Terekam Tak Pernah Mati

Kalau baca kalimat di atas, pasti yang diinget selalu The Upstairs dan pensi-pensinya anak SMA (pada jaman kejayaannya). Iya, itu dulu. Tapi sekarang, buat gue, kalimat itu langsung mengingatkan gue dengan Bandung, ITB, TL, dan Bhupalaka. Iya, Bhupalaka, nama angkatan TL 2008.

Awalnya, gue bahkan sama sekali ga tertarik untuk terlibat dengan sekumpulan orang-orang ini. Kenapa? Karena terpaksa. Terpaksa karena itu adalah tugas osjur. Gue sangat ga suka, dipaksa untuk kenal dan deket sama orang yang sama sekali asing bagi gue. Dipaksa buat peduliin orang-orang yang baru gue kenal. Siapa kalian aja pun gue gatau, ya boro-boro mau peduli kan? Pelik.

Bhupalaka. Terlalu dangkal pengetahuan gue tentang arti dari nama angkatan ini. Yang gue tau cuma lambangnya bagus. Sisi delapan yang menggambarkan angkatan 08, dan tangan yang melingkari bumi yang artinya penjaga bumi. Itupun terpaksa gue hafal karena takut ditanyain pas ojur. Sedangkal itu emang pengetahuan gue tentang arti nama angkatan. Tapi yang gue tau, rasa sayang dan peduli yang gue miliki terhadap angkatan gue saat ini, sama sekali ga dangkal.

Berawal dari Lapcin dan berakhir di hati kita masing-masing.

Masih inget, waktu kumpul angkatan perdana di Lapcin buat milih ketua angkatan. Buat bikin yel-yel dan nyanyiin lagu angkatan. Masih inget, malem-malem di CC Barat, kita latihan baris-berbaris, bikin formasi standar, bahkan sampai bikin rumus untuk formasi NIM. Rasanya baru kemarin, kita kumpul di ruang seminar lantai 5, buat ngomongin Kulap kita yang terancam gagal. Yang saat itu, H-2 minggu dan uang kita masih kurang 300 juta. Ironis rasanya, kalau sekarang, semua itu udah terlalui. Kalau sekarang, gue bisa memandangi foto-foto kita di Batam dan Singapur with a smile that follows upon my face. Kulap berhasil dan bisa surplus banyak tiada habisnya.

Dulu gue selalu bertanya-tanya, apa sih rencana Tuhan buat gue sampai gue terpaksa jadi turun satu angkatan, jadi angkatan 2008. Tapi sekarang, rasanya gue udah gamau cari tau lagi, ada alasan apa dibalik semua ini. Yang pasti, gue sangat bersyukur karena dengan gue jadi turun satu angkatan, gue bisa memiliki 3 tahun yang sangat berarti dan mungkin ga akan pernah gue lupain sampai nanti. 3 tahun berbagi cerita sama kalian, memiliki  teman-teman dengan asal dan sifat yang sangat heterogen dari berbagai pulau di Indonesia. 3 tahun yang akan selalu punya tempat tersendiri di hati dan memori gue.

Tepat sebulan lagi, kita akan melewati ulang tahun kita yang ke-3. Walaupun di saat itu kita udah ga bisa kumpul lengkap lagi semuanya, tapi semoga potongan lirik di lagu angkatan itu memang ada benarnya ya. Persahabatan kita tersimpan dalam hati, sampai nanti… See you another time, teman-teman yang udah mulai pergi meninggalkan Bandung. Akan selalu ada saatnya untuk kembali ke sini 🙂

Well, I guess this is the biggest problem for all the last year college students. Lebaran sudah di depan mata, tapi bahkan gelar sarjana masih belum di tangan. Hidup itu berat ya Tuhan!

Hello! It’s me speaking from my dorm and feeling intimidated seeing the facebook timeline. Quite scary, foto wisudaan beredar dimana-mana. Kalau begini ceritanya, gue ga akan sanggup deh buka facebok buat seminggu kedepan 🙁 Seneng sih iya pasti, ngeliat temen-temen pada lulus. Sedih juga iya, karena bakal ditinggal sama mereka yang lulus. Tapi galaunya terlebih-lebih sih ini. Ngebayangin tiga bulan ke depan. Bisa engga yah gue ngejar Oktober? Keburu ga sih ini? Gimana seminar? Gimana sidang? Kapan lulus? Kapan giliran gue? Semoga semua yang telah direncanakan bisa direalisasikan ya, Nad. Aamiin 0:)

Hari ini hari terakhir periode sidang Juli Teknik Lingkungan ITB 2012. 10 teman seangkatan gue udah resmi punya dua huruf di belakang namanya sekarang, S.T. Sarjana Teknik.

Baru hari ini juga gue nungguin mereka keluar dari pintu ruangan sidang, karena gue baru selesai sampling dan baru ada di Bandung hari Rabu kemarin. Rasanya deg-degan, harap-harap cemas, berharap ngeliat senyum bahagia di wajah mereka pas keluar dari pintu itu. Ternyata begini ya rasanya. Ngelewatin saat-saat terakhir di kampus sama temen-temen seangkatan. Haru biru menyambut sarjana-sarjana baru. Seneng ngeliat perjuangan mereka berakhir indah pada akhirnya. Kadang, hal-hal kaya gini perlu juga buat jadi lecutan supaya diri gue sendiri bisa jadi hot ngerjain TA gue dan bisa cepet selesai.

Selamat ST ya teman-teman Juli-et, akhirnya kalian bisa tidur nyenyak. Selamat menikmati selempang merah meronanya — kata Devita. Happy graduation, may the success follow your way. Amin 🙂

Cerita Mahasiswa Tingkat Akhir

Seminggu yang lalu, baru aja ada ITB Career Days di kampus. Ga terasa, cepet banget waktu berlalu. Rasanya, akhir Oktober atau November awal kemarin, Afne baru aja hectic drop CV sana sini, ikut psikotes, interview bolak-balik Jakarta-Bandung, bahkan sampe ke Cilegon, terus minggu lalu, temen-temen gue udah mulai apply kerjaan dimana-mana. Seneng, dapet berita baik kalau mereka lanjut ke tahap-tahap selanjutnya. Belum tau sih sekarang hasil finalnya gimana, tapi gue yakin pasti ga sedikit dari mereka yang akan keterima di perusahaan yang bagus.

Jadi, yang gue perhatikan, ada empat tipikal mahasiswa yang terkena efek dari si Career Days atau Job Fair macem begini — mahasiswa tingkat akhir terutama ya.

1. Mahasiswa driven

Mahasiswa jenis ini adalah mahasiswa yang udah punya gambaran ideal dan sempurna akan kelanjutan hidupnya setelah lulus kuliah nanti. Mahasiswa kaya gini biasanya sih TA nya udah hampir selesai, mau seminar, atau bahkan tinggal tunggu tanggal sidang aja. Jadi mereka dengan penuh percaya dirinya apply kesana-sini karena mereka memang merasa mereka udah siap untuk itu. Dan biasanya, setelah wisuda nanti, ga akan nganggur lama-lama dan tau-tau akan ada berita kalau mereka udah kerja di perusahaan yang bonafit.

2. Mahasiswa ‘yang penting coba’

Jenis mahasiswa yang satu ini beda lagi. Mereka ikut apply di job fair bukan karena memang sudah punya perhitungan matang untuk kariernya. Mereka punya prinsip yang penting coba. Iya, memang ga ada salahnya mencoba, karena bener, kesempatan itu ga dateng dua kali. Jadi ketika kita dikasih kesempatan, ya sebaiknya dimanfaatkan. Tipikal mahasiswa kaya gini, biasanya sih lagi pusing sama TA nya, dan pengen coba apply untuk dapet pengalaman. Kalau keterima alhamdulillah, kalau engga ya bisa dicoba lagi next time. Nothing to lose.

3. Mahasiswa panikan

Sebenernya yang paling kasian sih, mahasiswa tipikal panikan kaya gini. Mereka ini adalah kumpulan orang-orang yang lagi segitu stressnya sama TA, dan masih gatau akan lulus kapan, Oktober kah, atau April kah? Intinya pusing. Mau coba apply tapi takut karena ga bisa multitasking sebagian pikirannya lagi fokus ke TA, ga apply tapi jadi panik sendiri karena melihat orang-orang disekitarnya lagi on fire ngomongin tes, interview, dll di job fair. Alhasil, ya jadi panik. Panik. Cuma bisa panik dan yang paling parah sih jadi menyesali keadaan. Tips untuk mahasiswa jenis ini, lebih baik hindari dulu deh social media dan semacamnya karena itu adalah salah satu sumber kegalauan.

4. Mahasiswa santai

Mahasiswa ini terlalu sadar diri kalau mereka belum waktunya untuk daftar kerja macem begitu. Ya, ibaratnya boro-boro mau daftar kerja, TA aja belum jelas juntrungannya. Jadi, ya mereka dengan santainya mengikhlaskan job fair ini dan tidak berusaha daftar, atau mungkin ga dateng ke Career Days sama sekali. Mereka ini percaya kalau semua orang punya waktu dan kesempatannya masing-masing. Jadi, ya mungkin ini memang belum saatnya mikirin kerjaan. Selesaikan TA dulu. Nanti waktu untuk daftar kerja akan ada lagi porsinya. Every flower blooms in time, no need to worry.

Sebenernya ga ada yang salah dengan menjadi salah satu dari empat tipikal mahasiswa yang gue sebutin di atas itu. Semua orang punya pertimbangan dan punya rencana masing-masing dalam hidupnya. Yang penting, jangan sampe salah apply yah. Jangan coba-coba deh daftar ke perusahaan yang lo ga minati jenis pekerjaannya. Nanti pas diterima, akan dilemma banget. Di satu sisi, lo bingung karena lo ga suka pekerjaannya dan sebenernya lo daftar cuma iseng aja coba-coba, tapi lo juga gamau nolak lantaran ga berani ngambil resiko untuk nganggur lebih lama lagi. Dan di sisi lain, lo harus inget kalau lo udah mengambil kesempatan satu orang yang seharusnya bisa dapetin posisi itu. Jangan sampai kita menjadi orang yang memotong rezeki orang lain. Jadi pesan moralnya, apapun yang lo pilih, pertimbangkan baik-baik dan jangan sesali hasilnya. Follow your passion and your heart also 🙂

Good luck untuk semua teman-teman yang sedang berjuang sama tes dan interview nya, ditunggu kabar baiknya. Dan tetap semangat buat jiwa-jiwa santai yang masih berkutat dengan TA. Sukses untuk kita semua. Amin 🙂

Baru kali ini, habis uas, tapi rasanya perkuliahan ga selesai2.

Baru kali ini, habis uas, masih harus mikir dan belajar.

Baru kali ini, habis uas, gabisa ninggalin Bandung dengan perasaan tenang.

Baru kali ini, habis uas, gabisa arrange liburan.

Baru kali ini, habis uas, gabisa leha-leha dan merasa berdosa kalo sehari aja ga produktif.

Baru kali ini, habis uas, rasanya kehabisan waktu dan takut hari berganti minggu dan minggu berganti jadi bulan.

Oh, begini rasanya dikejar bayang-bayang TA 🙁

Minggu UAS terakhir. Dua mata kuliah. Berharapnya nilainya akan sempurna. Ga apalah ga bisa Juli, tapi semoga pencapaian yang satu ini bisa tercapai. Amin ya Allah :’)

Bismillah. Brace yourself, UAS is comiiiiing!

Here comes the day, ketika semua hal, entah bagaimana ceritanya bisa berujung kepada TA.

Oh, begini ya rasanya jadi mahasiswa tingkat akhir? Ya, TA lagi, TA lagi. Bangun tidur inget TA, mau mandi inget TA, mau makan juga inget TA, di kampus apalagi, bahkan sampe mau tidur yang keinget TA lagi. Ditelpon Mama, yang ditanyain TA. Smsan sama kaka, ngomongin TA. Ketemu temen-temen, yang diobrolin progress TA. Sampe pacaran pun, gue curhatin tentang TA. TA you’re soooo everywhere.

Walaupun begitu, tenang aja. Gue ga akan terlalu banyak ngoceh tentang keberjalanan TA gue di social media ko. Di twitter apalagi. Ya, paling akan meracau sendiri aja disini. Kalo pada akhirnya ada yang ngebaca, it’s your choice anyway guys, to intentionally click and read it on my blog. Not my fault lah ya. Tapi kalopun dipikir-pikir, ya seandainya gue ngetwit tiap detik tentang TA, ga akan jadi masalah juga lah ya. Once you decided to follow my tweet, you should have known every terms and conditionsnya. Ya dong, ya kan? And if the tweets are no longer interesting for you, just feel free to unfollow me. Atau boleh juga mencoba yang namanya teknologi Mute Users. Yak, it’s up to you deh ya. Betul begitu?

Okay, back to the topic. TA. Jadi, pada akhirnya tema fix gue adalah tentang sampah. Dari dulu selalu jatuh cinta setiap dosen mata kuliah Pengelolaan Sampah ngajar di kelas, dan jadi ilfeel seketika juga setiap kali asistensi tugas sampah. Gue ga pernah kebayang kalo akan jadi seserius ini, tema gue jadi sampah beneran. Ga pernah kebayang akan sampling sampah 8 hari berturut-turut. Ngebayanginnya aja udah ga tahan, apalagi ngelakuinnya. Padahal juga, dari dulu orientasi gue itu selalu ke air. Sampe mata kuliah pilihan yang gue ambil pun, yang gue rasa bisa menunjang keberjalanan TA gue ke depannya, yang berbau-bau air. Sampe gue seambisius itu dulu, magang di perusahaan air yang melayani kebutuhan air di Jakarta bagian barat. Ya, ternyata tuhan berencana lain. Alih-alih punya TA dengan tema air, gue malah terjerumus dengan persampahan ini. Untungnya gue tertarik juga, jadi ada kemauan buat pelajarinnya. Ya kalopun ga tertarik, mau gamau juga mesti dipelajarin kali, Nad! Kalo ga ya ga lulus…

Yuk mari nikmati bermain-main bersama sampah untuk beberapa bulan kedepan ya. Semoga kuat, kuat, kuat. Amin!

The Unforgettable Moment is Unforgettable :)

Back at home again.

Masih ga percaya sebenernya, because this is more than what I expected. Thank you so much for the amazing week in 2012, so far. Finally we made it, Bhupalaka. Semoga ilmu yang didapetin selama kulap bisa bermanfaat. Dan kelak saat kita yang mempunyai posisi penting untuk kemajuan lingkungan Indonesia, kita bisa bikin Indonesia lebih baik dari Singapura ya teman2. Sekali lagi makasih banyak buat Titin, Aldiza, Agni, Puteri Myra, Cipong, Resa, Pican, Imania, Caca, Yoel, Inda, Wilman, Regi, Bella, Asri dan semua bhupalaka, every one of us is important 😉 juga untuk semua donatur serta sponsorship yang udah ngebantu terlaksananya kulap ini, terima kasih banyak. Gue ga akan ngomong banyak2 disini. Let the memory remain in our hearts 🙂

“Kata orang kebersamaan angkatan dibuktikan oleh kesuksesan kuliah lapangan. Selamat Bhupalaka :)” -Aninda Dewi Hindrawati

Empat tahun lalu, nyanyi Gaudeamus Igitur di Balairung. Hari ini, teman2 yang lain dinyanyiin Gaudeamus Igitur di Balairung. Siapa yang sangka gue ga lulus dengan toga ber-badge putih itu? Tuhan selalu punya rencananya sendiri. Ya, semoga aja, tahun depan gue bisa lulus dari Sabuga. Semoga gue bisa cepet nyusul mereka. Amiiin.