And their paths will be intertwined

Bandung, Oktober 2009

Sudah turun-temurun, angkatan termuda di Teknik Lingkungan (TL) selalu menjadi angkatan yang akan menjalankan kepanitiaan acara wisuda. Kali ini, Dwisahasrastama-lah yang bertugas sebagai panitia acara wisuda bagi para senior di TL. Wisuda Oktober adalah wisuda perdana mereka menjadi panitia.

Baskara terpukau melihat penampilan teman-teman seangkatannya yang turut serta menari Ratoh Duek pada Wisuda Night (Wisnite) Oktober. Matanya tertuju pada Hana. Ia tahu, Hana memiliki andil besar dalam penampilan ini. Hana adalah anggota divisi acara yang ditunjuk sebagai penanggung jawab performance oleh dirinya sendiri, yang menjabat sebagai ketua divisi. Entah kenapa ia memilih Hana, padahal setahun lalu, ia bisa mengernyitkan dahi jika teringat akan pandangannya tentang Hana.

Baskara tersenyum akan kenangan yang melintasi pikirannya. Mereka satu kelas selama Tahap Persiapan Bersama (TPB), yang merupakan tingkat pertama di ITB sebelum mereka dijuruskan ke program studi beberapa bulan yang lalu. Baskara selalu duduk di sayap kiri kelas, sementara Hana selalu di sebelah kanan. Kelas FTSL itu selalu penuh di bagian tengah dan kiri, tetapi tidak ada yang berani duduk di sayap kanan kelas, yang anehnya, hanya ditempati oleh Hana dan teman-teman mainnya.

Kata-kata Baskara kembali terngiang, “Mungkin terlalu wah, mungkin terlalu lancang.”

Yang jelas, Hana dan teman-temannya sangatlah superior di kelas, tentu saja tanpa mereka sadari. Mereka aktif, banyak bertanya, tetapi juga banyak bercanda. Sekilas, gerombolan itu terlihat seperti sekumpulan anak-anak bengal: nakal dan suka mengganggu. Sampai-sampai satu kelas memberikan mereka julukan, Geng Nero, yaitu ‘neko-neko dikeroyok’. Nama itu diambil dari nama perkumpulan yang sedang naik daun di media nasional, tentu saja bukan karena image yang baik, dan ada berita menyangkut kekerasan atau bullying tentang geng itu. Dan pada suatu sore, ada salah satu teman sekelas mereka, bertanya kepada Hana,

“Pertemanan kalian itu pertemanan yang saling menjatuhkan ya?” Yang hanya dijawab oleh tawa yang berkepanjangan oleh Hana, dan pada akhirnya, oleh teman-temannya juga.

Namun kalau ditanya masalah nilai, mereka lah yang memiliki nilai paling tinggi. Karena itu juga Baskara lebih memilih untuk menjaga jarak dengan Hana dan teman-temannya, ia masih merasa berbeda dunia.

Setelah TPB, mahasiswa FTSL akan memilih prioritas di antara tiga program studi, yaitu Teknik Sipil, Teknik Lingkungan, dan Teknik Kelautan. Sekarang, Baskara dan Hana sama-sama masuk program studi TL dan tak sengaja, mereka tergabung dalam satu kelompok pada ospek jurusan Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL). Awalnya, Baskara masih merasa enggan untuk dekat dengan Hana, tetapi sekarang ia melihat citra Hana dari sudut pandang yang berbeda. Hana ternyata tidak hanya gaul, berisik, dan pintar. Ada sisi lain dari diri Hana yang membuat ia tertarik, mungkin ketulusannya, mungkin sikapnya yang tidak mudah stress ditempa oleh tugas-tugas dan keinginan panitia, mungkin juga karena kepiawaiannya dalam membuat suasana jadi hangat, entahlah. Apa pun itu, Baskara merasa tidak salah pilih menunjuk Hana menjadi penanggung jawab performance di Wisnite Oktober.

Berangkat dari sanalah, Baskara semakin tertarik dengan Hana. Mereka jadi sering bertukar pikiran,

“Hana pendengar yang baik, dan Hana membuatku jadi pendengar yang baik,” batinnya tersenyum.

“Bas, bisa gak sih lo ngomong jangan aku-kamu gitu? Di Jakarta, aku-kamu tuh cuma dipake sama orang yang pacaran! Dan gue males deh dapetin kesan itu dari lo.”

Hana pernah melontarkan hal itu ke Baskara. Baskara yang terkenal mudah tersentil dan gampang emosi, tidak marah mendengarkan kata-kata itu terucap dari mulut Hana. Ia hanya tertawa. Temannya yang satu ini memang unik, dan ia nyaman setiap mendapati keberadaan Hana di sampingnya.

“Hana orangnya asik, baik, dan aku suka etos kerjanya. Mungkin rasa hangat ini wajar, dan akan ada untuk gadis mana pun yang dekat denganku.”

Saat itu, Baskara masih belum merasakan asmara yang diam-diam datang merayapi perasaannya.


Bandung, April 2010

Di kesempatan kedua bagi Dwisahasrastama menjadi panitia wisuda, Baskara kini mengambil andil sebagai Koordinator Lapangan (Korlap). Ia berpasangan dengan Gita, Koordinator Non-Lapangan (Kornonlap). Keduanya persis di bawah pengarahan ketua panita wisuda, Ucup. Baskara merasa senang bisa bekerja dengan Gita, yang juga perempuan dan sama asiknya dengan Hana. Namun, kehangatan yang ia rasakan saat bersama Hana tidak kembali merayapi ruang hatinya. Saat itu ia sadar, Hana bukanlah gadis kebanyakan di mata Baskara. Malam itu matanya terpaku pada Hana.

Setelah acara selesai, seperti biasa, Dwisahasrastama mengadakan rapat evaluasi di tempat, bersama dengan penanggung jawab wisuda dari HMTL. Acara wisuda kali itu dapat dibilang sukses, lebih baik dari acara sebelumnya di bulan Oktober. Ucup bangga, merasa puas dengan kinerja yang diberikan oleh angkatannya. Rasa terima kasihnya yang terbesar ia sampaikan pada Baskara dan Gita, yang entah sejak kapan, keduanya dielu-elukan sebagai pasangan yang serasi oleh angkatan mereka, bahkan oleh massa himpunan dan wisudawan. Gita tersipu malu, melihat Baskara yang juga tersenyum. Namun ia tahu, senyuman Baskara tidak pernah tertuju padanya. Gita yang mengamati Baskara sepanjang malam, paham betul bahwa pandangannya hanya terkunci pada Hana. Saat itu pun ia sadar, rasa sukanya yang baru tumbuh ini tidak dapat berbalas.

Baskara buru-buru menghampiri Hana seusai rapat evaluasi, hanya untuk mendapati gadis impiannya berlari-lari kecil ke pintu masuk Aula Timur. Baskara diam-diam mengikuti Hana. Di dekat meja penerima tamu ada sosok lelaki, memakai sweater berwarna hijau tua, menyandarkan tubuhnya ke dinding aula. Hana setengah berteriak memanggil sosok itu, senyumnya mengembang lebar, tangannya terbentang seperti meminta pelukan. Kelakuannya itu hanya dibalas dengan senyuman kecil. Lalu sang lelaki mengacak-acak rambutnya.

“Jangan ah, malu.” Bara, nama lelaki itu, terdengar berkata.

Lalu Baskara tersadar, bahwa Hana memiliki Bara, pacarnya sedari SMA. Seulas senyum yang tadinya menghiasi wajah Baskara pun sirna.


Bandung, Juli 2010

Lagi-lagi, malam itu mata Baskara mengikuti langkah Hana kemana pun ia pergi. Bagi Baskara, acara wisuda merupakan acara yang paling ia suka, karena gadis pemangku hatinya itu akan tampil jauh lebih cantik dari sehari-hari. Bagaimana tidak, pada hari-hari kuliah Hana biasanya mengenakan kaos, celana jeans serta sneakers, tanpa make-up di wajahnya. Padahal, sudah hal yang sangat wajar bagi mahasiswi TL setidaknya untuk memoleskan sedikit pewarna bibir dan bedak di wajah mereka. Lain halnya dengan Wisnite, kaos dan celana jeans ditanggalkan oleh Hana. Pada acara-acara tertentu seperti wisuda, Hana lebih memilih untuk dress-up sesuai dengan tema wisuda saat itu. Hal itulah yang sangat Baskara nantikan setiap Wisnite. Seperti sekarang, sneakers Hana diganti dengan sepatu kesayangannya, simple pumps 70 mm Loubutin berwarna hitam. Ia mengenakan blazer dan rok dengan warna senada, loose top berwarna krem, dan scarf yang bercorak merah, agar complimentary dengan red soles sepatunya. Karena tema wisuda Juli 2010 adalah Leaving On A Jetplane, maka panitia laki-laki berpenampilan seperti pilot dan yang perempuan seperti pramugari.

Tak kuasa selalu melihatnya dari jauh, malam itu Baskara mendatangi Hana.

“Banyak yang bilang hari ini Felisha terlihat sangat menarik,” katanya seraya tersenyum, kepalanya mendekati gadis impiannya, matanya menatap Hana lembut. Kemudian ia melanjutkan dengan pelan,

“Tapi di mata saya, kamu yang paling cantik malam ini.”

Hana membalasnya dengan senyuman. Manis, sampai-sampai Baskara ingin mencicipi senyuman manisnya itu.

One thought on “And their paths will be intertwined

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *