Another year has passed.

Tahun ini banyak banget hal terjadi yang ngasih pembelajaran tersendiri untuk setiap momennya. Alhamdulillah, at the age of (almost) 28, I finally got things figured out. Tahun ini belajar untuk ngurus diri sendiri dan less dependent sama orang lain, belajar masak, dan belajar let go of the people that once meant the most in my life. Tahun ini survived kuliah master dengan segala drama ups and downs nya dan resmi lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. As a bonus, tahun ini juga dapet pekerjaan di institusi yang ada dalam list prioritas pekerjaan idaman, right away setelah lulus kuliah.

Tahun ini juga jadi tahun ter-mobile for the history of my entire existence in this world keknya. Berpindah lokasi dari satu kota ke kota lain, satu negara ke negara lain, dan moving in-moving out sampai 4x, in order to settle down. Life has always been in motions.

Dan di penghujung tahun ini juga, I found him.

Satu per satu, dengan kuasa-Nya, semua urusan duniawi gue terselesaikan pada waktunya.

Thank you 2017, you’ve been so amazing for me this whole year. Alhamdulillah. Now on to another chapter. Hopefully next year everything will be much much better. Amen!

Stay, stay, stay
I’ve been lovin’ you for quite some time, time, time
You think that it’s funny when I’m mad, mad, mad
But I think that it’s best if we both stay, stay, stay, stay
 
You took the time to memorize me
My fears, my hopes, and dreams
I just like hangin’ out with you, all the time
All those times that you didn’t leave
It’s been occurring to me I’d like to hang out with you, for my whole life
 
Stay, and I’ll be loving you for quite some time
No one else is going to love me, when I get mad, mad mad
So I think that it’s best if we both stay, stay, stay, stay, stay, stay
Taylor Swift – Stay

M: Maaf yaa aku manja, jangan sebel…

H: Nggak kok, aku sukaaa. Masih batas wajar juga…

Sampai beberapa hari kemudian di parkiran.

M: Pakein dooong (sambil nyengir ke si doi yang nyodorin helm di tangan nya)

H: Ckckck, udah kayak punya adek baru tau ga sih gue rasanya (sambil ngegerutu tapi cekikikan)

It’s too late to back off baby, sorry :p

Sebenarnya, tulisan ini orginally intended to be published on Cerita Perempuan. Dan terima kasih banyak untuk Kak Asih yang sudah berbaik hati mengedit dan publish cerita gue. Please kindly read the full story of Go Big or Go Home? yaa. Tapi, berkat dorongan teman-teman terdekat, akhirnya gue tergoda juga buat tetep share the original story nya (yang lengkap dengan bumbu-bumbu kalau kata mereka sih) di sini. So, here it is.


Cerita ini mungkin berbeda dari cerita-cerita yang sering kali aku tulis di personal blog-ku, ataupun curhatan colongan yang sering aku lontarkan di beberapa akun social media-ku. Butuh waktu yang cukup lama untuk memproses semua hal yang terjadi belakangan ini, sampai akhirnya aku mampu merangkai kata dan tulisan ini pun rampung juga.

Semua berawal dari keputusanku yang cukup impulsif untuk melanjutkan studi keluar negeri. Kenapa harus keluar negeri? Iya, karena saat itu, aku sangat pusing menghadapi sekian masalah di hadapanku, dan aku pikir, melarikan diri keluar negeri could be a fresh start for me. Saat itu aku jobless. Akhir tahun 2014, kondisi oil and gas mulai menurun, dan aku yang bekerja sebagai karyawan outsourcing di salah satu perusahaan gas milik negara harus di-release karena perusahaan sedang menghemat pengeluaran dan kontrak aku tidak bisa diperpanjang. Aku ini bisa dibilang cukup picky dalam memilih pekerjaan. Alhasil, hampir setengah tahun aku menganggur, dan masih belum juga menemukan pekerjaan yang cocok menurut standarku. Kisah cintaku pun bisa dibilang cukup menyedihkan. Bagaimana tidak? My boyfriend of 3 years was cheating on me, dan akhir tahun itu juga dia menikah dengan selingkuhannya. Sementara itu, laki-laki yang sedang dekat denganku pun sepertinya mempermainkan perasaanku. Dia adalah sahabatku sedari SMA, yang pada akhirnya menyatakan perasaan yang ia simpan kepadaku selama bertahun-tahun ini. Namun, di saat aku mulai membuka diri untuk mencoba hubungan kami, dia ternyata juga sedang dekat dengan wanita lain, bahkan gosipnya akan segera bertunangan. Well, I guess love is only nice for someone else’s life, not for me.

Back to my journey to pursue a master degree. Sebenarnya, persiapan untuk S2 diluar negeri ini sudah aku lakukan dari Januari 2015. Saat itu, aku sudah mempersiapkan sertifikat IELTS. Namun entah mengapa, setelahnya, semangatku lalu mengendur dan persiapan S2 pun jadi terbengkalai. Pada bulan Mei, akhirnya aku memantapkan diri untuk mulai apply universitas. Untuk dapat beasiswa, aku perlu IPK yang cukup bagus, tetapi karena aku tahu IPK-ku bisa dibilang cukup kurang, jadi aku harus memiliki LOA terlebih dahulu untuk bisa daftar beasiswa agar lolos seleksi administrasinya. Syukurnya, aku mendapatkan offer dari University of Melbourne dan University of Leeds pada bulan Juli. Namun, mood-ku turun lagi, dan persiapan S2 pun mandek lagi. Salah satu teman dekatku terus mendorongku untuk apply beasiswa, dan akhirnya, di akhir tahun itu aku berhasil melengkapi semua berkas untuk apply Beasiswa LPDP batch ke-4. Setelah proses maju-mundur, Desember itu akhirnya aku mendapatkan beasiswa dan resmi bisa melanjutkan studiku untuk intake September 2016.

I got mixed reactions when I told my family about this news, terutama Mama. Dibalik suka cita mereka atas keberhasilanku ini, aku tahu mereka semua menyimpan rasa khawatir akan rencana studiku selama satu tahun ke UK. Aku ini adalah anak paling kecil di rumah. Sejarahnya aku pergi jauh dari rumah untuk waktu yang cukup lama adalah waktu aku kuliah S1 di Bandung, itu pun dengan beberapa kasus bolak-balik opname karena typhoid, dan satu insiden hampir dioperasi karena dokternya salah diagnosis. Mama sangat khawatir dan takut aku tidak bisa survive hidup sendirian di UK. Ya wajar saja sih beliau bisa berpikiran seperti itu, karena aku memang bisa dibilang manja, anak mami, dan satu-satunya skill urusan rumah tangga yang bisa aku lakukan hanyalah membersihkan kamar.

“Gimana kalau nanti Adek sakit? Mama kan ga bisa langsung nyusulin kesana, Nak?” Begitulah rasa khawatir yang beliau lontarkan.

Sebenarnya juga, aku tidak sepenuhnya yakin untuk pergi jauh dari rumah, apalagi meninggalkan Mama. Mama punya riwayat penyakit Diabetes Mellitus Tipe II dan Hepatitis C, sejak tahun 2007. Dan setahun kemudian, Mama harus menyuntikkan insulin setiap sebelum makan, tiga kali dalam sehari. Hari-hari terakhir aku di Jakarta sebelum berangkat ke UK pun dipenuhi dengan antar-jemput Mama ke RSCM, cek lab, kontrol, dan lain sebagainya. Sepertinya Tuhan memberikan jalan keluar akan kekhawatiranku ini, hasil lab Mama yang terakhir sebelum aku berangkat menunjukkan bahwa gula darah Mama saat itu bisa dibilang cukup terkontrol dan virus Hep-C nya sudah tidak ditemukan. Aku pun jadi lega untuk bertolak ke Inggris Raya.

Hari-hari pertamaku di UK were all fun and games until something bad happened and my whole world came crashing down. Dua minggu setelah perkuliahan mulai berjalan efektif, tugas dan deadline pun mulai bermunculan. Aku masih ingat, Senin pagi waktu UK, aku bangun tidur dan mendapati banyak notifikasi groupchat keluarga di handphone ku—isinya, mengabarkan kalau Mama sakit dan sedang ada di IGD. Aku masih biasa saja membaca pesan teks itu, karena memang kami semua sudah terlatih dan terbiasa dengan riwayat Mama yang tiap sebentar keluar-masuk IGD RSCM. Pagi itu juga, aku mendapat tugas pertama yang diambil nilainya, presentasi di kelas dan hanya diberi waktu 1 jam saja untuk persiapan. Di saat aku sedang panik-paniknya mempersiapkan bahan presentasi, aku mendapat telepon dari kakakku yang nomor dua, yang kebetulan juga sedang menjalani pendidikan dokter spesialis dan ditempatkan di RSCM.

“Bon, Mama kena stroke. Ada pendarahan juga di otaknya, jadi harus secepetnya dioperasi. Doain Mama ya…” Suaranya bergetar dan aku pun tak kuasa menahan air mataku.

Di depan ruang kelas, air mata terus bercucuran membanjiri kedua pipiku. Namun aku tidak punya pilihan selain untuk harus tetap kuat dan menyelesaikan tugas presentasi. Segera setelah giliran presentasiku selesai, aku izin keluar kelas untuk menelepon keluargaku di Jakarta, kali ini video call. Aku bisa melihat tubuh Mama terbaring tak berdaya di atas kasur IGD, masih mengenakan seragam mengajarnya hari itu. Mamaku adalah seorang Guru Fisika di salah satu SMA Negeri di Jakarta. Pagi itu, usai upacara Mama kejang kemudian pingsan, dan kehilangan kesadaran.

Hari berikutnya, sesuai rencana, Mama dioperasi untuk mengobati pendarahan di otaknya. Saat video call, hatiku hancur rasanya melihat sosok Mama yang terlihat sangat pucat dan tanpa sehelai rambut pun di kepalanya, kedua matanya masih terpejam.

And after that, things are getting even worse. 18 hari, Mama tidak sadarkan diri dan terbaring di ruang ICU. Saat itu, aku sungguh ingin pulang ke rumah, berada di sana bersama keluargaku untuk menjaga Mama bergantian. Atau hanya untuk sekedar mengusap tangan Papa, menenangkan hati beliau. Atau memeluk kedua kakakku erat-erat. Satu bulan berlalu, dan tidak ada progress yang cukup signifkan dengan kondisi kesehatan Mama. Bahkan, pihak rumah sakit sudah arrange meeting dari tim paliatif dengan keluarga kami. Kalau dari penjelasan kakakku, yang aku tangkap adalah di titik ini, pihak rumah sakit sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dan keluarga disarankan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien karena penyakit yang dideritanya bersifat tidak bisa disembuhkan. Tim paliatif ini bertujuan untuk mempersiapkan keluarga pasien akan kemungkinan yang terburuk…

Aku menelepon Papa sambil menangis, “Pa, Adek pulang aja ya? Adek mau ketemu Mama.” Yang kemudian dijawab oleh Papa, “Inad belajar yang bener di sana, bantu doain Mama aja ya. Kita semua disini jagain Mama. Kalau nanti udah libur semester baru boleh pulang. Pantang pulang sebelum menang, Nak.”

Itu lah yang selalu ditanamkan oleh kedua orang tuaku sedari kecil. Tidak boleh berhenti di tengah jalan. Apapun konsekuensinya, tanggung jawab yang sudah diemban harus tetap dijalani dan dituntaskan.

Suatu sore, aku sedang berdiri di bus stop untuk pergi ke City Centre di Leeds, kota tempatku menjalani studi master. Dalam lamunan dan tatapan kosongku, mataku menangkap sebuah papan reklame dengan tulisan besar-besar, Go Big or Go Home? Tulisan itu rasanya seperti tamparan buatku. Karena jujur saja, sejak mendapatkan berita bahwa Mama jatuh sakit, aku sudah menimbang-nimbang untuk menunda studiku ke tahun selanjutnya dan berencana untuk mengemas barang-barangku, and leave the city immediately. Kalimat simpel itu menyadarkan aku to keep going, to have a little faith, that this too shall pass because God will never place a burden on those who can’t carry its weight.

Setelah kejadian itu, aku pun mulai mengumpulkan kembali sisa-sisa semangatku untuk melanjutkan Semester 1 dengan lebih baik. Kalau awalnya aku sangat menutup diri dari teman-teman di UK, aku akhirnya mulai membuka diri perlahan sampai akhirnya aku memiliki inner circle—teman-teman sesama dari Indonesia who always make Leeds feels a bit like home. Di kelas, aku juga mulai bisa fokus dan konsentrasi mengikuti pelajaranku. Entah bagaimana aku berhasil menyelesaikan laporan, esai, dan tugas besar yang tadinya rasanya sangat mustahil untuk aku selesaikan. Desember itu aku pulang ke Indonesia. Sementara teman-teman sangat excited merencanakan winter trip ke Scotland atau Europe, aku menyisihkan uang bulananku untuk membeli tiket pulang ke rumah.

Begitu sampai di rumah, aku langsung masuk ke kamar Mama, kamar yang sudah disulap layaknya kamar rawat di rumah sakit. Tempat tidur king size yang biasa menjadi tempat kami bersenda gurau sudah tidak ada, digantikan oleh kasur rumah sakit. Di sekitar kasur ada tabung oksigen, dan juga beberapa peralatan kedokteran yang bahkan aku sendiri tidak tahu apa namanya. Mamaku terbaring di sana, tubuhnya jauh lebih kurus dari terakhir kali aku melihatnya saat berangkat di bandara September lalu, dan ada selang di hidungnya—untuk makan karena Mama masih tidak bisa makan lewat mulut seperti orang sehat lainnya. Aku membelai tangan kanannya dengan lembut, mencium keningnya, dan detik selanjutnya tangisku pecah sejadi-jadinya. Mama tidak merasakan kehadiranku di sisinya. Saat itu, kondisi beliau masih setengah sadar. Ada hari-hari dimana Mama dapat mengenali wajahku dan sebuah senyum merekah di wajahnya. Namun, di hari-hari lain, untuk bisa membuat pandangannya fokus padaku dan berkomunikasi dengannya saja terasa sangat sulit.

Kembali ke UK untuk melanjutkan Semester 2 terasa jauh lebih berat setelah menghabiskan waktu dua minggu di rumah dan melihat kondisi Mama yang masih belum stabil. Namun lagi-lagi, aku tidak bisa menyerah di tengah jalan dan harus menyelesaikan studiku. It’s only a halfway to go. I came back to Leeds, stronger than before. Aku juga mulai menata hidup akademik dan non-akademik dengan seimbang. I take the time to hangout with my coursemates on Friday nights, aku juga turut berpartisipasi bersama teman-teman PPI Leeds dalam acara World Unite Festival yang diselenggarakan oleh pihak kampus, mempersembahkan tarian tradisional Indonesia, Tari Saman. Aku memiliki kelompok belajar untuk final exams dan nilaiku pun bisa dibilang cukup memuaskan. Tinggal satu langkah lagi yang tersisa untuk mendapatkan gelar master, yaitu disertasi.

Proses pengerjaan disertasi ini rasanya adalah fase terberat selama perkuliahan masterku. At the beginning, aku sangat senang dan excited karena mendapatkan tema disertasi yang sangat sesuai dengan passion-ku, terlebih lagi, dosen pembimbingku pun juga sangat ahli dalam bidangnya. Namun ternyata, keberjalanannya tidak semulus itu. Setiap kali selesai bimbingan, aku rasanya seperti babak belur, selalu dijatuhkan, dan dikritik habis-habisan oleh supervisor-ku yang sangat perfeksionis itu. Sampai di titik terendah, dosenku berkata di salah satu sesi bimbingan, “Nadia, please do not jeopardise your future with this dissertation.”

