Casanova

Jakarta, Desember 1983

Gamelia memasuki pintu depan, terdiam dan memperhatikan sekelilingnya. Rumah kontrakan ini terlihat sudah tua, namun terawat. Fadli meletakkan kunci di meja kecil pojokan, tepat di antara dua pintu kamar di sebelah kanan Gamelia.

“Coy ada minum gak? Haus banget nih. Sekalian sarapan deh, kepagian lo jemputnya! Gue belom sempet sarapan.” Suara Vanny semakin terdengar sayup-sayup. Temannya langsung mengarahkan langkah ke dapur di belakang.

“Gam, welcome! Maklum ya kalo berantakan, biasalah namanya juga rumah bujangan hehe. Make yourself at home, gue siap-siap dulu. Kita belajar di ruang depan aja ya, disini.” Fadli berkata seraya memasuki pintu kamar pertama.

Hari itu Fadli meminta Gamelia mengajarinya mata kuliah Statistik untuk persiapan Ujian Akhir Semester (UAS), berhubung Gamelia selalu belajar bersama Vanny, akhirnya keduanya diboyong oleh Fadli pagi itu.

“Kalo yang ini kamar Tony,” Fadli mengintip keluar, menunjuk kamar di sebelah kamarnya.

Gamelia mendapati dirinya berjalan mengelilingi rumah itu. Cukup besar, bahkan hampir sebesar rumahnya di Kebon Jeruk, yang diisi oleh 9 orang saudara beserta kedua orang tuanya. Ruang tamu kontrakan Fadli diisi tiga sofa jati dan meja oval. Kemudian di belakang sofa jati yang terjauh dari dirinya berdiri, terbentang karpet dengan banyak bantal di atasnya. Di depan karpet ada meja pendek yang di atasnya terdapat televisi. Di samping televisi ada radio yang cukup besar.

Gamelia berjalan ke arah kabinet kaca di ujung ruangan, yang berisi foto-foto dan pajangan. Ia mendekati kabinet itu, kebanyakan foto keluarga, tak kuasa ia mengulas senyumnya, melihat potret Fadli sedari kecil hingga dewasa. Banyak foto yang berlatar belakang asing dan pajangan-pajangan yang berasal dari luar negeri.

“San Fransisco, Sydney, Amsterdam…” Ia membaca satu-satu, kemudian berpikir, “Pantas saja Fadli fasih berbahasa inggris.”

Mungkin itu satu-satunya hal yang tidak dikuasai Gamelia. Terkadang ia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Fadli dan Vanny kalau mereka mengeluarkan frasa-frasa bahasa inggrisnya. Sepatah dua patah kata Gamelia bisa berbahasa inggris. Tetapi Gamelia gengsi, ia malu untuk menyatakan bahwa sebenarnya ia tidak mengerti seutuhnya apa yang mereka katakan.

“Aku harus belajar,” katanya mantap.

Gamelia melayangkan pandangnya ke garasi, melihat mobil yang tadi dipakai Fadli untuk menjemputnya dan Vanny, Land Rover Defender 1983. Kemudian pandangannya menangkap sepeda motor Fadli yang berwarna merah, yang saban hari dipakai Fadli untuk memboncengnya, Yamaha RX King 1983. Iya, setelah kencan pertamanya dengan Fadli, Fadli rajin mengantar-jemput Gamelia.

“Orang tua Fadli kerja apa? Dua-duanya keluaran terbaru,” pikirnya. Ada rasa tak nyaman baginya, berteman dekat dengan orang dari kalangan atas seperti Fadli dan Vanny.

“Van, have you done eating?” Tiba-tiba suara Fadli terdengar, memanggil Vanny yang ada di ruang makan, mengagetkan Gamelia.

“Kok ganti baju, Kak?” Gamelia menyadari Fadli telah berganti pakaian, rambut ikalnya basah.

“Iya, habis mandi. Tadi pagi telat bangun jadinya buru-buru jemput kamu, belom mandi hehehe…” kemudian Fadli kembali berteriak, “Van, kita udah siap ya, di depan!”

Tony keluar kamarnya kira-kira pukul 12 siang. Ia bertanya apakah yang lain ingin makan siang, sambil mengulat. Bagi Tony, tidak ada kata belajar di akhir pekan. Ia ogah ketika Fadli mengajaknya belajar bersama Gamelia dan Vanny, padahal Tony pun mengulang mata kuliah yang sama.

Akhirnya mereka rehat sebentar. Tony dan Fadli beranjak pergi ke perempatan Johar Baru, mencari makan siang.

Lagi-lagi, Gamelia mendapati dirinya mengelilingi rumah itu. Di meja kecil tempat Fadli menaruh kunci motor dan mobilnya, ada tumpukan koran, majalah, dan surat. Ia mengambil salah satu surat yang dirasa mencolok. Warnanya merah muda, entah itu khayalnya, tapi Gamelia bisa merasakan ada aroma stroberi dari surat itu. “Dari Melati. Kalimantan Selatan.”

Gamelia melihat salah satu surat ada yang terbuka, amplopnya sudah disobek. Penasaran, ia mengintip isinya, dan foto seorang gadis terjatuh. “Fadila, 1983.” begitu bunyi tulisan di pojok kanan bawah foto itu.

Tangan Gamelia bergetar, jantungnya berdegup kencang seraya ia mengembalikan surat-surat tersebut pada tempatnya. Firasatnya tidak baik, siapa gadis-gadis ini?

Makan siangnya hari itu tidak berasa apa-apa. Lidah Gamelia kelu. Hatinya pilu.

“Gamelia, kamu kenapa?” Fadli bertanya, ia menaruh telapak tangannya ke dahi Gamelia, “Sakit?”

“Ng… Nggak.” Jawabnya pelan.

“Mau pulang aja? Kamu pucat, aku khawatir.” Fadli terlihat risau.

Gamelia hanya mengangguk pelan. Seketika Fadli mengantar Gamelia dan Vanny pulang.

Sesampainya di kosan Gamelia, Vanny besikukuh ingin menemani Gamelia. Ia tahu ada yang tak beres dengan temannya itu.

“Van, lo kenal orang tua Kak Fadli?” Gamelia bertanya.

“Tau, tapi gak kenal deket. Pertama kali ya ke kontrakan Fadli? Lo liat apa sih kayak kesetanan gitu? Jujur deh sama gue.”

“Banyak hal yang bikin gue bertanya-tanya.”

“Kenapa gak lo tanya aja ke dia?” Yang kemudian dijawab dengan gelengan kepala oleh Gamelia.

“Ya udah, kalo lo gak nyaman buat tanya sama Fadli, tanyain aja hal-hal yang lo mau tau ke gue, gue akan jawab sebisanya,” lanjut Vanny. “Tapi lo harus janji, pada akhirnya lo akan tanya semua ini ke Fadli, dan lo seakan gak tau apa pun dari gue!”

Gamelia mengangguk cepat. “Iya gue janji. Gue sekarang cuma penasaran, apa dia orang yang tepat untuk deket sama gue. Jujur, Van, baru kali ini gue kenal sama orang kayak Kak Fadli, kayak lo…” Kemudian ia terdiam.

“Oke, orang tua Fadli ya. Nama bokapnya Iskandar dan jujur gue gak tau nama nyokapnya siapa. Yang gue tau, Fadli manggil bonyoknya Abah dan Ibu.”

Vanny melanjutkan ceritanya. “Dia asli Padang. Papa dan Pak Is itu mitra bisnis. Papa jadi dosen awalnya kerjaan sampingan, lama-lama Papa jadi full-time di dunia akademis, banyak bisnisnya yang di-handle sama Pak Is dan orang-orangnya. Makanya gue kenal sama Fadli.”

Vanny dan Fadli kenal sedari kecil. Pertama kalinya bertemu pada pertemuan antar pebisnis di Ibukota, Vanny masih duduk di bangku sekolah dasar, sementara Fadli sudah beranjak remaja. Setelah itu, keluarga Vanny dan Fadli saling mengunjungi satu sama lain. Terkadang mereka bertemu, kadang tidak. Tetapi dari tiga bersaudara, Vanny merasa paling dekat dengan Fadli. Fadli memiliki seorang adik perempuan, Julianti, yang terpaut satu tahun di bawah Vanny. Adik bungsunya bernama Irfan, sekarang masih sekolah, tapi Vanny lupa berapa umur Irfan. Yang jelas, Vanny ingat parasnya rupawan.

“Dengan tampang kayak gitu, he definitely will grow up into a heart-breaker…” Vanny mulai menerawang.

“Dan kalo lo ngerasa Fadli lifestyle-nya mewah, lo gak bakal mau ketemu sama yang namanya Anty.” Vanny berkata sambil menggelengkan kepalanya.

Anty, begitu nama kecil Julianti anak tengah dari tiga bersaudara keluarga Iskandar, sekarang kelas tiga SMA. Gadis itu mengurungkan niatnya untuk berkuliah di universitas dalam negeri. Ia ingin melanjutkan pendidikan tinggi di bidang fashion. Pasalnya, di Indonesia belum ada institusi yang cukup kondang untuk bidang ini. Sementara Pak Is dan istrinya selalu memikirkan prestige. Anty bersikukuh ingin menjadi fashion designer dan ingin pergi ke ESMOD, institut privat yang ada di Paris, Perancis. Namun kedua orang tuanya lagi-lagi tidak setuju. Sebenarnya bukan karena masalah finansial, tetapi mereka tidak rela untuk melepas anak perempuan satu-satunya ke benua lain.

Sebenarnya, Anty memiliki visi besar terhadap bisnis keluarganya. Secara turun-temurun, keluarga Iskandar memiliki usaha garmen yang cukup besar di Sumatera Barat. Mulai dari berjualan kain, sampai kini dapat memproduksi sendiri. Berkat Pak Is dan istrinya, usaha keluarganya merambah ke ibukota. Anty tahu, dalam hitungan dekade, industri fashion di Indonesia akan merebak. Ia sudah mengajukan dua proposal ke kedua orang tuanya. Yang pertama, untuk menambah jaringan usaha keluarga mereka ke Pulau Jawa. Banyak industri kecil di Jawa Barat dan Jawa Tengah yang bisa digandeng oleh perusahaan mereka dalam memasok kain-kain batik yang otentik. Yang kedua, Anty ingin melebarkan sayap perusahaan ke bidang fashion dengan merancang baju-baju sendiri. Hal ini didorong dari hobi ibunya, yaitu menjahit. Sedari kecil, Anty sudah memakai baju hasil jahitan ibunya. Akhirnya Anty pun belajar menjahit dan jatuh cinta pada proses itu. Sampai sekarang, banyak busana Anty yang merupakan karya ibunya maupun dirinya.

Kembali lagi ke niat awal Anty, tanpa pendidikan, rasanya ia kurang percaya diri untuk bergelut di bidang fashion. Kini kondisi keluarga Iskandar sedang perang dingin, dan Fadli tidak ikut ambil pusing.

“Terserah ajalah, gue males ikut-ikutan berantem anak remaja!” Fadli berkata ketus saat menceritakan itu ke Vanny, beberapa minggu lalu.

Lain halnya dengan Fadli. Fadli tidak ada rencana apapun untuk terjun ke dalam bisnis keluarganya. Bahkan, dari SMA ia sudah meminta pisah rumah, mengontrak dengan biaya sendiri.

“Van, gue kira kontrakan dia dibiayain orang tuanya…” Gamelia tidak percaya.

No, of course not. One thing you gotta know for sure, Fadli terlalu gengsi untuk minta-minta.” Kemudian Vanny melanjutkan ceritanya.

Pada awalnya, tentu saja Pak Is dan ibunya tak setuju. Tapi Fadli yang terlahir dengan sifat keras kepalanya, tetap tidak mau tinggal di rumah. Lalu saat umurnya beranjak ketujuh belas tahun, kedua orang tuanya mengiyakan keinginan anak sulungnya, dengan catatan, ibu yang akan memilih kontrakannya. Kontrakan Fadli terletak di Johar Baru, terletak di jalan kecil. Ibu memilihnya karena dekat dengan rumah keluarga mereka di Cikini, Jakarta Pusat. Kontrakan Fadli tidak besar, hanya ada dua kamar tidur, yang satu ditempati oleh Tony, sahabatnya. Ruang tamu, ruang keluarga, dan ruang makan bergabung jadi satu, hanya dibatasi oleh sekat dan lemari kayu. Dapur dan tempat cuci serta jemur pakaian ada di bagian belakang. Menurut ibunya, rumah itu masih kurang pantas, tetapi jika ibunya pilih rumah yang lebih baru dan mewah, Fadli akan kesusahan dalam membayar biaya kontrakan, ditambah dengan biaya kuliahnya. Iya, bahkan Fadli mampu membiayai kuliahnya sendiri.

“Dia kerja apa sih, Van?” Gamelia keheranan.

“Lo gak bakal mau tau deh. Dari SMA dia udah kerja serabutan, dari tukang angkut, tukang kayu, sampe tukang pukul.”

Gamelia hanya bengong, tak percaya.

“Ya lumayan sih hasilnya. Itu motornya lo pikir dari bokap? Gila kali mana mungkin Pak Is ngasih Fadli RX King! Pak Is koleksinya tuh Harley, Gam. Dia gak suka banget Yamaha… hahahaha.” Kata Vanny, tertawa.

“Mobil?”

“Nah kalo mobil dari bonyoknya. Jarang juga dia pake sih, paling kalo keluar kota, naik gunung.”

Cerita Vanny hanya membuat Gamelia semakin kagum pada sosok Fadli.

“Yah… Gue inget pernah bilang dia bego, Gam. The thing is, it is just academically. Lo inget konsepnya yang 25% dan 75%?”

Gamelia mengangguk. Mana mungkin ia lupa.

He excels at that 75%,” ujar Vanny mantap.

“Sebenernya bukannya gue gak rela kalo pada akhirnya lo bakal sama dia, tapi gak tau kenapa, I don’t think he is the man you can handle, Gam…” Lalu Vanny melanjutkan kata-katanya.

“Lo tau gak kalo Fadli terkenal semenjak sekolah dulu? Bahkan dia punya julukan,” lanjutnya setengah berbisik, yang membuat Gamelia kembali murung, teringat surat-surat yang ia temui di meja itu.

Casanova.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *