Epilogue

Bandung, Oktober 2012

Hari itu hari wisuda Hana dan Baskara, seperti kebanyakan mahasiswa TL angkatan 2008. Hana melihat Baskara di sudut matanya, berdiri dengan pendamping wisudawannya, Sarah, junior mereka yang adalah mahasiswa TL angkatan 2009. Kemudian pandangan Hana terjatuh di pundaknya sendiri, ada tangan Bara yang sedari tadi merengkuhnya. Bahagia, Hana tidak pernah merasa seutuh ini.

“Pasti ini yang terbaik…” Gumamnya pelan, tersenyum simpul.

Tak lama, para wisudawan diminta berbaris. Mereka akan menyanyikan hymne HMTL, kemudian berjalan bersalaman dengan massa himpunan, yang akan diakhiri dengan bersalaman dengan masing-masing wisudawan. Itu dilakukan sebagai simbol terima kasih dan juga pelepasan massa himpunan kepada wisudawan, dan sebaliknya. Momen itu merupakan momen favorit Hana, tidak peduli berapa kali pun ia mengikuti acara wisuda, Hana selalu meneteskan air mata karena terharu. Kali itu adalah kali pertamanya mengikuti pelepasan sebagai seorang wisudawan. Hatinya campur aduk, ada rasa senang dan sedih. Senang karena pada akhirnya ia berhasil melewati masa kuliahnya selama empat tahun di ITB, dan sedih karena momen itu tak lain adalah momen perpisahan pada kampusnya, himpunannya, angkatannya, dan para sahabatnya.

Kami berdiri di sini
Dibawah naungan panjimu
HMTL wadah generasi bangsa
Putra-Putri Bangsa Indonesia

‘Sgala cita yang tersimpan di dalam dada
Kan ku baktikan pada ibu pertiwi
Mekar bersemi, harummu mewangi
HMTL ku tercinta

‘Smoga saja, cahya sinarmu
Menerangi bumi pertiwi
Tridharma Perguruan Tinggi yang ‘slalu terbina
HMTL jayalah

Tibalah saatnya Hana berpapasan dengan Baskara. Sudah lama rasanya mereka tak mengobrol panjang lebar seperti dulu, keduanya tersenyum. Kemudian Baskara memeluknya, erat, erat sekali sampai Hana tak bisa berkata-kata.

“Hana, terima kasih. Makasih banget atas semuanya.”

“Sama-sama Bas, gue juga makasih banget. Maaf ya…”

“Nggak perlu minta maaf. Kamu nggak salah apa-apa.” Baskara mengusap pelan kepala Hana, seperti yang sering dilakukannya dulu.

Keduanya menangis dalam diam, entah berapa lama. Namun pada akhirnya, Hana melepasnya pergi, kemudian memberikan secarik kertas untuk Baskara.

My last words for you,” katanya seraya tersenyum, menghapus air matanya.

Baskara tersenyum, mengenang saat-saat bersama Hana dulu. Mereka sering memberikan puisi–entah itu bikinan sendiri ataupun sajak favorit mereka ke satu sama lain. Ia membuka lipatan kertas tersebut dan meliriknya sesaat, sebelum akhirnya melipatnya kembali karena masih ada barisan panjang mengular di belakang Hana. Hanya ada penggalan sajak yang dapat terbaca olehnya,

We are like parallel lines
Going through a road, hoping to be intertwined
Parallel lines, isn’t it bittersweet?
Walking side by side, yet never gonna meet

(Lucky) I’m In Love With My Best Friend (Part 2)

Bintaro, Februari 2014

708617937593806060516

Sudah 3 bulan semenjak gue menyatakan perasaan ke Airina. Tolol, ngapain juga gue ngaku ya waktu itu? Biasanya gue bisa nahan. Namun kali itu memang Arya sudah keterlaluan, Airina sampai jatuh sakit gara-gara dia, dan yang paling parah tuh dia selingkuh. Kok masih aja itu anak mau lanjut, kenapa nggak diputusin coba?

Gue lumayan kekeuh menghubungi Airina, practically begging her to come back to her sense. She lost it. She’s mental. Cintanya ke Arya benar-benar buta. Sampai gue capek ngomongnya, dan akhirnya beneran dia cuekin gue. Semenjak akhir tahun lalu, Airina nggak pernah hubungi gue lagi dan nggak pernah jawab setiap kali gue berusaha untuk hubungi dia. Dan sekarang, gue pun sudah nggak punya nyali lagi untuk hubungi dia duluan. Gue males ditolak, untuk kesekian kalinya. Kali ini gue cukup tahu diri.

Akhirnya bulan lalu gue kenalan sama cewek, namanya Dewi. Anjir, beneran kayak titisan dewi. Cantik iya, pintar iya, baik juga iya. Kalau gue telusuri bibit, bebet, dan bobotnya sih ya Dewi nggak ada kurangnya. Bukan berarti Airina kesayangan gue itu ada kurangnya ya, tentu saja di mata gue dia juga sempurna. Airina juga cantik, pintar, dan baik. Cuma satu hal yang kadang gue nggak tahan sama dia, manjanya itu minta ampun. Ya walaupun gue juga senang-senang saja karena gue termasuk salah satu orang pertama yang selalu dia cari kalau ada apa-apa. Gue senang bisa merasa dibutuhkan oleh dia. Yang membedakan Airina dan Dewi cuma satu, Dewi itu mandiri dan logic banget. Sementara Airina, selalu saja mengedepankan hatinya ketimbang otaknya.

Shit, gue memang nggak bisa ngebuang Airina jauh-jauh dari pikiran gue. Kembali ke Dewi, akhirnya sebulan setelah gue mengenal Dewi, gue mantap mau serius sama dia. Habisnya, sampai kapan gue harus nungguin Airina? She takes me for granted, always. Dan gue nggak mau bersikap bodoh lagi. Hanya keledai jatuh ke lubang yang sama, dua kali. Dan gue adalah keledai itu. Ya gimana nggak? Oktober lalu, gue sudah asal ngomong dan ngajak Airina kawin. November, gue bego banget showed up di rumahnya dan segala bilang sayang. Fuck.


Bintaro, Maret 2014

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Aku membuka pintu kamarku, meletakkan koper dan beberapa kantong belanjaan dari Singapura di sudut kamar, lalu merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Mataku terpejam, tetapi pikiranku wandering back to the last vacation I had with my girls. Liburan kemarin benar-benar sesuatu yang sangat aku butuhkan, bisa menghabiskan weekend bersama sahabat-sahabatku di tengah kesibukan dan jarak yang terbentang di antara kami. Namun, ada satu hal yang menggangguku, pembicaraan kami di malam terakhir kami menginap di Singapura. Malam itu, di Clarke Quay, kami hanya duduk-duduk menghabiskan berjam-jam untuk mengobrol, sambil menikmati langit malam Singapura yang bertabur bintang, catching up on things we’ve missed from each other’s lives. Sejak kami lulus kuliah Oktober 2012 silam, intensitas kami bertemu memang cukup berkurang karena masing-masing disibukkan oleh pekerjaan.

Aluna mengeluh dengan workload-nya yang gila-gilaan atas pekerjaannya sebagai konsultan di the World Bank. Bos-nya yang bule itu kalau bekerja tidak kenal waktu, bahkan tak jarang Aluna dibuatnya harus masuk kantor saat weekend karena harus menyelesaikan beberapa deadline pekerjaan. Satu atau dua kali dalam seminggu, aku dan Aluna pasti makan siang di Pacific Place karena kantor kami satu gedung, di Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang terletak di sebrangnya persis. Aku sudah hafal betul, topik pembicaraan kami hanya seputar curahan hati Aluna yang baru saja bertunangan dengan Reza. Namun, Aluna selalu punya trust issue dengan Reza, ditambah lagi kondisi mereka yang terpaksa harus LDR Jakarta-Tokyo. Aluna sering merasa kesepian dan akhir-akhir ini dia semakin dekat dengan sahabatnya sedari SMA–Agra, yang aku yakin 100% kalau Agra menyimpan perasaan kepada Aluna, tetapi Aluna is just too blind to see.

Diandra yang sekarang bekerja di BUMN yang bergerak di bidang minyak dan gas bumi lepas pantai di Indonesia, juga disibukkan dengan pekerjaannya. Tunangannya, Adhiguna yang bekerja untuk oil and gas service company sedang sering-seringnya bertugas keluar negeri–Dubai, Paris, bahkan Sudan. Tinggal hitungan bulan menjelang pernikahan mereka, tetapi mereka malah jadi sering LDR. Diandra pun mulai merasa lelah dengan persiapan pernikahannya karena ia merasa Adhiguna sulit dihubungi untuk mendiskusikan tentang vendor pernikahan mereka. Rasanya seperti hanya Diandra yang excited dengan pernikahannya.

“Gue tahu, emang bakal banyak cobaan selama ngurus nikahan, people say this and that, but I expect to face them with him. And at this point, gue nggak ngerasa gue sanggup deh, ngadepin semua sendiri. Gimana nanti ke depannya? Gimana nanti setelah kita nikah? Salah nggak sih, kalo ini bikin gue nggak yakin sama dia?”

Semenjak birthday dinner-ku beberapa bulan lalu, Felisha ternyata benar-benar memutuskan hubungannya dengan Rasyid. Namun yang aku heran, dia seperti tidak menyesali keputusannya itu dan sekarang terlihat sangat happy and content with her life. Felisha adalah salah satu temanku yang ambisius dan dia mengutamakan karier dan rencananya untuk studi master saat ini. Aku tidak habis pikir bagaimana Felisha bisa seimbang dalam membagi waktunya untuk bekerja, les persiapan GMAT seusai jam kantor, serta untuk hangout bersama kami.

Hana mulai beradaptasi dengan kehidupannya sebagai mahasiswa di Jepang. Hana menceritakan betapa stress-nya dia dengan tingkah laku orang-orang di sana. Terlebih lagi, Hana baru-baru ini membaca sebuah novel, Norwegian Wood karya Haruki Murakami, yang menggambarkan kehidupan anak muda di Tokyo tahun 60-an. Nuansa novel itu dark and depressed, kata Hana. Dia bisa merelasikannya dengan suasana yang dia temui sehari-hari. Sepertinya, bunuh diri di Jepang adalah suatu hal yang wajar. Bahkan minggu lalu, ada dua kejadian bunuh diri di jalur kereta yang biasa dilalui oleh Hana dari dorm ke kampusnya.

Anyway, temanku yang satu ini memang agak berlebihan kalau menyangkut akademik. Sepertinya baru satu kali seumur hidupnya dia mendapat nilai C dan dia jadi stress berat karena hal itu. She even said, “It’s the lowest point of my life.” Oh, come on, Han. Gimana kalau dia lihat transkrip TPB ku yang nilai C-nya berentet. Namun sekarang Hana sudah mulai bisa beradaptasi dengan ritme kehidupan masternya. I guess it’s true, it doesn’t matter how many times you fall, what counts is how many times you stand up again.

Raina menceritakan pekerjaannya sebagai pegawai pemerintahan di Kementerian Pekerjaan Umum. Sepertinya tidak pernah dalam satu minggu full dia duduk manis di kantor, pasti ada saja tugas untuk dinas keluar kota. Raina sangat menikmati pekerjaannya karena bisa sekalian jalan-jalan. Hubungannya dengan Athar pun semakin serius. Athar sudah membicarakan ingin melamar Raina dengan keluarga besarnya. Mengingat jatuh bangun perjuangan Athar untuk mendapatkan Raina, aku sangat senang akhirnya mereka bisa melangkah menuju jenjang pernikahan.

Sampai akhirnya tibalah giliranku. Aku menceritakan tentang rutinitas di kantor yang cukup membosankan, dan kalau beberapa bulan terakhir ini aku menjadi lebih dekat dengan Kak Bintang. Seperti yang sudah aku perkirakan, mereka semua mendukung hubunganku dengan Kak Bintang karena menurut mereka Kak Bintang jauh lebih baik dalam segala aspek dibandingkan dengan Arya, mantanku yang brengsek itu.

Tiba-tiba aku pun teringat dramaku dan Bagas. Saat aku selesai menceritakan apa yang terjadi antara aku dan Bagas di malam ulang tahunku, mereka semua menyambutku dengan tatapan tidak percaya dan kaget, kecuali Hana, yang dengan nyinyir berkata,

“BASI! Gue udah bilang ke lo dari jaman kapan tau deh. Bagas tuh suka sama lo, or even worse, sayang. Yet you were too blind. Kemana aja lo?”

“Betul sih. Gue juga ngerasa deh dia itu sesuatu ke lo. Plus, he is a Leo and you’re a Sagittarian–a match made in heaven.” Tambah Raina, yang sangat terobsesi dengan zodiac match.

“Lebih enak sama temen kan, lo udah tau gitu busuk-busuknya dia. Nggak perlu fase perkenalan lagi. Nyokap-bokap udah kenal. Udah lah, selama ini jodoh lo ada di depan batang hidung lo tapi lo sia-siain.” Kata-kata Felisha seperti menamparku.

“I think you should tell him what you really feel. I knew, we knew that you love him all along,” begitu kata Diandra kepadaku.

Dan seperti biasa Aluna hanya berkomentar, “Masa sih? Kok gue nggak tau ya? Gue ngeliatnya emang pure sahabat aja gitu.” Kemudian kami hanya menatapnya tidak percaya. Memang Aluna terlalu polos dan lugu, kalau bahasa kasarnya sih, lemot.

Sudah semalaman aku terus menimbang-nimbang apa yang harus kulakukan. Akhirnya aku dial nomor Bagas di handphone-ku, dan dia setuju untuk menemuiku malam ini.

708617937593806060516

Gue sedang di jalan menuju rumah Dewi, mengantarnya pulang dari kencan kami saat handphone gue bunyi dan… her caller ID appears on my phone. Shit, kenapa harus di saat seperti ini lo balik lagi dalam kehidupan gue, Airina? I’m just too weak to resist, so gue tetap angkat telepon dari dia, di depan Dewi.

Hi, Gas! Are you free tonight? Ketemu, yuk?”

Suara riangnya terdengar di ujung telepon. Seolah jarak yang dia bentangkan selama berbulan-bulan ini tak pernah ada. Dinding yang pelan-pelan gue bangun supaya lupa sama dia pun runtuh seketika, hanya karena sentilan kecil darinya. Ya, hanya dengan sepenggal kata yang terucap lewat telepon. Gue pun langsung mengiyakan dan setuju untuk menjemputnya di rumah nanti. Seketika itu juga, gue melupakan rencana gue untuk menyatakan perasaan gue dan mengajak Dewi untuk menjalin hubungan yang serius.

Airina. She’s still got a spell on me.

signature_poe3mitl90b5p2etv7

“So… How have you been?”

Aku bertanya padanya, saat akhirnya kami duduk berhadapan di Lot 9 Cafe, tempat yang akhir-akhir ini menjadi kesukaanku whenever I cannot think of anywhere else to go.

Tadi Bagas menjemputku ke rumah dan 20 menit yang kami lalui di jalan terasa begitu lambat. Kami tidak banyak berbincang, hanya lantunan musik dari music player mobil Bagas yang mengisi keheningan antara aku dan dia. Bagas bahkan tidak mau menangkap pandangan mataku saat aku masuk ke mobilnya tadi.

“Fine. Thank you. And you?” Bagas menjawabku dengan canggung.

Aku otomatis tertawa mendengar jawabannya, “Ha ha apaan sih, Gas? Kok jadi kayak anak SD lagi belajar Bahasa Inggris gini?”

Bagas ikut tertawa. Sikap canggungnya pun mulai hilang perlahan.

Aku membetulkan posisi dudukku dan kali ini aku yang sedikit canggung. Aku akhirnya memberanikan diri untuk berkata,

“There is something I need to tell you, Gas,” suaraku pelan.

“I’m sorry for not answering your calls or not replying any of your texts. Gue cuma nggak tau mau jawab apa karena jujur aja gue nggak pernah nyangka lo bakal ngomong kayak gitu ke gue. Gue rasa karena lo baru putus jadi lo nggak mikir panjang dan gue nggak mau jadi rebound lo, Gas.”

Aku bisa melihat Bagas sudah siap memotong pembicaraanku, tetapi aku mengangkat telapak tangan kananku, mengisyaratkannya untuk diam dan memberikan aku kesempatan untuk menyelesaikan kalimatku.

“Dan, gue kepikiran Gas jadinya. Maaf, kalau kesannya I take you for granted this whole time. Maaf, kalau gue telat sadar sama perasaan gue ke lo, Gas.”

708617937593806060516

Kata-kata terakhir Airina seperti menghantam isi otak gue. Setelah lebih dari 3 bulan dia menghindar dari gue mati-matian, sekarang dia bilang kalau dia telat menyadari perasaannya ke gue? Apa arti dari semua ini, Na? Apa berarti sekarang lo sudah siap untuk jadi pacar gue? Kenapa harus sekarang saat gue mencoba untuk move on dan berencana memulai hubungan yang serius dengan Dewi? It’s a bad timing. Dan detik itu juga, dia melanjutkan kalimatnya,

“Ya tapi gue nggak maksud apa-apa, Gas, ngomong kayak gini. I just want you to know, that’s all.

Sontak gue kaget. “Lah, terus maksud lo ngomong gini apa?”

You heard me, Gas. Gue ngomong gini bukan berarti gue mau kita sama-sama. Gue cuma nggak mau bohong sama perasaan gue aja, dan gue pengen lo tau perasaan gue yang sebenernya gimana ke lo. Maaf ya, Gas, kalau gue basi…”

Gue kemudian menyunggingkan bibir gue, memaksakan tersenyum. Sungguh gue nggak habis pikir sama jalan pikiran Airina. Buat apa dia ngasih tahu perasaannya ke gue kalau pada akhirnya dia nggak ingin kami untuk bersama? Namun, jelas gue nggak bisa ucapkan semua ini ke dia, kan?

“Yah… Tadi gue sempet mikir, abis lo ngomong kalau lo juga sayang sama gue, gue mau nembak lo lagi. Nggak jadi deh… Ha ha. Masa iya mau ditolak sampe dua kali, gengsi lah…”

Dan seperti yang gue harapkan, tentu saja dia tertawa. Gadis kecil gue ini… Dari tadi di jalan gue memang merasa aneh, aura yang ada di antara kami nggak santai sama sekali. Yah, mungkin mengingat pertemuan terakhir kami tiga bulan yang lalu. Shit, belum pernah gue dan Airina nggak ketemu selama ini. Anyway, here I am, trying to make this conversation goes smooth.

“Dasar lo, kesempatan! Well, at least kita sama-sama tahu perasaan kita yang sebenernya gimana kan? Dan gue udah lega sekarang. Kan katanya, some people are meant to fall for each other but not meant to be together. Kita termasuk those unlucky people aja sih gue rasa. Gue nggak mau risking our friendship, Gas.”

Gue cuma bisa menatap Airina untuk beberapa saat, sampai akhirnya gue berhasil menyusun kalimat yang tepat untuk gue ucapkan ke dia,

“Hmm… Iya sih, gue nggak mau kehilangan lo sebagai sahabat gue. Kan ada juga yang bilang ada yang namanya mantan pacar, tapi nggak ada yang namanya mantan sahabat.” Gue berkata sambil nyengir.

“Sebenernya, ada satu hal lagi yang mau gue omongin, Gas. Gue lagi deket sama seseorang nih sekarang.”

“Hah? Lo deket sama seseorang? Maksud lo gimana? Arya terus gimana?” Gue bingung.

“Oh! Gue udah putus sama Arya, that douchebag, finally I got rid of him.”

Sheeesh, that douchebag. Boleh juga pemilihan katanya. Ini anak kemasukan apaan ya? Baru sekali ini gue mendengar Airina bad-mouthing Arya, mantannya yang memang pantas untuk diperlakukan seperti itu.

“Sejak kapan? Wah ini berita bahagia sih, gue yakin lo mau traktir gue saking senengnya… Gue traktir lo juga boleh, gue pun seneng akhirnya lo putus! Selamet dulu lah, sini. ” Gue jabat tangannya dengan semangat, sambil tertawa terbahak-bahak.

“Nggak lama habis tahun baru lah, Gas.” Airina menjawab gue, ikut tertawa. Raut wajahnya tidak terlihat sedih ataupun seperti orang yang sedang patah hati. Dia lebih terlihat relieved.

“Kok lo rese sih?” Tambahnya lagi di sela gelak tawanya, mencibir ke gue.

“Ya gimana? Akhirnya, kebuka juga mata lo. Gue udah sampe bosen ngomong nggak lo dengerin. Bagus lah lo putus.”

Bukannya memberikan comfort seperti yang biasa gue lakukan untuknya, gue malah mengolok-olok dan mempermasalahkan kenapa dia nggak cerita sama gue kalau dia sudah putus dari Arya. Dan, bagaimana mungkin dalam waktu sesingkat ini dia sekarang sudah dekat dengan laki-laki lain lagi? Man! Emang ini anak nggak pernah kosong, banyak aja yang ngantri. Sampai-sampai gue aja bingung milih timing yang tepat waktu itu, untuk mengutarakan perasaan gue ke dia.

“Udah 3 bulan dong ya berarti? Dan lo nggak cerita ke gue? Sama sekali?” Gue bertanya lagi.

“Yah, gimana gue bisa cerita ke lo, Gas? Kalau gue cerita gue putus sama Arya, yang ada lo bakal insist kita buat give it a go. Ya kan?” Airina berkata sambil tersenyum jahil, masih saja anak ini menggoda gue.

She knows me too well. Gue nggak mau menjawab pertanyaan retoris dia dan gue hanya memberikan sebuah senyuman sebagai jawaban. Kemudian Airina melanjutkan kata-katanya,

“Yaa, kayak yang lo bayangin deh, Gas… Gue nge-gap-in dia selingkuh, lagi. Gue kira gue bisa pegang omongannya waktu itu, pas dia janji mau berhenti dan berubah. Ternyata gue salah. History loves to repeat itself. Ya udah lah, emang hubungan gue dan Arya kan toxic banget. It’s better off this way.

“Tapi lo baik-baik aja sekarang?” Gue merasa ada nada sedih di balik senyumannya.

“Gue udah nangis bombay deh pas putus. Ada kali, Gas, gue nangis sebulanan lebih nggak berhenti, males makan, kepikiran mau bunuh diri segala. Ha ha, ya hal-hal normal aja lah yang orang lakuin kalo putus cinta. But I’m much better now, yes, thank you!”

That jerk, bahkan sampai di akhir hubungan lo dan Airina, lo masih nyakitin dia kayak gini. Kalau aja gue tahu lebih awal, mungkin lo udah habis sama gue, Arya. Tapi gue salut lihat Airina yang berusaha tetap kuat dan tegar dealing with her broken heart. Gue tahu dia pasti sehancur itu putus sama pacar kesayangannya itu, yang sama sekali nggak pantas mendapatkan sayang dan cintanya Airina.

“Ng, sebenernya, gue juga lagi deket sih sama seseorang. Gue mau berusaha ngelupain lo. Bahkan tadinya, gue mau nembak dia malem ini. Cuma karena lo nelepon, ya gue tunda.”

“Tuh kan. Lo sendiri nggak cerita sama gue. Lo lagi deket sama siapa, Gas? Siapa sih emang yang bisa bikin lo move on dari gue yang udah sepuluh tahun lebih memikat hati lo?”

Lagi-lagi, Airina masih saja menggoda gue. Iya, memang nggak ada yang bisa menggantikan posisi lo di hati gue, Airina. Tentu saja gue nggak bisa mengucapkan kalimat ini setelah tadi dia bilang dia nggak bisa bersama gue, kan? Akhirnya gue memilih kalimat lain untuk menjawabnya supaya gue nggak terdengar terlalu pathetic,

“Ha ha. Ada lah, Na. Sama anak arsi. Mungkin lo nggak kenal.”

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Entah kenapa, hanya seorang perempuan yang terlintas di benakku saat Bagas menyebutkan jurusan itu, Arsitektur. Aku yang berkuliah di Teknik Lingkungan, seringkali makan dan jajan di gedung Arsitektur yang tepat berada di sebelah gedung kami.

“Anak arsi? Siapa? Jangan bilang, Dewi?” Aku bertanya ke Bagas dengan suara sesantai mungkin.

“Lah, lo kenal sama Dewi? Iya, gue lagi deket sama dia.”

“Sumpah, Gas, Dewi yang cantik banget itu?” Kali ini, gagal upayaku untuk mencoba tetap santai.

Hatiku mencelos saat Bagas menyebutkan namanya. Ini sih, namanya kalah sebelum berperang. Aku dan sahabat-sahabatku sering membicarakan tentang Dewi, betapa cantik dan cool-nya dia,  dan dengar-dengar dia juga pintar serta aktif di himpunan maupun di kemahasiswaan terpusat. Ya, maklum saja kalau aku bisa tahu hal-hal seperti ini tentang Dewi karena sahabat-sahabatku itu stalking skill-nya sungguh luar biasa, sampai kadang-kadang aku merasa mereka cocok bekerja untuk Badan Intelijen Nasional (BIN).  Aku ingat Hana pernah berkata, sewaktu kami makan di Kantin Barak dan melihat Dewi sedang mengantri di kasir,

“Kalo gue cowok, gue fix bakal ngejar dia sih.”

Yang bahkan ditimpali oleh Felisha, “Duh Han, nggak perlu jadi cowok juga gue mungkin udah lesbi kali sama Dewi!”

Dulu sih, aku ikut tertawa bersama sahabatku itu. Namun entah kenapa saat ini, aku sedikit memaksakan senyumku ke Bagas. Ironis rasanya.

Di balik selimut, aku memejamkan mataku dan wajah Bagas terbayang jelas di benakku. Terbayang olehku, raut wajahnya saat aku memberitahunya bahwa aku sudah putus dengan Arya. Di balik gelak tawanya saat mendengar berita itu, aku tetap bisa melihat raut wajahnya yang penuh emosi seolah ingin menghajar Arya karena aku telah mengizinkannya untuk menyakiti diriku, lagi dan lagi. Masih terlihat jelas olehku, tatapan mata Bagas saat aku menceritakan kepadanya bahwa sejak aku berusaha untuk melupakan Arya dan move on with my life, aku dekat dengan Kak Bintang. He gave me his approval because he knows him. Kak Bintang adalah seniornya di jurusan, dua tahun di atasnya. Dia bilang Kak Bintang pantas untukku.

Aku pun merasa sangat lega ketika Bagas menceritakan kalau dirinya juga berusaha move on dan melupakan perasaannya kepadaku. Agak sedikit mengejutkan memang, ketika Bagas bilang bahwa sebenarnya dia ingin menyatakan perasaannya kepada Dewi malam ini, tetapi dia membatalkannya karena aku tiba-tiba menghubunginya. Senang sih, for a split second, Bagas menggantungkan hubungannya dengan Dewi, hanya karena aku. Dewi! Apa ini mimpi?

“Gila lo, Gas! Masa anak orang lo jadiin pelarian. Ini Dewi lho, DEWI! I think you should arrange a romantic dinner and tell her what you feel. Go for it.

Aku tulus berharap dia bisa bersama dengan orang yang benar-benar menyayanginya. Iya, ternyata dari kuliah dulu, she always got her eyes on him. Menurut Dewi, Bagas itu karismatik, apalagi di saat memimpin rapat di Kabinet Mahasiswa. Dewi, yang sering dikirim oleh himpunannya mengikuti rapat terpusat, sedikit banyak terpukau oleh Bagas. Akhirnya awal tahun ini, mereka berdua dikenalkan oleh mantan Ketua Himpunan (Kahim) Arsitektur yang memang dekat dengan Bagas. Truth be told, aku nggak percaya sih cerita itu. Mungkin satu-satunya yang bisa dipercaya, Kahim Arsi memang mengenalkan mereka. Sisanya? Lebih mungkin kalau Bagas sebenarnya memakai jampi-jampi untuk memikat Dewi.

We will always be best friend, Airina. No matter what. I will always be around if you need me.” Kata-kata terakhir yang Bagas ucapkan saat dia menurunkan aku di depan pagar rumah tadi.

Entah kenapa, ada perasaan yang membuatku tidak ingin membiarkannya masuk ke dalam dan berpamitan dengan Mama dan Papa, seperti biasanya. Aku harap, aku dan Bagas bisa menyelamatkan pertemanan kami setelah semua kejadian ini. Lagipula, apa yang harus dikhawatirkan? Saat ini ada Kak Bintang untukku, dan Bagas memiliki Dewi. I guess everything will be okay…

Something in between

(on her musical preference)

B: “Han, kamu lawas juga ya orangnya.”

H: “Hahaha. Kenapa gitu?”

B: “Ini CD-CD kamu seleranya sama kayak Bapak saya.”

H: “Emang mayoritas pun selera bokap-nyokap gue, Bas. Gue somehow emang lebih suka lagu jadul, liriknya lebih menyentuh, lebih puitis. Ya nggak sih?”

(on Kings of Convenience)

H: “Gilaaa gue suka banget, Bas! Super happy! Makasih ya udah mau temenin gue nonton!”

B: “Saya yang makasih sama kamu, udah mau ngajak saya.”

H: “Tapi kan lo nggak suka-suka amat sebenernya. Abisan gue bingung sih, mau minta temenin siapa lagi… Yang suka Kings kan cuma Sisil, dan dia mau nonton bareng Adit, gue males nyamukin orang pacaran. By the way, gimana-gimana menurut lo, konsernya?”

B: “Hmm… Mungkin setelah ini, saya juga akan jadi fans berat-nya Kings of Convenience.”

(on her dream honeymoon to Bora-bora)

B: “Han, kira-kira butuh uang berapa ya, untuk ke Bora-bora?”

H: “Hmmm, nggak tahu, Bas. I dream about it but never had the thought of realising it. Kenapa emangnya?”

B: “Yah, siapa tahu nanti istriku minta diajak kesana…”

(on fortune cookies)

H: “What you got?”

He handed in the little parchment to her after cracking his fortune cookie.

H: “Sheesh, creepy. I got the same.”

You might think that the best match for you is your opposite, but it is not anymore since you go for the one who is alike. And if you could learn to compromise and be aware of the other, it would be your ideal match of like minds.

(on her first performance after 8 years)

B: “Aku nggak tahu kamu bisa main piano.”

H: “I did practice back then til I was 13, but I lost interest.”

B: “Bagus, Han.”

H: “Oh ya? Ng… kayanya nggak, Bas. I’m nervous as hell…”

B: “Iya aku tahu.”

H: “Ah, tuh kan! Pasti menurutmu jelek! Aku udah lama latihan ini, lagu tadi tuh one of my fave, udah lama mau aku mau kasih ke kamu, but in a special way.”

B: “Iya aku tahu, Hana. Makasih banyak ya. Iya, bagus juga lagunya. Jujur aku baru pertama kali denger. Lagu apa sih, Han?”

H: “Better than love. Lagunya Sherina, my childhood idol.”

(on their thoughts of relationship)

H: “Bas, do you know, I think we only need two things how to make relationship works.”

B: “Yaitu?”

H: “Love and trust.”

B: “Kenapa?”

H: “Because love is the basic thing. Kalo nggak sayang, kenapa harus pacaran? Tapi banyak temenku yang pacaran karena sayang aja, but they don’t trust him, you know? It’s depressing, masa tiap gak barengan jadi parno… so that’s why we need trust in the second place.”

B: “Kalau komunikasi?”

H: “Kayanya kalo sayang dan percaya, pasti akan kasih tahu semuanya gak sih, Bas?”

B: “Iya juga sih. Tapi menurutku sayang dan percaya aja gak cukup, Han.”

H: “Terus apa lagi?”

B: “Pengorbanan. Tanpa pengorbanan, hubungan itu nggak akan jalan kemana-mana. Kompromi itu perlu, orang kan nggak semuanya langsung cocok, harus ada yang dimengerti, harus ada yang dibatasi. Ya kan?”

H: “Love. Trust. Sacrifice. I like it.”

(his favourite poem given to her)

“aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan 
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”

Sapardi Djoko Damono

Hana & Baskara

The Track List

Screen Shot 2016-07-15 at 8.53.22 PM

(Lucky) I’m In Love With My Best Friend (Part 1)

Bintaro, Oktober 2013

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Aku bangun dengan napas tercekat. Dadaku sesak dan perutku terasa begitu nyeri. Mataku masih agak berkunang-kunang. Tenagaku serasa habis dan aku tak berdaya untuk menggerakkan tubuhku.

“Kita kembali ke ruangan ya, Mbak…” Mataku menangkap seorang suster yang menatapku dari atas tempat tidur. Dia tersenyum dengan lemah lembut kepadaku.

Setelah hampir satu minggu berturut-turut aku selalu memuntahkan apapun yang aku makan, akhirnya aku drop dan pingsan sebelum berangkat ke kantor kemarin pagi. Mama segera membawaku ke RS Premier Bintaro karena jaraknya dekat dengan rumah kami. Kata dokter, asam lambungku tinggi dan maag yang aku derita ini sudah kronis. Aku terpaksa dirawat inap karena harus diinfus untuk memberikan asupan makanan bagi tubuhku. Aku baru saja selesai di-endoskopi. Saat tadi masuk ruangan, dokter memberitahu bahwa aku hanya perlu dibius sedang. Namun ternyata, aku terlalu tegang sehingga prosedur awal tidak berhasil dan akhirnya aku memilih untuk dibius total.

Saat tiba di ruang kamar, aku dipindahkan ke tempat tidur. Tenggorokanku masih terasa sedikit sakit dan badanku masih lemas. Keluargaku sudah menantiku disana, Mama, Papa, Mbak Aurelia dan suaminya–Mas Aldy, dan Mas Akila.

Setelah tenagaku sudah mulai kembali pulih, aku mengambil handphone. Banyak chat dan panggilan tak terjawab dari teman-temanku. Mungkin mereka khawatir aku tidak bangun lagi habis dibius. Aku menjawab chat mereka satu per satu dan mengabari bahwa aku selamat dari endoskopi yang cukup mengerikan itu. Yes, drama queen is my middle name.

Aluna, Diandra, Felisha, dan Raina datang menjengukku. Mereka membawakan balon dan tidak berani membawakan makanan apapun karena takut aku masih ada pantangan dari dokter. Lagipula aku memang sedang tidak ingin makan dan sudah kehilangan napsu makanku. Bagaimana tidak? Karena kejadian ini, dokter melarang keras aku mengonsumsi junk food–makanan paling enak sedunia.

Sudah beberapa jam mereka menemani dan bersenda gurau bersamaku, yang selalu membuat perutku terasa nyeri setiap kali aku tertawa oleh lelucon mereka. Sekitar pukul 19.30 mereka pamit pulang dan keluargaku pun juga pulang ke rumah. Hanya tersisa aku dan Mama di ruangan ini. Tak lama kemudian, pintu kamarku diketuk. Bagas, Nugi, Randy, dan Ayu memasuki ruangan. Mereka menyapa Mama kemudian duduk di sofa samping tempat tidurku. Aku membiarkan Mama yang bercerita panjang lebar tentang sakitku ini persis seperti yang tadi Mama ceritakan di depan Aluna, Diandra, Felisha, dan Raina. Dan cerita itu diakhiri dengan,

“Airina ini emang paling-paling deh. Tante sampai nggak habis pikir sama kelakuannya…”

“Sabar ya Tante, mudah-mudahan cepat sehat lagi Airina nya.” Ayu berusaha menghibur Mamaku. Aku cuma bisa menyengir kuda.

“Iya. Makasih ya nak, sudah sempat jenguk Airina. Eh iya, kalian sudah pada makan malam belum? Tante order-in makan malam yah? Sekalian tante mau beli juga,” kata Mama kepada Bagas, Nugi, Randy, dan Ayu.

Keempatnya menolak dengan sopan dan menjawab bahwa mereka sudah makan malam sebelum kesini tadi.

“Tante belum makan? Mau aku beliin dulu tante, keluar?” Bagas menawarkan diri.

“Nggak usah, nak. Pesan aja biar gampang.”

“Atau kalau tante mau makan dulu di luar, nggak apa-apa aku tungguin Airina tante.” Jawab Bagas lagi. Nugi, Randy, dan Ayu mengiyakan.

“Sebenernya kalau boleh sih, tante mau pulang dulu ke rumah. Ganti baju dan ngambil barang sebentar, nanti kesini lagi. Kalian nggak apa-apa tante tinggal?”

Lagi-lagi keempatnya mengiyakan. Namun, tak lama setelah Mama pulang, Nugi, Randy, dan Ayu juga pamit pulang. Ayu tidak enak kepada orang tuanya kalau pulang terlalu malam, Randy menawarkan diri untuk mengantar Ayu pulang ke rumah, dan Nugi ikut pulang bersama mereka.

Tinggal lah aku dan Bagas di kamar ini. Bagas duduk di tepi tempat tidurku.

708617937593806060516

“Masih sakit?” Gue bertanya dengan lembut ke Airina yang berbaring di tempat tidurnya.

“Tinggal lemesnya aja sih, Gas…” Jawabnya pelan.

“Tadi sebelum masuk, gue papasan sama temen-temen TL lo.”

“Oh, ya? Iya sih emang nggak lama habis mereka pamit, lo dateng.” Airina menjawab.

“Arya udah kesini?” Gue bertanya dengan suara yang gue tahan agar terdengar biasa saja.

Untuk beberapa detik Airina terpaku dengan pertanyaan gue, sebelum dia menjawab, “Belum. Kan dia lagi di Bandung, Gas. Kasian jauh kalo kesini.”

“Selalu ada pembenaran ya buat pacar lo yang nggak berguna itu.” Akhirnya gue menjawab dengan ketus, gagal menahan emosi gue.

“Kok lo jutek sih? Kenapa?” Airina mencolek tangan gue yang dekat dari jangkauan tangannya.

“Apa sih, Na, yang bikin lo bertahan sama hubungan lo dan dia? Pacar mana coba yang tega ngebiarin ceweknya jatuh pingsan? Bahkan sampai mesti masuk rumah sakit masih nggak dijengukin juga? Gue aja bukan pacar lo, tapi bela-belain nih dateng langsung pulang kerja kesini. Udahlah, mendingan lo jadi pacar gue aja.” Lagi-lagi gue gagal menahan mulut gue yang nggak bisa diam ini.

“Yee, itu sih maunya elo!” Dia menjawab sambil tertawa.

“Serius gue…” Gue menatapnya lekat-lekat.

Kemudian Airina menggenggam tangan kiri gue dengan kedua tangannya sambil berkata, “Bagas, dengerin yaa. Wajar dong, lo pulang dari kantor langsung mampir kesini, ke Premier kan sama aja kayak lo balik ke rumah. Dan wajar dong, sekarang lo masih nungguin gue sampai jam segini. Kan rumah lo deket, Gas. Lagian tadi lo sendiri yang menawarkan diri ke nyokap gue buat jagain gue. Kalau Arya, dia di Bandung, jauh. Jadi wajar dia nggak kesini, Gas… Udah ya, jangan didebat lagi.”

“Pokoknya, kalau udah umurnya kita siap nikah, dan pacar lo yang nggak sayang sama lo itu masih belum nikahin lo juga, lo nikah sama gue. Nggak perlu pake pacaran lagi kita. Langsung aja…”

“Heh, gila ya lo? Ngomong sembarangan.” Airina mencubit tangan gue yang sesaat sebelumnya sedang dia genggam itu. Lagi-lagi dia tidak menghiraukan perkataan gue.

Fuck you, Arya. You big shit. Gue nggak habis pikir kelakuan lo yang minus aja bisa-bisanya masih dibelain sama pacar lo. Beneran manusia nggak guna, nggak tahu diri. Mungkin kalo lo ada di hadapan gue, muka lo udah bonyok gue pukulin.

Iya, gimana gue nggak semarah ini rasanya sama itu orang. Karena menurut gue, sedikit banyak Airina jatuh sakit memang gara-gara dia. Dua minggu lalu, Arya ke-gap selingkuh, sama teman kantornya. Mereka berantem hebat. Tebak siapa yang dijadiin last resort sama cewek di hadapan gue ini? Iya, gue. Gue berkali-kali saranin dia buat putus. Entah kenapa selalu ada pembelaan keluar dari bibirnya itu. Nggak lama setelahnya, Airina jatuh sakit. Hampir satu minggu dia selalu memuntahkan apapun yang dia makan, sampai akhirnya jatuh pingsan. Biar gimana juga, gini-gini gue paham betul sama penyakitnya Airina. Dia emang nggak bisa stress, karena itu akan men-trigger asam lambungnya naik dengan jumlah yang tidak terkontrol, maag-nya sudah kronis.

“Kok nyokap lama ya Gas, nggak balik-balik? Gue tidur nggak apa-apa yah? Ngantuk berat.”

Terdengar Airina berkata, mungkin dia lama-lama ngantuk juga karena nggak gue ajak ngobrol. Habis mau gimana lagi, kalau dibahas panjang yang ada gue semakin ribut sama dia. Dan gue nggak mau itu terjadi. Saran gue nggak pernah diterima, pernyataan cinta gue yang mendadak dan asal-asalan tadi pun nggak diterima, tetapi tetap saja gue memaksakan diri untuk tersenyum ke dia.

“Iya, santai. Gue tungguin kok sampai nyokap lo balik.”

Kemudian gue merapikan selimutnya dan mematikan lampu dekat tempat tidurnya. Hanya dalam hitungan detik, Airina sudah tertidur pulas. Memang sahabat gue yang satu ini paling cepat kalau urusan tidur. No wonder, teman-teman dekat kami di SMA memberinya julukan Kebo Cilik, dasar si tukang tidur. Gue mengamati tidurnya, melihat napasnya naik-turun perlahan. Tidurnya tenang, seperti anak bayi. Terlalu lama melihatnya seperti ini, bisa bikin gue hilang kendali dan ingin menciumnya. Alih-alih menciumnya, akhirnya gue hanya mengelus-elus lembut kepalanya.


Bintaro, November 2013

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Mama, Papa, Mbak Aurelia dan Mas Aldy serta kedua anak mereka yang menggemaskan–Azka dan Azzahra, dan juga Mas Akila berdiri mengelilingi tempat tidurku dan membawa sebuah kue. Iya, kue ulang tahun, karena hari ini aku genap berusia 23 tahun. Sudah menjadi tradisi di keluarga kami, jika ada yang berulang tahun semua akan berkumpul dan kami akan makan siang atau makan malam bersama di hari itu. Seperti hari ini, Mbak Aurelia beserta suami dan kedua anaknya sengaja menginap di rumah kami karena siang nanti kami akan makan siang bersama.

Dalam suasana kamar yang gelap, aku bisa melihat cahaya terang dari lilin-lilin kecil di kue ulang tahunku menari-nari. Aku selalu tidur dengan kondisi kamar yang gelap gulita. Kalau tidak begitu, tidurku tidak akan nyenyak dan aku akan terbangun dengan mood jelek serta uring-uringan seharian di hari selanjutnya.

Aku duduk di atas tempat tidurku, memejamkan mata, dan mengucapkan birthday wishes dalam hati before I blew out the candles.

Dear God, I am grateful for these wonderful 23 years. And I know, the best is yet to come. Thank You for Your blessing, that bestowed to my loving family and dear friends, along with their hands and smiles that keep me strong until this day.

As for Arya, it has been an emotional year… I wish our love will continue to grow and we can finally tie the knot before I hit 24.

Hari ini aku mengambil cuti dan tidak masuk kantor. Aku memang sengaja mengambil cuti di hari ulang tahunku karena ingin melewati hari ini dengan orang-orang terdekatku. Setelah surprise tadi malam, kami sekeluarga malah lanjut ngobrol sambil menyantap kue ulang tahunku dan baru tidur sekitar pukul 3 dini hari. Pagi ini aku pun sarapan dengan kue ulang tahun sisa semalam dan secangkir teh Green Tea & Lemon dari Twinnings kesukaanku. Aku duduk di sofa dan menggonta-ganti channel TV tetapi tidak berhasil menemukan program yang menarik.

Bel rumah berbunyi. Aku meneriaki si Bibi agar membukakan pintu. Siapa sih yang bertamu pagi-pagi begini, pikirku dalam hati. Si Bibi tidak menjawabku. Mungkin beliau sedang mencuci baju di belakang sehingga tidak mendengarku. Dengan malas aku melangkahkan kakiku menuju pintu ruang tamu. Saat aku membuka pintu, aku mendapati seorang kurir berdiri di hadapanku. Kurir itu ternyata mengirimkan sebuah cake dari Kak Bintang.

Kak Bintang adalah seniorku di kampus dulu. Kami tidak satu jurusan sih, dia anak Teknik Fisika 2006, dan aku mengenalnya saat aku ikut kepanitiaan Olimpiade ITB. Kemudian dia yang memang aktivis kampus, terpilih menjadi Menteri Koordinator Internal di Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB. Secara personal, dia memintaku menjadi sekretarisnya yang tentu saja langsung aku iyakan. Kak Bintang orangnya baik dan lucu, jadi aku suka bekerja sama dengannya. Selama ini kami memang cukup akrab, tetapi ini pertama kalinya dia mengirimkan kue ulang tahun untukku.

Pikiranku yang sedang menelusuri kenangan bersama Kak Bintang tiba-tiba lenyap, karena aku mendengar suara mobil Arya memasuki garasi rumah. Aku langsung berlari menyambut dan memeluknya. Arya balas memelukku seraya mengucapkan,

“Duh, yang lagi ulang tahun kayaknya seneng banget nih…”

“Kamu kok pagi banget nyampe sini? Berangkat dari Bandung jam berapa?”

“Iya, aku nggak sabar mau ketemu. Ini ada kue buat kamu, mau dipotong sekarang atau nanti aja pas makan siang?” Dia bertanya sambil membuka pintu mobilnya, mengambil bungkusan berisi kue untukku.

“Nanti aja, aku kenyang makan kue mulu dari semalem. Masuk yuk!”

Sepulangnya makan siang, aku kembali ke rumah untuk beristirahat sebentar karena malam harinya aku ada janji untuk birthday dinner, bersama teman-teman kesayanganku di kuliah dulu. Saat makan siang bersama keluargaku dan Arya, Mama menanyakan apakah Arya berniat serius denganku–yang hanya dia jawab dengan senyuman dan kata-kata, “Doain aja, Tante. Insya Allah.”

Selepas maghrib, Arya pamit kembali ke Bandung, karena besok ada training disana. Sebelumnya, dia mengantarku ke Otel Lobby, sebuah restoran di Epicentrum, Kuningan.

Saat aku tiba di Otel Lobby, Aluna, Diandra, Felisha, Gita, Lilian, Priscilla, dan Raina sudah terlebih dahulu ada di sana. Mereka memberikan aku surprise.

“Kok sendirian, Na? Arya nggak ikut?” Tanya Felisha begitu aku duduk di kursi sebelahnya, setelah meniup lilin kue ulang tahunku dan mendengarkan lagu Happy Birthday dilantunkan oleh sahabat-sahabatku yang urat malunya seperti sudah putus itu.

“Nggak, cuma nge-drop aja, dia besok ada training pagi-pagi, Fel, takut kemaleman.” Padahal sebenarnya aku tahu, semenjak kejadian perselingkuhannya, Arya tidak pernah merasa nyaman hanging out bersama para sahabatku ini. Takut dihajar, mungkin.

Setelah acara potong kue, barulah kami menyantap makan malam dan update kehidupan masing-masing.

Seperti yang sudah aku tahu, hubungan Aluna dan Reza memang tidak selalu mulus, begitulah memang dilemanya kalau LDR. Aku saja yang LDR Jakarta-Bandung suka mengeluh, bagaimana Jakarta-Tokyo? Aluna berkata Reza akan pulang bulan depan, setelah ujiannya selesai. Akhirnya sahabatku yang satu itu pulang kampung juga selepas kepergiannya 1.5 tahun lalu. Namun Aluna pasti tidak tahu-menahu, bahwa Reza sudah mempersiapkan surprise untuknya. Tentu saja dengan bantuanku. Yes, he is gonna ask for her hand, finally. Aku teringat saat Reza melontarkan rencananya ke aku beberapa waktu lalu, sampai-sampai aku ikut histeris saking excited-nya.

Cerita selanjutnya juga sudah aku ketahui. Lilian, yang belakangan ini cinlok dengan co-worker-nya di kantor, Ranu, akhirnya menyampaikan hal itu ke kita semua. Sebenarnya, Lilian sudah menceritakan semuanya ke aku dan Felisha. Tadinya dia tidak berani go public, bagaimana tidak? Ranu adalah mantan Diandra di masa kuliah dulu. To be honest we all thought that they’re gonna end up together. Tapi takdir berkata lain, awal bulan ini Diandra dilamar oleh pacarnya setahun belakangan, Adhiguna. Karena itu juga, Lilian berani mengatakan affair-nya ke Diandra. Seperti perkiraanku dan Felisha, Diandra benar-benar tulus mengucapkan selamat ke Lilian. Lalu dia bilang,

“Nggak tau kenapa tapi gue udah feeling sih, kalo Ranu bakal sama lo. Dia suka cinlok kan soalnya.” Katanya sembari tertawa, teringat saat mereka dipertemukan di kepanitiaan yang sama. Akhirnya, setelah kurang lebih bekerja bareng selama 6 bulan, timbul juga perasaan-perasaan yang diinginkan.

Belakangan ini Felisha merasa gerah dengan Rasyid yang selalu membicarakan pernikahan, padahal paling cepat Felisha ingin menginjakkan kaki ke jenjang itu masih 2 tahun lagi. Posisinya di kantor memang strategis, dia pun berencana untuk melanjutkan studi master untuk menunjang karirnya. Akhirnya di penghujung malam itu, against all odds–di saat kita semua malah ingin berlabuh ke pelaminan, Felisha mantap akan memutuskan hubungannya dengan Rasyid setelah 3 tahun bersama.

Kini giliran Gita yang bercerita, yang aku sudah tahu pasti akan membicarakan Baskara–entah kenapa aku selalu jadi tong sampah di pertemanan ini. Sudah beberapa bulan semenjak Baskara diterima di kantornya. Dan sedikit banyak aku bisa mengira, perasaannya ke Baskara yang dulu pernah ada, kembali muncul. Sayangnya ada Sarah, pacar Baskara yang kerap kali datang ke Jakarta. Sarah adalah junior kami di TL. Sebenarnya dia sudah lulus bulan lalu, tetapi dia masih tinggal di Bandung karena masih ada proyek dengan dosen di kampus.

“Kalo pacaran tuh di kamar, man! Gue nggak tau deh tuh mereka ngapain aja…” Nada bicara Gita terdengar bete dan jealous,  aku hanya tersenyum kecil. Walaupun aku merasa Gita dan Baskara cocok, diam-diam aku masih berharap Baskara kembali bersama Hana. They are my favourite, and after all this time, I still ship them hard. Always.

Priscilla aka Sisil, yang sudah menikah di awal tahun ini dengan Aditya, his high school sweetheart, curhat karena belum juga diberi momongan, yang berlanjut dengan omongan-omongan yang sudah seharusnya disensor dari cerita ini. Sementara Raina dan Athar is going strong. Sepertinya tahun depan mereka akan lamaran dan mempersiapkan pernikahan.

Anyway, obrolan kami tidak kunjung habis. Perasaanku campur aduk malam ini, tapi mostly I feel happy, happy that I got them in my life.

708617937593806060516

Hari sudah cukup larut saat mobil Airina memasuki halaman rumah. Pukul 23:45 tepatnya, gue melihat jam tangan gue. Vios silver-nya dia parkirkan di sebelah mobil gue.

“Nah, itu Airina sampai, Gas. Kalau dia sudah pergi sama geng rumpinya itu emang nggak pernah sebentar.” Mamanya Airina berkata sambil sedikit tertawa, melirik ke arah pintu depan.

Gue hanya memberikan senyum gue kepada si Tante. Tiba-tiba jantung gue terasa cenat-cenut saat langkah Airina terdengar semakin dekat.

“Assalamu’alaikum.” Airina mengucapkan salam saat dia memasuki rumah.

Tante dan gue pun menjawabnya. Airina cium tangan kepada mamanya, lalu memberikan kecupan di kedua pipi mamanya. Tentu saja untuk beberapa detik, gue berharap dia juga akan melakukan hal yang sama ke gue, mencium pipi gue. Namun, harapan ya tinggal harapan. Dia hanya melemparkan senyum manisnya ke arah gue sambil berkata,

“Hai, Gas! Kok tumben sih, malem-malem kesini? Udah lama?”

Belum sempat gue menjawab, Tante langsung menjawab Airina.

“Kamu pulangnya malem banget sih, ndok. Kasihan tuh Bagas, daritadi dengerin ocehan Mama jadinya. Tadi Mama mau nelepon kamu biar cepet pulang, eh, malah dilarang sama Bagas. Padahal kan kasian dia jadi nunggu kelamaan.”

“Nggak apa-apa kok, Tante. Kan ceritanya biar surprise he he,” gue menjawab tante dengan sedikit salah tingkah.

Sorry banget Gas, gue nggak tau sih lo mau mampir. Habis gosip apa aja sama Mama tadi?” Airina menunjukkan tampang jahilnya.

“Kamu ini, kok malah meledek gitu? Yasudah ah, Mama mau tidur, Papa sudah tidur duluan, tuh. Tante ke dalam, ya Gas.”

“Iya, Tante. Makasih ya, Tante.”

Setelah mamanya sudah hilang dari pandangan mata, Airina duduk di sofa. Gue mengikutinya, duduk di sebelahnya.

Happy birthday, Airina!”

Thanks, Gas. Kok ucapin lagi sih, kan tadi udah telepon? Eh, bentar deh… Setau gue lo hari ini mestinya nggak di Jakarta deh? Bukannya lo inspeksi alat ya ke site? Kok bisa ada di sini?”

“Iya, kalo bisa gue emang rencana nggak nginep, tadi gue langsung balik aja begitu selesai. Pas banget ada flight yang available. Lagian males ah, tidur di hotel mulu, enakan juga kasur rumah.”

“Bilang aja, nggak sabar mau ngasih gue surprise dan kado ulang tahun kan?” Godanya sambil mengernyitkan mata dengan percaya diri, walaupun ya memang benar sih…

Gue tersenyum sambil mengulurkan sebuah kotak kue kepadanya. Dia mengambil kotak itu dari tangan gue, kemudian membukanya dengan semangat.

“Wah, Oreo Cookie Ice Cream Cake! It’s my favourite, Gas…” Matanya berbinar-binar saat dia melihat isinya. “Thank you!” Dia berkata lagi.

I know.” Jawab gue singkat, merasa bangga sama diri gue sendiri yang nggak lupa sama kue kesukaan dia.

“Apaan nih, kok tulisannya do not eat junk food sih? Bukannya happy birthday?” Dia mencibir ke gue saat membaca tulisan di kuenya.

“Yee, udah biasa ah nulis happy birthday. Lagian, reminder tuh buat lo, biar lo nggak bandel curi-curi makan junk food.”

Airina tersenyum lebar, “Kok tumben sih, lo manis banget gini ke gue? Biasanya juga gue ajakin traktiran ulang tahun selalu sibuk lo,” katanya seraya menyikut gue dengan pelan.

“Tuh, asal gue baik salah. Kalo gue nyebelin, lo marah. Serba salah emang sama Airina ini,” gue menjawab dia.

Kemudian gue mengeluarkan sebuah bungkusan berwarna biru muda dari dalam tas gue, “Ada satu lagi nih buat lo.”

Dia meraih bungkusan itu dari tangan gue dan dengan sigap menyobek kertas kado yang membungkus hadiah yang gue berikan untuknya.

“Ya ampun, warnanya gue banget siiih! Ini serius, lo beliin buat gue?”

Airina kegirangan saat menemukan Instax Mini 25 berwarna putih biru dari dalam bungkus kado yang dia sobek tadi. Gue memang tahu dia sedang ingin kamera ini.

Entah apa yang merasuki gue malam ini, mungkin karena melihat senyumannya sedari tadi yang bikin gue tiba-tiba menyambar kedua tangannya dan menatap ke dalam kedua bola matanya,

“Airina, gue sayang sama lo. Gue rasa, nggak ada salahnya deh kalau kita pacaran aja.”

Airina menatap gue heran untuk beberapa saat. Kemudian dia menarik pelan kedua tangannya dari genggaman gue. Dia tertawa kecil,

“Bercanda deh lo, Gas.”

“Gue serius, Na. Gue sayang sama lo. Putusin aja Arya, gue gerah ngeliat cara dia memperlakukan lo. You deserve someone better than that, Na.”

“Gas, lo ngomong apa sih? Emangnya apa yang salah sama cara Arya memperlakukan gue? Asal lo tau ya, tadi pagi dia dateng kesini bawa kue dan kado untuk gue. Dia sayang sama gue, gue tau itu. Apa sih yang lo pikirin? Tega ya lo, nggak nganggep Fitri, pacar lo?”

Airina terlihat emosi dan marah saat dia ucapkan semua kalimat itu ke gue. Matanya memerah seperti menahan tangis.

“Gue udah putus sama Fitri…” Akhirnya gue berkata lirih.

Airina terdiam sebentar.

“Sejak kapan, Gas? Kok gue nggak tau?” Airina bertanya dengan tatapan penuh simpati kepada gue.

“Udah dua bulan lah.”

“Gas, sori…” Jawabnya pelan.

“Gue waktu itu mau cerita sama lo, tapi lo lagi sakit.”

Namun tiba-tiba, seperti amarahnya kembali merasuki jiwanya lagi, empatinya ke gue hilang seketika dan dia berkata, “Terus, karena lo putus, lo pikir lo jadi bisa ngomong gini ke gue?”

Menit-menit selanjutnya, gue lalui dengan berusaha meyakinkan Airina kalau ini waktu yang tepat untuk gue dan dia bersama. Tetapi seperti yang sudah gue perkirakan, cintanya yang buta sama si Arya mengalahkan semuanya. Air mata yang sudah dia tahan sejak tadi akhirnya pun menetes saat dia berkata ke gue,

“Gue kecewa sama lo, Gas. Lo satu-satunya cowok yang bikin gue percaya kalau cowok dan cewek itu bisa sahabatan tanpa mencampur-adukkan perasaan. But tonight, you proved me wrong. Thanks for ruining my day.

“Lo aja yang nggak pernah ngeh sama perasan gue, Na. I love you all along, long way back to high school. Nggak ada sejarahnya cowok dan cewek bisa temenan, awalnya gue kira pun bisa, tapi nggak, gue salah besar. Lo salah besar. Dan jujur, gue capek dijadiin bemper sama lo.”

There. I said it. Namun gadis kesayangan gue itu cuma menangis. Frankly, I hate seeing her like this. It has been years that I solemnly swear, I would be a man who won’t make her cry.

“Airina, maaf… gue nggak nyangka kata-kata gue bikin lo sesedih ini.”

Putus asa, gue mencoba meraih tangannya, tapi dia mengelak.

“Na… please don’t get me wrong. I didn’t mean to…”

Airina memotong kata-kata gue. “Udah deh. Lagian ini udah malem, mendingan lo pulang, Gas. Gue capek, mau istirahat.”

Gue cukup tahu diri untuk tidak berdebat dengan Airina lagi. Akhirnya gue pamit pulang. Airina tidak mau menatap gue. We don’t even say goodbye…

”Great. Our first. Big. fight.”

Frustasi, gue menghantam setir saat gue meninggalkan rumah Airina.

“Gue kira gue kenal dia luar dalem, tapi ternyata nggak. Namanya cewek ya tetep aja cewek. And I thought she is one of my best bros, tapi ternyata nggak. Namanya cewek ya tetep aja cewek, nggak ada yang bisa gue jadiin bros. Bahkan Airina sekalipun.

Gue nggak habis pikir, apa sih yang salah? Padahal dia yang bikin gue terbawa perasaan. Kalau dia nggak suka, kalau dia nggak seneng, kalau dia nggak sayang, kenapa dia harus nunjukin gelagat as if like she does? Kenapa sih, lo selalu ngasih mixed signal kayak gini, Airina?

Dan sedetik kemudian, dia nangis. Apa sih salah gue? Makhluk Tuhan yang namanya perempuan memang paling ajaib.

Mungkin cara gue yang salah. Mungkin kata-kata gue yang salah.

Lambat laun amarah gue berganti sama penyesalan. I gotta make things up for her.

Last first kiss

Karimunjawa, Desember 2011

Baskara mereka ulang sepotong pembicaraan pagi tadi dengan Hana, saat mereka berada di kapal cepat dari Jepara ke pulau itu. Baskara tahu, ada yang tidak beres dengan diri Hana karena gelagatnya berbeda dari semalam, saat mereka duduk berdampingan di dalam bis dari Bandung menuju Jepara. Semalaman Hana ceria dan mereka membicarakan banyak hal, sampai gadis kesayangannya itu jatuh tertidur di pundaknya. Namun pagi tadi, mulutnya terkunci, matanya seperti sengaja tak mau beradu dengan mata Baskara. Tadinya Baskara mengira Hana mabuk laut, sampai akhirnya ia menanyakan,

“Kenapa, Han? Kamu mabuk?”

“Nggak, Bas.”

“Kok pucat?”

Pertanyaannya hanya dibalas dengan gelengan semata, Hana tersenyum, yang terlihat dipaksakan. Hal itu cukup membuatnya frustasi. Entah terkena angin apa, ia kembali bertanya, menyebutkan nama yang selama ini paling anti ia bawa ke permukaan, apalagi ke dalam pembicaraannya bersama Hana.

“Bara?”

Hana mengangguk pelan, dalam hatinya ia berkata, “Shoot, he knows me too well.

Di hati kecilnya, Baskara cukup tahu, memang hanya Bara yang bisa membuat Hana seperti itu.

“Bara kenapa?”

“Dia SMS aku.”

Bimbang memilih antara untuk terlalu peduli atau tidak sama sekali, akhirnya Baskara bertanya lagi, karena sulit baginya melihat Hana seperti itu. “SMS apa?”

“Dia marah, Bas. Dia marah aku pergi sama kamu.”

“Kamu cerita sama dia kalau kita liburan bareng?”

“Aku nggak cerita sebelumnya, untuk apa? Tapi tadi pagi tiba-tiba dia SMS aku, nanya lagi dimana. Terus aku jawab, dan dia marah. Aku nggak ngerti kenapa, aku nggak ngerti kenapa dia masih ngerasa berhak untuk marah sama aku. Kenapa?”

Air mata terlihat menggenangi bola mata Hana. Baskara tidak bertanya lebih lanjut, ia tak mau gadisnya menangis di hadapannya. Tangannya meraih kepala Hana dan menyandarkannya di pundaknya. Bibirnya mengecupnya pelan, yang akhirnya tenggelam dalam dekapannya. Sisa perjalanan pun mereka arungi dalam diam.

Baskara dan Hana beserta keempat temannya, Raina, Athar, Aluna, dan Firzi, memutuskan untuk menghabiskan liburan semester itu dengan berlibur ke Pulau Karimunjawa. Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya mereka menyantap makan siang dan beristirahat sejenak di cottage sebelum berangkat snorkelling.

Beruntung, mereka menginap selama dua malam di seafront cottage di sana. Baskara melamun seraya memandangi bentangan Laut Jawa di hadapannya, tidak menyadari perbincangan antara Athar dan Firzi yang duduk di sebelahnya. Suara keduanya hanya terdengar sayup-sayup di antara gambaran kejadian di kapal tadi bersama Hana. Lamunannya terhenti saat ia membalikkan badan karena mendengar suara Hana dari belakang. Gadisnya itu mengganti kaos dan jogger pants yang dipakainya dari semalam dengan swimsuit yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Hana mengenakan baju renang one piece yang bagian atasnya berwarna hijau neon, sementara bagian pinggang ke bawah merupakan celana ketat yang pendeknya sepaha, berwarna hitam. Baskara kehilangan kata-kata mendapati gadis pujaannya berpenampilan seperti itu. Setelah Hana berada di dekatnya, barulah ia menyadari bahwa bagian belakang baju renang yang Hana kenakan itu backless.

“Han, kamu nggak ada baju lain?”

“Ada. Kenapa, Bas?

“Nggak mau diganti aja, bajunya?”

“Lah kan mau berenang. Kenapa emangnya?”

“Ng… nggak tapi…” Baskara kembali kehilangan kata-kata.

Alih-alih memikirkan jawaban untuk Hana, ia meraih tangan Hana dan mengajaknya kembali ke cottage.

“Bas, kenapa sih?” Hana keheranan akan tingkah pacarnya itu.

“Aku suka lihat kamu pakai baju ini.” Baskara menghela napas panjang, lalu melanjutkan, “Tapi aku nggak mau orang lain ikutan suka lihat kamu pakai baju ini.”

Hana tersenyum geli melihat Baskara. “Kalau gitu aku dobel ya? Pakai kaos?”

“Kenapa nggak ganti kaos aja? Sama celana sekalian, atau legging.”

“Bas kan kita mau snorkelling, masa aku nggak pakai baju renang…”

Baskara menyerah, menatap gadisnya memasuki kamar tidur. Tak lama, Hana keluar dengan mengenakan loose t-shirt jenis favoritnya: crop top. Selera berpakaian Hana memang selalu membuat Baskara menggelengkan kepala, tak habis pikir. Namun biarlah, ia tidak mau berdebat lagi. Setidaknya, kaos putih bergaris-garis itu cukup menutupi sebagian besar punggung Hana.

Sehabis makan malam, mereka berenam berjalan kaki menyusuri jalan raya yang mengarah ke alun-alun. Cukup lama mereka duduk-duduk di rerumputan yang beralaskan terpal, sambil mencoba seluruh makanan yang dijajakan disana dan membicarakan kejadian di kelas semester kemarin —kebetulan mereka duduk di kelas ganjil bersama-sama. Malam semakin larut, keenamnya beranjak kembali ke cottage. Sesampainya mereka di cottage, Raina pamit untuk beristirahat duluan.

Langit malam bertabur bintang yang kerlipnya seakan ingin melawan sinar rembulan. Air laut beriak tenang, debur ombak terdengar pelan di kejauhan, seperti memanggil-manggil mereka untuk kembali merenanginya. Tanpa pikir panjang, Aluna dan Firzi segara masuk ke kamar masing-masing untuk berganti baju renang.

“Ikut, Thar?” Firzi bertanya.

“Nggak ah, gue males mandi lagi.” Athar berjalan menuju dapur dan menyiapkan kopi,  berniat untuk duduk-duduk di beranda depan pantai.

“Sekalian bikinin untuk saya ya, Thar.” Baskara nyengir, seraya menepuk pundak Athar.

“Buat Hana sekalian nggak?” Athar bertanya ke Baskara karena melihat Hana sudah berjalan memasuki kamar perempuan.

“Nggak. Dia nggak minum kopi.”

Hana yang mendengar percakapan itu, tersenyum. “He does know me too well…

Baskara dan Hana berjalan menyusuri bibir pantai, bergandengan tangan. Kaki mereka basah terkena air laut yang terkadang menggapai jari-jari kaki keduanya.

“Bintangnya banyak banget ya, Bas. I like it when their lights shining down on the sea, making it sparkling, as if there were diamonds. Kamu tahu nggak?”

“Mm hm?”

The stars and the sea, they both are my favourites.

Baskara tidak menjawab pernyataan Hana. Jemarinya memainkan jemari tangan Hana, menelusurinya hingga ke siku dan pundaknya. Kemudian ia menoleh menatap Hana, mendekatkan kepalanya. Jarak mereka belum pernah sedekat itu.

You are my favourite,” bisiknya pelan, lalu bibirnya menyentuh bibir Hana lembut.

To his surprise, Hana menangis. Gadisnya itu terpaku, tidak membalas ciumannya, namun tidak melepasnya pergi. Kebingungan, akhirnya Baskara merengkuh Hana, membenamkan kepalanya di sela-sela rambut Hana yang terurai. Degup jantung keduanya beradu dengan cepat.

“Hana… maaf,” hanya kata maaf yang mampu ia ucapkan, karena hanya satu hal yang tidak pernah Baskara inginkan, yaitu melihat gadisnya menangis di hadapannya, dan terlebih lagi, karena dirinya.

“Gilaa kemana aja, Bas, baru balik jam segini?”

“Pertanyaannya bukan kemana, Thar, tapi ngapain aja? Gue yakin nih anak berdua abis ngapa-ngapain.” Firzi menanggapi pertanyaan Athar bahkan sebelum Baskara sempat menjawabnya.

Baskara menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu, pertanda ia salah tingkah.

“Wah iya! Gimana-gimana? Berhasil nggak, Bas? Kesampean nggak lo, cium si Hana?” Tanya Athar bersemangat.

“Iya…”

Kedua temannya bersorak-sorai.

“Jadi gimana, Bas, rasanya ciuman?”

“Basah.” Jawab Baskara singkat.

Keduanya semakin terdengar bahagia, sampai menepuk-nepuk punggung Baskara, yang lebih terlihat seperti memukul.

“Tapi kok saya nggak berasa seneng ya?” Baskara berkata, tetapi tidak dihiraukan oleh Athar dan Firzi.

“Salut gue, Bas! Baru pertama kali udah main yang basah-basah aja lo!” Firzi berkata di sela gelak tawanya.

“Ng… Saya bingung, memangnya perempuan kalau dicium itu malah nangis?” Kata Baskara akhirnya, setelah kedua temannya itu berhasil mengendalikan excitement mereka.

“Hah?” Kali itu senyum keduanya hilang dan menatap Baskara heran.

Setelah Baskara menceritakan apa yang terjadi di pinggir pantai tadi antara dia dan Hana, firasatnya terbukti. Sepertinya apa yang ia alami tadi bukanlah suatu hal yang wajar, dan dirinya semakin was-was setelah mencurahkan isi hatinya ke Athar dan Firzi.

Malam itu adalah malam terakhir mereka di Pulau Karimunjawa. Keenamnya terlihat mengitari api unggun, menyantap makan malam seafood yang serba dipanggang di perapian. Setelahnya, mereka menikmati indahnya laut dan langit malam. Suara ombak berlari-lari di kejauhan. Baskara memainkan gitarnya sambil melantunkan lagu Yellow dari Coldplay.

Look at the stars, Look how they shine for you,
And everything you do, Yeah, they were all yellow.

I came along, I wrote a song for you,
And all the things you do, And it was called "Yellow".

So then I took my turn,
Oh what a thing to have done, And it was all yellow.

Your skin, Oh yeah your skin and bones,
Turn into something beautiful,
Do you know, You know I love you so, You know I love you so.

Hana berbaring di atas kain pantai yang dijadikan alas olehnya. Pandangan matanya menyapu kerlipnya bintang di atas sana. Terkadang ia bergumam pelan, menikmati lagu yang dibawakan Baskara. His voice always can soothe her, caressing her soul.

Lalu ia menyentuh pelan bibirnya, jantungnya terasa terhenti sejenak. Kurang dari 24 jam lalu, Baskara menciumnya. Entah apa yang Hana rasakan, hatinya berkecamuk. Semalaman ia tak bisa tidur, menangis dalam diam. Entah untuk apa air mata itu jatuh perlahan, namun ia pun tak kuasa untuk meredamnya.

Little did she know that tonight, as many nights before, he sings his heart out for her.

I swam across, I jumped across for you,
Oh what a thing to do. 'Cause you were all yellow,

I drew a line, I drew a line for you,
Oh what a thing to do, And it was all yellow.

Your skin, Oh yeah your skin and bones,
Turn into Something beautiful,
Do you know, For you I'd bleed myself dry, 
For you I'd bleed myself dry.

It's true, Look how they shine for you,

Look at the stars, Look how they shine for you,
And all the things that you do.

Setelah semua dibereskan, mereka bersiap-siap kembali ke cottage untuk packing, karena besok adalah hari terakhir mereka berada di Pulau Karimunjawa.

Baskara meraih tangan Hana, “Aku ingin bicara.”

Pertama kalinya dalam hari itu, Hana menatap matanya. Sudah seharian sikap Hana kepada Baskara seperti acuh tak acuh. Baskara mengamati kedua bola mata Hana, dan benar, ia merasa ada yang hilang dari sana. Tekadnya bulat sudah.

“Aku pikir ini karena sikapku kemarin malam. Tapi mungkin bukan.” Baskara menghela napas, lalu melanjutkan, “Sepertinya ini lebih dari itu, Hana.”

Hana tetap terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Sepertinya ia pun tahu pembicaraan itu mengarah kemana.

“Ada yang bilang, too much love will kill you. Tapi menurutku nggak gitu. Cinta tidak serendah itu. If too much love hurts you, you love the wrong person.”

Tidak mudah bagi Baskara untuk mengatakan hal itu ke Hana. Tidak mudah bagi Baskara untuk menuduh Hana adalah orang yang salah baginya.

“Jujur, Han, aku nggak pernah merasa sebahagia ini, seperti aku lagi sama kamu. Tapi di sisi lain, aku pun nggak pernah merasa sehancur ini. Bareng sama kamu… bikin aku senang, tapi juga bikin aku sedih. Aku sedih karena sampai detik ini pun, kamu nggak bisa sepenuhnya memandang aku. Seperti… seperti ada sosok lain yang kamu harapkan, dan itu bukan aku. Bersamaku mungkin bikin kamu merasa lebih baik, tapi aku lama-lama sadar kamu bukan Hana yang dulu, yang ceria, yang bahkan bisa bikin orang senang cuma karena kehadiran kamu. Kamu inget?”

“Apa?” Hanya sepenggal kata itu yang mampu Hana ucapkan, pikirannya tak sanggup menerima curahan hati Baskara selama ini. He has been so nice to her yet she is acting like a fool.

“Bagiku, sinarmu mengimbangi mentari…” Baskara menyebutkan sepenggal lirik favoritnya di lagu buatannya untuk Hana, yang sebenarnya merupakan lirik favorit Hana juga.

“Tapi sekarang nggak gitu, Han,” lanjutnya lagi, “Mungkin hanya Bara yang bisa memberikan itu buatmu.”

There. He said it.

“Bas? Kok Bara? Ng… nggak gitu…” Hana terbata-bata. “Aku nggak tahu apa yang aku rasain dari semalam, tapi bukan Bara. Bukan karena dia, Bas…  Maafin aku bikin kamu bingung, aku pun bingung sama sikapku sendiri. Aku, aku cuma lagi kepikiran banyak hal aja saat ini…”

“Hana, aku kenal kamu lebih dari kamu kenal dirimu sendiri.” Akhirnya Baskara menyunggingkan senyumnya. “Dan aku rasa, masih ada hal yang belum selesai di antara kalian.”

Baskara memeluk Hana, erat, as if he was saying goodbye. And he was. Ia berkata pelan di daun telinganya,

“Menurutku kamu harus bicara dengan Bara,” suaranya tercekat, “Tapi untuk kali ini, sepertinya aku nggak perlu menunggu kamu lagi…”

Berat bagi Baskara untuk melepas Hana pergi. Sudah 7 bulan belakangan mereka bersama, dan tidak ada hal yang membuat Baskara bahagia seperti di saat ia melihat gadis kesayangannya tersenyum, apalagi tertawa.

As for him in these past months, the most beautiful thing in life is to see her smile, and to know that he is the reason behind that smile. He just knew that the most painful thing is to see her cry, yet he has no power to make it go away.

“Aku minta maaf, Hana.”


Bandung, Desember 2011

Baskara dan Hana melambaikan tangan kepada keempat temannya. Athar akan mengantar Raina ke kosannya di Cisitu Baru. Sementara Aluna sudah dijemput oleh kakaknya di stasiun. Firzi pulang ke rumahnya di Buah Batu. Baskara dan Hana berencana menyantap sarapan bersama di Simpang Dago, di tukang bubur kesukaan mereka, Bubur AK. Mungkin ini akan menjadi terakhir kalinya mereka makan bersama, pikir Baskara, seraya mereka turun dari angkutan umum Dago-St. Hall.

“Han, mau aku antar?” Tanya Baskara.

Setelah pembicaraan mereka semalam, Baskara terus mendesak Hana untuk segera bertemu Bara. He thought it was the right thing to do. Hana hanya terdiam, dalam hati berpikir, “Who am I, deserve to be loved by someone kind like this?”

“Kalau kamu mau, dari sini kita ke kampus dulu, ambil motor. Setelah itu aku antar kamu ke kosan Bara,” lanjut Baskara.

“Nggak usah Bas, nanti kamu bolak-balik. Aku tinggal naik angkot ke atas. Aku mau istirahat dulu, nanti malam aja deh ketemu Bara.”

“Bara udah jawab SMS kamu?”

“Nggak, Bas. Belum. Tuh, SMS aja nggak dibales, gimana mau ketemu kan? Hehehe.”

Baskara tersenyum, tahu betul Hana berusaha menyembunyikan rasa sakit dan bingung di hatinya, yang sebenarnya dirasakan oleh Baskara juga.

Keduanya memakan bubur masing-masing, mencoba untuk bersikap biasa saja, seakan tidak ada rasa patah hati yang dirasakan. Mereka berbincang, mencoba mengingat-ingat momen-momen menarik dan lucu selama liburan mereka beberapa hari lalu itu. Sampai tiba bagi mereka berpisah jalan. Baskara mengusap kepala Hana sebelum ia menaiki angkutan Riung Dago yang akan membawanya ke Dago Atas.

“Mungkin ini yang akan bikin aku kangen kamu nantinya, Han…”

“Hmm?” Hana melontarkan pandangan tanya ke Baskara.

“Mengusap kepalamu.”

Hana salah tingkah dibuatnya, ia melambaikan tangan pada Baskara, seulas senyum menghiasi bibirnya. Biar bagaimanapun, ia bersyukur bisa dipertemukan dengan Baskara.

Actually, he let her go to see if she would hold on to him.

Baskara melepasnya pergi, berdiri seraya memandangi gadisnya hilang dari pandang matanya. Hatinya mencelos. Rasanya, tiap detak jantungnya membuat napasnya begitu berat.

Even so he believed that she would not.

Baskara akhirnya tersenyum, mencoba untuk ikhlas. “Cinta memang butuh pengorbanan,” pikirnya.

Pertengkaran Pertama

Jakarta, November 1988

Saat Fadli berulang tahun yang ke-27, Gamelia memberanikan diri untuk memberikan surprise ke kontrakannya. Biasanya, mereka merayakan ulang tahun dengan makan di luar, berdua ataupun bersama teman dan keluarga. Sudah beberapa bulan belakangan Gamelia belajar membuat kue sendiri, sekaligus belajar bagaimana cara menghias kue.

Sore itu di hari Sabtu, ia membuka pintu depan kontrakan Fadli dan Tony. Tony meminjamkan kunci cadangan kepadanya kemarin malam. Sehabis mengerlingkan matanya ke kaca depan, Gamelia tersenyum puas akan penampilannya. Di hari spesial itu, ia mengenakan dress merah selutut dengan aksen sabrina, dilengkapi dengan kalung-kalung batu dan manik-manik dengan warna-warna cerah. Rambutnya dibiarkan terurai, seperti yang Fadli selalu suka. Setelah mencopot clogs hitamnya dari kedua kakinya, Gamelia memasuki ruang tamu. Ia mengecek jam tangannya,

“Seharusnya Kak Fadli kembali sebentar lagi.”

Ia sudah hafal betul jadwal Fadli sehari-hari. Biasanya, Fadli menghabiskan Sabtu sore untuk bermain golf bersama Pak Iskandar di Senayan.

Mata Gamelia dengan cepat menyapu ruangan, mendapati tumpukan kado dan parsel di lantai di dekat meja kecil tempat Fadli biasanya menaruh kunci mobil, motor, dan surat-surat. Sebagian besar kado diberikan oleh keluarga dan teman-temannya, yang mayoritas sudah dikenal oleh Gamelia. Iya, setelah lima tahun bersama, Fadli dan Gamelia saling mengenal keluarga dan teman-teman masing-masing.

Ia melihat beberapa kado yang telah dibuka di meja tamu, salah satunya album New Kids On The Block, band asal Amerika Serikat yang juga ia suka. Terdapat pula film favorit Fadli, Catatan Si Boy. Gamelia tersenyum, mengingat setahun lalu, mereka menonton film itu berdua. Tahun ini sekuel dari film itu telah rilis, namun karena mereka sama-sama sibuk bekerja, sulit bagi Fadli dan Gamelia untuk meluangkan waktu dan menonton film di bioskop bersama. Gamelia berkata ke diri sendiri,

“Minggu depan aku harus nonton bareng.”

Lalu Gamelia menangkap satu nama yang familiar, dari Melati. Ia memberikan parsel berisi barang-barang mewah dengan warna senada. Memiliki pacar seperti Fadli dan sahabat seperti Vanny, membuat Gamelia paham akan barang-barang dari brand ternama. Gamelia memandangi jam tangan Patek Philippe Calatrava 3919, pulpen Montblanc yang digrafir dengan inisial nama Fadli, dan sapu tangan Ermenegildo Zegna, yang beberapa tahun belakangan memang sedang marak, karena di tahun 1970-1980an brand itu sedang melebarkan sayapnya secara internasional. Gamelia melihat sapu tangan itu juga dibordir dengan inisial nama Fadli.

“Siapa dia?”

Pertanyaan itu tidak terjawab sejak lima tahun silam. Kali ini Gamelia naik pitam. Awalnya ia merasa malu, sebagai pacar, Gamelia hanya mampu membelikan sepatu kulit keluaran lokal untuk Fadli bekerja.

Setelah berhasil lulus di tahun 1985, Fadli akhirnya diterima bekerja kantoran di sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang asuransi. Walaupun masih mengontrak, Fadli sedang menabung untuk membangun rumah sendiri di kawasan Bekasi. Sementara Gamelia berhasil lulus cepat setelah 3.5 tahun studi di FE. Sudah setahun lebih Gamelia bekerja sebagai auditor di salah satu kantor akuntan publik yang termasuk 8 besar di dunia.

Tak lama, terdengar suara pintu garasi dibuka dan mobil Fadli yang sudah dipakai selama dua tahun, Mazda Savanna RX-7 berwarna silver, memasuki garasi. Gamelia melihat sosoknya mendekati ruang tamu yang terlihat lewat pintu yang terbuka lebar. Fadli memakai sweater berwarna putih berpola geometris, celana jeans yang sudah belel, dan sepatu kets yang juga berwarna putih. Ia tersenyum lebar mendapati Gamelia disana. Sembari menanggalkan aviator Rayban-nya dari batang hidungnya, tangannya terbentang lebar. Namun mood Gamelia sudah rusak berkat Melati dan barang-barang itu.

Gamelia marah, tetapi tetap menjaga kata-katanya yang terdengar bergetar. Ia meminta penjelasan. Namun Fadli tidak merasa bersalah. Teman, hanya teman, katanya selalu.

“Teman gak akan hadiahin barang seharga juta-jutaan ke Kakak.”

“Ya emang kenapa kalo dia mampu? Udah biasa kok.”

Dan kata-katanya hanya semakin membuat Gamelia sakit hati. Darahnya serasa naik ke kepala dan ia pening menahan emosinya. Entah berapa lama mereka berdebat. Mungkin selain amarah, Gamelia pun diliputi rasa cemburu. Kata-kata Vanny tentang Fadli kembali terngiang di telinganya, Casanova. Setelah lima tahun kebersamaan mereka, image Fadli yang satu itu tidak lah sirna. Kali itu Gamelia merasa cukup sudah, lama sekali ia memendam perasaan insecure mengenai hal itu. Vanny benar tentang Fadli, he is not the man she can handle. Dan lima tahun lalu, sahabatnya memang sudah memperingatkannya.

“Aku nggak suka, kalau Kakak bilang cuma teman, buat apa dia kasih-kasih hadiah begini?”

Lagi-lagi, kata-kata itu. Semakin lama nada bicara Gamelia semakin tinggi.

“Aku kan cuma nerima. Kenapa kamu jadi marah? Seakan-akan ini salahku.”

Gamelia pun tersadar, perdebatan ini tidak akan ada habisnya. Jangankan meminta maaf, Fadli sama sekali tidak merasa bersalah, as always. Bersamanya selama 5 tahun membuat Gamelia tahu betul, ia tidak bisa mengandalkan Fadli berperan sebagai sosok yang comforting.

“Yaudah kalo gitu. Selamat ulang tahun, Kak. Itu kuenya. Minta aja Melati pasangin lilinnya.”

“Kenapa Melati?” Alih-alih sadar bahwa pacarnya itu sedang gusar, Fadli malah menanyakan hal yang tidak relevan.

“Beli Patek Philippe aja dia mampu. Kenapa gak beli tiket pesawat aja, terbang sekalian ke Jakarta.”

“Dia di London, Gam. Lagi kuliah.” Lagi-lagi, tidak relevan.

“Oh, how great.” Kata Gamelia mencemooh, “Seakan-akan aku perlu tau?” tambahnya dalam hati kecilnya.

Lalu Gamelia pun segera mengambil tasnya, meninggalkan Fadli dan keluar rumah.

“Kamu mau kemana?” Fadli kebingungan atas kelakuan Gamelia.

“Aku mau pulang, tiba-tiba pusing.” Ucapnya lirih.

Sebenarnya Gamelia berharap Fadli mengejarnya, merengkuhnya, tanpa perlu kata maaf, karena ia tahu, selain meminta-minta, Fadli terlalu gengsi untuk meminta maaf. Ia ingin Fadli membawanya kembali ke rumah itu, meniup lilin bersama-sama, dan ingin mendengar komentar Fadli akan kue buatannya.

Gamelia menghapus air matanya yang tak kunjung habis. Saat itu ia sudah berada di perempatan Johar Baru. Kepalanya menoleh ke belakang, sosok Fadli yang diharapkannya tak kunjung terlihat.

Menghela napasnya, Gamelia mencegat taksi di pinggir jalan. Sepanjang perjalanan, hadiah dari Melati dan pertengkarannya dengan Fadli terulang dengan sangat jelas. Akhirnya ia sadar, mereka tidak cocok bersama.


Jakarta, Februari 1989

Sudah tiga bulan dilalui oleh Fadli tanpa Gamelia. Gadis kesayangannya itu tidak dapat dihubungi. Beberapa kali ia ingin mampir ke rumah Gamelia, tapi ia masih enggan. Fadli tidak pernah nyaman datang ke kediamannya di Kebon Jeruk. Mungkin terlalu ramai, atau terlalu hangat, dimana keduanya tidak biasa dihadapi oleh Fadli.

Awalnya Fadli merasa baik-baik saja. Namun ini sudah bulan ketiga dan akhirnya Fadli menyadari, ia stress. Fadli merasa kehilangan sosok Gamelia dan paham bahwa ia tak bisa jauh darinya. Biar bagaimanapun, berkat Gamelia lah ia bisa menjadi dirinya yang sekarang. Mulai dari lulus kuliah hingga memiliki pekerjaan yang cukup mapan.

Suatu hari sepulang kerja, Fadli membulatkan tekad untuk ke Kebon Jeruk. Semalaman ia menunggu di luar pagar, tetapi sosok yang dinantikannya tak kunjung datang.

“Mungkin dinas, ada audit di luar kota.” Pikir Fadli.

Di hari lain, akhirnya Fadli mampir ke rumah Gamelia. Sayangnya mereka belum berjodoh, Gamelia juga sedang bertugas di luar kota.

Tanpa sepengetahuan Fadli, pada akhir tahun kemarin, Gamelia memutuskan untuk ngekos di dekat kantor. Tidak jarang ia pulang larut, bahkan lewat tengah malam, karena tuntutan pekerjaannya yang bisa dibilang memiliki workload tinggi itu.

“Nak, kamu gak mau kasih tau Fadli? Dari seminggu sekali, sekarang tiap hari Fadli mampir ke rumah.” Tanya ibunya.

“Nggak, Bu. Gamelia udah gak mau lagi sama dia.”

“Ibu bingung harus bicara apa.”

“Diemin aja.”

“Hus, gak boleh begitu. Inget kan kata Bapak? Silaturahmi itu penting.”

Gamelia hanya mengangguk ogah-ogahan. Tidak hanya sikap Fadli yang satu itu yang menjadi masalah. Untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius, butuh persetujuan keluarga. Gamelia tahu betul, sampai sekarang, mereka belum mendapatkan lampu hijau dari keluarga Iskandar.  Dalam hatinya ia tahu, dua orang yang sangatlah berbeda memang tidak mungkin ditakdirkan untuk bersama. Dan siapa lah dia, berani-beraninya melawan takdir?


Jakarta, Maret 1989

“Vanny, kenapa pas kayak gini lo malah gak ada?!” Fadli frustasi.

Selepas lulus sarjana di tahun 1987, Vanny melanjutkan studi master ke New York, Amerika Serikat. Fadli kesal, teman dekatnya tidak berfaedah di kali itu.

Setelah lama menimbang-nimbang, Fadli memutuskan untuk giat bekerja dan mulai membangun sampai rumahnya di Bekasi dapat berdiri. Fadli menata ulang hidupnya, ia ingin menjadi pribadi yang lebih baik, demi Gamelia. Fadli kembali giat berolahraga dan mendekatkan diri pada Yang Kuasa, tak lupa menyebut nama Gamelia di setiap panjatan doanya. Setelah dirasa mampu lahir batin, ia berencana akan datang kembali ke rumah Gamelia.

I will respectfully ask her father for his blessing. And I will ask for her hand in marriage.” Ujarnya mantap.

Bandung Malam Itu

Bintaro, Mei 2012

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Aku terduduk diam di ruang tunggu travel, melirik ke jam tanganku yang saat ini menunjukkan pukul 19:45. Sekitar lima belas menit lagi, travel akan berangkat dari Bintaro dan akan tiba di Bandung kira-kira pukul 22:30, itu pun kalau jalanan tidak macet.

“Arya lagi sakit pula, pulang sama siapa ya nanti dari travel?” Aku bertanya-tanya dalam hati sambil memutar otak, siapakah gerangan yang bisa menyelamatkan aku malam ini dari kemungkinan pulang sendirian.

Arya, pacarku itu memang sulit untuk diandalkan pada saat-saat seperti ini. Belakangan ini aku merasa ada yang berbeda dengan sikapnya. Namun malam ini, aku lebih memilih untuk tidak meributkan hal yang sepele seperti asumsi-asumsi di kepalaku ini, terlebih lagi dia memang sedang sakit. Aku harus bisa memahaminya, being a good girlfriend that I have always been.

Kemudian aku tersenyum tiba-tiba, “Bagas pasti bisa deh jemput gue di travel.”

Aku langsung merogoh ponsel dari kantong skinny jeans-ku dan mengetik pesan teks untuk Bagas.

Gaaas, lo free ga malem ini?
Oi, Na. Kenapa?

Aku mendapati pesan balasan dari Bagas secepat kilat.

Mau minta tolong. Travel gue malem banget nih sampe Bandung.
Nggak berani balik sendiri ke kosan. Tapi kalo lo ga bisa, yaudah gpp
ntar gue cari taksi aja. Hehe...

Aku mengetik balasanku untuknya. Aku terlalu mengenal Bagas untuk mengetahui bahwa dia paling tidak bisa berkata ‘tidak’ ke aku. Dan yak, benar saja, psikologi terbalik yang aku lancarkan pun berhasil. He took the bait.

Kalo bisa naksi dari awal, ngapain nanya gue? Kan jadinya gue tau
lo pulang malem. Yaudah, tapi nunggu agak lama nggak apa-apa
ya? Pasti gue jemput kok. Kabarin nanti kalo udah deket.

Aku tersenyum dan menghembuskan napas lega saat membaca balasan dari Bagas di layar ponselku. Cukup lega, tahu kalau aku tidak akan pulang sendirian malam ini. Aku kirim pesan balasan untuknya sebelum aku menyimpan kembali ponselku di saku celana.

Siap!

Bandung, Mei 2012

Beruntungnya, perjalanan malam ini cukup lancar dan travel tiba di Bandung pun sesuai dengan jadwal. Saat travel memasuki gerbang Tol Pasteur, aku memberitahu Bagas agar dia bisa bersiap-siap untuk menjemputku.

10 menit berlalu, dan aku masih duduk di ruang tunggu travel menanti Bagas datang.

15 menit berlalu, Bagas masih belum juga sampai.

30 menit berlalu. Aku mulai membatin dalam hatiku, “Bagas pasti dateng kok. He never fails me, right?”

Tepat saat itu juga, aku bisa melihat motor Bagas memasuki pelataran parkir pool travel. Aku langsung beranjak dari dudukku dan bergegas menghampirinya.

708617937593806060516

“Hai, Princess! Maaf banget ya, lama…” Gue menyapa Airina saat dia menghampiri gue di parkiran pool travel.

“Iya, nggak apa-apa.” Jawab Airina sambil memberikan senyum yang dia paksakan.

Dari raut wajahnya, gue tahu she’s not in the good mood. Mungkin karena menunggu gue yang terlalu lama menjemputnya di travel. Namun gue rasa, ada hal lain yang bikin dia jadi sebete atau sesedih ini, entah itu apa gue nggak tahu.

“Lo darimana sih, Gas? Lo sibuk ya sebenernya? Kenapa sih bukan bilang nggak bisa aja? Kan tau gitu gue nggak ngerepotin lo, pulang sendiri aja.” Airina menyerocos tiada henti di hadapan gue.

Dan seperti biasa, gue hanya bisa tersenyum mendapati dia mengomel seperti ini.

“Justru karena gue tau, kalau gue bilang gue lagi sibuk, lo pasti nggak akan mau gue jemput.”

Gue terlalu mengenal Airina untuk mengetahui bahwa jika dia sudah kirim chat sampai huruf vokalnya ada 3 seperti tadi, itu artinya emergency. Gue nggak punya pilihan lain, selain membalas pesan teksnya secepat kilat. Dan disinilah gue sekarang, mendapati teman tapi ngarep yang sangat gue khawatirkan ini mengomel karena gue sudah bela-belain untuk jemput dia di tengah hal penting lainnya yang sedang gue kerjakan.

“Tuh, kan! Emang lo lagi ngapain sih tadi? Gue udah curiga deh. Dari kosan lo kesini kan tinggal ngesot doang…”

“Udah udah, naek dulu. Ntar di jalan gue ceritain.” Gue memberikan helm ke tangan Airina yang kemudian segera dia pakai.

Setelah gue tancap gas, gue pun memulai pembicaraan. “Janji ya jangan kaget, jangan marah kalau gue kasih tau, ya?”

“Like I have a choice?!” Airina menjawab, nada suaranya masih terdengar sedikit kesal.

“Gue lagi bimbingan tadi, di rumah dosen gue.” Iya, bulan-bulan ini adalah masa-masa kritis, kami sebagai mahasiswa tingkat akhir sibuk mengejar deadline Tugas Akhir (TA) agar bisa lulus tepat waktu.

“What?!” Jawab Airina tidak percaya.

“Iya, beneran. Makanya lama jemputnya, soalnya rumah dosen gue di Lembang,” gue menambahkan sambil tertawa kecil.

“Whaaat?” Jawab Airina sungguh tidak percaya, setengah berteriak menyaingi bisingnya suara angin Bandung malam ini.

“Kenapa sih, lo nggak bilang? Sebel deh gue. Kan gue jadi nggak enak ganggu lo gini.” Airina menepuk helm gue dari belakang.

“Ya menurut lo, gue tega ngebiarin lo pulang jam segini? Sendirian? Naik taksi? Kecuali gue nggak tau dari awal… Lagian kemana sih cowok lo? Nggak bisa apa jemput ceweknya?” Gue menolehkan sedikit kepala gue ke belakang agar bisa melihat raut wajahnya.

“Udah deh, nggak usah bahas Arya. Dia lagi sakit katanya, jadi nggak bisa jemput gue. Sorry ya, malah jadi lo yang repot deh…”

Raut wajah itu muncul lagi. Oh, jadi Arya rupanya yang bikin dia jadi sedih seperti ini.

“Nggak apa-apa juga kok, Na. Sekalian gue refreshing, suntuk juga seharian ngerjain TA. Tapi, bilangin lah sama Arya, kalo bisanya cuma sia-siain lo kaya gini, mending putus aja lah. Mending lo sama gue aja lah. Jelas, dijagain.”

Airina sedikit mencubit punggung gue dari belakang. “Jangan ngomong gitu dong, Gas… Dia sakit. Yaudahlah,” jawab Airina pasrah.

Gue merasakan Airina menyandarkan kepalanya di punggung gue dan setengah berbisik dia berkata, “I don’t know what I’d do without you, Gas.”

Gue tidak menjawabnya lagi. Sampai kapan sih, Airina akan clueless seperti ini terus? Nggak sadar akan rasa sayang dan perhatian gue yang begitu besar untuk dia? Yang selama ini setengah mati gue simpan dalam-dalam. Belakangan, rasa sayang itu berontak, dan beberapa kali gue teasing mengenai hal ini ke Airina. Apalagi di saat kelakuan pacarnya, Arya, tidak dapat diandalkan. Dan itu kerap terjadi. Seperti pada malam ini.

“Gas, gue traktir yuk, sekalian temenin gue makan. Mau nggak?” Airina memecah kesunyian dan membuyarkan gue dari lamunan.

“Eh?” Jawab gue heran. “Udah jam segini lo masih mau makan?”

“Iya, laper. Sekalian samperin si Reza sama Aluna, yuk? Nggak apa-apa kan?”

Your wish is my command. Oke!”

Gue yang sudah mengarahkan motor dari Dipatiukur menuju Dago Asri–daerah kosannya Airina–pun akhirnya memutar balik, menuju Gampoeng Aceh sesuai permintaan Airina.

signature_poe3mitl90b5p2etv7

Sepanjang perjalanan dari travel ke Gampoeng Aceh, aku sungguh merasa bersalah karena telah merepotkan Bagas malam ini. Kenapa sih, dia segitunya tidak bisa berkata ‘tidak’ ke aku? Pantas saja, tadi aku harus menunggu lama karena dari rumah dosennya di Lembang ke pool travel di Dipatiukur memakan waktu sekitar 30 menit. Kadang aku berpikir, kenapa Arya tidak bisa berkorban untukku seperti yang Bagas selalu lakukan?

Aku dan Bagas tiba di Gampoeng Aceh, dan mendapati Reza–teman sepermainanku dan Bagas sedari SMA serta Aluna–sahabatku di Teknik Lingkungan, tengah berbincang asyik menunggu kedatangan kami. Beberapa bulan lalu, aku kasihan melihat Aluna yang sedang putus cinta. Dan akhirnya memutuskan untuk mengenalkannya kepada Reza. Sebenarnya, Reza, Aluna, dan aku adalah mahasiswa di fakultas yang sama, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL). Sayangnya, kami terpisah di kelas yang berbeda-beda sewaktu tingkat pertama dulu yang merupakan Tahap Persiapan Bersama (TPB), jadi kami tidak saling mengenal satu sama lain. Di tingkat kedua, Reza masuk Teknik Sipil, sementara aku dan Aluna masuk Teknik Lingkungan. Ternyata, semenjak TPB, Reza diam-diam sering memperhatikan Aluna. Begitu Reza mengetahui bahwa aku dan Aluna masuk ke jurusan yang sama, dia langsung memintaku untuk mengenalkannya dengan Aluna. Setelah pendekatan yang cukup singkat itu, ternyata Aluna dan Reza merasa cocok dan memutuskan untuk memulai hubungan mereka.

“Hai Luna!” Aku menyapanya riang yang dijawab dengan tawa renyah Aluna.

“Eh, udah pernah ketemu Bagas belum? Kenalin nih…” Kataku lagi, sambil menunjuk Bagas.

Bagas mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Aluna, “Halo! Bagas,” sapanya.

“Luna,” jawabnya sambil menjabat tangan Bagas.

“Darimana lo berdua malem-malem gini? Ck, ck, memang dasar anak muda!” Reza menggoda aku dan Bagas.

“Biasalah, tuan putri, kayak nggak tau aja lo.” Jawab Bagas ringan.

Saat aku dan Bagas sedang melihat-lihat menu untuk mengorder pesanan kami, handphone Bagas berbunyi. Ternyata, dosen pembimbingnya menelepon dan meminta Bagas segera kembali ke rumahnya untuk merevisi beberapa hal. Setelah menitipkan aku kepada Reza untuk diantarkan pulang sampai ke kosan, Bagas kemudian berpamitan dengan kami semua.

708617937593806060516

Gue kemudian melajukan motor mengarungi jalanan Bandung, menuju Lembang, menyayangkan kesempatan untuk makan bersama gadis kecil yang berhasil mencuri perhatian gue itu sedari SMA.

“Padahal udah lama banget nggak ketemu dia, kangen juga. Lain kali gue harus ngajak dia ketemuan lagi.”

Hey, Angel

Bandung, April 2011

There exists a melody
That just might change your mind
Oh, if only I knew the key
To sing to make you mine
And then I saw it on your keyboard
And you saw it on my sleeve
I never knew a heart existed
Outside of make believe
Then I saw it on your keyboard
I knew at least that I might have a chance
To catch a shooting star

Hana ikut berdendang mendengarkan lagu yang dibawakan di panggung. Diandra merasa familiar dengan lagu itu, yang memang dinyanyikan oleh band kesukaan Hana semenjak SMA. Namun Felisha terlihat mengernyitkan dahi.

“Lagu apa sih, Han?” Tanya Felisha akhirnya.

“Hellogoodbye,” jawab Hana di sela-sela nyanyiannya.

Malam itu sedang dilangsungkan acara Wisnite April. Di tengah-tengah panggung ada Baskara yang memegang peran sebagai vokalis, sambil memainkan gitarnya. Band yang tampil saat itu merupakan band lintas angkatan. Dari angkatan mereka selain Baskara ada Ucup yang memainkan gitar. Fadil mengambil posisi sebagai drummer dan Ipang sebagai bassist, keduanya adalah angkatan 2009. Ivan yang bermain keyboard, merupakan wisudawan dari angkatan 2006.

There exists a star above
That always steals my stare
And there exists a star on stage
That never seems to care
And then I saw it on your keyboard
And you saw it in my eyes
I didn't mean to scare you
You just seem really nice
And when I saw it on your keyboard
I knew at least I might have a chance
To catch a shooting star
There exists a melody
That just might change your mind
Oh, if only I knew the key
To sing to make you mine

Diandra tersenyum menyimak lagu yang dibawakan oleh Baskara dengan sungguh-sungguh. Ia menerka-nerka, alih-alih untuk wisudawan, sepertinya lagu itu ditujukan untuk Hana seorang. As she can see that his eyes is fixated on her, all night long. Dalam hatinya ia yakin betul, pasti Hana tidaklah tahu-menahu bahwa lagu itu sengaja dipersembahkan oleh Baskara untuk dirinya.

“Suara Ibas bagus juga ya.”

“Banget.”

Jawaban Hana membuat Diandra tersenyum, ia mulai memancing.

“Kayaknya Ibas nyanyi pake perasaan banget tuh… Anaknya baik lagi, Han. Lo suka?”

“Suka lah, lo tau sendiri gue suka nyanyi, kan enak kalo ada yang nemenin juga, apalagi kalo pake gitar. Sedikit-banyak selera musik kita mirip soalnya.”

Maksud hati ingin menanyakan apakah sahabatnya ini suka pada Baskara, tidak hanya musikalitasnya, tetapi Hana malah salah paham.

“Han, dengerin lagu Raisa yang Terjebak Nostalgia deh, cocok buat lo.” Katanya sembari tertawa kecil, menyebutkan lagu dari penyanyi baru yang belakangan ini menjadi favorit mereka berdua.

“Gue nggak gitu suka yang itu, terlalu sedih ah, Ndra.”

“Buat lo dan Ibas, Han, maksud gue.”

“Kok Ibas? Bukannya Bara?”

Diandra gemas, mengurungkan niat untuk memperpanjang omongannya, sahabatnya yang satu ini memang benar-benar oblivious.

Di penghujung acara, Baskara dan Hana terlihat bersama, menduduki kursi di meja bundar wisudawan yang telah pulang. Keduanya berhadapan.

“Bas, lo ganteng deh pake blazer itu. Tumben.” Kata Hana, tertawa.

Tawanya membuat Baskara salah tingkah, bingung mau menjawab apa. Apalagi baginya, gadis di hadapannya tampil luar biasa cantik malam itu.

She is the star that always steals my stare…” Pikirannya menerawang, memandangi Hana seraya tersenyum.


Bandung, Mei 2011

Baskara mengajak Hana ke Kantin Barak yang sudah tutup pada sore hari. Tidak ada siapa-siapa disana selain mereka berdua. Baskara duduk di samping Hana. Kemudian ia memberikan handphone dan earphone-nya. Kali itu, ia memberikan lagu buatannya sendiri kepada Hana. Hatinya semrawut. Pikirannya kacau balau. Jantungnya berdegup kencang. Rasanya 2 menit yang sama dengan durasi lagunya itu terasa seperti 2 tahun lamanya. Baskara memosisikan diri menghadap Hana yang masih menunduk. Setelah Hana mengangkat wajahnya, dengan lembut Baskara memegang lengan atas Hana dengan kedua tangannya.

“Semua orang tau, yang bodoh sekalipun, apa perasaanku ke kamu, Hana…”

Baskara menatapnya dalam-dalam, panas, menusuk jantung hati Hana yang dingin. Mungkin lagu yang baru saja diperdengarkan oleh Baskara telah menjalankan tugasnya, memberikan ruang bagi kehangatan untuk merayapi belenggu hati Hana yang selama ini menutup diri pada arti kata cinta. Di hatinya hanya ada Bara, cintanya sedari SMA. Namun kisah mereka berakhir 8 bulan silam. Dan Hana tidak akan membiarkannya kandas, lepas termakan oleh waktu. Ia yakin jodoh tak kemana, seyakin ia berjodoh dengan Bara.

Namun lagu dari Baskara meruntuhkan semuanya. Pertama kalinya, Hana membalas tatapannya, mengamati binar mata itu dengan sungguh-sungguh. Hana melihat ada ketulusan, dan itu membuat dirinya sedih. Sejak kapan? Sejak kapan Baskara menyimpan rasa padanya?

“Bas… Maaf.” Hanya itu kata yang mampu Hana ucapkan. Ia menangis, merasa bodoh akan sikapnya terhadap Baskara selama ini.

“Saya tunggu. Saya tunggu sampai kamu bisa lepas dari dia. Dan saya akan selalu ada disini.”

Lagu dari Baskara menduduki posisi pertama di iTunes-nya, 65 plays dalam hitungan jam, mengalahkan lagu-lagu dari band favoritnya, Hellogoodbye. Hana memutarnya  berulang-ulang sampai ia tertidur pulas.

Pagi ini, ada kah kau mengeja namaku?
Seperti aku mengujar namamu, dalam tiap hembus nafasku
Akan kah ku sibak teka-teki hatimu?
Seperti kau bisa membaca hatiku, layaknya sebuah buku
Aku tahu ini cinta
Karena bagiku, sinarmu mengimbangi mentari
Aku tahu ini cinta
Di mataku, parasmu bagai semburat lembayung senja, menari-nari
Aku tahu ini cinta
Di saat aku terjatuh dalam jujurmu, di setiap kata-kata
Walau ku sadari, kini diriku belum bermakna
Dan satu pagi nanti, akan kah kau mengeja namaku?

Pukul 02:18 dini hari, suara Baskara masih mengisi keheningan malam, mengantarkannya ke mimpi indah. Mungkin pada akhirnya tembok pertahanannya runtuh, ia jatuh cinta.


Bogor, Mei 2011

Hari itu mahasiswa tingkat tiga program studi Teknik Lingkungan mengadakan kunjungan lapangan ke PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI) sebagai bagian dari mata kuliah Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Para mahasiswa baru saja mendapatkan briefing dari pihak PPLI. Setelahnya, mereka akan kembali masuk ke dalam bis. Kunjungan lapangan ke tempat penyimpanan dan pengolahan limbah tidak boleh dilakukan dengan berjalan kaki, apalagi melihat atau menyentuh langsung. Karena PPLI merupakan tempat dengan paparan B3 yang tinggi, peraturan harus dilaksanakan dengan ketat.

Memberanikan diri, Baskara mengayunkan langkahnya menuju Hana yang sedang berdiri bergerombol dengan para sahabatnya.

“Saya nggak bisa tidur semalam,” bisiknya di telinga Hana.

Hana menoleh, mendapati dirinya tersenyum melihat sosok Baskara.

“Pantes aja muka lo acak-acakan,” katanya setengah tertawa, kemudian melanjutkan, “Tidur gue nyenyak semalem, thanks to you and your song.”

Sambil berbincang-bincang, Hana dan Baskara kemudian bersama-sama menaiki bis. Airina yang terkadang ikut berbincang dengan mereka, tak sengaja duduk di antara Hana dan Baskara.

“Hadeuh… Kenapa gue harus telat masuk bis?” Gerutunya kesal, merasa sial karena terpaksa duduk di tengah-tengah mereka.

Ia mulai merasa risih karena tidak paham dengan apa yang mereka perbincangkan, roaming.

Airina pun mengeluh, “Lo mau pindah ke tengah aja nggak?” Sambil melirik sahabatnya yang duduk di dekat jendela.

“Kenapa? Bukannya dari tadi juga lo ikut ngobrol?” Tanya Hana tak berdosa.

“Nggak deh, gue nggak mau ganggu.” Jawab Airina, semakin jengkel dengan Hana, memang terkadang sahabatnya ini oblivious, sampai-sampai ia gemas dibuatnya.

Lalu Hana dan Airina pun bertukar posisi. Hana sekarang berada di antara Baskara dan Airina. Ia tersenyum geli menyaksikan tingkah sahabatnya, kemudian berkata saat melihat Airina siap-siap untuk tidur karena ia sudah menutup mukanya dengan bantal.

“Kok ngambek sih? Hahaha kenapa deh? Jangan tidur wey, ini masih kunjungan!” Hana mencolek pundak Airina.

Airina tidak membalas, tapi ia pun tak tertidur. Pandangannya tertuju pada sisi kanan bis, melihat tempat penyimpanan limbah B3 di ujung matanya. Namun telinganya siaga, sudah siap untuk diam-diam mendengarkan pembicaraan Hana dan Baskara.

By the way, suara lo bagus deh, nggak mau jadi penyanyi aja?” Hana bertanya.

“Oh ya? Makasih. Mungkin karena saya nyanyinya dari hati…” Goda Baskara, meringis.

“Bisa aja lo!” Jawabnya diikuti oleh tawa.

“Jadi kamu suka? Laguku?” Baskara bertanya pelan-pelan.

“Suka, suka banget. Semalam gue dengerin sampe ketiduran hehe, makasih ya!”

“Sebenernya, saya ada satu lagu lagi yang mau dikasih ke kamu.”

Airina pun tersentak kaget. “Wah, Ibas bikinin Hana lagu? Niat juga dia. Mungkin ini udah waktunya Hana move on dari Bara…” Pikirnya dalam hati. Seulas senyum pun menghiasi bibirnya.


Puncak, Mei 2011

Supir bis memperlambat laju kendaraan dan menepi di sebuah restoran susu olahan yang terkenal di daerah Puncak. Baskara beranjak dari kursinya dan memberikan jalan agar Hana bisa keluar terlebih dahulu.

“Silakan, tuan putri,” katanya kepada Hana, layaknya pelayan yang mempersilakan tamu agung masuk.

Hana tersenyum riang dan melangkahkan kakinya keluar bis. Airina melempar pandang mencemooh ke arah Baskara, sambil bergumam dalam hatinya, “Dasar, madly in love banget sih ni anak berdua.”

Kemudian ia bermaksud beranjak dari duduknya dan keluar bis, tetapi Baskara menghalanginya,

“Eits, ntar dulu! Saya cuma mau kasih lewat Hana aja, sori ya.”

Airina memukul pundak Baskara, “Dasar!” Lalu keduanya tertawa.

Saat memasuki restoran, Hana memisahkan diri dari Baskara dan berbaur dengan Airina, Diandra, Raina, dan Felisha. Mereka duduk di meja dengan pemandangan gunung di depannya. Sebenarnya, keempat sahabatnya gemas ingin berbicara perihal Baskara. Namun mereka tahu persis, Hana bukanlah orang yang nyaman untuk bicara dari hati ke hati. Jika mereka mengutarakan pendapat mereka, apalagi menyarankan Hana untuk mempertimbangkan Baskara sebagai pengganti Bara, Hana pasti malah menjauhkan diri dari Baskara. Dan mereka tidak mau itu terjadi. Seperti Felisha, Airina dan Raina juga mengikrarkan diri sebagai ‘team Ibas’. Lain halnya dengan Diandra, sebagai orang yang terdekat dengan Hana, ia tahu betul, tidak mudah bagi sahabatnya itu untuk menggantikan posisi Bara di singgasana hatinya.

Sekembalinya ke bis, posisi duduk mereka tidak berubah. Airina duduk di pinggir, dekat jendela. Hana ada di sebelahnya dan Baskara ada di sisi kiri Hana. Felisha, Raina, dan Diandra duduk persis di belakang mereka bertiga. Tak lama setelah bis melaju, Diandra tertidur, meninggalkan dua temannya yang berbisik-bisik, tentu saja membicarakan Hana dan Baskara.

“Fel, ya ampun Hana ngobrol sama Ibas gitu banget…”

“Sshhh, udah biarin aja. Itu Hana lagi mengeluarkan aura kewanitaannya.”

Suara Hana dan Baskara memang cukup jelas terdengar oleh mereka berdua.

“Bas, gue nggak bisa bales lagu lo dengan lagu buatan sendiri. Lo tau sendiri kan gue sama sekali nggak bisa main alat musik.”

“Tapi suaramu bagus, Han.”

“Hahaha, ah elo bisa aja! By the way, nih, dengerin deh.” Hana memasangkan earphone di telinga mereka, satu di telinga kanan Baskara dan satu lagi di telinga kiri Hana.

I don’t know why, but your song reminds me of this one. And I just want you to hear it,” lanjutnya.

Segala bujuk rayumu buat sejuta ragu
Jantungku pun memacu, wow wow wow wow wow
Disini ku berdiri, mencoba mengerti arti hadirmu
Mengerti sinar di wajahmu, mengerti tenangnya jiwaku
Akhirnya ku mengerti, diriku memang untuk kau miliki
Bagai mentari pagi menyapa diri lewat hangatnya tatapmu
Kini mimpi di indahku tlah terwujud, jagalah binar cintaku

Begitulah penggalan lagu yang diperdengarkan oleh Hana untuk Baskara, Arti Hadirmu, yang dinyanyikan oleh Audy dan cukup terkenal di masa SMA dulu. Bukan, bukan lagi Terjebak Nostalgia, Hana tersenyum di hatinya. Entah berapa kali ia dengarkan lagu dari Raisa, penyanyi yang sedang naik daun, semenjak Diandra mengutarakan bahwa lagu itu cocok untuk dirinya dan Baskara, sampai akhirnya baru semalam ia paham. Ia paham bahwa keberadaan Baskara dan cintanya selama ini tidak dapat dirasakan olehnya, karena masih ada bayang-bayang Bara di hatinya, tak pernah berubah. Namun di hari itu, Hana sudah bertekad untuk memulai lembaran baru, dan memberikan kesempatan pada Baskara.

“Han, apa maksudnya? Kamu… Ini… Serius?” Katanya terbata-bata.

Jantung Baskara berdebar kencang. Dirinya tidak siap mendapati jawaban atas segala pertanyaannya selama ini.

“Gue baru sadar, Bas, gue bodoh banget selama ini. I take you for granted.”

“Artinya apa?”

“Lo kenapa sih gue lagi serius gini lo malah bikin ilfeel! Cari sendiri! Males ah jelasinnya hahaha.”

Baskara buru-buru mengetik kata-kata itu di layar handphone-nya, lalu menekan kata ‘search’ di halaman Google for mobile sebelum matanya kembali beralih ke Hana.

“Memangnya saya masuk kriteria kamu, Han?”

“He eh,” jawab Hana.

Smart?

Yes.”

Fun?

Yes.”

Gentle?

Absolutely.

Baskara menghitung ketiganya dengan jemarinya dan Hana mengangguk di setiap kata yang disebut olehnya, membuatnya tersenyum lebar.

Kemudian Hana berkata dengan pelan, “Bas, sori ya butuh waktu lama buat gue untuk sadar.”

Sontak Baskara ingin memeluknya saat itu juga.

Lagi-lagi, Raina merasa gerah. “Ini bahasannya personal banget deh, Fel, gue malu sendiri dengernya.”

“Udah lah, kita dengerin aja.”

Airina menengok ke belakang, “Ada yang mau tuker duduk sama gue nggak? Please…?

“Ke depan aja lo,” Felisha menengadahkan kepala ke arah depan bis, tempat Aluna dan Firzi duduk. Keduanya sedang dimabuk cinta.

“Ya kali gue nyamukin orang yang lagi asoy geboy pacaran! Sama aja!” Gerutu Airina kesal, bimbang memilih antara tidur atau tetap mendengarkan pembicaraan intim dua orang yang sedang jatuh cinta di sebelahnya.

Tak lama kemudian, Diandra yang ternyata sudah terbangun, terdengar berbicara, “Gue mual deh, mau muntah.”

Felisha dan Raina sibuk mencari kantung plastik dan tissue basah di kursi belakang.

“Ndra, please, tahan dulu.” Raina memohon.

Diandra muntah setelah Felisha memberikan kantung plastik kepadanya. Felisha memijit-mijit leher belakang Diandra. Raina memilih untuk tidak menyaksikan kejadian itu. Airina bangun dari duduknya, berlutut dan menghadapkan badannya ke belakang. Lalu ia berkata ke Diandra,

“Ndra, lo muntah karena jalanannya jelek apa karena dengerin dua kutu kupret menyatakan cinta?”

Hana dan Baskara ikut menoleh. Hana tertawa, sementara Baskara menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal itu, salah tingkah.

Maybe… a little bit of both,” jawab Diandra sambil menyengir kuda.


Bandung, Mei 2011

“Han, ke kosan saya dulu yuk, ambil CD buatmu.”

Baskara berkata kepada Hana sekembalinya mahasiswa TL 2008 di Bandung. Kemudian ia melanjutkan ke Airina, Felisha, dan Diandra, ketiga sahabat Hana yang biasanya pulang bersama.

“Hana sama saya ya, pinjam sebentar.” Baskara berkata seraya tersenyum.

“Lama juga gapapa, Bas.” Airina menggoda mereka.

Bye! Jangan lupa pakai pengaman! Stay safe!” Felisha meneriaki keduanya yang berjalan bergandengan ke arah parkiran motor Seni Rupa, lalu kata-katanya disambut oleh gelak tawa para sahabatnya.

“Ya Tuhan, mimpi apa saya semalam…” Baskara berpikir dalam hati, melirik gadis yang kini menjadi miliknya itu.

Hana pun ikut tertawa karena ulah Felisha. “Bas, jangan dipikirin ya, temen-temen gue gitu emang kalo becanda, nggak pake otak.”

Sore itu Baskara langsung mengantarkan Hana ke kosannya di Dago Asri. Di depan pintu pagar kosan, Baskara memberanikan diri mengatakan hal yang selama perjalanan pulang dari Puncak telah mengganggu pikirannya.

“Hana, saya ingin kamu lebih spesial dari teman-teman yang lain. Soalnya cara bicara saya ke kamu, sama seperti saya ke yang lainnya. Saya… ingin kita bicara pakai aku-kamu, boleh?”

Hana tersenyum, “Kenapa sih Ibas selalu semanis ini memperlakukanku?”, pikirnya dalam hati. Sebagai jawaban, ia mengangguk-angguk.

“Mulai besok ya, atau malam ini?” Tanya Baskara lagi.

Hana mulai tertawa kecil di hadapan Baskara, membuatnya jadi bingung.

“Kenapa harus minta izin segala sih, Bas? Mulai sekarang juga nggak apa-apa.”

Jawaban Hana mengukir senyuman di wajah Baskara.

“Dan satu hal lagi… Saya tunggu kamu untuk manja. Saya tau kamu orang yang mandiri, tapi saya ingin kamu manja ke saya. Boleh? Ya?”

Lagi-lagi Hana tertawa kecil, sampai-sampai Baskara gemas dibuatnya. Hana juga mengiyakan permintaan Baskara yang satu itu.

“Sampai jumpa besok, Hana.”

Detik selanjutnya, Baskara pun mendaratkan kecupan di kening Hana.

“Duileee yang lagi jatuh cintaaaaa.”

Kata-kata itu yang didengar oleh Hana setelah ia membuka pagar kosannya. Ternyata Felisha. Ia dan Diandra sedang duduk-duduk di teras depan bersama Ibu Kos mereka.

Fuck, lo liat? Apa denger?”

“Semuanya. Hahahahaha.”

“Anjir.”

“Hana atulah, ngomong teh dijaga, anak perempuan… Astaghfirullah.” Ibu Kos mereka pun mengelus dada, tetapi ikut tertawa.

“Meuni kasep pisaaan. Kapan-kapan kenalin lah, ke Ibu. Ajak makan bareng.”

Hana merasa salah tingkah karena tertangkap basah oleh kedua sahabatnya, terlebih lagi oleh Ibu Kos mereka. Namun ia tak ambil pusing. Tidak mau berlarut-larut dalam pembicaraan yang pastinya akan memojokkannya itu, Hana melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamar kosnya, tidak sabar ingin memutar CD yang Baskara berikan padanya.

Hana memasukkan CD yang didapatnya dari Baskara ke CD drive MacBook kesayangannya. Lagu baru, kali ini berbahasa inggris dan lebih ceria, walaupun masih terdengar mellow. Lagunya juga akustik, Baskara bernyanyi merdu dengan iringan gitarnya, tetapi Hana dapat mendengar ada satu pemain gitar lainnya. Mungkin Ucup, pikirnya, salah satu orang yang piawai dalam bermain musik di angkatannya, Dwisahasrastama. Lagi-lagi, lagu baru dari Baskara menjadi pengantar tidur bagi Hana di malam itu.

Hey, Angel
Do you know the reasons why, I look up to you standing afar? 
‘Cause you’re full of mystery, and no one understands who you are 
‘Cause you are well-rounded, yet always manage to get me surprised
Hey, Angel
Do you know that even sunrise are willing to trade place with you? 
‘Cause sometimes you look so beautiful, thus nature would be envious 
‘Cause sometimes people want to be with you, 
But not me, ‘Cause I always want to
Hey, Angel
When your cheek turns cherry-red, you’re messing with my head 
And when I see your bare face, I gotta embrace 
You
When I see your bare face, I gotta embrace you 
When I see your bare face, I gotta embrace you 
‘Cause I’m falling for you 
For you
When I hear your beautiful voice, I came to life 
I know you’re my queen by choice, making me feel alive

 —

It’s always been him

Bandung, Februari 2011

Hana tidak ingat hari itu tanggal berapa. Bahkan ia tak ingat bagaimana ia bisa berada di ruangan itu, duduk di bangku itu. Hana melirik jam tangannya, pukul 10 malam. Di sebelahnya ada Felisha, semangat mencatat, duduknya resah, pertanda sahabatnya itu sedang excited. Di sisi lainnya ada Diandra, sibuk bermain dengan handphone-nya. Hana mengarahkan pandangannya ke depan, sudah terlalu lama ia menatap langit-langit, sampai-sampai tak mengerti apa yang terjadi di sekitarnya. Baru saat itu ia sadari, ia sedang berada di tengah-tengah Musyawarah Kerja (Muker) Badan Pengurus (BP) HMTL periode 2011/2012. Firzi ada di depan kelas, bersama satu tim BP-nya, yang beberapa bulan belakangan ia pilih berdasarkan kompetensi dan rekomendasi dari teman-teman maupun massa himpunan.

Tak lama setelah Departemen Keprofesian menyelesaikan presentasinya, kepanitiaan inti Kuliah Lapangan (Kulap) Dwisahasrastama dipanggil maju ke depan, diminta untuk memaparkan rencana program kerja yang bisa dibilang cukup besar itu. Biasanya, Kulap akan dilangsungkan di ujung kepengurusan BP, yaitu di awal tahun. Peserta yang merangkap sebagai panita Kulap adalah angkatan yang menjabat saat itu, yang tak lain adalah Dwisahasrastama.

Diandra menyenggol lengan Hana yang sedari tadi dipakai untuk memangku wajahnya termangu.

“Oy, maju lo!”

Hana berpikir keras, “Ah, iya. Mereka milih gue jadi koordinator acara.” Lalu melangkahkan kakinya ke depan, lemas.

Babak belur. Mungkin itu satu-satunya hal yang pantas untuk menggambarkan presentasi malam itu, terutama untuk panitia inti Kulap. Mereka diserang habis-habisan oleh massa himpunan, dan yang paling parah oleh Mahasiswa Tingkat Akhir (Swasta). Bagaimana tidak, ini kali pertama ada angkatan yang menyebut tujuan Kulap ke luar negeri. Tidak jauh memang, hanya ke Batam dan Singapura. Itu pun berkat dukungan dan dorongan dari beberapa dosen yang membicarakan hal ini ke angkatan mereka. Tapi tetap saja, keinginan mereka harus kukuh, itikad mereka harus kuat, rencana pun harus matang, karena itulah massa himpunan dan Swasta datang untuk memberikan kritik yang membangun bagi mereka. Sayangnya, kebanyakan dari mereka tidak siap. Hana tidak siap. It caught her off guard.

Di ujung meja, ada Baskara yang sedari tadi memperhatikannya. Baskara juga merupakan panitia inti Kulap, ia terpilih sebagai Korlap. Mungkin karena angkatannya merasa ia sukses memikul jabatan itu saat Wisuda April 2010 silam. Yang jelas ia bersyukur, bisa bekerja berdampingan bersama Hana, sekali lagi. Tetapi ia tahu, ada yang salah dengan Hana malam ini. Seusai Muker selesai, Baskara menghampiri Felisha.

“Fel, Hana kenapa?”

“Yah lo kayak gak tau aja.” Felisha menjawabnya, enteng.

“Hana bawa mobil?” Nada bicara Baskara terdengar semakin khawatir, “Saya rasa dia gak bisa nyetir malam ini. Saya yang nyetirin kalian aja ya, sampai Dago Asri.”

“Terus nanti lo pulang gimana? Motor lo?”

“Saya tinggal di kampus.”

“Ga usah lah, repot, Bas. Gue aja yang nyetir,” dengan sigap Felisha mengambil kunci mobil di kantung jaket Hana.

Seperti biasa, Hana hanya menerawang, pandangannya jauh. Sebenarnya, pemandangan itu bukanlah hal yang biasa bagi teman-temannya. Hanya dalam lima bulan belakangan, Hana seperti ada dan tiada. Ia ada, tapi pikirannya kemana-mana. Hal itu cukup membuat sahabatnya frustasi, seperti Felisha contohnya, yang melampiaskan rasa itu jadi rasa benci kepada Bara. Bagaimana tidak, setelah pacaran selama lebih dari tiga tahun, Hana dan Bara memutuskan hubungannya lima bulan lalu. Tidak ada yang tahu persisnya. Tidak ada yang berani mendesak Hana untuk bercerita. Mereka tahu, she likes to keep her emotions in her head. Dan setiap mendengar kata Bara, dengan cepat air mata akan menggenangi kedua bola matanya.

“Bara. It’s always been him,” pikiran Baskara mengikuti jejak langkah Hana yang berjalan menuju ke lapangan parkir Seni Rupa. Baskara berpikir harus berbuat apa. Berharap suatu saat nanti, Hana bisa melihat sosoknya, dan siap menerima cintanya.


Bandung, Maret 2011

“Han, bangun!” Suara Diandra terdengar keras di telinga Hana, membuatnya menarik selimutnya lagi.

Felisha terlihat duduk di ruang tengah, tentu saja sudah siap. Ia sedang membuka catatan pelajaran, mencoba mengulang dan mempersiapkan materi yang akan dikerjakan. Tadinya ia simpatik pada Hana, tapi ini sudah enam bulan, dan ia tidak akan membiarkan sahabatnya mati dengan menyalahkan cinta. Felisha menaiki tangga ke lantai dua, lalu berkata pada Diandra,

“Ndra, lo sarapan aja dulu. Biar ini anak gue yang urusin.”

Beruntungnya, Hana, Diandra, dan Felisha tinggal di satu kosan yang sama di Dago Asri. Dari mereka bertiga, Hana yang paling susah bangun tidur. Apalagi jika ada tragedi putus cinta, Hana memilih untuk tidak bangun dan bolos kuliah.

“Han, mau sampe kapan sih lo?” Nada Felisha terdengar gusar.

“Gue sakit, Fel, gak enak badan.” Suara Hana terdengar lemas.

“Apa yang sakit?”

“Disini. Dada gue sesek.” Hana meringis sambil mengusap dadanya, mukanya terlihat kesakitan.

Felisha tahu, sahabatnya hanya sakit hati, bukan sakit jantung. Karena itu, ia hanya membalasnya sambil tertawa.

“Udah deh, alesan aja lo! Buru bangun, kalo gak kita telat! Gue males naik ojek. Nanti rambut gue berantakan.” Felisha menyibak selimut Hana dan melemparnya ke lantai.

Felisha dan Diandra tahu, Baskara menyimpan rasa pada Hana. Terkadang, Hana tidak bisa tidur di malam hari. Namun kedua sahabatnya bukanlah night person, tidak ada yang bisa menemani Hana berlarut-larut dalam kegalauannya. Felisha yang memiliki kamar persis di sebelah Hana, diam-diam suka mendengar suara Hana berbicara pada seorang lelaki. Ia tahu persis itu bukan suara Bara. Dalam hatinya ia berharap, itu Baskara.

“Gue team Ibas.” Begitulah ikrar Felisha ke teman-temannya. Ibas merupakan nama panggilan Baskara.

“Gue siapa aja lah, tapi gue prefer Bara kalo Hana emang masih sayang sama dia.” Diandra angkat bicara.

Tentu saja saat itu Hana tidak tahu-menahu, bahwa para sahabatnya yang sayang padanya ini, membicarakan dirinya di belakang.

“Emang Ibas suka sama Hana?” tanya Aluna, yang hanya dibalas dengan cemoohan teman-temannya.

“Ibas sering tau ngobrol di Skype sama Hana.” Airina bicara pelan-pelan.

“Lo tau darimana deh?” Tanya Diandra.

“Ibas curhat sama gue kalo dia lagi deketin Hana. Nah suatu hari dia bilang ke gue, nyuruh gue install Skype di laptop, karena dia jarang liat hp kalo di kosan.”

“Kenapa?” Ketiganya bertanya dalam waktu bersamaan.

“Nah gue juga tanya Ibas, kenapa? Dia jawab, karena kalo di kosan, saya suka Skype sama Hana. Biar sekalian aja cerita sama kamu, jadi gak perlu di dua tempat.”

Felisha teringat suara sayup-sayup di malam hari, yang terkadang memang diiringi suara gitar. Ia tahu Baskara piawai dalam bermain gitar. Felisha tersenyum senang. Ia rasa, Baskara adalah orang yang cocok untuk Hana.

“Terus, terus?” Lagi-lagi, bersamaan.

“Dia bilang responnya baik.”

“Baik apanya sih, gue rasa Ibas ngigo deh. Hana kayak batu gitu belakangan ini.” Kata Diandra sinis, tak percaya.

“Ya mungkin aja kan? Siapa tau dia lebih alive kalo sama Ibas. Lo liat sendiri kalo mereka lagi ngobrol, kayak… kayak…”

Like there is a chemistry between them.” Felisha menyelesaikan kalimat Airina, “I see it as well,” tambahnya, tersenyum lebar.

“Han, halo? Denger gak?”

“Oit, Bas. Denger.”

“Video kamu gak ada.”

“Oh iya sebentar, gue pindah ke kasur dulu. Hai!”

Minimal tiga kali seminggu, Baskara dan Hana menghabiskan malam mereka melalui Skype. Dimana yang empat harinya, kalau tidak diisi dengan rapat Kulap, mereka akan makan malam bersama. Biasanya, saat akhir pekan, Baskara dan Hana bersama teman-teman Dwisahasrastama akan pergi karaoke semalaman atau menonton film di bioskop. Hari-hari Baskara diisi dengan kegiatan bersama gadis impiannya. Sayangnya, bagi Hana, semua hanyalah kegiatan yang memang harus ia lakukan, sebagai distraksi pikirannya dari Bara, dan juga, perasaannya.

Bagi Hana, memiliki Baskara di sisinya sangatlah comforting. Hana seperti menemukan belahan dirinya yang lain. Hana merasa banyak kemiripan dirinya dan Baskara. Hana tak pernah perlu menjelaskan apa yang ia pikirkan dengan lengkap dan apa yang ia rasakan dengan jelas, karena Baskara selalu tahu persis. Entah bagaimana, di mata Hana, Baskara adalah an open book, yang dapat ia baca dengan jelas. Dan menurut Hana, Baskara pun merasakan hal yang sama. They could even finish each other’s sentences. Terkadang, yang mereka lakukan hanyalah saling tatap, membiarkan mata mereka berbicara.

Hana pernah berkata, “Bas, I guess you are the boy version of me.”

Di beberapa malam, Hana tidak dapat tertidur. Dan Baskara selalu ada disana, bernyanyi dengan gitarnya, bercerita tentang kota tercintanya, Yogyakarta, sampai Hana tertidur pulas. Di malam lainnya, banyak sekali yang mereka bicarakan, mulai dari masa kecil, keluarga, buku favorit, penyanyi favorit, namun tidak tentang cinta. Baskara tidak mau membicarakan tentang Bara. Ia ingin Hana lupa akan nama itu, walaupun hampir pasti tidak mungkin. Pernah mereka membicarakan lagu favorit, Hana sangatlah suka band asal Amerika Serikat, Hellogoodbye, dan lagu kesukaannya adalah ‘Oh, It is love’. Saat Baskara memutarkan lagu itu di playlist laptopnya, raut wajah Hana berubah.

Oh, it is love from the first time I set my eyes upon yours,
Thinking, “Oh, is it love?”
Oh, dear, It’s been hardly a moment and you are already missed
There is still a bit of your skin that I’ve yet to have kissed
Oh say please do not go
But you know, oh, you know that I must
Oh say I love you so
But you know, oh, you know you can trust
We’ll be holding hands once again
All our broken plans I will mend
I will hold you tight so you know
It is love from the first time I pressed my lips against yours
Thinking, “Oh, is it love?”

Hana mencari-cari handphone miliknya. Kemudian saat ia berhasil menemukannya, di layar itu tidak ada apa-apa. Hatinya mencelos, ia pikir Bara meneleponnya. Frustasi, Hana membenamkan kepalanya ke bantal. Baskara yang melihat seluruh kejadian itu pun tersadar. Ternyata, lagu itu merupakan ringtone Bara di handphone Hana.

Rasa cemburu merayapi dirinya kembali, sama seperti beberapa bulan belakangan, sama seperti setahun yang lalu. “Bara. Lagi-lagi dia. It’s always been him.”


Bandung, April 2011

Baskara mengajak Hana makan malam, makan tengah malam, lebih tepatnya. Malam itu, rapat panitia inti Kulap berlangsung selama berjam-jam, dan mereka belum sempat makan berat. Baskara mengajak Hana ke Setiabudi. Mereka makan nasi goreng di warung kesukaan Hana, Nasi Goreng AEPS, yang ternyata adalah kependekan dari Asik Enak Pas Sedapnya. Karena porsinya yang besar, Hana meminta untuk berbagi bersama Baskara, yang tentu saja diiyakan olehnya.

“Kapan lagi makan sepiring berdua? Kayak orang pacaran…” Baskara berangan-angan.

Setelahnya, Baskara mengajak Hana menyantap Surabi Enhaii. Dan lagi-lagi, sepiring berdua. Baskara senang, tak sengaja ia menggapai tangan Hana, menyentuhnya lembut. Kaget, Hana menarik tangannya. Lalu ia menundukkan kepalanya, lesu.

“Han, maaf… Saya gak maksud.”

It’s always been him.” Sedih, Baskara mengulangi kata-kata itu dalam hatinya.

“Iya gapapa, Bas.” Senyum Hana terlihat dipaksakan, lalu ia meminta Baskara untuk mengantarnya pulang.

Berbeda dari awal sewaktu mereka berangkat ke Setiabudi yang diiringi oleh obrolan dan canda tawa, kali ini motor Baskara melaju cepat membelah jalan malam, diselimuti oleh kesunyian dan suara hati masing-masing yang teredam. Tak lama terdengar suara petir, lalu tiba-tiba hujan turun dengan deras. Baskara menepikan motornya di persimpangan Cihampelas.

“Tunggu reda dulu ya, Han. Terlalu deras, nanti kamu basah kuyup.”

“Iya.”

Suara guntur menggelegar, mengikuti kilat yang menyambar langit hitam Bandung malam itu, hujan semakin deras. Tempat mereka berteduh pun semakin lama semakin basah terkena tampias air hujan.

“Han, pindah yuk, kesana?” Baskara menunjuk warung yang sudah tutup, terletak 10 meter di depan mereka.

Hana mengangguk. Baskara meraih tangannya, menghitung sampai tiga, lalu mereka berlari menerobos derasnya hujan sambil tertawa. Sesampainya di tempat berteduh, Hana dan Baskara mulai dapat mengobrol dengan santai, ceria seperti biasa. Mungkin hujan yang membuat rasa tak nyaman yang tadinya dirasakan oleh mereka, luntur. Baju keduanya basah karena air hujan. Dan kali itu, Hana tidak melepaskan genggaman tangannya.

And their paths will be intertwined

Bandung, Oktober 2009

Sudah turun-temurun, angkatan termuda di Teknik Lingkungan (TL) selalu menjadi angkatan yang akan menjalankan kepanitiaan acara wisuda. Kali ini, Dwisahasrastama-lah yang bertugas sebagai panitia acara wisuda bagi para senior di TL. Wisuda Oktober adalah wisuda perdana mereka menjadi panitia.

Baskara terpukau melihat penampilan teman-teman seangkatannya yang turut serta menari Ratoh Duek pada Wisuda Night (Wisnite) Oktober. Matanya tertuju pada Hana. Ia tahu, Hana memiliki andil besar dalam penampilan ini. Hana adalah anggota divisi acara yang ditunjuk sebagai penanggung jawab performance oleh dirinya sendiri, yang menjabat sebagai ketua divisi. Entah kenapa ia memilih Hana, padahal setahun lalu, ia bisa mengernyitkan dahi jika teringat akan pandangannya tentang Hana.

Baskara tersenyum akan kenangan yang melintasi pikirannya. Mereka satu kelas selama Tahap Persiapan Bersama (TPB), yang merupakan tingkat pertama di ITB sebelum mereka dijuruskan ke program studi beberapa bulan yang lalu. Baskara selalu duduk di sayap kiri kelas, sementara Hana selalu di sebelah kanan. Kelas FTSL itu selalu penuh di bagian tengah dan kiri, tetapi tidak ada yang berani duduk di sayap kanan kelas, yang anehnya, hanya ditempati oleh Hana dan teman-teman mainnya.

Kata-kata Baskara kembali terngiang, “Mungkin terlalu wah, mungkin terlalu lancang.”

Yang jelas, Hana dan teman-temannya sangatlah superior di kelas, tentu saja tanpa mereka sadari. Mereka aktif, banyak bertanya, tetapi juga banyak bercanda. Sekilas, gerombolan itu terlihat seperti sekumpulan anak-anak bengal: nakal dan suka mengganggu. Sampai-sampai satu kelas memberikan mereka julukan, Geng Nero, yaitu ‘neko-neko dikeroyok’. Nama itu diambil dari nama perkumpulan yang sedang naik daun di media nasional, tentu saja bukan karena image yang baik, dan ada berita menyangkut kekerasan atau bullying tentang geng itu. Dan pada suatu sore, ada salah satu teman sekelas mereka, bertanya kepada Hana,

“Pertemanan kalian itu pertemanan yang saling menjatuhkan ya?” Yang hanya dijawab oleh tawa yang berkepanjangan oleh Hana, dan pada akhirnya, oleh teman-temannya juga.

Namun kalau ditanya masalah nilai, mereka lah yang memiliki nilai paling tinggi. Karena itu juga Baskara lebih memilih untuk menjaga jarak dengan Hana dan teman-temannya, ia masih merasa berbeda dunia.

Setelah TPB, mahasiswa FTSL akan memilih prioritas di antara tiga program studi, yaitu Teknik Sipil, Teknik Lingkungan, dan Teknik Kelautan. Sekarang, Baskara dan Hana sama-sama masuk program studi TL dan tak sengaja, mereka tergabung dalam satu kelompok pada ospek jurusan Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL). Awalnya, Baskara masih merasa enggan untuk dekat dengan Hana, tetapi sekarang ia melihat citra Hana dari sudut pandang yang berbeda. Hana ternyata tidak hanya gaul, berisik, dan pintar. Ada sisi lain dari diri Hana yang membuat ia tertarik, mungkin ketulusannya, mungkin sikapnya yang tidak mudah stress ditempa oleh tugas-tugas dan keinginan panitia, mungkin juga karena kepiawaiannya dalam membuat suasana jadi hangat, entahlah. Apa pun itu, Baskara merasa tidak salah pilih menunjuk Hana menjadi penanggung jawab performance di Wisnite Oktober.

Berangkat dari sanalah, Baskara semakin tertarik dengan Hana. Mereka jadi sering bertukar pikiran,

“Hana pendengar yang baik, dan Hana membuatku jadi pendengar yang baik,” batinnya tersenyum.

“Bas, bisa gak sih lo ngomong jangan aku-kamu gitu? Di Jakarta, aku-kamu tuh cuma dipake sama orang yang pacaran! Dan gue males deh dapetin kesan itu dari lo.”

Hana pernah melontarkan hal itu ke Baskara. Baskara yang terkenal mudah tersentil dan gampang emosi, tidak marah mendengarkan kata-kata itu terucap dari mulut Hana. Ia hanya tertawa. Temannya yang satu ini memang unik, dan ia nyaman setiap mendapati keberadaan Hana di sampingnya.

“Hana orangnya asik, baik, dan aku suka etos kerjanya. Mungkin rasa hangat ini wajar, dan akan ada untuk gadis mana pun yang dekat denganku.”

Saat itu, Baskara masih belum merasakan asmara yang diam-diam datang merayapi perasaannya.


Bandung, April 2010

Di kesempatan kedua bagi Dwisahasrastama menjadi panitia wisuda, Baskara kini mengambil andil sebagai Koordinator Lapangan (Korlap). Ia berpasangan dengan Gita, Koordinator Non-Lapangan (Kornonlap). Keduanya persis di bawah pengarahan ketua panita wisuda, Ucup. Baskara merasa senang bisa bekerja dengan Gita, yang juga perempuan dan sama asiknya dengan Hana. Namun, kehangatan yang ia rasakan saat bersama Hana tidak kembali merayapi ruang hatinya. Saat itu ia sadar, Hana bukanlah gadis kebanyakan di mata Baskara. Malam itu matanya terpaku pada Hana.

Setelah acara selesai, seperti biasa, Dwisahasrastama mengadakan rapat evaluasi di tempat, bersama dengan penanggung jawab wisuda dari HMTL. Acara wisuda kali itu dapat dibilang sukses, lebih baik dari acara sebelumnya di bulan Oktober. Ucup bangga, merasa puas dengan kinerja yang diberikan oleh angkatannya. Rasa terima kasihnya yang terbesar ia sampaikan pada Baskara dan Gita, yang entah sejak kapan, keduanya dielu-elukan sebagai pasangan yang serasi oleh angkatan mereka, bahkan oleh massa himpunan dan wisudawan. Gita tersipu malu, melihat Baskara yang juga tersenyum. Namun ia tahu, senyuman Baskara tidak pernah tertuju padanya. Gita yang mengamati Baskara sepanjang malam, paham betul bahwa pandangannya hanya terkunci pada Hana. Saat itu pun ia sadar, rasa sukanya yang baru tumbuh ini tidak dapat berbalas.

Baskara buru-buru menghampiri Hana seusai rapat evaluasi, hanya untuk mendapati gadis impiannya berlari-lari kecil ke pintu masuk Aula Timur. Baskara diam-diam mengikuti Hana. Di dekat meja penerima tamu ada sosok lelaki, memakai sweater berwarna hijau tua, menyandarkan tubuhnya ke dinding aula. Hana setengah berteriak memanggil sosok itu, senyumnya mengembang lebar, tangannya terbentang seperti meminta pelukan. Kelakuannya itu hanya dibalas dengan senyuman kecil. Lalu sang lelaki mengacak-acak rambutnya.

“Jangan ah, malu.” Bara, nama lelaki itu, terdengar berkata.

Lalu Baskara tersadar, bahwa Hana memiliki Bara, pacarnya sedari SMA. Seulas senyum yang tadinya menghiasi wajah Baskara pun sirna.


Bandung, Juli 2010

Lagi-lagi, malam itu mata Baskara mengikuti langkah Hana kemana pun ia pergi. Bagi Baskara, acara wisuda merupakan acara yang paling ia suka, karena gadis pemangku hatinya itu akan tampil jauh lebih cantik dari sehari-hari. Bagaimana tidak, pada hari-hari kuliah Hana biasanya mengenakan kaos, celana jeans serta sneakers, tanpa make-up di wajahnya. Padahal, sudah hal yang sangat wajar bagi mahasiswi TL setidaknya untuk memoleskan sedikit pewarna bibir dan bedak di wajah mereka. Lain halnya dengan Wisnite, kaos dan celana jeans ditanggalkan oleh Hana. Pada acara-acara tertentu seperti wisuda, Hana lebih memilih untuk dress-up sesuai dengan tema wisuda saat itu. Hal itulah yang sangat Baskara nantikan setiap Wisnite. Seperti sekarang, sneakers Hana diganti dengan sepatu kesayangannya, simple pumps 70 mm Loubutin berwarna hitam. Ia mengenakan blazer dan rok dengan warna senada, loose top berwarna krem, dan scarf yang bercorak merah, agar complimentary dengan red soles sepatunya. Karena tema wisuda Juli 2010 adalah Leaving On A Jetplane, maka panitia laki-laki berpenampilan seperti pilot dan yang perempuan seperti pramugari.

Tak kuasa selalu melihatnya dari jauh, malam itu Baskara mendatangi Hana.

“Banyak yang bilang hari ini Felisha terlihat sangat menarik,” katanya seraya tersenyum, kepalanya mendekati gadis impiannya, matanya menatap Hana lembut. Kemudian ia melanjutkan dengan pelan,

“Tapi di mata saya, kamu yang paling cantik malam ini.”

Hana membalasnya dengan senyuman. Manis, sampai-sampai Baskara ingin mencicipi senyuman manisnya itu.