And just when I thought things were getting better, everything had gone wrong again.

Ma, please be strong. Beberapa jam sebelum mimpi buruk ini menghantam, Mama baru aja janji sama Inad kalau Mama akan sehat supaya nanti kuat lihat Inad diwisuda disini. Terus kenapa tiba-tiba semuanya jadi begini, Ma? Ma, ini udah dua minggu bahkan lebih, Inad kangen sama Mama. Inad mau ceritain sama Mama semua hal baru dan menyenangkan yang Inad jalani disini. Inad mau tanya sama Mama resep masakan apa yang biasa Mama buat dan gampang untuk Inad masak disini. Inad mau tanya sama Mama apa Inad harus tetap menyimpan perasaan untuk laki-laki yang hanya menjadikan Inad pilihan. Inad mau cerita sama Mama kalau disini Inad suka kedinginan dan kangen sama hangatnya pelukan yang biasa Mama berikan. Inad kangen berantem di mobil sama Mama, tapi Inad janji, kalau nanti Inad bisa nganterin Mama kemana-mana lagi Inad ga akan ngajakin Mama berantem lagi. Ma, Inad cuma mau ngobrol sama Mama seperti anak perempuan ngobrol sama mamanya. I miss all those little things, I miss you so much that it hurts, Ma.

Sejumput Kebajikan

Dengan sejumput kebajikan
Aku mengharap kepada Allah Yang Maha Rahman
Kiranya dilebarkan pintu harapan
Setelah seberkas sinar menembus kegelapan
Seperti pemuda Kahfi melantukan doa harapan
Agar dibuka pintu gua untuk melihat keluar

Aku datang pada-Mu
Dengan surah Kahfi
Dan surah Ar-Rahman

Ya Allah
Adakah aku punya sejumput kebajikan
Untuk mengetuk pintu-Mu ya Rahman

Aku datang dengan segenggam harapan
Karena Engkaulah sandaran

Itu puisi dari Papa untuk Mama. Ayo bangun ya, Ma… Kita semua disini setia mendoakan dan menanti Mama…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *