar dari barisan dan menghampiri teman-temanku itu. Jarak kami tinggal beberapa langkah dan aku menghentikan langkahku karena melihat Bagas bergegas menghampiriku.

“Ngapain lo ada disini, Gas?” Kalimat itu terucap begitu saja dari mulutku saat dia berdiri di hadapanku.

708617937593806060516

“Ada yang perlu gue omongin ke lo, Na.” Gue menjawabnya dengan gugup.

Dari kejauhan tadi, gue bisa melihat sosok mungilnya dibalik T-shirt The Beatles dan jogger pants yang dia kenakan. Tangan kirinya memegang sweater. Ransel Jansport berwarna pink tersampir di pundaknya, yang gue tahu itu adalah hadiah perpisahan dari kami, teman-teman SMA-nya. Entah kenapa untuk sesaat, di benak gue terlintas Nicole Richie, idolanya waktu sekolah dulu. Rambut Airina dibiarkan jatuh terurai di bahunya. Manis sekali.

Kemudian Airina melirik jam tangannya. Saat itu gue baru sadar kalau itu adalah jam tangan pemberian gue, yang gue paketkan ke rumahnya dua hari lalu. Kemudian ia berkata, “Waktu gue nggak banyak, Gas.”

“Suits you well,” walaupun nggak nyambung, gue tetap mengatakan kalimat itu sebagai jawaban atas pernyataan Airina sebelumnya. Seulas senyum yang tadinya terbentuk di wajah gue, terasa mengembang melihatnya.

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Hah?” Aku cuma bisa bengong keheranan. Apa sih maksud Bagas?

And to my surprise, Bagas menyodorkan lengan kirinya. Ternyata dia memakai jam tangan yang identik dengan yang dia berikan kepadaku. He’s smiling from ear to ear.

Ya Tuhan, apa sih arti semua ini? Gas, lo membuat gue serasa berada di video clip-nya Backstreet Boys. Quit playing games with my heart

Dua hari sebelum hari keberangkatanku, aku mendapatkan kiriman paket tanpa nama pengirim ke rumah. Isinya, sebuah kotak dan sebuah kartu. Aku bisa mengenali tulisan cakar ayam Bagas begitu aku buka kartu itu. Dalam kartunya tertulis bahwa Bagas tidak bisa mengantarku ke bandara, maka dari itu dia kirim paket tersebut sebagai ucapan perpisahan untukku. Iya betul, kotak itu berisi jam tangan Classic Oxford Daniel Wellington, yang sedang aku pakai malam ini. Karena paket itu juga, aku sudah mempersiapkan kondisi terburuk kalau malam ini dia tidak akan datang.

Sebenarnya, sebelum berangkat aku tidak ingin memakai jam tangan pemberian Bagas. Bukan karena apa-apa, aku hanya tidak terlalu suka dengan modelnya yang simpel dan gender neutral itu. Namun tetap saja, karena jam tersebut adalah pemberian dari Bagas, aku lebih memilih untuk memakainya, ketimbang memakai jam tangan rose gold Michael Kors milikku yang belakangan sedang sering-seringnya aku pakai.

I thought you’d never come, Gas… Aku sangat ingin melontarkan kalimat itu ke Bagas. Namun aku lebih memilih untuk diam, menanti Bagas mengucapkan sesuatu kepadaku.

“So, here we are, saying our goodbyes,” Bagas melangkah maju mendekatiku.

“Iya, makasih ya udah dateng, Gas.” Aku tersenyum padanya.

Hanya ucapan terima kasih yang bisa aku ucapkan. Sepertinya otak ini tidak bisa memberiku amunisi kalimat lainnya, untuk aku ucapkan di hadapan laki-laki yang sedang menatapku penuh arti.

“Entah berapa kali gue ngomong gini ke lo, mungkin banyak yang lo pikir bercanda, tapi gue selalu serius. Gue sayang sama lo, dan gue rasa nggak ada cowok-cowok di sekitar lo yang pantes buat di samping lo. Dari Fahri, Arya, terus Bintang, siapapun itu. Gue pun nggak, Na.”

Bagas menarik napasnya, lalu melanjutkan.

That’s why, selama ini, gue berusaha cari yang lain untuk gantiin posisi lo di hati gue, tapi gue selalu gagal. Ujung-ujungnya selalu balik ke lo lagi.”

Aku bisa melihat air mata tergenang di ujung matanya. Aku tak kuasa berkata-kata. Lidahku pun kelu.

Timing kita selalu nggak tepat… dari SMA. Lo tau? Sebelas tahun, Na. Akhirnya kelepasan juga gue waktu itu.”

Kakiku lemas saat mendengar Bagas mengucapkan semua itu kepadaku. Selama ini aku hanya berpikir Bagas egois, menyatakan perasaannya lalu pergi meninggalkanku begitu saja. Padahal Bagas pun sakit hati, memendam perasaannya selama ini. Yet I took him for granted. Dan bukan salah Bagas kalau pada akhirnya dia lebih memilih Dewi.

“Gas, maaf. Gue nggak sadar kalo gue pun udah nyakitin lo. Maaf, kalau timing kita selalu nggak tepat.” Suaraku bergetar, sebisa mungkin menahan air mata menetes dari kedua bola mataku.

“Nggak Na, gue rasa semua salah gue. Kalo gue nggak menyatakan perasaan ke lo, kita nggak akan kayak gini. Kalo waktu itu gue bisa kontrol diri gue dan nggak cium lo, kita nggak akan kayak gini. Maaf kalau gue udah bikin kita jadi berantakan kayak gini, Na. I miss us.

Untuk beberapa saat kami hanya terdiam. Akhirnya aku berkata,

“Yaudah, Gas, udah lewat juga semuanya kan. Apologies accepted, he he he.” Kataku, meringis.

Bagas kemudian tersenyum, ikut tertawa kecil. “Jangan males makan yah nanti disana. Udah nggak ada gue lagi yang siap sedia bisa anterin makanan setiap saat lo mager.”

Aku balas tersenyum, kali ini lebih tulus, rasanya dadaku yang terhimpit ini lapang sudah. “Iya, tenang aja.”

“Lo juga jangan nervous ya, Gas, besok. Semoga lancar segala sesuatunya, sampai hari H nanti. Sorry I can’t be there but my prayers are always with you.”

Tanpa kuduga, Bagas kemudian mencondongkan tubuhnya ke arahku, memeluk aku dengan kedua tangannya.

“Maafin gue ya, Airina. No matter what, you’re always gonna be my best friend. Take care… I’m gonna miss you,” bisiknya di telingaku.

Setetes air mata jatuh di pipiku. Aku tidak membalas ucapannya tadi, aku hanya ingin berdiri, diam, dan memeluknya sebentar lagi saja… I just want to syncopate my breath to his heart beating. Aku tidak peduli kalau puluhan pasang mata mungkin sedang menatap kami. Aku bahkan berharap Mama dan Papa akan maklum melihat bungsunya berpelukan dengan laki-laki di tempat umum seperti itu. Aku membenamkan wajahku di dalam pelukan dadanya yang bidang.

Kemudian terdengar suara Randy, “Woy, ditahan dikitlah. Masih ada kita nih disini.”

Aku tertawa kecil ditengah tangisku. Bagas melepaskan pelukan kami, ikut tertawa.

“Thank you for the last eleven years, Gas!”

Aku duduk di ruang tunggu, menanti waktu untuk boarding. Aku mengulang-ulang adegan tadi saat Bagas memelukku. Walaupun aku akan kehilangan dia untuk selamanya setelah ini, setidaknya pundakku sekarang terasa jauh lebih ringan dan rasa yang terpendam ini tak lagi menyesakkan dada.

Aku mengeluarkan iPod dari dalam tas ransel dan memasang earphone di kedua telingaku. Aku sangat memerlukan lagu yang tepat untuk menemaniku melalui saat-saat seperti ini. Jariku menelusuri lagu-lagu di Library secara perlahan, My Everything-nya Ariana Grande sepertinya cocok dengan kondisi aku dan Bagas. Tetapi tidak, arti setiap kata di lirik lagu itu terlalu dalam untukku. Atau mungkin aku bisa play All I Ask-nya Adele. Tetapi aku sungguh tidak ingin mendapati diriku nanti menangis sesenggukan di ruang tunggu, lantaran kombinasi yang sempurna antara lirik lagu dan suara Adele yang menyayat-nyayat dinding hatiku. Dan akhirnya, pilihanku jatuh pada salah satu lagu di album terbaru dari boyband kesayanganku, One Direction.

Track 11, Love You Goodbye.

“Goodbye, Gas…” Ucapku dalam hati, tak terasa air mata mulai membasahi kedua pipiku.

708617937593806060516

Gue sudah kembali ke parkiran, terduduk diam di bangku kemudi, masih mencoba memproses semua hal yang terjadi tadi. Gue bahkan masih bisa mencium aroma parfumnya dan merasakan detak jantungnya yang tiba-tiba berdetak cepat saat gue peluk tubuh dia yang mungil itu.

This may be it, because if this is, then at least we could end it right. Gue harus merelakan kepergiannya.

Pandangan gue terpaku pada sebuah kotak CD yang tergeletak di jok sebelah kiri gue. Cover depannya bergambar empat laki-laki duduk di sofa, Made in the A.M. album ke-5 dari One Direction. Boyband kesayangannya Airina, yang gue yakin dia bisa menyebutkan siapa adalah siapa di cover itu. Gue masih ingat, Maret lalu, Airina mohon-mohon ke gue untuk ditemani nonton konser One Direction di Gelora Bung Karno. Gue yang lelaki tulen ini tentu saja menolak permintaan silly-nya itu. Namun, memang dasar sifat kerasnya Airina yang nggak bisa dibilangin, dia tetap nekat nonton sendirian. Lalu setelah nonton konser, di jalan pulang dia nelepon gue sambil nangis-nangis, bikin gue panik setengah mati. Saat gue tanya kenapa, apakah mungkin dia cedera atau terkena himpit anak-anak remaja labil di konser, dia menjawab,

Worse than that, Gaaas! Lo harus tau, Zayn keluar dari One Direction padahal gue baru aja nonton konser pertama mereka di Indonesia, dan tanpa diaaa. Gimana siiih? Sedih banget gue…” Airina merengek seperti anak kecil yang menangis minta dibelikan balon. Buat dia ternyata nasib boyband kesayangannya itu jauh lebih penting dari her own safety. Gue speechless dan cuma bisa geleng-geleng kepala dibalik telepon.

Sebenarnya, gengsi juga kalau sampai Airina tahu gue akhirnya suka sama boyband ini, bahkan sampai niat banget membeli CD nya. Well, surprisingly lagu-lagu mereka di album ini nggak cheesy kayak lagu pop teenage girls pada umumnya.

Gue tersadar dari lamunan gue tentang Airina saat gue melihat jam di dashboard sudah menunjukkan pukul 22:15. Airina pasti sudah boarding, to start over. Gue pun besok pagi akan membuka lembaran baru. Dan gue juga nggak mau membuat Ibu khawatir kalau gue pulang terlalu malam, mengingat besok adalah hari penting karena gue akan melamar anak gadis orang.

Gue bersiap pulang. Sebelum melajukan mobil, gue menghidupkan music player yang secara otomatis memutarkan CD One Direction yang sudah gue play sejak berangkat tadi.

Track 11, Love You Goodbye.

It’s inevitable everything that’s good comes to an end
It’s impossible to know if after this we can still be friends, yeah

I know you’re saying you don’t wanna hurt me
Well, maybe you should show a little mercy
The way you look I know you didn’t come to apologize

Hey, hey, hey
Oh, why you wearing that to walk out of my life?
Hey, hey, hey
Oh, even though it’s over you should stay tonight
Hey, hey, hey
If tomorrow you won’t be mine
Won’t you give it to me one last time?

Oh, baby, let me love you goodbye

Shit. Cuma itu kata yang bisa terucap ketika gue sadar makna dibalik lirik lagu tersebut.

Unforgettable together, held the whole world in our hands
Unexplainable, a love that only we could understand, yeah

I know there’s nothing I can do to change it
But is it something that can be negotiated?
My heart’s already breaking, baby, go on, twist the knife

One more taste of your lips just to bring me back
To the places we’ve been and the nights we’ve had
Because if this is it then at least we could end it right

Oh, why you wearing that to walk out of my life?
Hey, hey, hey
Oh, even though it’s over you should stay the night, yeah
Hey, hey, hey
If tomorrow you won’t be mine
Won’t you give it to me one last time?

Oh, baby, let me love you goodbye

A guy and a girl can be just friends, but at one point or another, they will fall for each other. Maybe temporarily, maybe at the wrong time, maybe too late, or maybe forever.

– David Matthews Band

It Ends Tonight

Jakarta, September 2015

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Hari Senin adalah hari yang paling aku benci dari semua hari. Karena hari Senin itu artinya aku harus bangun pagi setelah dua hari sebelumnya bisa bermalas-malasan bangun siang tanpa dibangunkan oleh alarm. Artinya juga, aku harus berjibaku menerjang kemacetan Jakarta dari rumahku di Bintaro menuju kantorku di Sudirman Central Business District (SCBD). Itu juga berarti, saat tiba di kantor aku harus melalui weekly meeting dan mendapat kabar terbaru kalau dalam 3 hari kedepan para Board of Directors (BOD) akan berkunjung ke site–yang berarti aku harus mempersiapkan segala sesuatunya, serba terburu-buru juga.

Namun sebenarnya, aku memang sengaja menenggelamkan diriku dalam lautan pekerjaan. Tidak terasa, sudah lebih dari satu tahun sejak Kak Bintang memutuskan hubungan kami begitu saja di hari ulang tahunnya. Aku jadi berpikir bahwa semua laki-laki di dunia ini sama saja. Dalam kamusku hanya ada tiga jenis laki-laki, kalau tidak brengsek ya sangat brengsek atau gay. Dan aku rasa, aku bisa memasukkan Kak Bintang kedalam kategori yang kedua. Bagaimana tidak? Ternyata aku adalah orang ketiga dalam hubungannya dengan pacarnya. Syukurlah semua itu cepat berakhir. Sejak kejadian itu, aku dengan bangga mendeklarasikan that I’m single and very happy. Dan aku masih enggan untuk mengubah statusku menjadi budak cinta layaknya sahabatku yang lain.

Aku baru saja kembali ke cubicle setelah rapat usai saat aku mendapati telepon masuk di ponselku. Skype Call dari Reza. Aku spontan mengernyitkan dahiku, ada apakah gerangan Reza menelepon disaat jam kantor?

“Hai, Ja! Kenapa lo tumben nelepon pagi-pagi?” Aku mengangkat telepon darinya dengan nada sewot, masih terkena efek weekly meeting pagi itu.

“Oit! He he, kenapa sih, bawaannya curiga aja lo sama gue? Sibuk nggak lo?” Reza menjawabku dengan bersemangat.

“Ini Senin pagi. Ya menurut lo aja deeeh sibuk apa nggak di kantor jam segini? Lagian, emang lo nggak kerja?” Aku menerka bahwa saat itu seharusnya sudah jam 11 pagi di Jepang dan semestinya Reza juga sedang bekerja.

“Duh, sok sibuk banget ah, calon manajer HSE. Ha ha ha.” Bukannya menjawabku, Reza malah menggodaku.

“Ha ha, amin aja deh gue, kacung kampret cem gue gini didoain jadi manajer. So, what’s up?” Aku bertanya lagi kepada Reza. Entah kenapa, aku selalu curiga dengan sahabatku yang satu itu. Karena setiap dia meneleponku, pasti selalu saja ada maksud dibaliknya.

“Gue cuti dua minggu. Sebentar lagi terbang nih gue ke Jakarta. Sekalian mau dateng ke nikahan si Hana weekend nanti. Lo dateng kan?”

“Gila, niat juga lo sampe cuti gitu buat dateng ke nikahan Hana? Iya gue dateng lah. Mau dikutuk jadi batu gue? Jadi bridesmaid durhaka nggak dateng?”

“Oh iya juga ya, ha ha ha. Kan lo bridesmaid nya Hana ya, pasti dateng. Nggak, gue sebenernya juga ada libur panjang, jadi sekalian aja ambil cuti buat pulang ke Indonesia. Eh, ketemuan lah nanti. Mumpung gue balik, mumpung Bagas belom sibuk ngurus nikahan, kan tinggal berapa minggu lagi dia lamaran. Oh iya, lo kapan sih mau cabut kuliah? Tahun depan ya? Udah ada kabar?”

Wajar saja kalau Reza menyempatkan diri untuk datang ke nikahan Hana, mereka menjadi dekat saat keduanya kuliah master di Jepang. Namun, aku mengalami kesulitan mencerna kalimat terakhir yang Reza ucapkan dan senyumku yang tadinya merekah pun langsung sirna seketika. Aku pikir aku salah mendengar kata-kata Reza. Bagas? Mengurus nikahan? Sebentar lagi lamaran? Aku membisu.

“Halo? Oit? Are you still there?” Reza mulai berkicau di balik telepon karena aku larut dalam pikiranku dan tidak meresponnya.

“Eh, iya sorry. Belom ada kabar nih tentang kuliah. Doain aja lah. Oh iya, emang kapan Bagas lamarannya? Lo atur aja deh kalo mau ketemuan, nanti gue tinggal dateng.” Aku berusaha menjawab Reza sekasual mungkin.

“Oh, gitu. Siap lah, pasti gue doain. Minggu pertama Oktober. Emang Bagas nggak cerita sama lo?”

“Mungkin pernah cerita deh, tapi gue lupa kayaknya, he he” aku berbohong.

“Oke lah, Jumat malem ya kongkow! By the way, gue udah mau boarding nih. Bye!”

“Okay! See you soon!”

Sudah satu tahun, bahkan mungkin lebih, sejak terakhir kali aku dan Bagas berkomunikasi. Aku juga tidak tahu pasti, I’ve lost the track of time. The only thing that I remember is we are constantly avoiding each other setiap kali teman-teman mengajak kami kumpul. Pilihannya, jika aku ikut, dia tidak akan hadir, begitu pun sebaliknya. Begitu terus siklusnya, sampai akhirnya tidak ada komunikasi sama sekali antara aku dan dia. Ucapan ulang tahun yang saling kami kirimkan untuk satu sama lain lewat group chat tentu saja tidak masuk dalam kategori komunikasi. It seems like we have outgrown each other.

Lalu tiba-tiba aku mendapat kabar kalau Bagas sebentar lagi akan lamaran. Dengan siapa? Apakah dia masih berpacaran dengan Dewi? Dewi adalah sosok perempuan yang menurutku tidak ada kurangnya dan aku rela kalau akhirnya Bagas melabuhkan cintanya untuk Dewi. Tetapi kenapa Bagas tidak memberitahu aku tentang kabar besar semacam ini? Tidak sedikit pun. Apakah dia sudah tidak menganggap aku sebagai sahabatnya lagi? Tiba-tiba aku merasa telah menjadi orang asing baginya.

Aku menahan tangisku dan menyadari bahwa aku sudah kehilangan Bagas, mungkin untuk selamanya. Mood-ku pun langsung hancur seketika. Aku menyumbat kedua telingaku dengan earphone, memaksimalkan volume iPod, dan memutar lagu Taylor Swift, The Story of Us sambil menatap kosong langit Jakarta yang terlihat mendung pagi itu dari jendela di lantai 22 Tower 1 BEJ.

I used to think one day we’d tell the story of us,
How we met and the sparks flew instantly,
and people would say, “They’re the lucky ones.”
I used to know my place was the spot next to you,
Now I’m searching the room for an empty seat,
‘Cause lately I don’t even know what page you’re on.

Oh, a simple complication,
Miscommunications lead to fall-out.
So many things that I wish you knew,
So many walls up I can’t break through.

Now I’m standing alone in a crowded room and we’re not speaking,
And I’m dying to know is it killing you like it’s killing me, yeah?
I don’t know what to say, since the twist of fate when it all broke down,
And the story of us looks a lot like a tragedy now.

Next chapter.

How’d we end up this way?
See me nervously pulling at my clothes and trying to look busy,
And you’re doing your best to avoid me.
I’m starting to think one day I’ll tell the story of us,
How I was losing my mind when I saw you here,
But you held your pride like you should’ve held me.

Oh, I’m scared to see the ending,
Why are we pretending this is nothing?
I’d tell you I miss you but I don’t know how,
I’ve never heard silence quite this loud.

This is looking like a contest,
Of who can act like they care less,
But I liked it better when you were on my side.
The battle’s in your hands now,
But I would lay my armor down
If you said you’d rather love than fight.
So many things that you wish I knew,
But the story of us might be ending soon.

I fucking hate Monday!

Jumat sore. Aku berusaha mengatur napasku yang terengah-engah karena setengah berlari dari pintu gerbang, pandanganku menyapu suasana di sekelilingku. Stasiun Gambir penuh sesak dengan para pelancong, para porter sibuk mengangkut koper dan tas-tas bepergian dari calon penumpang yang menyewa jasanya. Antrian panjang pun terlihat di beberapa loket. Memicingkan mata, aku melihat kelima sahabatku semenjak SMA berdiri di gerbang masuk, muka mereka terlihat lelah dan kusut–mungkin sama sepertiku, baru saja mengarungi kemacetan ibukota di Jumat sore. Reza melambaikan tangannya yang terlihat memegang tiket kereta, hanya dia yang terlihat sumringah–tentu saja, Reza sedag dalam liburan mode selama waktunya di Jakarta dua minggu itu. Di sebelahnya ada Nugi, Ayu, Randy, dan… Bagas. Entah ini hanya sekedar khayalku atau bukan, tapi melihatnya, aku merasa jantungku berhenti berdetak sebentar.

Kereta akhirnya bergerak meninggalkan stasiun. Aku membuka bungkusan makanan yang aku beli, sesaat sebelum naik ke kereta di salah satu fast food chains jagonya ayam. Sejak siang aku belum makan karena meeting seharian, dan sesudahnya langsung terburu-buru naik ojek online dari kantor menuju stasiun agar tidak tertinggal kereta. Bisa terbayangkan, macetnya jalanan Jakarta di Jumat sore selepas jam kantor.

Aku memandang keluar jendela kereta sambil melahap Twisty dan french fries di hadapanku. Tanpa kusadari, aku terlarut dalam lamunanku. Dan perkataan Reza kepada Bagas terngiang di telingaku.

“Jadi percuma nih gue sampe cuti segala buat liburan bareng tapi ternyata lo nggak jadi lamaran, Gas? Gimana ini?”

Reza dan Bagas yang berjalan lebih dulu menaiki anak tangga ke peron tidak sadar kalau jarak kami cukup dekat, dan aku bisa mencuri dengar pembicaraan mereka.

Bagas hanya tertawa dan menjawab, “Hahaha, iya nih… Sorry deh kalo gitu.”

Jantungku mendadak berdetak lebih cepat saat mendengar jawaban dari Bagas, “Apakah yang aku dengar itu benar? Bagas tidak jadi lamaran dengan Dewi? Apakah mereka sudah putus, for good?” Ya Tuhan, harapanku melambung tinggi lagi.

Aku berusaha untuk tidak menghiraukannya. There I was, berada di kereta menuju Malang untuk liburan dengan sahabat-sahabat SMA ku. Dan yang aku tidak percaya adalah orang yang duduk di sampingku. Orang yang sudah satu tahun lebih terasa seperti orang asing bagiku. Sepertinya perjalanan itu menjadi 15 jam yang sangat lama untukku.

“Oy! Bengong aja lo! Ntar kesambet loh…” Bagas menyiku lengan kananku dan mengembalikan aku ke realita.

Aku menoleh ke arahnya dan mendapati ia tersenyum lebar kepadaku. “Rese deh lo, ngagetin aja.”

Ia menyengir, “Makanya jangan ngelamun. Mikirin apa sih lo lagian?”

Andai saja dia tahu apa yang sesaat tadi aku pikirkan. Ibarat ini adalah lagu Taylor Swift, mungkin lagu yang cocok adalah Sparks Fly, close enough to hope you couldn’t see what I was thinking of…

“Mau tau aja!” Aku menjawab Bagas, acuh tak acuh.

Kemudian aku mengeluarkan iPod dan memasang earphone di kedua telingaku. Itu cara satu-satunya yang paling ampuh untuk menghindari kecanggungan di antara kami, pikirku. Namun ternyata, he just can’t leave me alone.

“Na, sebelah-sebelah dong dengerinnya. Gue lupa bawa earphone nih. Bosen.”

Aku menghela napas dan memberikan sebelah earphone-ku padanya. I hit the play button on Perfect, Simple Plan.

Just like the good old days…” Aku berucap dalam hati.

708617937593806060516

Airina jatuh tertidur hanya setelah 4 lagu. Dia masih gadis yang sama, yang hobi tidur. She is just like that. And that’s why I love her.

Gue mengambil iPod dari tangannya dan membuka music library nya. Ada satu playlist yang menarik perhatian gue, judulnya “HIM”. Gue scroll dan dari judulnya gue bisa yakin ini adalah playlist patah hati. Tapi pertanyaannya adalah tentang siapa? Yang pasti bukan Arya. Mungkin Bintang, gue dapat kabar dari Ayu kalau Airina sudah putus dengan Bintang. Karena penasaran, akhirnya gue play salah satu lagu di playlist-nya. Gue mendengarkan satu lagu yang berjudul About You Now dari Sugababes, entah siapa penyanyi ini, rasanya gue juga belum pernah dengar namanya. Dibalik kesamaan selera musik gue dan Airina yang beraliran punk rock, kadang gue juga kurang paham sama lagu-lagu random yang dia suka, kayak lagu ini contohnya. Man! Liriknya tapi rasanya kok pas dengan kondisi gue dan dia, ya? Ini gue aja yang kepedean alias GR, atau gimana? Ah, gue jadi teringat dengan kata-kata yang pernah gue baca, a girl’s favorite song will tell you more about her feelings than her lips ever will. Mungkin dengan playlist ini gue bisa menyelami isi hatinya.

Gadis kecil di sebelah gue itu masih tertidur dengan pulas. Saking pulasnya, sampai dia nggak sadar kalau sekarang kepalanya bersandar di pundak kiri gue. Ayu juga sudah tertidur pulas di pelukan Randy, di bangku sebelah kanan gue. Dan dari gelagatnya, sepertinya Reza dan Nugi di bangku depan juga sudah tidur.

Menjelang tengah malam, Airina akhirnya terbangun. Dia mengangkat kepalanya perlahan dari pundak gue.

Morning!” Gue menyapanya dengan wajah iseng.

Airina yang masih setengah sadar langsung kaget, “Hah? Udah pagi, Gas? Kita udah sampe? Selama itu ya gue ketidurannya? Duh, sori ya? Gue nggak ngiler kan tadi tidurnya? Jaket lo nggak kena?” Dia mengelap bibirnya dengan punggung telapak tangan.

“Hahaha, tenang woy, tenang. Baru jam 12 kurang 10 kok, Na. Tapi iya nih, pundak gue basah sebelah rasanya,” gue menyodorkan pundak kiri gue kepadanya.

Airina meraba pundak gue dengan wajah merasa bersalah. Kemudian tiba-tiba wajahnya berubah seperti sedang kesal, mungkin dia sadar kalau pundak gue kering dan tadi gue hanya menjahili dia.

“Ih, bete ah, lo bohongin gue mulu…” Dia memukul gue dengan pelan.

Gue meraih tangannya. “Sini dong, nyender lagi. Jangan ngambek gitu ah.”

Setelah berpikir untuk sekian detik, akhirnya dia menyandarkan dirinya ke gue lagi.

“Gue kangen juga deh, Na, sama ambekan-ambekan lo gini. Udah lama banget ya rasanya.”

“Bohong… Ya kalo kangen kenapa lo nggak ngehubungin gue?” Dia berkata seperti ngambek yang dibuat-buat.

“Ya biasanya kan ada aja yang lo curhatin atau minta temenin kemana lah…”

Yes, I know. Tapi kan biasanya juga lo suka nyariin, kalo gue udah lama nggak beredar di orbit lo.”

Gue cuma bisa garuk-garuk kepala, bingung mau jawab apa. Akhirnya gue mengalihkan pandangan ke lorong, sambil berkata pelan,

“Gue… takut, nggak bisa kontrol diri gue kalo ketemu lo.”

Reaksi yang Airina berikan tidak seperti yang gue bayangkan. Alih-alih salah tingkah, dengan galaknya dia malah mencubit lengan atas gue,

“Ngomong apa lo? Maksudnya nggak bisa kontrol?!”

Gue tertawa dan gadis mungil ini menjauhkan tubuhnya dari gue, memasang tampang sok was-was. “Ih, awas ya lo ngapa-ngapain gue. Mana yang lain udah pada nyenyak banget lagi tidurnya…”

“Bercanda kok, Airina.” Lalu gue mengacak-acak rambutnya yang dicepol, mukanya semakin jengkel, yang bikin gue semakin tertawa terbahak-bahak.

“Kenapa sih, lo rese banget?”

Dengan cepat tangan gue meraih tangannya yang sudah siap mengikatkan rambutnya lagi, “Digerai aja dong, lo lebih cantik kayak gini.”

Airina tidak menjawab, sekarang gantian dia yang mengalihkan pandangannya. Gue cuma berharap dia nggak akan melepas genggaman tangan ini.

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Hatiku berdebar tak karuan, cukup lama aku memalingkan wajah dan menatap ke jendela, sampai akhirnya mataku kembali beralih ke Bagas. Dan entah bagaimana, rasa canggung yang tadinya aku rasakan, perlahan merayap pergi. Semalaman kami terjaga, karena terlalu excited saling menceritakan hal-hal yang setahun belakangan terjadi dalam kehidupan kami. Bagas selalu bisa membuatku terhanyut dalam topik apapun yang ia bicarakan. After all this time, I’m still into him. Ah, he just knows how to push my buttons.


Malang, September 2015

Kereta tiba di Stasiun Malang pukul 09:20 pagi. Aku dan teman-teman bergegas ke guesthouse untuk bersih-bersih dan beristirahat sebentar sebelum memulai liburan kami. Destinasi hari ini adalah Museum Angkut dan Batu Secret Zoo. Kami berkeliling dengan mobil yang kami sewa. Setelah makan malam dan mencicipi pos ketan duren yang melegenda di Batu itu, kami kembali ke guesthouse. Kami perlu beristirahat karena tengah malam nanti akan lanjut ke Bromo, last stop liburan kali itu. Liburan yang sangat singkat.

Pukul 23:30 aku terbangun saat mendengar Randy mengetuk pintu kamar aku dan Ayu, menyuruh kami untuk bersiap-siap. Travel akan menjemput kami ke guesthouse tepat pukul 00:00 karena perjalanan menuju jeep pickup point memakan 2,5-3 jam berkendara.

Kami sudah berada di Jeep yang akan membawa kami ke spot pertama untuk melihat sunrise. Guide travel menurunkan kami di parkiran dan kami harus jalan kaki ke atas. Aku baru sadar kalau suhu di Bromo dingin sekali, apalagi saat dini hari seperti ini. Jalur penanjakan agak gelap karena minimnya penerangan dan satu dua kali aku terpeleset. Untunglah, ada Bagas yang dengan sigap menopang tubuhku dari belakang sehingga aku tidak terjatuh.

708617937593806060516

Sepanjang jalur penanjakan, Airina selalu terpeleset. Gue pun sengaja nggak mau jauh dari dia, to keep my eyes on her. Seperti yang berkali-kali gue bilang, anak ini memang nggak bisa dibiarkan sendiri dan setiap kita pergi bareng, gue lah yang secara tidak langsung bertugas sebagai bodyguard-nya Airina.

Pemberhentian selanjutnya adalah Bukit Teletubbies, iya, karena bukit-bukitnya berbentuk seperti bukit yang ada di acara Teletubbies. Airina masih meringis kesakitan di jok tengah antara gue dan Ayu.

“Duh, Na, kok bisa sampe terkilir gini sih? Emang lo ngapain tadi?” Ayu berkata sambil mengusap-usap kaki kanan Airina.

Si ceroboh Airina terpeleset sewaktu kami menanjak menuju kawah Bromo. Ya, salah dianya sendiri juga sih sebenarnya. Anak yang satu ini memang kepala batu, sudah diberi tahu tapi nggak pernah mau dengar. Dia lebih memilih jalan yang susah ketimbang menaiki anak tangga satu per satu dengan sabar. Habis terjatuh, siapa coba yang membantu dia buat berdiri dan jalan sampai balik ke Jeep lagi? Ya tentu saja gue, gue yang masih saja lemah dan nggak bisa cuek sama dia.

Belum sempat Airina menjawab, Nugi berkata, “Yaelah, Yu, kayak nggak tau Airina aja. Dia lagi berdiri diem aja bisa kepeleset, apalagi mendaki tinggi banget kayak tadi. Hahaha.”

“Lemah lo ah!” Kata Reza menambahkan.

Airina hanya cekikikan di samping gue, “Yaudah sih, kalian, gue udah jatoh gini masih aja di-bully ah.”

“Yaudah, yaudah. Biarin aja, kalo dia ngambek nanti kita juga yang pusing guys.” Randy menengahkan.

Reza, Nugi, Randy, dan Ayu langsung turun begitu Jeep berhenti. Airina kemudian berkata, “Eh, gue di mobil aja nggak apa-apa ya? Daripada gue memperlambat kalian nanti. Asli, sakit banget kaki gue.”

Gue masih pada posisi duduk gue karena disandari oleh Airina.

“Eh? Lo yakin nggak apa-apa, Na, sendirian?” Ayu bertanya, khawatir.

“Santai, nggak apa-apa kok.” Dia mengacungkan kedua jempolnya.

“Yaudah, gue nemenin Airina deh. Kasian kalo sendirian.” Gue akhirnya angkat bicara.

“Oke lah kalo gitu.” Reza langsung mengiyakan.

“Tenang aja kita nggak akan lama kok!” Kata Randy.

“Ah, lama juga nggak apa-apa. Udah sana-sana pada cabut lo semua.” Gue menjawab mereka, lebih tepatnya mengusir sih.

Saat mereka sudah melangkah menjauhi Jeep, Airina tersenyum kepada gue. “Heh, kenapa tuh, kalo lama juga nggak apa-apa? Awas ya lo kalo berani macem-macem sama gue yang sedang tak berdaya ini,” dia berkata dengan memasang senyum jahilnya.

Gue mengusap kepalanya seraya turun dari Jeep, “We’ll see what I can do to you…”

“Gas, thanks yah, you’re the best!”

Gue menoleh ke arahnya yang masih terduduk dan mengusap-usap pergelangan kaki kanannya yang sakit itu, kemudian gue tersenyum.

“Airina, Airina… Kenapa sih, lo ceroboh banget? Gimana bisa gue biarin lo sendirian?” Gue hanya bisa bergumam dalam hati sambil menatapnya lekat-lekat.

“Gue tapi bosen sih, Gas, disini. Bantuin dong, mau turun bentar.”

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Tanpa ku duga, Bagas kemudian menggendongku di punggungnya. Aku hanya bisa tertawa dengan kelakuannya yang selalu saja memanjakan aku, seperti ini salah satu contohnya. Dia mendudukkan aku di kap mobil. Sinar matahari pagi menyapaku saat aku menyandarkan tubuhku di kaca depan. Aku memejamkan mata sesaat dan menghirup udara segar. Sejuk sekali rasanya, berbeda dengan pagi di Jakarta yang sudah bising dan penuh sesak dengan kendaraan.

Bagas berdiri di sisi Jeep di sebelah kiriku. Dia menopangkan dagunya dengan kedua tangan yang ia letakkan di atas kap mobil. Aku dan Bagas sama-sama mengomentari keindahan alam yang terbentang di hadapan kami, dan betapa rindunya dia menghabiskan waktu di alam bebas seperti ini. Bagas bilang, dia sedang membuat satu lagu tentang itu. Aku tersenyum, teringat hobinya sedari SMA itu, bahkan dia lah yang membuatkan lagu untuk Fahri saat akan menyatakan perasaannya padaku waktu SMA dulu. Sambil menutupi wajah dan pandanganku yang silau terkena matahari, aku menikmati lantunan suara Bagas yang berdendang pelan di telingaku. Entah setelah berapa lama, suaranya terhenti.

Saat aku mengintip dengan sebelah mataku, wajah Bagas tinggal beberapa inci dari wajahku. Aku tercekat, jantungku berdebar cepat. Dengan lembut, bibirnya menyentuh bibirku. Waktu terasa berhenti sejenak dan di saat aku kembali terbawa arusnya waktu, kata yang pertama kudengar dari Bagas adalah permintaan maaf. Aku menatapnya bingung, untuk apa?

708617937593806060516

Shit. Gue kehilangan kontrol atas diri gue sendiri. Benar kan, hal yang gue takutkan akhirnya terjadi juga.

“Airina, sorry. Maafin gue.”

“Kenapa minta maaf, Gas?” Airina menatap gue dengan tampang kebingungan.

“Karena gue salah. Seharusnya gue nggak melakukan itu. Ini yang gue takutin kan, gue beneran nggak bisa kontrol diri gue di samping lo…”

“Gue sebenernya kemaren curi denger sih, lo ngomong sama Reza. Jadi lo tuh nggak jadi lamaran atau gimana sih, Gas?”

“Sorry, Na. Gue bukannya nggak jadi lamaran, tapi Dewi minta gue selesain semua unfinished business gue sama lo dulu. Dia bilang, dia mau tunggu dan terima apapun keputusan gue nantinya. Dan, bener. Gue nggak tau. Di satu sisi, gue sayang sama Dewi dan gue mau serius sama dia. Tapi di sisi lain, gue juga nggak bisa kalo nggak sama lo dan nanti lo sama yang lain, Na.”

“Gas, jadi lo nganggep ini semua tuh apa? Nggak fair dong, buat gue ataupun Dewi. Dewi baik banget sih, mau nunggu lo dan terima sama apapun pilihan lo. Tapi gue pun nggak akan sampe hati, Gas, kalau mesti jadi orang  ketiga di antara kalian. Gue nggak mau nyakitin hati dia. Dan gue juga nggak mau dijadiin pilihan sama lo ya. Please, just don’t fuck with my feelings just because you’re unsure of your own.

“Na, gue nggak bermaksud kaya gitu. Maaf, gue cuma…” Airina memotong kalimat gue.

“Gas, udah cukup. Gue nggak mau denger lagi. Lo tega giniin gue. Lo nggak ada bedanya sama cowo-cowo lain, Gas.”

Sesaat kemudian, air mata menetes di kedua pipinya dan dia melayangkan telapak tangan kanannya ke pipi kiri gue.

Plakkk!

Gue ditampar.

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Sudah hampir satu jam aku menatap layar handphone dan membaca email yang sama berulang kali. Aku mendapatkan offer untuk melanjutkan studi master di University of Melbourne. Setelah 3 bulan yang lalu aku merasa begitu depresi dengan situasi dan rutinitas di kantor yang begitu-begitu saja, akhirnya aku memberanikan diri untuk apply sekolah lagi.

Well, this offer is exactly what I need at the moment. I can hardly wait what the future will bring.” Aku berucap dalam hati.

Pandanganku menerawang menembus kaca jendela pesawat, dan sesekali aku merasakan guncangan saat pesawat melewati awan-awan tebal. Cuaca sedang tidak terlalu baik untuk penerbangan. Dan berbeda dengan perjalanan saat berangkat kemarin, perjalanan kembali ke Jakarta sore itu dilanda oleh kesunyian dalam yang menyelimuti aku dan Bagas. Untunglah, ada Reza yang bersedia duduk di middle seat di antara aku dan Bagas, dan dia menerima “lelahku” sebagai excuse atas keheningan itu. Aku sama sekali tidak menghiraukan Reza ataupun Bagas, not a single word was said and the silence was so deafening. Setelah kejadian pagi itu, seolah semesta pun berkonspirasi untuk menjauhkan aku dari Bagas agar lebih mudah melupakan the pain he left me in. Mungkin selama ini aku sudah terbiasa menangis karena disakiti oleh laki-laki, but it has never ever occurred to me that he would be one of them.

Percikan kilat terlihat saling menyambar di kejauhan. Mungkin jika pesawat tidak dilengkapi dengan sistem kedap suara, aku sudah bisa mendengar gelegar suara guntur. And seconds later, the rain started to pour…

Selisih Jalan

Bandung, April 2014

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Sudah satu bulan, semenjak malam itu aku memberitahukan isi hatiku yang sebenarnya kepada Bagas. Satu bulan, semenjak aku dengan terpaksa mengikhlaskan Bagas untuk menjalin hubungan yang serius dengan Dewi. Satu bulan, setelah Bagas akhirnya memberikan lampu hijau kepada Kak Bintang yang saat ini sedang dekat denganku–karena selama ini dia selalu saja melontarkan kalimat-kalimat mengejek yang menunjukkan ketidaksukaannya kepada siapapun yang mendekati aku, yep, not even Arya. Sejak saat itu juga, hubunganku dan Kak Bintang semakin intens and everything went too fast since then.

Di sanalah aku, on a fine Sunday menghirup udara sejuk Bandung seraya melangkahkan kakiku menuju gerbang depan kampus. Setelah beberapa bulan belakangan ini kami hanya berhubungan lewat chat, telepon, dan video call, akhirnya aku ada keperluan untuk ke Bandung dan sekalian menemui Kak Bintang.

Aku duduk di bangku yang ada di ATM Center. Posisiku membelakangi jalan, membuatku tidak bisa melihat kalau ternyata ada seseorang yang berjalan menghampiriku. Orang itu duduk tepat di bangku sebelah, setengah berbisik, dia berkata ke dekat telingaku, “Nunggu siapa, Mbak?”

Aku yang sedari tadi tertunduk dan sibuk memperhatikan layar handphone, akhirnya melepas pandangku ke arah sumber suara itu. Aku bisa melihat dia seutuhnya, duduk tepat di sebelahku. Rambut hitam cepak, kacamata, kemeja flanel, tas selempang kecil, jam tangan, serta sandal jepitnya, persis seperti terakhir kali kami bertemu dulu. Namun, aku baru sadar kalau matanya ternyata cuma segaris, agak oriental maksudku. Keturunan Tionghoa mungkin, aku juga tidak tahu. Untuk sepersekian detik aku terdiam, otakku mungkin sedang mencerna pemandangan yang tak biasa di hadapanku itu, sampai akhirnya seulas senyum berhasil terbentuk di wajahku.

Aku melemparkan senyumku padanya, dia pun ikut tersenyum. Kami sedikit berbasa-basi, menanyakan kabar masing-masing dan keperluan ke kampus hari itu–yang sudah sangat jelas bahwa keperluannya adalah untuk bertemu, seperti yang sudah kami rencanakan sore sebelumnya. Setelah basa-basi yang ternyata cukup basi itu, akhirnya kami memutuskan untuk pergi mencari makan siang.

Kami beranjak dari bangku di ATM Center, menyusuri jalan menuju Gerbang Ganesha. Sesampainya di gerbang depan, dia lupa kalau ternyata dompetnya kosong, jadi kami kembali lagi ke ATM Center. Aku duga, dia membobol habis isi ATM karena lama betul dia berada di dalam kotak persegi empat itu. Atau mungkin dia sekalian membayar tagihan-tagihan bulanannya yah, berhubung saat itu adalah awal bulan, pikirku. Ya, apa peduliku sih, itu kan bukan urusanku. Ya, bukan urusanmu juga.

Aku berdiri tidak jauh dari ATM, menunggunya. Aku melayangkan pandanganku ke sekeliling kampus, ke setiap sudut yang terjangkau oleh jarak pandang mataku. Entah kapan terakhir kali aku menginjakkan kaki di kampus tercinta itu. Aula Barat dan Aula Timur penuh sesak dengan orang-orang yang datang ke Titian Karir. Di Lapangan Cinta, sedang ada acara marawisan atau nasyid atau semacamnya aku tak tahu, yang pasti ada tenda dan suara-suara nyanyian lagu islami terdengar dari sana.

Sementara itu, di Lapangan Basket sedang ada pertandingan. Ternyata himpunanku sedang bertanding. Aku bisa lihat seragam yang mereka kenakan jauh lebih bagus dibanding dengan kostum tim yang dulu, sewaktu aku masih jadi manajernya. Ingin sekali aku duduk di sana, membela himpunan yang dulu pernah aku cinta. Duduk di bench, mencatat statistik, dan menahan degup jantung yang berdetak cepat setiap kali tim himpunanku nyaris mencetak skor, atau sebaliknya saat tim lawan berusaha memasukkan bola ke ring kami. Ah, aku sudah terlalu tua untuk itu. Iya terlalu tua, untuk duduk di sana dan bersorak menyemangati pemain-pemain yang sekarang bahkan aku tidak kenal lagi siapa mereka. Dan lagi, tidak mungkin aku minta dia menemaniku untuk sebentar saja menyaksikan himpunanku tanding basket. Mungkin kalau yang tanding adalah himpunanku lawan himpunan dia, masih mungkin aku mengajaknya untuk nonton sebentar saja. Ya sudahlah, aku kirim doa saja, supaya himpunanku menang dan bisa naik ke Divisi 1!

Tak lama kemudian, dia keluar dari ATM, sudah selesai ambil uang. Lalu kami jalan lagi menyusuri pinggiran Aula Timur, untuk menuju gerbang depan.

Entah kemana langkah kaki membawa kami. Sepanjang jalan kami hanya memperdebatkan ingin makan apa dan dimana. Walaupun dia bilang aku bebas boleh pilih makan apa saja, dia tetap tidak setuju dengan pilihan-pilihanku. Jadilah kami hanya berputar-putar di jalan sekitaran kampus. Untuk beberapa menit, kami cuma jalan dari gerbang depan, ke Masjid Salman, Gelap Nyawang, lalu kembali lagi sampai di seberang Gerbang Seni Rupa. Sayang sekali, langit Bandung agak gelap dan mendung. Dia menyarankan agar kami makan di tempat yang dekat saja, mengingat hujan sebentar lagi akan turun dan kami tidak ada kendaraan karena mobilnya sedang masuk bengkel. Sebenarnya, aku tidak takut sama hujan, malahan aku ingin merasakan lagi hujan-hujanan di Bandung seperti waktu kuliah dulu. Tetapi, berhubung kami tidak ada yang membawa jaket, dia melarangku untuk hujan-hujanan karena takut aku masuk angin. Dan aku pun tak punya pilihan lain, selain tentu saja mematuhinya. Setelah berjalan berkeliling, akhirnya kami memilih untuk makan di daerah Dago, yang paling gampang dan terjangkau dengan angkot.

Aku tidak akan menceritakan bagaimana kami melalui waktu berjam-jam untuk mengobrol, bercanda, dan main tebak angka–yang entah bagaimana dia selalu berhasil menebak dengan benar angka yang aku pilih, tetapi aku selalu salah menebak angka yang dia pilih. Namun satu hal yang aku tahu, aku tidak bisa berhenti tersenyum, bahkan tertawa terus oleh setiap kata yang dia ucapkan padaku.

Setelah selesai makan, dia mengantarku ke travel karena aku harus pulang ke Jakarta. Aku tidak ingin sampai di Jakarta terlalu sore dan nantinya malah terlalu lelah untuk memulai hari Senin, esok harinya. Jarak travel dan tempat kami makan tidak terlalu jauh. Dia mengajakku untuk berjalan kaki saja. Iya, setiap langkah diiringi tawa, bahkan aku yang sama sekali tidak suka jalan kaki sampai lupa untuk mengeluh lelah dan pegal. Saat tangan kami pertama kali bersentuhan, jantungku berdesir. Aku tidak berani melihat ke arahnya karena aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tangan kirinya menggapai ke arahku dan menggenggam tangan kananku selama kami berjalan menyusuri Dago sampai Balubur. Aku bisa merasakan pipiku merona merah karena malu. Saat mendekati pool travel, dia melepaskan  genggaman tangannya agar aku bisa leluasa membayar travel dan lainnya.

Travel sudah siap menuju ke Jakarta. Aku berpamitan dengannya, dan dia mengusap kepalaku sambil berkata, “Cepat balik kesini lagi ya, Bandung beda rasanya tanpa kamu.”

Aku jawab, “Kamu makanya pulang ke Jakarta, biar main di Jakarta aja.”

Dia tersenyum kepadaku dan sesaat matanya menghilang bersama senyuman manis itu.

“Iya, nanti kalau udah nggak terlalu hectic aku pulang. Now, off you go! Hati-hati, ya!”

Aku hanya mengangguk dan memberikan acungan jempol padanya. Aku mengerti kalau Kak Bintang sedang sibuk menyelesaikan tesisnya, maka dari itu dia tidak sempat pulang ke Jakarta dan menemuiku. Dua minggu lalu, saat aku menerima undangan pernikahan teman sejurusanku yang akan digelar di Bandung, aku dengan semangat langsung memberitahu Kak Bintang dan terjadilah pertemuan hari itu. Akhirnya, hubungan kami yang tak pernah diresmikan itu pun mengalir begitu saja.

Kemudian, aku berjalan menjauhi Kak Bintang ke arah mobil travel yang sedari tadi mesinnya sudah menderu-deru. Aku duduk di barisan paling belakang, di bangku tengah, lalu menatap keluar jendela dimana tadi kami bercanda dan tertawa menunggu keberangkatan travel-ku.

Saat travel meninggalkan pool-nya, aku mengeluarkan iPod dan seolah iPod-ku mengetahui suasana hatiku, secara acak terputarlah Enchanted dari Taylor Swift, kesukaanku.

“I’m wonderstruck blushing all the way home…”

Iya, aku pulang ke Jakarta, dengan hati senang dan senyuman di wajahku. Sampai bertemu lagi, Bandung! Semoga secepatnya 🙂


Bandung, Mei 2014

Bintang

Sudah memasuki bulan ke-empat, sejak Airina kembali masuk dalam kehidupanku. Hampir setiap pagi, aku tersenyum melihat nama Airina muncul di layar ponselku. Aku membaca pesan balasan darinya.

Thanks, Kak. You too, have a good day di kampus yah!

Begitulah isi pesan yang Airina kirim. Singkat, dan tanpa banyak basa basi. Airina tidak seperti perempuan kebanyakan yang selama ini pernah aku dekati, pikirku. Airina hanya mengirim pesan di jam-jam tertentu dan tidak terus menerus menuntut untuk dihubungi. Itu juga salah satu alasan mengapa aku masih tidak bisa lepas darinya, rasa penasaran.

Aku masih bisa ingat kali pertama aku mengenal Airina. Saat itu, aku tengah bersiap untuk berangkat ke kampus dan sebagai koordinator panitia lapangan, aku harus memberikan briefing kepada calon panitia lapangan Olimpiade ITB. Ketika sesi perkenalan dimulai, ada salah satu perempuan yang menarik perhatianku. Namanya Airina, Teknik Lingkungan 2008, dua tahun di bawahku. Selama kepanitiaan, aku banyak berinteraksi dengan Airina dan dapat mengenalnya lebih dekat. Ternyata Airina adalah seorang yang ramah, riang, dan perhatian. Tanpa aku sadari, aku pun mulai terbawa perasaan.

Lalu ingatanku pun mulai memainkan kenangan-kenangan lama yang kusimpan rapi on the back of my mind. Sore itu, di bulan Januari 2009, kami panitia Olimpiade–termasuk aku dan Airina, sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan acara closing yang akan diselenggarakan awal Februari, tepat di minggu pertama perkuliahan semester baru dimulai. Sore itu, langit Bandung hitam pekat dan sepertinya hujan akan turun dengan begitu derasnya. Aku dan Airina sedang dalam perjalanan menuju ke kampus sehabis aku menjemputnya di kosan. Saat mobilku memasuki parkiran Seni Rupa, titik-titik hujan turun dari langit. Celakanya, kami tidak punya payung. Untuk beberapa menit, kami hanya menertawai kebodohan kami karena terjebak di mobil dan tidak bisa masuk ke kampus untuk rapat closing di sekretariat Olimpiade.

“Lari aja yuk, Kak?” Airina mulai terlihat gelisah setelah melirik jam tangannya karena khawatir telat menghadiri rapat.

“Jangan, Airina. Ini hujannya deras banget. Basah kuyup nanti,” jawabku.

Aku kemudian teringat, ada spanduk bekas acara pembukaan Olimpiade di bagasi mobil. Aku bermaksud untuk mengambil spanduk itu agar bisa dijadikan pelindung dari hujan.

“Aku ambil spanduk di bagasi ya, lumayan buat nutupin kepala biar kita nggak basah kuyup.”

Belum sempat Airina mengiyakan rencanaku, aku sudah bergegas hendak membuka pintu mobil dan turun keluar. Refleks, Airina menggenggam tangan kiriku, dan aku pun refleks menghentikan pergerakanku.

“Jangan Kak, nanti Kak Bintang basah kuyup. Udah, bareng aja langsung lari yuk,” pinta Airina.

Aku melirik ke tangan mungil Airina yang masih memegang tanganku. Kemudian mata kami saling tatap, Airina terlihat malu dan dengan canggung melepaskan genggaman tangannya dari tanganku.

“Nggak apa-apa, Airina. Daripada nanti sama-sama sakit kehujanan, mendingan kan aku aja yang basah. Udah, kamu tunggu sini yah, nanti buka pintu kalau aku udah ambil spanduknya.”

Aku berlari ke bagasi mobil, mengambil spanduk yang terlipat rapi. Kemudian aku mengenakan spanduk itu di atas kepala, menghampiri Airina di bangku penumpang. Airina dengan sigap membuka pintu dan berdiri di bawah spanduk yang aku pegang. Kemudian kami berlari dari parkiran Seni Rupa menuju jalur anti hujan di dekat Aula Timur. Dengan berpayungkan spanduk, kami saling tatap dan tertawa kecil seraya berlari menentang derasnya hujan. Saat sudah sampai di pinggiran Aula Timur, aku meletakkan spanduk ke tanah. Kacamataku basah, apalagi celana jeans dan sneakers-ku. Rambut Airina basah terurai, baju dan celana jeans-nya lepek terkena hujan. Well, forgive me for staring, who can resist that? Akhirnya, aku melepaskan kacamata dan bermaksud mengeringkannya dengan kemeja flanel yang aku kenakan.

“Kak, aku ada tisu kok. Pake ini aja,” Airina mengeluarkan tisu dari dalam tas dan memberikannya kepadaku.

Alih-alih mengambil tisu yang ia sodorkan, aku malah memberikan kacamataku kepada Airina, “Na, tolong yah, aku mau lipat ini dulu,” sambil menunjuk spanduk yang basah dan tergeletak di tanah.

“Eh?” Airina terlihat bingung, tetapi tetap mengambil kacamataku dan membersihkannya dengan tisu.

Airina menyodorkan kembali kacamataku yang sudah ia bersihkan, tepat saat aku sedang sibuk melipat spanduk yang telah menyelamatkan kami berdua dari hujan tadi. Dengan refleks, aku yang jauh lebih tinggi darinya, menyesuaikan posisi tubuhku agar tinggi kami sejajar dan ia bisa memasangkan kacamata di batang hidungku. Aku bisa melihat Airina menahan kedua tangannya agar tidak gemetar saat memakaikan aku kacamata, sepertinya dia nervous.

“There you go…”

Pandanganku pun akhirnya sudah tidak blur lagi begitu kacamata menempel di atas batang hidungku. Jarak di antara wajah kami begitu dekat dan sungguh aku bisa melihat pipi Airina merona kemerahan. Aku tersenyum lebar.

“Makasih ya!”

Jantungku berdebar tak karuan. Itu adalah kali pertama aku dan Airina berjarak sedekat itu.


Lalu ingatanku berlari tepat ke tiga bulan silam. Februari lalu, aku mendapat telepon dari Narendra, temanku sesama aktivis di Keluarga Mahasiswa (KM) ITB sewaktu kuliah dulu. Narendra mempercayakan aku menjadi Menteri Internal, sementara ia menjabat sebagai Presiden KM ITB. Narendra menelepon untuk memberitahukan berita penting, katanya,

“Masih inget Airina nggak? Dia jomblo, tuh, akhirnya. Gimana nih, misi yang dulu selalu tertunda apa mau dilancarkan sekarang?” Kata Narendra di telepon.

Tentu saja aku masih ingat, bagaimana mungkin aku bisa lupa? Setelah kepanitiaan Olimpiade bubar, aku dan Airina memang masih cukup akrab. Bisa dibilang, I was the one who maintained that relationship. Aku yang memang dengan sengaja meminta Airina untuk menjadi sekretaris ketika menjabat sebagai Menteri Internal KM ITB. Selain tentunya aku ingin tetap dekat dengan dia, Airina yang super perfeksionis dan detail oriented memang sangat cocok untuk posisi tersebut. Ia sangat telaten dalam mengatur jadwal rapat dan membuat laporan pertanggung jawaban setiap bulannya, dan hal itu sangatlah meringankan pekerjaanku.

Airina juga selalu menyempatkan untuk mengirimkan ucapan setiap kali aku melewati momen penting, entah itu ulang tahun, seminar, ataupun sidang tugas akhir. Bahkan, di hari wisuda, Airina meluangkan waktunya datang ke Sabuga untuk memberikan ucapan selamat secara langsung, dan memberikan setangkai bunga mawar putih. Iya, hanya setangkai mawar putih, yang melambangkan persahabatan. Mungkin hanya itulah arti diriku ini bagi Airina, sebatas teman dekat, sahabat, atau mungkin sosok seorang kakak.

She is like my spirit animal, my all time supporter.

Aku tersadar dari lamunanku ketika ponselku bergetar lagi. Ada pesan masuk dari Narendra. Isinya, nomor kontak Airina, dan sebuah foto dengan caption,

“Nih, refreshment buat memori lo, kali aja lupa sama mukanya Airina ;p” Narendra menggodaku.

Aku menatapi foto itu. Senyum Airina sungguh manis, masih semanis yang bisa ku ingat. Dan satu hal yang sangat aku suka darinya, senyumnya seperti dari hati dan matanya memancarkan senyum manisnya itu.

“Kenapa mesti sekarang? Kenapa saat aku nggak bisa?” Aku tersenyum kecut.

Kemudian aku teringat di penghujung tahun lalu, saat Airina berulang tahun. Seperti biasa, aku mengucapkan selamat, bahkan mengirimkan kue dengan kartu ucapan. Selama ini kami memang cukup akrab, tetapi itu adalah pertama kalinya aku mengirimkan kue ulang tahun untuknya. Hal yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya. Namun, Airina seperti tidak memberikan lampu hijau. Mungkin karena Airina masih berpacaran dengan Arya, pacarnya semasa kuliah dulu. Keberadaan Arya pula lah yang membuat aku mengurungkan niat untuk mendekati Airina, dan membuat aku mundur secara teratur dari misi untuk mengubah posisiku yang hanya sekedar seorang ‘kakak’ menjadi ‘pacar’ di mata Airina. Di akhir tahun itu juga, aku memutuskan untuk mencoba menjalin hubungan dengan orang lain, teman seangkatan yang memang aku tahu sudah menaruh rasa semenjak kuliah sarjana dulu, Saras.

Saat itu, Saras sedang berkuliah di Norwegia. Awalnya hanya menyambung silaturahmi, tetapi ternyata hubungan kami berlanjut dan Saras berniat untuk berlabuh ke jenjang yang lebih serius.

“Apa lagi yang dicari?”

Not to mention the fact that, teman-teman seangkatan di Teknik Fisika  satu per satu sudah banyak yang menikah, bahkan memomong anak. Tanpa berpikir panjang, aku pun akhirnya mengiyakan keinginan Saras.

Setelah mendapatkan kontak Airina dari Narendra tiga bulan lalu, aku pun menghubunginya.

“Apa salahnya sih, menjaga silaturahmi?” Pikirku saat itu, naif.

Suaranya ceria seperti biasa. “As always, she can always lift my spirit up,” seulas senyum pun terukir di bibirku.

Saat-saat bersama Airina bagiku tidak dapat digambarkan dengan kata-kata. Perasaanku campur aduk. Menyesal, mengapa aku tak melancarkan misi yang selama ini tertunda? Sedih, sedikit banyak karena keberadaan Saras saat ini dalam hidupku.


Bandung, Juni 2014

Malam semakin larut dan aku masih terjaga, berkutat dengan laporan tesis di layar laptop di hadapanku. Mungkin aku tidak akan tersadar kalau hari itu adalah hari ulang tahunku, jika aku tidak membuka email dari Airina. Email yang ia kirimkan tepat jam 12 malam. Ia mengirimkan video stop motion yang dibuatnya sebagai ucapan dan hadiah ulang tahun untukku. I am flattered. Ingin rasanya aku ke Jakarta detik itu juga untuk menemuinya. Namun apa daya, deadline tesis harus tetap jadi prioritas yang utama.

Aku menelepon Airina dan berterima kasih atas video yang ia kirimkan. Kami mengatur jadwal agar bisa bertemu akhir pekan nanti saat aku pulang ke Jakarta. Tanpa kusadari kami mengobrol sudah berjam-jam hingga Airina tertidur. Anak ini entah kenapa gampang sekali tidurnya. Aku pun tidak kuasa menahan kantuk dan akhirnya juga ikut terlelap.

Saat aku terbangun, jam di dinding kamar kosan sudah menunjukkan pukul 10:30. Aku mengecek handphone, ada banyak chat masuk dari orang-orang terdekatku yang mengucapkan selamat ulang tahun, dan 13 missed calls, dari Saras. Aku terperanjat.

Saras, pacarku yang selama tiga bulan terakhir sudah tanpa sengaja aku lupakan keberadaannya. Saras, yang tanpa kusadari posisinya sudah aku kesampingkan dalam hidupku karena saat itu aku sedang teralihkan oleh kehadiran Airina.

Kemudian handphone-ku berbunyi. Kali itu, aku berhasil mengangkat telepon dari Saras. Ia pasti khawatir karena sedari tadi aku tidak ada kabar. Saras menyanyikan lagu ulang tahun untukku dan dia memberikan surprise, yang benar-benar membuatku terkejut. Ia pulang ke Indonesia karena sedang ada libur nasional beberapa hari di Norwegia dan ia sudah meminta izin kepada supervisor-nya untuk pulang ke tanah air selama satu minggu.

Aku menutup telepon dan tersadar bahwa apa yang telah aku lakukan ke Saras sangatlah jahat. Aku telah berkomitmen kepada Saras akhir tahun lalu, seharusnya aku tetap menjaga komitmenku itu.

“Mungkin ini sudah saatnya to stop fooling around.”

Aku menatap lekat-lekat sosok Saras yang duduk di hadapanku. Senyumnya terlihat sungguh manis dan tulus saat terkena pantulan cahaya lilin di atas meja kami, menyaingi manisnya langit malam Dago Pakar yang malam itu bertabur bintang. Aku meyakinkan diriku kalau memang sudah saatnya untuk membawa hubungan kami ke jenjang yang lebih serius. Saat Saras memintaku untuk mengajaknya menemui keluarga besarnya, aku pun mengiyakan seraya berkata dalam hati,

“Well, seolah waktu tak pernah berpihak padaku. Dan kamu sepertinya emang nggak ditakdirkan buat aku, Airina. Maaf, kita selalu berselisih jalan…”

Epilogue

Bandung, Oktober 2012

Hari itu hari wisuda Hana dan Baskara, seperti kebanyakan mahasiswa TL angkatan 2008. Hana melihat Baskara di sudut matanya, berdiri dengan pendamping wisudawannya, Sarah, junior mereka yang adalah mahasiswa TL angkatan 2009. Kemudian pandangan Hana terjatuh di pundaknya sendiri, ada tangan Bara yang sedari tadi merengkuhnya. Bahagia, Hana tidak pernah merasa seutuh ini.

“Pasti ini yang terbaik…” Gumamnya pelan, tersenyum simpul.

Tak lama, para wisudawan diminta berbaris. Mereka akan menyanyikan hymne HMTL, kemudian berjalan bersalaman dengan massa himpunan, yang akan diakhiri dengan bersalaman dengan masing-masing wisudawan. Itu dilakukan sebagai simbol terima kasih dan juga pelepasan massa himpunan kepada wisudawan, dan sebaliknya. Momen itu merupakan momen favorit Hana, tidak peduli berapa kali pun ia mengikuti acara wisuda, Hana selalu meneteskan air mata karena terharu. Kali itu adalah kali pertamanya mengikuti pelepasan sebagai seorang wisudawan. Hatinya campur aduk, ada rasa senang dan sedih. Senang karena pada akhirnya ia berhasil melewati masa kuliahnya selama empat tahun di ITB, dan sedih karena momen itu tak lain adalah momen perpisahan pada kampusnya, himpunannya, angkatannya, dan para sahabatnya.

Kami berdiri di sini
Dibawah naungan panjimu
HMTL wadah generasi bangsa
Putra-Putri Bangsa Indonesia

‘Sgala cita yang tersimpan di dalam dada
Kan ku baktikan pada ibu pertiwi
Mekar bersemi, harummu mewangi
HMTL ku tercinta

‘Smoga saja, cahya sinarmu
Menerangi bumi pertiwi
Tridharma Perguruan Tinggi yang ‘slalu terbina
HMTL jayalah

Tibalah saatnya Hana berpapasan dengan Baskara. Sudah lama rasanya mereka tak mengobrol panjang lebar seperti dulu, keduanya tersenyum. Kemudian Baskara memeluknya, erat, erat sekali sampai Hana tak bisa berkata-kata.

“Hana, terima kasih. Makasih banget atas semuanya.”

“Sama-sama Bas, gue juga makasih banget. Maaf ya…”

“Nggak perlu minta maaf. Kamu nggak salah apa-apa.” Baskara mengusap pelan kepala Hana, seperti yang sering dilakukannya dulu.

Keduanya menangis dalam diam, entah berapa lama. Namun pada akhirnya, Hana melepasnya pergi, kemudian memberikan secarik kertas untuk Baskara.

My last words for you,” katanya seraya tersenyum, menghapus air matanya.

Baskara tersenyum, mengenang saat-saat bersama Hana dulu. Mereka sering memberikan puisi–entah itu bikinan sendiri ataupun sajak favorit mereka ke satu sama lain. Ia membuka lipatan kertas tersebut dan meliriknya sesaat, sebelum akhirnya melipatnya kembali karena masih ada barisan panjang mengular di belakang Hana. Hanya ada penggalan sajak yang dapat terbaca olehnya,

We are like parallel lines
Going through a road, hoping to be intertwined
Parallel lines, isn’t it bittersweet?
Walking side by side, yet never gonna meet

(Lucky) I’m In Love With My Best Friend (Part 2)

Bintaro, Februari 2014

708617937593806060516

Sudah 3 bulan semenjak gue menyatakan perasaan ke Airina. Tolol, ngapain juga gue ngaku ya waktu itu? Biasanya gue bisa nahan. Namun kali itu memang Arya sudah keterlaluan, Airina sampai jatuh sakit gara-gara dia, dan yang paling parah tuh dia selingkuh. Kok masih aja itu anak mau lanjut, kenapa nggak diputusin coba?

Gue lumayan kekeuh menghubungi Airina, practically begging her to come back to her sense. She lost it. She’s mental. Cintanya ke Arya benar-benar buta. Sampai gue capek ngomongnya, dan akhirnya beneran dia cuekin gue. Semenjak akhir tahun lalu, Airina nggak pernah hubungi gue lagi dan nggak pernah jawab setiap kali gue berusaha untuk hubungi dia. Dan sekarang, gue pun sudah nggak punya nyali lagi untuk hubungi dia duluan. Gue males ditolak, untuk kesekian kalinya. Kali ini gue cukup tahu diri.

Akhirnya bulan lalu gue kenalan sama cewek, namanya Dewi. Anjir, beneran kayak titisan dewi. Cantik iya, pintar iya, baik juga iya. Kalau gue telusuri bibit, bebet, dan bobotnya sih ya Dewi nggak ada kurangnya. Bukan berarti Airina kesayangan gue itu ada kurangnya ya, tentu saja di mata gue dia juga sempurna. Airina juga cantik, pintar, dan baik. Cuma satu hal yang kadang gue nggak tahan sama dia, manjanya itu minta ampun. Ya walaupun gue juga senang-senang saja karena gue termasuk salah satu orang pertama yang selalu dia cari kalau ada apa-apa. Gue senang bisa merasa dibutuhkan oleh dia. Yang membedakan Airina dan Dewi cuma satu, Dewi itu mandiri dan logic banget. Sementara Airina, selalu saja mengedepankan hatinya ketimbang otaknya.

Shit, gue memang nggak bisa ngebuang Airina jauh-jauh dari pikiran gue. Kembali ke Dewi, akhirnya sebulan setelah gue mengenal Dewi, gue mantap mau serius sama dia. Habisnya, sampai kapan gue harus nungguin Airina? She takes me for granted, always. Dan gue nggak mau bersikap bodoh lagi. Hanya keledai jatuh ke lubang yang sama, dua kali. Dan gue adalah keledai itu. Ya gimana nggak? Oktober lalu, gue sudah asal ngomong dan ngajak Airina kawin. November, gue bego banget showed up di rumahnya dan segala bilang sayang. Fuck.


Bintaro, Maret 2014

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Aku membuka pintu kamarku, meletakkan koper dan beberapa kantong belanjaan dari Singapura di sudut kamar, lalu merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Mataku terpejam, tetapi pikiranku wandering back to the last vacation I had with my girls. Liburan kemarin benar-benar sesuatu yang sangat aku butuhkan, bisa menghabiskan weekend bersama sahabat-sahabatku di tengah kesibukan dan jarak yang terbentang di antara kami. Namun, ada satu hal yang menggangguku, pembicaraan kami di malam terakhir kami menginap di Singapura. Malam itu, di Clarke Quay, kami hanya duduk-duduk menghabiskan berjam-jam untuk mengobrol, sambil menikmati langit malam Singapura yang bertabur bintang, catching up on things we’ve missed from each other’s lives. Sejak kami lulus kuliah Oktober 2012 silam, intensitas kami bertemu memang cukup berkurang karena masing-masing disibukkan oleh pekerjaan.

Aluna mengeluh dengan workload-nya yang gila-gilaan atas pekerjaannya sebagai konsultan di the World Bank. Bos-nya yang bule itu kalau bekerja tidak kenal waktu, bahkan tak jarang Aluna dibuatnya harus masuk kantor saat weekend karena harus menyelesaikan beberapa deadline pekerjaan. Satu atau dua kali dalam seminggu, aku dan Aluna pasti makan siang di Pacific Place karena kantor kami satu gedung, di Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang terletak di sebrangnya persis. Aku sudah hafal betul, topik pembicaraan kami hanya seputar curahan hati Aluna yang baru saja bertunangan dengan Reza. Namun, Aluna selalu punya trust issue dengan Reza, ditambah lagi kondisi mereka yang terpaksa harus LDR Jakarta-Tokyo. Aluna sering merasa kesepian dan akhir-akhir ini dia semakin dekat dengan sahabatnya sedari SMA–Agra, yang aku yakin 100% kalau Agra menyimpan perasaan kepada Aluna, tetapi Aluna is just too blind to see.

Diandra yang sekarang bekerja di BUMN yang bergerak di bidang minyak dan gas bumi lepas pantai di Indonesia, juga disibukkan dengan pekerjaannya. Tunangannya, Adhiguna yang bekerja untuk oil and gas service company sedang sering-seringnya bertugas keluar negeri–Dubai, Paris, bahkan Sudan. Tinggal hitungan bulan menjelang pernikahan mereka, tetapi mereka malah jadi sering LDR. Diandra pun mulai merasa lelah dengan persiapan pernikahannya karena ia merasa Adhiguna sulit dihubungi untuk mendiskusikan tentang vendor pernikahan mereka. Rasanya seperti hanya Diandra yang excited dengan pernikahannya.

“Gue tahu, emang bakal banyak cobaan selama ngurus nikahan, people say this and that, but I expect to face them with him. And at this point, gue nggak ngerasa gue sanggup deh, ngadepin semua sendiri. Gimana nanti ke depannya? Gimana nanti setelah kita nikah? Salah nggak sih, kalo ini bikin gue nggak yakin sama dia?”

Semenjak birthday dinner-ku beberapa bulan lalu, Felisha ternyata benar-benar memutuskan hubungannya dengan Rasyid. Namun yang aku heran, dia seperti tidak menyesali keputusannya itu dan sekarang terlihat sangat happy and content with her life. Felisha adalah salah satu temanku yang ambisius dan dia mengutamakan karier dan rencananya untuk studi master saat ini. Aku tidak habis pikir bagaimana Felisha bisa seimbang dalam membagi waktunya untuk bekerja, les persiapan GMAT seusai jam kantor, serta untuk hangout bersama kami.

Hana mulai beradaptasi dengan kehidupannya sebagai mahasiswa di Jepang. Hana menceritakan betapa stress-nya dia dengan tingkah laku orang-orang di sana. Terlebih lagi, Hana baru-baru ini membaca sebuah novel, Norwegian Wood karya Haruki Murakami, yang menggambarkan kehidupan anak muda di Tokyo tahun 60-an. Nuansa novel itu dark and depressed, kata Hana. Dia bisa merelasikannya dengan suasana yang dia temui sehari-hari. Sepertinya, bunuh diri di Jepang adalah suatu hal yang wajar. Bahkan minggu lalu, ada dua kejadian bunuh diri di jalur kereta yang biasa dilalui oleh Hana dari dorm ke kampusnya.

Anyway, temanku yang satu ini memang agak berlebihan kalau menyangkut akademik. Sepertinya baru satu kali seumur hidupnya dia mendapat nilai C dan dia jadi stress berat karena hal itu. She even said, “It’s the lowest point of my life.” Oh, come on, Han. Gimana kalau dia lihat transkrip TPB ku yang nilai C-nya berentet. Namun sekarang Hana sudah mulai bisa beradaptasi dengan ritme kehidupan masternya. I guess it’s true, it doesn’t matter how many times you fall, what counts is how many times you stand up again.

Raina menceritakan pekerjaannya sebagai pegawai pemerintahan di Kementerian Pekerjaan Umum. Sepertinya tidak pernah dalam satu minggu full dia duduk manis di kantor, pasti ada saja tugas untuk dinas keluar kota. Raina sangat menikmati pekerjaannya karena bisa sekalian jalan-jalan. Hubungannya dengan Athar pun semakin serius. Athar sudah membicarakan ingin melamar Raina dengan keluarga besarnya. Mengingat jatuh bangun perjuangan Athar untuk mendapatkan Raina, aku sangat senang akhirnya mereka bisa melangkah menuju jenjang pernikahan.

Sampai akhirnya tibalah giliranku. Aku menceritakan tentang rutinitas di kantor yang cukup membosankan, dan kalau beberapa bulan terakhir ini aku menjadi lebih dekat dengan Kak Bintang. Seperti yang sudah aku perkirakan, mereka semua mendukung hubunganku dengan Kak Bintang karena menurut mereka Kak Bintang jauh lebih baik dalam segala aspek dibandingkan dengan Arya, mantanku yang brengsek itu.

Tiba-tiba aku pun teringat dramaku dan Bagas. Saat aku selesai menceritakan apa yang terjadi antara aku dan Bagas di malam ulang tahunku, mereka semua menyambutku dengan tatapan tidak percaya dan kaget, kecuali Hana, yang dengan nyinyir berkata,

“BASI! Gue udah bilang ke lo dari jaman kapan tau deh. Bagas tuh suka sama lo, or even worse, sayang. Yet you were too blind. Kemana aja lo?”

“Betul sih. Gue juga ngerasa deh dia itu sesuatu ke lo. Plus, he is a Leo and you’re a Sagittarian–a match made in heaven.” Tambah Raina, yang sangat terobsesi dengan zodiac match.

“Lebih enak sama temen kan, lo udah tau gitu busuk-busuknya dia. Nggak perlu fase perkenalan lagi. Nyokap-bokap udah kenal. Udah lah, selama ini jodoh lo ada di depan batang hidung lo tapi lo sia-siain.” Kata-kata Felisha seperti menamparku.

“I think you should tell him what you really feel. I knew, we knew that you love him all along,” begitu kata Diandra kepadaku.

Dan seperti biasa Aluna hanya berkomentar, “Masa sih? Kok gue nggak tau ya? Gue ngeliatnya emang pure sahabat aja gitu.” Kemudian kami hanya menatapnya tidak percaya. Memang Aluna terlalu polos dan lugu, kalau bahasa kasarnya sih, lemot.

Sudah semalaman aku terus menimbang-nimbang apa yang harus kulakukan. Akhirnya aku dial nomor Bagas di handphone-ku, dan dia setuju untuk menemuiku malam ini.

708617937593806060516

Gue sedang di jalan menuju rumah Dewi, mengantarnya pulang dari kencan kami saat handphone gue bunyi dan… her caller ID appears on my phone. Shit, kenapa harus di saat seperti ini lo balik lagi dalam kehidupan gue, Airina? I’m just too weak to resist, so gue tetap angkat telepon dari dia, di depan Dewi.

Hi, Gas! Are you free tonight? Ketemu, yuk?”

Suara riangnya terdengar di ujung telepon. Seolah jarak yang dia bentangkan selama berbulan-bulan ini tak pernah ada. Dinding yang pelan-pelan gue bangun supaya lupa sama dia pun runtuh seketika, hanya karena sentilan kecil darinya. Ya, hanya dengan sepenggal kata yang terucap lewat telepon. Gue pun langsung mengiyakan dan setuju untuk menjemputnya di rumah nanti. Seketika itu juga, gue melupakan rencana gue untuk menyatakan perasaan gue dan mengajak Dewi untuk menjalin hubungan yang serius.

Airina. She’s still got a spell on me.

signature_poe3mitl90b5p2etv7

“So… How have you been?”

Aku bertanya padanya, saat akhirnya kami duduk berhadapan di Lot 9 Cafe, tempat yang akhir-akhir ini menjadi kesukaanku whenever I cannot think of anywhere else to go.

Tadi Bagas menjemputku ke rumah dan 20 menit yang kami lalui di jalan terasa begitu lambat. Kami tidak banyak berbincang, hanya lantunan musik dari music player mobil Bagas yang mengisi keheningan antara aku dan dia. Bagas bahkan tidak mau menangkap pandangan mataku saat aku masuk ke mobilnya tadi.

“Fine. Thank you. And you?” Bagas menjawabku dengan canggung.

Aku otomatis tertawa mendengar jawabannya, “Ha ha apaan sih, Gas? Kok jadi kayak anak SD lagi belajar Bahasa Inggris gini?”

Bagas ikut tertawa. Sikap canggungnya pun mulai hilang perlahan.

Aku membetulkan posisi dudukku dan kali ini aku yang sedikit canggung. Aku akhirnya memberanikan diri untuk berkata,

“There is something I need to tell you, Gas,” suaraku pelan.

“I’m sorry for not answering your calls or not replying any of your texts. Gue cuma nggak tau mau jawab apa karena jujur aja gue nggak pernah nyangka lo bakal ngomong kayak gitu ke gue. Gue rasa karena lo baru putus jadi lo nggak mikir panjang dan gue nggak mau jadi rebound lo, Gas.”

Aku bisa melihat Bagas sudah siap memotong pembicaraanku, tetapi aku mengangkat telapak tangan kananku, mengisyaratkannya untuk diam dan memberikan aku kesempatan untuk menyelesaikan kalimatku.

“Dan, gue kepikiran Gas jadinya. Maaf, kalau kesannya I take you for granted this whole time. Maaf, kalau gue telat sadar sama perasaan gue ke lo, Gas.”

708617937593806060516

Kata-kata terakhir Airina seperti menghantam isi otak gue. Setelah lebih dari 3 bulan dia menghindar dari gue mati-matian, sekarang dia bilang kalau dia telat menyadari perasaannya ke gue? Apa arti dari semua ini, Na? Apa berarti sekarang lo sudah siap untuk jadi pacar gue? Kenapa harus sekarang saat gue mencoba untuk move on dan berencana memulai hubungan yang serius dengan Dewi? It’s a bad timing. Dan detik itu juga, dia melanjutkan kalimatnya,

“Ya tapi gue nggak maksud apa-apa, Gas, ngomong kayak gini. I just want you to know, that’s all.

Sontak gue kaget. “Lah, terus maksud lo ngomong gini apa?”

You heard me, Gas. Gue ngomong gini bukan berarti gue mau kita sama-sama. Gue cuma nggak mau bohong sama perasaan gue aja, dan gue pengen lo tau perasaan gue yang sebenernya gimana ke lo. Maaf ya, Gas, kalau gue basi…”

Gue kemudian menyunggingkan bibir gue, memaksakan tersenyum. Sungguh gue nggak habis pikir sama jalan pikiran Airina. Buat apa dia ngasih tahu perasaannya ke gue kalau pada akhirnya dia nggak ingin kami untuk bersama? Namun, jelas gue nggak bisa ucapkan semua ini ke dia, kan?

“Yah… Tadi gue sempet mikir, abis lo ngomong kalau lo juga sayang sama gue, gue mau nembak lo lagi. Nggak jadi deh… Ha ha. Masa iya mau ditolak sampe dua kali, gengsi lah…”

Dan seperti yang gue harapkan, tentu saja dia tertawa. Gadis kecil gue ini… Dari tadi di jalan gue memang merasa aneh, aura yang ada di antara kami nggak santai sama sekali. Yah, mungkin mengingat pertemuan terakhir kami tiga bulan yang lalu. Shit, belum pernah gue dan Airina nggak ketemu selama ini. Anyway, here I am, trying to make this conversation goes smooth.

“Dasar lo, kesempatan! Well, at least kita sama-sama tahu perasaan kita yang sebenernya gimana kan? Dan gue udah lega sekarang. Kan katanya, some people are meant to fall for each other but not meant to be together. Kita termasuk those unlucky people aja sih gue rasa. Gue nggak mau risking our friendship, Gas.”

Gue cuma bisa menatap Airina untuk beberapa saat, sampai akhirnya gue berhasil menyusun kalimat yang tepat untuk gue ucapkan ke dia,

“Hmm… Iya sih, gue nggak mau kehilangan lo sebagai sahabat gue. Kan ada juga yang bilang ada yang namanya mantan pacar, tapi nggak ada yang namanya mantan sahabat.” Gue berkata sambil nyengir.

“Sebenernya, ada satu hal lagi yang mau gue omongin, Gas. Gue lagi deket sama seseorang nih sekarang.”

“Hah? Lo deket sama seseorang? Maksud lo gimana? Arya terus gimana?” Gue bingung.

“Oh! Gue udah putus sama Arya, that douchebag, finally I got rid of him.”

Sheeesh, that douchebag. Boleh juga pemilihan katanya. Ini anak kemasukan apaan ya? Baru sekali ini gue mendengar Airina bad-mouthing Arya, mantannya yang memang pantas untuk diperlakukan seperti itu.

“Sejak kapan? Wah ini berita bahagia sih, gue yakin lo mau traktir gue saking senengnya… Gue traktir lo juga boleh, gue pun seneng akhirnya lo putus! Selamet dulu lah, sini. ” Gue jabat tangannya dengan semangat, sambil tertawa terbahak-bahak.

“Nggak lama habis tahun baru lah, Gas.” Airina menjawab gue, ikut tertawa. Raut wajahnya tidak terlihat sedih ataupun seperti orang yang sedang patah hati. Dia lebih terlihat relieved.

“Kok lo rese sih?” Tambahnya lagi di sela gelak tawanya, mencibir ke gue.

“Ya gimana? Akhirnya, kebuka juga mata lo. Gue udah sampe bosen ngomong nggak lo dengerin. Bagus lah lo putus.”

Bukannya memberikan comfort seperti yang biasa gue lakukan untuknya, gue malah mengolok-olok dan mempermasalahkan kenapa dia nggak cerita sama gue kalau dia sudah putus dari Arya. Dan, bagaimana mungkin dalam waktu sesingkat ini dia sekarang sudah dekat dengan laki-laki lain lagi? Man! Emang ini anak nggak pernah kosong, banyak aja yang ngantri. Sampai-sampai gue aja bingung milih timing yang tepat waktu itu, untuk mengutarakan perasaan gue ke dia.

“Udah 3 bulan dong ya berarti? Dan lo nggak cerita ke gue? Sama sekali?” Gue bertanya lagi.

“Yah, gimana gue bisa cerita ke lo, Gas? Kalau gue cerita gue putus sama Arya, yang ada lo bakal insist kita buat give it a go. Ya kan?” Airina berkata sambil tersenyum jahil, masih saja anak ini menggoda gue.

She knows me too well. Gue nggak mau menjawab pertanyaan retoris dia dan gue hanya memberikan sebuah senyuman sebagai jawaban. Kemudian Airina melanjutkan kata-katanya,

“Yaa, kayak yang lo bayangin deh, Gas… Gue nge-gap-in dia selingkuh, lagi. Gue kira gue bisa pegang omongannya waktu itu, pas dia janji mau berhenti dan berubah. Ternyata gue salah. History loves to repeat itself. Ya udah lah, emang hubungan gue dan Arya kan toxic banget. It’s better off this way.

“Tapi lo baik-baik aja sekarang?” Gue merasa ada nada sedih di balik senyumannya.

“Gue udah nangis bombay deh pas putus. Ada kali, Gas, gue nangis sebulanan lebih nggak berhenti, males makan, kepikiran mau bunuh diri segala. Ha ha, ya hal-hal normal aja lah yang orang lakuin kalo putus cinta. But I’m much better now, yes, thank you!”

That jerk, bahkan sampai di akhir hubungan lo dan Airina, lo masih nyakitin dia kayak gini. Kalau aja gue tahu lebih awal, mungkin lo udah habis sama gue, Arya. Tapi gue salut lihat Airina yang berusaha tetap kuat dan tegar dealing with her broken heart. Gue tahu dia pasti sehancur itu putus sama pacar kesayangannya itu, yang sama sekali nggak pantas mendapatkan sayang dan cintanya Airina.

“Ng, sebenernya, gue juga lagi deket sih sama seseorang. Gue mau berusaha ngelupain lo. Bahkan tadinya, gue mau nembak dia malem ini. Cuma karena lo nelepon, ya gue tunda.”

“Tuh kan. Lo sendiri nggak cerita sama gue. Lo lagi deket sama siapa, Gas? Siapa sih emang yang bisa bikin lo move on dari gue yang udah sepuluh tahun lebih memikat hati lo?”

Lagi-lagi, Airina masih saja menggoda gue. Iya, memang nggak ada yang bisa menggantikan posisi lo di hati gue, Airina. Tentu saja gue nggak bisa mengucapkan kalimat ini setelah tadi dia bilang dia nggak bisa bersama gue, kan? Akhirnya gue memilih kalimat lain untuk menjawabnya supaya gue nggak terdengar terlalu pathetic,

“Ha ha. Ada lah, Na. Sama anak arsi. Mungkin lo nggak kenal.”

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Entah kenapa, hanya seorang perempuan yang terlintas di benakku saat Bagas menyebutkan jurusan itu, Arsitektur. Aku yang berkuliah di Teknik Lingkungan, seringkali makan dan jajan di gedung Arsitektur yang tepat berada di sebelah gedung kami.

“Anak arsi? Siapa? Jangan bilang, Dewi?” Aku bertanya ke Bagas dengan suara sesantai mungkin.

“Lah, lo kenal sama Dewi? Iya, gue lagi deket sama dia.”

“Sumpah, Gas, Dewi yang cantik banget itu?” Kali ini, gagal upayaku untuk mencoba tetap santai.

Hatiku mencelos saat Bagas menyebutkan namanya. Ini sih, namanya kalah sebelum berperang. Aku dan sahabat-sahabatku sering membicarakan tentang Dewi, betapa cantik dan cool-nya dia,  dan dengar-dengar dia juga pintar serta aktif di himpunan maupun di kemahasiswaan terpusat. Ya, maklum saja kalau aku bisa tahu hal-hal seperti ini tentang Dewi karena sahabat-sahabatku itu stalking skill-nya sungguh luar biasa, sampai kadang-kadang aku merasa mereka cocok bekerja untuk Badan Intelijen Nasional (BIN).  Aku ingat Hana pernah berkata, sewaktu kami makan di Kantin Barak dan melihat Dewi sedang mengantri di kasir,

“Kalo gue cowok, gue fix bakal ngejar dia sih.”

Yang bahkan ditimpali oleh Felisha, “Duh Han, nggak perlu jadi cowok juga gue mungkin udah lesbi kali sama Dewi!”

Dulu sih, aku ikut tertawa bersama sahabatku itu. Namun entah kenapa saat ini, aku sedikit memaksakan senyumku ke Bagas. Ironis rasanya.

Di balik selimut, aku memejamkan mataku dan wajah Bagas terbayang jelas di benakku. Terbayang olehku, raut wajahnya saat aku memberitahunya bahwa aku sudah putus dengan Arya. Di balik gelak tawanya saat mendengar berita itu, aku tetap bisa melihat raut wajahnya yang penuh emosi seolah ingin menghajar Arya karena aku telah mengizinkannya untuk menyakiti diriku, lagi dan lagi. Masih terlihat jelas olehku, tatapan mata Bagas saat aku menceritakan kepadanya bahwa sejak aku berusaha untuk melupakan Arya dan move on with my life, aku dekat dengan Kak Bintang. He gave me his approval because he knows him. Kak Bintang adalah seniornya di jurusan, dua tahun di atasnya. Dia bilang Kak Bintang pantas untukku.

Aku pun merasa sangat lega ketika Bagas menceritakan kalau dirinya juga berusaha move on dan melupakan perasaannya kepadaku. Agak sedikit mengejutkan memang, ketika Bagas bilang bahwa sebenarnya dia ingin menyatakan perasaannya kepada Dewi malam ini, tetapi dia membatalkannya karena aku tiba-tiba menghubunginya. Senang sih, for a split second, Bagas menggantungkan hubungannya dengan Dewi, hanya karena aku. Dewi! Apa ini mimpi?

“Gila lo, Gas! Masa anak orang lo jadiin pelarian. Ini Dewi lho, DEWI! I think you should arrange a romantic dinner and tell her what you feel. Go for it.

Aku tulus berharap dia bisa bersama dengan orang yang benar-benar menyayanginya. Iya, ternyata dari kuliah dulu, she always got her eyes on him. Menurut Dewi, Bagas itu karismatik, apalagi di saat memimpin rapat di Kabinet Mahasiswa. Dewi, yang sering dikirim oleh himpunannya mengikuti rapat terpusat, sedikit banyak terpukau oleh Bagas. Akhirnya awal tahun ini, mereka berdua dikenalkan oleh mantan Ketua Himpunan (Kahim) Arsitektur yang memang dekat dengan Bagas. Truth be told, aku nggak percaya sih cerita itu. Mungkin satu-satunya yang bisa dipercaya, Kahim Arsi memang mengenalkan mereka. Sisanya? Lebih mungkin kalau Bagas sebenarnya memakai jampi-jampi untuk memikat Dewi.

We will always be best friend, Airina. No matter what. I will always be around if you need me.” Kata-kata terakhir yang Bagas ucapkan saat dia menurunkan aku di depan pagar rumah tadi.

Entah kenapa, ada perasaan yang membuatku tidak ingin membiarkannya masuk ke dalam dan berpamitan dengan Mama dan Papa, seperti biasanya. Aku harap, aku dan Bagas bisa menyelamatkan pertemanan kami setelah semua kejadian ini. Lagipula, apa yang harus dikhawatirkan? Saat ini ada Kak Bintang untukku, dan Bagas memiliki Dewi. I guess everything will be okay…

Something in between

(on her musical preference)

B: “Han, kamu lawas juga ya orangnya.”

H: “Hahaha. Kenapa gitu?”

B: “Ini CD-CD kamu seleranya sama kayak Bapak saya.”

H: “Emang mayoritas pun selera bokap-nyokap gue, Bas. Gue somehow emang lebih suka lagu jadul, liriknya lebih menyentuh, lebih puitis. Ya nggak sih?”

(on Kings of Convenience)

H: “Gilaaa gue suka banget, Bas! Super happy! Makasih ya udah mau temenin gue nonton!”

B: “Saya yang makasih sama kamu, udah mau ngajak saya.”

H: “Tapi kan lo nggak suka-suka amat sebenernya. Abisan gue bingung sih, mau minta temenin siapa lagi… Yang suka Kings kan cuma Sisil, dan dia mau nonton bareng Adit, gue males nyamukin orang pacaran. By the way, gimana-gimana menurut lo, konsernya?”

B: “Hmm… Mungkin setelah ini, saya juga akan jadi fans berat-nya Kings of Convenience.”

(on her dream honeymoon to Bora-bora)

B: “Han, kira-kira butuh uang berapa ya, untuk ke Bora-bora?”

H: “Hmmm, nggak tahu, Bas. I dream about it but never had the thought of realising it. Kenapa emangnya?”

B: “Yah, siapa tahu nanti istriku minta diajak kesana…”

(on fortune cookies)

H: “What you got?”

He handed in the little parchment to her after cracking his fortune cookie.

H: “Sheesh, creepy. I got the same.”

You might think that the best match for you is your opposite, but it is not anymore since you go for the one who is alike. And if you could learn to compromise and be aware of the other, it would be your ideal match of like minds.

(on her first performance after 8 years)

B: “Aku nggak tahu kamu bisa main piano.”

H: “I did practice back then til I was 13, but I lost interest.”

B: “Bagus, Han.”

H: “Oh ya? Ng… kayanya nggak, Bas. I’m nervous as hell…”

B: “Iya aku tahu.”

H: “Ah, tuh kan! Pasti menurutmu jelek! Aku udah lama latihan ini, lagu tadi tuh one of my fave, udah lama mau aku mau kasih ke kamu, but in a special way.”

B: “Iya aku tahu, Hana. Makasih banyak ya. Iya, bagus juga lagunya. Jujur aku baru pertama kali denger. Lagu apa sih, Han?”

H: “Better than love. Lagunya Sherina, my childhood idol.”

(on their thoughts of relationship)

H: “Bas, do you know, I think we only need two things how to make relationship works.”

B: “Yaitu?”

H: “Love and trust.”

B: “Kenapa?”

H: “Because love is the basic thing. Kalo nggak sayang, kenapa harus pacaran? Tapi banyak temenku yang pacaran karena sayang aja, but they don’t trust him, you know? It’s depressing, masa tiap gak barengan jadi parno… so that’s why we need trust in the second place.”

B: “Kalau komunikasi?”

H: “Kayanya kalo sayang dan percaya, pasti akan kasih tahu semuanya gak sih, Bas?”

B: “Iya juga sih. Tapi menurutku sayang dan percaya aja gak cukup, Han.”

H: “Terus apa lagi?”

B: “Pengorbanan. Tanpa pengorbanan, hubungan itu nggak akan jalan kemana-mana. Kompromi itu perlu, orang kan nggak semuanya langsung cocok, harus ada yang dimengerti, harus ada yang dibatasi. Ya kan?”

H: “Love. Trust. Sacrifice. I like it.”

(his favourite poem given to her)

“aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan 
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”

Sapardi Djoko Damono

Hana & Baskara

The Track List

Screen Shot 2016-07-15 at 8.53.22 PM

(Lucky) I’m In Love With My Best Friend (Part 1)

Bintaro, Oktober 2013

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Aku bangun dengan napas tercekat. Dadaku sesak dan perutku terasa begitu nyeri. Mataku masih agak berkunang-kunang. Tenagaku serasa habis dan aku tak berdaya untuk menggerakkan tubuhku.

“Kita kembali ke ruangan ya, Mbak…” Mataku menangkap seorang suster yang menatapku dari atas tempat tidur. Dia tersenyum dengan lemah lembut kepadaku.

Setelah hampir satu minggu berturut-turut aku selalu memuntahkan apapun yang aku makan, akhirnya aku drop dan pingsan sebelum berangkat ke kantor kemarin pagi. Mama segera membawaku ke RS Premier Bintaro karena jaraknya dekat dengan rumah kami. Kata dokter, asam lambungku tinggi dan maag yang aku derita ini sudah kronis. Aku terpaksa dirawat inap karena harus diinfus untuk memberikan asupan makanan bagi tubuhku. Aku baru saja selesai di-endoskopi. Saat tadi masuk ruangan, dokter memberitahu bahwa aku hanya perlu dibius sedang. Namun ternyata, aku terlalu tegang sehingga prosedur awal tidak berhasil dan akhirnya aku memilih untuk dibius total.

Saat tiba di ruang kamar, aku dipindahkan ke tempat tidur. Tenggorokanku masih terasa sedikit sakit dan badanku masih lemas. Keluargaku sudah menantiku disana, Mama, Papa, Mbak Aurelia dan suaminya–Mas Aldy, dan Mas Akila.

Setelah tenagaku sudah mulai kembali pulih, aku mengambil handphone. Banyak chat dan panggilan tak terjawab dari teman-temanku. Mungkin mereka khawatir aku tidak bangun lagi habis dibius. Aku menjawab chat mereka satu per satu dan mengabari bahwa aku selamat dari endoskopi yang cukup mengerikan itu. Yes, drama queen is my middle name.

Aluna, Diandra, Felisha, dan Raina datang menjengukku. Mereka membawakan balon dan tidak berani membawakan makanan apapun karena takut aku masih ada pantangan dari dokter. Lagipula aku memang sedang tidak ingin makan dan sudah kehilangan napsu makanku. Bagaimana tidak? Karena kejadian ini, dokter melarang keras aku mengonsumsi junk food–makanan paling enak sedunia.

Sudah beberapa jam mereka menemani dan bersenda gurau bersamaku, yang selalu membuat perutku terasa nyeri setiap kali aku tertawa oleh lelucon mereka. Sekitar pukul 19.30 mereka pamit pulang dan keluargaku pun juga pulang ke rumah. Hanya tersisa aku dan Mama di ruangan ini. Tak lama kemudian, pintu kamarku diketuk. Bagas, Nugi, Randy, dan Ayu memasuki ruangan. Mereka menyapa Mama kemudian duduk di sofa samping tempat tidurku. Aku membiarkan Mama yang bercerita panjang lebar tentang sakitku ini persis seperti yang tadi Mama ceritakan di depan Aluna, Diandra, Felisha, dan Raina. Dan cerita itu diakhiri dengan,

“Airina ini emang paling-paling deh. Tante sampai nggak habis pikir sama kelakuannya…”

“Sabar ya Tante, mudah-mudahan cepat sehat lagi Airina nya.” Ayu berusaha menghibur Mamaku. Aku cuma bisa menyengir kuda.

“Iya. Makasih ya nak, sudah sempat jenguk Airina. Eh iya, kalian sudah pada makan malam belum? Tante order-in makan malam yah? Sekalian tante mau beli juga,” kata Mama kepada Bagas, Nugi, Randy, dan Ayu.

Keempatnya menolak dengan sopan dan menjawab bahwa mereka sudah makan malam sebelum kesini tadi.

“Tante belum makan? Mau aku beliin dulu tante, keluar?” Bagas menawarkan diri.

“Nggak usah, nak. Pesan aja biar gampang.”

“Atau kalau tante mau makan dulu di luar, nggak apa-apa aku tungguin Airina tante.” Jawab Bagas lagi. Nugi, Randy, dan Ayu mengiyakan.

“Sebenernya kalau boleh sih, tante mau pulang dulu ke rumah. Ganti baju dan ngambil barang sebentar, nanti kesini lagi. Kalian nggak apa-apa tante tinggal?”

Lagi-lagi keempatnya mengiyakan. Namun, tak lama setelah Mama pulang, Nugi, Randy, dan Ayu juga pamit pulang. Ayu tidak enak kepada orang tuanya kalau pulang terlalu malam, Randy menawarkan diri untuk mengantar Ayu pulang ke rumah, dan Nugi ikut pulang bersama mereka.

Tinggal lah aku dan Bagas di kamar ini. Bagas duduk di tepi tempat tidurku.

708617937593806060516

“Masih sakit?” Gue bertanya dengan lembut ke Airina yang berbaring di tempat tidurnya.

“Tinggal lemesnya aja sih, Gas…” Jawabnya pelan.

“Tadi sebelum masuk, gue papasan sama temen-temen TL lo.”

“Oh, ya? Iya sih emang nggak lama habis mereka pamit, lo dateng.” Airina menjawab.

“Arya udah kesini?” Gue bertanya dengan suara yang gue tahan agar terdengar biasa saja.

Untuk beberapa detik Airina terpaku dengan pertanyaan gue, sebelum dia menjawab, “Belum. Kan dia lagi di Bandung, Gas. Kasian jauh kalo kesini.”

“Selalu ada pembenaran ya buat pacar lo yang nggak berguna itu.” Akhirnya gue menjawab dengan ketus, gagal menahan emosi gue.

“Kok lo jutek sih? Kenapa?” Airina mencolek tangan gue yang dekat dari jangkauan tangannya.

“Apa sih, Na, yang bikin lo bertahan sama hubungan lo dan dia? Pacar mana coba yang tega ngebiarin ceweknya jatuh pingsan? Bahkan sampai mesti masuk rumah sakit masih nggak dijengukin juga? Gue aja bukan pacar lo, tapi bela-belain nih dateng langsung pulang kerja kesini. Udahlah, mendingan lo jadi pacar gue aja.” Lagi-lagi gue gagal menahan mulut gue yang nggak bisa diam ini.

“Yee, itu sih maunya elo!” Dia menjawab sambil tertawa.

“Serius gue…” Gue menatapnya lekat-lekat.

Kemudian Airina menggenggam tangan kiri gue dengan kedua tangannya sambil berkata, “Bagas, dengerin yaa. Wajar dong, lo pulang dari kantor langsung mampir kesini, ke Premier kan sama aja kayak lo balik ke rumah. Dan wajar dong, sekarang lo masih nungguin gue sampai jam segini. Kan rumah lo deket, Gas. Lagian tadi lo sendiri yang menawarkan diri ke nyokap gue buat jagain gue. Kalau Arya, dia di Bandung, jauh. Jadi wajar dia nggak kesini, Gas… Udah ya, jangan didebat lagi.”

“Pokoknya, kalau udah umurnya kita siap nikah, dan pacar lo yang nggak sayang sama lo itu masih belum nikahin lo juga, lo nikah sama gue. Nggak perlu pake pacaran lagi kita. Langsung aja…”

“Heh, gila ya lo? Ngomong sembarangan.” Airina mencubit tangan gue yang sesaat sebelumnya sedang dia genggam itu. Lagi-lagi dia tidak menghiraukan perkataan gue.

Fuck you, Arya. You big shit. Gue nggak habis pikir kelakuan lo yang minus aja bisa-bisanya masih dibelain sama pacar lo. Beneran manusia nggak guna, nggak tahu diri. Mungkin kalo lo ada di hadapan gue, muka lo udah bonyok gue pukulin.

Iya, gimana gue nggak semarah ini rasanya sama itu orang. Karena menurut gue, sedikit banyak Airina jatuh sakit memang gara-gara dia. Dua minggu lalu, Arya ke-gap selingkuh, sama teman kantornya. Mereka berantem hebat. Tebak siapa yang dijadiin last resort sama cewek di hadapan gue ini? Iya, gue. Gue berkali-kali saranin dia buat putus. Entah kenapa selalu ada pembelaan keluar dari bibirnya itu. Nggak lama setelahnya, Airina jatuh sakit. Hampir satu minggu dia selalu memuntahkan apapun yang dia makan, sampai akhirnya jatuh pingsan. Biar gimana juga, gini-gini gue paham betul sama penyakitnya Airina. Dia emang nggak bisa stress, karena itu akan men-trigger asam lambungnya naik dengan jumlah yang tidak terkontrol, maag-nya sudah kronis.

“Kok nyokap lama ya Gas, nggak balik-balik? Gue tidur nggak apa-apa yah? Ngantuk berat.”

Terdengar Airina berkata, mungkin dia lama-lama ngantuk juga karena nggak gue ajak ngobrol. Habis mau gimana lagi, kalau dibahas panjang yang ada gue semakin ribut sama dia. Dan gue nggak mau itu terjadi. Saran gue nggak pernah diterima, pernyataan cinta gue yang mendadak dan asal-asalan tadi pun nggak diterima, tetapi tetap saja gue memaksakan diri untuk tersenyum ke dia.

“Iya, santai. Gue tungguin kok sampai nyokap lo balik.”

Kemudian gue merapikan selimutnya dan mematikan lampu dekat tempat tidurnya. Hanya dalam hitungan detik, Airina sudah tertidur pulas. Memang sahabat gue yang satu ini paling cepat kalau urusan tidur. No wonder, teman-teman dekat kami di SMA memberinya julukan Kebo Cilik, dasar si tukang tidur. Gue mengamati tidurnya, melihat napasnya naik-turun perlahan. Tidurnya tenang, seperti anak bayi. Terlalu lama melihatnya seperti ini, bisa bikin gue hilang kendali dan ingin menciumnya. Alih-alih menciumnya, akhirnya gue hanya mengelus-elus lembut kepalanya.


Bintaro, November 2013

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Mama, Papa, Mbak Aurelia dan Mas Aldy serta kedua anak mereka yang menggemaskan–Azka dan Azzahra, dan juga Mas Akila berdiri mengelilingi tempat tidurku dan membawa sebuah kue. Iya, kue ulang tahun, karena hari ini aku genap berusia 23 tahun. Sudah menjadi tradisi di keluarga kami, jika ada yang berulang tahun semua akan berkumpul dan kami akan makan siang atau makan malam bersama di hari itu. Seperti hari ini, Mbak Aurelia beserta suami dan kedua anaknya sengaja menginap di rumah kami karena siang nanti kami akan makan siang bersama.

Dalam suasana kamar yang gelap, aku bisa melihat cahaya terang dari lilin-lilin kecil di kue ulang tahunku menari-nari. Aku selalu tidur dengan kondisi kamar yang gelap gulita. Kalau tidak begitu, tidurku tidak akan nyenyak dan aku akan terbangun dengan mood jelek serta uring-uringan seharian di hari selanjutnya.

Aku duduk di atas tempat tidurku, memejamkan mata, dan mengucapkan birthday wishes dalam hati before I blew out the candles.

Dear God, I am grateful for these wonderful 23 years. And I know, the best is yet to come. Thank You for Your blessing, that bestowed to my loving family and dear friends, along with their hands and smiles that keep me strong until this day.

As for Arya, it has been an emotional year… I wish our love will continue to grow and we can finally tie the knot before I hit 24.

Hari ini aku mengambil cuti dan tidak masuk kantor. Aku memang sengaja mengambil cuti di hari ulang tahunku karena ingin melewati hari ini dengan orang-orang terdekatku. Setelah surprise tadi malam, kami sekeluarga malah lanjut ngobrol sambil menyantap kue ulang tahunku dan baru tidur sekitar pukul 3 dini hari. Pagi ini aku pun sarapan dengan kue ulang tahun sisa semalam dan secangkir teh Green Tea & Lemon dari Twinnings kesukaanku. Aku duduk di sofa dan menggonta-ganti channel TV tetapi tidak berhasil menemukan program yang menarik.

Bel rumah berbunyi. Aku meneriaki si Bibi agar membukakan pintu. Siapa sih yang bertamu pagi-pagi begini, pikirku dalam hati. Si Bibi tidak menjawabku. Mungkin beliau sedang mencuci baju di belakang sehingga tidak mendengarku. Dengan malas aku melangkahkan kakiku menuju pintu ruang tamu. Saat aku membuka pintu, aku mendapati seorang kurir berdiri di hadapanku. Kurir itu ternyata mengirimkan sebuah cake dari Kak Bintang.

Kak Bintang adalah seniorku di kampus dulu. Kami tidak satu jurusan sih, dia anak Teknik Fisika 2006, dan aku mengenalnya saat aku ikut kepanitiaan Olimpiade ITB. Kemudian dia yang memang aktivis kampus, terpilih menjadi Menteri Koordinator Internal di Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB. Secara personal, dia memintaku menjadi sekretarisnya yang tentu saja langsung aku iyakan. Kak Bintang orangnya baik dan lucu, jadi aku suka bekerja sama dengannya. Selama ini kami memang cukup akrab, tetapi ini pertama kalinya dia mengirimkan kue ulang tahun untukku.

Pikiranku yang sedang menelusuri kenangan bersama Kak Bintang tiba-tiba lenyap, karena aku mendengar suara mobil Arya memasuki garasi rumah. Aku langsung berlari menyambut dan memeluknya. Arya balas memelukku seraya mengucapkan,

“Duh, yang lagi ulang tahun kayaknya seneng banget nih…”

“Kamu kok pagi banget nyampe sini? Berangkat dari Bandung jam berapa?”

“Iya, aku nggak sabar mau ketemu. Ini ada kue buat kamu, mau dipotong sekarang atau nanti aja pas makan siang?” Dia bertanya sambil membuka pintu mobilnya, mengambil bungkusan berisi kue untukku.

“Nanti aja, aku kenyang makan kue mulu dari semalem. Masuk yuk!”

Sepulangnya makan siang, aku kembali ke rumah untuk beristirahat sebentar karena malam harinya aku ada janji untuk birthday dinner, bersama teman-teman kesayanganku di kuliah dulu. Saat makan siang bersama keluargaku dan Arya, Mama menanyakan apakah Arya berniat serius denganku–yang hanya dia jawab dengan senyuman dan kata-kata, “Doain aja, Tante. Insya Allah.”

Selepas maghrib, Arya pamit kembali ke Bandung, karena besok ada training disana. Sebelumnya, dia mengantarku ke Otel Lobby, sebuah restoran di Epicentrum, Kuningan.

Saat aku tiba di Otel Lobby, Aluna, Diandra, Felisha, Gita, Lilian, Priscilla, dan Raina sudah terlebih dahulu ada di sana. Mereka memberikan aku surprise.

“Kok sendirian, Na? Arya nggak ikut?” Tanya Felisha begitu aku duduk di kursi sebelahnya, setelah meniup lilin kue ulang tahunku dan mendengarkan lagu Happy Birthday dilantunkan oleh sahabat-sahabatku yang urat malunya seperti sudah putus itu.

“Nggak, cuma nge-drop aja, dia besok ada training pagi-pagi, Fel, takut kemaleman.” Padahal sebenarnya aku tahu, semenjak kejadian perselingkuhannya, Arya tidak pernah merasa nyaman hanging out bersama para sahabatku ini. Takut dihajar, mungkin.

Setelah acara potong kue, barulah kami menyantap makan malam dan update kehidupan masing-masing.

Seperti yang sudah aku tahu, hubungan Aluna dan Reza memang tidak selalu mulus, begitulah memang dilemanya kalau LDR. Aku saja yang LDR Jakarta-Bandung suka mengeluh, bagaimana Jakarta-Tokyo? Aluna berkata Reza akan pulang bulan depan, setelah ujiannya selesai. Akhirnya sahabatku yang satu itu pulang kampung juga selepas kepergiannya 1.5 tahun lalu. Namun Aluna pasti tidak tahu-menahu, bahwa Reza sudah mempersiapkan surprise untuknya. Tentu saja dengan bantuanku. Yes, he is gonna ask for her hand, finally. Aku teringat saat Reza melontarkan rencananya ke aku beberapa waktu lalu, sampai-sampai aku ikut histeris saking excited-nya.

Cerita selanjutnya juga sudah aku ketahui. Lilian, yang belakangan ini cinlok dengan co-worker-nya di kantor, Ranu, akhirnya menyampaikan hal itu ke kita semua. Sebenarnya, Lilian sudah menceritakan semuanya ke aku dan Felisha. Tadinya dia tidak berani go public, bagaimana tidak? Ranu adalah mantan Diandra di masa kuliah dulu. To be honest we all thought that they’re gonna end up together. Tapi takdir berkata lain, awal bulan ini Diandra dilamar oleh pacarnya setahun belakangan, Adhiguna. Karena itu juga, Lilian berani mengatakan affair-nya ke Diandra. Seperti perkiraanku dan Felisha, Diandra benar-benar tulus mengucapkan selamat ke Lilian. Lalu dia bilang,

“Nggak tau kenapa tapi gue udah feeling sih, kalo Ranu bakal sama lo. Dia suka cinlok kan soalnya.” Katanya sembari tertawa, teringat saat mereka dipertemukan di kepanitiaan yang sama. Akhirnya, setelah kurang lebih bekerja bareng selama 6 bulan, timbul juga perasaan-perasaan yang diinginkan.

Belakangan ini Felisha merasa gerah dengan Rasyid yang selalu membicarakan pernikahan, padahal paling cepat Felisha ingin menginjakkan kaki ke jenjang itu masih 2 tahun lagi. Posisinya di kantor memang strategis, dia pun berencana untuk melanjutkan studi master untuk menunjang karirnya. Akhirnya di penghujung malam itu, against all odds–di saat kita semua malah ingin berlabuh ke pelaminan, Felisha mantap akan memutuskan hubungannya dengan Rasyid setelah 3 tahun bersama.

Kini giliran Gita yang bercerita, yang aku sudah tahu pasti akan membicarakan Baskara–entah kenapa aku selalu jadi tong sampah di pertemanan ini. Sudah beberapa bulan semenjak Baskara diterima di kantornya. Dan sedikit banyak aku bisa mengira, perasaannya ke Baskara yang dulu pernah ada, kembali muncul. Sayangnya ada Sarah, pacar Baskara yang kerap kali datang ke Jakarta. Sarah adalah junior kami di TL. Sebenarnya dia sudah lulus bulan lalu, tetapi dia masih tinggal di Bandung karena masih ada proyek dengan dosen di kampus.

“Kalo pacaran tuh di kamar, man! Gue nggak tau deh tuh mereka ngapain aja…” Nada bicara Gita terdengar bete dan jealous,  aku hanya tersenyum kecil. Walaupun aku merasa Gita dan Baskara cocok, diam-diam aku masih berharap Baskara kembali bersama Hana. They are my favourite, and after all this time, I still ship them hard. Always.

Priscilla aka Sisil, yang sudah menikah di awal tahun ini dengan Aditya, his high school sweetheart, curhat karena belum juga diberi momongan, yang berlanjut dengan omongan-omongan yang sudah seharusnya disensor dari cerita ini. Sementara Raina dan Athar is going strong. Sepertinya tahun depan mereka akan lamaran dan mempersiapkan pernikahan.

Anyway, obrolan kami tidak kunjung habis. Perasaanku campur aduk malam ini, tapi mostly I feel happy, happy that I got them in my life.

708617937593806060516

Hari sudah cukup larut saat mobil Airina memasuki halaman rumah. Pukul 23:45 tepatnya, gue melihat jam tangan gue. Vios silver-nya dia parkirkan di sebelah mobil gue.

“Nah, itu Airina sampai, Gas. Kalau dia sudah pergi sama geng rumpinya itu emang nggak pernah sebentar.” Mamanya Airina berkata sambil sedikit tertawa, melirik ke arah pintu depan.

Gue hanya memberikan senyum gue kepada si Tante. Tiba-tiba jantung gue terasa cenat-cenut saat langkah Airina terdengar semakin dekat.

“Assalamu’alaikum.” Airina mengucapkan salam saat dia memasuki rumah.

Tante dan gue pun menjawabnya. Airina cium tangan kepada mamanya, lalu memberikan kecupan di kedua pipi mamanya. Tentu saja untuk beberapa detik, gue berharap dia juga akan melakukan hal yang sama ke gue, mencium pipi gue. Namun, harapan ya tinggal harapan. Dia hanya melemparkan senyum manisnya ke arah gue sambil berkata,

“Hai, Gas! Kok tumben sih, malem-malem kesini? Udah lama?”

Belum sempat gue menjawab, Tante langsung menjawab Airina.

“Kamu pulangnya malem banget sih, ndok. Kasihan tuh Bagas, daritadi dengerin ocehan Mama jadinya. Tadi Mama mau nelepon kamu biar cepet pulang, eh, malah dilarang sama Bagas. Padahal kan kasian dia jadi nunggu kelamaan.”

“Nggak apa-apa kok, Tante. Kan ceritanya biar surprise he he,” gue menjawab tante dengan sedikit salah tingkah.

Sorry banget Gas, gue nggak tau sih lo mau mampir. Habis gosip apa aja sama Mama tadi?” Airina menunjukkan tampang jahilnya.

“Kamu ini, kok malah meledek gitu? Yasudah ah, Mama mau tidur, Papa sudah tidur duluan, tuh. Tante ke dalam, ya Gas.”

“Iya, Tante. Makasih ya, Tante.”

Setelah mamanya sudah hilang dari pandangan mata, Airina duduk di sofa. Gue mengikutinya, duduk di sebelahnya.

Happy birthday, Airina!”

Thanks, Gas. Kok ucapin lagi sih, kan tadi udah telepon? Eh, bentar deh… Setau gue lo hari ini mestinya nggak di Jakarta deh? Bukannya lo inspeksi alat ya ke site? Kok bisa ada di sini?”

“Iya, kalo bisa gue emang rencana nggak nginep, tadi gue langsung balik aja begitu selesai. Pas banget ada flight yang available. Lagian males ah, tidur di hotel mulu, enakan juga kasur rumah.”

“Bilang aja, nggak sabar mau ngasih gue surprise dan kado ulang tahun kan?” Godanya sambil mengernyitkan mata dengan percaya diri, walaupun ya memang benar sih…

Gue tersenyum sambil mengulurkan sebuah kotak kue kepadanya. Dia mengambil kotak itu dari tangan gue, kemudian membukanya dengan semangat.

“Wah, Oreo Cookie Ice Cream Cake! It’s my favourite, Gas…” Matanya berbinar-binar saat dia melihat isinya. “Thank you!” Dia berkata lagi.

I know.” Jawab gue singkat, merasa bangga sama diri gue sendiri yang nggak lupa sama kue kesukaan dia.

“Apaan nih, kok tulisannya do not eat junk food sih? Bukannya happy birthday?” Dia mencibir ke gue saat membaca tulisan di kuenya.

“Yee, udah biasa ah nulis happy birthday. Lagian, reminder tuh buat lo, biar lo nggak bandel curi-curi makan junk food.”

Airina tersenyum lebar, “Kok tumben sih, lo manis banget gini ke gue? Biasanya juga gue ajakin traktiran ulang tahun selalu sibuk lo,” katanya seraya menyikut gue dengan pelan.

“Tuh, asal gue baik salah. Kalo gue nyebelin, lo marah. Serba salah emang sama Airina ini,” gue menjawab dia.

Kemudian gue mengeluarkan sebuah bungkusan berwarna biru muda dari dalam tas gue, “Ada satu lagi nih buat lo.”

Dia meraih bungkusan itu dari tangan gue dan dengan sigap menyobek kertas kado yang membungkus hadiah yang gue berikan untuknya.

“Ya ampun, warnanya gue banget siiih! Ini serius, lo beliin buat gue?”

Airina kegirangan saat menemukan Instax Mini 25 berwarna putih biru dari dalam bungkus kado yang dia sobek tadi. Gue memang tahu dia sedang ingin kamera ini.

Entah apa yang merasuki gue malam ini, mungkin karena melihat senyumannya sedari tadi yang bikin gue tiba-tiba menyambar kedua tangannya dan menatap ke dalam kedua bola matanya,

“Airina, gue sayang sama lo. Gue rasa, nggak ada salahnya deh kalau kita pacaran aja.”

Airina menatap gue heran untuk beberapa saat. Kemudian dia menarik pelan kedua tangannya dari genggaman gue. Dia tertawa kecil,

“Bercanda deh lo, Gas.”

“Gue serius, Na. Gue sayang sama lo. Putusin aja Arya, gue gerah ngeliat cara dia memperlakukan lo. You deserve someone better than that, Na.”

“Gas, lo ngomong apa sih? Emangnya apa yang salah sama cara Arya memperlakukan gue? Asal lo tau ya, tadi pagi dia dateng kesini bawa kue dan kado untuk gue. Dia sayang sama gue, gue tau itu. Apa sih yang lo pikirin? Tega ya lo, nggak nganggep Fitri, pacar lo?”

Airina terlihat emosi dan marah saat dia ucapkan semua kalimat itu ke gue. Matanya memerah seperti menahan tangis.

“Gue udah putus sama Fitri…” Akhirnya gue berkata lirih.

Airina terdiam sebentar.

“Sejak kapan, Gas? Kok gue nggak tau?” Airina bertanya dengan tatapan penuh simpati kepada gue.

“Udah dua bulan lah.”

“Gas, sori…” Jawabnya pelan.

“Gue waktu itu mau cerita sama lo, tapi lo lagi sakit.”

Namun tiba-tiba, seperti amarahnya kembali merasuki jiwanya lagi, empatinya ke gue hilang seketika dan dia berkata, “Terus, karena lo putus, lo pikir lo jadi bisa ngomong gini ke gue?”

Menit-menit selanjutnya, gue lalui dengan berusaha meyakinkan Airina kalau ini waktu yang tepat untuk gue dan dia bersama. Tetapi seperti yang sudah gue perkirakan, cintanya yang buta sama si Arya mengalahkan semuanya. Air mata yang sudah dia tahan sejak tadi akhirnya pun menetes saat dia berkata ke gue,

“Gue kecewa sama lo, Gas. Lo satu-satunya cowok yang bikin gue percaya kalau cowok dan cewek itu bisa sahabatan tanpa mencampur-adukkan perasaan. But tonight, you proved me wrong. Thanks for ruining my day.

“Lo aja yang nggak pernah ngeh sama perasan gue, Na. I love you all along, long way back to high school. Nggak ada sejarahnya cowok dan cewek bisa temenan, awalnya gue kira pun bisa, tapi nggak, gue salah besar. Lo salah besar. Dan jujur, gue capek dijadiin bemper sama lo.”

There. I said it. Namun gadis kesayangan gue itu cuma menangis. Frankly, I hate seeing her like this. It has been years that I solemnly swear, I would be a man who won’t make her cry.

“Airina, maaf… gue nggak nyangka kata-kata gue bikin lo sesedih ini.”

Putus asa, gue mencoba meraih tangannya, tapi dia mengelak.

“Na… please don’t get me wrong. I didn’t mean to…”

Airina memotong kata-kata gue. “Udah deh. Lagian ini udah malem, mendingan lo pulang, Gas. Gue capek, mau istirahat.”

Gue cukup tahu diri untuk tidak berdebat dengan Airina lagi. Akhirnya gue pamit pulang. Airina tidak mau menatap gue. We don’t even say goodbye…

”Great. Our first. Big. fight.”

Frustasi, gue menghantam setir saat gue meninggalkan rumah Airina.

“Gue kira gue kenal dia luar dalem, tapi ternyata nggak. Namanya cewek ya tetep aja cewek. And I thought she is one of my best bros, tapi ternyata nggak. Namanya cewek ya tetep aja cewek, nggak ada yang bisa gue jadiin bros. Bahkan Airina sekalipun.

Gue nggak habis pikir, apa sih yang salah? Padahal dia yang bikin gue terbawa perasaan. Kalau dia nggak suka, kalau dia nggak seneng, kalau dia nggak sayang, kenapa dia harus nunjukin gelagat as if like she does? Kenapa sih, lo selalu ngasih mixed signal kayak gini, Airina?

Dan sedetik kemudian, dia nangis. Apa sih salah gue? Makhluk Tuhan yang namanya perempuan memang paling ajaib.

Mungkin cara gue yang salah. Mungkin kata-kata gue yang salah.

Lambat laun amarah gue berganti sama penyesalan. I gotta make things up for her.

Last first kiss

Karimunjawa, Desember 2011

Baskara mereka ulang sepotong pembicaraan pagi tadi dengan Hana, saat mereka berada di kapal cepat dari Jepara ke pulau itu. Baskara tahu, ada yang tidak beres dengan diri Hana karena gelagatnya berbeda dari semalam, saat mereka duduk berdampingan di dalam bis dari Bandung menuju Jepara. Semalaman Hana ceria dan mereka membicarakan banyak hal, sampai gadis kesayangannya itu jatuh tertidur di pundaknya. Namun pagi tadi, mulutnya terkunci, matanya seperti sengaja tak mau beradu dengan mata Baskara. Tadinya Baskara mengira Hana mabuk laut, sampai akhirnya ia menanyakan,

“Kenapa, Han? Kamu mabuk?”

“Nggak, Bas.”

“Kok pucat?”

Pertanyaannya hanya dibalas dengan gelengan semata, Hana tersenyum, yang terlihat dipaksakan. Hal itu cukup membuatnya frustasi. Entah terkena angin apa, ia kembali bertanya, menyebutkan nama yang selama ini paling anti ia bawa ke permukaan, apalagi ke dalam pembicaraannya bersama Hana.

“Bara?”

Hana mengangguk pelan, dalam hatinya ia berkata, “Shoot, he knows me too well.

Di hati kecilnya, Baskara cukup tahu, memang hanya Bara yang bisa membuat Hana seperti itu.

“Bara kenapa?”

“Dia SMS aku.”

Bimbang memilih antara untuk terlalu peduli atau tidak sama sekali, akhirnya Baskara bertanya lagi, karena sulit baginya melihat Hana seperti itu. “SMS apa?”

“Dia marah, Bas. Dia marah aku pergi sama kamu.”

“Kamu cerita sama dia kalau kita liburan bareng?”

“Aku nggak cerita sebelumnya, untuk apa? Tapi tadi pagi tiba-tiba dia SMS aku, nanya lagi dimana. Terus aku jawab, dan dia marah. Aku nggak ngerti kenapa, aku nggak ngerti kenapa dia masih ngerasa berhak untuk marah sama aku. Kenapa?”

Air mata terlihat menggenangi bola mata Hana. Baskara tidak bertanya lebih lanjut, ia tak mau gadisnya menangis di hadapannya. Tangannya meraih kepala Hana dan menyandarkannya di pundaknya. Bibirnya mengecupnya pelan, yang akhirnya tenggelam dalam dekapannya. Sisa perjalanan pun mereka arungi dalam diam.

Baskara dan Hana beserta keempat temannya, Raina, Athar, Aluna, dan Firzi, memutuskan untuk menghabiskan liburan semester itu dengan berlibur ke Pulau Karimunjawa. Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya mereka menyantap makan siang dan beristirahat sejenak di cottage sebelum berangkat snorkelling.

Beruntung, mereka menginap selama dua malam di seafront cottage di sana. Baskara melamun seraya memandangi bentangan Laut Jawa di hadapannya, tidak menyadari perbincangan antara Athar dan Firzi yang duduk di sebelahnya. Suara keduanya hanya terdengar sayup-sayup di antara gambaran kejadian di kapal tadi bersama Hana. Lamunannya terhenti saat ia membalikkan badan karena mendengar suara Hana dari belakang. Gadisnya itu mengganti kaos dan jogger pants yang dipakainya dari semalam dengan swimsuit yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Hana mengenakan baju renang one piece yang bagian atasnya berwarna hijau neon, sementara bagian pinggang ke bawah merupakan celana ketat yang pendeknya sepaha, berwarna hitam. Baskara kehilangan kata-kata mendapati gadis pujaannya berpenampilan seperti itu. Setelah Hana berada di dekatnya, barulah ia menyadari bahwa bagian belakang baju renang yang Hana kenakan itu backless.

“Han, kamu nggak ada baju lain?”

“Ada. Kenapa, Bas?

“Nggak mau diganti aja, bajunya?”

“Lah kan mau berenang. Kenapa emangnya?”

“Ng… nggak tapi…” Baskara kembali kehilangan kata-kata.

Alih-alih memikirkan jawaban untuk Hana, ia meraih tangan Hana dan mengajaknya kembali ke cottage.

“Bas, kenapa sih?” Hana keheranan akan tingkah pacarnya itu.

“Aku suka lihat kamu pakai baju ini.” Baskara menghela napas panjang, lalu melanjutkan, “Tapi aku nggak mau orang lain ikutan suka lihat kamu pakai baju ini.”

Hana tersenyum geli melihat Baskara. “Kalau gitu aku dobel ya? Pakai kaos?”

“Kenapa nggak ganti kaos aja? Sama celana sekalian, atau legging.”

“Bas kan kita mau snorkelling, masa aku nggak pakai baju renang…”

Baskara menyerah, menatap gadisnya memasuki kamar tidur. Tak lama, Hana keluar dengan mengenakan loose t-shirt jenis favoritnya: crop top. Selera berpakaian Hana memang selalu membuat Baskara menggelengkan kepala, tak habis pikir. Namun biarlah, ia tidak mau berdebat lagi. Setidaknya, kaos putih bergaris-garis itu cukup menutupi sebagian besar punggung Hana.

Sehabis makan malam, mereka berenam berjalan kaki menyusuri jalan raya yang mengarah ke alun-alun. Cukup lama mereka duduk-duduk di rerumputan yang beralaskan terpal, sambil mencoba seluruh makanan yang dijajakan disana dan membicarakan kejadian di kelas semester kemarin —kebetulan mereka duduk di kelas ganjil bersama-sama. Malam semakin larut, keenamnya beranjak kembali ke cottage. Sesampainya mereka di cottage, Raina pamit untuk beristirahat duluan.

Langit malam bertabur bintang yang kerlipnya seakan ingin melawan sinar rembulan. Air laut beriak tenang, debur ombak terdengar pelan di kejauhan, seperti memanggil-manggil mereka untuk kembali merenanginya. Tanpa pikir panjang, Aluna dan Firzi segara masuk ke kamar masing-masing untuk berganti baju renang.

“Ikut, Thar?” Firzi bertanya.

“Nggak ah, gue males mandi lagi.” Athar berjalan menuju dapur dan menyiapkan kopi,  berniat untuk duduk-duduk di beranda depan pantai.

“Sekalian bikinin untuk saya ya, Thar.” Baskara nyengir, seraya menepuk pundak Athar.

“Buat Hana sekalian nggak?” Athar bertanya ke Baskara karena melihat Hana sudah berjalan memasuki kamar perempuan.

“Nggak. Dia nggak minum kopi.”

Hana yang mendengar percakapan itu, tersenyum. “He does know me too well…

Baskara dan Hana berjalan menyusuri bibir pantai, bergandengan tangan. Kaki mereka basah terkena air laut yang terkadang menggapai jari-jari kaki keduanya.

“Bintangnya banyak banget ya, Bas. I like it when their lights shining down on the sea, making it sparkling, as if there were diamonds. Kamu tahu nggak?”

“Mm hm?”

The stars and the sea, they both are my favourites.

Baskara tidak menjawab pernyataan Hana. Jemarinya memainkan jemari tangan Hana, menelusurinya hingga ke siku dan pundaknya. Kemudian ia menoleh menatap Hana, mendekatkan kepalanya. Jarak mereka belum pernah sedekat itu.

You are my favourite,” bisiknya pelan, lalu bibirnya menyentuh bibir Hana lembut.

To his surprise, Hana menangis. Gadisnya itu terpaku, tidak membalas ciumannya, namun tidak melepasnya pergi. Kebingungan, akhirnya Baskara merengkuh Hana, membenamkan kepalanya di sela-sela rambut Hana yang terurai. Degup jantung keduanya beradu dengan cepat.

“Hana… maaf,” hanya kata maaf yang mampu ia ucapkan, karena hanya satu hal yang tidak pernah Baskara inginkan, yaitu melihat gadisnya menangis di hadapannya, dan terlebih lagi, karena dirinya.

“Gilaa kemana aja, Bas, baru balik jam segini?”

“Pertanyaannya bukan kemana, Thar, tapi ngapain aja? Gue yakin nih anak berdua abis ngapa-ngapain.” Firzi menanggapi pertanyaan Athar bahkan sebelum Baskara sempat menjawabnya.

Baskara menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu, pertanda ia salah tingkah.

“Wah iya! Gimana-gimana? Berhasil nggak, Bas? Kesampean nggak lo, cium si Hana?” Tanya Athar bersemangat.

“Iya…”

Kedua temannya bersorak-sorai.

“Jadi gimana, Bas, rasanya ciuman?”

“Basah.” Jawab Baskara singkat.

Keduanya semakin terdengar bahagia, sampai menepuk-nepuk punggung Baskara, yang lebih terlihat seperti memukul.

“Tapi kok saya nggak berasa seneng ya?” Baskara berkata, tetapi tidak dihiraukan oleh Athar dan Firzi.

“Salut gue, Bas! Baru pertama kali udah main yang basah-basah aja lo!” Firzi berkata di sela gelak tawanya.

“Ng… Saya bingung, memangnya perempuan kalau dicium itu malah nangis?” Kata Baskara akhirnya, setelah kedua temannya itu berhasil mengendalikan excitement mereka.

“Hah?” Kali itu senyum keduanya hilang dan menatap Baskara heran.

Setelah Baskara menceritakan apa yang terjadi di pinggir pantai tadi antara dia dan Hana, firasatnya terbukti. Sepertinya apa yang ia alami tadi bukanlah suatu hal yang wajar, dan dirinya semakin was-was setelah mencurahkan isi hatinya ke Athar dan Firzi.

Malam itu adalah malam terakhir mereka di Pulau Karimunjawa. Keenamnya terlihat mengitari api unggun, menyantap makan malam seafood yang serba dipanggang di perapian. Setelahnya, mereka menikmati indahnya laut dan langit malam. Suara ombak berlari-lari di kejauhan. Baskara memainkan gitarnya sambil melantunkan lagu Yellow dari Coldplay.

Look at the stars, Look how they shine for you,
And everything you do, Yeah, they were all yellow.

I came along, I wrote a song for you,
And all the things you do, And it was called "Yellow".

So then I took my turn,
Oh what a thing to have done, And it was all yellow.

Your skin, Oh yeah your skin and bones,
Turn into something beautiful,
Do you know, You know I love you so, You know I love you so.

Hana berbaring di atas kain pantai yang dijadikan alas olehnya. Pandangan matanya menyapu kerlipnya bintang di atas sana. Terkadang ia bergumam pelan, menikmati lagu yang dibawakan Baskara. His voice always can soothe her, caressing her soul.

Lalu ia menyentuh pelan bibirnya, jantungnya terasa terhenti sejenak. Kurang dari 24 jam lalu, Baskara menciumnya. Entah apa yang Hana rasakan, hatinya berkecamuk. Semalaman ia tak bisa tidur, menangis dalam diam. Entah untuk apa air mata itu jatuh perlahan, namun ia pun tak kuasa untuk meredamnya.

Little did she know that tonight, as many nights before, he sings his heart out for her.

I swam across, I jumped across for you,
Oh what a thing to do. 'Cause you were all yellow,

I drew a line, I drew a line for you,
Oh what a thing to do, And it was all yellow.

Your skin, Oh yeah your skin and bones,
Turn into Something beautiful,
Do you know, For you I'd bleed myself dry, 
For you I'd bleed myself dry.

It's true, Look how they shine for you,

Look at the stars, Look how they shine for you,
And all the things that you do.

Setelah semua dibereskan, mereka bersiap-siap kembali ke cottage untuk packing, karena besok adalah hari terakhir mereka berada di Pulau Karimunjawa.

Baskara meraih tangan Hana, “Aku ingin bicara.”

Pertama kalinya dalam hari itu, Hana menatap matanya. Sudah seharian sikap Hana kepada Baskara seperti acuh tak acuh. Baskara mengamati kedua bola mata Hana, dan benar, ia merasa ada yang hilang dari sana. Tekadnya bulat sudah.

“Aku pikir ini karena sikapku kemarin malam. Tapi mungkin bukan.” Baskara menghela napas, lalu melanjutkan, “Sepertinya ini lebih dari itu, Hana.”

Hana tetap terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Sepertinya ia pun tahu pembicaraan itu mengarah kemana.

“Ada yang bilang, too much love will kill you. Tapi menurutku nggak gitu. Cinta tidak serendah itu. If too much love hurts you, you love the wrong person.”

Tidak mudah bagi Baskara untuk mengatakan hal itu ke Hana. Tidak mudah bagi Baskara untuk menuduh Hana adalah orang yang salah baginya.

“Jujur, Han, aku nggak pernah merasa sebahagia ini, seperti aku lagi sama kamu. Tapi di sisi lain, aku pun nggak pernah merasa sehancur ini. Bareng sama kamu… bikin aku senang, tapi juga bikin aku sedih. Aku sedih karena sampai detik ini pun, kamu nggak bisa sepenuhnya memandang aku. Seperti… seperti ada sosok lain yang kamu harapkan, dan itu bukan aku. Bersamaku mungkin bikin kamu merasa lebih baik, tapi aku lama-lama sadar kamu bukan Hana yang dulu, yang ceria, yang bahkan bisa bikin orang senang cuma karena kehadiran kamu. Kamu inget?”

“Apa?” Hanya sepenggal kata itu yang mampu Hana ucapkan, pikirannya tak sanggup menerima curahan hati Baskara selama ini. He has been so nice to her yet she is acting like a fool.

“Bagiku, sinarmu mengimbangi mentari…” Baskara menyebutkan sepenggal lirik favoritnya di lagu buatannya untuk Hana, yang sebenarnya merupakan lirik favorit Hana juga.

“Tapi sekarang nggak gitu, Han,” lanjutnya lagi, “Mungkin hanya Bara yang bisa memberikan itu buatmu.”

There. He said it.

“Bas? Kok Bara? Ng… nggak gitu…” Hana terbata-bata. “Aku nggak tahu apa yang aku rasain dari semalam, tapi bukan Bara. Bukan karena dia, Bas…  Maafin aku bikin kamu bingung, aku pun bingung sama sikapku sendiri. Aku, aku cuma lagi kepikiran banyak hal aja saat ini…”

“Hana, aku kenal kamu lebih dari kamu kenal dirimu sendiri.” Akhirnya Baskara menyunggingkan senyumnya. “Dan aku rasa, masih ada hal yang belum selesai di antara kalian.”

Baskara memeluk Hana, erat, as if he was saying goodbye. And he was. Ia berkata pelan di daun telinganya,

“Menurutku kamu harus bicara dengan Bara,” suaranya tercekat, “Tapi untuk kali ini, sepertinya aku nggak perlu menunggu kamu lagi…”

Berat bagi Baskara untuk melepas Hana pergi. Sudah 7 bulan belakangan mereka bersama, dan tidak ada hal yang membuat Baskara bahagia seperti di saat ia melihat gadis kesayangannya tersenyum, apalagi tertawa.

As for him in these past months, the most beautiful thing in life is to see her smile, and to know that he is the reason behind that smile. He just knew that the most painful thing is to see her cry, yet he has no power to make it go away.

“Aku minta maaf, Hana.”


Bandung, Desember 2011

Baskara dan Hana melambaikan tangan kepada keempat temannya. Athar akan mengantar Raina ke kosannya di Cisitu Baru. Sementara Aluna sudah dijemput oleh kakaknya di stasiun. Firzi pulang ke rumahnya di Buah Batu. Baskara dan Hana berencana menyantap sarapan bersama di Simpang Dago, di tukang bubur kesukaan mereka, Bubur AK. Mungkin ini akan menjadi terakhir kalinya mereka makan bersama, pikir Baskara, seraya mereka turun dari angkutan umum Dago-St. Hall.

“Han, mau aku antar?” Tanya Baskara.

Setelah pembicaraan mereka semalam, Baskara terus mendesak Hana untuk segera bertemu Bara. He thought it was the right thing to do. Hana hanya terdiam, dalam hati berpikir, “Who am I, deserve to be loved by someone kind like this?”

“Kalau kamu mau, dari sini kita ke kampus dulu, ambil motor. Setelah itu aku antar kamu ke kosan Bara,” lanjut Baskara.

“Nggak usah Bas, nanti kamu bolak-balik. Aku tinggal naik angkot ke atas. Aku mau istirahat dulu, nanti malam aja deh ketemu Bara.”

“Bara udah jawab SMS kamu?”

“Nggak, Bas. Belum. Tuh, SMS aja nggak dibales, gimana mau ketemu kan? Hehehe.”

Baskara tersenyum, tahu betul Hana berusaha menyembunyikan rasa sakit dan bingung di hatinya, yang sebenarnya dirasakan oleh Baskara juga.

Keduanya memakan bubur masing-masing, mencoba untuk bersikap biasa saja, seakan tidak ada rasa patah hati yang dirasakan. Mereka berbincang, mencoba mengingat-ingat momen-momen menarik dan lucu selama liburan mereka beberapa hari lalu itu. Sampai tiba bagi mereka berpisah jalan. Baskara mengusap kepala Hana sebelum ia menaiki angkutan Riung Dago yang akan membawanya ke Dago Atas.

“Mungkin ini yang akan bikin aku kangen kamu nantinya, Han…”

“Hmm?” Hana melontarkan pandangan tanya ke Baskara.

“Mengusap kepalamu.”

Hana salah tingkah dibuatnya, ia melambaikan tangan pada Baskara, seulas senyum menghiasi bibirnya. Biar bagaimanapun, ia bersyukur bisa dipertemukan dengan Baskara.

Actually, he let her go to see if she would hold on to him.

Baskara melepasnya pergi, berdiri seraya memandangi gadisnya hilang dari pandang matanya. Hatinya mencelos. Rasanya, tiap detak jantungnya membuat napasnya begitu berat.

Even so he believed that she would not.

Baskara akhirnya tersenyum, mencoba untuk ikhlas. “Cinta memang butuh pengorbanan,” pikirnya.

Pertengkaran Pertama

Jakarta, November 1988

Saat Fadli berulang tahun yang ke-27, Gamelia memberanikan diri untuk memberikan surprise ke kontrakannya. Biasanya, mereka merayakan ulang tahun dengan makan di luar, berdua ataupun bersama teman dan keluarga. Sudah beberapa bulan belakangan Gamelia belajar membuat kue sendiri, sekaligus belajar bagaimana cara menghias kue.

Sore itu di hari Sabtu, ia membuka pintu depan kontrakan Fadli dan Tony. Tony meminjamkan kunci cadangan kepadanya kemarin malam. Sehabis mengerlingkan matanya ke kaca depan, Gamelia tersenyum puas akan penampilannya. Di hari spesial itu, ia mengenakan dress merah selutut dengan aksen sabrina, dilengkapi dengan kalung-kalung batu dan manik-manik dengan warna-warna cerah. Rambutnya dibiarkan terurai, seperti yang Fadli selalu suka. Setelah mencopot clogs hitamnya dari kedua kakinya, Gamelia memasuki ruang tamu. Ia mengecek jam tangannya,

“Seharusnya Kak Fadli kembali sebentar lagi.”

Ia sudah hafal betul jadwal Fadli sehari-hari. Biasanya, Fadli menghabiskan Sabtu sore untuk bermain golf bersama Pak Iskandar di Senayan.

Mata Gamelia dengan cepat menyapu ruangan, mendapati tumpukan kado dan parsel di lantai di dekat meja kecil tempat Fadli biasanya menaruh kunci mobil, motor, dan surat-surat. Sebagian besar kado diberikan oleh keluarga dan teman-temannya, yang mayoritas sudah dikenal oleh Gamelia. Iya, setelah lima tahun bersama, Fadli dan Gamelia saling mengenal keluarga dan teman-teman masing-masing.

Ia melihat beberapa kado yang telah dibuka di meja tamu, salah satunya album New Kids On The Block, band asal Amerika Serikat yang juga ia suka. Terdapat pula film favorit Fadli, Catatan Si Boy. Gamelia tersenyum, mengingat setahun lalu, mereka menonton film itu berdua. Tahun ini sekuel dari film itu telah rilis, namun karena mereka sama-sama sibuk bekerja, sulit bagi Fadli dan Gamelia untuk meluangkan waktu dan menonton film di bioskop bersama. Gamelia berkata ke diri sendiri,

“Minggu depan aku harus nonton bareng.”

Lalu Gamelia menangkap satu nama yang familiar, dari Melati. Ia memberikan parsel berisi barang-barang mewah dengan warna senada. Memiliki pacar seperti Fadli dan sahabat seperti Vanny, membuat Gamelia paham akan barang-barang dari brand ternama. Gamelia memandangi jam tangan Patek Philippe Calatrava 3919, pulpen Montblanc yang digrafir dengan inisial nama Fadli, dan sapu tangan Ermenegildo Zegna, yang beberapa tahun belakangan memang sedang marak, karena di tahun 1970-1980an brand itu sedang melebarkan sayapnya secara internasional. Gamelia melihat sapu tangan itu juga dibordir dengan inisial nama Fadli.

“Siapa dia?”

Pertanyaan itu tidak terjawab sejak lima tahun silam. Kali ini Gamelia naik pitam. Awalnya ia merasa malu, sebagai pacar, Gamelia hanya mampu membelikan sepatu kulit keluaran lokal untuk Fadli bekerja.

Setelah berhasil lulus di tahun 1985, Fadli akhirnya diterima bekerja kantoran di sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang asuransi. Walaupun masih mengontrak, Fadli sedang menabung untuk membangun rumah sendiri di kawasan Bekasi. Sementara Gamelia berhasil lulus cepat setelah 3.5 tahun studi di FE. Sudah setahun lebih Gamelia bekerja sebagai auditor di salah satu kantor akuntan publik yang termasuk 8 besar di dunia.

Tak lama, terdengar suara pintu garasi dibuka dan mobil Fadli yang sudah dipakai selama dua tahun, Mazda Savanna RX-7 berwarna silver, memasuki garasi. Gamelia melihat sosoknya mendekati ruang tamu yang terlihat lewat pintu yang terbuka lebar. Fadli memakai sweater berwarna putih berpola geometris, celana jeans yang sudah belel, dan sepatu kets yang juga berwarna putih. Ia tersenyum lebar mendapati Gamelia disana. Sembari menanggalkan aviator Rayban-nya dari batang hidungnya, tangannya terbentang lebar. Namun mood Gamelia sudah rusak berkat Melati dan barang-barang itu.

Gamelia marah, tetapi tetap menjaga kata-katanya yang terdengar bergetar. Ia meminta penjelasan. Namun Fadli tidak merasa bersalah. Teman, hanya teman, katanya selalu.

“Teman gak akan hadiahin barang seharga juta-jutaan ke Kakak.”

“Ya emang kenapa kalo dia mampu? Udah biasa kok.”

Dan kata-katanya hanya semakin membuat Gamelia sakit hati. Darahnya serasa naik ke kepala dan ia pening menahan emosinya. Entah berapa lama mereka berdebat. Mungkin selain amarah, Gamelia pun diliputi rasa cemburu. Kata-kata Vanny tentang Fadli kembali terngiang di telinganya, Casanova. Setelah lima tahun kebersamaan mereka, image Fadli yang satu itu tidak lah sirna. Kali itu Gamelia merasa cukup sudah, lama sekali ia memendam perasaan insecure mengenai hal itu. Vanny benar tentang Fadli, he is not the man she can handle. Dan lima tahun lalu, sahabatnya memang sudah memperingatkannya.

“Aku nggak suka, kalau Kakak bilang cuma teman, buat apa dia kasih-kasih hadiah begini?”

Lagi-lagi, kata-kata itu. Semakin lama nada bicara Gamelia semakin tinggi.

“Aku kan cuma nerima. Kenapa kamu jadi marah? Seakan-akan ini salahku.”

Gamelia pun tersadar, perdebatan ini tidak akan ada habisnya. Jangankan meminta maaf, Fadli sama sekali tidak merasa bersalah, as always. Bersamanya selama 5 tahun membuat Gamelia tahu betul, ia tidak bisa mengandalkan Fadli berperan sebagai sosok yang comforting.

“Yaudah kalo gitu. Selamat ulang tahun, Kak. Itu kuenya. Minta aja Melati pasangin lilinnya.”

“Kenapa Melati?” Alih-alih sadar bahwa pacarnya itu sedang gusar, Fadli malah menanyakan hal yang tidak relevan.

“Beli Patek Philippe aja dia mampu. Kenapa gak beli tiket pesawat aja, terbang sekalian ke Jakarta.”

“Dia di London, Gam. Lagi kuliah.” Lagi-lagi, tidak relevan.

“Oh, how great.” Kata Gamelia mencemooh, “Seakan-akan aku perlu tau?” tambahnya dalam hati kecilnya.

Lalu Gamelia pun segera mengambil tasnya, meninggalkan Fadli dan keluar rumah.

“Kamu mau kemana?” Fadli kebingungan atas kelakuan Gamelia.

“Aku mau pulang, tiba-tiba pusing.” Ucapnya lirih.

Sebenarnya Gamelia berharap Fadli mengejarnya, merengkuhnya, tanpa perlu kata maaf, karena ia tahu, selain meminta-minta, Fadli terlalu gengsi untuk meminta maaf. Ia ingin Fadli membawanya kembali ke rumah itu, meniup lilin bersama-sama, dan ingin mendengar komentar Fadli akan kue buatannya.

Gamelia menghapus air matanya yang tak kunjung habis. Saat itu ia sudah berada di perempatan Johar Baru. Kepalanya menoleh ke belakang, sosok Fadli yang diharapkannya tak kunjung terlihat.

Menghela napasnya, Gamelia mencegat taksi di pinggir jalan. Sepanjang perjalanan, hadiah dari Melati dan pertengkarannya dengan Fadli terulang dengan sangat jelas. Akhirnya ia sadar, mereka tidak cocok bersama.


Jakarta, Februari 1989

Sudah tiga bulan dilalui oleh Fadli tanpa Gamelia. Gadis kesayangannya itu tidak dapat dihubungi. Beberapa kali ia ingin mampir ke rumah Gamelia, tapi ia masih enggan. Fadli tidak pernah nyaman datang ke kediamannya di Kebon Jeruk. Mungkin terlalu ramai, atau terlalu hangat, dimana keduanya tidak biasa dihadapi oleh Fadli.

Awalnya Fadli merasa baik-baik saja. Namun ini sudah bulan ketiga dan akhirnya Fadli menyadari, ia stress. Fadli merasa kehilangan sosok Gamelia dan paham bahwa ia tak bisa jauh darinya. Biar bagaimanapun, berkat Gamelia lah ia bisa menjadi dirinya yang sekarang. Mulai dari lulus kuliah hingga memiliki pekerjaan yang cukup mapan.

Suatu hari sepulang kerja, Fadli membulatkan tekad untuk ke Kebon Jeruk. Semalaman ia menunggu di luar pagar, tetapi sosok yang dinantikannya tak kunjung datang.

“Mungkin dinas, ada audit di luar kota.” Pikir Fadli.

Di hari lain, akhirnya Fadli mampir ke rumah Gamelia. Sayangnya mereka belum berjodoh, Gamelia juga sedang bertugas di luar kota.

Tanpa sepengetahuan Fadli, pada akhir tahun kemarin, Gamelia memutuskan untuk ngekos di dekat kantor. Tidak jarang ia pulang larut, bahkan lewat tengah malam, karena tuntutan pekerjaannya yang bisa dibilang memiliki workload tinggi itu.

“Nak, kamu gak mau kasih tau Fadli? Dari seminggu sekali, sekarang tiap hari Fadli mampir ke rumah.” Tanya ibunya.

“Nggak, Bu. Gamelia udah gak mau lagi sama dia.”

“Ibu bingung harus bicara apa.”

“Diemin aja.”

“Hus, gak boleh begitu. Inget kan kata Bapak? Silaturahmi itu penting.”

Gamelia hanya mengangguk ogah-ogahan. Tidak hanya sikap Fadli yang satu itu yang menjadi masalah. Untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius, butuh persetujuan keluarga. Gamelia tahu betul, sampai sekarang, mereka belum mendapatkan lampu hijau dari keluarga Iskandar.  Dalam hatinya ia tahu, dua orang yang sangatlah berbeda memang tidak mungkin ditakdirkan untuk bersama. Dan siapa lah dia, berani-beraninya melawan takdir?


Jakarta, Maret 1989

“Vanny, kenapa pas kayak gini lo malah gak ada?!” Fadli frustasi.

Selepas lulus sarjana di tahun 1987, Vanny melanjutkan studi master ke New York, Amerika Serikat. Fadli kesal, teman dekatnya tidak berfaedah di kali itu.

Setelah lama menimbang-nimbang, Fadli memutuskan untuk giat bekerja dan mulai membangun sampai rumahnya di Bekasi dapat berdiri. Fadli menata ulang hidupnya, ia ingin menjadi pribadi yang lebih baik, demi Gamelia. Fadli kembali giat berolahraga dan mendekatkan diri pada Yang Kuasa, tak lupa menyebut nama Gamelia di setiap panjatan doanya. Setelah dirasa mampu lahir batin, ia berencana akan datang kembali ke rumah Gamelia.

I will respectfully ask her father for his blessing. And I will ask for her hand in marriage.” Ujarnya mantap.