Bandung Malam Itu

Bintaro, Mei 2012

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Aku terduduk diam di ruang tunggu travel, melirik ke jam tanganku yang saat ini menunjukkan pukul 19:45. Sekitar lima belas menit lagi, travel akan berangkat dari Bintaro dan akan tiba di Bandung kira-kira pukul 22:30, itu pun kalau jalanan tidak macet.

“Arya lagi sakit pula, pulang sama siapa ya nanti dari travel?” Aku bertanya-tanya dalam hati sambil memutar otak, siapakah gerangan yang bisa menyelamatkan aku malam ini dari kemungkinan pulang sendirian.

Arya, pacarku itu memang sulit untuk diandalkan pada saat-saat seperti ini. Belakangan ini aku merasa ada yang berbeda dengan sikapnya. Namun malam ini, aku lebih memilih untuk tidak meributkan hal yang sepele seperti asumsi-asumsi di kepalaku ini, terlebih lagi dia memang sedang sakit. Aku harus bisa memahaminya, being a good girlfriend that I have always been.

Kemudian aku tersenyum tiba-tiba, “Bagas pasti bisa deh jemput gue di travel.”

Aku langsung merogoh ponsel dari kantong skinny jeans-ku dan mengetik pesan teks untuk Bagas.

Gaaas, lo free ga malem ini?
Oi, Na. Kenapa?

Aku mendapati pesan balasan dari Bagas secepat kilat.

Mau minta tolong. Travel gue malem banget nih sampe Bandung.
Nggak berani balik sendiri ke kosan. Tapi kalo lo ga bisa, yaudah gpp
ntar gue cari taksi aja. Hehe...

Aku mengetik balasanku untuknya. Aku terlalu mengenal Bagas untuk mengetahui bahwa dia paling tidak bisa berkata ‘tidak’ ke aku. Dan yak, benar saja, psikologi terbalik yang aku lancarkan pun berhasil. He took the bait.

Kalo bisa naksi dari awal, ngapain nanya gue? Kan jadinya gue tau
lo pulang malem. Yaudah, tapi nunggu agak lama nggak apa-apa
ya? Pasti gue jemput kok. Kabarin nanti kalo udah deket.

Aku tersenyum dan menghembuskan napas lega saat membaca balasan dari Bagas di layar ponselku. Cukup lega, tahu kalau aku tidak akan pulang sendirian malam ini. Aku kirim pesan balasan untuknya sebelum aku menyimpan kembali ponselku di saku celana.

Siap!

Bandung, Mei 2012

Beruntungnya, perjalanan malam ini cukup lancar dan travel tiba di Bandung pun sesuai dengan jadwal. Saat travel memasuki gerbang Tol Pasteur, aku memberitahu Bagas agar dia bisa bersiap-siap untuk menjemputku.

10 menit berlalu, dan aku masih duduk di ruang tunggu travel menanti Bagas datang.

15 menit berlalu, Bagas masih belum juga sampai.

30 menit berlalu. Aku mulai membatin dalam hatiku, “Bagas pasti dateng kok. He never fails me, right?”

Tepat saat itu juga, aku bisa melihat motor Bagas memasuki pelataran parkir pool travel. Aku langsung beranjak dari dudukku dan bergegas menghampirinya.

708617937593806060516

“Hai, Princess! Maaf banget ya, lama…” Gue menyapa Airina saat dia menghampiri gue di parkiran pool travel.

“Iya, nggak apa-apa.” Jawab Airina sambil memberikan senyum yang dia paksakan.

Dari raut wajahnya, gue tahu she’s not in the good mood. Mungkin karena menunggu gue yang terlalu lama menjemputnya di travel. Namun gue rasa, ada hal lain yang bikin dia jadi sebete atau sesedih ini, entah itu apa gue nggak tahu.

“Lo darimana sih, Gas? Lo sibuk ya sebenernya? Kenapa sih bukan bilang nggak bisa aja? Kan tau gitu gue nggak ngerepotin lo, pulang sendiri aja.” Airina menyerocos tiada henti di hadapan gue.

Dan seperti biasa, gue hanya bisa tersenyum mendapati dia mengomel seperti ini.

“Justru karena gue tau, kalau gue bilang gue lagi sibuk, lo pasti nggak akan mau gue jemput.”

Gue terlalu mengenal Airina untuk mengetahui bahwa jika dia sudah kirim chat sampai huruf vokalnya ada 3 seperti tadi, itu artinya emergency. Gue nggak punya pilihan lain, selain membalas pesan teksnya secepat kilat. Dan disinilah gue sekarang, mendapati teman tapi ngarep yang sangat gue khawatirkan ini mengomel karena gue sudah bela-belain untuk jemput dia di tengah hal penting lainnya yang sedang gue kerjakan.

“Tuh, kan! Emang lo lagi ngapain sih tadi? Gue udah curiga deh. Dari kosan lo kesini kan tinggal ngesot doang…”

“Udah udah, naek dulu. Ntar di jalan gue ceritain.” Gue memberikan helm ke tangan Airina yang kemudian segera dia pakai.

Setelah gue tancap gas, gue pun memulai pembicaraan. “Janji ya jangan kaget, jangan marah kalau gue kasih tau, ya?”

“Like I have a choice?!” Airina menjawab, nada suaranya masih terdengar sedikit kesal.

“Gue lagi bimbingan tadi, di rumah dosen gue.” Iya, bulan-bulan ini adalah masa-masa kritis, kami sebagai mahasiswa tingkat akhir sibuk mengejar deadline Tugas Akhir (TA) agar bisa lulus tepat waktu.

“What?!” Jawab Airina tidak percaya.

“Iya, beneran. Makanya lama jemputnya, soalnya rumah dosen gue di Lembang,” gue menambahkan sambil tertawa kecil.

“Whaaat?” Jawab Airina sungguh tidak percaya, setengah berteriak menyaingi bisingnya suara angin Bandung malam ini.

“Kenapa sih, lo nggak bilang? Sebel deh gue. Kan gue jadi nggak enak ganggu lo gini.” Airina menepuk helm gue dari belakang.

“Ya menurut lo, gue tega ngebiarin lo pulang jam segini? Sendirian? Naik taksi? Kecuali gue nggak tau dari awal… Lagian kemana sih cowok lo? Nggak bisa apa jemput ceweknya?” Gue menolehkan sedikit kepala gue ke belakang agar bisa melihat raut wajahnya.

“Udah deh, nggak usah bahas Arya. Dia lagi sakit katanya, jadi nggak bisa jemput gue. Sorry ya, malah jadi lo yang repot deh…”

Raut wajah itu muncul lagi. Oh, jadi Arya rupanya yang bikin dia jadi sedih seperti ini.

“Nggak apa-apa juga kok, Na. Sekalian gue refreshing, suntuk juga seharian ngerjain TA. Tapi, bilangin lah sama Arya, kalo bisanya cuma sia-siain lo kaya gini, mending putus aja lah. Mending lo sama gue aja lah. Jelas, dijagain.”

Airina sedikit mencubit punggung gue dari belakang. “Jangan ngomong gitu dong, Gas… Dia sakit. Yaudahlah,” jawab Airina pasrah.

Gue merasakan Airina menyandarkan kepalanya di punggung gue dan setengah berbisik dia berkata, “I don’t know what I’d do without you, Gas.”

Gue tidak menjawabnya lagi. Sampai kapan sih, Airina akan clueless seperti ini terus? Nggak sadar akan rasa sayang dan perhatian gue yang begitu besar untuk dia? Yang selama ini setengah mati gue simpan dalam-dalam. Belakangan, rasa sayang itu berontak, dan beberapa kali gue teasing mengenai hal ini ke Airina. Apalagi di saat kelakuan pacarnya, Arya, tidak dapat diandalkan. Dan itu kerap terjadi. Seperti pada malam ini.

