Well, this is what happens when the finals are coming and the deadline for dissertation progress is approaching: gue stres dan panik dan akhirnya malah give up dan memilih ngerjain hal lain yang jauh lebih menyenangkan alias meracau di blog karena ga bisa tidur.

Ga terasa banget, tau-tau sebentar lagi sekolah selesai. Perasaan baru kemaren resign dan diajak makan siang sekantor di Jun Njan dan bisa foto bareng Pak Dir yang sekarang udah kembali ke rumah tuhan 🙁 Dan setelah gue pikir-pikir juga, kenapa ya kok momen selama gue kerja di Pokja kemaren ga ada yang terabadikan sama sekali disini? Padahal itu salah satu momen favourite gue selama di dunia kerja. Ya gimana engga, baru seminggu masuk kerja, gue langsung disuruh ikut dinas dan setelahnya hampir setiap minggu selalu nonstop hits jet setting (ga deng, ga nyampe pake jet juga, emangnya eik Kendall Jenner) from one place to another sampai bosen sama menu sarapan hotel dan super malas packing dan unpack setelahnya—karena toh minggu depan juga paling disuruh dinas lagi.

Gini nih, stres sama sekolah, terus jadi reminiscing akan momen-momen indah di kantor. Kangen bisa curi-curi main ke pantai dan jalan-jalan sembari dinas, nitip dibeliin cemilan-cemilan sore dan jajanan enak di sekitaran Menteng, dan berantem ataupun bergosip sama Mas Afgan/Vino/Fachri Albar (slash apapun tergantung mood doi hari itu lagi kepengen dipanggil siapa) setiap hari. Bahkan ditumbalin untuk membujuk rayu Pak IF pun aku rindu—karena si Bapak suka cranky sama yang lain tapi kalau sama gue doi ga tega lihat muka gue yang melas katanya. Semoga aja nanti pas balik, bisa dapet kerjaan yang minimal ambience nya bisa bikin sehappy kemaren dan peningkatan di aspek lainnya yah…

Until then, dinikmati dulu aja sisa waktunya buat belajar dan begadang dan to witness UK weather yang labil—terutama kemarin ketika four seasons terjadi dalam satu hari. Well, you’re gonna miss it, Nad~

Dan akhir bulan ini akan terasa begitu berat. Restrukturisasi dan teman-temannya ngebuat ambience di kantor jadi terasa beda banget. By the end of the month, semua orang akan pindah ke berbagai satuan kerja, keluar kota, keluar pulau, bahkan pindah benua 🙁 yang stay pun juga akan pindah ke gedung sebelah. Sisa-sisa P1 bener-bener akan tinggal jadi kenangan…

Nggak pernah nyangka sebelumnya, kalau bisa punya ikatan emosi seperti ini sama temen-temen di kantor. Ya, gimana enggak juga sih ya? Dalam sehari 8-10 jam, 5 hari dalam seminggu berinteraksinya sama mereka terus. Nggak mungkin nggak akan kangen sih kalau pisah beneran dan apalagi kalau gue (insya Allah) leaving for good nanti. Bye bye, lantai 9 dan 10. Bye bye ac yang dinginnya super heboh dan suaranya menderu-deru kek pesawat siap lepas landas. Bye bye pantry penuh canda tawa. Bye bye jam-jam makan siang cabut keluar dan balik ke kantor mendekati jam pulang kerja. Dunia kerja dinamis banget. Terlalu banyak farewell. Too many 🙁

People say that the two hardest things are the first time we say hello and the time we say goodbye. No, I dont wanna call it a goodbye. It’s a see you later. We’ll see each other on the top of the world 🙂

IMG_3651-0Lets leave. I’m almost happy here…

One of the good time at work is a time spent in the pantry with coworkers. No need to go to fancy restaurants to eat in the overpriced meals with average taste. We only need to buy some of the dishes from the nearest Warung Nasi around the office. Sharing the laughter because of silly jokes they tell is such a way to recharge the mood to get back to work.

This holiday season will be over pretty pretty SOON.

Besok udah hari Senin dan semua akan kembali ke rutinitas lagi. Kembali bangun pagi-pagi buta. Berjuang melawan macetnya Jakarta — apalagi ini libur abis lebaran, nggak kebayang sih berapa banyak motor dan mobil yang akan kembali menerjang Jakarta dari luar kota dan luar pulau. Then I will be stuck on the same routines at the office. Pulang kantor mampir sana sini main ketemu temen buat ngehindarin macet biar sekalian aja pulang maleman nunggu macetnya redaan. Sampai rumah kemaleman kecapean. Besoknya bangun pagi lagi. Gitu aja terus sampai ketemu weekend. Oh, betapa indah dan teraturnya hidup jadi corporate slave seperti ini.

Itu tadi versi tidak tau diri dan kurang bersyukurnya karena udah keenakan libur dan leyeh-leyeh seminggu ini. Sekarang, versi bersyukurnya adalah dalam seminggu so many things happened. Banyak BANGET. Dan kalau dilihat dari sisi positifnya ternyata banyak hal yang selalu bisa disyukuri. Terlalu banyak yang rasanya nggak bisa gue sebutin satu-satu disini. Yang pasti, all the good news I’ve heard are so overwhelming 🙂

So, which of favours of your Lord would you deny, Inad? Harus semangat kembali kerja lagi! Lets embrace the last Sunday of this holiday with sleeping and eating all day~~~

A New Hello Leads to Another Goodbye

Perempuan ini, yang waktu pertama kali kenalan jutek banget kek sampe bikin keki. Yang ternyata adalah tetangga deket rumah dan jadi temen berangkat dan pulang kantor bareng. Yang hobinya bergosip dan bergunjing di kubikel gue bersama mba-mba lainnya — entah ada aura apa tapi setiap orang yang ke kubikel gue pasti nggak pernah sebentar dan langsung nyerocos panjang lebar tentang apapun. Yang setiap makan siang sedikit banget makan nasinya tapi nggak kurus-kurus haha. Kemarin baru aja resign karena mau nikah dan mesti ikut calon suaminya yang adalah dokter, dinas diluar kota.

Dan gue bakalan kangen dengan panggilan Nedi dari doi. Bakal kangen disamperin ke kubikel cuma buat googling tiket promo atau nge-stalk artis dan gosip yang lagi hits. Bakal kangen banget dirusuhin tiap menjelang jam 4 sore karena mau diajakin pulang tenggo. Bakal kangen dijokiin sama doi setiap berangkat dan pulang kantor plus dengerin segala ocehan ngelanturnya sepanjang jalan.

Ah, baru aja dapet temen baru yang klik banget, sekarang udah pisah lagi. Selamat resign Mba Vani. Semoga bahagia pernikahannya dan betah ninggalin Jakarta yah 😉

20140522-112708-41228218.jpg

 

I Miss You WP

It’s 8.17 pm and I’m still on my way home after work. Anyway, this is the beauty of taking the public transportation: I can open up this page and writing these words down. Dont give a damn of Jakarta’s traffic or dont have to think about which less-traffic-route I should take to get home, cause I’m not the one who’s driving at a time.

Well o well, ternyata udah lumayan lama juga yah sejak terakhir I wrote things in detail on this blog. Udah selama itu pun nggak buka WP web version. Udah selama itu ternyata nggak punya banyak waktu kosong buat meracau macem-macem disini and gladly, semakin hari semakin sedikit hal yang bisa gue racauin lagi. I really miss this site. I really miss posting. So let’s hope, kemampuan menulis gue nggak menguap entah kemana and this post would be worth to read.

Here I go. After a few months working at this company, today was the first day I left the office this late. You know, there’s a HUGE difference between working as a consultant at WB and as an employee at a state-owned company. I still can remember when I was working with expats on my previous job. When they say “Guys, we need to work overtime today”, that means I will leave the office at least 9 in the evening, or at 10 the latest. And here, when the boss says, “Nad, kita lembur yah hari ini, ada yang harus diselesain”, I thought I’d be going home at 9 just like the old days. Surprisingly, jam 6 lewat sekian setelah adzan maghrib, si Bapak sudah kepingin pulang. Definisi lembur yang berbeda gue rasa yah, antara bule dan orang Indonesia. Yaa, tapi tetep aja, gue emang harus menyelesaikan beberapa pekerjaan dan baru bisa pulang sekitar jam 7 tadi. And if you pay much attention, yes, sudah satu jam lebih gue di jalan and still not even close to get home…

Terkadang, waktu kayak gini juga gue syukuri sih. The kind of me time yang udah jarang banget bisa gue dapetin. Setidaknya, I’m pretty much productive lah yah, bisa nulis post ini disaat macets. Ah, I can hardly wait for tomorrow and embrace the weekend with a smile!

And hopefully this post is quite nice as a warming up of being able to write again 🙂

I’m (NOT) Working at a Bank

Setelah didera pertanyaan kapan lulus, sekarang pertanyaan udah kerja dimana pun dilontarkan oleh hampir seluruh kerabat setiap kali ketemu. Dan ketika pertanyaan ini muncul, gue selalu bingung memilih kata pertama yang harus gue ucapkan – karena pekerjaan gue ini sangat tidak common dan pasti orang akan misinterpretasi.

Ya, jadi sekarang alhamdulillah gue sudah punya pekerjaan yang alhamdulillah nya gue cintai dan so far, selain beban kerja yang kayak kuda ga ada hal lain yang gue keluhkan dengan pekerjaan ini. Gue kerja di World Bank. Dan setiap kali gue jawab itu, semua orang langsung berkomentar, “Oh, jadi orang bank dong yah sekarang!”, atau “Loh kok anak teknik kerja di bank?”, atau lagi “Melenceng dari jurusannya pas dulu kuliah dong yah?”. Sebenernya ga ada yang buruk dengan anak teknik yang kerja di bank. Ya kalo emang passion nya di bank, terus kenapa? Tapi ya masalahnya, gue ga kerja di bank yang seperti itu juga, jadi jatohnya agak risih ketika orang salah mengartikan pekerjaan gue. Dan kalopun iya, pekerjaan gue melenceng dari jurusan gue, kenapa? Toh pada dasarnya kuliah S1 itu pengetahuan yang kita dapetin masih dasar, dan kita masih bisa belajar banyak hal lagi ketika masuk dunia kerja nantinya. So here is my answer to you guys. Gue jelaskan satu per satu yah.

Pertama, iya gue kerja di World Bank, Bank Dunia. World Bank is not a bank in the ordinary sense but a unique partnership to reduce poverty and support development. So, gue tidaklah bekerja di bank kebanyakan. Kedua, posisi gue saat ini adalah lebih seperti konsultan yang kerja di salah satu proyek persampahannya World Bank. Dan yang ketiga, alhamdulillah nya lagi, kerjaan gue sama sekali tidak melenceng dari jurusan gue pas kuliah dulu. Proyek ini ngerancang sistem pengelolaan sampah terpadu skala kota, sama persis kayak TA gue dulu. Kalo dulu pas TA skalanya kampus, sekarang kerja skalanya kota.

Selama kerja ini gue dapetin banyak banget pengalaman. Entah itu, pengetahuan akademik gue bertambah tentang pengelolaan sampah. Ataupun, pelajaran hidup ketemu sama orang pemerintahan dan birokrasinya yang ribet. Betapa sektor persampahan ini segitu tricky nya dan banyak sekali aspek politiknya dari berbagai pihak yang “punya kepentingan”. Mirisnya, ahli2 persampahan internasional ini segitu concern nya to improve solid waste management system di negeri tercinta ini, sementara pihak berwenang disini malah terksesan tutup mata tutup telinga. Sedihnya lagi, ahli persampahan di Indonesia masih langka banget sekarang. The famous one adalah Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Sampah gue dulu yang sangat inspiring. Setelah kerja ini, jadi kepikiran kalo nanti dikasih kesempatan buat ngelanjutin sekolah, mungkin bidang ini bisa gue tekuni lebih dalam. Bisa ga yah nanti jadi the next Pak Enri – oh khayalanku super tingkat tinggi…

Ya intinya pekerjaan gue sekarang akan menghasilkan sistem pengelolaan sampah terpadu yang semoga bisa diterapkan sama Kota yang bersangkutan. Kalo kata temen gue, motto hidup yang cocok buat gue sekarang “sampahmu, rejekiku”. Ya, alhamdulillah… 🙂

It’s been a while since the last time I clicked this page. Too busy making life that I really miss to daydream all day long.

This work, takes everything in me. It consumes all of my energy and brain and time… Setiap hari pergi pagi pulang malem. Sampe rumah cuma kayak numpang tidur. Bisa ketemu temen-temen di sela-sela hari kerja pulang kantor itu sekarang jadi hiburan yang berarti banget. Kalo weekend, maunya tidur aja terus seharian. Buka laptop aja udah males, takut ntar enek keingetan sama kerjaan. Bahkan sampe liat sampah dan truk sampah di jalan aja udah puyeng sendiri kebayang muka pak bos yang nanyain progress laporan. Mungkin kalo period time proyekannya ga sesingkat ini, kerjaan gue ga akan kayak kuda gini kali yaa…

Yah, begitu sih emang jadi manusia. Ga ada puasnya. Kemaren jadi pengangguran, ngeluh kepengen cepet dapet kerjaan. Sekarang, dikasih kerja malah kepengen leha-leha. Bersyukur sih harusnya Nad, sama semua yang udah dikasih Allah.

Bener banget ya itu, iklan provider yang itu. Jadi orang dewasa itu menyenangkan, tapi sulit dijalanin!