Aku tidak tahu harus merespon seperti apa saat beliau berkata seperti itu. Aku merasa usahaku selama ini sia-sia. Kerja kerasku untuk mendapatkan nilai bagus di modul-modul lainnya terasa tidak ada artinya. So, does it mean that he thinks my dissertation is a trash? I am having a mental breakdown, itu yang aku rasakan, dan untuk beberapa hari setelahnya aku sama sekali tidak menyentuh lagi disertasiku. Sampai akhirnya, I seek for help. Aku menghubungi co-supervisor-ku, menghubungi sahabatku di Jakarta yang juga bekerja sebagai dosen untuk membantuku, baik itu diskusi ataupun teknis pengerjaan disertasi. Memang kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil. Setelah usahaku mati-matian, akhirnya, pada sesi bimbingan selanjutnya aku memberikan draft kepada supervisor dan beliau hanya tersenyum saat me-review-nya.

“Well done, Nadia, this has been very much improved.” Jika bisa mengekspresikan kebahagiaanku saat itu, rasanya hatiku mungkin sudah terbang ke langit yang ke-tujuh. All those sleepless nights dan hari-hari yang kuhabiskan di perpustakaan rasanya terbayar sudah. Hal ini pun semacam menjadi turning point dalam penulisan disertasiku, and it is all uphill from here. Pengumpulan disertasiku di hari menjelang deadline adalah chapter penutup yang sangat menyenangkan dalam perjalanan studi masterku.

Mungkin saat ini, I may not as big as Taylor Swift. Kenapa Taylor Swift, just because she is my favourite, dan di usianya yang sama seperti usiaku saat ini, dia sudah mendapatkan banyak penghargaan atas karier musiknya. Sementara aku, aku merasa hidupku begini-begini saja. Tanpa pencapaian yang berarti. Aku tumbuh di keluarga akademisi, kedua orang tuaku adalah pengajar. Kakak pertamaku adalah lulusan Teknik Informatika ITB, dan dia dengan gigihnya merintis perusahaan start-up bersama teman-teman kuliahnya. Setelah jatuh bangun, sekarang bisa dibilang bisnisnya berhasil dan aku sangat bangga padanya. Sementara kakak keduaku, seorang dokter dan saat ini sedang melanjutkan pendidikan spesialis penyakit dalam. Niat mulianya hanya satu, ingin menyembuhkan penyakit Mama. Then there is me, si anak bungsu yang selalu hidup dalam bayang-bayang kedua kakaknya yang super hebat. Yes, that is always a problem with me, I always feel like I am less cool than both of my siblings.

Aku kuliah di Teknik Lingkungan ITB. Mungkin banyak orang berpendapat bahwa program studiku kurang populer, tetapi jurusan yang memang pilihan pertamaku inilah yang merupakan batu loncatan awal dalam meraih mimpiku, dari mulai bekerja di organisasi internasional hingga mengantarkanku mengecap pendidikan pasca-sarjana di Inggris Raya. Mungkin juga, bagi sebagian orang hal ini merupakan hal yang biasa saja. Namun, bagiku ada rasa kebanggaan tersendiri untuk bisa berangkat kesana dengan beasiswa—hal yang bisa membuat orang tuaku bangga kepadaku karena ini adalah yang pertama kalinya di dalam keluarga kami. And now I know for sure, tidak akan ada habisnya if I keep comparing myself to others. All that matters is, aku harus bisa menjadi diriku yang jauh lebih baik dari versi diriku yang sebelumnya. Dan aku rasa, saat ini aku telah mencapai fase itu.

Setelah dipikir-pikir juga, mungkin memang iya aku manja, but my Mama didn’t raise a quitter, that I have come a long way to win the battle to get an MSc. Perjalananku menyelesaikan S2 ini mengajariku banyak hal, tetapi in return, I gained so many priceless things. Aku pulang ke rumah mendapati kondisi Mama yang kian membaik. Aku pulang ke rumah berhasil menyelesaikan studi masterku dan sekarang tinggal menunggu jadwal wisuda. Aku pulang ke rumah dengan kondisi bisa mengurus diriku sendiri, dan yang terpenting, now I can cook! To top it off, aku pulang ke rumah and found the one I would love to spend the rest of my life with. I came home as a changed person. Sungguh dalam satu tahun banyak sekali hal yang bisa terjadi dan aku sangat mensyukuri every bits of it.

I guess, kata-kata di papan reklame di sudut Kota Leeds itu seharusnya bisa direvisi, because go big or go home is not an option. I could tell now that I am home, and I am even bigger than I was before.

Ulang Tahun Hana

Bekasi, Juli 1991

“Siapa, Bun?” tanya Fadli kepada istrinya setelah Gamelia meletakkan handphone-nya di meja makan. Kira-kira setengah jam lamanya ia melihat Gamelia menelepon, sambil mengepak-ngepak barang. Ia penasaran siapa suara di ujung telepon itu.

“Vanny.”

“Kenapa lagi, dia?” Fadli merasakan hal yang tidak menyenangkan.

“Dia pulang akhir bulan ini, katanya mau bikin pesta ulang tahun untuk Hana.” Selepas lulus master di tahun 1989, Vanny bekerja dan menetap di New York.

“Ngapain? Kita selametan aja di rumah baru kan?”

Belum dua tahun tinggal di Bekasi, Fadli dan Gamelia memutuskan untuk pindah ke daerah Bintaro, karena Hana selalu sakit. Mungkin putrinya tidak cocok tinggal di Bekasi.

“Iya, aku udah bilang gitu ke Vanny, tapi dia insist. You know her.”

“Aku mau ulang tahun Hana dirayakan kecil-kecilan aja, Bun.”

Yes, yes, I told her already. And she told me that it’s gonna be intimate, just us all…

“Hmm… baiklah, dimana?”

“Putri Duyung Ancol, dia udah booking cottage buat kita.”

“Aishhh, katanya sederhana!” Gerutu Fadli kesal.

“Iya, gak undang siapa-siapa juga, cuma Kakak, aku, dan Mama Papa.”

Gamelia masih memanggil dirinya Kakak, padahal Fadli ingin dipanggil Ayah.

“Ayah Bunda, kan cocok. Aku harus buru-buru ajari Hana panggil Ayah, biar Gamelia mau ikutan, hehehe.” pikir Fadli seraya memandangi putri kecilnya yang sedang tertidur pulas.

Mama dan Papa adalah kedua orangtua Vanny. Iya, Bapak Dosen FE itu lama-lama memperlakukan mereka seperti anak sendiri. Mungkin senang, anak tunggalnya akhirnya memiliki dua teman dekat yang sudah seperti saudara. Lagipula, sudah empat tahun Vanny pergi meninggalkan mereka, Mama dan Papa semakin punya alasan untuk bersikap seperti itu. Bahkan, Hana pun dianggap sebagai cucu kandung mereka sendiri.


Jakarta, Agustus 1991

“Mana cucu Oma?” tanya Mama Vanny ke Fadli, kemudian tidak mengacuhkan jawaban Fadli dan langsung menghambur keluar, ke arah Gamelia yang baru saja turun dari mobil.

“Selamat ulang tahun, sayang!” Katanya ceria, mengambil Hana dari gendongan bundanya.

Vanny hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Mama, namun dalam hati bersyukur ada kehadiran Fadli dan Gamelia, serta Hana, dalam hidupnya. Kalau tidak, orang tuanya pasti sudah uring-uringan meminta ia cepat-cepat berlabuh ke jenjang pernikahan. Setelah Fadli dan Gamelia menikah di tahun 1989 silam, orang tuanya meminta keduanya memanggil mereka Mama dan Papa, sama seperti panggilan Vanny kepada mereka. Setahun lalu di hari kelahiran Hana, keduanya pun menobatkan diri mereka sebagai Oma dan Opa.

Bagi Fadli, Mama dan Papa adalah orang tua keduanya. Bahkan Fadli merasa lebih dekat ke Mama dan Papa ketimbang Abah dan Ibu. Ia hormat pada Abah, namun rasa hormatnya itu yang membuat Fadli menjaga tutur kata saat berbicara dengan Abah. Sementara Ibu, Fadli merasa tidak begitu nyaman dengannya, karena Ibu suka mengatur hidupnya. Dan Fadli tidak mau diatur. Adiknya Anty pun tidak mau, tapi mereka memiliki something in common, yaitu passion dalam menjahit. Lain halnya dengan Irfan, si bungsu ini mungkin titipan Tuhan bagi orang tuanya. Otak cemerlang, paras rupawan, dan kelakuan yang bak malaikat. Rasanya, adik bungsunya ini hampir tak bercela. Berbeda dari kedua kakaknya, Irfan selalu berada di jalan yang sudah ditetapkan Abah dan Ibu. Walaupun berbeda sifat, Fadli sangat sayang kepada Irfan, adiknya yang terpaut 12 tahun itu. Terkadang Fadli mampir ke rumah hanya untuk bertemu Irfan, bukan kedua orang tuanya. Bulan ini, Irfan baru memulai kehidupannya sebagai mahasiswa.

“Gamelia, ini buatmu.” Mama menyerahkan kotak bingkisan berwarna emas dengan pita merah.

“Apa ini, Ma? Hana yang ultah kok Gamelia yang dikasih hadiah?” Gamelia tersenyum seraya membuka kotak itu, di dalamnya terdapat purse Chanel 2.55 Classic Flap Bag berwarna merah, warna kesukaannya.

“Kado Hana udah banyak di atas. Sekali-kali Mama kasih kamu hadiah dong.”

Gamelia tak dapat berkata-kata. Ini bukan kali pertama Mama memberikan hadiah tanpa alasan ke Gamelia, yang tentu saja selalu barang-barang keluaran high-end fashion brand. Kemudian dia menggeleng-geleng,

“Kakak gak suka kalo aku pake ginian Ma,” katanya mencibir, namun matanya terlihat senang bisa menyentuh tas kulit di tangannya, yang bahkan sudah jadi miliknya, lambskin, “halus sekali…”

“Ah, lelaki mana ngerti sih?” Mama hanya tertawa.

Kemudian Gamelia memeluknya sebelum beranjak ke lantai dua, “Makasih ya, Ma.”

Mama dan Papa benar-benar sosok orang tua yang baik, pikir Gamelia. Bukannya ia tak dekat dengan Bapak dan Ibu kandungnya, tetapi selain Gamelia, masih ada 8 orang saudaranya yang juga butuh perhatian. Walaupun seluruh saudaranya tumbuh kembang sebagai pribadi-pribadi yang mandiri, tetap saja masih ada yang butuh dukungan finansial dari Bapak dan Ibu. Terkadang Gamelia juga turun tangan, karena profesi Fadli dan Gamelia bisa dibilang baik, mereka sudah bisa hidup mapan, memiliki rumah dan tidak tinggal bersama orang tua.

Kalau bicara tentang Abah dan Ibu mertuanya, Gamelia terkadang bergidik sendiri. Fadli saja sudah berikrar kalau ia bukan anak rumahan,

“Aku besar di jalan, bukan di rumah.” Katanya selalu, bangga, yang masih saja membuat Gamelia heran atas rasa bangganya itu.

Bagaimana mungkin Gamelia bisa mendekatkan diri ke keluarga Iskandar. Selama pacaran, Ibu Iskandar pun tidak merestui hubungan Fadli dan Gamelia.

“Hanya teman,” begitu Gamelia selalu disebut oleh Ibu Is.

Sebenarnya Fadli memang tidak pernah mengajak Gamelia untuk pacaran, hal itu terjadi begitu saja. Hubungan mereka semakin dekat, tidak hanya antar-jemput dari kosan ke kampus dan sebaliknya, tidak hanya belajar bersama. Lama-lama Gamelia pun menganggap Fadli pacarnya, karena Fadli selalu lugas mengutarakan apa yang dirasakannya pada Gamelia.

Lain halnya dengan Abah selalu menerima dengan tangan terbuka. Sayangnya, Abah sangatlah sibuk, dan sulit bagi Gamelia untuk bertemu dengannya. Di saat Fadli mulai serius, Abah merasa senang, karena akhirnya si sulung mau berkomitmen, terlepas dari trademark-nya, Casanova. Namun Ibu Is marah, tidak terima anak sulungnya menikahi keluarga yang bukan berasal dari Padang. Jangankan gadis dari pulau seberang, gadis Pariaman saja Ibu Is tidak akan setuju. Apalagi, Gamelia bukanlah berasal dari keluarga yang terpandang dan berada. Jawaban Fadli pada ibunya hanya membuat kondisi semakin keruh,

“Fadli cuma mau bilang, akan nikahin Gamelia. Ibu gak setuju silakan. Gak perlu juga. Fadli cuma perlu restu dari Bapaknya Gamelia,” ujarnya santai, kira-kira dua tahun lalu.

Hubungan Gamelia dengan Anty pun tidak bisa dibilang baik, walaupun umur mereka hanya berbeda setahun. Anty yang tidak pernah menginjakkan kaki di perguruan tinggi, selepas lulus SMA, menekuni dan banyak berperan di dalam bisnis keluarga Iskandar. Entah kenapa Gamelia merasa sikap Anty terhadapnya begitu dingin. Mungkin, sama seperti Ibu Is, Anty merasa Gamelia tidak pantas bersanding dengan kakaknya. Karena sepengetahuan Gamelia dan Vanny, ada beberapa teman-teman Anty yang merupakan korban perasaan Fadli Sang Casanova. Ia pernah mencuri dengar pembicaraan Fadli dan Anty, tentang Gamelia.

It’s not her. It’s everyone.” Ujar Anty.

Gamelia terus memikirkan kata-kata itu, hingga akhirnya dapat menyimpulkan maksudnya, “She doesn’t hate me. She just hates everyone.

“Potong kuenya setelah makan malam ya!” Suara Fadli mengejutkan Gamelia, kecupannya di pipi Gamelia membawanya kembali dari lamunannya.

Malam itu, Hana berusia satu tahun. Pemandangan yang ada di lantai dua cottage begitu lucu. Terlihat sponge cake yang kelewat besar untuk yang berulang tahun di meja tengah. Lalu lilin ditiup bersama-sama oleh lima orang dewasa, karena tentu saja anak batita seumur Hana masih belum bisa meniup lilin hingga padam. Dan seperti yang dikatakan Mama, kado Hana banyak sekali, sampai-sampai hampir menutupi seluruh bangku di ruang duduk.

“Udah kayak kado dari satu RT.” Gamelia tertawa, geli.


Bintaro, Agustus 1991

Fadli, Gamelia, dan Hana pulang ke rumah barunya di Bintaro yang baru ditempati selama satu minggu. Tak lama, ada paket datang. Dari Anty untuk Hana, berupa parsel, berisi boneka gajah yang besarnya dua kali lipat dari tubuh Hana, dihiasi dengan bunga-bunga cantik dan coklat-coklat yang berasal dari mancanegara. 2 tahun belakangan ini, Anty sering berpergian ke luar negeri, sekedar untuk melancong maupun mengikuti short course di fashion institute terkemuka dunia. Gamelia menemukan kartu ucapan, ditulis tangan, dan diakhiri dengan kata-kata “Love, Your Anty.

Gamelia mendapati dirinya tersenyum lebar. Setelah Hana lahir, sikap Anty perlahan-lahan mulai berubah. Ia selalu membelikan barang, pakaian, maupun makanan kecil untuk keponakannya, Hana. Walaupun sesungguhnya Hana belumlah boleh mengonsumsi makanan yang mengandung gula dan garam, tapi biarlah,

“Toh Anty tidak tahu semua coklat dan permen pemberiannya selalu aku yang makan.” Pikir Gamelia, seraya tersenyum kecil.

Memang benar kata orang, bahwa anak adalah lentera keluarga, penghangat suasana. Gamelia pun berharap kehadiran buah hatinya ini dapat membuat kedekatan keluarga besar mereka lebih erat.

I knew it from the start.

That this thing is going to get ugly along the way, which it is right now. That this thing is like a sand, the more I hold it tight, the more it slips through my fingers. That this thing is like a ticking bomb, which would explode at one point and I would get the permanent damage because of it. That the flames between us would get me burnt alive.

I have no idea, why every time I open up it hurts. Why is it always at the wrong time and with the wrong person? Guess I never learn…