“Gas, gue traktir yuk, sekalian temenin gue makan. Mau nggak?” Airina memecah kesunyian dan membuyarkan gue dari lamunan.

“Eh?” Jawab gue heran. “Udah jam segini lo masih mau makan?”

“Iya, laper. Sekalian samperin si Reza sama Aluna, yuk? Nggak apa-apa kan?”

Your wish is my command. Oke!”

Gue yang sudah mengarahkan motor dari Dipatiukur menuju Dago Asri–daerah kosannya Airina–pun akhirnya memutar balik, menuju Gampoeng Aceh sesuai permintaan Airina.

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Sepanjang perjalanan dari travel ke Gampoeng Aceh, aku sungguh merasa bersalah karena telah merepotkan Bagas malam ini. Kenapa sih, dia segitunya tidak bisa berkata ‘tidak’ ke aku? Pantas saja, tadi aku harus menunggu lama karena dari rumah dosennya di Lembang ke pool travel di Dipatiukur memakan waktu sekitar 30 menit. Kadang aku berpikir, kenapa Arya tidak bisa berkorban untukku seperti yang Bagas selalu lakukan?

Aku dan Bagas tiba di Gampoeng Aceh, dan mendapati Reza–teman sepermainanku dan Bagas sedari SMA serta Aluna–sahabatku di Teknik Lingkungan, tengah berbincang asyik menunggu kedatangan kami. Beberapa bulan lalu, aku kasihan melihat Aluna yang sedang putus cinta. Dan akhirnya memutuskan untuk mengenalkannya kepada Reza. Sebenarnya, Reza, Aluna, dan aku adalah mahasiswa di fakultas yang sama, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL). Sayangnya, kami terpisah di kelas yang berbeda-beda sewaktu tingkat pertama dulu yang merupakan Tahap Persiapan Bersama (TPB), jadi kami tidak saling mengenal satu sama lain. Di tingkat kedua, Reza masuk Teknik Sipil, sementara aku dan Aluna masuk Teknik Lingkungan. Ternyata, semenjak TPB, Reza diam-diam sering memperhatikan Aluna. Begitu Reza mengetahui bahwa aku dan Aluna masuk ke jurusan yang sama, dia langsung memintaku untuk mengenalkannya dengan Aluna. Setelah pendekatan yang cukup singkat itu, ternyata Aluna dan Reza merasa cocok dan memutuskan untuk memulai hubungan mereka.

“Hai Luna!” Aku menyapanya riang yang dijawab dengan tawa renyah Aluna.

“Eh, udah pernah ketemu Bagas belum? Kenalin nih…” Kataku lagi, sambil menunjuk Bagas.

Bagas mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Aluna, “Halo! Bagas,” sapanya.

“Luna,” jawabnya sambil menjabat tangan Bagas.

“Darimana lo berdua malem-malem gini? Ck, ck, memang dasar anak muda!” Reza menggoda aku dan Bagas.

“Biasalah, tuan putri, kayak nggak tau aja lo.” Jawab Bagas ringan.

Saat aku dan Bagas sedang melihat-lihat menu untuk mengorder pesanan kami, handphone Bagas berbunyi. Ternyata, dosen pembimbingnya menelepon dan meminta Bagas segera kembali ke rumahnya untuk merevisi beberapa hal. Setelah menitipkan aku kepada Reza untuk diantarkan pulang sampai ke kosan, Bagas kemudian berpamitan dengan kami semua.

708617937593806060516

Gue kemudian melajukan motor mengarungi jalanan Bandung, menuju Lembang, menyayangkan kesempatan untuk makan bersama gadis kecil yang berhasil mencuri perhatian gue itu sedari SMA.

“Padahal udah lama banget nggak ketemu dia, kangen juga. Lain kali gue harus ngajak dia ketemuan lagi.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *